Cara Kerjanya
- Kalau meneliti sebuah hadis, maka:
- Yang pertama dilakukan adalah: Mencari hadis tersebut ke seluruh kitab hadis yang ada. Bukan hanya dalam Shahih Buhari atau Muslim saja, tapi disamping Kutub al-Sittah (canonical collections), juga Muwaththa’ Malik, Musnad al-Tayalisi, Musnad Ibn Rahawayh, Musannaf Abd Razzaq, Sunan al-Darimi, Ibn al-Jad dan lain lain (pre-canonical collections), al-Baihaqi, Ibn Hibban, al-Tabarani, Ibn Khuzaimah dan lain lain (post canonical collections), bahkan kalau perlu dalam kitab hadis koleksi Syi’ah, misalnya Musnad al-Allama al-Mujlisi, al-Shamiyyin dll. Apakah hadis yang dicari itu terdapat dalam buku tersebut.
- Kedua, setelah terkumpul semua data yang dibutuhkan, kemudian dibuat diagram untuk melihat siapa perawi yang menerima hadis dari mana.
- Dengan demikian akan kelihatan siapa yang menjadi madar atau common link dari setiap generasi. Siapa yang menjadi sumber hadis tersebut dari generasi ke generasi. Diagram isnad yang dibuat harus diuji kebenarannya melalui analisis matan.
- Karena klaim perawi telah menerima dari informan yang ia sebutkan boleh jadi hanya pengakuan belaka. Dalam hal ini membandingkan matan antara para perawi segenarasi dan seperguruan menjadi mutlak. Apakah hadis tersebut hanya beredar pada abad kedua ketiga atau sudah beredar pada abad pertama
- Selanjutnya, hanya dengan cara ini akan dapat mengetahui apakah hadis tersebut berasal dari Nabi, Sahabat, Tabi’in, atau setelahnya.
- Di samping itu, independensi dan interdependensi setiap riwayat harus kita buktikan, juga dengan menguji matannya. Benarkah si A menerima hadis dari B seperti yang ia klaim, benarkah B menerima hadis dari C seperti yang ia kutip, Benarkah C menerima dari D seperti yang ia katakan, dan seterusnya. Analisa sanad dan matan menjadi sangat menentukan. Bagaimana proses metode isnad cum matan analysis ini bekerja.