1. Kejanggalan atau syadz pada sanad
Contohnya pada hadis:
أَنَّ رَجُلاً تُوُفِّيَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَمْ يَدَعْ وِارِثًا إِلاَّ مَوْلَى أَعْتَقَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
هَلْ لَهُ أَحَدٌ؟
فَقَالُوْا: لاَ، إِلاَّ غُلاَمٌ أَعْتَقَهُ. فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِيْرَاثَهُ.
Hadis di atas mempunyai dua jalur sanad:
- Sanad pertama, riwayat al-Tirmizi, dari Sufyan ibn ‘Uyainah, dari ‘Amr ibn Dinar, dari ‘Ausajah, dari Ibn Abbas. Pada riwayat Ibn ‘Uyainah didukung (terdapat muttabi’) oleh Ibn Juraij, dan lain-lain.
- Sanad kedua, riwayat Ashab al-Sunan, dari Hammad ibn Zaid, dari ‘Amr ibn Dinar, dari ‘Ausajah, dan tidak menyebutkan Ibn Abbas.
Abu Hatim mengemukakan:
Yang mahfuz (yang terjaga/ benar) adalah hadis Sufyan ibn ‘Uyainah. Sementara Hammad ibn Zaid adalah orang yang bersifat adil dan dhabit. Akan tetapi karena periwayatan Hammad ibn Zaid berlawanan dengan periwayatan Ibn ‘Uyainah yang lebih rajih, sebab sanadnya muttasil dan ada muttabi’nya. Maka hadis dengan sanad yang kedua adalah marjuh dan disebut hadis syadz.
2. Kejanggalan atau syadz pada matan
Contoh jenis ini dapat dilihat pada apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (hadis no. 2337) dari jalan Hammam ibn Yahya, dia berkata:
حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُدَمَّى.
قَالَ أَبُو دَاوُد: خُولِفَ هَمَّامٌ فِي هَذَا الْكَلَامِ وَهُوَ وَهْمٌ مِنْ هَمَّامٍ وَإِنَّمَا قَالُوا يُسَمَّى فَقَالَ هَمَّامٌ يُدَمَّى.
Abu Daud berkata, Hamam dalam periwayatan hadis ini telah diselisihi oleh perawi-perawi lain. Lafaz periwayatan tersebut adalah wahm (kekeliruan dari Hamam. Karena perawi lain mengatakan (يُسَمَّى), sedang Hamam mengatakan (يُدَمَّى).
Abu al-Harits mengatakan: Hammam, meskipun beliau sahabatnya Qatadah, namun beliau bukan tabaqat pertama dari sahabat-sahabat Qatadah. Meskipun beliau tsiqah, namun dalam periwayatan ini beliau telah menyelisihi perawi yang lebih banyak jumlahnya dan lebih kuat kedhabitannya yang meriwayatkan hadis ini dengan benar dari Qatadah.
Mereka semua mengatakan (يُسَمَّى). Di antara perawi tersebut ialah Sa’id ibn Abi ‘Arubah, dia orang yang paling atsbat (terpercaya) dari sahabat Qatadah dan Aban ibn Yazid al-Athar. Sehingga dengan demikian periwayatan Hamam dengan lafaz tersebut adalah periwayatan yang syadz.