Tanggapan Azami atas Pemahaman Schacht
- Pada dasarnya pemahaman Azami tentang family isnad tidak jauh berbeda dengan muhadditsin yang lain, yaitu suatu periwayatan yang dibawakan oleh perawi yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau mawali. Dalam hal ini beliau mencontohkan dengan:
- Ma’mar ibn Muhammad dari ayahnya
- Isa ibn Abdullah dari ayahnya
- Katsir ibn Abdullah dari ayahnya
- Musa ibn Katsir dari ayahnya
- Nafi’ dan tuannya Ibn Umar
- Untuk menanggapi Schacht, Azami berpendapat bahwa tidak semua isnad keluarga adalah palsu dan juga tidak semua benar, kredibiltas isnad keluarga masih dikembalikan pada kondisi masing-masing.
- Sementara menanggapi klaim atas argumen Schacht atas riwayat Malik – Nafi’ – Ibn Umar, Azami mempunyai argumen tersendiri, yaitu:
- Schacht tidak mencantumkan berapa umur Malik ketika Nafi’ wafat, tapi sebaliknya malah mencantumkan meninggalnya Malik dengan menegaskan bahwa tanggal lahirnya tidak dapat diandalkan, umur Malik sedikit lebih tua dari umur seorang anak.
- Di sisi lain Azami juga menyayangkan, karena Schacht tidak merujuk pada buku-buku yang membahas biografi ahli-ahli hadis, karena dengan merujuk pada kitab siyar diketahui bahwa Malik lahir pada 93 H.
- Azami menyimpulkan bahwa ketika Nafi’ wafat, umur Malik paling tidak sudah berumur 20 tahun, sehingga alasan Schacht yang mengacu pada umur Malik tidak terbukti.
- Sementara ada bukti real dalam Muwaththa’ ditemukan riwayat Malik dari Nafi’ sebanyak 80 hadis dengan sanad muttashil sampai pada Nabi.
- Nafi’ dan Malik pernah tinggal di Madinah dalam waktu bersamaan sampai kira-kira Malik berumur 24 tahun.
- Oleh karenanya sanad Malik – Nafi’ – Ibn Umar adalah otentik.