Hasan al-Bashri berkata mengenai hukum shalat di belakang ahl al-bid’ah:
صَلَّ وَعَلَيْهِ بِدْعَةٌ
“Shalatlah (di belakangnya). Baginya (tanggungan dia) bid’ah yang ia lakukan”.
(HR. al-Bukhari dalam kitab shahihnya secara mu’allaq)
Perkataan Ibrahim ibn Muhammad al-Muntasyir:
كَانَ مَسْرُوْقٌ يُرَخِّي السَّتْرَ بَيْنَهُ وَبَينَ أَهْلِهِ، وَيُقبِلُ عَلَى صَلاَتِهِ وَيَخْلِيْهِمْ وَدُنْيَاهُمْ
Dahulu Masruq senantiasa menurunkan tirai yang memisahkan antara dia dan keluarganya. Lalu ia berkonsentrasi melalukan shalat dan meninggalkan keluarga serta keduniaan mereka.