{"id":66,"date":"2025-02-18T03:55:59","date_gmt":"2025-02-18T03:55:59","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/hukum-hukum-puasa\/"},"modified":"2025-02-18T06:59:18","modified_gmt":"2025-02-18T06:59:18","slug":"hukum-hukum-puasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/hukum-hukum-puasa\/","title":{"rendered":"Hukum-Hukum Puasa"},"content":{"rendered":"<p>Lafadz shiyam dan shaum adalah dua bentuk kalimat masdar, yang secara etimologi keduanya bermakna menahan.<\/p>\n<p>Dan secara termonologi hukum syara\u2019 adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat tertentu sepanjang siang hari yang bisa menerima ibadah puasa dari orang muslim yang berakal dan suci dari haid dan nifas.<\/p>\n<p>Adapun syarat-syarat wajib berpuasa ada tiga perkara. Dan di dalam sebagian redaksi kitab matan ada empat perkara.<\/p>\n<p>Yakni:<\/p>\n<p>1) Islam,<\/p>\n<p>2) Baligh,<\/p>\n<p>3) Berakal dan mampu berpuasa.<\/p>\n<p>Dan hal ini (mampu berpuasa) tidak tercantum di dalam redaksi yang mengatakan syaratnya. ada tiga perkara.<\/p>\n<p>Maka puasa tidak wajib bagi orang yang memiliki sifat yang sebaliknya.<\/p>\n<p>Fardlu-fardlunya puasa ada empat perkara.<\/p>\n<p>1.\u00a0 Salah satunya adalah niat di dalam hati.<br \/>\nJika puasa yang dikerjakan adalah fardlu misalnya Ramadlan atau puasa nadzar, maka harus melakukan niat di malam hari.<\/p>\n<p>Dan wajib menentukan puasa yang dilakukan di dalam puasa fardhu misalnya puasa Ramadhan.<\/p>\n<p>Adapun niat puasa Ramadhan yang paling sempurna adalah seseorang mengatakan, \u201csaya berniat melakukan puasa esok hari untuk melaksanakan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta\u2019ala.\u201d<\/p>\n<p>2. Fardlu kedua adalah menahan dari makan dan minum walaupun perkara yang dimakan dan yang diminum hanya sedikit, hal ini ketika ada unsur kesengajaan.<\/p>\n<p>Jika seorang yang berpuasa melakukan makan dalam keadaan lupa atau tidak mengetahui hukumnya, maka puasanya tidak batal jika ia adalah orang yang baru masuk Islam atau , hidup jauh dari ulama\u201d. Jika tidak demikian, maka puasanya batal.<\/p>\n<p>3. Fardlu ke tiga adalah menahan dari melakukan jima\u2019 dengan sengaja.<\/p>\n<p>Adapun melakukan jima\u2019 dalam keadaan lupa puasa, maka hukumnya sama seperti makan dalam keadaan lupa, artinya tidak batal puasanya.<\/p>\n<p>4. Fardlu ke empat adalah menahan dari muntah dengan sengaja. Jika ia terpaksa muntah, maka \u2013 puasanya tidak batal.<\/p>\n<p>Hal-hal yang membuat orang berpuasa menjadi batal ada sepuluh perkara.<\/p>\n<p>1. Yang pertama dan kedua adalah sesuatu yang masuk dengan sengaja ke dalam lubang badan yang terbuka atau tidak terbuka seperti masuk ke dalam kepala dari luka yang tembus ke otak.<\/p>\n<p>2. Yang dikehendaki adalah seseorang yang berpuasa harus mencegah masuknya sesuatu ke bagian badan yang dinamakan jauf (lubang).<\/p>\n<p>3. Yang ke tiga adalah al hugnah (menyuntik) di bagian salah satu dari kemaluan dan anus. \u2013 Hugnah adalah obat yang disuntikkan ke badan orang yang sakit melalui kemaluan atau anus yang diungkapkan di dalam kitab matan dengan bahasa \u201csabilaini (dua jalan)\u201d.<\/p>\n<p>4. Yang ke empat adalah muntah dengan sengaja. Jika tidak sengaja, maka puasanya tidak batal seperti yang telah dijelaskan.<\/p>\n<p>5. Yang ke lima adalah melakukan hubungan biologis dengan sengaja di dalam vagina.<\/p>\n<p>Maka puasa seseorang tidak batal sebab melakukan hubungan intim dalam keadaan lupa seperti yang telah dijelaskan.<\/p>\n<p>6. Yang ke enam adalah inzal, yakni keluar air sperma sebab bersentuhan kulit dengan tanpa melakukan jima\u2019<\/p>\n<p>Baik keluar sperma tersebut diharamkan misalnya mengeluarkan air sperma dengan tangannya sendiri, atau tidak diharamkan seperti mengeluarkan sperma dengan tangan \u201c istri atau budak perempuannya.<\/p>\n<p>Dengan bahasa \u201csebab bersentuhan kulit\u201d, pengarang mengecualikan keluarnya sperma sebab mimpi basah, maka secara pasti hal itu tidak bisa membatalkan puasa.<\/p>\n<p>7. Haidl<\/p>\n<p>8. Nifas,<\/p>\n<p>9. Murtad<\/p>\n<p>10. Gila<\/p>\n<p>Maka barang siapa mengalami hal tersebut di tengah-tengah melaksanakan puasa, maka hal tersebut membatalkan puasanya.<\/p>\n<p>Di dalam puasa ada tiga perkara yang disunnahkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Salah satunya adalah segera berbuka jika orang yang berpuasa tersebut telah meyagini terbenamnya matahari.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika ia masih ragu-ragu, maka tidak diperbolehkan segera berbuka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Disunnahkan untuk berbuka dengan kurma kering. Jika tidak menemukan kurma kering maka berbuka dengan air.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Yang ke dua adalah mengakhirkan makan sahur selama tidak sampai mengalami keraguan -masuknya waktu Shubuh-. Jika tidak demikian, maka hendaknya tidak \u2013 mengakhirkan makan sahur.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan kesunahan sahur sudah bisa hasil dengan makan dan minum yang sedikit.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Yang ke tiga adalah tidak berkata kotor.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Maka orang yang berpuasa hendaknya menjaga lisannya dari berkata bohong, menggunjing orang lain dan sesamanya misalnya mencela orang lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika ada seseorang yang mencaci dirinya, maka hendaknya ia berkata dua atau tiga kali, \u201csesungguhnya aku sedang berpuasa.\u201d Adakalanya mengucapkan dengan lisan seperti yang dijelaskan imam an Nawawi di dalam kitab al Adzkar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Atau dengan hati sebagaimana yang diriwayatkan oleh imam ar Rafi\u2019i dari para imam, dan hanya mengucapkan di dalam hati.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Haram melakukan puasa di dalam lima hari. Yakni dua hari raya, artinya puasa di hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha. Dan di hari-hari Tasyrik, yakni tiga hari setelah hari raya kurban (11, 12, 13 Dzulhijjah)<\/p>\n<p>.Hukumnya makruh tahrim melakukan puasa di hari ragu (tanggal 30 bulan Sya\u2019ban) tanpa ada sebab yang menuntut untuk melakukan puasa pada hari itu. Pengarang memberi isyarat pada sebagian contoh-contoh sebab ini dengan \u2013 perkataannya, \u201ckecuali jika kebiasannya melakukan puasa bertepatan dengan hari tersebut\u201d.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Seperti orang yang memiliki kebiasaan puasa satu hari dan tidak puasa satu hari, kemudian \u00ab giliran puasanya bertepatan dengan hari ragu. Seseorang juga diperbolehkan melakukan puasa di hari ragu sebagai pelunasan puasa\u201d qadla\u2019 dan puasa nadzar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hari Syak adalah hari tanggal tiga puluh Sya\u2019ban ketika bulan tanggal 1 Ramdhan tidak terlihat di malam hari sebelumnya padahal langit dalam keadaan terang, sedangkan orang-orang membicarakan bahwa hilal telah terlihat namun tidak ada orang adil yang diketahui telah melihatnya, atau yang bersaksi telah melihatnya adalah anak-anak kecil, budak atau orang-orang fasiq.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Barang siapa melakukan hubungan biologis disiang hari bulan Ramadhan dalam keadaan sengaja melakukannya di dalam vagina, dan dia adalah orang yang diwajibkan untuk berpuasa dan telah niat melakukan puasa di malam harinya serta dia dianggap berdosa\u201d .<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>melakukan jima\u2019 tersebut karena berpuasa, maka wajib baginya untuk menggadia\u2019 puasanya dan membayar kafarat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kafarat tersebut adalah memerdekakan budak mukmin. Dalam sebagian redaksi kitab matan ada penjelasan \u201cbudak yang selamat dari cacat yang bisa mengganggu di dalam bekerja dan beraktifitas.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika ia tidak menemukan budak, maka wajib melakukan puasa dua bulan berturut-turut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika tidak mampu melakukan puasa dua bulan berturut-turut, maka wajib memberi makan kepada enam puluh orang miskin atau fagir. Masing-masing mendapatkan satu mud, artinya dari jenis bahan makanan pokok yang bisa mencukupi di dalam zakat fitrah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika ia tidak mampu melakukan semuanya, maka kafarat tersebut tetap menjadi tanggungannya. Ketika setelah itu ia mampu melakukan salah satunya, maka wajib baginya untuk melakukannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki hutang puasa Ramadhan yang ia tinggalkan sebab udzur seperti orang yang membatalkan puasa sebab sakit dan belum sempat menggadia\u2019inya misalnya sakitnya terus berlanjut hingga Ia meninggal dunia, maka tidak ada tanggungan dosa baginya di\u201d dalam puasa yang ia tinggalkan Ini, dan tidak perlu ditebus dengan fidyah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika hutang puasa tersebut bukan karena udzur dan ia meninggal dunia sebelum sempat mengqadia\u2019inya, maka wajib memberikan , makanan sebagai pengganti dari hutang puasanya. Artinya bagi seorang wali wajib mengeluarkan untuk mayat dari harta peninggalannya. Setiap hari yang telah ditinggalkan diganti dengan satu mud bahan makanan pokok.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Satu mud adalah satu rithl lebih sepertiga rithl kota Bagdad. Dan dengan takaran adalah separuh wadah takaran negara Mesir.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Apa yang telah disebutkan oleh pengarang adalah gaul Jadid.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sedangkan menurut gaul Oadim, tidak harus memberi bahan makanan pokok, bahkan bagi wali juga diperbolehkan untuk melakukan puasa sebagai pengganti dari orang yang meninggal, bahkan hal itu disunnahkan bagi seorang wali sebagaimana keterangan di dalam kitah Syarh al Muhadzdzab.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan di dalam kitab ar Raudlah, imam an Nawawi membenarkan kemantapan dengan pendapat gaul Oadim.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Orang laki-laki tua, wanita lansia, dan orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, ketika masing-masing dari ketiganya tidak mampu untuk berpuasa, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan memberi bahan. makanan pokok sebanyak satu mud sebagai pengganti dari setiap harinya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan tidak diperbolehkan mendahulukan pembayaran mud sebelum masuk bulan Ramadhan, dan baru boleh dibayarkan setelah terbit fajar setiap harinya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagi wanita hamil dan menyusui, jika keduanya khawatir terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri sebab berpuasa seperti bahaya yang dialami oleh orang sakit, maka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan wajib bagi mereka berdua untuk mengqadla\u2019inya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika keduanya khawatir pada anaknya, artinya khawatir keguguran bagi wanita hamil dan sedikitnya air susu bagi ibu menyusui, maka<\/p>\n<p>keduanya diperbolehkan tidak berpuasa dan wajib bagi keduanya untuk mengqadla\u2019i sebab membatalkan puasa dan juga membayar kafarat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sedangkan kafaratnya adalah setiap harinya wajib mengeluarkan satu mud. Satu mud, seperti yang telah dijelaskan, adalah satu rithl lebih sepertiga rithl negara Irag. Dan diungkapkan dengan kota Baghdad. Orang yang sakit dan bepergian jauh yang hukumnya mubah, jika ia merasa berat untuk berpuasa, maka bagi keduanya diperbolehkan untuk \u2014 tidak berpuasa dan wajib : menggadia\u2019inya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagi orang sakit, jika sakitnya terus menerus, maka baginya diperbolehkan untuk tidak berniat berpuasa di malam hari.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan jika sakitnya tidak terus menerus, semisal demam dalam satu waktu dan tidak di waktue yang lain, namun di waktu memasuki pelaksanaan puasa (menginjak pagi hari) \u201d demamnya \u2014 kambuh, maka baginya diperbolehkan untuk tidak berniat berpuasa \u2013 di malam hari-.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jika tidak demikian, maka wajib baginya untuk berniat di malam hari. Kemudian jika demamnya kambuh dan ia butuh untuk membatalkan puasa, maka diperbolehkan untuk membatalkan puasanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pengarang tidak menjelaskan tentang puasa sunnah. Dan puasa sunnah disebutkan di dalam kitab-kitab yang diperluas pembahasannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Diantaranya adalah puasa Arafah (9Dzulhijjah), Asyura\u2019 (10 Muharram), Tasu\u2019a\u2019 (9 Muharram), Ayyamul Bidi (hari-hari terang, yakni tanggal 13, 14, 15, selain bulan dzulhijjah, untuk bulan dzulhijjah adalah tanggal 14,15 dan 16), dan puasa enam hari di bulan Syawal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lafadz shiyam dan shaum adalah dua bentuk kalimat masdar, yang secara etimologi keduanya bermakna menahan. Dan secara termonologi hukum syara\u2019 adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat tertentu sepanjang siang hari yang bisa menerima ibadah puasa dari orang muslim yang berakal dan suci dari haid dan nifas. Adapun syarat-syarat wajib berpuasa ada tiga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[50],"tags":[],"class_list":["post-66","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-hukum-hukum-puasa-daftar-isi"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=66"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":71,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/66\/revisions\/71"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=66"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=66"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/fathul-alqarib\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=66"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}