{"id":93,"date":"2025-03-25T08:50:40","date_gmt":"2025-03-25T08:50:40","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pengaruh-intelektual-dan-karya-karya-syafii\/"},"modified":"2025-03-25T08:50:40","modified_gmt":"2025-03-25T08:50:40","slug":"pengaruh-intelektual-dan-karya-karya-syafii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pengaruh-intelektual-dan-karya-karya-syafii\/","title":{"rendered":"Pengaruh Intelektual dan Karya-karya Syafi\u2019i"},"content":{"rendered":"<p>Sebelum membahas karya-karya Syafi\u2019i, ada baiknya apabila dikaji lebih dulu mengenai metode penulisan, gaya bahasa, dan latar belakang pemikiran Syafi\u2019i. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Imam Syafi\u2019i adalah sosok yang sangat memperhatikan ilmu dan mencintainya melebihi kecintaan terhadap dirinya sendiri. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mencatat semua pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, berkenaan dengan hadis-hadis, masalah fiqih, dan sebagainya. Kemudian ia meringkas catatan-catatan tersebut untuk dijadikan sebagai sumber rujukan ketika ia siap menulis. Hal seperti ini sudah sering ia lakukan sejak pertama kali ia datang ke Baghdad. Ia membeli karya-karya Muhamad bin al-Hasan asy-Syaibani \u2013kawan dekat Abu Hanifah-. Lalu ia memberikan catatan-catatan dalam setiap pembahasannya, sebagai bantahan kepadanya.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i berkata, \u201cSaya menghabiskan uang 60 Dinar untuk membeli karya-karya Muhamad bin al-Hasan. Kemudian saya menelitinya satu per satu dan menuliskan satu hadis pada setiap masalah yang dibahasnya.\u201d[1] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani menegaskan, hadis tersebut sengaja ditulis oleh Syafi\u2019i sebagai kritikan terhadap Muhamad bin al-Hasan.<\/p>\n<p>Dalam menuangkan gagasan-gagasan dan menuliskannya, Imam Syafi\u2019i menggunakan metode filsafat dan logika. Karena itu, karya-karyanya bersifat sangat ilmiah, kajiannya mendalam, metodenya jelas, dan analisanya terarah. Semua itu menggambarkan penguasaan teori yang matang dan pemikiran-pemikirannya yang sangat orisinal. Sebagaimana terlihat dengan jelas dalam karyanya yang sangat monumental, yaitu kitab ar-Ris\u00e2lah dan al-Umm. Ia mengawali setiap pembahasan dengan mengetengahkan definisi terlebih dahulu. Kemudian ia mensistematiskan pembahasannya dengan klasifikasi yang jelas dan contoh-contoh yang memadai. Setelah itu, ia sebutkan dalil-dalil dan argumentasi-argumentasi dalam setiap klasifikasinya. Terkadang, ia juga menyebutkan definisi-definisi yang saling bertentangan, agar dijadikan sebagai perbandingan dan penelaahan. Setiap pembahasan diakhiri dengan ulasan terhadap pendapat yang dianggapnya paling mendekati kebenaran.[2]<\/p>\n<p>Gaya berpikir dan metode penulisan seperti ini hanya mampu dilakukan oleh penulis yang betul-betul menguasai tema pembahasan secara mendalam. Sehingga ia bisa menuangkan gagasan-gagasannya dan mengkaji masalah tersebut secara detail dan mendalam. Harapannya, ia bisa menyampaikan sebuah kesimpulan yang benar atau paling mendekati kebenaran, tanpa pembahasan yang bertele-tele dan membosankan. Karena itu, perlu keahlian tersendiri dan perenungan yang mendalam. Untuk menghasilkan ide-ide yang cemerlang dan memperlancar proses perenungan, terkadang Imam Syafi\u2019i memerintahkan pelayannya agar mematikan lampu, agar ia mampu berpikir dengan jernih. Setelah ia mendapatkan ide, maka ia segera menyalakan lampunya kembali dan menuliskannya.<\/p>\n<p>Muhamad bin Ukhti Syafi\u2019i menceritakan dari ibunya. Ia berkisah, \u201cSetiap malam, tidak kurang dari 30 kali, Syafi\u2019i menghidupkan dan mematikan lampunya. Ia senang berpikir dalam kegelapan. Setiap kali ia mendapatkan ide-ide baru, maka ia langsung menyuruh pelayannya untuk menghidupkan lampu. Pelayannya keheranan dengan sikap majikannya yang seperti ini. Akhirnya, ia menanyakan hal tersebut kepada Ahmad \u2013putra Syafi\u2019i-. Maka, ditegaskan bahwa kegelapan dapat menerangkan hatinya, sehingga mudah mendapatkan ide-ide yang baru.\u201d[3]<\/p>\n<p>Ar-Rabi\u2019 bercerita, \u201cSaya mengikuti Syafi\u2019i sebelum ia tinggal di Mesir. Saat itu, ia mempunyai budak perempuan yang berkulit hitam. Ketika ia sedang mengerjakan penulisan sebuah tema dalam ilmu tertentu, maka ia menyuruh budaknya agar menyalakan lampu. Setelah lampu menyala, ia langsung menuangkan ide-idenya di atas kertas sampai selesai. Lalu ia mematikan lampu tersebut. Lampu itu terus dimatikan selama satu tahun. Saya memberanikan diri berkata kepadanya, \u2018Wahai Abu Abdullah, budak itu akan kesusahan melayanimu.\u2019 Ia menjawab, \u2018Lampu itu menyibukkan hatiku.\u2019\u201d[4]<\/p>\n<p>Pada saat menulis, Syafi\u2019i tidak hanya mengandalkan kitab-kitabnya saja, tetapi ia juga membaca kitab-kitab ulama lain. Tujuannya agar ia mengetahui pendapat-pendapat ulama lain tentang masalah yang sedang ditulisnya, sekaligus mengkritisi dan memperdebatkan pendapat-pendapat yang dianggapnya kurang tepat.<\/p>\n<p>Dalam kitab Taw\u00e2l\u00ee at-Ta\u2019s\u00ees, karya Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani disebutkan, \u201cSyafi\u2019i datang ke Mesir dan pada 4 tahun terakhir ia sangat rajin menulis. Ia juga memboyong ke Mesir kitab-kitab Ibnu \u2018Uyaiynah yang dimilikinya pada saat di Hijaz. Ia sering menemui Yahya bin Hassan untuk keperluan menulis. Ia juga membawa kitab-kitab dari Asyhab yang berisi ulasan berbagai masalah. Semua kitab-kitab itu, diletakkan di hadapannya. Lalu ia mulai menulis. Selesai menulis, al-Buwaithi ditugaskan untuk membacakan tulisan tersebut. Sedangkan ar-Rabi\u2019 bertugas melayani kebutuhan Syafi\u2019i dalam berbagai hal.\u201d[5]<\/p>\n<p>Dalam penulisan buku-bukunya, terkadang Syafi\u2019i tidak langsung menggoreskan penanya sendiri. Kadang-kadang ia mendiktekannya, karena itu para pembaca kitab al-Umm akan sering bertemu dengan redaksi ini \u201cAmla \u2018alain\u00e2 asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee (Syafi\u2019i mendiktekan kepada kami).\u201d Redaksi seperti ini ditemukan dalam beberapa pembahasan, antara lain: ash-Shulh (perdamain), al-Haw\u00e2lah (pemindahan hak milik), dan al-Wak\u00e2lah (perwakilan).[6]<\/p>\n<p>Adapun mengenai gaya tulisan Syafi\u2019i, maka hal itu dijelaskan dalam pernyataan al-Jahizh, \u201cSaya telah meneliti kitab-kitab karya para ulama. Ternyata, saya tidak melihat suatu karya yang seindah tulisan Syafi\u2019i. Rangkaian katanya seperti untaian mutiara.\u201d[7] Dalam tulisan-tulisannya, ia sering menggunakan redaksi yang bersifat dialogis, yang enak dibaca, dan sangat menarik. Penulisan tersebut mengikuti gaya bahasa al-Qur\u2019an, seperti terlihat dalam firman Allah di bawah ini:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u064a\u064e\u0633\u0652\u0623\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e\u0643\u064e \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0623\u0647\u0650\u0644\u0651\u064e\u0629\u0650 \u0642\u064f\u0644\u0652 \u0647\u0650\u064a\u064e \u0645\u064e\u0648\u064e\u0627\u0642\u0650\u064a\u062a\u064f \u0644\u0650\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u062c\u0651\u0650<\/p>\n<p>\u201cMereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, \u2018Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.\u2019\u201d[8]<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u064a\u064e\u0633\u0652\u0623\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e\u0643\u064e \u0645\u064e\u0627\u0630\u064e\u0627 \u0623\u064f\u062d\u0650\u0644\u0651\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0642\u064f\u0644\u0652 \u0623\u064f\u062d\u0650\u0644\u0651\u064e \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0637\u0651\u064e\u064a\u0651\u0650\u0628\u064e\u0627\u062a\u064f<\/p>\n<p>\u201cMereka menanyakan kepadamu, \u2018Apakah yang dihalalkan bagi mereka?\u2019 Katakanlah, \u2018Dihalalkan bagimu yang baik-baik.\u2019\u201d[9]<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0642\u0650\u064a\u0644\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0622\u0645\u0650\u0646\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0622\u0645\u064e\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u064f \u0642\u064e\u0627\u0644\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0623\u064e\u0646\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u064f \u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0622\u0645\u064e\u0646\u064e \u0627\u0644\u0633\u0651\u064f\u0641\u064e\u0647\u064e\u0627\u0621<\/p>\n<p>\u201cApabila dikatakan kepada mereka, \u2018Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.\u2019 Mereka menjawab, \u2018Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?\u2019\u201d[10]<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0641\u064e\u0644\u064e\u0645\u0651\u064e\u0627 \u062c\u064e\u0627\u0621\u062a\u0652 \u0642\u0650\u064a\u0644\u064e \u0623\u064e\u0647\u064e\u0643\u064e\u0630\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0631\u0652\u0634\u064f\u0643\u0650 \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e\u062a\u0652 \u0643\u064e\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f \u0647\u064f\u0648\u064e<\/p>\n<p>\u201cDan ketika Ratu Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya, \u2018Seperti inikah singgasanamu?\u2019 Dia menjawab, \u2018Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.\u2019\u201d[11]<\/p>\n<p>Gaya bahasa seperti di atas dianggap sebagai tehnik penulisan yang terbaik, karena dapat menyentuh para pembaca dan mempengaruhi psikologisnya. Sayangnya, diperlukan kejelian dan ketelitian yang sangat ekstra dari penulis itu sendiri. Di samping itu, ia juga harus betul-betul mempertahankan ide\u00a0 yang akan disampaikannya. Penulis diharuskan dapat memilih pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan menarik. Dalam hal ini, penulis mempunyai dua agenda, yaitu: memilih pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan jawaban-jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bagi Syafi\u2019i yang sangat menguasai ilmu bahasa, hal itu bukan merupakan sesuatu yang sulit.<\/p>\n<p>Aktifitas Syafi\u2019i dalam tulis menulis, tidak diketahui dengan pasti permulaannya. Menurut pendapat yang shahih, ditegaskan bahwa ia sudah mulai menulis ketika ia masih berada di Mekah, sebelum kedatangannya ke Irak yang kedua. Buktinya sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Buwaithi. Ia berkata, Syafi\u2019i bercerita, \u201cPara ahli hadis berkumpul menemuiku. Mereka meminta agar saya megkritisi kitab Abu Hanifah. Saya katakan bahwa saya belum pernah meneliti kitabnya dengan seksama. Lalu saya pun melakukan penelitian yang intensif terhadap kitab-kitab mereka (para pengikut Abu Hanifah). Saya mengkaji kitab-kitab Muhamad bin al-Hasan selama setahun penuh, sampai-sampai menjadi hafal terhadap kitab-kitab tersebut. Kemudian di Baghdad, saya menuliskan hasil penelitian tersebut dalam sebuah kitab.\u201d Al-Buwaithi menegaskan, kitab tersebut diberi judul al-Hujjah.[12]<\/p>\n<p>Karya-karya Syafi\u2019i jumlahnya cukup banyak dan tidak mungkin diketahui semuanya, bukan karena jumlahnya yang tidak terbatas, tetapi karena tersebar di berbagai tempat. Sebagian karyanya dibawa oleh para sahabatnya yang tersebar di Hijaz, Irak, dan Mesir. Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani mengutip pernyataan al-Baihaqi yang menegaskan bahwa kitab al-Hujjah yang ditulis di Baghdad dibawa oleh az-Za\u2019farani. Karya-karyanya yang lain dibawa oleh al-Husain bin \u2018Ali al-Karabisi dan Abu Abdurrahman Ahmad bin Yahya asy-Syafi\u2019i. Saya sendiri sempat menemukan karyanya yang berjudul Kit\u00e2b as-Sayr yang berasal dari riwayat Abu Abdurrahman. Ternyata, kitab tersebut sudah diberi catatan tambahan oleh penulis lain. Abu Tsaur juga menyimpan karya Syafi\u2019i yang tidak dipunyai oleh orang lain.<\/p>\n<p>Demikian pula Ahmad bin Hanbal, ia menyimpan karya Syafi\u2019i yang berjudul Mas\u00e2\u2019il Manst\u00fbrah, kitab ini pun sudah mendapatkan tambahan komentar dari penulis lain. Abu al-Walid Musa bin Abu al-Jarud juga mempunyai sebuah kitab ringkasan (Mukhtashar) yang diriwayatkan dari Syafi\u2019i dan kitab tersebut sudah tidak otentik lagi, karena bercampur dengan tulisan ulama lain. Demikian pula dengan sahabat-sahabat Syafi\u2019i lainnya, baik dari Hijaz, Irak, maupun Mesir. Hampir semuanya mempunyai tulisan-tulisan Syafi\u2019i. Sahabat-sahabatnya yang di Hijaz dan Irak, antara lain: al-Humaidi, al-Harts bin Suraij, dan al-Husain bin \u2018Ali al-Qalas. Sedangkan sahabat-sahabatnya di Mesir adalah ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman al-Jizi, Abdul \u2018Aziz bin \u2018Imran bin Miqlash, Yunus bin Abdul A\u2019la, Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dan Bahr bin Nashr al-Khaulani.[13]<\/p>\n<p>Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani menyatakan, \u201cIni membuktikan bahwa Syafi\u2019i mempunyai karya-karya lain, selain kitab-kitabnya yang sudah terkenal itu.\u201d Al-Baihaqi berkata, \u201cSebagian karya-karya Syafi\u2019i di Mesir (madzhab jad\u00eed) tidak ditulis ulang, antara lain: ash-Shiy\u00e2m wa ash-Shad\u00e2q, al-Hud\u00fbd, ar-Rahn ash-Shagh\u00eer, al-Ij\u00e2zah, dan al-Jan\u00e2\u2019iz. Ketika di Mesir, Imam Syafi\u2019i menyuruh murid-muridnya untuk membacakan kitab-kitab tersebut kepadanya. Kemudian ia membakar sebagian karyanya yang menyalahi metode ijtihadnya di Mesir. Sebagian lainnya dibiarkan tidak dibakar dan dijadikan sebagai rujukan lain.[14]<\/p>\n<p>Menurut Ibnu Hajar, kitab-kitab tersebut sangat bermanfaat untuk menyingkap kerancuan pendapat Imam Syafi\u2019i seputar masalah-masalah yang sangat terkenal. Karena jawabannya terdapat pada sebagian kitab-kitab tersebut. Imam al-Baihaqi telah berusaha mendata karya-karya Imam Syafi\u2019i, antara lain: ar-Ris\u00e2lah al-Qad\u00eemah, ar-Ris\u00e2lah al-Jad\u00eedah, Ikhtil\u00e2f al-Had\u00eets, Jumm\u00e2\u2019 al-\u2018Ilm, Ibth\u00e2l al-Istihs\u00e2n, Ahk\u00e2m al-Qur\u2019\u00e2n, Bay\u00e2n al-Ghardh, Shifat al-Amr wa an-Nahy, Ikhtil\u00e2f M\u00e2lik wa asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Ikhtil\u00e2f al-\u2018Ir\u00e2qiyy\u00een, Ikhtil\u00e2fuhu ma\u2019a Muhammad bin al-Hasan, Kit\u00e2b \u2018Ali wa \u2018Abdullah, dan Fadh\u00e2\u2019il al-Quraisy.<\/p>\n<p>Karyanya yang paling spektakuler adalah kitab al-Umm. Kitab ini diawali pembahasannya dengan kajian tentang Thah\u00e2rah (tata cara bersuci), ash-Shalaw\u00e2t (salat lima waktu), al-Jum\u2019at (salat jum\u2019at), al-Khauf (salat khauf), al\u2019Id (salat hari raya), al-Kus\u00fbf (salat gerhana), al-Istisq\u00e2\u2019 (salat minta hujan), at-Tathawwu\u2019 (salat sunnah). Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang hukum bagi orang yang meninggalkan salat, tata cara salat jenazah, zakat, klasifikasi sedekah, puasa, i\u2019tikaf, manasik, haji, jual-beli, dan seterusnya. Jumlah tema yang dibahas dalam kitab al-Umm kurang lebih 149 tema dan setiap tema disebut satu kitab. Karya Imam Syafi\u2019i lainnya adalah Kit\u00e2b as-Sunan, kitab yang cukup tebal ini dibawa oleh Harmalah. Sedangkan al-Muzani membawa karyanya yang berjudul Kit\u00e2b al-Mabs\u00fbth dan al-Mantsur\u00e2t.[15]<\/p>\n<p>Dalam kitab T\u00e2rikh at-Tasyr\u00ee\u2019 al-Isl\u00e2m\u00ee, Syeikh Muhamad al-Khudhari menyatakan, \u201cKarya Imam Syafi\u2019i yang paling berharga adalah kitabnya yang berjudul al-Maws\u00fbm bi Ikhtil\u00e2f al-Had\u00eets. Kitab ini sengaja ditulis oleh Syafi\u2019i sebagai pembelaan terhadap hadis secara umum, dan khususnya hadis ahad. Dalam kitab ini, dijelaskan mengenai Kontroversial penggunaan hadis, mengingat ada sebagian orang yang menolak hadis secara keseluruhan dan ada pula yang terlalu ketat dalam menetapkan syarat-syarat diterimanya hadis.\u201d[16]<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani, Taw\u00e2l\u00ee at-Ta\u2019s\u00ees, Op. Cit., halaman 76.<\/li>\n<li>[2] Prof. Mushthafa Abdurraziq, Tamh\u00eed li T\u00e2r\u00eekh al-Falsafah al-Isl\u00e2miyyah, Op. Cit., halaman 229 dan 245.<\/li>\n<li>[3] Ibid., halaman 230.<\/li>\n<li>[4] Syeikh Abu Zahrah, asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit., halaman 158.<\/li>\n<li>[5] Abu Hatim ar-Razi, \u00c2d\u00e2b asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee wa Man\u00e2qibuhu, I\/71.<\/li>\n<li>[6] Syeikh Abu Zahrah, asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit., halaman 159.<\/li>\n<li>[7] Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit., halaman 87.<\/li>\n<li>[8] QS. Al-Baqarah (2) : 189.<\/li>\n<li>[9] QS. Al-M\u00e2\u2019idah (5) : 4.<\/li>\n<li>[10] QS. Al-Baqarah (2) : 13.<\/li>\n<li>[11] QS. An-Naml (27) : 42.<\/li>\n<li>[12] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani, Taw\u00e2l\u00ee at-Ta\u2019s\u00ees, Op. Cit., halaman 76.<\/li>\n<li>[13] Ibid., halaman 78-79.<\/li>\n<li>[14] Kitab-kitab tersebut dijadikan acuan oleh Imam Syafi\u2019i ketika ia menarik kembali pendapat-pendapatnya yang baru (madzhab jad\u00eed) dan merefer pada pendapat-pendapatnya yang lama (madzhab qad\u00eem), penerj.<\/li>\n<li>[15] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani, Taw\u00e2l\u00ee at-Ta\u2019s\u00ees, Op. Cit., halaman 78.<\/li>\n<li>[16] Muhamad al-Khudhari, T\u00e2rikh at-Tasyr\u00ee\u2019 al-Isl\u00e2m\u00ee, Op. Cit., halaman 318.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum membahas karya-karya Syafi\u2019i, ada baiknya apabila dikaji lebih dulu mengenai metode penulisan, gaya bahasa, dan latar belakang pemikiran Syafi\u2019i. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Imam Syafi\u2019i adalah sosok yang sangat memperhatikan ilmu dan mencintainya melebihi kecintaan terhadap dirinya sendiri. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mencatat semua pelajaran yang disampaikan oleh gurunya, berkenaan dengan hadis-hadis, masalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[233],"tags":[],"class_list":["post-93","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-penjelasan-pengaruh-intelektual-dan-karya-karya-syafii"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}