{"id":92,"date":"2025-03-25T08:48:41","date_gmt":"2025-03-25T08:48:41","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/tokoh-tokoh-madzhab-syafii\/"},"modified":"2025-03-25T08:48:41","modified_gmt":"2025-03-25T08:48:41","slug":"tokoh-tokoh-madzhab-syafii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/tokoh-tokoh-madzhab-syafii\/","title":{"rendered":"Tokoh-tokoh Madzhab Syafi\u2019i"},"content":{"rendered":"<p>Dalam pembahasan ini, kami akan menyebutkan secara lengkap ulama-ulama besar yang mengikuti madzhab Syafi\u2019i dan sangat berjasa dalam penyebaran madzhab fiqih terbesar sepanjang sejarah Islam. Mulai dari ulama yang hidup sezaman dengannya sampai pertengahan abad ke 18 Hijriyah atau tepatnya pada masa Imam Tajudin as-Subki.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i terkenal sebagai tokoh yang paling banyak diikuti orang dan madzhabnya disebarkan oleh para ulama sesudahnya. Para ulama yang mengikuti madzhab Syafi\u2019i bukanlah ulama sembarangan, tetapi ulama besar yang banyak menghasilkan karya-karya ilmiah. Bahkan, sebagiannya adalah para ulama yang berkedudukan sebagai mujtahid mutlak. Banyak buku-buku biografi yang telah ditulis mengenai nama-nama ulama besar tersebut, di antaranya: Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah karya Imam as-Subki, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n karya Ibnu Khilikkan, Quww\u00e2t al-Wafay\u00e2t karya Muhamad al-Katibi, dan sebagainya. Sayangnya, buku-buku tersebut masih belum sempurna dalam menjelaskan para pengikut Imam Syafi\u2019i berikut silsilahnya secara lengkap. Karena itu, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakannya. Dalam pembahasan ini, saya menuliskan secara lengkap biografi para imam pengikut madzhab jad\u00eed Syafi\u2019i dan silsilahnya. Disebutkan juga sebagian para pengikut madzhab qad\u00eem agar lebih sempurna pembahasannya. Mengingat tidak mudahnya upaya ini, saya senantiasa memohon bimbingan Allah yang Maha Kuasa.<\/p>\n<p><strong>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ahmad bin Hanbal <\/strong>(w. 241 H.), imam besar yang merupakan salah satu imam dari 4 imam madzhab fiqih yang terkenal itu. Nama lengkap: Abu Abdullah Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Hilal bin Asad. Ia adalah murid utama Imam Syafi\u2019i yang senantiasa mengikuti gurunya sampai gurunya pindah ke Mesir. Gurunya pernah berkata, \u201cSaya keluar dari Baghdad dan meninggalkan seorang murid yang paling alim, yaitu Ibnu Hanbal.\u201d[1]<\/p>\n<p><strong>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Abu Bakar al-Humaidi<\/strong> (W. 129 H. di Mekah), nama lengkap: Abu Bakar Humaid bin Zuhair bin al-Harits bin Asad al-Humaidi. Ia banyak meriwayatkan hadis dan belajar fiqih kepada Imam Syafi\u2019i. Ia menemani perjalanan Imam Syafi\u2019i ke Baghdad dan Mesir. Imam Ahmad berkomentar, \u201cAl-Humaidi adalah imam besar di kalangan kami.\u201d Ar-Rabi\u2019 menegaskan, bahwasanya ia pernah mendengar Imam Syafi\u2019i berkata, \u201cSaya tidak pernah menemukan orang yang memiliki hafalan lebih kuat daripada al-Humaidi.\u201d Abu Abdullah Al-Hakim menimpali, \u201cAl-Humaidi adalah mufti dan ahli hadis di kalangan penduduk Mekah. Keahliannya di bidang hadis sangat diakui oleh penduduk Hijaz, sama seperti diakuinya kemampuan hadis Imam Ahmad bin Hanbal di kalangan penduduk Irak.\u201d[2]<\/p>\n<p><strong>3.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Abu al-Walid al-Makki<\/strong>, nama lengkap: Musa bin Abu al-Jarud. Ia adalah orang yang meriwayatkan kitab al-Am\u00e2l\u00ee dari Syafi\u2019i dan termasuk pengikut Syafi\u2019i yang terpercaya. Abu \u2018Ashim berkomentar, \u201cApabila terdapat pertentangan riwayat, maka ia adalah orang yang paling handal memecahkannya. Gurunya: Yahya bin Ma\u2019in dan Abu Ya\u2019qub al-Buwaithi. Muridnya: az-Za\u2019farani, ar-Rabi\u2019, dan Abu Hatim ar-Razi.<\/p>\n<p>Ia termasuk ulama ahli fiqih yang sangat disegani, tinggal di Mekah, dan berfatwa sesuai dengan madzhab Syafi\u2019i. Abu al-Walid berkata, saya mendengar Syafi\u2019i berkata, \u201cApabila saya mengemukakan suatu pendapat dan ternyata ada hadis shahih dari Rasulullah Saw. yang menyalahi pendapatku itu, maka pendapat yang harus diambil adalah pendapat yang sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.\u201d Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Humaidi, ar-Rabi\u2019, Abu Tsur, dan lainnya dari Syafi\u2019i.[3]<\/p>\n<p><strong>4.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Al-Buwaithi<\/strong> (W. 231 H.), nama lengkap: Abu Ya\u2019qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi al-Mishri. Ia adalah murid senior Imam Syafi\u2019i sewaktu di Mesir, yang termasuk imam besar, rajin beribadah, zahid, dan ahli fiqih kenamaan. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai pakarnya ilmu dan mahkotanya ilmu. Ia belajar fiqih langsung kepada Imam Syafi\u2019i, meriwayatkan hadis darinya, dan menjadi teman istimewanya. Ia mempunyai satu kitab yang berisi ringkasan pernyataan-pernyataan Imam Syafi\u2019i. Abu \u2018Ashim berkomentar, \u201cIa adalah orang yang sangat pandai dalam memahami sistematika kitab al-Mabs\u00fbth.\u201d Ar-Rabi\u2019 bercerita, \u201cAl-Buwaithi adalah sandaran fatwanya Imam Syafi\u2019i. Setiap ada masalah, ia seringkali dipercaya oleh Imam Syafi\u2019i untuk memberikan fatwa. Sepeninggal Imam Syafi\u2019i, ia didaulat untuk menggantikan gurunya itu. Banyak ulama besar yang mencuat berkat bimbingannya. Para ulama itu tersebar ke berbagai penjuru negeri dan menyebarkan ilmu Syafi\u2019i ke segenap penjuru dunia.\u201d[4]<\/p>\n<p><strong>5.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Al-Muzani<\/strong> (lahir 175 H. dan wafat pada akhir bulan Ramadhan 264 H.), nama lengkap: Abu Ibrahim Isma\u2019il bin Yahya bin Isma\u2019il bin \u2018Amr bin Ishaq al-Muzani. Ia adalah imam besar yang sangat gigih membela madzhab Syafi\u2019i. Gurunya: Syafi\u2019i, Nu\u2019aim bin Hammad, dan lainnya. Muridnya: Ibnu Khuzaimah, ath-Thahawi, Zakariya as-Saji, Ibnu Hawsha\u2019, Ibnu Abi Hatim, dan lainnya. Ia adalah orang yang sangat alim pandai berdebat dan berargumentasi. Syafi\u2019i sendiri pernah berkomentar tentangnya, \u201cSeandainya al-Muzani terlibat perdebatan dengan setan, pasti ia akan mengalahkannya.\u201d Ia juga termasuk orang yang sangat zahid, wara\u2019, qana\u2019ah, dan giat berdakwah. Apabila tertinggal salat jama\u2019ah, maka ia menyempurnakan salatnya dengan salat sunah sebanyak 25 raka\u2019at. Ia sering memandikan jenazah, sebagai media berintrospeksi diri dan menguatkan semangat ibadah. Katanya, \u201cSaya memandikan jenazah agar hatiku menjadi lentur.\u201d Abu Ishaq asy-Syairazi mengomentarinya, \u201cAl-Muzani adalah orang yang zahid, alim, mujtahid, ahli debat, orator ulung yang pandai merangkai kata dengan makna yang sangat dalam. Ia juga telah menuliskan banyak peninggalan intelektual yang tak ternilai harganya, di antaranya: al-J\u00e2mi\u2019 al-Kab\u00eer, al-J\u00e2mi\u2019 ash-Shagh\u00eer, al-Mukhtashar, al-Mants\u00fbr, al-Mas\u00e2\u2019il al-Mu\u2019tabarah, at-Targh\u00eeb f\u00ee al-\u2018Ilm, Kit\u00e2b al-Wats\u00e2\u2019iq, Kit\u00e2b al-\u2018Aq\u00e2rib, dan Kit\u00e2b Nih\u00e2yah al-Ikhtish\u00e2r.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i berkata, \u201cAl-Muzani adalah pembela madzhabku.\u201d Ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman bercerita, \u201cKami menjenguk Imam Syafi\u2019i saat sakit keras menjelang ajalnya, dengan ditemani oleh al-Buwaithi, al-Muzani, dan Muhamad bin Abdul Hakam. Lalu guru kami itu menatap kami beberapa saat lamanya dan berpesan, \u2018Tahukah kamu, wahai Abu Ya\u2019qub (Syafi\u2019i)!? Sesungguhnya kamu akan segera menyongsong ajalmu. Sedangkan kamu, hai Muzani, sesungguhnya kamu akan hidup di Mesir dengan penuh kesuksesan dan kesejahteraan. Kamu juga akan menjumpai orang-orang yang sangat cerdas dan kritis di zamannya. Sedangkan kamu, hai Muhamad, sesungguhnya kamu akan kembali mengikuti madzhab ayahmu. Dan kamu, hai Rabi\u2019, sesungguhnya kamu adalah orang yang paling berjasa dalam menyebarkan kitab-kitabku. Berdirilah, wahai Abu Ya\u2019qub!, berpamitanlah kepada mereka semua.\u2019 Ternyata, pesan Imam Syafi\u2019i itu benar-benar menjadi kenyataan.\u201d<\/p>\n<p>Imam as-Subki bercerita, \u201cPara ulama menceritakan bahwa apabila al-Muzani merampungkan satu pembahasan yang ditulisnya dalam kitab al-Mukhtashar, maka ia salat dua raka\u2019at.\u201d \u2018Amr bin \u2018Utsman al-Makki berkata, \u201cSaya tidak pernah melihat orang yang rajin beribadah, melebihi al-Muzani. Dia adalah orang yang sangat konsisten dalam ibadah. Bukan hanya itu, ia juga termasuk orang yang sangat mengagungkan ilmu dan para ahli ilmu, serta bersikap rendah hati dan sangat terbuka kepada manusia. Ia pernah mengatakan bahwa sikapnya itu meneladani akhlak Syafi\u2019i.\u201d\u00a0 Dalam satu riwayat disebutkan, \u201cKetika Bakkar bin Qutaiybah datang ke Mesir dan menemui hakim yang bermadzhab Hanafi, tiba-tiba ia bertemu dengan al-Muzani. Lalu kawan Bakkar menanyakan sesuatu kepada al-Muzani. Ia berkata, \u2018Dalam beberapa hadis disebutkan tentang pengharaman dan penghalalan minuman keras dari anggur (an-nab\u00eedz). Kenapa terjadi kontradiksi seperti ini?\u201d al-Muzani menjawab, \u201cTidak ada seorang pun ulama yang mengharamkan minuman keras di masa Jahiliyah, karena memang dulunya masih dihalalkan. Bahkan, pada awal-awal Islam pun masih dihalalkan. Minuman keras itu baru diharamkan setelah akidah umat Islam semakin kuat. Konteks sosial itulah yang memperkuat pengharaman yang ditegaskan dalam hadis-hadis Nabi Saw.\u201d Jawaban al-Muzani ini terasa sangat pas di pikiran Bakkar. Banyak para ulama besar dari Khurasan, Irak, dan Syam yang namanya meroket di bawah bimbingan al-Muzani.[5]<\/p>\n<p><strong>6.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Ar-Rabi\u2019<\/strong> (W. 270 H.), nama lengkap: Abu Hamid ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman bin Abdul Jabbar bin Kamil al-Muradi. Ia adalah imam agung, kawan dekat Imam Syafi\u2019i, dan orang yang banyak meriwayatkan kitab-kitab Syafi\u2019i. Ia lahir pada tahun 174 H., banyak menghabiskan waktu untuk melayani Syafi\u2019i dan menyebarkan kitab-kitabnya. Gurunya: Syafi\u2019i, Abdullah bin Wahb, Abdullah bin Yusuf at-Tanisi, Ayyub bin Suwaid ar-Ramli, Yahya bin Hassan, Asad bin Musa, dan banyak lagi yang lainnya. Muridnya: Abu Dawud, an-Nasa\u2019i, Ibnu Majah, Abu Zur\u2019ah ar-Razi, Abu Hatim dan anaknya \u2013Abdurrahman bin Abu Hatim-, Zakariya as-Saji, Abu Ja\u2019far ash-Shahawi, Abu Bakar Abdullah bin Muhamad bin Ziyad an-Naisaburi, al-Hasan bin Habib al-Hashayari, Ibnu Sha\u2019id, Ab\u00a0 al-\u2018Abbas al-Ashamm, dan masih banyak lagi yang lainnya. Murid ar-Rabi\u2019 yang terakhir adalah Abu al-Fawaris as-Sindi. Sementara at-Tirmidzi meriwayatkan hadis darinya dengan metode ij\u00e2zah (memberikan lisensi untuk meriwayatkan kitab-kitabnya).<\/p>\n<p>Ulama besar ini sering menjadi muadzin di Masji Jami\u2019 Fusthath \u2013Jami\u2019 \u2018Amr bin al-\u2018Ash-. Ia melantunkan adzan dengan alunan nada yang sangat merdu dan sangat disukai oleh Imam Syafi\u2019i. Suatu hari, Syafi\u2019i berkata kepadanya, \u201cSungguh saya sangat senang mendengar suara adzanmu. Seandainya saya bisa menurunkan ilmu kepadamu, saya akan menyuapkannya kepadamu seperti seorang bayi yang disuapi makanan oleh ibunya.<\/p>\n<p>Ia juga termasuk rawi hadis yang sangat kredibel dan terpecaya dalam periwayatannya. Bahkan, apabila terjadi kontradiksi antara riwayatnya dan riwayat al-Muzani, maka para pengikut madzhab Syafi\u2019i lebih mendahulukan riwayatnya. Padahal, semua tahu bahwa al-Muzani juga termasuk orang yang sangat mumpuni dalam periwayatan hadis.<\/p>\n<p>Ar-Rabi\u2019 meninggal pada hari Senin dan dikebumikan pada hari Selasa, 21 Syawwal 270 H. Khalifah Khamarawiyah bin Ahmad bin Thulun turut mensalati jenazahnya.[6]<\/p>\n<p><strong>7.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Muhamad bin Abdul Hakam<\/strong> (182-268 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam bin A\u2019yun bin Laits Abu Abdullah al-Mishri. Gurunya: Abdullah bin Wahb, Ibnu Abi Fudaik, Syafi\u2019i, dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Syafi\u2019i secara intensif. Muridnya: an-Nasa\u2019i, Abu Hatim ar-Razi, Ibnu Huzaimah, dan lainnya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Imam Syafi\u2019i sangat kagum dengan kecerdasan dan kecintaannya terhadap ilmu fiqih. Sepeninggal Imam Syafi\u2019i, ia beralih ke madzhab Maliki, karena konflik personal yang terjadi antara dirinya dan al-Buwaithi. Imam as-Subki berkomentar, \u201cKami mengetahui Ibnu Abdul Hakam sebagai pengikut madzhab Syafi\u2019i, karena ia mengikuti jejaknya Syeikh Abu \u2018Ashim al-\u2018Ibadi dan Syeikh Abu \u2018Amr bin ash-Shalah. Dua orang itulah yang mempengaruhinya untuk mengikuti madzhab Syafi\u2019i. Demikian menurut satu riwayat. Ada juga yang menyebutkan bahwa ia sebenarnya pengikut madzhab Maliki yang pindah ke madzhab Syafi\u2019i.\u201d[7]<\/p>\n<p><strong>8.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Abu Abdullah al-Mishri<\/strong> (W. 264 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb bin Muslim al-Qursyi, yang dijuluki Nakhsyal. Gurunya; Abdullah bin Wahb \u2013pamannya sendiri-, Syafi\u2019i, dan lainnya. Muridnya: Muslim bin al-Hajjaj, Abu Hatim ar-Razi, Ibnu Huzaimah, dan Ibnu Jarir.[8]<\/p>\n<p><strong>9.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Abu Tsur<\/strong> (W. 240 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Khalid bin al-Yaman al-Kalbi al-Baghdadi. Imam mulia ini termasuk teman dekatnya Imam Syafi\u2019i, orang yang sering mentransformasikan qaul qad\u00eemnya, ahli fiqih yang sangat alim dan terpercaya. Ia banyak menulis buku tentang hukum-hukum Islam, hasil kompilasi antara hadis dan fiqih. Pada mulanya, ia sangat sibuk mendalami madzhab fiqih rasional, sampai Syafi\u2019i datang ke Irak. Lalu ia sering berdebat dengan Syafi\u2019i dan akhirnya meninggalkan madzhab lamanya.[9]<\/p>\n<p><strong>10.\u00a0 Ibnu Rahawaih<\/strong> (W. 238 H.), nama lengkap: Abu Ya\u2019qub Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim bin Mathar al-Handzali al-Marwazi. Imam agung ini merupakan pemuka kaum muslimin yang sangat menguasai dalam bidang fiqih dan hadis. Ia juga tergolong orang yang sangat wara\u2019 dan takwa, yang disebut-sebut sebagai orang alimnya penduduk Naisabur. Ia lahir pada tahun 161 H. Ada juga yang mengatakan bahwa tahun kelahirannya adalah 166 H.[10]<\/p>\n<p><strong>11.\u00a0 Abdul \u2018Aziz bin Yahya bin Abdul \u2018Aziz al-Kitabi al-Makki.<\/strong> Ia termasuk salah satu murid Imam Syafi\u2019i di bidang fiqih, terkenal sebagai kawan dekatnya, dan pernah menemaninya ke Yaman. Ia disebut-sebut sebagai penulis kitab al-Haydah, yang memuat banyak pemikiran baru dan unik. Menurut as-Subki, sangat mungkin sekali kalau penulis kitab tersebut adalah Abdul \u2018Aziz.[11]<\/p>\n<p><strong>12.\u00a0 Al-Khawarizmi<\/strong> (W. 236 H.), nama lengkap: Abu \u2018Amr al-Harits bin Suraij an-Naqqal. Dialah orang yang meriwayatkan kitab ar-Ris\u00e2lah karya Syafi\u2019i kepada Abdurrahman bin Mahdi.[12]<\/p>\n<p><strong>13.\u00a0 Abu \u2018Ubaid al-Qasim bin Sallam<\/strong> (W. 224 H.). Ia adalah imam agung yang ahli dalam kesusasteraan Arab, ahli fiqih, pakar hadis, dan penulis banyak karya ilmiah di bidang fiqih, bahasa, sya\u2019ir, dan qira\u2019ah.[13]<\/p>\n<p><strong>14.\u00a0 At-Tajibi<\/strong> (W. 251 H.), nama lengkap: Ahmad bin Yahya bin al-Wazir bin Sulaiman bin al-Muhajir, Abu Abdullah al-Mishri. Ia termasuk ulama penghafal hadis yang ahli di bidang ilmu nahwu. Gurunya: Abdullah bin Wahb, Syu\u2019aib bin al-Laits, Isbagh bin al-Faraj, dan lainnya. Muridnya: an-Nasa\u2019i yang menilai gurunya itu sebagai rawi yang terpercaya (tsiqah), al-Husain bin Ya\u2019qub al-Mishri, Abu Bakar bin Abu Dawud, dan lainnya. Ia termasuk sahabat Imam Syafi\u2019i dan banyak belajar fiqih kepadanya. Imam yang dielu-elukan sebagai pakar sya\u2019ir, kesusasteraan Arab, dan psikologi di zamannya ini, lahir pada tahun 171, dan wafat pada tanggal 6 Syawwal 251 H. Ada juga yang mengatakan, tahun wafatnya adalah 250 H.[14]<\/p>\n<p><strong>15.\u00a0 Abu Thahir al-Mishri<\/strong> (W. 250 H.), nama lengkap: Ahmad bin \u2018Amr bin Abdullah bin \u2018Amr bin as-Saraj al-Mishri al-Qursyi al-Umawi. Ia dikenal sebagai ulama ahli fiqih. Gurunya: Sufyan bin \u2018Uyaynah, Syafi\u2019i, Ibnu Wahb, dan lainnya. Muridnya: Muslim bin al-Hajjaj, Abu Dawud, an-Nasa\u2019i, Ibnu Majah, dan sebagainya. Ia termasuk ulama yang mempunyai pengaruh besar dan telah berhasil mensyarahi kitab al-Muwathth\u00e2\u2019 karya Imam Malik. Ia pernah meriwayatkan hadis dari Ibnu Wahb secara individual. Berikut hadis tersebut: Abu Thahir berkata, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, dari \u2018Amr bin al-Harits, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, \u201cSetiap anak Adam adalah pemimpin. Suami adalah pemimpin anggota keluarganya dan isteri adalah pemimpin rumahnya.\u201d Menurut as-Subki, hadis ini berkualitas shahih gharib. Ia wafat pada tanggal 14 Dzul Qa\u2019dah 250 H.[15]<\/p>\n<p><strong>16.\u00a0 Ibnu al-A\u2019raj<\/strong> (W. 256 H.), nama lengkap: Ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman bin Dawud al-Jaizi Abu Muhamad al-Azdi al-Mishri al-A\u2019raj. Ia adalah ahli fiqih yang saleh. Gurunya: Syafi\u2019i, Abdullah bin Wahb, Ishaq bin Wahb, Abdullah bin Yusuf, dan lainnya. Muridnya: Abu Dawud, an-Nasa\u2019i, Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Ja\u2019far ath-Thahawi, dan lainnya. Dialah orang yang meriwayatkan pendapat Syafi\u2019i bahwa membaca al-Qur\u2019an dengan dilagukan adalah makruh dan rambut orang yang mati harus dicuci dengan cara dibersihkan dengan bahan penyamak kulit. Ia meninggal pada bulan Dzul Hijjah 256 H. Riwayat lain menyebutkan, tahun 257 H.[16]<\/p>\n<p><strong>17.\u00a0 Yunus bin Abdul A\u2019la<\/strong> (170-264 H.), nama lengkap: Abu Musa, Yunus bin Abdul A\u2019la bin Musa bin Maysarah bin Hafsh bin Hayyan ash-Shadafi al-Mishri. Ia adalah imam besar yang ahli fiqih dan ahli qira\u2019ah, yang lahir pada tahun 170 H. Ia belajar melantunkan al-Qur\u2019an kepada Imam Warasy dan lainnya, dan mengajarkannya kepada manusia. Gurunya di bidang hadis: Sufyan bin \u2018Uyaynah, Ibnu Dahb, al-Walid bin Muslim, Ma\u2019n bin \u2018Isa, Syafi\u2019i, dan lainnya. Ia juga belajar fiqih kepada Imam Syafi\u2019i dan lainnya. Muridnya: Muslim, an-Nasa\u2019i, Ibnu Majah, Abu \u2018Awanah, Abu Bakar bin Ziyad an-Naisaburi, Abu Thahir al-Madani, dan lainnya. Ia dielu-elukan sebagai pakarnya ilmu di Mesir. Dalam satu riwayat disebutkan, Imam Syafi\u2019i pernah berkata, \u201cSaya tidak pernah melihat orang yang lebih cerdas dari Yunus bin Abdul A\u2019la.\u201d Yahya bin Hassan berkomentar, \u201cYunus itu termasuk pilarnya agama Islam.\u201d Menurut an-Nasa\u2019i, Yunus adalah rawi yang terpercaya (tsiqah). As-Subki berkata, \u201cTidak ada seorang pun yang meragukan kapabilitas Yunus dan mengkritiknya. Hanya saja, ada satu hadis yang diriwayatkan secara personal oleh Yunus dari Syafi\u2019i. Dalam teks hadis tersebut disebutkan bahwa tidak ada Imam Mahdi sesudahku, kecuali \u2018Isa. Tidak ada seorang pun murid Syafi\u2019i lainnya yang meriwayatkan hadis ini dari Syafi\u2019i. Namun demikian, hal ini bukan berarti menurunkan kredibilitasnya, ia tetap disebut sebagai rawi terpercaya dan handal. Ia wafat pada bulan Rabi\u2019ul Akhir 264 H.\u201d[17]<\/p>\n<p><strong>18.\u00a0 Harmalah bin Yahya bin Abdullah bin Harmalah bin \u2018Imran bin murad at-Tajibi<\/strong> (166-243 H.). Gurunya: Syafi\u2019i, Abdullah bin Wahb, Ayyub bin Suwaid ar-Ramli, Bisyr bin Bakar at-Tanisi, Sa\u2019id bin Abu Maryam, dan lainnya. Muridnya: Muslim bin al-Hajjaj, Ibnu Majah, dan lainnya. Menurut Imam as-Subki, ada ulama yang masih meragukan integritas Harmalah. Sampai-sampai Abu Hatim menilainya sebagai orang yang periwayatan hadisnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Penilaian ini ditepis oleh Ibnu \u2018Addi. Ia menegaskan bahwa dirinya telah meneliti hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Harmalah yang jumlahnya sangat banyak. Dari hasil penelitiannya, disimpulkan bahwa tidak ada alasan yang kuat untuk melemahkan hadis periwayatannya. Sebenarnya ia adalah rawi yang sangat terpercaya, namun kebesaran namanya tenggelam oleh ketenaran Ibnu Wahb. As-Subki berkata, \u201cInilah pendapat yang shahih mengenai Harmalah, karena sebenarnya ia termasuk rawi yang kredibel dan handal, insy\u00e2\u2019 Allah.\u201d Harmalah berkata, saya mendengar Syafi\u2019i berkata, \u201cSaya tidak pernah bersumpah \u201cDemi Allah,\u201d baik dalam kejujuran maupun kedustaan.\u201d Dialah penulis kitab al-Mabs\u00fbth dan al-Mukhtashar.[18]<\/p>\n<p><strong>19.\u00a0 Syeikh Abu \u2018Utsman al-Qadhi<\/strong> (W. 240 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abu Abdullah bin Muhamad bin Idris Syafi\u2019i. Dia adalah putra tertua Imam Syafi\u2019i. Sewaktu ayahandanya meninggal, ia telah tumbuh dewasa dan tinggal di Mekah.\u00a0 Dialah orang yang disebut-sebut dalam pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal, \u201cSesungguhnya saya mencintaimu karena tiga hal: Kamu adalah anaknya Imam Syafi\u2019i, kamu keturunan Quraisy, dan kamu tergolong pengikut Ahli Sunnah.\u201d Gurunya: Ayahandanya \u2013Imam Syafi\u2019i-, Sufyan bin \u2018Uyaynah, Abdurrazaq, Ahmad bin Hanbal, dan lainnya. Ia sempat menjabat sebagai hakim di Jazirah dan Halb. Ia meninggalkan tiga keturunan (2 putra dan 1 putri),\u00a0 yaitu: al-\u2018Abbas bin Muhamad bin Muhamad bin Idris, Abu al-Hasan (meninggal saat masih menyusui), dan Fathimah (tidak mempunyai keturunan). Menurut al-Khathib, putra sulung Imam Syafi\u2019i ini meninggal di Jazirah Arabia pada tahun 240 H.[19]<\/p>\n<p><strong>20.\u00a0 Abu Ja\u2019far ath-Thabari<\/strong>, nama lengkap: Ahmad bin Shalih al-Mishri al-Hafizh. Ia termasuk pakarnya ilmu dan pemukanya para hafizh, lahir di Mesir pada tahun 170 H. Menurut Imam as-Subki, di antara gurunya ath-Thabari adalah: Sufyan bin \u2018Uyaynah, Abdullah bin Wahb, Harmi bin \u2018Ammarah, \u2018Anisah bin Sa\u2019id, Ibnu Abi Fudaik, Abdurrazaq, Abdullah bin Nafi\u2019, dan Syafi\u2019i. Muridnya: al-Bukhari, Abu Dawud, \u2018Umar, an-Naqid, adz-Dzahali, Muhamad bin Abdullah bin Numair, Mahmud bin Ghailan, Abu Zur\u2019ah ad-Dimasqi, Shalih Jazrah, dan Abu Isma\u2019il at-Tirmidzi.<\/p>\n<p>Al-Bukhari berkomentar, \u201cAth-Thabari adalah rawi yang terpercaya. Saya tidak pernah melihat seseorang yang berbicara dengan selalu menggunakan dalil.\u201d An-Nasa\u2019i pernah melontarkan penilaian kepada Ahmad bin Shalih ath-Thabari. Ia menyatakan bahwa ath-Thabari bukan orang yang tsiqah dan tidak terpercaya. Riwayatnya ditinggalkan oleh Muhamad bin Yahya dan Yahya bin Ma\u2019in menganggapnya sebagai pendusta. Dalam kitab al-Irsy\u00e2d, Abu Ya\u2019la al-Khalili menegaskan, \u201cIbnu Shalih adalah penghafal hadis yang terpercaya.\u201d Para ahli hadis sepakat, penilaian an-Nasa\u2019i terhadap ath-Thabari kurang objektif dan tidak akan mempengaruhi kredibilitasnya ath-Thabari.\u201d Imam as-Subki berkata, \u201cAhmad bin Shalih adalah imam yang terpercaya dan tidak perlu menggubris kritikan dari orang yang tidak suka kepadanya.\u201d[20]<\/p>\n<p><strong>21.\u00a0 Al-Khuzza\u2019i<\/strong> (W. 234 H.), nama lengkap: Abu \u2018Ali Abu Abdul \u2018Aziz bin Ayyub bin Maqlash al-Khuzza\u2019i. Ia adalah ahli fiqih yang bersikap zuhud. \u2018Amr bin Yunus berkata, \u201cDulu, al-Khuzza\u2019i adalah pemukanya madzhab Maliki. Namun, ketika Imam Syafi\u2019i datang ke Mesir, ia belajar fiqih kepadanya dan mengikuti madzhab Syafi\u2019i.\u201d Ia meninggal pada bulan Rabi\u2019ul Akhir 234 H.[21]<\/p>\n<p><strong>22.\u00a0 Az-Za\u2019farani<\/strong> (W. 249\/260 H.), nama lengkap: Abu \u2018Ali, al-Hasan bin Muhamad bin ash-Shabbah az-Za\u2019farani. Ia adalah kawan lamanya Imam Syafi\u2019i yang sering meriwayatkan madzhab qad\u00eemnya Imam Syafi\u2019i. Ibnu Hajar mengutip pernyataan al-Baihaqi bahwasanya kitab al-Hujjah yang ditulis oleh Imam Syafi\u2019i di Baghdad, diriwayatkan oleh az-Za\u2019farani dari Syafi\u2019i. Ia termasuk ahli fiqih sekaligus pakar hadis yang fasih berbahasa Arab. Imam al-Mawardi berkata, \u201cAz-Za\u2019farani adalah rawi yang paling terpercaya dalam mentransformasikan madzhab qad\u00eemnya Imam Syafi\u2019i. Ia banyak menulis kitab mengenai fiqih dan hadis.<\/p>\n<p>Gurunya: Abu Sufyan bin \u2018Uyaynah, Syafi\u2019i, \u2018Ubaid bin Humaid, Abdul Wahhab ats-Tsaqafi, dan Yazid bin Harun. Az-Za\u2019farani berkata, \u201cPara ahli hadis dulunya masih terlelap dalam mimpi mereka, sampai dibangunkan oleh Imam Syafi\u2019i. Tidak ada seorang pun ahli hadis yang tidak memuji Syafi\u2019i.\u201d Muridnya: al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa\u2019i, dan Ibnu Majah. Hanya Imam Muslim yang tidak meriwayatkan hadis darinya. Ia meninggal pada bulan Rabi\u2019ul Akhir 249 H. Menurut Ibnu Khilikkan, bulan Sya\u2019ban 260 H.[22]<\/p>\n<p><strong>23.\u00a0 Al-Karabisi<\/strong> (W. 245\/248 H.), nama lengkap: al-Husain bin \u2018Ali bin Yazid Abu \u2018Ali al-Karabisi. Imam agung ini termasuk kawan dekatnya Imam Syafi\u2019i yang terkenal sebagai orang yang sangat rajin menghadiri mejelisnya Imam Syafi\u2019i, dan orang yang paling hafal terhadap madzhab Syafi\u2019i. Ia juga disinyalir sebagai ulama yang ahli fiqih dan hadis. Pada mulanya ia mendalami madzhab fiqih rasional (madzhab Hanafi), lalu tertarik menyelami madzhab Syafi\u2019i. Ia termasuk teolog Ahli Sunnah yang sangat mumpuni di bidang ilmu Kalam. Dalam kitab Gh\u00e2yah al-Mar\u00e2m, al-Khathib \u2013ayah Imam Fakhruddin- menyatakan bahwa karya tulis al-Karabisi di bidang ilmu Kalam menjadi rujukan utama para teolog untuk menepis pemikiran golongan Khawarij dan madzhab-madzhab yang suka mengikuti hawa nafsu. Ia meninggal pada tahun 245\/248 H.[23]<\/p>\n<p><strong>24.\u00a0 Abu Hatim ar-Razi<\/strong> (195-277 H.), nama lengkap: Muhamad bin Idris bin al-Mundzir bin Dawud bin Mahran al-Ghithafi al-Hanzhali. Ia termasuk salah satu imam besar yang sangat disegani, lahir pada tahun 195 H. Gurunya: \u2018Ubaidullah bin Musa dan Abu Nu\u2019aim al-Isfahani di Kufah, Muhamad bin Abdullah al-Anshari, al-Ashmu\u2019i di Bashrah, dan lainnya. Muridnya: ash-Shaffar, Yunus bin Abdul A\u2019la, \u2018Ubaidah bin Sulaiman al-Mawarzi, dan ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman al-Muradi. Orang-orang yang hidup sezamannya yang meriwayatkan hadis darinya adalah Abu Zur\u2019ah ar-Razi, Abu Zur\u2019ah ad-Dimasyqi. Sedangkan para penulis kitab hadis yang meriwayatkan hadis darinya adalah Abu Dawud. Menurut satu pendapat, Imam al-Bukhari dan Ibnu Majah juga meriwayatkan hadis darinya, namun pendapat ini kurang kuat. Murid-muridnya yang lain: Abu Bakar bin Abu ad-Dunya, Ibnu Sha\u2019id, Abu \u2018Awanah, al-Qadhi al-Mahalli, dan lainnya. Ibnu Abu Hatim berkata, saya mendengar Yunus bin Abdul A\u2019la berkata, \u201cAbu Zur\u2019ah dan Abu Hatim ar-Razi adalah dua imam besar di kalangan penduduk Khurasan. Bahkan, kaum muslimin sangat menghargai peninggalan intelektual dari kedua imam besa itu.\u201d Ia wafat pada bulan Sya\u2019ban 277 di usia 82 tahun.[24]<\/p>\n<p><strong>25.\u00a0 Abu Ja\u2019far at-Tirmidzi<\/strong> (W. 295 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Nashr. Ia adalah Imam besar pengikut madzhab Syafi\u2019i di Irak, sebelum Ibnu Suraij. Ia belajar fiqih kepada para pengikut madzhab Syafi\u2019i. Ia mempunyai kitab yang sangat terkenal, yaitu kitab Ikhtil\u00e2f Ahl ash-Shal\u00e2t f\u00ee al-Ush\u00fbl. Ibnu ash-Shalah tidak berani berkomentar apa-apa tentang dirinya. Dulunya, ia termasuk ulama besar penganut madzhab Hanafi. Namun, ketika ia sedang menunaikan ibadah haji, ia menyaksikan hal-hal yang mendoronya untuk beralih ke madzhab Syafi\u2019i. Lalu ia pun belajar fiqih Syafi\u2019i kepada ar-Rabi\u2019 dan lainnya. Ia meninggal pada tahun 295 H., di usinya yang ke 94.[25]<\/p>\n<p><strong>26.\u00a0 Ath-Thabari<\/strong> (224\/225 \u2013 310 H.), nama lengkap: Muhamad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Khalib, Abu Ja\u2019far ath-Thabari dari daerah Tibrisan. Ia adalah imam agung yang berhak menyandang gelar mujtahid mutlak. Imam dunia dan akhirat ini lahir pada tahun 224 H. atau 225 H. Gurunya: Muhamad bin Abdul Malik bin Abu asy-Syawarib, dan lainnya. Muridnya: Abu Syu\u2019aib al-Harani, ath-Thabrani, dan lainnya.<\/p>\n<p>Berikut karya-karyanya yang sangat berharga: Kit\u00e2b at-Tafs\u00eer, at-T\u00e2rikh, al-Far\u00e2\u2019, al-\u2018Adad, at-Tanz\u00eel, Ikhtil\u00e2f al-\u2018Ulam\u00e2\u2019, T\u00e2rikh ar-Rij\u00e2l min ash-Shah\u00e2bah wa at-T\u00e2bi\u2019\u00een, Ahk\u00e2m Syar\u00e2\u2019i al-Isl\u00e2m \u2013kitab ini ditulis berdasarkan hasil ijtihadnya sendiri-, al-Haq\u00eeq \u2013kitab ringkas mengenai fiqih-, at-Tabsh\u00eer f\u00ee Ush\u00fbl ad-D\u00een, Tahdz\u00eeb al-\u00c2ts\u00e2r \u2013ia hanya menulis permulaannya saja dan kitab ini termasuk salah satu karyanya yang sangat monumental-, al-Bas\u00eeth \u2013ia hanya menulis awalnya saja sekitar 1.500 lembar-, Kit\u00e2b al-Muh\u00e2dhir wa as-Sajal\u00e2t, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Suraij berkata, \u201cMuhamad bin Jarir ath-Thabari adalah ahli fiqih sealam dunia.\u201d Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Muhamad bin Jarir berkata, \u201cSaya menyebarkan fiqih Syafi\u2019i dan memfatwakannya di Baghdad selama 10 tahun.\u201d Menurut Ibnu Kamil, Imam Mujtahid Mutlak ini meninggal pada Ahad sore di bulan Syawwal 310 H. Lalu dikebumikan di pelataran rumah Ya\u2019qub.[26]<\/p>\n<p><strong>27.\u00a0 Ibnu Khuzaimah<\/strong> (232-311 H.), nama lengkap: Abu Bakar bin Khuzaimah, Muhamad bin Ishaq bin Khuzaimah bin al-Mughirah bin Shalih bin Bakar an-Naisaburi. Ia adalah pemimpinnya para imam kaum muslimin yang layak menyandang gelar mujtahid mutlak, yang lahir pada tahun 232 H. Di usianya yang masih belia, ia sempat mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih dan Muhamad bin Humaid ar-Razi, namun ia tidak meriwayatkan hadis dari keduanya, mengingat usianya yang masih kecil. Gurunya: Mahmud bin Ghailan, Muhamad bin Aban al-Mustamli, dan sebagainya. Muridnya: al-Bukhari, Muslim, dan lainnya.<\/p>\n<p>Abu \u2018Ali al-Husain bin Muhamad al-Hafizh berkata, \u201cSaya tidak pernah melihat orang sepandai Muhamad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah). Ibnu Khuzaimah mampu menghafal kandungan hukum-hukum fiqih dari hadis-hadis yang dihafalnya, seperti qari yang hafal nama surat yang dibacanya.\u201d Ad-Daruquthni berkomentar, \u201cIbnu Khuzaimah adalah imam yang sangat handal yang tidak ada tandingannya.\u201d Ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman berkata, \u201cKami menimba ilmu dari Ibnu Khuzaimah lebih banyak daripada ia menimba ilmu dari kami.\u201d Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Khuzaimah memimpin gerakan dakwah besar-besaran di Bustan. Ia mengumpulkan semua ahli fiqih dan para saudagar kaya, agar mengumpulkan semua makanan, minuman, dan buah-buahan yang ada di Bustan. Al-Hakim berkata, \u201cUpacara pemakamannya disaksikan oleh khalayak ramai dalam jumlah yang tak terhitung, hanya Raja Agung yang mampu menandinginya.\u201d Abdul Malik bin Hisyam menjadikan karya-karya Ibnu Khuzaimah sebagai rujukan utama dalam penulisan sejarah Rasulullah Saw. Imam besar ini meninggal pada tahun 311 H.[27]<\/p>\n<p><strong>28.\u00a0 Muhamad bin Nashr al-Marwazi<\/strong> (202-294 H.). Ia adalah imam besar yang bergelar mujtahid mutlak, lahir di Baghdad pada tahun 202 H, tumbuh di Naisabur, dan tinggal di Samarqand. Ayahnya berasal dari Marwazi. Ia belajar agama kepada para pengikut Imam Syafi\u2019i. Muridnya: Abu al-\u2018Abbas as-Sarraj, Abu Hamid bin asy-Syaraqi, Muhamad bin al-Mundzir, dan sebagainya. Al-Hakim berkomentar, \u201cAl-Marwazi adalah ahli fiqih yang sangat alim, rajin ibadah, dan pakar hadis di zamannya.\u201d Menurut al-Khathib, ia adalah orang yang paling mengerti mengenai perbedaan pendapat para sahabat dan generasi sesudahnya.<\/p>\n<p>Abu Dzarr Muhamad bin Yusuf al-Qadhi berkata, \u201cPara guru kami menegaskan bahwa ulama Khurasan itu ada empat, yaitu: Ibnu al-Mubarak, Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawaih, dan Muhamad bin Nashr al-Marwazi.\u201d Abu Bakar ash-Shayrafi menuturkan bahwa seandainya al-Marwazi hanya menulis kitab al-Qis\u00e2mah, maka pastilah ia tetap menjadi orang yang paling pandai. Tetapi, nyatanya, ia juga menulis banyak buku lainnya, seputar hadis dan fiqih. Ia juga menulis kitab khusus yang merangkum tentang pendapat-pendapat Abu Hanifah yang bertentangan dengan pendapat \u2018Ali dan Abdullah. As-Subki berkata, \u201cIbnu Nashr, Ibnu Juraij, dan Ibnu Khuzaimah adalah pilar utama madzhab Syafi\u2019i.\u201d Ia wafat pada tahu 294 di Samarqand.[28]<\/p>\n<p><strong>29.\u00a0 \u00a0Ibnu al-Mundzir<\/strong> (W. 309\/310 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ibrahim bin al-Mundzir, Abu Bakar an-Naisaburi. Ia tergolong mujtahid yang sangat alim, wara\u2019, dan penghafal hadis. Ia mendengar hadis dari Muhamad bin Maimun dan lainnya. Sementara murid yang belajar darinya adalah Abu Bakar bin al-Muqri dan sebagainya. Ia mempunyai banyak karya tulis yang sangat berharga, di antaranya: Kit\u00e2b al-Awsath, Kit\u00e2b al-Asyr\u00e2f f\u00ee Ikhtil\u00e2f al-\u2018Ulam\u00e2\u2019, al-Ijm\u00e2\u2019 wa at-Tafs\u00eer, dan as-Sunan wa al-Ijm\u00e2\u2019 wa al-Ikhtil\u00e2f. As-Subki berkata, adz-Dzahabi berkata, \u201cIbnu al-Mundzir adalah orang yang sangat pandai ilmu hadis dan hadis-hadis yang kontradiktif. Ia juga tergolong mujtahid yang independen dan tidak bergantung pada pendapat orang lain.\u201d<\/p>\n<p>Lebih lanjut as-Subki menyatakan, ada empat imam yang namanya diawali dengan Muhamad, yaitu: Muhamad bin Nashr, Muhamad bin Jarir, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu al-Mundzir. Mereka semua adalah para pemuka madzhab Syafi\u2019i yang pantas mendapatkan julukan mujtahid mutlak. Meskipun mereka pantas berijtihad sendiri, namun mereka tidak keluar dari koridor madzhab Syafi\u2019i.\u00a0 Mereka berijtihad dengan menggunakan metode Ushul Fiqihnya Imam Syafi\u2019i, agar ijtihadnya sama dengan hasil ijtihad imam terbesar sepanjang sejarah itu. Bahkan, mereka tidak segan-segan mengakui ijtihadnya mengikuti pemikiran Imam Syafi\u2019i dan menisbatkan kepadanya. Sikap seperti ini, bukan berarti mereka adalah para mujtahid yang suka mengekor pendapat orang lain, namun hal itu menunjukkan sikap rendah hati yang sangat mulia. Sehingga mereka dikategorikan sebagai mujtahid madzhab Syafi\u2019i. Abu Ishaq asy-Syairazi berkata, \u201cIbnu al-Mundzir wafat pada tahun 309 atau 310 H.\u201d[29]<\/p>\n<p><strong>30.\u00a0 Abu \u2018Awanah<\/strong> (W. 316\/313 H.), nama lengkap: Ya\u2019qub bin Ibrahim bin Zaid an-Naisaburi. Ia adalah ahli hadis yang sangat terkenal dan penulis kitab al-Musnad ash-Shah\u00eeh \u2018ala Kit\u00e2b Muslim al-Isfar\u00e2yin\u00ee an-Nais\u00e2b\u00fbr\u00ee. Ia belajar hadis di Khurasan, Irak, Hijaz, Yaman, Syam, Tigris, Jazirah, Persia, Ashbihan, dan Mesir. Dialah orang pertama yang menyebarkan madzhab Syafi\u2019i di Isfarayin. Ia belajar fiqih madzhab Syafi\u2019i dari al-Muzani dan ar-Rabi\u2019. Sementara guru-gurunya yang lain adalah Muhamad bin Yahya, Muslim bin al-Hajjaj, Yunus bin Abdul A\u2019la, dan lainnya. Menurut riwayat yang shahih dari as-Subki, ia meninggal pada tahun 316 H. Pendapat lain menyebutkan, tahun 313 H.[30]<\/p>\n<p><strong>31.\u00a0 Ibnu Binti Syafi\u2019i<\/strong>. Nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Abdullah bin Muhamad bin al-\u2018Abbas bin \u2018Utsman bin Syafi\u2019 bin as-Sa\u2019ib, Abu Muhamad. Menurut riwayat lain, nama kunyahnya adalah Abu Abdurrahman Ibnu binti Syafi\u2019i. Demikian nasabnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Abu Zakariya an-Nawawi dalam kitab Syarh al-Muhadzdzab dalam pembahasan tentang masalah haidh. Pendapat yang kuat mengenai nama kunyahnya adalah pendapat yang disebutkan oleh an-Nawawi ini. Ibunya bernama Zainab binti Imam Syafi\u2019i. Ia meriwayatkan hadis dari ayahnya, dari Syafi\u2019i (kakeknya). Ia termasuk imam besar yang sangat alim dan disebut-sebut sebagai titisannya Imam Syafi\u2019i, karena sepeninggalan Imam Syafi\u2019i di keluarga Syafi\u2019 tidak ada lagi orang yang sealim dirinya. Mungkin disebabkan karena berkah kakeknya mengalir dalam darahnya.[31]<\/p>\n<p><strong>32.\u00a0 Abu Ya\u2019qub al-Isfarayini<\/strong> (W. 284 H.), nama lengkap: Ishaq bin Musa bin \u2018Imran al-Isfarayini. Ia termasuk pakar fiqih yang hidup zuhud, dan ahli hadis kenamaan yang wara\u2019, serta berteman baik dengan al-Muzani dan ar-Rabi\u2019. Ia mendalami fiqih kepada al-Muzani dan mendengarkan kitab al-Mabs\u00fbth dari ar-Rabi\u2019, serta meriwayatkan hadis dari Qutaibah bin Sa\u2019id, Ishaq bin Rahawaih, dan lainnya. Ia meninggal di Isfarayin pada tahun 284 H.[32]<\/p>\n<p><strong>33.\u00a0 Al-Janujardi<\/strong> (W. 220-293 H.), nama lengkap: \u2018Abdan bin Muhamad bin \u2018Isa, Abu Muhamad al-Marwazi. Ia adalah imam ahli hadis di zamannya di Marwa dan bersikap sangat zuhud. Dialah ulama yang berjasa menyebarkan madzhab Syafi\u2019i di Marwa dan merupakan gurunya Abu Ishaq al-Marwazi. Gurunya di bidang hadis adalah Qutaibah bin Sa\u2019id, \u2018Ali bin Hajr, ar-Rabi\u2019 al-Muradi, dan lainnya. Ia mendalami fiqih kepada para pemuka madzhab Syafi\u2019i dan berhasil menjadi ulama besar. Dialah orang yang pertama kali menyebarkan kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani di kota Marwa. Ia menyelami pemikiran Imam Syafi\u2019i kepada al-Muzani dan ar-Rabi\u2019, sehingga menjadi ulama ahli fiqih yang banyak menghafal hadis. Di antara para muridnya di bidang fiqih dari Murawazah adalah Abu Bakar bin Muhamad bin Mahmud al-Mahmudi, Abu al-\u2018Abbas as-Sayyari, dan Abu Ishaq al-Khalif Abadi \u2013temannya as-Saraj yang terkenal dengan nisbat al-Marwazi-. Ia lahir pada tahun 220 H. Abu Sa\u2019d as-Sam\u2019ani berkata, \u201c\u2019Abdan adalah nama julukannya (laqab), nama sebenarnya adalah \u2018Ubaidullah. \u2018Abdan disebut-sebut sebagai orang yang paling sukses menyebarkan madzhab Syafi\u2019i di Marwa, setelah Ahmad bin Yasar. Dulu, Ahmad bin Yasar pernah membawa kitabnya Imam Syafi\u2019i ke Marwa dan banyak orang yang sangat mengagumi kitab tersebut. Lalu \u2018Abdan meneliti sebagian isi kitab tersebut dan ingin menghapusnya, namun dilarang oleh Ahmad bin Yasar. \u2018Abdan menjual semua harta miliknya untuk biaya perjalanan ke Mesir. Di Mesir, ia bertemu dengan ar-Rabi\u2019 dan murid-murid Imam Syafi\u2019i lainnya. Akhirnya, ia pun berhasil meralat sebagian kitab Imam Syafi\u2019i.\u201d Ia meninggal pada malam \u2018Arafah (tanggal 10 Dzul Hijjah) tahun\u00a0 293 H. As-Subki berkata, \u201cMenurut riwayat yang shahih, \u2018Abdan lahir dan wafat di malam \u2018Arafah.\u201d[33]<\/p>\n<p><strong>34.\u00a0 Abu Sa\u2019id ad-Darimi<\/strong> (W. 280 H.), nama lengkap: \u2018Utsman bin Sa\u2019id bin Khalid bin Sa\u2019id as-Sijistasni. Ia adalah penghafal hadis, pakar hadis, dan salah satu imam yang terpercaya. Ia belajar fiqih kepada al-Buwaithi dan hadis kepada Yahya bin Ma\u2019in. Ia wafat pada bulan Dzul Hijjah 280 H.[34]<\/p>\n<p><strong>35.\u00a0 Abu \u2018Ali al-Hashayari<\/strong> (242-338 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Habib bin Abdul Malik ad-Dimasyqi. Ia adalah ahli fiqih dan imam besar masjid Jabiyah di Damaskus. Ia lahir pada tahun 242 H. Ia banyak meriwayatkan kitab al-Umm karya Imam Syafi\u2019i dari para muridnya. Ia mendengar hadis dari ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman al-Muradi. Dialah orang yang meriwayatkan kitab ar-Ris\u00e2lah karya Syafi\u2019i, dari ar-Rabi\u2019. Ia wafat tahun 338 H.[35]<\/p>\n<p><strong>36.\u00a0 Abu al-\u2018Abbas al-Ashamm<\/strong>. Nama lengkap: Muhamad bin Ya\u2019qub bin Musa al-Umawi. Ia meriwayatkan hadis dari ar-Rabi\u2019 dan dialah yang mengkodifikasikan kitab al-Musnad karya Imam Syafi\u2019i.[36]<\/p>\n<p><strong>37.\u00a0 Abu Bakar al-Farisi<\/strong> (W. 305 H.), nama lengkap: Ahmad bin al-Hasan bin Sahl. Ia adalah penulis kitab \u2018Uy\u00fbn al-Mas\u00e2\u2019il, al-Intiq\u00e2d, dan sebagainya. Ia belajar fiqih dari para ulama yang bertemu langsung dengan Syafi\u2019i. as-Subki berkata, \u201cMahmud al-Khawarizmi menegaskan bahwa Abu Bakar al-Farisi belajar fiqih kepada al-Muzani dan dialah orang yang pertama kali mempelajari madzhab Syafi\u2019i di Balkh melalui riwayat al-Muzani.\u201d Sementara menurut al-Mudhif, al-Farisi belajar fiqih kepada Ibnu Suraij. Ia wafat tahun 305 H.[37]<\/p>\n<p><strong>38.\u00a0 Abu Yahya as-Saji<\/strong>, (W. 307 H.), nama lengkap: Zakariya bin Yahya bin Abdurrahman bin Bahr bin \u2018Addi bin Abdurrahman al-Bishri. Ia termasuk penghafal hadis yang sangat terpercaya, yang mendalami fiqih dari al-Muzani dan ar-Rabi\u2019. Sementara dalam bidang hadis, ia belajar kepada \u2018Ubaidullah bin Mu\u2019adz al-\u2018Anbari dan lainnya. Dalam rangka mencari ilmu, ia merantau ke Kufah, Hijaz, dan Mesir. As-Subki berkomentar, \u201cIa mempunyai beberapa peninggalan intelektual, di antaranya: Kit\u00e2b Ikhtil\u00e2f al-Fuqah\u00e2\u2019 dan Kit\u00e2b Ikhtil\u00e2f al-Had\u00eets, kitab yang terakhir inilah yang disebut-sebut oleh adz-Dzahabi sebagai kitab yang mengkupas masalah \u2018illat-\u2018illat hadis. Ia juga mempunyai karya tulis di bidang fiqih dan pemerintahan (khil\u00e2fiy\u00e2t) yang dinamakan kitab \u201cUsh\u00fbl al-Fiqh.\u201d Dalam kitab ini, dikupas habis problematika fiqih secara luas. Menurut satu pendapat, kitab itu merupakan ringkasan dari kitabnya yang berjudul al-Kab\u00eer f\u00ee al-Khil\u00e2fiy\u00e2t.\u201d Ia meninggal pada tahun 207 H.[38]<\/p>\n<p><strong>39.\u00a0 Abu al-Qadim al-Anmathi<\/strong>, (W. 288 H.), nama lengkap: \u2018Utsman bin Sa\u2019id bin Basysyar; teman dekatnya al-Muzani dan ar-Rabi\u2019. Al-Khathib berkata, \u201cAl-Anmathi termasuk salah seorang ahli fiqih madzhab Syafi\u2019i. Ia meriwayatkan hadis dari al-Muzani dan ar-Rabi\u2019.\u201d Salah satu muridnya adalah Abu Bakar asy-Syafi\u2019i. As-Subki berkata, \u201cAl-Anmathi adalah orang yang mempopulerkan kitab-kitab Syafi\u2019i di Baghdad. Bahkan, Abu al-\u2018Abbas bin Suraij yang disebut-sebut sebagai Syeikhul Madzhab sempat belajar fiqih kepadanya.\u201d Abu \u2018Ashim berkomentar, \u201cAl-Anmathi di mata penduduk Baghdad sama seperti Abu Bakar bin Ishaq di mata penduduk Naisabur. Dialah orang yang pertama kali menyebarkan ilmu al-Muzani di Baghdad. As-Subki menanggapi, mungkin maksudnya sama kemampuan ilmunya di bidang fiqih. Tetapi di bidang lainnya, Abu Bakar bin Ishaq jelas lebih unggul, karena memang dikenal sebagai ulama yang tinggi kedudukannya, besar pengaruhnya, dan luas ilmunya. Memang betul, al-Anmathi adalah ulama besar di mata para muridnya, di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Abu al-\u2018Abbas bin Suraij, Abu Sa\u2019id al-Ishthakhri, Abu \u2018Ali bin Khairan, Manshur at-Tamimi, dan Abu Hafsh bin al-Wakil al-Barisani. Sayangnya, murid-murid Abu Bakar bin Ishaq tidak sehebat dan setenar murid-muridnya al-Anmathi. Ia meninggal pada bulan Syawwal 288 H.[39]<\/p>\n<p><strong>40.\u00a0 Abu Muhamad al-Andalusi<\/strong>, (W. 276\/277 H.), nama lengkap: al-Qasim bin Muhamad bin Qasim bin Muhamad bin Sayyar al-Qurthubi, mantan sahaya yang dimerdekakan oleh al-Walid bin Abdul Malik. Namanya masuk dalam deretan nama-nama ulama besar umat Islam. Gurunya: al-Muzani, Yunus bin Abdul A\u2019la, Muhamad bin Abdul Hakam, dan Ibrahim bin Muhamad asy-Syafi\u2019\u2019i. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah al-\u00cedh\u00e2h. Kitab ini ditulis untuk mengkritik orang-orang yang suka mengekor pendapat orang lain (taql\u00eed). Dalam kitab ini, ia sangat menampakkan kecenderungannya terhadap madzhab Syafi\u2019i. Ia meninggal pada tahun 276 H. dan ada juga yang berpendapat, tahun 277 H.[40]<\/p>\n<p><strong>41.\u00a0 Abu Zur\u2019ah ar-Razi<\/strong>, (W. 302 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Utsman bin Ibrahim bin Zur\u2019ah. Ia pernah menjabat sebagai hakim di Damaskus. Dikatakan bahwa dialah orang yang paling berjasa menyebarkan madzhab Syafi\u2019i di Damaskus. Dia juga suka memberikan hadiah uang sebanyak 100 Dinar kepada siapa saja yang hafal kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. Ia meninggal pada tahun 302 H.[41]<\/p>\n<p><strong>42.\u00a0 Abu Muslim as-Sulami<\/strong>, (W. 295 H.), nama lengkap: Nuh bin Manshur bin Mardas. Ia merantau di Mesir dan menuliskan riwayat dari Yunus bin Abdul A\u2019la dan ar-Rabi\u2019.[42]<\/p>\n<p><strong>43.\u00a0 Abu al-Hasan at-Tamimi<\/strong>, (W. 306 H.), nama lengkap: Manshur bin Isma\u2019il al-Mishri. Ia adalah ahli fiqih, penyair, dan pemuka madzhab Syafi\u2019i yang tuna netra. Menurut Syeikh Abu Ishaq, at-Tamimi belajar fiqih dari para pengikut Imam Syafi\u2019i dan teman dari temannya Imam Syafi\u2019i. Dia meninggalkan karya intelektual yang sangat berharga, di antaranya: al-W\u00e2jib, al-Musta\u2019mal, al-Mus\u00e2fir, al-Hid\u00e2yah, dan lainnya. Berikut ini kami sampaikan syairnya yang sangat indah:<\/p>\n<p>\u201cOrang-orang yang tidak berakal meremehkan belajar fiqih # Padahal, arogansi mereka itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap ilmu fiqih<\/p>\n<p>Matahari yang bersinar terang benderang # tidak berarti apa bagi orang yang tak melihat.\u201d[43]<\/p>\n<p><strong>44.\u00a0 Imam al-Bukhari<\/strong>, (W. 256 H.), nama lengkap: Abu Abdullah, Muhamad bin Isma\u2019il bin Ibrahim. Ia adalah penulis kitab hadis yang sangat terkenal, yaitu Shah\u00eeh al-Bukh\u00e2r\u00ee. As-Subki berkata, \u201cAbu \u2018AShi al-\u2018Ibadi menegaskan bahwa Abu Abdullah mendengar hadis dari az-Za\u2019farani, Abu Tsur, dan al-Karabisi, serta belajar fiqih kepada al-Humaidi. Mereka semua adalah para sahabat Imam Syafi\u2019i.\u201d Lebih lanjut Imam as-Subki menyatakan, Imam al-Bukhari tidak menyebutkan riwayat hadis dari Syafi\u2019i di dalam kitab monumentalnya itu, karena ia tidak sempat bertemu langsung dengan Imam Syafi\u2019i dan hanya bertemu dengan teman-temannya saja. Sementara Imam Syafi\u2019i sendiri telah meninggal dunia. Sehingga al-Bukhari tidak meriwayatkan hadis darinya dengan periwayatan yang terputus. Ia meriwayatkan masalah-masalah fiqih dari al-Hasan dan Abu Tsur.[44]<\/p>\n<p><strong>45.\u00a0 Abu Sa\u2019id al-Ishthakhri<\/strong>, (244-328 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Ahmad bin Yazid bin \u2018Isa bin al-Fadhl bin Basysyar bin Abdul Hamid bin Abdullah bin Hani bin Qubaishah bin \u2018Amr bin \u2018Amir. Ia termasuk imam besar yang disegani oleh orang-orang terhormat. Gurunya: Ma\u2019dan bin Nashr, Ahmad bin Manshur ar-Ramadi, dan lainnya. Muridnya: Ibnu al-Muzhaffir, Ibnu Syahin, ad-Daraquthni, dan lainnya. Al-Khathib berkata, \u201cAl-Ishthakhri termasuk salah satu imam besar yang sangat diagungkan di kalangan para ahli fiqih madzhab Syafi\u2019i.\u201d Abu Ishaq al-Marwazi bercerita, \u201cKetika saya masuk ke Baghdad, tidak ada seorang pun yang pantas untuk mengajarkan ilmu agama (fiqih), kecuali Abu Sa\u2019id al-Ishthakhri dan Abu al-\u2018Abbas bin Suraij.\u201d Ia meninggal di Banghdad bulan Jumadil Akhir 328 H.[45]<\/p>\n<p><strong>46.\u00a0 Abu \u2018Ali bin Khairan<\/strong>, (W. 320 H.), nama lengkap: al-Husain bin Shalih bin Khairan al-Baghdadi. Ia termasuk salah satu pilar madzhab Syafi\u2019i, yang menimba ilmu kepada al-Anmathi. As-Subki menyebutkan biografinya bersamaan dengan biografi al-Anmathi. Berikut komentarnya mengenai biografi Abu \u2018Ali bin Khairan, yang mengutip pernyataan adz-Dzahabi bahwa ia tidak menemukan data tentang guru-guru dan murid-murid Ibnu Khairan. Menurut as-Subki sendiri, mungkin ia meninggal antara umur 30-50 tahun, dan mungkin saja ia sering mengikuti pengajiannya Ibnu Suraij dan bertemu dengan guru-gurunya. Imam an-Nawawi menegaskan, di dalam kitab al-Muhadzdzab disebutkan sepintas mengenai biografi Abu \u2018Ali bin Khairan, Ibnu Abu Hurairah, dan ath-Thabari.[46]<\/p>\n<p><strong>47.\u00a0 Abu Hafsh bin al-Wakil<\/strong>, (W. 310.), nama lengkap: \u2018Umar bin Abdullah bin Musa. Ia termasuk pemuka madzhab Syafi\u2019i yang pendapatnya sangat diperhatikan. Al-Muthawwa\u2019i menyatakan bahwa ia tergolong ahli fiqih yang berkedudukan tinggi. Ia belajar fiqih kepada al-Anmathi dan meninggal di Baghdad pada tahun 310 H.[47]<\/p>\n<p><strong>48.\u00a0 Muhamad bin al-Husain al-Abari<\/strong>, (W. 363 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Husain bin Ibrahim bin \u2018Ashim bin Abdullah, Abu al-Husain as-Sijistani. Abar termasuk salah satu desa di Sijistan. Kitabnya yang terkenal adalah Man\u00e2qib asy-Sy\u00e2fi\u2019i.\u00a0 Menurut as-Subki, kitab ini merupakan kitab yang paling bagus mengenai biografi Imam Syafi\u2019i, paling banyak pembahasannnya, dan paling sistematis yang terdiri dari 75 bab. Anehnya, dalam kitab ini, penulis memasukkan Bisyr al-Murisi sebagai pemuka madzhab Syafi\u2019i. Padahal ia adalah rival kuatnya Syafi\u2019i. Ia tidak pernah mengikuti pendapat Syafi\u2019i, bahkan sering menentang dan menolaknya. Dalam kitab ini disebutkan bahwa al-Murisi adalah seorang mulhid (menyimpang). Al-Abari sendiri meninggal pada bulan Rajab 363 H.[48]<\/p>\n<p><strong>49.\u00a0 Abu \u2018Ali ats-Tsaqafi<\/strong>, (W. 328 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdul Wahhab bin Abdurrahman. Ia mendalami fiqih kepada Muhamad bin Nashr al-Marwazi.[49]<\/p>\n<p><strong>50.\u00a0 Abu al-Fadhl al-Bal\u2019ami<\/strong>, (W. 329 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Muhamad bin Abdurrahman. Ia termasuk kawan dekatnya Muhamad bin Nashr al-Marwazi. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Talq\u00eeh al-Bal\u00e2ghah dan al-Maq\u00e2l\u00e2t.[50]<\/p>\n<p><strong>51.\u00a0 Abu Bakar al-Mahmudi<\/strong>. Nama lengkap: Muhamad bn Muhamad al-Marwazi. Ia mendalami ilmu kepada Abu Muhamad al-Marwazi yang terkenal dengan sebutan \u2018Abdan.[51]<\/p>\n<p><strong>52.\u00a0 Abu al-\u2018Abbas as-Sayyari<\/strong>. Ia belajar fiqih kepada \u2018Abdan al-Marwazi, yaitu pakar hadis di Marwa di zamannya dan orang yang menyebarkan madzhab Syafi\u2019i di Marwa.[52]<\/p>\n<p><strong>53.\u00a0 Abu Bakar an-Naisaburi<\/strong>, (238-324 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad bin Ziyad bin Washil bin Saimun. Ia termasuk imam besar penghafal hadis. Gurunya: Muhamad bin Yahya, Ahmad bin Yusuf, ar-Rabi\u2019. Yunus, al-Muzani, dan Abu Zur\u2019ah ar-Razi. Ia meriwayatkan hadis dari ad-Daruquthni dan lainnya. Al-Hakim berkata, \u201cAbu Bakar an-Naisaburi adalah imam besar madzhab Syafi\u2019i di Irak pada masanya. Dia juga termasuk orang yang paling pandai dalam masalah-masalah agama dan perbedaan pendapat para sahabat.\u201d[53]<\/p>\n<p><strong>54.\u00a0 Abu al-\u2018Abbas an-Nasawi<\/strong>, (W. 303 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Sufyan bin \u2018Amir bin Abdul \u2018Aziz asy-Syaybani. Ia adalah ahli fiqih sekaligus penghafal hadis dan penulis kitab al-Musnad. Ia belajar fiqih kepada Abu Tsur dan Harmalah.[54]<\/p>\n<p><strong>55.\u00a0 Abu Manshur Abdullah bin Mahran<\/strong>. Ia mendalami fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi.[55]<\/p>\n<p><strong>56.\u00a0 Abu Sahl Muhamad bin Sulaiman ash-Sha\u2019luki<\/strong>, (W. 369 H.). Ia termasuk imam besar di zamannya yang menguasai fiqih, nahwu, tafsir, bahasa, sya\u2019ir, \u2018ar\u00fbdh, dan ilmu Kalam. Ia mendalami fiqih kepada al-Marwazi. Ia meninggal pada tahun 369 H. dan Abu ath-Thib \u2013anaknya- turut mensalatinya.[56]<\/p>\n<p><strong>57.\u00a0 Abu Hamid al-Marwazi<\/strong>, (W. 362 H.), nama lengkap: Ahmad bin Bisyr al-Qadhi. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi.[57]<\/p>\n<p><strong>58.\u00a0 Abu Ishaq al-Marwazi<\/strong>, (W. 340 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Ahmad bin Ishaq. Ia mendalami fiqih kepada Ibnu Suraij, Abdullah al-Marwazi dan al-Ishthakhri. Imam agung ini meninggalkan banyak karya tulis dan mensyarahi kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. Ia disebut-sebut sebagai pucuk pimpinan orang-orang alim di Baghdad. Menjelang akhir hayatnya, ia pindah ke Mesir dan meninggal di sana. Ia dikebumikan dekat dengan pusara Imam Syafi\u2019i.[58]<\/p>\n<p><strong>59.\u00a0 Abu Muhamad al-Qadhi<\/strong>, (W. 377 H.), nama lengkap: Abdullah bin \u2018Ali bin al-Hasan. Ia mendalami ilmu agama di bawah bimbingan Abu Ishaq al-Marwazi.[59]<\/p>\n<p><strong>60.\u00a0 Abu Bakar al-Qushari<\/strong>, (W. 372 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad \u2018Ali. Ia termasuk salah satu imam besar yang namanya melambung di bawah asuhan Abu Ishaq al-Marwazi.[60]<\/p>\n<p><strong>61.\u00a0 Ahmad bin \u2018Ali al-Juwaiqi<\/strong>, (W. 340 H.), nama lengkap: Ahmad bin \u2018Ali bin Thahir. Ia juga termasuk muridnya Abu Ishaq al-Marwazi. Ia telah memberikan catatan-catatan terhadap kitab Syarh al-Mukhtashar al-Muzan\u00ee.[61]<\/p>\n<p><strong>62.\u00a0 Abu \u2018Ali as-Sarkhasi<\/strong>, (W. 389 H.), nama lengkap: Zahir bin Ahmad bin Muhamad bin \u2018Isa. Imam besar ahli fiqih, pakar hadis, dan pakar tafsir ini adalah muridnya Abu Ishaq al-Marwazi. Ia meninggal pada hari Selasa, bulan Rabi\u2019ul Akhir 389 H.[62]<\/p>\n<p><strong>63.\u00a0 Al-Qaffal asy-Syasyi al-Kabir<\/strong>, (W. 365 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Ali bin Isma\u2019il. Ia termasuk salah satu imam besar yang sangat kharismatik, ilmunya luas, ringan tangan, dan sangat berpengaruh. Ia adalah pakar di bidang tafsir, hadis, fiqih, teologi, Ushul Fiqih, fiqih, tasawuf, bahasa, dan sya\u2019ir.<\/p>\n<p>Abu \u2018Ashim al-\u2018Ibadi berkomentar. \u201cAl-Qaffal adalah pengikut madzhab Syafi\u2019i yang tulisannya sangat tajam, ilmunya mendalam, pandai menjelaskan dengan cepat, dan kualitas isn\u00e2dnya paling tinggi.\u201d\u00a0 Al-Hulaimi berkata, \u201cGuru kami, al-Qaffal, adalah ulama paling pandai yang pernah saya temui dibandingkan dengan ulama lain yang sezaman dengannya.\u201d Syeikh Abu Ishaq asy-Syairazi menambahkan, \u201cAl-Qaffal adalah imam besar yang meninggalkan banyak karya ilmiah yang tak ada padanannya. Dialah ulama ahli fiqih yang pertama kali menulis tentang jadal (ilmu perdebatan) dengan sangat indah. Ia juga mempunyai karya di bidang Ushul Fiqih dan Syarh ar-Ris\u00e2lah. Ia juga berjasa besar dalam penyebaran madzhab Syafi\u2019i. Ia adalah ayahandanya al-Qasim, penulis kitab at-Taqr\u00eeb. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Suraij. Sementara gurunya di bidang ilmu kalam adalah al-Asy\u2019ari dan al-Asy\u2019ari sendiri belajar fiqih kepadanya.<\/p>\n<p>Gurunya: Ibnu Khuzaimah, Abdullah al-Madini, Muhamad bin Muhamad al-Baghindi, Abu al-Qasim al-Baghawi, dan lainnya. Muridnya: Abu Abdullah al-Hakim dan lainnya. Menurut Abu Ishaq, al-Qaffal meninggal pada tahun 336 H. Pendapat ini disalahkan oleh Ibnu ash-Shalah. Sedangkan menurut pendapat yang shahih, tahun kewafatan al-Qaffal adalah akhir tahun 365 H. di Syasyi. Menurut as-Subki, al-Hakim menyaksikan kewafatan gurunya itu. Adapun tahun kelahirannya sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu as-Sam\u2019an adalah tahun 290 H.[63]<\/p>\n<p><strong>64.\u00a0 Abu al-Hasan al-Baihaqi<\/strong>, (W. 324 H.), nama lengkap: Muhamad bin Syu\u2019aib bin Ibrahim bin Syu\u2019aib an-Naisaburi. Ia adalah imam besar yang terkenal kefashihannya, keberaniannya, serta kepandaiannya di bidang fiqih dan imamah. Ia pernah terlibat perdebatan sengit dengan Abu Bakar bin Huzaimah dan kawan-kawannya di Naisabur. Kemudian ia menimba ilmu kepada Abu al-\u2018Abbas bin Suraij, sampai benar-benar menjadi orang alim.[64]<\/p>\n<p><strong>65.\u00a0 Abu \u2018Ali bin Abu Hurairah<\/strong>, (W. Rajab 345 H.), nama lengkap: al-Hasan bin al-Husain. Ia adalah imam besar yang pernah menjabat sebagai qadhi. Namanya melambung ke segenap penjuru dunia sebagai salah seorang pembesar madzhab Syafi\u2019i yang sangat disegani. Ia mempunyai karya ilmiah dalam masalah-masalah fiqih. Ia juga mensyarahi kitab Mukhtashar al-Muzan\u00ee dan memberikan catatan-catatan kritis terhadap kitab tersebut. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Suraij dan Abu Ishaq al-Marwazi. Ar-Rafi\u2019i berkata, \u201cIbnu Abu Hurairah adalah pimpinan ulama ahli fiqih.\u201d Ia wafat pada bulan Rajab 345 H.[65]<\/p>\n<p><strong>66.\u00a0 Abu al-Walid an-Naisaburi<\/strong>, (W. 349 H.), nama lengkap: Hassan bin Muhamad bin Ahmad bin Harun al-Qurasyi al-Umawi. Ia termasuk ulama besar yang dididik oleh Abu al-\u2018Abbas bin Suraij.[66]<\/p>\n<p><strong>67.\u00a0 Abu Hamid ath-Thusi<\/strong>, (W. 345 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Isma\u2019il bin Nu\u2019aim. Ia adalah ulama ahli fiqih dan apakar hadis. Ia mendengar hadis dari Abu Abdullah al-Busyanji dan belajar fiqih kepada Ibnu Suraij.[67]<\/p>\n<p><strong>68.\u00a0 Ahmad Tumarda<\/strong>, (W. 329 H.), nama lengkap: Ahmad bin Ibrahim bin Tumarda, Abu Bakar. Ia adalah murid Ibnu Suraij yang berasal dari Jirjan.[68]<\/p>\n<p><strong>69.\u00a0 Ibnu Suraij<\/strong>, (W. 306 H.), nama lengkap: Ahmad bin \u2018Umar bin Suraij al-Qadhi, Abu al-\u2018Abbas, al-Baghdadi al-Baz al-Asyhab. Ia adalah Syeikh dan penyebar madzhab Syafi\u2019i. Banyak sekali para ulama besar yang lahir di bawah bimbingannya. Ia sendiri belajar fiqih kepada Abu al-Qasim al-Anmathi. Gurunya yang lain: al-Hasan bin Muhamad az-Za\u2019farani, \u2018Abbas bin Muhamad ad-Dawri, Abu Dawud as-Sijistani, dan lainnya. Muridnya: Abu al-Qasim ath-Thabrani (ahli hadis), Abu al-Walid Hassan bin Muhamad (ahli fiqih), Abu Ahmad al-Ghathrifi, dan lainnya.<\/p>\n<p>Abu \u2018Ashim al-\u2018Ibadi berkomentar, \u201cIbnu Suraij adalah panutannya madzhab Syafi\u2019i, pemilik ilmu yang mendalam, penulis kitab Ushul dan Fiqih, serta ahli matematika.\u201d Abu Hafsh al-Muthawwi\u2019i berkata, \u201cIbnu Suraij adalah pemimpin para ulama di masanya dan para ulama sepakat atas kebaikannya. Ia juga pantas dijuliki sebagai imam besar, Syafi\u2019i junior, mujtahid mutlak, dan pakar yang tak ada tandingannya. Dialah ulama pertama yang menggagas ilmu dialektika dan psikologi massa dalam perdebatan.\u201d Dalam kitab Gh\u00e2yah al-Marr\u00e2m Imam adh-Dhiya\u2019 al-Khathib \u2013ayah Imam Fakhruddin- menegaskan, \u201cAbu al-\u2018Abbas adalah tokoh madzhab Syafi\u2019i yang mumpuni di bidang ilmu Kalam, sebagaimana pengetahuannya yang mendalam tentang fiqih.\u201d<\/p>\n<p>Ia meninggalkan warisan intelektual dalam jumlah yang sangat banyak. Menurut satu pendapat, karya-karyanya lebih dari 400 kitab. Sayangnya, menurut as-Subki, kitab-kitab tersebut raib dan hanya sedikit yang terselamatkan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitabnya tentang bantahan kepada Ibnu Dawud mengenai qiy\u00e2s (Kit\u00e2b ar-Radd \u2018ala Ibni D\u00e2wud f\u00ee al-Qiy\u00e2s) dan kitab yang berisi bantahan terhadap kritikan yang ditujukan kepada Imam Syafi\u2019i.<\/p>\n<p>Ibnu Suraij adalah orang yang paling alim di abadnya. As-Subki berkata, \u201cGuru kami \u2013adz-Dzahabi- menegaskan, prediksi Nabi Saw. bahwa di setiap abad akan ada orang yang tampil sebagai reformis, harus dipahami secara komprehensif. Artinya, orang tersebut bukan satu individu, tetapi sejumlah orang. Contohnya, reformis di abad ke 3 Hijriyah adalah Ibnu Suraij di bidang fiqih, al-Asy\u2019ari di bidang teologi, dan an-Nasa\u2019i di bidang hadis.[69]<\/p>\n<p><strong>70.\u00a0 Abu Bakar ash-Shayrafi<\/strong>, (W. 330 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah. Ia adalah imam besar di bidang Ushul Fiqih yang sangat dihormati dan pendapat-pendapatnya banyak diikuti para pengikut madzhab Syafi\u2019i. Ia dijuluki sebagai orang yang paling pandai di bidang Ushul Fiqih setelah Imam Syafi\u2019i. Imam yang berkedudukan tinggi ini menimba ilmu fiqih kepada Ibnu Suraij dan mendengar hadis dari Ahmad bin Manshur ar-Ramaddi. Sementara muridnya adalah \u2018Ali bin Muhamad al-Halbi. Peninggalan intelektualnya yang paling berharga adalah Syarus ar-Ris\u00e2lah, Kit\u00e2b al-Ijm\u00e2\u2019, dan Kit\u00e2b asy-Syur\u00fbth.[70]<\/p>\n<p><strong>71.\u00a0 Abu \u2018Ali ar-Ruzbadi<\/strong>, (W. 323 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin al-Qasim bin Manshur. Ia adalah ahli fiqih yang tergolong sufi, yang mendalami fiqih kepada Ibnu Suraij.[71]<\/p>\n<p><strong>72.\u00a0 Abu Hafsh<\/strong>. Nama lengkap: \u2018Umar bin Ahmad bin Suraij. Ia adalah putra Abu al-\u2018Abbas bin Suraij, yang belajar fiqih langsung kepada ayahnya.[72]<\/p>\n<p><strong>73.\u00a0 Abu Thib adh-Dhabbi<\/strong>, (W. 308 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Mufadhdhal bin Salimah al-Baghdadi. Ulama ahli fiqih yang satu ini belajar kepada Ibnu Suraij dan seringkali mengemukakan pandangan-pandangan baru dalam madzhab Syafi\u2019i.[73]<\/p>\n<p><strong>74.\u00a0 Ad-Daruquthni<\/strong>, (306-385 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, \u2018Ali bin \u2018Umar bin Ahmad ad-Daruquthni al-Baghdadi. Ia adalah penghafal hadis yang terkenal dan mempunyai banyak karya ilmiah. Gurunya: Abu al-Qasim al-Baghawi dan lainnya. Muridnya: Syeikh Abu Hamid al-Isfarayini dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Abu Sa\u2019id al-Ishthakhri.[74]<\/p>\n<p><strong>75.\u00a0 Abu al-Qasim ad-Daynawari<\/strong>, (W. 397 H.), nama lengkap: Abdush Shamad bin \u2018Umar bin Ishaq. Ahli fiqih yang satu ini belajar kepada Abu Sa\u2019id al-Ishthakhri. Sementara muridnya adalah al-Azji dan ash-Shaymari. Ia wafat di Baghdad pada tahun 397.[75]<\/p>\n<p><strong>76.\u00a0 Abu al-Qash ath-Thabari<\/strong>, (W. 335 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abu Ahmad ath-Thabari. Ia adalah gurunya Imam Abu al-\u2018Abbas bin al-Qash, imam di zamannya. Imam besar ini belajar fiqih kepada Abu al-\u2018Abbas bin Suraij. Ia meriwayatkan hadis dari Abu Khalifah, Muhamad bin Abdullah al-Muthin al-Hadhrami, dan lainnya. Ia dinamakan al-Q\u00e2sh (Pakar Cerita), karena ceritanya dapat menggugah perasaan dan hati para pendengarnya. Ia menulis kitab-kitab fiqih yang sangat popular, di antaranya: at-Talkh\u00eesh, al-Mift\u00e2h, Adab al-Q\u00e2dh\u00ee, al-Maw\u00e2q\u00eet, dan sebagainya. Ia juga mempunyai karya tulis di bidang ilmu Kalam dan Ushuluddin.[76]<\/p>\n<p><strong>77.\u00a0 Abu al-Qasim ash-Shaymari<\/strong>, (W. 386 H.), nama lengkap: Abdul Wahid bin al-Husain bin Muhamad al-Fadhi. Shaymar adalah nama sungai di Bashrah yang menjadi nisbatnya. Ia termasuk salah satu imam yang disegani dalam madzhab Syafi\u2019i. Syeikh Abu Ishaq berkomentar, \u201cAsh-Shaymari adalah penghafal hadis yang tulisannya sangat menarik.\u201d Ia meriwayatkan hadis dari ad-Daynawari dan banyak ulama yang meriwayatkan hadis darinya, salah satunya adalah al-Qadhi al-Mawardi. Penulis yang handal ini meninggalkan kitab-kitab yang sangat berharga, di antaranya: al-\u00cedh\u00e2h (7 jilid), Kit\u00e2b al-Kif\u00e2yah, Kit\u00e2b f\u00ee al-Qiy\u00e2s wa al-\u2018Ilal, Adab al-Muft\u00ee wa al-Mustaft\u00ee (kitab kecil), dan Kit\u00e2b asy-Syr\u00fbth. Ia juga sempat belajar fiqih kepada Abu al-Fiyadh, kawannya Abu Hamid al-Marwazi.[77]<\/p>\n<p><strong>78.\u00a0 Abu \u2018Ali az-Zujaji<\/strong>, (W. 400 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Muhamad bin al-\u2018Abbas al-Qadhi. Imam dalam madzhab fiqih ini adalah murid utamanya Ibnu al-\u2018Abbas al-Qash dan guru utamanya al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari. Ia mempunyai kitab yang berjudul Ziy\u00e2dah al-Mift\u00e2h dan syarah terhadap kitab Ibnu al-Qash.[78]<\/p>\n<p><strong>79.\u00a0 Ibnu al-Qaththan<\/strong>, (W. 359 H.), nama lengkap: Abu al-Husain, Ahmad bin Muhamad bin Ahmad al-Baghdadi. Ia termasuk imam besar dalam madzhab Syafi\u2019i, yang belajar fiqih kepada Ibnu Suraij dan Abu Ishaq al-Marwazi. Ia mempunyai banyak karya tulis. Ia juga disebut-sebut sebagai pucuk pimpinan orang alim di Irak setelah wafatnya ad-Dariki.[79]<\/p>\n<p><strong>80.\u00a0 Abu Manshur al-Khamsyadi<\/strong>, (W. 388 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Khamsyad. Ia adalah gurunya para imam. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Walid an-Naisaburi di Khurasan dan Ibnu Abu Hurairah di Irak.[80]<\/p>\n<p><strong>81.\u00a0 Ibnu al-Bai\u2019<\/strong>, (321-405 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Hamdawiyah bin Nu\u2019aim bin al-Hakim adh-Dhabbi ath-Thamhani an-Naisaburi, Abu Abdullah al-Hakim yang terkenal dengan sebutan Ibnu al-Bai\u2019.<\/p>\n<p>Ia lahir di waktu subuh tanggal 3 Rabi\u2019ul Awwal 321 H. Jumlah gurunya yang ada di Naisabur sekitar 1.000 orang dan guru-guru dari daerah lainnya berjumlah sekitar seribu juga. Gurunya yang terkenal: Muhamad bin \u2018Ali al-Mudzakkir, Muhamad bin Ya\u2019qub al-Ashamm, Muhamad bin Ya\u2019qub al-Ahzam, dan lainnya. Muridnya: Abu al-Hasan ad-Daruquthni \u2013yang juga termasuk gurunya-, Abu al-Fath bin Abu al-Fawaris Abu Bakar al-Baihaqi, dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Abu \u2018Ali bin Abu Hurairah, Bu Sahl ash-Sha\u2019luki, dan Abu al-Walid an-Naisaburi. Ia adalah imam besar, penghafal hadis yang juga ahli fiqih, rawi yang terpercaya, luas ilmunya, dan karyanya hampir mencapai 500 jilid. Berikut karya-karyanya yang terkenal: T\u00e2r\u00eekh Nais\u00e2b\u00fbr; as-Subki menegaskan bahwa kitab ini adalah kitab sejarah bagi ahli fiqih yang sangat berharga dan menunjukkan kedalaman ilmu penulisnya; al-Mustadrak \u2018ala ash-Shah\u00eehain, \u2018Ul\u00fbm al-Had\u00eets, Muzakk\u00ee al-Akhb\u00e2r, al-Ikl\u00eel, dan Fadh\u00e2\u2019il asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee.[81]<\/p>\n<p><strong>82.\u00a0 Abu \u2018Ali ath-Thabasi<\/strong>, (W. 391 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Muhamad. Menurut al-Hakim, ia adalah ahli fiqih, ahli sastera, dan zahid. Ia termasuk syeikh dan ahli fiqih Khurasan. Ia juga sering menggantikan tugas \u2018Ali bin Abu Hurairah di masa hidupnya.[82]<\/p>\n<p><strong>83.\u00a0 Abu \u2018Ali ath-Thabari<\/strong>, (W. 350 H.), nama lengkap: al-Husain bin al-Qasim. Imam besar ini, pendapatnya sangat terkendal dan dihormati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi\u2019i. Ia belajar fiqih kepada \u2018Ali bin Abu Hurairah. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kit\u00e2b al-Muharrar. Ini adalah kitab pertama yang ditulis mengenai perbedaan pendapat dalam bidang fiqih. Karyanya yang lain adalah al-Ifsh\u00e2h (kitab tentang fiqih) dan Kit\u00e2b al-\u2018Iddah. Ia juga meninggalkan karya di bidang Ushul Fiqih dan Jadal (ilmu debat).[83]<\/p>\n<p><strong>84.\u00a0 Abu Sulaiman al-Busti<\/strong>, (W. 388 H.), nama lengkap: Hamad bin Muhamad bin Ibrahim bin Khaththab. Ia termasuk imam besar di bidang fiqih, hadis, dan bahasa. Gurunya di bidang fiqih adalah Abu Bakar al-Qaffal asy-Syasyi dan Abu \u2018Ali bin Abu Hurairah. Ia juga termasuk ulama yang produktif menulis kitab, di antaranya: Ma\u2019\u00e2lim as-Sunan (kitab ini adalah syarah terhadap kitab Sunan Ab\u00ee D\u00e2wud), Ghar\u00eeb al-Had\u00eets, Syarh al-Asm\u00e2\u2019 al-Husn\u00e2\u2019, Kit\u00e2b al-\u2018Uzlah, dan Kit\u00e2b al-Ghaniyyah \u2018an al-Kal\u00e2m wa Ahlihi. Ia wafat pada bulan Rabi\u2019ul Akhir 388 H di Busti.[84]<\/p>\n<p><strong>85.\u00a0 al-Qasim bin Muhamad bin \u2018Ali asy-Syasyi<\/strong>. Ia termasuk salah satu imam besar dalam madzhab Syafi\u2019i dan putranya al-Qaffal al-Kabir. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah kitab at-Taqr\u00eeb. Al-\u2018Ibadi menyebutkan biografinya dalam kitab ath-Thabaq\u00e2t. Masyhur al-Fadhl mengakui kehebatan karya tulisnya. Ia juga sering menjadi sumber rujukan ahli fiqih Khurasan dan penduduk Irak menyanjung metode penulisan kitabnya.<\/p>\n<p>Abu Hafsh \u2018Umar bin \u2018Ali al-Muthawwi\u2019i berkata, \u201cAda 4 ahli fiqih madzhab Syafi\u2019i yang sangat gemilang, yaitu: Abu Bakar al-Isma\u2019ili yang ilmunya diwarisi oleh anaknya, Abu Sa\u2019d; Imam Abu Sahl yang ilmunya turun kepada anaknya, Imam bin Imam\u2026 dan yang terakhir, Abu Bakar al-Qaffal yang ilmunya diserap oleh anaknya \u2013al-Qasim-. Kini, putranya itu menjadi ulama terkenal berkat karyanya yang berjudul at-Taqr\u00eeb.\u201d As-Subki menyatakan, dari penjelasan kami di atas menunjukkan bahwa penulis kitab at-Taqr\u00eeb adalah al-Qasim. Tetapi, ada sebagian orang yang mengira bahwa penulisnya adalah ayahnya al-Qasim. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab at-Tadzn\u00eeb karya Abu al-Qasim ar-Rafi\u2019i. Ibnu Khilikkan berkata, \u201cBahkan, Imam al-Ghazali sendiri keliru, karena menyebutkan Abu al-Qasim dalam pembahasan tentang sewa-menyewa dalam kitabnya. Padahal, yang benar adalah al-Qasim.\u201d[85]<\/p>\n<p><strong>86.\u00a0 Muhamad al-Khudhari<\/strong>, (W. 320 H.), nama lengkap: Abu Abdullah, Muhamad bin Ahmad al-Marwazi. Ia adalah ahli fiqih yang berasal dari Syam dan belajar fiqih kepada al-Qaffal al-Kabir. Ia sering mengemukakan pemikiran-pemikiran baru dalam madzhab Syafi\u2019i. Pemikiran-pemikirannya banyak dikutip oleh penduduk Khurasan. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Abu \u2018Ali ad-Daqqaq.[86]<\/p>\n<p><strong>87.\u00a0 Abu Abdullah al-Jurjani<\/strong>, (W. 403 H.), nama lengkap: al-Husain bin al-Hasan yang terkenal dengan panggilan al-Hulaimi. Ia belajar fiqih kepada Abu Bakar al-Awdani dan al-Qaffal al-Kabir, hingga menjadi imam besar yang sering dirujuk oleh para penduduk yang tinggal di sekitar sungai Tigris. Ia sering mengemukakan pendapat-pendapat yang menarik dalam madzhab Syafi\u2019i.[87]<\/p>\n<p><strong>88.\u00a0 Abu al-Hasan al-Masirkhasi<\/strong>, (W. 384 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Ali bin Sahl. Ahli fiqih madzhab Syafi\u2019i ini mendalami fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi dan al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[88]<\/p>\n<p><strong>89.\u00a0 Abu al-Qasim ad-Dariki<\/strong>, (W. 375 H.), nama lengkap: Abdul \u2018Aziz Abdullah bin Muhamad. Ahli fiqih yang satu ini termasuk salah satu imam dalam madzhab Syafi\u2019i. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq dan ia mengakhiri studynya di Baghdad. Abu Hamid al-Isfarayini adalah salah satu muridnya yang terkenal, yang belajar fiqih kepadanya setelah wafatnya al-Mazriban. Abu Hamid berkomentar, \u201cSaya tidak pernah melihat ulama yang lebih pandai dari ad-Dariki.\u201d An-Nawawi berkata, \u201cDalam kitab al-Muhadzdzab ini, ada empat orang yang namanya diawali dengan Abu al-Qasim, yaitu: al-Anmathi, ad-Dariki, Ibnu Kajj, dan ash-Shaymari. Selain mereka, tidak ada lagi ulama ahli fiqih madzhab Syafi\u2019i yang namanya diawali dengan Abu al-Qasim.\u201d[89]<\/p>\n<p><strong>90.\u00a0 Ibnu al-Haddad al-Mishri<\/strong>, (W. 345 H.), nama lengkap: Abu Bakar, Muhamad bin Ahmad al-Haddad al-Mishri. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi. Ia mempunyai kitab yang berjudul al-Fur\u00fb\u2019. Kitab ini membahas tentang madzhab Syafi\u2019i, meski kecil tapi banyak faidahnya. Kitab ini disyarahi oleh al-Qaffal al-Marwazi, al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, Syeikh Abu \u2018Ali as-Sanaji, dan al-Qadhi Husain. Karyanya yang lain tentang fiqih adalah kitab al-B\u00e2hir, Adab al-Qadh\u00e2\u2019, dan J\u00a0\u00a0 \u00e2mi\u2019 al-Fiqh. Ia sempat bertemu dengan Ibnu Jarir ath-Thabari, ash-Shayrafi, dan al-Ishthakhri. Sayangnya, ia tidak pernah bertemu dengan Ibnu Suraij dan ia sangat menyesalkannya.[90]<\/p>\n<p><strong>91.\u00a0 Abu Hasan al-Asy\u2019ari<\/strong>, (W. 320 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin Isma\u2019il bin Abu Bisyr, Syeikh Abu Hasan al-Asy\u2019ari al-Bishri. Ia adalah imam Ahli Sunnah Wal Jama\u2019ah dan pakar teologi. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi. As-Subki berkata, \u201cPenjelasan ini dinyatakan oleh Abu Bakar bin Faurak dalam kitab Thabaq\u00e2t al-Mutakallim\u00een, dan Abu Ishaq al-Isfarayini yang mengutip perkataan Abu Muhamad al-Juwaini dalam kitab Syarh ar-Ris\u00e2lah. Abu Ishaq al-Marwazi yang menjadi gurunya al-Asy\u2019ari dalam ilmu fiqih, menanggap muridnya itu sebagai gurunya dalam ilmu kalam.\u201d[91]<\/p>\n<p><strong>92.\u00a0 Abu Zaid al-Marwazi<\/strong>, (W. 371 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin Abdullah al-Marwazi. Ia termasuk pengafal hadis di kalangan madzhab Syafi\u2019i. Ia berguru kepada Abu Ishaq dan Abu Bakar al-Qaffal al-Marwazi menjadi muridnya yang terkenal. [92]<\/p>\n<p><strong>93.\u00a0 Abu Hayyan at-Tauhidi<\/strong>. Nama lengkap: \u2018Ali bin Muhamad al-Baghdadi. Ia berguru kepada Abu Hamid al-Marwazi. Adz-Dzahabi berkomentar, \u201cAbu Hayyan adalah pendusta dan kurang menjaga agamanya.\u201d Penilaian ini dikritik oleh as-Subki. Ia termasuk ulama yang cukup produktif, di antara karya tulisnya adalah kitab al-Muq\u00e2bis\u00e2t, yang telah ditahqiq oleh Hasan al-Asnawi. Karya lainnya adalah kitab al-Bash\u00e2\u2019ir wa adz-Dzakh\u00e2\u2019ir dan al-Muh\u00e2dhar\u00e2t wa al-Mun\u00e2zhar\u00e2t. Ia juga mempunyai catatan tentang relasi para ahli fiqih dalam perdebatan.[93]<\/p>\n<p><strong>94.\u00a0 Abu al-Fayyadh al-Bishri<\/strong>. Nama lengkap: Muhamad bin al-Hasan. Ia berguru kepada Abu Hamid al-Marwazi dan yang berguru kepadanya adalah ash-Shaymari.[94]<\/p>\n<p><strong>95.\u00a0 Abu \u2018Ali al-Hamadani.<\/strong> Nama lengkap: al-Hasan bin al-Husain bin Hamkan al-Hamadani. Ia berguru kepada Abu Hamid al-Marwazi.[95]<\/p>\n<p><strong>96.\u00a0 \u00a0Abu Bakar al-Awdani<\/strong> (W. 358 H.). Ia berguru kepada Ibnu Mahran.[96]<\/p>\n<p><strong>97.\u00a0 Abu Sahl al-Abyurdi<\/strong>. Nama lengkap: Ahmad bin \u2018Ali. Ia termasuk salah satu imam yang mempunyai reputasi tinggi di bidang ilmu dan amal. Abu Zaid ad-Dabusi berkata, \u201cKalau bukan karena jasa al-Abyurdi, maka madzhab Syafi\u2019i tidak akan berkembang pesat di kawasan sungai Tigris.\u201d Ia termasuk kawan lamanya al-Awdani.[97]<\/p>\n<p><strong>98.\u00a0 Ash-Sha\u2019luki<\/strong>, (W. 378 H.), nama lengkap: Abu ath-Thayyib Sahl bin Muhamad. Ia berguru kepada ayahnya.[98]<\/p>\n<p><strong>99.\u00a0 Abu Ya\u2019qub al-Abyurdi<\/strong>. Nama lengkap: Yusuf bin Muhamad. Ia adalah gurunya Imam Abu Muhamad al-Juwaini.[99]<\/p>\n<p><strong>100.\u00a0\u00a0 Abu Manshur al-Azdi<\/strong>, (W. 443 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Abdullah al-Harawi. Ia termasuk imam dalam madzhab Syafi\u2019i yang menguasai fiqih dan hadis secara bersamaan. Ia juga menjadi murid utamanya Syeikh Abu Zaid al-Marwazi.[100]<\/p>\n<p><strong>101.\u00a0\u00a0 Abu Muhamad al-Baqi<\/strong>, (W. 398 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad al-Bukhari. Ia adalah syeikhnya para imam fiqih dan merupakan orang terpandai di zamannya. Gurunya: Ibnu Abu Hurairah dan Abu Ishaq al-Marwazi. Muridnya: al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[101]<\/p>\n<p><strong>102.\u00a0\u00a0 Abu al-Hasan al-Qazwini<\/strong>, (W. 442 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin \u2018Umar bin Muhamad bin al-Hasan al-Harbi. Ia berguru kepada ad-Dariki.[102]<\/p>\n<p><strong>103.\u00a0\u00a0 Abu Abdullah al-Baidhawi<\/strong>, (W. 423 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah al-Qadhi. Ia berguru kepada ad-Dariki dan Abu Ishaq asy-Syairazi berguru kepadanya.[103]<\/p>\n<p><strong>104.\u00a0\u00a0 Ibnu Jama\u2019ah<\/strong>, (W. 424 H.), nama lengkap: Abu Thalib az-Zuhri, \u2018Umar bin Ibrahim bin Sa\u2019i, yang kondang dengan sebutan Ibnu Jama\u2019ah. Ia berguru kepada ad-Dariki. Ia pernah menulis kitab tentang manasik haji yang isinya sangat menarik.[104]<\/p>\n<p><strong>105.\u00a0\u00a0 Ibnu Ramin<\/strong>, (W. 410 H.), nama lengkap: Abu Ahmad, Abdul Wahhab bin Muhamad al-Baghdadi. Ia berguru kepada ad-Dariki dan Abu Ishaq asy-Syairazi berguru kepadanya.[105]<\/p>\n<p><strong>106.\u00a0\u00a0 Abdul Qahir al-Baghdadi<\/strong>, (W. 429 H.), nama lengkap: Abu Manshur, Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi. Ia adalah ahli fiqih, Ushul Fiqih, dan sastera. Ia berguru kepada Abu Ishaq al-Isfarayini. Sementara murid-muridnya adalah Nashir al-Marwazi, dan Zainul Islam al-Qusyairi. Ia termasuk ulama yang sangat pandai di bidang Far\u00e2\u2019idh, nahwu, dan ilmu hitung. Ia meninggalkan karya ilmiah dalam bidang matematika, yang berjudul at-Takmilah.[106]<\/p>\n<p><strong>107.\u00a0\u00a0 Abu Ishaq al-Isfarayini<\/strong>, (W. 418 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Muhamad bin Ibrahim. Ia termasuk pakar fiqih yang menguasai ilmu kalam dan Ushul Fiqih. Ia meninggalkan kitab-kitab yang sangat berharga, di antaranya: J\u00e2mi\u2019 al-Hall\u00ee f\u00ee Ush\u00fbl ad-D\u00een wa ar-Radd \u2018ala al-Mulhid\u00een. Al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari termasuk salah satu muridnya di bidang Ushul Fiqih. Ia juga menjadi sumber rujukan mayoritas syeikh di Naisabur dalam bidang ilmu kalam dan Ushul Fiqih. An-Nawawi berkata, \u201cSetiap kali disebutkan nama Abu Ishaq dalam kitab al-Muhadzdzab, maka yang dimaksud adalah Abu Ishaq al-Marwazi, bukan Abu Ishaq al-Isfarayini, yang merupakan ulama terkenal di bidang ilmu kalam dan Ushul Fiqih. Namun demikian, Abu Ishaq al-Marwazi juga mempunyai pandangan-pandangan yang sangat diperhitungkan dalam kitab-kitab madzhab Syafi\u2019i.[107]<\/p>\n<p><strong>108.\u00a0\u00a0 Abu \u2018AShim al-\u2018Ibadi<\/strong>, (375-458 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin Muhamad bin Abdullah bin \u2018Ibad al-Harawi. Ia tergolong imam besar yang sangat dihormati di kalangan madzhab Syafi\u2019i, karena ilmunya terkenal sangat mendalam. Ia juga dikenal sebagai ulama yang pandai menulis dan tulisannya sangat menarik.\u00a0 Gurunya ada empat: al-Qadhi Abu Manshur Muhamad bin Muhamad al-Azdi di Hirrah, al-Qadhi Abu \u2018Umar al-Busthami, Ustadz Abu Thahir al-Ziyyadi, dan Abu Ishaq al-Isfarayini di Naisabur. Al-Qadhi Abu Sa\u2019id al-Harawi berkata, \u201cAbu \u2018Ashim adalah ulama muda yang sangat terpandang di masanya. Ia mampu menulis kitab-kitab fiqih dan mengemasnya dengan menarik. Tulisan-tulisannya sangat ilmiah dan detail. Ia juga temasuk ulama yang kualitas sanadnya sangat tinggi. Karya-karyanya yang terkenal adalah az-Ziy\u00e2d\u00e2t, Ziy\u00e2dah az-Ziy\u00e2d\u00e2t, al-Mabs\u00fbth, al-H\u00e2d\u00ee, Adab al-Qadh\u00e2\u2019 (kitab ini disyarahi oleh Abu Sa\u2019id al-Harawi dalam kitabnya yang berjudul al-Isyr\u00e2q \u2018ala Ghaw\u00e2midh al-Huk\u00fbm\u00e2t), Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2, ar-Radd \u2018ala al-Q\u00e2dh\u00ee as-Sam\u2019\u00e2n\u00ee, dan sebagainya.[108]<\/p>\n<p><strong>109.\u00a0\u00a0 al-Qadhi bin Kajj<\/strong>, (W. 405 H.), nama lengkap: Yusuf bin Ahmad bin Yusuf bin Kajj ad-Daynawari. Ia berteman dengan Abu al-Hasan al-Qaththan dan sering menghadiri majelisnya ad-Dariki. Ia termasuk ulama yang sukses di bidang ilmu dan urusan dunia. Ulama yang nama kunyahnya adalah Abu al-Qasim, sangat dihormati pendapatnya, karena dianggap sebagai salah satu pilar madzhab Syafi\u2019i. Kemampuannya menghafal segala persoalan yang berkembang di madzhab Syafi\u2019i, sudah tidak diragukan lagi.[109]<\/p>\n<p><strong>110.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Mazriban<\/strong>, (W. 366 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin Ahmad bin al-Mazriban al-Baghdadi. Ia dianggap sebagai salah satu pilar madzhab Syafi\u2019i. Ia berguru kepada Abu al-Hasan bin al-Qaththan. Sedangkan Abu Hamid al-Isfarayini adalah muridnya ketika ia pertama kali datang ke Baghdad.[110]<\/p>\n<p><strong>111.\u00a0\u00a0 Abu Hamid al-Isfarayini<\/strong>, (344-406 H.), nama lengkap: Ahmad bin Ahmad al-Isfrayini. Imam ahli fiqih dalam mazhab Syafi\u2019i ini juga berstatus sebagai pemimpin tarekat di Irak. Ilmunya setinggi langit dan sedalam lautan, sehingga namanya sangat harum di kalangan umat Islam. Ia lahir pada tahun 344 dan datang ke Baghdad di usianya yang masih muda. Ia berguru kepada Ibnu al-Mazraban dan ad-Dariki, hingga menjadi imam besar di zamannya. Gurunya di bidang hadis: Abdullah bin \u2018Addi, Abu Bakar al-Isma\u2019ili, Abu al-Hasan ad-Daruquthni, dan lainnya\/ Adapaun muridnya yang terkenal adalah Sulaim ar-Razi. Syeikh Abu Ishaq berkomentar, \u201cPuncak kesuksesan agama dan dunia di Baghdad berada dalam genggaman al-Isfarayini.\u201d Ia banyak memberikan komentar-komentar terhadap kitab Syarh al-Muzan\u00ee. Ia juga mempunyai kawan yang sangat banyak dan majelis ilmunya paling tidak dihadiri oleh 300 ahli fiqih. Orang yang sepakat dan yang menentang pendapatnya, tetap mengakui kehebatannya di bidang fiqih, kecemerlangan ide-idenya, dan sistematika ilmunya.<\/p>\n<p>Al-Khathib berkata, \u201cMajelis al-Isfarayini dihadiri sekurang-kurangnya oleh 700 ahli fiqih.\u201d Bahkan, orang-orang menyatakan, seandainya Syafi\u2019i melihatnya, pasti akan merasa bangga kepadanya. Ia telah sanggup memberikan fatwa di usia 17 tahun. Ia terus bertugas sebagai mufti sampai akhir hayatnya. Di saat ajal, hendak menjemputnya, ia berkata, \u201cKami benar-benar akan memperoleh anugerah.\u201d. Ia wafat pada bulan Syawwal 406 H. dan dikebumikan di rumahnya sendiri. Lalu dipindahkan pusaranya ke kuburan. Berikut syair-syair yang pernah dirangkainya:<\/p>\n<p>\u201cJanganlah kamu terperdaya oleh pujian # pujian tidak akan pernah menjadikanmu sempurna<\/p>\n<p>Pujian akan tetap terpuji sepanjang masa # sementara zaman, lambat laun akan berakhir.\u201d<\/p>\n<p>Catatan: Abu Hamid al-Isfarayini yang sedang dibicarakan ini, bukanlah Abu Hamid al-Isfarayini yang ahli filsafat (filososf). Demikian, penegasan dari as-Subki.[111]<\/p>\n<p><strong>112.\u00a0\u00a0 Abu al-Hasan al-Mawardi<\/strong>, (W. 450 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin Muhamad bin Habib. Ia adalah imam besar yang telah berhasil menulis buku-buku terkenal, di antaranya: al-H\u00e2w\u00ee al-Kab\u00eer, al-Iqn\u00e2\u2019, Adab ad-D\u00een wa ad-Duny\u00e2\u2019, Dal\u00e2\u2019il an-Nubuwwah, al-Ahk\u00e2m as-Sulth\u00e2niyah, Q\u00e2nun al-Waz\u00e2rah, Siy\u00e2sah al-Malik, dan sebagainya. Gurunya: al-Hasan bin \u2018Ali al-Hanbali \u2013temannya Abu Hanifah-, Muhamad bin \u2018Addi al-Muqri, Muhamad bin al-Mu\u2019alli al-Azdi, dan Ja\u2019far bin Mahmud bin al-Fadhl al-Bagdadi. Muridnya: Abu Bakar al-Khathib dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada ash-Shaymari di Bashrah. Kemudian melanjutkan pengajian fiqihnya kepada Abu Hamid al-Isfarayini di Baghdad. Abu Ishaq berkata, \u201cAl-Mawardi belajar di Bashrah dan Baghdad beberapa tahun lamanya. Ia mempelajari fiqih, tafsir, Ushul Fiqih, dan sastera. Ia dijuluki sebagai hafizh madzhab Syafi\u2019i.\u201d Al-Khathib berkata, \u201cIa tergolong imam ahli fiqih madzhab Syafi\u2019i yang sangat terpandang, yang mempunyai banyak karya tulis mengenai Ushul Fiqih dan cabang-cabangnya.\u201d Ia meninggal pada hari Selasa, Rabi\u2019ul Awwal 450 H.[112]<\/p>\n<p><strong>113.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Muhamili<\/strong>, (W. 415 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, Ahmad bin Muhamad adh-Dhabbi. Ia termasuk teman dekatnya Abu Hamid al-Isfarayini. Ia juga sangat produktif menulis tentang madzhab Syafi\u2019i, di antaranya: al-Majm\u00fb\u2019 (kitab yang sangat tebal), al-Muqni\u2019, al-Lubb\u00e2b (kitab kecil), al-Awsath, Tajr\u00eed al-Adillah, al-Qaulain wa al-Wajhain, Ru\u2019\u00fbs al-Mas\u00e2\u2019il, dan \u2018Iddah al-Mus\u00e2fir. Ia meninggal pada hari Rabu, minggu terakhir bulan Rabi\u2019ul Akhir 415 H.[113]<\/p>\n<p><strong>114.\u00a0\u00a0 Abu \u2018Ali al-Bandaniji<\/strong>, (W. 425 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Abdullah al-Qadhi. Ia adalah sahabat lamanya Abu Hamid al-Isfarayini, yang disebut-sebut sebagai hafizh madzhab Syafi\u2019i. Ia mempunyai kitab yang berjudul adz-Dzakh\u00eerah.[114]<\/p>\n<p><strong>115.\u00a0\u00a0 Muhamad ash-Shabbagh,<\/strong> (W. 23 Dzul Qa\u2019dah 448 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdul Wahid yang terkenal dengan panggilan Ibnu ash-Shabbagh, Abu Shahib asy-Syamil. Gurunya: Abu Hafsh bin Syahin, \u2018Ali bin Abdul \u2018Aziz bin Mardak, dan lainnya. Muridnya: Abu Bakar al-Khathib dan lainnya. Ia termasuk orang yang sangat terpercaya dan mulia. Ia belajar fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini dan ia juga mempunyai forum diskusi tentang fatwa. Ia meninggal pada hari Sabtu, 23 Dzul Qa\u2019dah 448 H.[115]<\/p>\n<p><strong>116.\u00a0\u00a0 Abu al-Qasim al-Karkhi<\/strong>, (W. Jumadil Akhir 447 H.), nama lengkap: Manshur bin \u2018Umar bin \u2018Ali al-Baghdadi al-Khathib. Ia termasuk imam yang terpercaya dan mulia dan sempat belajar fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini. Gurunya di bidang hadis: Abu Thahir al-Mukhlish dan Abu al-Qasim ash-Shaydalani. Muridnya di bidang hadis adalah al-Khathib, sedang di bidang fiqih adalah Abu Ishaq. Biografinya disebutkan dalam kitab Thabaq\u00e2t karya Abu Ishaq. Ia dianggap sebagai pemikir yang banyak menyumbangkan ide-ide baru, khususnya mengenai masalah musik dan lainnya. Ia menghabiskan waktu belajarnya di Baghdad dan tutup usia di kota itu pada bulan Jumadil Akhir 447 H.[116]<\/p>\n<p><strong>117.\u00a0\u00a0 Abu Hatim al-Qazwini<\/strong>. Nama lengkap: Mahmud bin al-Hasan. Ia termasuk imam madzhab Syafi\u2019i yang sangat disegani. Ia belajar fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini di Baghdad; belajar ilmu Far\u00e2\u2019idh kepada Ibnu al-Lubban; dan belajar Ushul Fiqih kepada al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani. Ia meninggalkan karya yang cukup banyak, di antaranya: Tajr\u00eed at-Tajr\u00eed. Al-Qadhi Abu ath-Thayyib dan Abu Ishaq mempelajari kitab ini langsung kepadanya. Ia berkata, \u201cKitab ini banyak memberikan manfaat kepada para ahli fiqih dan sangat disenangi oleh al-Qadhi Abu ath-Thayyib.\u201d Ia juga termasuk dalam jajaran hafizh madzhab Syafi\u2019i yang sangat piawai menyikapi perbedaan pendapat. Ia juga banyak menulis buku mengenai perbedaan pendapat, madzhab, Ushul Fiqih, dan perdebatan. Ia banyak menghabiskan waktu belajarnya di Baghdad dan Amal, dan ia meninggal di Amal.[117]<\/p>\n<p><strong>118.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Lubban<\/strong>, (W. 446 H.), nama lengkap: Abu Muhamad, Abdullah bin Muhamad al-Asfahani. Menurut al-Khathib, ia termasuk perangkatnya ilmu, ahli agama, dan orang terpandang. Gurunya di Asfahan adalah Abu Bakar al-Muqri dan lainnya; Abu Thahir al-Mukhlish di Baghdad; dan Abu al-Hasan Ahmad bin Ibrahim bin Faras di Mekah. Ia mendalami ilmu fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini dan al-Qadhi Abu Bakar. Ia mempunya banyak karya tulis. Ia meninggal di Asfahan pada tahun 446 H.[118]<\/p>\n<p><strong>119.\u00a0\u00a0 Abdul Karim al-Qusyairi<\/strong>, (W. 465 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, Abdul Karim bin Hawzan al-Qusyairi. Ia mendalami ilmu agama kepada Abu \u2018Ali ad-Daqqaq dan Abu Ishaq al-Isfarayini. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah kitab at-Tays\u00eer f\u00ee \u2018Ilm at-Tafs\u00eer dan ar-Ris\u00e2lah al-Qusyairiyah.[119]<\/p>\n<p><strong>120.\u00a0\u00a0 Abu \u2018Ali as-Sanaji<\/strong>. Nama lengkap: al-Husain bin Syu\u2019aib bin Muhamad as-Sanaji. Imam besar ini disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali memadukan antara metode fiqih Irak dan Khurasan. As-Sanaji dan al-Qadhi al-Husain adalah murid al-Qaffal yang paling sukses. Ia mendalami ilmu agama kepada syeikhnya penduduk Irak, yaitu Abu Hamid al-Isfarayini di Baghdad; belajar kepada gurunya penduduk Khurasan, yaitu Abu Bakar al-Qaffal al-Marwazi di kota Marwa.[120]<\/p>\n<p>Ia belajar menulis di Naisabur di bawah bimbingan Sayyid Abu al-Hasan Muhamad bin al-Husain al-\u2018Alawi dan Abu Abdullah Muhamad bin Abdullah; serta di Baghdad dibimbing oleh para sahabatnya al-Muhamili. Hasilnya, ia mampu menulis kitab Syarh al-Mukhtashar. Imam al-Haramain menamakan kitab ini dengan sebutan \u201cal-Madzhab al-Kab\u00eer.\u201d Karyanya yang lain adalah Syarh Talkh\u00eesh Ibn al-Q\u00e2sh dan Syarh al-Fur\u00fb\u2019 Ibn al-Hadd\u00e2d. AS-Subki berkata, \u201cSebagian sahabat kami di Naisabur menyatalam bahwa ada tiga tipe imam besar di Khurasan, yaitu: pertama, imam yang pandai menulis sekaligus pentahqiq; kedua, imam yang kurang pandai menulis, namun lihai mentahqiq; ketiga, imam yang pandai menulis, namun kurang cekatan dalam mentahqiq. Tipe pertama dibuktikan oleh Abu \u2018Ali as-Sanaji; tipe kedua diwakili oleh Abu Muhamad al-Juwaini; dan tipe ketiga direpresentasikan oleh Nashir al-\u2018Umari al-Marwazi. Karyanya as-Sanaji yang lain adalah kitab al-Majm\u00fb\u2019. Abu Hamid al-Ghazali mengutip kitab ini dalam karyanya yang berjudul al-Was\u00eeth. Ia meninggal sekitar tahun 436-439 H. Menurut Yaqut, ia wafat pada tahun 436 H.<\/p>\n<p><strong>121.\u00a0\u00a0 Nashir al-Marwazi<\/strong>, (W. 444 H.), nama lengkap: Nashir bin al-Husain bin Muhamad bin \u2018Ali asy-Syarif al-\u2018Umari, Abu al-Fath al-Quraisyi al-Marwazi. Ia termasuk imam yang sukses di dunia. Ia berguru kepada al-Qaffal al-Marwazi dan Abu ath-Thayyib ash-Sha\u2019luki. Sedangkan orang yang berguru kepadanya adalah al-Baihaqi dan lainnya.[121]<\/p>\n<p><strong>122.\u00a0\u00a0 Abu \u2018Ali ad-Daqqaq<\/strong>, (W. 405 H.), nama lengkap: al-Hasan bin \u2018Ali bin Muhamad. Ia berguru kepada al-Qaffal al-Marwazi dan Muhamad al-Khudhari.[122]<\/p>\n<p><strong>123.\u00a0\u00a0 Ahmad ar-Ruyani<\/strong>, (W. 450 H.), nama lengkap: Abu al-\u2018Abbas, Ahmad bin Muhamad bin Ahmad ar-Ruwyani \u2013kakeknya penulis kitab al-Bahr-. Imam agung ini meninggalkan kitab yang sangat berharga, yaitu kitab al-Jurj\u00e2niy\u00e2t. Ia meriwayatkan hadis dari al-Qaffal al-Marwazi dan cucunya yang bernama Imam ar-Ruyani sempat mendalami ilmu agama kepadanya.[123]<\/p>\n<p><strong>124.\u00a0\u00a0 Abu Abdullah al-Mas\u2019udi<\/strong>, (W. 420 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Mas\u2019ud al-Marwazi. Ia termasuk salah satu sahabat al-Qaffal al-Marwazi yang menjadi imam besar, bersikap zuhud, wara\u2019, dan dinilai sebagai hafizh madzhab Syafi\u2019i. Ia juga tergolong dalam deretan nama-nama ulama yang mensyarahi kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. Ia hanya sedikit mendengar ilmu dari gurunya \u2013Abu Bakar al-Qaffal-. As-Subki berkata, \u201cSeandainya al-Mas\u2019udi bukan termasuk sahabatnya al-Qaffal sebagaimana ditegaskan dalam pernyataan al-Fawrani, maka ia adalah muridnya al-Qaffal yang paling senior. Kenyataannya, ia adalah sahabatnya ash-Shaydalani dan tingkatan keilmuwannya di atas al-Fawrani.\u201d[124]<\/p>\n<p><strong>125.\u00a0\u00a0 Ash-Shaydalani<\/strong>. Nama lenkap: Abu Bakar, Muhamad bin Dawud bin Muhamad ad-Dawudi ash-Shaydalani. Ia adalah muridnya al-Qaffal al-Marwazi yang juga menulis syarah kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. [125]<\/p>\n<p><strong>126.\u00a0\u00a0 Al-Qaffal al-Marwazi<\/strong> (W. 417 H.). Ia adalah syeikh tarekat di Khurasan. Nama lengkap: Abdullah bin Ahmad bin Abdullah. Imam besar ini adalah orang yang bersikap zuhud, luas ilmunya, dan sukses kehidupan dunianya. Ia dikenal dengan panggilan al-Qaffal ash-Shaghir al-Marwazi, yang sangat dibanggakan oleh penduduk Khurasan. Ia termasuk ulama terbaik Khurasan, yang sering melontarkan ide-ide cemerlang untuk memajukan madzhab Syafi\u2019i. Pemikirannya mengalahkan semua ulama di masanya, karena pemikirannya sangat baru dan orisinal.<\/p>\n<p>Ia mendalami ilmu agama di bawah asuhan Abu Zaid al-Marwazi. Ia juga mendengar hadis darinya, dari al-Khalil bin Ahmad al-Qadhi, dan masih banyak lagi yang lainnya. As-Subki berkata, \u201cDalam ktab Am\u00e2l\u00ee, Abu Bakar bin Muhamad bin Imam Abu al-Mudzaffar as-Sam\u2019ani menegaskan bahwa al-Qaffal adalah satu-satunya ulama ahli fiqih dan penghafal hadis yang bersikap zuhud dan wara\u2019 di zamannya. Ia banyak berjasa dalam kemajuan fiqih Syafi\u2019i dan ilmu lainnya. Tak ada seorang pun ulama yang sezaman dengannya yang melebihi jasanya.\u201d<\/p>\n<p>Ia mempunyai metode tersendiri yang sangat menarik dalam memajukan madzhab Syafi\u2019i. Metode tersebut awalnya ia kutip dari para ahli fiqih di negaranya. Lalu ia mengembangkannya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia rela meninggalkan kampung halamannya untuk memperdalam ilmu agama. Hasilnya, bukan hanya dirinya saja yang menjadi ulama besar. Tetapi, ia mampu mencetak murid-muridnya menjadi ulama besar yang tersebar ke berbagai penjuru negara. Pemikiran dan pendapatnya banyak dikaji oleh para ulama sesudahnya. Jumlah muridnya sangat banyak, di antaranya: Abu \u2018Ali as-Sanaji, al-Qadhi al-Husain, dan Imam al-Juwaini. Padahal ia sendiri baru mendalami ilmu fiqih pada umur 30 tahun. Namun, ia berhasil mensyarahi kitab Fur\u00fb karya Ibnu Haddad dan karyanya ini banyak diacungi jempol.<\/p>\n<p>As-Subki berkata, \u201cAl-Qaffal ini sering sekali disebut-sebut dalam kitab-kitab fiqih dan penyebutannya seringkali tanpa embel-embel. Padahal ada dua ulama yang bernama al-Qaffal, yaitu: al-Qaffal al-Kabir dan al-Qaffal ash-Shaghir. Al-Qaffal al-Kabir apabila disebutkan namanya, biasanya dibarengi dengan embel-embel lain, yaitu asy-Syasyi. Tetapi, di kalangan para pengikut tarekat Irak, nama al-Qaffal al-Kabir disebutkan tanpa embel-embel. Nama al-Qaffal asy-Syasyi sering disebut dalam kajian selain fiqih, yaitu Ushul Fiqih, tafsir, dan sebagainya.\u201d An-Nawawi berkata, \u201cNama al-Qaffal ash-Shaghir al-Marwazi tidak pernah disebutkan dalam kitab al-Muhadzdzab. Namanya sering disebut dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Khurasan generasi belakangan, seperti dalam kitab al-Ib\u00e2nah dan Ta\u2019l\u00eeq al-Q\u00e2dh\u00ee Husain. Sebagaimana namanya populer dalam kitabnya al-Mas\u2019udi, kitab-kitabnya Abu Muhamad al-Juwaini, kitab-kitabnya ash-Shaydalani, dan kitab-kitabnya Abu \u2018Ali as-Sanaji. Alasannya sederhan, mereka semua adalah murid-muridnya al-Qaffal ash-Shaghir.\u201d Al-Qaffal ash-Shaghir meninggal pada tahun 417 H. di usia 90 tahun dan dikebumikan di Sijistan.[126]<\/p>\n<p><strong>127.\u00a0\u00a0 Al-Fawrani<\/strong>, (W. 461 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Muhamad Ahmad bin Fawran al-Fawrani. Imam besar yang nama kunyahnya Abu al-Qasim al-Marwzi berasal dari Marwa. Ia tergolong dalam deretan nama-nama besar di kalangan madzhab Syafi\u2019i\u00a0 yang bergelar hafizh. Ia adalah murid seniornya Abu Bakar al-Qaffal dan Abu Bakar al-Mas\u2019udi. Ia mendengar hadis dari \u2018Ali bin Abdullah ath-Thaysafuni dan gurunya, Abu Bakar al-Qaffal. Muridnya yang terkenal, antara lain: al-Baghawi \u2013penulis kitab at-Tahdz\u00eeb-, Abdul Mun\u2019im bin Abu Qasim al-Qusyairi, dan lainnya. Ia dijuluki sebagai Syeikh oleh penduduk Marwa. Karya-karyanya: al-Ib\u00e2nah dan al-\u2018Umdah. Ia juga termasuk ahli fiqih yang banyak melontarkan ide-ide baru.[127]<\/p>\n<p><strong>128.\u00a0\u00a0 Al-Qadhi al-Husain<\/strong>, (W. 462 H.), nama lengkap: al-Husain bin Muhamad bin Ahmad, Abu \u2018Ali al-Qadhi. Imam agung ini termasuk ulama yang terpandang di kalangan pengikut madzhab Syafi\u2019i dan pendapatnya banyak didengar orang di seluruh dunia. Dialah penulis kitab at-Ta\u2019l\u00eeqat yang sangat terkenal itu. Ia meriwayatkan hadis dari Abu Nu\u2019aim Abdul Malik al-Isfarayini dan Abdurrazaq al-Muni\u2019i meriwayatkan hadis darinya. Muridnya yang terkenal adalah al-Baghawi yang dijuluki sebagai Penghidup Sunah (muhyi as-sunnah). Ia mendalami fiqih kepada al-Qaffal al-Marwazi. Ia dan Syeikh Abu \u2018Ali dianggap sebagai muridnya al-Qaffal yang paling sukses, pengaruh pemikiran fiqihnya sangat luas, paling tenar namanya, dan paling banyak melakukan tahqiq. Banyak ulama besar yang berhasil dikadernya, antara lain: Imam al-Haramain, al-Mutawalli, al-Farra\u2019, dan al-Baghawi.[128]<\/p>\n<p><strong>129.\u00a0\u00a0 Al-Azjahi<\/strong>, (W. 486 H.), nama lengkap: Abdul Karim bin Yunus bin Muhamad bin Manshur, Abu al-Fadhl al-Azjahi. Ia berguru kepada al-Qadhi Husain.[129]<\/p>\n<p><strong>130.\u00a0\u00a0 Abdurrahman as-Sarkhasi<\/strong>, (432- 494\u00a0 H.), nama lengkap: Abu al-Faraj az-Zaz, Abdurrahman bin Ahmad bin Muhamad as-Sarkhasi an-Nuwaizi. Ia adalah imam agung penduduk Marwa, yang lahir pada tahun 432 H. Ia berguru kepada al-Qadhi Husain. Ibnu as-Sam\u2019ani berkomentar tentangnya, \u201cIa adalah salah satu imam kaum muslimin yang menjadi panutan di seluruh penjuru dunia, berkat kepiawaiannya menghafal madzhab Syafi\u2019i, pengetahuannya yang mendalam, dan bukunya yang berjudul al-Iml\u00e2\u2019, yang terus dibaca orang selama matahari masih terbit. Banyak para imam dan ahli fiqih yang sengaja datang untuk\u00a0 memperdalam ilmu kepadanya, berdiskusi, dan merujuk pendapatnya.\u201d Ia meninggal pada bulan Rabi\u2019ul Akhir 494 H.[130]<\/p>\n<p><strong>131.\u00a0\u00a0 Abu al-Qasim ats-Tsabiti<\/strong>, (W. 495 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Muhamad bin Tsabit, Abu al-Qasim ats-Tsabiti al-Kharaqi. Ia memperdalam ilmu fiqih kepada al-Fawrani di Marwa. Kemudian melanjutkan pengajiannya kepada al-Qadhi al-Husain, dan Abu Sahl Ahmad bin \u2018Ali al-Abyurdi. Kemudian ia berteman dengan Abu Ishaq asy-Syairazi.[131]<\/p>\n<p><strong>132.\u00a0\u00a0 Al-Qadhi al-Ka\u2019bi,<\/strong> (W. 481 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin Sa\u2019id al-Qadhi, Abu Abdullah al-Ka\u2019bi. Ia memperdalam ilmu agama kepada ayahnya di Khawarizm dan kepada Syeikh Abu al-Qasim al-Fawrani di Marwa.[132]<\/p>\n<p><strong>133.\u00a0\u00a0 Abu Muhamad al-Juwaini<\/strong>, (W. 438 H.). Ia adalah ayahnya Imam al-Haramain. Nama lengkap: Abdullah bin Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin Muhamad bin Haywiyah. Ia adalah syeikh agung yang sangat alim di zamannya, bersikap zuhud, dan sangat memperhatikan ibadah. Karena itu, pantas dijuluki sebagai pilar Islam. Ia mempunyai ilmu yang sangat mendalam di bidang fiqih, Ushul Fiqih, nahwu, tafsir, dan sastera. Gurunya: al-Qaffal, \u2018Adnan bin Muhamad adh-Dhabbi, dan lainnya. Muridnya: Imam al-Haramain, Sahl bin Ibrahim al-Mas\u2019adi, dan lainnya.<\/p>\n<p>Awalnya ia mempelajari fiqih kepada Ibnu Ya\u2019qub al-Abyurdi di desa Juwain. Kemudian ia datang ke Naisabur dan melakukan ijtihad di bidang fiqih di bawah bimbingan Abu Thayyib ash-Sha\u2019luki. Lalu ia pindah ke Marwa untuk berguru kepada al-Qaffal al-Marwazi. Ia terus menemani gurunya itu, sampai akhirnya berhasil menemukan metode penyebaran madzhab secara efektif. Kemudian ia kembali ke Naisabur pada tahun 407 H. untuk menjalankan tugas sebagai pengajar dan mufti. Ia juga sering menghadiri forum-forum diskusi, serta mengajarkan ilmunya kepada kalangan elit dan orang-orang alit.<\/p>\n<p>Karya-karyanya yang terkenal: al-Fur\u00fbq, as-Silsilah, at-Tabshirah, at-Tadzkirah, Mukhtashar al-Mukhtashar, Syarh ar-Ris\u00e2lah, dan Mukhtashar f\u00ee Mawqib al-Im\u00e2m wa al-Ma\u2019m\u00fbm. Ia juga mempunyai kitab tafsir yang sangat tebal. Setiap ayat dijelaskan dengan 10 macam penafsiran. Karyanya yang tak kalah tenarnya adalah Kit\u00e2b al-Muh\u00eeth. Ia meninggal pada tahun 438 H. di Naisabur. Abu Shalih bercerita, \u201cSetelah saya selesai memandikannya, maka saya siap-siap mengkafaninya. Ketika saya hendak menyelimutkan kain kafan tersebut, tiba-tiba saya melihat tangan kanannya memancarkan sinar terang seperti cahaya bulan purnama. Saya pun menjadi heran, lalu saya bergumam, mungkin ini adalah berkah dari tugasnya memberikan fatwa.\u201d[133]<\/p>\n<p><strong>134.\u00a0\u00a0 Isma\u2019il ar-Ruyani<\/strong>. Nama lengkap: Isma\u2019il bin Ahmad bin Muhamad ar-Ruyani. Ia adalah ayahnya Imam ar-Ruyani, penulis kitab al-Bahr.[134]<\/p>\n<p><strong>135.\u00a0\u00a0 Al-Imam ar-Ruyani<\/strong>. Nama lengkap: al-Imam Abu al-Mahasin, Abdul Wahid bin Isma\u2019il bin Ahmad. Ia adalah penulis kitab al-Bahr. Ia lahir pada bulan Dzul Hijjah 415 H. Ia mendalami ilmu agama kepada ayah dan kakeknya di kota kelahirannya sendiri. Di Naisabur, ia berguru kepada Nashir al-Marwazi dan lainnya. Ia mendengar hadis dari Abdullah bin Ja\u2019far al-Khabazi dan lainnya. Salah satu murid yang meriwayatkan hadis darinya adalah Zahir asy-Syahami.<\/p>\n<p>Karyanya yang paling terkenal adalah kitab al-Bahr. Imam as-Subki berkata, \u201cKitab ini memang tulisan yang paling luas tentang madzhab Syafi\u2019i. Hanya saja, isinya tidak jauh dari kitab al-H\u00e2w\u00ee karya al-Mawardi, yang ditambahkan dengan beberapa pembahasan yang ditulis oleh Ruyani dari ayah dan kakeknya, serta ada tambahan masalah-masalah lainnya. Dengan demikian, pembahasan dalam masalah fur\u00fb\u2019 dikaji secara panjang lebar dalam kitab tersebut, itulah kelebihannya. Sedangkan kelebihan kitab al-H\u00e2w\u00ee adalah sistematikanya yang lebih baik dan penjelasannya lebih lugas. Karya-karyanya yang lain adalah al-Fur\u00fbq, al-Hilyah, at-Tajribah, al-Mubtadi, Haq\u00eeqah al-Qaulain, Man\u00e2shish asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, al-K\u00e2f\u00ee, dan lainnya. Ia meninggal sebagai syahid, karena dibunuh oleh orang atheis yang iri kepadanya. Pembunuhan itu dilakukan di siang bolong pada hari Jum\u2019at, 11 Muharram 502 H.[135]<\/p>\n<p><strong>136.\u00a0\u00a0 Al-Baihaqi<\/strong>, (384-458 H.), nama lengkap: Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin \u2018Ali an-Naisaburi al-Khasrujradi \u2013nisbat kepada sebuah desa di Baihaq-. Ia lahir bulan Sya\u2019ban 384 H. Ia mendengar hadis dari Ibnu al-Hasan Muhamad bin al-Husain al-\u2018Alawi, yang merupakan guru tertuanya, Abu Thahir az-Ziyadi, Abu Abdullah al-Hakim, dan lainnya yang jumlahnya lebih dari seratus guru. Murid-muridnya sangat banyak, di antaranya: putranya sendiri yang bernama Isma\u2019il, cucunya yang bernama Abu al-Hasan Abdullah bin Muhamad.<\/p>\n<p>Imam besar ini termasuk ulama yang sangat produktif. Karya-karyanya lebih dari 1.000 jilid dan belum ada seorang pun yang menandinginya. Karyanya yang paling spektakuler adalah kitab as-Sunan al-Kab\u00eer. Sebuah kitab hadis dan ilmu hadis yang sangat lengkap, disusun secara sistematis dan diklasifikasikan dengan jelas.\u00a0 Demikian pula kitabnya yang berjudul Ma\u2019rifah as-Sunan wa al-\u00c2tsar, yang disebut-sebut sebagai buku yang wajib dimiliki oleh pengikut fiqih Syafi\u2019i. Berikut karya-karyanya yang lain: al-Mabs\u00fbth f\u00ee Nush\u00fbsh asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Kit\u00e2b al-Asm\u00e2\u2019 wa ash-Shif\u00e2t, Kit\u00e2b al-I\u2019tiq\u00e2d, Kit\u00e2b Dal\u00e2\u2019il an-Nubuwwah, Kit\u00e2b Syu\u2019ab al-Im\u00e2n, Kit\u00e2b Man\u00e2qib asy-Sy\u00e2fi\u2019i, Kit\u00e2b ad-Da\u2019w\u00e2t al-Kab\u00eer, Kit\u00e2b al-Khil\u00e2fiy\u00e2t, Kit\u00e2b Man\u00e2qib al-Im\u00e2m Ahmad, Kit\u00e2b Ahk\u00e2m al-Qur\u2019\u00e2n li asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Kit\u00e2b ad-Da\u2019w\u00e2t ash-Shagh\u00eer, Kit\u00e2b al-Ba\u2019ts wa an-Nusy\u00fbr, Kit\u00e2b az-Zuhd al-Kab\u00eer, Kit\u00e2b al-\u00c2d\u00e2b, Kit\u00e2b al-Asr\u00e2r, Kit\u00e2b as-Sunan ash-Shagh\u00eer, Kit\u00e2b al-Arba\u2019\u00een, dan Kit\u00e2b Fadh\u00e2\u2019il al-Awq\u00e2t.<\/p>\n<p>As-Subki berkata, \u201cSemua kitab yang disebutkan di atas adalah kitab-kitab penting yang disusun secara sistematis, mudah dipahami, dan diakui oleh para ahli ilmu. Bahkan, ditegaskan bahwa belum ada ulama terdahulu yang menuliskan kitab-kitab tersebut secara sistematis.\u201d Imam al-Haramain berkata, \u201cSetiap pengikut Syafi\u2019i pasti berhutang budi kepada Syafi\u2019i, kecuali al-Baihaqi. Ia malah membuat Syafi\u2019i seakan-akan terbebani hutang budi, karena karya-karya tulisnya benar-benar sangat berjasa dalam memajukan dan menyebarkan madzhab Syafi\u2019i.\u201d Imam al-Baihaqi wafat di Naisabur pada tanggal 10 Jumadil Awwal 458 H. dan dikebumikan di Khasrujrad.[136]<\/p>\n<p><strong>137.\u00a0\u00a0 Abu Nashr al-Qusyairi<\/strong>, (W. 514 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Abdul Karim al-Qusyairi. Ia mendalami ilmu agama kepada ayahnya. Setelah ayahnya wafat, ia melanjutkan pengajiannya kepada Imam al-Haramain. Syeikh Abu Ishaq dan ulama lainnya sering menghadiri majelisnya di Baghdad.[137]<\/p>\n<p><strong>138.\u00a0\u00a0 Al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari<\/strong>, (348-450 H.), nama lengkap: Thahir bin Abdullah bin Thahir bin \u2018Umar. Imam besar madzhab Syafi\u2019i yang sangat terpandang ini dikenal memiliki ilmu yang sangat luas, berkedudukan tinggi, berpengaruh besar, dihormati oleh para ulama lainnya, dan dianggap sebagai orang yang paling alim di zamannya. Nama besarnya membahana ke berbagai pelosok dunia dan kebaikan sikapnya menuai banyak pujian. Gelar Qadhi (hakim) yang disandangnya merupakan simbol kematangan ilmunya dan kedudukannya yang terhormat. Tidak heran, apabila para penduduk Irak banyak yang berguru kepadanya dan mempercayakan penyebaran madzhab Syafi\u2019i kepadanya.<\/p>\n<p>Ia lahir di Amal Thibristan tahun 348 H. Di Jurjan, ia belajar hadis kepada Abu Ahmad al-Ghathrifi, di Naisabur kepada Abu al-Hasan, dan di Baghdad kepada Abu al-Hasan ad-Daruquthni. Murid-muridnya yang terkenal antara lain: al-Khathib al-Baghdadi, Abu Ishaq asy-Syairazi \u2013murid kesayangannya-, Abu Muhamad bin al-Abnus, dan lainnya. Kemudian ia mendalami bidang fiqih kepada Ibnu \u2018Ali az-Zujaji di kota Amal. Bidang al-Qur\u2019an ia pelajari dari Abu Sa\u2019id al-Isma\u2019ili dan al-Qadhi Abu al-Qasim bin Kajj di Amal. Kemudian ia merantau ke Naisabur dan bertemu dengan Abu al-Hasan al-Masarkhasi. Ia mengikutinya dan menemaninya selama 4 tahun. Kemudian ia pindah ke Baghdad dan menambatkan hatinya kepada Abu Muhamad al-Baqi al-Khawarizmi.<\/p>\n<p>Berkat keilmuannya yang mendalam, ia banyak meninggalkan karya tulis di bidang perdebatan madzhab dan Ushul Fiqih. Al-Qadhi Abu ath-Thayyib pernah menjabat sebagai hakim agung di kota al-Karkh setelah wafatnya al-Qadhi ash-Shaymari. Apabila Syeikh Abu Ishaq dan ulama Irak lainnya menyebutkan \u201cal-Qadhi\u201d yang berkenaan dalam pembahasan fiqih, maka yang dimaksud adalah al-Qadhi Abu ath-Thayyib. Sebagaimana halnya Imam al-Haramain dan ulama Khurasan lainnya, apabila mereka menyebutkan kata \u201cal-Qadhi,\u201d maka sebutan itu ditujukan kepada al-Qadhi Husain di bidang fiqih, dan kepada al-Qadhi Abu Bakar bin ath-Thayyib al-Baqillani di bidang teologi aliran Asy\u2019ariyyah. Sedangkan golongan Mu\u2019tazilah menyandangkan gelar \u201cal-Qadhi\u201d itu kepada Abdul Jabbar al-Istirabadzi. Abu ath-Thayyib meninggal pada hari Sabtu dan dikebumikan pada hari Ahad, 20 Rabi\u2019ul Akhir 450 H.[138]<\/p>\n<p><strong>139.\u00a0\u00a0 Ibnu \u2018Arabiyah<\/strong>, (414-Rajab 502 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin al-Husain bin Abdullah Abu al-Qasim ar-Ray\u2019i. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib, dan al-Mawardi, Abu al-Qasim bin \u2018Umar al-Karkhi.[139]<\/p>\n<p><strong>140.\u00a0\u00a0 Abu Bakar al-Khathib<\/strong>, (W. Hari Senin, 7 Dzul Hijjah 463 H.), nama lengkap: Abu Bakar Ahmad bin \u2018Ali bin Tsabit al-Khathib. Ia termasuk imam besar yang telah menulis banyak kitab. Ia berguru kepada al-Muhamili, al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, dan Abu Nashr bin ash-Shabbagh.[140]<\/p>\n<p><strong>141.\u00a0\u00a0 Al-Mushisi<\/strong>, (W 487 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim ad-Dimasyqi, \u2018Ali bin Muhamad bin \u2018Ali bin Ahmad. Ia termasuk ahli fiqih kenamaan dan kawannya al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[141]<\/p>\n<p><strong>142.\u00a0\u00a0 Ibnu ash-Shabbagh<\/strong>, (W. 477 H.), nama lengkap: Abdus Sayyid bin Muhamad bin Abdul Wahid. Ia dikenal sebagai pucuk pimpinannya para imam madzhab Syafi\u2019i. Ia belajar hadis kepada Abu \u2018Ali Syadzan, Abu al-Husain bin Fadhl dan lainnya. Ilmu fiqih dipelajari dari ayahnya sendiri dan al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari. Karya-karyanya: asy-Sy\u00e2mil, al-K\u00e2mil, \u2018Iddah al-\u2018\u00c2lam, ath-Thar\u00eeq as-Sal\u00eem, Kif\u00e2yah as-S\u00e2\u2019il, dan al-Fat\u00e2wa. Ia meninggal pada hari Selasa dan dikebumikan hari Rabu, 01 Jumadil Awwal 477 H. Awalnya, ia dikebumikan di rumahnya sendiri, lalu dipindah ke pekuburan Bab Harb. Dua tahun sebelum wafat, matanya sudah tidak berfungsi lagi.[142]<\/p>\n<p><strong>143.\u00a0\u00a0 Abu Bakar asy-Syami<\/strong>, (W. 488 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Muzhaffir bin Bakran bin Abdush Shamad al-Hamawi al-Qadhi. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[143]<\/p>\n<p><strong>144.\u00a0\u00a0 Abu Abdullah al-Baqqal<\/strong>, (W. 477 H.), nama lengkap: al-Husain bin Ahmad bin \u2018Ali. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[144]<\/p>\n<p><strong>145.\u00a0\u00a0 Abu Turab al-Muraghi<\/strong>, (W. 492 H.), nama lengkap: Abdul Baqi bin Yusuf bin \u2018Ali. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari di Baghdad.[145]<\/p>\n<p><strong>146.\u00a0\u00a0 Abu Hafsh az-Zanjani<\/strong>, (W. 459 H.), nama lengkap: \u2018Umar bin \u2018Ali bin Ahmad. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[146]<\/p>\n<p><strong>147.\u00a0\u00a0 Abu \u2018Ali al-Baihaqi<\/strong>, (427-507 H.), nama lengkap: Isma\u2019il bin Ahmad bin al-Husain. Ia adalah gurunya al-Qadhi al-Khasrujradi dan putranya Imam Abu Bakar al-Baihaqi. Ia mendengar hadis dan belajar fiqih kepada ayahnya.[147]<\/p>\n<p><strong>148.\u00a0\u00a0 Ad-Daw\u2019i<\/strong>, (W. 459 H.), nama lengkap: Abu Muhamad al-Farisi, Abdurrahman bin Muhamad bin al-Hasan. Ia termasuk kawan dekatnya Abu Muhamad al-Juwaini. [148]<\/p>\n<p><strong>149.\u00a0\u00a0 Ash-Shaffar<\/strong>, (W. 468 H.), nama lengkap: Abu Bakar, Muhamad bin al-Qasim bin Habib. Ia berguru kepada Abu Muhamad al-Juwaini.[149]<\/p>\n<p><strong>150.\u00a0\u00a0 An-Nashahi<\/strong>, (W. 455 H.), nama lengkap: Abu Sa\u2019id, Muhamad bin Muhamad bin Ja\u2019far an-Naisaburi. Ia berguru kepada Abu Muhamad al-Juwaini.[150]<\/p>\n<p><strong>151.\u00a0\u00a0 Al-Asynahi<\/strong>, (W. 515 H.), nama lengkap: Abu al-\u2018Abbas, Ahmad bin Musa bin Jausin. Ia berguru kepada Abu Sa\u2019d al-Mutawalli.[151]<\/p>\n<p><strong>152.\u00a0\u00a0 Al-Mutawalli,<\/strong> (W. 478 H.), nama lengkap: Abu Sa\u2019d, Abdurrahman bin Ma\u2019mun. Ia dikenal sebagai ulama yang sangat pandai di bidang Ushul, Fiqih, dan Khil\u00e2f. Gurunya: al-Qadhi al-Husain, al-Fawrani, dan Abu Sahl al-Abyurdi. Karyanya yang cukup terkenal adalah kitab at-Tatimmah, yang menjelaskan tentang gurunya yang bernama al-Fawrani, dan dibahas juga tentang masalah hud\u00fbd. Sayangnya, ajal keburu menjemutnya sebelum ia selesai merampungkan kitab ini. Ia juga menulis kitab-kitab tentang masalah pembagian waris, perbedaan pendapat fiqih, dan konflik teologi dengan menggunakan metode al-Asy\u2019ari.[152]<\/p>\n<p><strong>153.\u00a0\u00a0 Al-Fara\u2019 al-Baghawi<\/strong>, (W. Syawwal 516 H), nama lengkap: al-Husain bin Mas\u2019ud al-Fara\u2019. Ulama yang mendapat julukan Penghidup Sunah ini telah banyak meninggalkan karya tulis, antara lain\u201d at-Tahdz\u00eeb, Syarh as-Sunnah, al-Mash\u00e2b\u00eeh, Ma\u2019\u00e2lim at-Tanz\u00eel. Ia juga mempunyai kitab fatwa yang sangat terkenal, bukan kitab fatwa hasil kompilasi fatwa-fatwanya al-Qadhi al-Husain. Ia disebut-sebut sebagai imam besar yang bersikap wara\u2019 dan zuhud, ahli fiqih, pakar hadis, ahli tafsir, serta imam yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ia mendalami fiqih kepada al-Qadhi al-Husain dan merupakan murid kesayangannya. Ia meninggal pada bulan Syawwal 516 H. di Marwa. Ia dimakamkan di dekat gurunya, al-Qadhi al-Husain. Menurut as-Subki yang mengutip pernyataan adz-Dzahabi, al-Baghawi belum sempat menunaikan ibadah haji dan umurnya 80 tahun lebih.[153]<\/p>\n<p><strong>154.\u00a0\u00a0 Abu \u2018Ali al-Baghawi<\/strong>, (W. 529 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Mas\u2019ud al-Fara\u2019. Ia adalah saudaranya al-Husain al-Fara\u2019 dan berguru kepadanya.[154]<\/p>\n<p><strong>155.\u00a0\u00a0 Hafadah al-\u2018Athari<\/strong>, (W. 571 H.), nama lengkap: Abu Manshur, Muhamad bin As\u2019ad al-\u2018Athari, yang dijuluki sebagai tiangnya agama. Ia berguru kepada al-Fara\u2019.[155]<\/p>\n<p><strong>156.\u00a0\u00a0 Abu al-Ma\u2019ali Imam al-Haramain<\/strong> (08 Muharram 419 &#8211; 25 Rabi\u2019ul Akhir 478 H.). Nama lengkap: Dhiyaudin Abdul Malik bin al-Juwaini an-Naisaburi. Dia adalah putra Syeikh Abu Muhamad al-Juwaini, yang dijuluki Syeikhul Islam, karena ilmunya yang mendalam, pandangannya yang kritis, kefashihannya bersastera Arab, dan kelihaiannya beretorika dalam ilmu kalam yang tidak ada duanya. Ia menimba ilmu agama kepada ayahnya sendiri dan ayahnya sangat bangga dengan kemajuan putranya di bidang ilmu. Berkat kegigihannya belajar, akhirnya ia mampu berijtihad dalam koridor madzhab Syafi\u2019i, menelaah perdebatan-perdebatan fiqih, mengikuti polemik teologis, dan sebagainya. Namanya meroket dan sangat terkenal di saat usianya masih terbilang muda. Ayahnya meninggal saat usianya genap 20 tahun. Maka, ia pun didaulat untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pengajar. Lalu ia pun mulai melanjutkan pengajian ayahnya beberapa lamanya. Merasa ilmunya masih kurang luas, maka ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah al-Baihaqi. Ia dibimbing oleh Abu al-Qasim al-Iskafi al-Isfarayini. Kemudian ia tinggal dan mengajar di Mekah selama 4 tahun. Ia juga sering memberikan fatwa, giat beribadah, dan menyebarkan ilmu.<\/p>\n<p>Gurunya di bidang hadis: Ayahnya sendiri, Abu Hassan Muhamad bin Ahmad al-Muzakki, dan lainnya. Muridnya: Zahir asy-Syahami, Abu Abdullah al-Farawi, dan lainnya. Karya-karyanya: an-Nih\u00e2yah (kitab tentang fiqih madzhab Syafi\u2019i yang tidak ada duanya), asy-Sy\u00e2mil (kitab tentang ushuludin), al-Burh\u00e2n (kitab tentang Ushul Fiqih), al-Irsy\u00e2d (kitab tentang ushuludin), at-Talkh\u00eesh Mukhtashar at-Taqr\u00eeb wa al-Irsy\u00e2d (kitab tentang Ushul Fiqih), al-Waraq\u00e2t (kitab tentang Ushul Fiqih), Gahyy\u00e2ts al-Umam wa Mugh\u00eets al-Khalq (kitab tentang tarj\u00eeh madzhab Syafi\u2019i), ar-Ris\u00e2lah an-Nizh\u00e2miyah, dan Mukhtashar an-Nih\u00e2yah. Ia juga mempunyai kitab sya\u2019ir yang sangat terkenal, judulnya D\u00eew\u00e2n Khath\u00eeb. Salah satu sikapnya yang sangat terpuji ialah dia tidak pernah meremehkan orang lain. Bahkan, ia mau mendengarkan saran-saran dari orang-orang yang level keilmuannya di bawahnya. Ia meninggal pada hari Rabu, 25 Rabi\u2019ul Akhir 478 H.[156]<\/p>\n<p><strong>157.\u00a0\u00a0 Abu Ishaq asy-Syairazi<\/strong>, (393- 11 Jumadil Akhir 476 H.), nama lengkap: Ibrahim bin \u2018Ali bin Yusuf al-Fairuzabadzi asy-Syairazi, yang dijuluki dengan nama Jamaludin. Karya-karyanya: at-Tabh\u00eeh, al-Muhadzdzab, an-Nukat, al-Lamh, at-Tabshirah, al-Mulakhkhash, al-Mu\u2019awwanah, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, Nashh Ahl al-\u2018Ilm, dan sebagainya. Ia diberi gelar Syeikhul Islam, yang mempunyai karangan buku yang sangat banyak. Banyak para pelajar yang berasal dari Timur dan Barat yang sengaja menuntut ilmu kepadanya. Fatwa-fatwanya pun tersebar ke berbagai daerah, daratan maupun lautan. Para ulama menyatakan, ia mengikuti metode Ibnu Suraij dalam berfatwa dan menulis buku. Ia dikenal sebagai imam yang pandai berdebat, bersikap wara\u2019 dan takwa. Ia juga termasuk imam yang rajin berdakwah, sehingga dijuluki juru dakwah. Abu Bakar bin al-Hadhanah berkata, saya mendengar sebagian sahabat Abu Ishaq di Baghdad berkata, \u201cSetiap kali selesai menulis satu fasal dalam kitab al-Muhadzdzab, ia menunaikan salat dua raka\u2019at.\u201d<\/p>\n<p>Imam besar ini lahir di Fairuzabad, kota di Persia, pada tahun 393 H. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota tersebut. Kemudian ia pindah ke Syairaz dan berguru kepada Abu Abdullah al-Baidhawi dan Ibnu Ramin. Keduanya adalah kawan dekatnya Abu al-Qasim ad-Dariki, yang merupakan muridnya Abu Ishaq al-Marwazi \u2013temannya Ibnu Suraij-. Kemudian ia tinggal di Bashran dan belajar fiqih kepada al-Jazari. Ia masuk ke Baghdad pada tahun 415 H. dan memperdalam fiqihnya kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari. Ia terus menemani gurunya itu, sampai namanya sendiri melambung. Sehingga ia dianggap sebagai kawan dan tangan kanannya al-Qadhi. Ia belajar ushuluddin kepada Abu Hatim al-Qazwini. Ia juga belajar fiqih kepada az-Zujaji dan ahli fiqih lainnya. Ia terus dan terus mengasah ilmunya, hingga akhirnya menjadi orang terpandai di zamannya. Namanya sangat familiar di kalangan orang-orang Persia dan di seluruh penjuru negara. Gurunya di bidang hadis di Baghdad: Abu Bakar al-Barqani, Abu \u2018Ali bin Syadzan, Abu ath-Thayyib ath-Thabari, dan lainnya. Muridnya: al-Khathib, Abu Abdullah al-Humaidi, Abu Bakar bin al-Hadhinah, dan lainnya. Ditegaskan bahwa ia hafal semua masalah-masalah fiqih, seperti ia hafal surat al-Fatihah. Ia meninggal pada hari Rabu pagi, 11 Jumadil Akhir 476 H. Jenazahnya dimandikan oleh Abu al-Wafa\u2019 bin \u2018Aqil al-Hanbali dan dimakamkan pada hari Kamis di pemakaman Babul Harb.[157]<\/p>\n<p><strong>158.\u00a0\u00a0 Abu Nashr al-Bandaniji<\/strong>, (423-475 H.), nama lengkap: Muhamad bin Hibbatullah bin Muhamad bin al-Husain. Ia adalah imam besar yang nama kunyahnya adlaah Abu Sahl, putranya Jamulul Islam Abu Muhamad bin al-Qadhi Abu \u2018Umar al-Busthami yang tinggal di Mekah. Ia dikenal sebagai ahli fiqih kota suci Mekah dan termasuk kawan seniornya Abu Ishaq asy-Syairazi. As-Subki mengutip pernyataan Abdul Ghafir tentang dirinya, bahwa silsilah imamah dan kepakaran hadis jatuh ke tangannya setelah ayahnya wafat. Maka, ia pun mengemban tugas sebagai ahli hadis dengan baik.[158]<\/p>\n<p><strong>159.\u00a0\u00a0 Abu Manshur asy-Syafi\u2019i<\/strong>, (W. 493 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abdul Wahhab bin Musa asy-Syairazi al-Wa\u2019izh. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[159]<\/p>\n<p><strong>160.\u00a0\u00a0 Abu \u2018Ali al-Faruqi<\/strong>, (433-528 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Ibrahim bin \u2018Ali bin Barhun al-Qadhi. Ia berguru kepada Ibnu Abdullah bin Muhamad bin Bayan al-Kazuni, Abu Ishaq asy-Syairazi, dan Abu Nashr bin ash-Shabbagh. Ia mempunyai kitab terkenal yang berjudul al-Faw\u00e2\u2019id. Salah satu muridnya yang terkenal adalah al-Qadhi Ibnu Abu \u2018Ashrun.[160]<\/p>\n<p><strong>161.\u00a0\u00a0 Abu Muhamad as-Sunni<\/strong>, (W. 465 H.), nama lengkap: Abdullah bin \u2018Ali bin Nahwah. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib dan sering menghadiri forum pengajiannya Abu Ishaq asy-Syairazi.[161]<\/p>\n<p><strong>162.\u00a0\u00a0 Abu al-\u2018Abbas al-Karkhi<\/strong>, (W. 527 H.), nama lengkap: Ahmad bin Salamah bin Abdullah bin Makhlad. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi dan Abu Nashr ash-Shabbagh.[162]<\/p>\n<p><strong>163.\u00a0\u00a0 Abu al-Ghana\u2019im al-Faruqi<\/strong>, (W. 492 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Faraj bin Manshur bin Ibrahim as-Sulami. Ia termasuk muridnya Abu Ishaq asy-Syairazi yang menjadi imam besar.[163]<\/p>\n<p><strong>164.\u00a0\u00a0 Al-Husain bin \u2018Ali ath-Thabari<\/strong> (W. 495 H.). Ia adalah imam besar yang pernah menimba ilmu kepada Nashir al-\u2018Imari di Khurasan, al-Qadhi Abu ath-Thayyib di Baghdad, dan Abu Ishaq asy-Syairazi.[164]<\/p>\n<p><strong>165.\u00a0\u00a0 Abu Sa\u2019d ad-Daskar<\/strong>, (W. 486 H.), nama lengkap: Abdul Wahid bin Ahmad bin al-Husain ad-Daskari. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[165]<\/p>\n<p><strong>166.\u00a0\u00a0 Abu Bakar az-Zanjani<\/strong>, (457-541 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ahmad. Ia termasuk muridnya al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, yang banyak belajar kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[166]<\/p>\n<p><strong>167.\u00a0\u00a0 Abu al-Husain ar-Ramli<\/strong>, (W. 18 Ramadhan 504 H.), nama lengkap: Idris bin Hamzah bin \u2018Ali asy-Syami ar-Ramli. Ibnu as-Sam\u2019ani berkata, \u201cIa termasuk ulama ahli fiqih yang terpandang, fasih berbahasa Arab, alim, dan menjadi panutan umat.\u201d Ia memulai pendidikannya di Baitul Maqdis dan belajar kepada pakar fiqih yang bernama Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya kepada Abu Ishaq asy-Syairazi di Baghdad. Kemudian ia mengunjungi Khurasan dan tinggal di Samarqand. Ia diserahi tugas untuk mengajar para pengikut madzhab Syafi\u2019i di Masjid al-Manarah. Ia meninggal pada hari Jum\u2019at, 18 Ramadhan 504 H.[167]<\/p>\n<p><strong>168.\u00a0\u00a0 Abu Hakim al-Khabari<\/strong>, (W. 474 H.), nama lengkap: Abdullah bin Ibrahim bin Abdullah al-Khabari. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[168]<\/p>\n<p><strong>169.\u00a0\u00a0 Abu al-\u2018Abbas al-Jurjani<\/strong>, (W. 482 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ahmad al-Qadhi. Ia termasuk imam fiqih yang pandai sastera dan pernah menjabat hakim di kota Bashrah. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi. Karya-karyanya; al-Mu\u2019\u00e2y\u00e2t, asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, at-Tahr\u00eer, dan lainnya.[169]<\/p>\n<p><strong>170.\u00a0\u00a0 Ibnu Abi ash-Shaqr<\/strong>, (W. 498 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, Muhamad bin \u2018Ali al-Wasithi. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi dan bersikap sangat fanatik terhadap madzhab Syafi\u2019i.[170]<\/p>\n<p><strong>171.\u00a0\u00a0 Yusuf al-Hamadani<\/strong>, (W. 535 H.), nama lengkap: Abu Ya\u2019qub, Yusuf bin Ayyub al-Hamadani. Ia termasuk ulama yang sangat disegani dan dikenal memiliki karomah. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi, hingga menguasai Ushul Fiqih, madzhab, dan perdebatan fiqhiyyah. Asy-Syairazi sangat mengandalkannya meski usianya masih muda, dan banyak murid-murid senior lainnya.[171]<\/p>\n<p><strong>172.\u00a0\u00a0 Abu al-Fatah al-Arghiyani<\/strong>, (W. 499 H.), nama lengkap: Sahl bin Ahmad bin \u2018Ali. Ia adalah penulis kitab al-Fat\u00e2wa. Ia belajar fiqih kepada al-Qadhi al-Husain; belajar ushuluddin kepada Ibnu \u2018Ali as-Sanaji; serta belajar ushuluddin dan ilmu kalam kepada Imam al-Haramain.[172]<\/p>\n<p><strong>173.\u00a0\u00a0 Al-Kiya al-Harasi<\/strong>, (W. 504 H.), nama lengkap: Imaduddin Abu al-Hasan \u2018Ali bin Muhamad ath-Thabari. Ia termasuk pemukanya para ulama dan pimpinannya para imam. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain dan termasuk muridnya yang terkenal setelah al-Ghazali. Ia juga berhasil mencetak ulama besar. Karya-karyanya: Syif\u00e2\u2019 al-Mursyid\u00een dan Naqd Mufrad\u00e2t al-Im\u00e2m Ahmad. Ia juga mempunyai karya di bidang Ushul Fiqih dan lainnya. [173]<\/p>\n<p><strong>174.\u00a0\u00a0 Abu Nashr as-Sarraj<\/strong>, (444-05 Jumadil Akhir 518 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Ahmad. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain Abu al-Ma\u2019ali al-Juwaini dan mendengar hadis dari ayahnya. Ia lahir pada tahun 444 H. dan wafat pada hari Sabtu, 05 Jumadil Akhir 518 H.[174]<\/p>\n<p><strong>175.\u00a0\u00a0 Abu Sa\u2019d an-Naisaburi<\/strong>, (451\/451 &#8211; 532 H.), nama lengkap: Isma\u2019il bin Ahmad, Ibnu Abi Shalih al-Muadzdzin. Ayahnya yang bernama Abu Shalih adalah ahli hadis terkenal yang juga muadzin. Sedangkan ia sendiri menjadi ahli fiqih dan imam besar. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain dan Abu al-Mudhafiq as-Sam\u2019ani. [175]<\/p>\n<p><strong>176.\u00a0\u00a0 Abu Nashr al-Arghiyafi<\/strong>, (W. 528 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Ahmad. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain.[176]<\/p>\n<p><strong>177.\u00a0\u00a0 Abu al-Qasim al-Hakimi<\/strong>, (W. 529 H.), nama lengkap: Isma\u2019il bin Abdul Malik bin \u2018Ali, yang berasal dari Thus dan termasuk muridnya Imam al-Haramain. Ibnu as-Sam\u2019ani berkata, \u201cIa adalah imam besar di bidang fiqih, yang sangat pemberani, bersikap wara\u2019 dan baik pekertinya. Ia pernah merantau ke Irak dan Syam bersama al-Ghazali. Ia adalah teman baiknya al-Ghazali semasa belajar dan umurnya lebih tua. Ia meninggal pada tahun 529 H. dan dikebumikan di samping pusara al-Ghazali.[177]<\/p>\n<p><strong>178.\u00a0\u00a0 Abu al-Muzhaffir al-Khawafi<\/strong>, (W. 500 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin al-Muzhaffir. Ia termasuk ulama yang cukup terpandang di zamannya. Ia belajar fiqih kepada Ibrahim adh-Dharir, lalu kepada Imam al-Haramain. \u2018Umar al-Qaththan dan Muhamad bin Yahya termasuk muridnya.[178]<\/p>\n<p><strong>179.\u00a0\u00a0 Abu Qasim ar-Razi<\/strong>. Nama lengkap; \u2018Umar bin al-Husain bin al-Hasan Dhiyauddin ar-Razi. Ia adalah imam besar yang menjadi khatibnya penduduk Rayy dan ayahnya Imam Fakhruddin ar-Razi. Ia termasuk salah satu muridnya Abu Muhamad al-Baghawi dan merupakan Syeikhul Islam yang sangat mumpuni di bidang ilmu kalam. Salah satu karyanya adalah kitab Gh\u00e2yah al-Mar\u00e2m (kitab tentang ilmu kalam, dalam 2 jilid).[179]<\/p>\n<p><strong>180.\u00a0\u00a0 Malkadad al-\u2018Amriki<\/strong>, (W. 535 H.), nama lengkap: Abu Bakar bin \u2018Ali bin Abu \u2018Amr. Ia masuk dalam jajaran imam madzhab Syafi\u2019i. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Baghawi dan ayahnya Imam ar-Rafi\u2019i belajar fiqih kepadanya. Imam ar-Rafi\u2019i berkata, \u201cIa mengajar ayahku seperti seorang ayah mengajar anak kandungnya sendiri. Ia termasuk imam yang pakar di bidang fiqih, hadis, dan perdebatan fiqhiyyah.[180]<\/p>\n<p><strong>181.\u00a0\u00a0 Imam ar-Razi<\/strong>, (543\/544 H. &#8211; 606 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Umar bin al-Hasan bin al-Husain at-Taymi al-Bakri bin Khathib ar-Rayy. Ia termasuk imam ahli kalam yang sangat berani, berpengaruh besar, serta berjasa dalam penyebaran ilmu dan pembentukan masyarakat. Ia lahir pada tahun 543 H. atau 544 H. Ia sibuk melayani ayahnya, Dhiyauddin. Ia juga termasuk salah satu muridnya Abu Muhamad al-Baghawi. Ia belajar ilmu hikmah kepada al-Mujdi al-Jabali di Muraghah dan belajar fiqih kepada as-Sam\u2019ani. Dikatakan bahwa ia hafal kitab asy-Sy\u00e2mil f\u00ee \u2018Ilm al-Kal\u00e2m karya Imam al-Haramain. Karya-karyanya: at-Tafs\u00eer, al-Math\u00e2lib al-\u2018\u00c2liyah wa Nih\u00e2yah al-\u2018Uq\u00fbl, al-Arba\u2019\u00een, al-Mahshal, al-Bay\u00e2, al-Burh\u00e2n f\u00ee ar-Radd \u2018ala Ahl az-Zaigh wa ath-Thughy\u00e2n, al-Mab\u00e2hits al-\u2018Im\u00e2diyah, al-Mahsh\u00fbl, \u2018Uy\u00fbn al-Mas\u00e2\u2019il, Irsy\u00e2d an-Nazh\u00e2\u2019ir, \u2018Uy\u00fbn al-Hikmah wa Ajwibah al-Mas\u00e2\u2019il at-Tij\u00e2riyah, al-Ma\u2019\u00e2lim, Tahsh\u00eel al-Haqq, az-Zubdah, Syarh al-Isy\u00e2r\u00e2t, Syarh al-Asm\u00e2\u2019 al-Husn\u00e2, Syarh Mufashshal az-Zamakhsyar\u00ee f\u00ee an-Nahw, Waj\u00eez al-Ghaz\u00e2l\u00ee f\u00ee al-Fiqh, dan Saqth az-Zand li Ab\u00ee al-\u2018Al\u00e2\u2019. Ia mempunyai metode tersendiri dalam menyikapi perbedaan masalah fiqih dan mempunyai karya yang sangat menarik tentang biografi Imam Syafi\u2019i. Kitabnya yang berjudul as-Sirr al-Makt\u00fbm f\u00ee Mukh\u00e2thabah an-Nuj\u00fbm, bukanlah tulisannya sendiri. Tetapi, tulisan orang lain yang dinisbatkan kepadanya.<\/p>\n<p>As-Subki berkata, \u201cPerlu diketahui, adz-Dzahabi memasukkan Imam ar-Razi dalam jajaran nama-nama periwayat hadis yang dianggap lemah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-M\u00eez\u00e2n. Untuk itu, saya memberikan catatan khusus agar menjadi jelas penilaian tentang kepribadian ar-Razi ini. Sebenarnya, adz-Dzahabi tidak bermaksud menyebutnya sebagai rawi yang lemah, karena tidak ada bukti-bukti yang melemahkannya. Sebaliknya, ar-Razi adalah rawi yang terpercaya, bahkan disebut-sebut sebagai imamnya para ahli hadis. Dengan demikian, disebutkannya ar-Razi dalam jajaran nama-nama rawi yang lemah, adalah tindakan yang terlalu berlebihan dan fanatik.\u201d Dalam kitab al-M\u00eez\u00e2n disebutkan bahwa ar-Razi mempunyai kitab tentang perbintangan yang berjudul \u2018Asr\u00e2r an-Nuj\u00fbm (Rahasia bintang-bintang).\u201d Kitab itu dinilai sebagai kitab yang mengajarkan ilmu sihir. Saya tegaskan, kitab tersebut bukan tulisan ar-Razi. Tetapi, karya orang lain yang dinisbatkan kepadanya. Ia meninggal di Harrah pada hari Senin, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri Tahun 606 H.[181]<\/p>\n<p><strong>182.\u00a0\u00a0 Imam al-Ghazali<\/strong>, (450-505 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Muhamad bin Ahmad ath-Thusi, Abu Hamid. Ia adalah imam besar yang bergelar Hujjatul Isl\u00e2m, yang lahir di Thus tahun 450 H. Pada waktu kecil, ia belajar fiqih di kampung halamannya kepada Ahmad bin Muhamad ar-Radzakani. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Jurjan dan belajar kepada Abu Nashr al-Isma\u2019ili. Lalu al-Ghazali datang ke Naisabur dan menimba ilmu kepada Imam al-Haramain, hingga ia betul-betul menguasai fiqih madzhab Syafi\u2019i, perbedaan fiqih, perdebatan fiqih, Ushul Fiqih, dan manthiq.\u00a0 Kemudian ia menyelami ilmu hikmah dan filsafat, sampai benar-benar menguasai kedua ilmu tersebut. Al-Ghazali adalah ulama yang banyak menguasai berbagai disiplin ilmu dan mampu menuliskannya dalam bentuk kitab.<\/p>\n<p>Karyanya seputar madzhab Syafi\u2019i, antara lain: al-Was\u00eeth, al-Bas\u00eeth, dan al-Waj\u00eez. Karyanya tentang berbagai ilmu, antara lain: Ihy\u00e2\u2019 \u2018Ul\u00fbm ad-D\u00een, Kit\u00e2b al-Arba\u2019\u00een, dan Kit\u00e2b al-Asm\u00e2\u2019 al-Husn\u00e2\u2019; seputar Ushul Fiqih: al-Mustashf\u00e2, al-Manh\u00fbl, al-Muntahall f\u00ee al-Jadl; seputar perbedaan pendapat: Bid\u00e2yah al-Hid\u00e2yah, al-Ma\u2019khadz, Tahsh\u00een al-Ma\u2019khadz, al-Munqidz min adh-Dhal\u00e2l, al-B\u00e2b al-Muntahall f\u00ee al-Jadl, Syif\u00e2\u2019 al-Ghal\u00eel f\u00ee Bay\u00e2n Mas\u00e2\u2019il at-Ta\u2019l\u00eel, al-Iqtish\u00e2d f\u00ee al-I\u2019tiq\u00e2d, Mi\u2019y\u00e2r an-Nazhr, Muhikk an-Nazhr, Bay\u00e2n al-Qaulain li asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Misyk\u00e2t al-Anw\u00e2r, al-Mustazhhir\u00ee f\u00ee ar-Radd \u2018ala al-B\u00e2thiniyah, Tah\u00e2fut al-Fal\u00e2sifah, Maq\u00e2shid al-Fal\u00e2sifah, Ilj\u00e2m al-\u2018Aww\u00e2m f\u00ee \u2018Ilm al-Kal\u00e2m, al-Gh\u00e2yah al-Qushw\u00e2, Jaw\u00e2hir al-Qur\u2019\u00e2n, Bay\u00e2n Fadh\u00e2\u2019ih al-Im\u00e2miyah, Gh\u00e2yah an-N\u00fbr f\u00ee Ibth\u00e2l ad-D\u00fbr, Kasyf \u2018Ul\u00fbm al-\u00c2khirah, ar-Ris\u00e2lah al-Qudsiyyah, al-Fat\u00e2w\u00e2, M\u00eez\u00e2n al-\u2018Amal, Madz\u00e2hib al-B\u00e2hiniyyah, Haq\u00eeqah ar-R\u00fbh, Kit\u00e2b Asr\u00e2r Mu\u2019\u00e2mal\u00e2t ad-D\u00een, \u2018Aq\u00eedah al-Mishb\u00e2h, Akhl\u00e2q al-Anw\u00e2r wa al-Mi\u2019r\u00e2j, Hujjah al-Haqq, Tanb\u00eeh al-Gh\u00e2fil\u00een, al-Makn\u00fbn f\u00ee al-Ush\u00fbl, Ris\u00e2lah al-Aqth\u00e2b, Muslim as-Sal\u00e2th\u00een, al-Q\u00e2n\u00fbn al-Kull\u00ee, al-Qurbah ila Allah, Mu\u2019t\u00e2d al-\u2018Ilm, Mufashshal al-Khil\u00e2f f\u00ee Ush\u00fbl al-Qiy\u00e2s, Asr\u00e2r Ittib\u00e2\u2019 as-Sunnah, Talb\u00ees Ibl\u00ees, ash-Sh\u00e2m\u00e2t al-Ajwibah, Kit\u00e2b \u2018Aj\u00e2\u2019ib Shun\u2019illah, dan Ris\u00e2lah ar-Radd \u2018ala Man Thagh\u00e2. Ia meninggal di Thus pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 505 H.[182]<\/p>\n<p><strong>183.\u00a0\u00a0 Abu al-Hasan as-Sulami<\/strong>, (W. 533 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin al-Muslim bin Muhamad bin \u2018Ali as-Sulami. Nama julukannya adalah Jamalul Islam. Mula-mula ia belajar fiqih kepada al-Qadhi Abu al-Muzhaffar Abdul Jalil bin Abdul Jabbar al-Marwazi. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya kepada pakar fiqih kondang, Nashr al-Maqdisi, dan terakhir ia belajar kepada al-Ghazali. Sementara ulama yang pernah menjadi muridnya adalah Abu Qasim bin \u2018Asakir. [183]<\/p>\n<p><strong>184.\u00a0\u00a0 Abu Thahir al-Jurjani<\/strong>, (W. 513 H.), nama lengkap: Ibrahim bin al-Muthahhir al-Jurjani. Ia sering menghadiri majelisnya Imam al-Haramain. Lalu ia berteman dengan al-Ghazali.[184]<\/p>\n<p><strong>185.\u00a0\u00a0 Abu Manshur ar-Radzaz<\/strong>, (462-539 H.), nama lengkap: Sa\u2019id bin Muhamad bin \u2018Umar. Ia termasuk imam besar kota Baghdad. Gurunya di bidang fiqih: al-Ghazali, al-Mutawalli, al-Haya al-Kurasi, dan Abu Bakar asy-Syasyi. Adapun yang pernah menjadi muridnya adalah ayahnya Imam ar-Rafi\u2019i.[185]<\/p>\n<p><strong>186.\u00a0\u00a0 Ibnu Khamis<\/strong>, (W. 552 H.), nama lengkap: al-Husain bin Nashr bin Muhamad bin al-Husain, Abu Abdullah. Sang reformis agama ini, nama julukannya adalah Tajul Islam. Ia belajar fiqih kepada al-Ghazali. Karya-karyanya: Man\u00e2qib al-Abr\u00e2r, Akhb\u00e2r al-Man\u00e2m\u00e2t, Man\u00e2sik al-Hajj, Manhaj at-Tauh\u00eed, Manhaj al-Mur\u00eed, dan Tahr\u00eem al-Gh\u00eebah.[186]<\/p>\n<p><strong>187.\u00a0\u00a0 Ibnu Miqlash<\/strong>, (W. 533 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, \u2018Ali bin al-Muthahhir bin Makki bin Miqlash ad-Dainawuri. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Ghazali.[187]<\/p>\n<p><strong>188.\u00a0\u00a0 Abu Thalib ar-Razi<\/strong>, (W. 522 H.), nama lengkap: Abdul Karim bin \u2018Ali bin Abi Thalib. Gurunya: al-Ghazali, al-Kiya al-Harasi, dan Muhamad bin Tsabit al-Khajnadi. Ia meninggal pada tahun 522 H. di Persia.[188]<\/p>\n<p><strong>189.\u00a0\u00a0 Abdul Wahid al-Baqiraji<\/strong>, (W. 553 H.), nama lengkap: Abdul Wahid bin al-Hasan bin Muhamad. Gurunya: al-Kiya al-Harasi di Baghdad, Ibnu Hamid al-Ghazali, dan Ibnu Nashr al-Qusyairi di Naisabur. Gurunya di bidang hadis adalah Abu Abdullah bin Thalhah dan lainnya. Ibnu al-Baqiraji bercerita, \u201cPada suatu malam, saya merenungkan nasibku yang tidak memiliki harta banyak. Tiba-tiba, saya melihat orang kaya. Orang itu menatapku dan berkata, \u2018Dengarkanlah bait-bait syair ini, wahai syeikh!\u2019:<\/p>\n<p>\u2018Saya bersumpah di Baitullah dan Rukun Yamani # saat orang-orang sedang thawaf<\/p>\n<p>Kebahagian itu tidak terletak pada banyaknya harta # tetapi, rasa cukup dan raga sehat.\u2019\u201d[189]<\/p>\n<p><strong>190.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Bazzar<\/strong>, (W. 560 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, \u2018Umar bin Muhamad. Ia pertama kali belajar fiqih kepada Abu al-Ghana\u2019im Muhamad bin al-Faraj as-Sulami. Kemudian dilanjutkan kepada al-Kiya al-Harasi, al-Ghazali, dan Abu Bakar asy-Syasyi. Karyanya yang cukup spektakuler adalah kitabnya yang berjudul al-As\u00e2ma wa al-\u2018Ilal min Kit\u00e2b al-Muhadzdzab. Ia disebut-sebut sebagai hafizh terakhir dalam madzhab Syafi\u2019i.[190]<\/p>\n<p><strong>191.\u00a0\u00a0 Ibnu Burhan<\/strong>, (W. 518 H.), nama lengkap: Abu al-Fatah, Ahmad bin \u2018Ali bin Muhamad. Ia termasuk ulama ahli fiqih dan ahli ushul, yang ilmunya mendalam. Dulunya ia mengikuti madzhab Hanbali, lalu pindah ke madzhab Syafi\u2019i. Ia belajar fiqih kepada Abu Bakar asy-Syasyi dan al-Kiya al-Harasi. Salah satu karyanya yang terkenal adalah al-Waj\u00eez dan al-Awsath.[191]<\/p>\n<p><strong>192.\u00a0\u00a0 Abu Abdullah al-Jazari<\/strong>, (W. 540 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Ali bin Mahran al-Khauli al-Jazari. Ia belajar fiqih kepada al-Harasi.[192]<\/p>\n<p><strong>193.\u00a0\u00a0 Abu al-Barakat al-Mushili<\/strong>, (W. 529 H.), nama lengkap: al-Hasan bin \u2018Ali bin al-Hasan bin \u2018Ali bin al-Hasan bin \u2018Ammar. Ia adalah gurunya Ibnu ash-Shalah. Di Baghdad, ia belajar fiqih kepada al-Kiya al-Harasi, Fakhrul Islam asy-Syasi, dan lainnya.[193]<\/p>\n<p><strong>194.\u00a0\u00a0 Abu al-\u2018Abbas al-Arbali<\/strong>, (W. 567 H.), nama lengkap: al-Khidhir bin Nashr bin \u2018Aqil. Ia termasuk ahli fiqih yang sangat menguasai madzhab Syafi\u2019i, ilmu waris, dan perdebatan-perdebatan agama. Ia belajar fiqih kepada al-Kiya al-Harasi dan Abu Bakar asy-Syasyi \u2013ulama pertama yang mengajar di Arbal-. Ia mempunyai banyak kitab di bidang tafsir, fiqih, dan sebagainya.[194]<\/p>\n<p><strong>195.\u00a0\u00a0 Abu Bakar asy-Syasyi al-Mustazhhiri<\/strong>, (429-507 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin al-Husan bin \u2018Umar. Imam besar kebanggaan Islam yang menguasai simpul-simpul madzhab Syafi\u2019i dan penghafal hadis ini, lahir di Mayafariqin pada bulan Muharram 429 H. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Bayan al-Kazaruni dan al-Qadhi Abu Manshur ath-Thusi. Kemudian ia datang ke Baghdad dan menemani Abu Ishaq asy-Syairazi. Akhirnya, ia pun menjadi asistennya yang sering disuruh untuk mengajar. Ia juga belajar fiqih kepada Abu Nashr bin ash-Shabbagh, hingga menjadi imam besar yang sering dirujuk orang. Karya-karyanya yang terkenal: al-Mustazhhar\u00ee (kitab ini ditulis untuk dipersembahkan kepada al-Mustazhhari Billah), atau nama lainnya Hilyah al-\u2018Ulam\u00e2\u2019, al-Mu\u2019tamad (syarah kitab al-Mustazhhar\u00ee), at-Targh\u00eeb (kitab tentang madzhab Syafi\u2019i), asy-Sy\u00e2f\u00ee (syarah kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani), al-\u2018Umdah al-Mukhtashar, dan asy-Sy\u00e2f\u00ee f\u00ee Syarh asy-Sy\u00e2mil. Kitab-kitab tersebut ditulis pada tahun 494 H. Ia meninggal pada hari Sabtu, 15 Syawwal 507 H. dan dikebumikan di Pemakaman Bab Barz bersama gurunya, Abu Ishaq. Ia meninggalkan dua putra yang juga menjadi imam dalam madzhab Syafi\u2019i, yaitu: Ahmad dan Abdullah.[195]<\/p>\n<p><strong>196.\u00a0\u00a0 Abu al-Hasan al-\u2018Abdari<\/strong>, (W. 493 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin Sa\u2019id bin Abdurrahman. Ia mempunyai kitab yang berjudul Mukhtashar al-Kif\u00e2yah f\u00ee Khil\u00e2fiyy\u00e2t al-\u2018Ulam\u00e2\u2019. Ia adalah mufti yang alim dan menguasai perbedaan pendapat para ulama. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq asy-Syairazi, lalu kepada Abu Bakar asy-Syasyi. Gurunya di bidang hadis: al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari dan al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mawardi. Muridnya di bidang hadis: Abu al-Qasim as-Samarqand, Abu al-Fadhl Muhamad bin Muhamad \u2018Aththaf, dan lainnya. Ia meninggal di Baghdad pada hari Sabut, 16 Jumadil Akhir 493 H.[196]<\/p>\n<p><strong>197.\u00a0\u00a0 Abu al-Muzhaffir asy-Syasyi<\/strong>, (W. 529 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ahmad bin al-Husain bin Fakhrul Islam Abu Bakar asy-Syasyi. Ia belajar fiqih kepada ayahnya sendiri.[197]<\/p>\n<p><strong>198.\u00a0\u00a0 Abu Muhamad asy-Syasyi<\/strong>, (W. 528 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad bin Ahmad bin al-Husainbin Fakhrul Islam Abu Bakar asy-Syasyi. Ia belajar fiqih kepada ayah kandungnya.[198]<\/p>\n<p><strong>199.\u00a0\u00a0 Abu Nashr asy-Syasyi<\/strong>, (W. 576 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abdullah bin Muhamad bin Ahmad asy-Syasyi. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Hasan bin al-Khall.[199]<\/p>\n<p><strong>200.\u00a0\u00a0 Abu al-Qasim al-Furati<\/strong>, (W. 573 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, Ya\u2019isy bin Shadaqah al-Furati adh-Dharir. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Hasan bin al-Khall.[200]<\/p>\n<p><strong>201.\u00a0\u00a0 Abu Ishaq al-\u2018Iraqi<\/strong>, (W. 596 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Manshur al-Mishri. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Hasan bin al-Khall.[201]<\/p>\n<p><strong>202.\u00a0\u00a0 Abu Thalib al-Karkhi<\/strong>, (W. 505 H.), nama lengkap: al-Mubarak bin al-Mubarak al-Karkhi. Ia adalah temannya Abu al-Hasan bin al-Khall, sekaligus menjadi muridnya.[202]<\/p>\n<p><strong>203.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Khall<\/strong>, (475-552 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Mubarak bin Muhamad al-Baghdadi. Ia termasuk salah satu imam madzhab Syafi\u2019i. Ia belajar fiqih kepada Abu Bakar asy-Syasyi. Salah satu karyanya yang terkenal adalah at-Tauj\u00eeh f\u00ee Syarh at-Tanb\u00eeh.[203]<\/p>\n<p><strong>204.\u00a0\u00a0 Ibnu Abi \u2018Ashrun<\/strong>, (400-585 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad, Abu Sa\u2019d at-Tamimi al-Mushili. Ia adalah hakim agung di Damaskus, yang terkenal sebagai orang alim dan pimpinannya para imam. Ia lahir bulan Rabi\u2019ul Awwal 400 H. Gurunya di bidang hadis: al-Qadhi al-Murtadha bin asy-Syahrazuri, Abu Abdullah bin al-Husain bin Khamis al-Mushili, dan al-Qadhi Abu \u2018Ali al-Faruqi. Gurunya di bidang ushuluddin adalah Abu al-Fatah Burhan, dan gurunya di bidang hadis adalah Abu al-Qasim bin al-Hashin. Sedangkan muridnya di bidang fiqih yang menjadi ulama besar adalah Syeikhul Islam Fakhruddin bin \u2018Asakir. Karya-karyanya: Shafwah al-Madzhab \u2018ala Nih\u00e2yah al-Mathlab (7 jilid), Kit\u00e2b al-Intish\u00e2r (4 jilid), Kit\u00e2b al-Mursyid (2 jilid), adz-Dzar\u00ee\u2019ah f\u00ee Ma\u2019rifah asy-Syar\u00ee\u2019ah, Kit\u00e2b at-Tasys\u00eer, Kit\u00e2b Ma\u2019khadz an-Nazhr, Mukhtashar (tentang ilmu waris), Kit\u00e2b al-Irsy\u00e2d (kitab tentang pembelaan terhadap madzhab Syafi\u2019i dan belum selesai ditulis), Faw\u00e2\u2019id al-Muhadzdzab wa at-Tanb\u00eeh (membahas masalah hukum), dan Kit\u00e2b al-Muw\u00e2fiq wa al-Mukh\u00e2lif. As-Subki mengutip perkataan adz-Dzahabi tentang Ibnu Abi \u2018Ashrun, bahwasanya menurut syeikh al-Muwaffiq, ia adalah imam di kalangan madzhab Syafi\u2019i di zamannya.[204]<\/p>\n<p><strong>205.\u00a0\u00a0 Abu al-Qasim ash-Shalah<\/strong>, (W. 618 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin \u2018Utsman, ayahnya Ibn ash-Shalah. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Abu \u2018Ashrun. Ia meninggal di Halb pada tahun 618 H.[205]<\/p>\n<p><strong>206.\u00a0\u00a0 Abu al-Jumaizi<\/strong>, (559-649 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin Hibbatullah Balsalamah. Ia lahir pada hari raya Idul Adha tahun 559 H. di Mesir. Ia telah hafal al-Qur\u2019an di usia 10 tahun. Banyak sekali penduduk Damaskus, Mekah, dan Mesir yang menimba ilmu darinya, di antaranya: az-Zakiyan, al-Mundziri, al-Barzali, Ibnu an-Najjar, ad-Dimyathi, Ibnu Daqiq al-\u2018Aid, dan al-Qadhi Taqiyuddin Sulaiman. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Abu \u2018Ashrun di Syam, Abu Ishaq al-\u2018Iraqi, dan Syihabuddin ath-Thusi di Mesir. Menurut adz-Dzahabi, ia adalah murid terakhirnya Abu Sa\u2019d. Ia meninggal pada hari Kamis, 24 Dzul Hijjah 649 H.[206]<\/p>\n<p><strong>207.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Muwaffiq<\/strong>, (W. 587 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Muwaffiq al-Khabusyani. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya. Karyanya yang paling spektakuler adalah Tahq\u00eeq al-Muh\u00eeth (16 jilid). Nama kunyahnya adalah Abu al-Barakat dan julukannya Najmuddin.[207]<\/p>\n<p><strong>208.\u00a0\u00a0 Syihabuddin ath-Thusi<\/strong>, (W. 596 H.), nama lengkap: Muhamad bin Mahmud bin Muhamad ath-Thusi. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya dan menjadi syeikh yang sangat alim.[208]<\/p>\n<p><strong>209.\u00a0\u00a0 Fakhruddin an-Nauqani<\/strong>, (W. 516 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abu \u2018Ali bin Abu Nashr bin Abu Sa\u2019d. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Abu Yahya.[209]<\/p>\n<p><strong>210.\u00a0\u00a0 Abu Manshur al-Barawi<\/strong>, (W. 567 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Ahmad bin Isma\u2019il. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya. Karyanya yang paling terkenal adalah al-Muqtarah f\u00ce al-Musthalah.[210]<\/p>\n<p><strong>211.\u00a0\u00a0 Abu Hamid al-Qazwini<\/strong>, (W. 585 H.), nama lengkap: Abdullah bin Abu al-Futuh bin \u2018Imran. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya dan Abu al-Mahasin.[211]<\/p>\n<p><strong>212.\u00a0\u00a0 Abu al-Hasan al-Muradi<\/strong>, (W. 544 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin Sulaiman al-Muradi al-Qurthubi. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya.[212]<\/p>\n<p><strong>213.\u00a0\u00a0 Abu ar-Ridha asy-Syahrazuri<\/strong>, (W. 596 H.), nama lengkap: Sa\u2019id bin Abdullah bin al-Qasim bin al-Muzhaffar. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya.[213]<\/p>\n<p><strong>214.\u00a0\u00a0 Muhamad bin Yahya bin Manshur, Abu Sa\u2019id an-Naisaburi<\/strong>. Imam besar ini sering dipanggil dengan julukan Muhyiddin dan merupakan ustadznya para ulama generasi belakangan di Naisabur. Ia belajar fiqih kepada al-Ghazali dan Abu al-Muzhaffar al-Khawafi. Karyanya yang terkenal adalah al-Muh\u00eeth (syarah kitab al-Was\u00eeth) dan al-Intish\u00e2f f\u00ee Mas\u00e2\u2019il al-Khil\u00e2f. Ia juga mempunyai catatan mengenai perbedaan pandangan antara madzhab Syafi\u2019i dan madzhab Hanafi. Banyak ulama besar yang namanya mencuat berkat bimbingannya. Ia wafat dibunuh pada tahun 548 H.[214]<\/p>\n<p><strong>215.\u00a0\u00a0 Abu Nashr al-Fath bin Ahmad bin Abdul Baqi<\/strong> (W. 545 H.). Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya.[215]<\/p>\n<p><strong>216.\u00a0\u00a0 Ayah Imam ar-Rafi\u2019i<\/strong>, (W. Ramadhan 580 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdul Karim bin al-Fadhl bin al-Hasan bin al-Husain al-Qazwini. Ia adalah imam besar yang sangat terpandang. Ia meriwayatkan hadis dari Abu al-Barakat al-Farawi, Abdul Khaliq asy-Syahami, dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Malkadad di Qazwin dan Abu Manshur ar-Razi di Baghdad. Kemudian ia pindah ke Naisabur dan belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya. Biografinya disebutkan oleh anaknya \u2013Imam ar-Rafi\u2019i- dalam kitab al-Am\u00e2l\u00ee dan ia termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadis darinya.[216]<\/p>\n<p><strong>217.\u00a0\u00a0 Abu al-Qasim bin \u2018Asakir<\/strong>, (Rajab 499 H. \u2013 11 Rajab 571 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin al-Hasan bin Hibbatullah. Ia adalah penghafal hadis yang mendapat julukan Syeikhul Imam, Nashir as-Sunnah, dan orang yang paling terpercaya dalam agama. Ia juga disebut-sebut sebagai ahli hadis di Syam dan pemuka para ahli fiqih madzhab Syafi\u2019i. Karyanya yang paling terkenal adalah T\u00e2r\u00eekh asy-Sy\u00e2m (8 jilid). Gurunya di bidang hadis sangat banyak, 1.300 ustadz dan 89 ustadzah. Ia merantau ke Irak, Mekah, Madinah, dan negara-negara non-Arab. Ia belajar fiqih di usianya yang masih belia kepada Abu al-Hasan as-Sulami di Damaskus dan melanjutkan pendidikannya di Madrasah Nizhamiyah di Baghdad. Ia wafat pada tanggal 11 Rajab 571 di Damaskus dan dikebumikan di Pemakaman Bab ash-Shaghir.[217]<\/p>\n<p><strong>218.\u00a0\u00a0 Ar-Rafi\u2019i<\/strong>, (W. Dzul Qa\u2019dah 623 H.), nama lengkap: Abdul Karim bin Muhamad bin Abdul Karim al-Qazwini. Ia adalah imam besar, penulis kitab asy-Syarh al-Kab\u00eer. Ia terkenal sebagai ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu syari\u2019at, seperti tafsir dan hadis. Kemampuannya di bidang fiqih sudah tidak diragukan lagi. Dikatakan bahwa fiqih sempat mengalami mati suri, lalu dihidupkan kembali oleh Imam ar-Rafi\u2019i. Ia juga merupakan ulama yang bersikap zuhud, wara\u2019, dan takwa. Guru-gurunya di bidang hadis cukup banyak, di antaranya: ayahnya sendiri, Abu Hamid Abdullah bin Abu al-Futuh bin \u2018Umar al-\u2018Imrani, dan lainnya. Sedangkan murid hadisnya yang menjadi ulama terkenal adalah al-Hafizh Abdul \u2018Azhim al-Mundziri.<\/p>\n<p>Ibnu ash-Shalah berkomentar, \u201cSaya yakin, saya belum pernah melihat orang non-Arab yang sepandai ar-Rafi\u2019i.\u201d Komentar ini dibenarkan oleh as-Subki.\u00a0 An-Nawawi berkata, \u201cAr-Rafi\u2019i adalah orang salih yang ilmunya sangat luas dan mempunyai banyak karomah.\u201d[218]<\/p>\n<p><strong>219.\u00a0\u00a0 Abu al-Ma\u2019ali Mas\u2019ud ath-Tharitsiri bin Muhamad bin Mas\u2019ud an-Naisabur<\/strong> (505-570\/578 H.). Ia adalah imam madzhab Syafi\u2019i yang menguasai fiqih, ushuluddin, tafsir, dan pandai memberikan wejangan. Ia lahir pada bulan Rajab 505 H. Ia belajar fiqih kepada ayahnya dan Muhamad bin Yahya. Karyanya yang terkenal adalah kitab al-H\u00e2d\u00ee. Ia meninggal di Damaskus pada bulan Ramadhan 570 H. Menurut Ibnu Khilikkan, ia wafat pada tahun 570 H.[219]<\/p>\n<p><strong>220.\u00a0\u00a0 Yunus al-Arbali<\/strong>, (W. 576 H.), nama lengkap: Yunus bin Muhamad al-Arbali. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Khamis dan Ibnu ar-Razaz.[220]<\/p>\n<p><strong>221.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Waraq<\/strong>, (W. 616 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, Abdurrahman bin Muhamad, yang dijuluki Dhiyauddin. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Syihabuddin ath-Thusi. Al-Mundziri berkomentar, \u201cSaya mendengar hadis darinya dan belajar fiqih kepadanya.\u201d[221]<\/p>\n<p><strong>222.\u00a0\u00a0 Abu al-\u2018Abbas al-Qalyubi<\/strong>, (W. 689\/691 H.), nama lengkap: Ahmad bin \u2018Isa bin Ridhwan al-Qalyubi. Nama julukannya adalah Kamaluddin dan nama kunyahnya adalah Abu al-\u2018Abbas. Ia adalah putra Syeikh Dhiyauddin. Ia termasuk ahli fiqih yang sangat saleh dan meninggalkan banyak karya ilmiah. Ia mendalami ilmu agama kepada ayahnya dan gurunya yang lain. Ia meriwayatkan hadis dari Ibnu al-Jumaizi. Karya-karyanya, antara lain: Nahj al-Wush\u00fbl (membahas masalah ushuluddin), Mukhtashar (membahas masalah Ushul Fiqih), al-Muqaddimah al-Ahmadiyyah (membahas bahasa Arab), dan lainnya. Menurut adz-Dzahabi, ia meninggal pada tahun 689 H. Pendapat ini ditentang oleh as-Subki. Ia menegaskan, para pakar sejarah menyatakan bahwa al-Qalyubi meninggal pada tahun 691 H. Namun masih diperdebatkan mengenai bulannya; Jumadil Awwal atau Rajab.[222]<\/p>\n<p><strong>223.\u00a0\u00a0 Azh-Zhahir at-Tazmanati<\/strong>, (W. 682 H.), nama lengkap: Zhahiruddin Ja\u2019far bin Yahya bin Ja\u2019far al-Makhzuni at-Tazmanati \u2013nisbat kepada Tazmat, yaitu kota di Sha\u2019id-. Ia adalah syeikh madzhab Syafi\u2019i di Mesir pada zamannya. Ia mendalami ilmu agama kepada Ibnu al-Jumaizi dan salah satu ulama yang menjadi muridnya adalah Ibnu ar-Rif\u2019ah. Ia mempunyai kitab yang berjudul Syarh Musykil al-Was\u00eeth.[223]<\/p>\n<p><strong>224.\u00a0\u00a0 Abu \u2018Amr bin ash-Shalah<\/strong>, (W. 643 H.), nama lengkap: Taqiyuddin \u2018Utsman bin Abdurrahman al-Kurdi. Ia adalah pakar di bidang fiqih dan hadis. Ayahnya adalah Syeikh di Damaskus. Ia belajar fiqih kepada ayahnya. Kemudian ia pindah ke Mushil dan mendalami agama kepada \u2018Imaduddin Yunus selama beberapa saat. Kemudian ia merantau ke Baghdad dan mengelilingi kota ini. Kemudian ia belajar kepada ar-Rafi\u2019i, sampai menjadi ulama besar. Ia wafat di waktu pagi, hari Rabu, 25 Rabi\u2019ul Akhir 643 H.[224]<\/p>\n<p><strong>225.\u00a0\u00a0 Al-Kamal al-Arbali,<\/strong> (W. 665 H.), nama lengkap: Abu Abdullah, Ahmad bin Yahya. Ia adalah ahli fiqih di zamannya dan zahid di masanya. Kapasitas intelektualnya tidak diragukan lagi. Buktinya, Imam an-Nawawi saja menjadi muridnya.[225]<\/p>\n<p><strong>226.\u00a0\u00a0 Abu al-Ma\u2019ali al-Maghribi<\/strong>, (W. 668 H.), nama lengkap: Ishaq bin Abdullah. Ia termasuk ahli fiqih dan ahli sastera Syam. Ilmu apa pun tampak mudah di hadapannya dan mudah menyampaikannya, seperti ia menyampaikan ilmu yang pernah ditulisnya. Ia termasuk salah satu guru an-Nawawi.[226]<\/p>\n<p><strong>227.\u00a0\u00a0 Ibrahim al-Muradi<\/strong>. Nama lengkap: Ibrahim bin \u2018Isa al-Muradi al-Andalusi. Kemudian nisbatnya ganti menjadi ad-Dimasyqi. Ia juga termasuk salah satu gurunya Imam an-Nawawi.<\/p>\n<p>An-Nawawi berkomentar, \u201cIa adalah Imam ahli fiqih, penghafal hadis, orang yang terpercaya, zahid, dan bersikap wara\u2019. Saya belum pernah melihat orang sehebat dia. Ia adalah orang yang sangat memahami hadis dan ilmu-ilmu hadis, mampu meneliti lafazh-lafazh hadis, serta mempunyai perhatian yang serius di bidang bahasa, nahwu, fiqih, dan tasawuf. Ia juga termasuk ulama yang kuat hafalannya dan pandai mengajar. Bagiku, ia adalah tokoh panutan yang suka mencari kebenaran. Saya berteman dengannya kurang lebih 10 tahun dan ia belum pernah membuatku kesal. Karena sikapnya sangat toleran dan bersahaja. Rasa sayangnya kepada kaum muslim dan nasihat-nasihatnya kepada mereka, rasanya tidak ada bandingannya. Ia meninggal di Mesir pada awal tahun 668 H.\u201d[227]<\/p>\n<p><strong>228.\u00a0\u00a0 Kamaluddin al-Arbali<\/strong>, (W. 670 H.), nama lengkap: Abu al-Fadhl, Salar bin al-Hasan bin \u2018Umar al-Arbali. An-Nawawi berkata, \u201cIa adalah guru kami yang kepemimpinan dan kemuliaannya tidak dipertentangkan lagi. Ia benar-benar menguasai ilmu madzhab Syafi\u2019i dari berbagai aspeknya.\u201d \u2018Izzuddin berkata, \u201cPada masa hidupnya, ia menjadi tumpuan fatwa bagi penduduk Syam.\u201d[228]<\/p>\n<p><strong>229.\u00a0\u00a0 Zainuddin as-Subki<\/strong>, (W. 725 H.), nama lengkap: Zainuddin Abu Muhamad Abdul Kafi bin \u2018Ali as-Subki. Ia adalah kakeknya Imam Tajuddin as-Subki. Ia belajar fiqih kepada azh-Zhahir at-Tazmanati.[229]<\/p>\n<p><strong>230.\u00a0\u00a0 Ibnu ar-Rif\u2019ah<\/strong>, (W. 710 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin \u2018Ali. Ia diberi gelar Syeikhul Imam, Syeikhul Islam, Najmuddin, dan Titisan Syafi\u2019i di zamannya. Nama kunyahnya adalah Abu al-\u2018Abbas. Ia mendengar hadis dari Muhyiddin ad-Damiri. Gurunya di bidang fiqih adalah as-Sadid, azh-Zhahir at-Tazamnati, dan asy-Syarif al-\u2018Abbasi. As-Subki berkata, \u201cIa adalah orang nomor dua di Mesir, setelah Ibnu al-Haddad. Ia dijuluki ahli fiqih, karena kehebatannya di bidang fiqih. Bahkan, ia dianggap lebih alim ketimbang ar-Ruyani \u2013penulis kitab al-Bahr-. Karya-karyanya yang terkenal adalah al-Mathlabb f\u00ee Syarh al-Was\u00eeth, al-Kif\u00e2yah f\u00ee Syarh at-Tanb\u00eeh, dan Kit\u00e2b Mukhtashar f\u00ee Hadm al-Kan\u00e2\u2019is. Ia meninggal di Mesir tahun 710 H.[230]<\/p>\n<p><strong>231.\u00a0\u00a0 Al-Mundziri<\/strong>, (581 H. \u2013 656 H.), nama lengkap: Abdul \u2018Azhim bin Abdul Quwa bin Abdullah al-Mishri, Abu Muhamad. Ia disebut-sebut sebagai waliullah, ahli hadis, dan ahli fiqih. Ia lahir di Ghurrah pada bulan Sya\u2019ban 581 H. Ia belajar fiqih kepada Imam Abu al-Qasim Abdurrahman Muhamad al-Qursyi bin al-Wariq. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: Syarh at-Tanb\u00eeh, Mukhtashar Sunan Ab\u00ee D\u00e2wud, Mukhtashar Shah\u00eeh Muslim, dan al-Mu\u2019jam al-Kab\u00eer. Ia meninggal pada tanggal 04 Dzul Qa\u2019dah 656 H. Pada tahun ini terjadi musibah besar, yaitu Perang Tartar.[231]<\/p>\n<p><strong>232.\u00a0\u00a0 Kamaluddin Abu al-Fatah<\/strong>, (W. 639 H.), nama lengkap: Musa bin Yunus al-Arbali. Ia belajar kepada ayahnya dan ia adalah gurunya Ibnu Khilikkan.[232]<\/p>\n<p><strong>233.\u00a0\u00a0 Ibnu \u2018Asakir<\/strong>, (555- 620 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Muhamad bin al-Hasan ad-Dimasyqi. Ia adalah syeikh madzhab Syafi\u2019i di Syam dan ulama terakhir yang mampu memadukan ilmu dan amal. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Qathb ad-Din an-Naisaburi di Damaskus; belajar hadis kepada pamannya, Abu al-Qasim, ash-Sha\u2019in Hibbatullah, dan lainnya. Ia juga mendalami fiqih kepada Syeikh Mas\u2019ud ath-Tharitsisti. Murid-muridnya di bidang hadis, antara lain: al-Hafizh Zakiuddin al-Barzali, Zainuddin Khalid, Dhiyauddin al-Maqdisi, dan \u2018Izzuddin bin Abdus Salam. Ia adalah imam yang saleh, qana\u2019ah, suka ibadah, wara\u2019, dan rajin dzikir. Ia ditugaskan sebagai pengajar di Madrasah \u2018Adzrawiyah, Jarujiyah, dan Nuriyah. Ketiga madrasah ini berada di Damaskus. Ia juga mengajar di Madrasah Shalahiyyah di Quds. Karena itu, ia tinggal di Quds selama beberapa bulan dan di Damaskus beberapa bulan lamanya. Ia meninggal pada tanggal 01 Rajab 620 H.[233]<\/p>\n<p><strong>234.\u00a0\u00a0 Al-Qasim bin \u2018Asakir Bahauddin<\/strong>, (W. 600 H.), nama lengkap: Abu Muhamad al-Qasim bin Abu al-Qasim bin \u2018Asakir. Ia lahir 14 tahun setelah wafatnya Abu al-Qasim. Sedangkan ia sendiri \u2013al-Qasim bin Abu al-Qasim- wafat pada tahun 600 H.[234]<\/p>\n<p><strong>235.\u00a0\u00a0 Abu al-\u2018Abbas al-Barmaki<\/strong>, (Syawwal 583 \u2013 07 Sya\u2019ban 687 H.), nama lengkap: Ahmad bin al-Khalil bin Sa\u2019adah bin Ja\u2019far bin \u2018Isa. Ia merantau ke Khurasan untuk belajar ushuluddin dan ilmu kalam kepada Imam Fakhruddin ar-Razi. Sedangkan ilmu fiqih dipelajarinya dari ar-Rafi\u2019i.[235]<\/p>\n<p><strong>236.\u00a0\u00a0 Zainuddin an-Nabalasi<\/strong>, (W. 663 H.), nama lengkap: Khalid bin Yunus an-Nabalasi, Abu al-Baqa\u2019. Ia belajar hadis kepada al-Qasim bin \u2018Asakir. Murid-muridnya yang terkenal, antara lain: Muhyiddin an-Nawawi, Tajuddin al-Fazari, al-Khathib Syarafuddin, dan Taqiyuddin bin Daqiq al-\u2018Aid.[236]<\/p>\n<p><strong>237.\u00a0\u00a0 \u2018Izzuddin bin Abdus Salam as-Sulami<\/strong>, (577\/578 &#8211; 660 H.). Ia belajar fiqih kepada Ibnu \u2018Asakir; ushuluddin kepada al-Amadi, dan hadis kepada Abu Muhamad al-Qasim. Murid-muridnya: Syeikhul Islam Ibnu Daqiq al-\u2018Aid \u2013dialah yang menjuluki gurunya sebagai \u201cRaja para Ulama\u201d-, \u2018Alauddin Abu al-Hasan al-Baji, Syeikh Tajuddin bin al-Farkaj, al-Hafizh Abu Muhamad ad-Dimyathi, al-Hafizh Abu Bakar Muhamad bin Yusuf bin Masarri, al-\u2018Allamah Ahmad Abu al-\u2018Abbas ad-Dasynawi, al-\u2018Allamah Abu Muhamad Hibbatullah al-Qafathi, dan lainnya.<\/p>\n<p>Syeikh Syihabuddin Abu Syamah mengomentari gurunya, \u201cAs-Sulami adalah orang yang sangat berani menyuarakan kebenaran dan sering mengkritik bid\u2019ah-bid\u2019ah yang disampaikan oleh para khathib, seperti salat ragh\u00e2\u2019ib (salat untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkan, bukan salat hajat, penerj.) dan salat nishf Sya\u2019ban (salat pada tanggal 15 Sya\u2019ban), dan sebagainya.\u201d<\/p>\n<p>Karya-karyanya: al-Qaw\u00e2\u2019id al-Kubr\u00e2 dan Maj\u00e2z al-Qur\u2019\u00e2n (kedua kitab ini menjadi bukti nyata keunggulannya dalam ilmu-ilmu syari\u2019at), Syajarah al-Ma\u2019\u00e2rif, ad-Dal\u00e2\u2019il al-Muta\u2019alliqah bi al-Mal\u00e2\u2019ikah wa an-Nabiyyin \u2018alaihim as-Sal\u00e2m wa al-Khalq Ajma\u2019\u00een, at-Tafs\u00eer, al-Gh\u00e2yah f\u00ce Ikhtish\u00e2r an-Nih\u00e2yah, Mukhtashar Shah\u00eeh Muslim, Mukhtashar Ri\u2019\u00e2yah al-Muh\u00e2sib\u00ee f\u00ee Adillah al-Ahk\u00e2m, Bay\u00e2n Ahw\u00e2l an-N\u00e2s Yaum al-Qiy\u00e2mah, Bid\u00e2yah as-S\u00fbl f\u00ee Tafdh\u00eel ar-Ras\u00fbl, al-Farq baina al-Im\u00e2n wa al-Isl\u00e2m, Faw\u00e2\u2019id al-Balw\u00e2 wa al-Mihan, dan al-Jam\u2019 baina al-H\u00e2w\u00ee wa an-Nih\u00e2yah. Ia juga mempunya kitab kompilasi fatwa-fatwa Mushil dan Mesir. Ia meninggal pada tanggal 10 Jumadil Awwal 660 H. di Kairo dan dikebumikan di Pemakaman Qurafah.[237]<\/p>\n<p><strong>238.\u00a0\u00a0 Syarafuddin al-Barazi<\/strong>, (05 Ramadhan 645 H. \u2013 Dzul Qa\u2019dah 738 H.), nama lengkap: Hibbatullah bin Abdurrahim al-Juhani. Ia adalah hakim agung di kota Hammah. Gurunya di bidang hadis: ayahnya, kakeknya, syeikh \u2018Izzuddin al-Qarusyi, syeikh Jamaluddin bin Malik, syeikh \u2018Izzuddin bin Abdus Salam, syeikh Najmuddin al-Badarani, dan lainnya. Ia adalah imam besar yang sangat paham terhadap seluk beluk madzhab Syafi\u2019i. Karya-karyanya: Syarh al-H\u00e2w\u00ee, at-Tamy\u00eez, Tart\u00eeb J\u00e2mi\u2019 al-Ush\u00fbl, al-Mughn\u00ee, Mukhtashar at-Tanb\u00eeh, dan al-Waf\u00e2\u2019 f\u00ee Sar\u00e2\u2019ir al-Mushthaf\u00e2\u2019.[238]<\/p>\n<p><strong>239.\u00a0\u00a0 Najmuddin bin Muli<\/strong>, (W. Jumadil Akhir 699 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhsin bin Muli. Ia belajar fiqih kepada \u2018Izzuddin bin Abdus Salam.[239]<\/p>\n<p><strong>240.\u00a0\u00a0 Syarafuddin al-Maqdisi<\/strong>, (W. Ramadhan 694 H.), nama lengkap: Ahmad bin Ahmad bin Ni\u2019mah bin Ahmad al-Khathib Abu al-\u2018Abbas al-Babali. Ia belajar fiqih kepada \u2018Izzuddin bin Abdus Salam di Kairo dan mendengar hadis dari Zainuddin an-Nabalasi. Ia pernah menulis kitab Ushul Fiqih yang menggabungkan antara metode Fakhruddin dan al-Amadi.[240]<\/p>\n<p><strong>241.\u00a0\u00a0 Ibnu Daqiq al-\u2018Aid<\/strong>, (25 Sya\u2019ban 625 H. \u2013 11 Shafar 702 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Ali bin Rajab al-Qusyairi Taqiyuddin, Abu al-Fatah. Syeikhul Islam, imam besar, dan al-Hafizh ini adalah orang yang bersikap wara\u2019 dan rajin ibadah. Ia juga mendapat gelar mujtahid muthlaq.<\/p>\n<p>Abu al-Fatah bin Sayyidun Nas al-Ya\u2019muri berkata, \u201cSaya belum pernah melihat orang yang sehebat dia. Penilaian ini bukan karena saya banyak meriwayatkan hadis darinya. Tetapi, karena ia adalah imam yang benar-benar mengusai banyak ilmu dan cabang-cabangnya. Ia sangat jeli dalam meneliti \u2018illat-\u2018illat hadis dan dianggap ahli hadis terbaik di zamannya.\u201d Ia dilahirkan di tengah laut, saat orang tuanya sedang berlayar dari Qaus ke Mekkah. Tepatnya pada hari Sabtu, 25 Sya\u2019ban 625 H. Ia belajar fiqih kepada ayahnya. Pada mulanya, ia adalah pengikut setianya madzhab Maliki. Setelah mendalami fiqih kepada Syeikh \u2018Izzuddin bin Abdus Salam dan mendengar hadis dari Zainuddin an-Nabalasi, akhirnya ia menjadi pengikut madzhab Syafi\u2019i.[241]<\/p>\n<p><strong>242.\u00a0\u00a0 Tajuddin al-Fazari<\/strong>, (W. 670 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya\u2019 bin Sabba\u2019 al-Fazari al-Mishri. Ahli fiqih Syam yang terkenal dengan panggilan al-Farkaj ini aslinya berasal dari Damaskus. Ia belajar fiqih kepada Syeikh \u2018Izzuddin, Syeikh Taqiyuddin bin ash-Shalah. Di usianya yang masih muda, ia sudah menguasai madzhab fiqih dengan baik. Ketika Imam an-Nawawi datang ke kotanya, maka ia sering menghadiri pengajiannya. Padahal umurnya lebih tua 7 tahun dari an-Nawawi. Karya-karyanya: al-Aql\u00eed li dzaw\u00ee at-Taql\u00eed, Syarh at-Tanb\u00eeh, dan Syarh al-Waraq\u00e2t.[242]<\/p>\n<p><strong>243.\u00a0\u00a0 Ibnu Khilikkan<\/strong>, (W. 681 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ibrahim, Syamsuddin bin Syihab. Ia adalah hakim agung di Damaskus. Ia belajar fiqih kepada ayahnya dan sering menghadiri pengajiannya Imam Kamaluddin bin Yunus. Kemudian ia tinggal bersama Syeikh Bahauddin bin al-Muhasibi Yusuf bin Syaddad. Ia juga sibuk belajar kepada Ibnu ash-Shalah dan al-Mundziri. Karyanya yang terkenal adalah Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n. Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama bagi orang yang ingin mengetahui biografi para ulama.[243]<\/p>\n<p><strong>244.\u00a0\u00a0 Ad-Dimyathi<\/strong>, (W. 613 H. \u2013 705 H.), nama lengkap: Abdul Mu\u2019min bin Khalaf bin al-Hasan Syarafuddin. Ia adalah pakar hadis di zamannya dan gurunya para ustadz di bidang hadis. Ia juga menguasai fiqih dengan sempurna. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Makarim Abdullah dan Abu Abdullah al-Husain bin Manshur as-Sa\u2019adi di kota Dimyath. Kemudian ia memperdalam ilmunya kepada al-Mundziri selama beberapa tahun. Ia mendengar hadis dari Syeikh \u2018Izzuddin bin Abdus Salam. Murid-muridnya yang terkenal, antara lain: al-Mizzi, adz-Dzahabi, Abu al-Fatah bin Muhamad bin Sayyidun Nas, dan Taqiyuddin as-Subki.[244]<\/p>\n<p><strong>245.\u00a0\u00a0 \u2018Imaduddin al-Balbisi<\/strong>, (W. 749 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ishaq bin Muhamad bin al-Murtadha. Ia sibuk belajar fiqih kepada Najmuddin bin ar-Rif\u2019ah, Jamaluddin al-Wajizi, Syarafuddin al-Qalqasyandi, dan azh-Zhahir at-Tazamnati. Gurunya yang paling berpengaruh adalah Najmuddin. Ia terus belajar kepadanya sampai menjadi ulama besar bidang fiqih.[245]<\/p>\n<p><strong>246.\u00a0\u00a0 An-Nawawi<\/strong>, (Muharram 631 H. &#8211; 14 Rajab 676 H.), nama lengkap: Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Ia adalah gurunya para ulama generasi belakangan yang dikenal ilmunya mendalam dan sangat menguasai fiqih Syafi\u2019i. Ia belajar fiqih kepada al-Kamal al-Arbali, Abu al-Ma\u2019ali al-Maghribi, Ibrahim al-Muradi, dan Kamaluddin al-Arbali. Ia mendalami hadis kepada Tajuddin al-Fazari. Ulama besar ini banyak meninggalkan karya-karya ilmiah yang sangat berharga, antara lain: ar-Raudhah, al-Man\u00e2sik al-Kubr\u00e2 wa ash-Shughr\u00e2, at-Tiby\u00e2n, al-Minh\u00e2j, Tashh\u00eeh at-Tanb\u00eeh, at-Tahq\u00eeq, an-Nukat \u2018ala al-Was\u00eeth, Muhimm\u00e2t al-Ahk\u00e2m, al-Ush\u00fbl adh-Dhaw\u00e2bith, al-Mas\u00e2\u2019il al-Mants\u00fbrah, Tahdz\u00eeb al-Asm\u00e2\u2019 wa al-Lugh\u00e2t, al-Adzk\u00e2r, Syarh Shah\u00eeh Muslim, dan al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab (kitab ini belum rampung sepenuhnya).<\/p>\n<p>As-Subki berkata, \u201cTidak samar lagi bagi orang yang berpandangan luas, bahwa Allah Swt. telah memberikan pertolongan-Nya melalui an-Nawawi dan karya-karyanya yang sangat bermanfaat itu.\u201d Ia lahir sekitar tanggal sepuluh bulan Muharram 631 H. di Nawa, yaitu sebuah desa di Syam. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota itu dan belajar al-Qur\u2019an. Kemudian ia pindah ke Damaskus dan mempelajari kitab at-Tanb\u00eeh selama 4 bulan. Ia menghafal seperempat kitab al-Muhadzdzab dalam waktu 6 bulan. Selama 2 tahun, ia hanya istirahat beberapa jam saja, karena ia sangat sibuk mencari ilmu. Setiap malam, ia harus mempelajari 12 mata pelajaran kepada guru yang berbeda-beda dan disiplin ilmu yang bermacam-macam. Ia meninggal pada Rabu malam, 14 Rajab 676 H.[246]<\/p>\n<p><strong>247.\u00a0\u00a0 Syihabuddin ad-Dimasyqi<\/strong>, (W. 699 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin \u2018Ayyasy bin Shafwan. Ia belajar fiqih kepada Imam an-Nawawi dan mengaji hadis kepada Ibnu \u2018Abdud Da\u2019im.[247]<\/p>\n<p><strong>248.\u00a0\u00a0 Al-Muzani<\/strong>, (W. 687 H.), nama lengkap: Abu Abdurrahman Jamaluddin. Ia adalah muridnya Imam an-Nawawi. Ia dikenal sebagai ahli fiqih yang sangat menguasai madzhab Syafi\u2019i, menguasai ushuluddin, ahli sastera, pakar hadis dan penghafal hadis beserta sanad-sanadnya. Dialah yang mengedit dan mensistematiskan dua karya terkenalnya Imam an-Nawawi, yaitu: Tahdz\u00eeb al-Asm\u00e2\u2019 wa al-Lugh\u00e2t dan Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019.[248]<\/p>\n<p><strong>249.\u00a0\u00a0 Ibnu al-\u2018Aththar<\/strong>, (W. 691 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Ishaq ad-Dimasyqi. Ia termasuk murid seniornya Imam an-Nawawi yang sering memberikan catatan terhadap karya-karyanya. Ia terkenal sebagai ulama yang pandai agama dan bersikap wara\u2019.[249]<\/p>\n<p><strong>250.\u00a0\u00a0 Ad-Darani<\/strong>, (642 H. \u2013 Dzul Qa\u2019dah 725 H.), nama lengkap: Shadruddin Sulaiman bin Hilal, Abu al-Fadhl. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Tajuddin bin al-Farkaj dan Imam an-Nawawi.[250]<\/p>\n<p><strong>251.\u00a0\u00a0 Aminuddin<\/strong>, (645 H. \u2013 Sya\u2019ban 726 H.), nama lengkap: Salim bin Abu ad-Dar, Abu al-Ghana\u2019im. Ia belajar fiqih kepada Imam an-Nawawi, dan mensistematiskan kitab Shah\u00eeh Ibn Hibb\u00e2n.[251]<\/p>\n<p><strong>252.\u00a0\u00a0 Syamsuddin<\/strong>, (W. 729 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abu Bakar an-Naqib. Ia adalah hakim agung yang berkawan baik dengan Imam an-Nawawi dan gurunya Tajuddin as-Subki.[252]<\/p>\n<p><strong>253.\u00a0\u00a0 Taqiyuddin as-Subki<\/strong>, (Shafar 683 H. \u2013 03 Jumadil Akhir 756 H.), nama lengkap: \u2018Ali bin Abdul Kafi. Hakim agung ini dijuluki sebagai Syeikhul Islam, imam besar, ahli fiqih, pakar hadis, penghafal hadis, ahli ushul, dan ahli sastera. As-Subki berkata, \u201cAyahku berangkat ke Syam untuk belajar hadis pada tahun 706 H. Ia pulang kembali ke Kairo pada tahun 707 H. Lalu berangkat haji pada tahun 710 H.\u201d Ia disebut-sebut sebagai pucuk pimpinannya madzhab Syafi\u2019i di Mesir. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: ad-Durr an-Nazh\u00eem f\u00ee Tafs\u00eer al-Qur\u2019\u00e2n al-\u2018Azh\u00eem (belum selesai ditulis), Takmilah al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab li an-Nawaw\u00ee (ia melanjutkan penulisan an-Nawawi terhadap kitab ini yang belum selesai itu, tebalnya 5 jilid), at-Tahb\u00eer al-Muhadzdzab f\u00ee Tahr\u00eer al-Madzhab, dan al-Ibtih\u00e2j f\u00ee Syarh al-Minh\u00e2j. Ia juga mempunyai kitab tentang Ushul Fiqih yang belum selesai ditulis. Ia meninggal pada malam Senin, 03 Jumadil Akhir 756 H. di Kairo dan dikebumian di Pemakaman Bab an-Nashr. Semoga Allah merahmatinya.[253]<\/p>\n<p><strong>254.\u00a0\u00a0 Adz-Dzahabi<\/strong>, (673 H. \u2013 03 Dzul Qa\u2019dah 748 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin \u2018Utsman, Abu Abdullah at-Turkmani. Ia adalah ahli hadis di zamannya. As-Subki berkata, \u201cDi zamanku ada 4 ahli hadis yang sangat populer, yaitu: al-Mizzi, al-Barzali, adz-Dzahabi, dan ayahku \u2013Taqiyuddin as-Subki-.\u201d Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: At-T\u00e2r\u00eekh al-Kab\u00eer, at-T\u00e2r\u00eekh al-Awsath, an-Nubal\u00e2\u2019, Mukhtashar Tahdz\u00eeb al-Kam\u00e2l, al-K\u00e2syif, al-M\u00eez\u00e2n (ini adalah karyanya yang paling monumental), Mukhtashar Sunan al-Baihaq\u00ee, Thabaq\u00e2t al-Huff\u00e2zh, Thabaq\u00e2t al-Qurr\u00e2\u2019, dan lainnya. Ia meninggal setelah salat \u2018isya, sebelum tengah malam. Tepatnya pada hari Senin, 03 Dzul Qa\u2019dah 748 H.[254]<\/p>\n<p><strong>255.\u00a0\u00a0 Al-Mizzi<\/strong>, (10 Rabi\u2019ul Akhir 654 H. \u2013 12 Shafar 743 H.), nama lengkap: Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman ad-Dimasyqi. Ia mendengar hadis dari Ahmad bin Abu al-Khair Salamah, al-Qasim bin Abu Bakar al-Arbali, \u2018Umar bin Muhamad bin Abu \u2018Ashrun, dan lainnya. Ia pergi ke Mesir untuk belajar hadis kepada al\u2019Izz Abdul \u2018Aziz al-Harani, Ibnu Khathib al-Mizzah, Ghazi al-Halawa, dan lainnya. Karyanya yang paling spektakuler adalah Tahdz\u00eeb al-Kam\u00e2l dan al-Athr\u00e2f, yang dianggap sebagai kitab biografi periwayat hadis yang terbaik.Ia wafat pada hari Sabtu, 12 Shafar 743 H. dan dikebumikan di Pemakaman para sufi.[255]<\/p>\n<p><strong>256.\u00a0\u00a0 Kamaluddin az-Zamlakani<\/strong>, (W. 728 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Ali bin Abdul Wahid ad-Dimasyqi. Ia adalah hakim agung dan imam besar madzhab Syafi\u2019i di masanya. Ia belajar fiqih kepada Tajuddin al-Fazari. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: Ris\u00e2lah f\u00ee ar-Radd \u2018ala Ibn Taimiyyah f\u00ee Mas\u2019alah ath-Thal\u00e2q, Ris\u00e2lah f\u00ee ar-Radd \u2018alaihi f\u00ee Mas\u2019alah az-Ziy\u00e2rah, Ris\u00e2lah R\u00e2bi\u2019 Arbi\u2019ah, dan Syarh al-Minh\u00e2j.[256]<\/p>\n<p><strong>257.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Farkah<\/strong>, (Rabi\u2019ul Awwal 660 H. \u2013 Jumadil Ula 729 H.), nama lengkap: Burhanuddin Ibrahim bin Abdurrahman al-Fazari. Ia adalah ahli fiqihnya bangsa Syam. Ia mendengar hadis dari Ibnu Abdud Da\u2019im dan lainnya, serta belajar fiqih kepada ayah kandungnya. Ia wafat pada bulan Jumadil Ula 729 H. di Damaskus.[257]<\/p>\n<p><strong>258.\u00a0\u00a0 Ibnu al-Wardi<\/strong>. Nama lengkap: Zainuddin \u2018Umar bin Muzhaffir al-Mishri. Ia adalah imam ahli fiqih, hakim, ahli sastera, penyair, dan terkenal dengan sebutan Ibnu al-Wardi. Ia belajar fiqih kepada hakim agung, Syarafuddin al-Barazi. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: al-Buhjah al-Waridiyah f\u00ee Nazhm al-H\u00e2w\u00ee, Syarh Alfiyah Ibnu M\u00e2lik, Dhau\u2019 ad-Durrah \u2018ala Alfiyah Ibnu Mu\u2019th\u00ee, al-Lub\u00e2b f\u00ee \u2018Ilm al-I\u2019r\u00e2b, Syarh al-Lub\u00e2b, Mudzakkirah al-Ghar\u00eeb, dan al-Mas\u00e2\u2019il al-Mudzahhibah f\u00ee al-Mas\u00e2\u2019il al-Mulaqqabah.[258]<\/p>\n<p><strong>259.\u00a0\u00a0 Syarafuddin al-Qayradh<\/strong>, (672 H. \u2013 739 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad. Ia mendengar hadis dari Syeikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-\u2018Aid, ad-Dimyathi, dan lainnya. Sedangkan ilmu ushuluddin, ia pelajari dari Taqiyuddin as-Subki.[259]<\/p>\n<p><strong>260.\u00a0\u00a0 Najmuddin al-Mishri<\/strong>, (W. 14 Muharram 729 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Aqil bin Abu al-Hasan. Ia termasuk salah satu imam di kalangan madzhab Syafi\u2019i. Ia mendengar hadis dari Ibnu al-Bukhari dan lainnya di Damaskus; dari Ibnu Daqiq al-\u2018Aid dan lainnya di Kairo. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: Syarh at-Tanb\u00eeh dan al-Mukhtashar. Ia juga mempunyai kitab ringkasan dari kitab Sunan at-Tirmidz\u00ee. Ia meninggal di Mesir pada tanggal 14 Muharram 729 H.[260]<\/p>\n<p><strong>261.\u00a0\u00a0 Fakhruddin al-Mishri<\/strong>, (691 H. \u2013 751 H.), nama lengkap: Muhamad bin \u2018Ali bin Abdul Karim, Abu al-Fadhail. Ia adalah hakim di Damaskus. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Kamaluddin bin az-Zamlakani dan Syeikh Burhanuddin bin al-Farkaj.[261]<\/p>\n<p><strong>262.\u00a0\u00a0 Shalahuddin al-\u2018Ala\u2019i<\/strong>, (Lahir 694 H.), nama lengkap: Khalil bin Kaikalad, Abu Sa\u2019id. Ulama yang terkenal sebagai penghafal hadis inibelajar fiqih kepada Syeikh Kamaluddin bin az-Zamlakani dan Syeikh Burhanuddin bin al-Farkaj. Ia dikenal sebagai periwayat hadis yang terpercaya dan handal. Karya-karyanya yang terkanal, antara lain: al-Asyb\u00e2h wa an-Nazh\u00e2\u2019ir, Tanq\u00eeh al-Fuh\u00fbm f\u00ee Shiyagh al-\u2018Um\u00fbm, Kit\u00e2b f\u00ee al-Mar\u00e2s\u00eel, Kit\u00e2b f\u00ee al-Mudallis\u00een, dan lainnya.<\/p>\n<p><strong>263.\u00a0\u00a0 Tajuddin as-Subki<\/strong>, (W. 769 H.), nama lengkap: Abu Nashr, Tajuddin Abdul Wahhab bin \u2018Ali. Ia adalah hakim agung, yang disebut-sebut sebagai orang yang paling alim di zamannya, serta berpikiran kritis dan sangat cermat dalam melakukan penelitian. Ia mendalami ilmu agama kepada ayah kandungnya, adz-Dzahabi, al-Mizzi, dan Syamsuddin. Karyanya yang terkenal adalah Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2 dan at-Tawsy\u00eeh. Kurang lebih satu tahun, setelah ia merampungkan kitab at-Tawsy\u00eeh, ia meninggalkan dunia ini pada tahun 769 H.[262]<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, (T.tp. : al-Husainiyah, t.th), I\/199; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, (T.tp. : as-Sa\u2019adah, 1948), I\/47.<\/li>\n<li>[2] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/263; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, (Baghdad : t.p., 1356 H.), halaman 3. Dalam kitab ini disebutkan bahwa nama lengkap al-Humaidi adalah Abdullah bin az-Zubair bin Abdullah bin az-Zubair bin \u2018Isa al-Quraisyi al-Asadi al-Makki Abu Bakar al-Humaidi.<\/li>\n<li>[3] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/274-275.<\/li>\n<li>[4] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/275; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., VI\/60; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 4; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, (Baghdad : t.p., 1356), halaman 79; an-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, (T.tp : al-\u2018Ashimah, t.th), I\/156.<\/li>\n<li>[5] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/238; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/196;\u00a0 An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019, Op. Cit., I\/115; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 5; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 79.<\/li>\n<li>[6] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/259; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/52;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 79; dan An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019, Op. Cit., I\/113.<\/li>\n<li>[7] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/223; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 80.<\/li>\n<li>[8] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/199.<\/li>\n<li>[9] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/227; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/7;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 5; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 82.<\/li>\n<li>[10] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/232.<\/li>\n<li>[11] Ibid., I\/265.<\/li>\n<li>[12] Ibid., I\/249.<\/li>\n<li>[13] Ibid., I\/270.<\/li>\n<li>[14] Ibid., I\/223.<\/li>\n<li>[15] Ibid., I\/199.<\/li>\n<li>[16] Ibid., I\/259; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/52;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 81.<\/li>\n<li>[17] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/279; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., VI\/247;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 7; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 80.<\/li>\n<li>[18] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/258; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/253; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 5; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 80.<\/li>\n<li>[19] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/225.<\/li>\n<li>[20] Ibid., I\/186.<\/li>\n<li>[21] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 4.<\/li>\n<li>[22] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/250; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 7; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 82.<\/li>\n<li>[23] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/351; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/319;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 83.<\/li>\n<li>[24] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/299. s<\/li>\n<li>[25] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/288; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 10; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 86.<\/li>\n<li>[26] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/130; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/332.<\/li>\n<li>[27] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/130; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 13; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 86.<\/li>\n<li>[28] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/20; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 9; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 87.<\/li>\n<li>[29] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/126; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/344;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 16; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 89.<\/li>\n<li>[30] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/321.<\/li>\n<li>[31] Ibid., I\/287; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 10.<\/li>\n<li>[32] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/27.<\/li>\n<li>[33] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/50.<\/li>\n<li>[34] Ibid., II\/52.<\/li>\n<li>[35] Ibid., II\/206.<\/li>\n<li>[36] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/259; Ahmad al-Bana, Bad\u00e2i\u2019 al-Manan, I\/4.<\/li>\n<li>[37] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., I\/286; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabajq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 23.<\/li>\n<li>[38] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/226; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 13; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 85.<\/li>\n<li>[39] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/78.<\/li>\n<li>[40] Ibid., II\/78.<\/li>\n<li>[41] Ibid., II\/174.<\/li>\n<li>[42] Ibid., II\/79.<\/li>\n<li>[43] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/317; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 12; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 88.<\/li>\n<li>[44] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/402.<\/li>\n<li>[45] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/193; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/357;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 17; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 90.<\/li>\n<li>[46] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/52 dan 213; An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019, Op. Cit., I\/112; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 15.<\/li>\n<li>[47] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 90.<\/li>\n<li>[48] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/149.<\/li>\n<li>[49] Ibid., II\/172.<\/li>\n<li>[50] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/271.<\/li>\n<li>[51] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/50; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 124.<\/li>\n<li>[52] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/50.<\/li>\n<li>[53] Ibid., II\/531; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 53.<\/li>\n<li>[54] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/210.<\/li>\n<li>[55] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 25.<\/li>\n<li>[56] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/161; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/342;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 29; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 95.<\/li>\n<li>[57] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 27; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 94.<\/li>\n<li>[58] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/50; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/7;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 19; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 92.<\/li>\n<li>[59] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/230.<\/li>\n<li>[60] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/98; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 95.<\/li>\n<li>[61] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/86.<\/li>\n<li>[62] Ibid., II\/223; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 34.<\/li>\n<li>[63] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/177; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/338;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 21; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 91.<\/li>\n<li>[64] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/164.<\/li>\n<li>[65] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/206; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/358;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 22; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 92.<\/li>\n<li>[66] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/191; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 22.<\/li>\n<li>[67] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/96.<\/li>\n<li>[68] Ibid., II\/80.<\/li>\n<li>[69] Ibid., II\/87; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/49;\u00a0 Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 89; dan Ibnu an-Nadim, al-Fihrisat, Op. Cit., halaman 299.<\/li>\n<li>[70] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/169; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/337;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 18; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 91; dan Ibnu an-Nadim, al-Fihrisat, Op. Cit., halaman 300.<\/li>\n<li>[71] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/99.<\/li>\n<li>[72] Ibid., II\/313.<\/li>\n<li>[73] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/343;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 13; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 90; dan Ibnu an-Nadim, al-Fihrisat, Op. Cit., halaman 301.<\/li>\n<li>[74] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/310; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 32.<\/li>\n<li>[75] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/239.<\/li>\n<li>[76] Ibid., II\/103; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/51;\u00a0 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 19.<\/li>\n<li>[77] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/246; an-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, II\/72; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 43; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 104.<\/li>\n<li>[78] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/211;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 36; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 96.<\/li>\n<li>[79] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/53;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 27; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 92.<\/li>\n<li>[80] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/168.<\/li>\n<li>[81] Ibid., III\/64.<\/li>\n<li>[82] Ibid., II\/211.<\/li>\n<li>[83] Ibid., II\/217; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/358;\u00a0 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 22.<\/li>\n<li>[84] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/218.<\/li>\n<li>[85] Ibid., II\/314; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/338.<\/li>\n<li>[86] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/351; Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/125; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 31.<\/li>\n<li>[87] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/403.<\/li>\n<li>[88] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/340;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 32; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 96.<\/li>\n<li>[89] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/240; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/361; an-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/113;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 21; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 93.<\/li>\n<li>[90] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/112; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/236;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 21; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 93.<\/li>\n<li>[91] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/245.<\/li>\n<li>[92] Ibid., II\/108; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/34;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 30; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 94.<\/li>\n<li>[93] Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Muq\u00e2bis\u00e2t, (T.tp. : ar-Rahmaniyah, 1929), halaman 18.<\/li>\n<li>[94] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 38 dan\u00a0 Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 99.<\/li>\n<li>[95] Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 99.<\/li>\n<li>[96] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 32.<\/li>\n<li>[97] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/17;\u00a0 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 54.<\/li>\n<li>[98] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/170; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/53;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 40; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 100.<\/li>\n<li>[99] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/208 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 39.<\/li>\n<li>[100] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/81.<\/li>\n<li>[101] Ibid., II\/233; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 35.<\/li>\n<li>[102] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/299.<\/li>\n<li>[103] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/63 dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 105.<\/li>\n<li>[104] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/7 dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 104.<\/li>\n<li>[105] Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 104.<\/li>\n<li>[106] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/372.<\/li>\n<li>[107] an-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/112; Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/111; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/8;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 42; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 106.<\/li>\n<li>[108] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/42 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 56.<\/li>\n<li>[109] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/29; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., VI\/63;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 42; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 98.<\/li>\n<li>[110] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/245; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/443; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 29; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 96.<\/li>\n<li>[111] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/24; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/55;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 42; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 103.<\/li>\n<li>[112] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/303; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/444;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 52; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 110.<\/li>\n<li>[113] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/30; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/75;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 44; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 108.<\/li>\n<li>[114] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/133 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 46.<\/li>\n<li>[115] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/79.<\/li>\n<li>[116] Ibid., IV\/21; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 50; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 108.<\/li>\n<li>[117] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/11 dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 109.<\/li>\n<li>[118] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/207.<\/li>\n<li>[119] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/375.<\/li>\n<li>[120] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/150 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/401.<\/li>\n<li>[121] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/27 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 49.<\/li>\n<li>[122] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/145.<\/li>\n<li>[123] Ibid., III\/32; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 54.<\/li>\n<li>[124] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/72; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/350; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 46.<\/li>\n<li>[125] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/63 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., IV\/31.<\/li>\n<li>[126] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/225; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/314;\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 45; dan an-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/112.<\/li>\n<li>[127] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/225; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/314; dan\u00a0 Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 56.<\/li>\n<li>[128] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/155; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/400; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 57.<\/li>\n<li>[129] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/48.<\/li>\n<li>[130] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/221 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 60.<\/li>\n<li>[131] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/237.<\/li>\n<li>[132] Ibid., III\/38.<\/li>\n<li>[133] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/208; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/250; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 48.<\/li>\n<li>[134] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 66.<\/li>\n<li>[135] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/264; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/369; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 68.<\/li>\n<li>[136] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/3 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 55.<\/li>\n<li>[137] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 73.<\/li>\n<li>[138] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/76; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/195; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 51; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaq\u00e2t al-Fuqah\u00e2\u2019, halaman 106; dan an-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/113.<\/li>\n<li>[139]<\/li>\n<li>[140]<\/li>\n<li>[141] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/3.<\/li>\n<li>[142] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/230; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/385; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 60.<\/li>\n<li>[143] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/83.<\/li>\n<li>[144] Ibid., III\/147.<\/li>\n<li>[145] Ibid., III\/219.<\/li>\n<li>[146] Ibid., IV\/8.<\/li>\n<li>[147] Ibid., IV\/203.<\/li>\n<li>[148] Ibid., III\/228.<\/li>\n<li>[149] Ibid., III\/81.<\/li>\n<li>[150] Ibid.<\/li>\n<li>[151] Ibid., II\/56.<\/li>\n<li>[152] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/223; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/314; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 62.<\/li>\n<li>[153] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/225; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/214; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 74.<\/li>\n<li>[154] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/212.<\/li>\n<li>[155] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/373.<\/li>\n<li>[156] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/249; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/341; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 61.<\/li>\n<li>[157] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/85; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/9; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 59.<\/li>\n<li>[158] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/85.<\/li>\n<li>[159] Ibid., III\/11.<\/li>\n<li>[160] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/209; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/359; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 75.<\/li>\n<li>[161] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/207.<\/li>\n<li>[162] Ibid., IV\/38.<\/li>\n<li>[163] Ibid., III\/80.<\/li>\n<li>[164] Ibid., III\/152.<\/li>\n<li>[165] Ibid., III\/283.<\/li>\n<li>[166] Ibid., IV\/49.<\/li>\n<li>[167] Ibid., IV\/202.<\/li>\n<li>[168] Ibid., IV\/203.<\/li>\n<li>[169] Ibid., III\/29; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 67.<\/li>\n<li>[170] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., IV\/75.<\/li>\n<li>[171] Ibid., VI\/76.<\/li>\n<li>[172] Ibid., II\/152; Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/169.<\/li>\n<li>[173] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/281; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/448; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 68.<\/li>\n<li>[174] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/243.<\/li>\n<li>[175] Ibid., IV\/204.<\/li>\n<li>[176] Ibid., IV\/71; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/358.<\/li>\n<li>[177] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/205.<\/li>\n<li>[178] Ibid., IV55; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/80.<\/li>\n<li>[179] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/285 dan V\/33.<\/li>\n<li>[180]\u00a0 Ibid., IV\/211; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 75.<\/li>\n<li>[181] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/33 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 82.<\/li>\n<li>[182] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/101; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/352; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 69.<\/li>\n<li>[183] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/283.<\/li>\n<li>[184] Ibid., IV\/200.<\/li>\n<li>[185] Ibid., IV\/221.<\/li>\n<li>[186] Ibid., IV\/217; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/404.<\/li>\n<li>[187] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/284.<\/li>\n<li>[188] Ibid., IV\/258.<\/li>\n<li>[189] Ibid., IV\/268.<\/li>\n<li>[190] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/117.<\/li>\n<li>[191] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/42; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/82; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 74.<\/li>\n<li>[192] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/90.<\/li>\n<li>[193] Ibid., IV\/211.<\/li>\n<li>[194] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/218 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/10.<\/li>\n<li>[195] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/57; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/356; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 72.<\/li>\n<li>[196] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., III\/298 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 64.<\/li>\n<li>[197] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/48.<\/li>\n<li>[198] Ibid., IV\/235.<\/li>\n<li>[199] Ibid., IV\/39.<\/li>\n<li>[200] Ibid., IV\/325.<\/li>\n<li>[201] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., I\/13.<\/li>\n<li>[202] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/299.<\/li>\n<li>[203] Ibid., IV\/96 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/362.<\/li>\n<li>[204] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/237 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/409.<\/li>\n<li>[205] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/65 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/409.<\/li>\n<li>[206] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/128.<\/li>\n<li>[207] Ibid., IV\/190; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/374.<\/li>\n<li>[208] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/185.<\/li>\n<li>[209] Ibid., IV\/198.<\/li>\n<li>[210] Ibid., IV\/182; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/361.<\/li>\n<li>[211] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/242.<\/li>\n<li>[212] Ibid., IV\/278.<\/li>\n<li>[213] Ibid., IV\/221.<\/li>\n<li>[214] Ibid., IV\/198; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., III\/359; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 77.<\/li>\n<li>[215] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/291.<\/li>\n<li>[216] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/80 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 80.<\/li>\n<li>[217] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/373 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/471.<\/li>\n<li>[218] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/119; Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/7; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 83.<\/li>\n<li>[219] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., IV\/309 dan Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., IV\/283.<\/li>\n<li>[220] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., VI\/252.<\/li>\n<li>[221] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/65.<\/li>\n<li>[222] Ibid., V\/10.<\/li>\n<li>[223] Ibid., V\/54.<\/li>\n<li>[224] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 84.<\/li>\n<li>[225] Ibid., halaman 85.<\/li>\n<li>[226] Ibid., halaman 86.<\/li>\n<li>[227] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/48.<\/li>\n<li>[228] Ibid., V\/56.<\/li>\n<li>[229] Ibid., VI\/137.<\/li>\n<li>[230] Ibid., V\/177.<\/li>\n<li>[231] Ibid., V\/108 dan 119.<\/li>\n<li>[232] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., IV\/266.<\/li>\n<li>[233] Ibid., II\/316; Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/66; dan Muhamad al-Katabi, Faw\u00e2t al-Wafay\u00e2t, (T.tp : as-Sa\u2019adah, t.th), I\/544.<\/li>\n<li>[234] Ibnu Khilikkan, Wafay\u00e2t al-A\u2019y\u00e2n, Op. Cit., II\/472.<\/li>\n<li>[235] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/8.<\/li>\n<li>[236] Muhamad al-Katabi, Faw\u00e2t al-Wafay\u00e2t, I\/29.<\/li>\n<li>[237] Ibid., I\/594; dan Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/80.<\/li>\n<li>[238] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., VI\/249.<\/li>\n<li>[239] Ibid., V\/13.<\/li>\n<li>[240] Ibid., V\/7.<\/li>\n<li>[241] Ibid., VI\/2 dan Muhamad al-Katabi, Faw\u00e2t al-Wafay\u00e2t, Op. Cit., II\/484.<\/li>\n<li>[242] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/60 dan Muhamad al-Katabi, Faw\u00e2t al-Wafay\u00e2t, Op. Cit., I\/522.<\/li>\n<li>[243] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/14.<\/li>\n<li>[244] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., VI\/133 dan Muhamad al-Katabi, Faw\u00e2t al-Wafay\u00e2t, Op. Cit., II\/307.<\/li>\n<li>[245] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/227.<\/li>\n<li>[246] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/165 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 86.<\/li>\n<li>[247] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., V\/15.<\/li>\n<li>[248] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 87.<\/li>\n<li>[249] Ibid., halaman 88.<\/li>\n<li>[250] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., VI\/106.<\/li>\n<li>[251] Ibid., VI\/105.<\/li>\n<li>[252] Ibid., VI\/44.<\/li>\n<li>[253] Ibid., VI\/146.<\/li>\n<li>[254] Ibid., VI\/216.<\/li>\n<li>[255] Ibid., VI\/251.<\/li>\n<li>[256] Ibid., V\/251.<\/li>\n<li>[257] Ibid., VI\/45.<\/li>\n<li>[258] Ibid., VI\/243; Muhamad al-Katabi, Faw\u00e2t al-Wafay\u00e2t, Op. Cit., II\/229.<\/li>\n<li>[259] Tajudin as-Subki, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah al-Kubr\u00e2, Op. Cit., VI\/107.<\/li>\n<li>[260] Ibid., VI\/23.<\/li>\n<li>[261] Ibid., VI\/251.<\/li>\n<li>[262] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaq\u00e2t asy-Sy\u00e2fi\u2019iyyah, halaman 90.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pembahasan ini, kami akan menyebutkan secara lengkap ulama-ulama besar yang mengikuti madzhab Syafi\u2019i dan sangat berjasa dalam penyebaran madzhab fiqih terbesar sepanjang sejarah Islam. Mulai dari ulama yang hidup sezaman dengannya sampai pertengahan abad ke 18 Hijriyah atau tepatnya pada masa Imam Tajudin as-Subki. Imam Syafi\u2019i terkenal sebagai tokoh yang paling banyak diikuti orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[91],"tags":[],"class_list":["post-92","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-d-tokoh-tokoh-madzhab-syafii"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}