{"id":55,"date":"2025-03-25T07:26:03","date_gmt":"2025-03-25T07:26:03","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/memakan-daging-onta\/"},"modified":"2025-03-25T07:26:03","modified_gmt":"2025-03-25T07:26:03","slug":"memakan-daging-onta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/memakan-daging-onta\/","title":{"rendered":"Memakan Daging Onta"},"content":{"rendered":"<p>Tidak ada perbedaan antara Madzhab Qad\u00eem dan Madzhab Jad\u00eed bahwa wudhu\u2019 tidak menjadi batal karena menyantap makanan-makanan, baik makanan yang digoreng maupun yang lainnya, kecuali dalam kasus memakan daging onta. Dalam kasus ini, ada dua pendapat.<\/p>\n<p><strong>Versi Madzhab Qad\u00eem:<\/strong>\u00a0 memakan daging onta dapat membatalkan wudhu\u2019. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Qash, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, dari Nabi Saw. Berikut hadis tersebut:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u064b\u0627 \u0633\u064e\u0623\u064e\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e: \u00a0\u0623\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0644\u064f\u062d\u064f\u0648\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u063a\u064e\u0646\u064e\u0645\u0650\u061f \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e : \u0625\u0650\u0646\u0652 \u0634\u0650\u0626\u0652\u062a\u064e \u0641\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u0652 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0634\u0650\u0626\u0652\u062a\u064e \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u0652. \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e : \u0623\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0644\u064f\u062d\u064f\u0648\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0628\u0650\u0644\u0650 \u061f \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e : \u0646\u064e\u0639\u064e\u0645\u0652 \u060c \u0641\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0644\u064f\u062d\u064f\u0648\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0628\u0650\u0644\u0650.<\/p>\n<p>\u201cSeseorang bertanya kepada Rasulullah Saw; \u2018Apakah saya harus berwudhu\u2019 setelah memakan daging kambing?\u2019 Beliau menjawab, \u2018Jika kamu mau, kamu boleh berwudhu\u2019; tidak wudhu\u2019 juga tidak apa-apa.\u2019 Orang itu bertanya lagi, \u2018Apakah saya harus berwudhu\u2019 setelah menyantap daging onta?\u2019 Beliau menjawab, \u2018Ya, berwudhu\u2019lah setelah kamu makan daging onta\u2019.\u201d (HR. Muslim).[1]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dasar hukum lainnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanadnya sendiri, dari Usaid bin Khudhair. Bahwasanya Nabi Saw. bersabda:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0626\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0644\u064f\u062d\u064f\u0648\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0628\u0650\u0644\u0650 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0626\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0644\u064f\u062d\u064f\u0648\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u063a\u064e\u0646\u064e\u0645\u0650<\/p>\n<p>\u201cHendaklah kamu berwudhu\u2019 setelah memakan daging onta dan tidak perlu berwudhu\u2019 setelah memakan daging kambing.\u201d[2]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Majm\u00fb\u2019, Imam an-Nawawi menyatakan, \u201cIni adalah pendapat Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan Yahya bin Yahya. Al-Mawardi meriwayatkan pendapat ini dari sejumlah sahabat, antara lain: Zaid bin Tsabit, Ibnu \u2018Umar, Abu Musa, Abu Thalhah, Abu Hurairah, dan \u2018Aisyah. Sementara Ibnu al-Mundzir meriwayatkannya dari Jabir bin Samurah, Muhamad bin Ishaq, Abu Tsaur, dan Abu Khaitsamah. Pendapat ini dipilih juga oleh sebagian pemuka madzhab Syafi\u2019i, seperti : Abu Bakar bin Khuzaimah dan Ibnu al-Mundzir.\u201d[3]Ibnu Qudamah mengutip pernyataan al-Khaththabi yang menegaskan bahwa mayoritas ahli hadis setuju dengan pendapat ini.[4]<\/p>\n<p><strong>Versi Madzhab Jad\u00eed:<\/strong> memakan daging onta tidak membatalkan wudhu\u2019. Dasar hukumnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu \u2018Abbas. Berikut hadis:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e \u0623\u064e\u0643\u064e\u0644\u064e \u0643\u064e\u062a\u0650\u0641\u064e \u0634\u064e\u0627\u0629\u064d \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u0652<\/p>\n<p>\u201cBahwasanya Rasulullah Saw. memakan daging pundak kambing, kemudian beliau salat tanpa berwudhu\u2019 lagi.\u201d (HR. al-Bukhari dan Muslim).[5]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dasar hukum lainnya adalah hadis yang diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: \u201cRasulullah Saw. tidak berwudhu\u2019 setelah menyantap makanan yang tersentuh api. Ini adalah salah satu perbuatan yang dilakukan Nabi Saw. di akhir hayatnya.\u201d (HR. Abu Dawud).[6] Alasannya, makanan yang tersentuh dengan api (digoreng, dibakar, dipanggang, atau digodok, penerj.) adalah sama dengan makanan-makanan lainnya.<\/p>\n<p>Hadis lain yang dijadikan dasar hukum adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibn \u2018Abbas. Ia berkata:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0627\u064e\u0644\u0652\u0648\u064f\u0636\u064f\u0648\u0652\u0621\u064f \u0645\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062e\u0652\u0631\u064f\u062c\u064f \u0644\u0627\u064e \u0645\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062f\u0652\u062e\u064f\u0644\u064f<\/p>\n<p>\u201cWudhu\u2019 itu diharuskan karena adanya sesuatu yang keluar, bukan sesuatu yang masuk.\u201d[7]<\/p>\n<p>Alasan lainnya, apabila memakan daging babi tidak membatalkan wudhu\u2019, padahal daging itu haram, maka memakan selain daging babi, tentunya lebih tidak membatalkan wudhu\u2019 lagi.<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Majm\u00fb,[8] Imam an-Nawawi berkata, \u201cPendapat ini dikemukakan oleh mayoritas ulama, yang diriwayatkan dari sejumlah para sahabat, antara lain: Abu Bakar ash-Shiddiq, \u2018Umar, \u2018Utsman, \u2018Ali, Ibnu Mas\u2019ud, Ubay bin Ka\u2019b, Abu Thalhah, Abu ad-Darda\u2019, Ibnu \u2018Abbas, \u2018Amir bin Rabi\u2019ah, dan Abu Umamah. Pendapat ini disepakati juga oleh mayoritas tabi\u2019in, Malik, dan Abu Hanifah.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian ditegaskan jawaban terhadap hadis yang mewajibkan wudhu\u2019 setelah menyantap daging onta. Bahwasanya wudhu\u2019 dalam hadis tersebut artinya adalah mencuci tangan dan berkumur-kumur, untuk menghilangkan sisa-sisa daging dan lemak. Nabi Saw. sendiri melarang orang yang tidur, sementara di tangan atau mulutnya masih terdapat lemak onta. Mungkin juga, hadis ini telah dihapuskan hukumnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Jabir.<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Umm,[9] Imam Syafi\u2019i berkata, \u201cSufyan bin \u2018Uyainah menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri, dari dua orang laki-laki, yang salah satunya adalah Ja\u2019far bin \u2018Amr bin Umayyah adh-Dhamari, dari ayahnya; \u2018Bahwasanya Rasulullah Saw. memakan daging pundak kambing, kemudian beliau salat tanpa berwudhu\u2019 lagi.\u2019 Berdasarkan hadis ini, kami menyatakan bahwa barangsiapa yang memakan sesuatu yang tersentuh api atau tidak tersentuh api, maka ia tidak wajib wudhu\u2019.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Review Pendapat Syafi\u2019i<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum menyatakan pendapatnya yang dibingkai dalam versi Madzhab Qad\u00eem, Imam Syafi\u2019i berpendapat, wudhu\u2019 tidak batal karena memakan daging onta. Sebagaimana diketahui bersama, ini adalah pendapat Malik, Abu Hanifah, mayoritas tabi\u2019i dan para ulama.<\/p>\n<p>Kemudian Imam Syafi\u2019i mendapatkan kejelasan bahwa hadis yang mengharuskan wudhu\u2019 setelah memakan daging onta adalah shahih. Sementara hadis yang tidak mengharuskan wudhu\u2019 setelah menyantap makanan yang tersentuh api, maknanya bersifat umum. Sehingga maknanya dikhususkan dengan hadis yang pertama itu. Maka, ia merubah pendapat pertamanya dan menetapkan bahwa memakan daging onta dapat membatalkan wudhu. Tetapi, memakan daging lainnya tidak membatalkan wudhu\u2019. Inilah pendapat Imam Syafi\u2019i yang dibingkai dalam versi Madzhab Qad\u00eemnya.<\/p>\n<p>Ketika di Mesir, Imam Syafi\u2019i menarik kembali pendapat Madzhab Qad\u00eemnya dan kembali pada pendapat lamanya sebelum Madzhab Qad\u00eem. Ia menegaskan, memakan daging onta dan lainnya tidak membatalkan wudhu. Inilah pendapat Imam Syafi\u2019i yang dibingkai dalam versi Madzhab Jad\u00eednya. Dalam hal ini, kita patut mempertanyakan, apakah yang mendorong Imam Syafi\u2019i meninggalkan Madzhab Qad\u00eemnya dan merujuk kembali pada pendapat lamanya sebelum Madzhab Qad\u00eem? Bukankah ini mengindikasikan adanya kemunduran, bukan kemajuan? Lagi pula, hadis-hadis yang mengharuskan wudhu\u2019 setelah memakan daging onta, kualitasnya shahih, dan banyak para imam yang mengunggulkan pendapat ini.<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Majm\u00fb,[10] Imam an-Nawawi berkata, \u201cAda dua pendapat mengenai hukum memakan daging onta. Versi Madzhab Jad\u00eed: tidak membatalkan. Pendapat ini dinilai shahih oleh para pemuka madzhab Syafi\u2019i. Versi Madzhab Qad\u00eem: membatalkan wudhu. Pendapat ini dinilai lemah oleh para pemuka madzhab Syafi\u2019i. Tetapi, pendapat ini lebih kuat atau lebih shahih, apabila ditinjau dari dalil yang dijadikan sebagai landasan hukumnya.\u201d Dalam kitab Irsy\u00e2d as-S\u00e2r\u00ee,[11] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani berpendapat, \u201cPendapat yang dikemukakan dalam Madzhab Qad\u00eem, meskipun tampaknya kurang tepat di kalangan pengikut madzhab Syafi\u2019i. Tetapi, pendapat ini didukung dengan dalil yang kuat. Sehingga para ahli hadis dan saya sendiri lebih cenderung menyepakati pendapat ini.\u201d<\/p>\n<p>Mungkin alasan mendasar yang mendorong Imam Syafi\u2019i kembali menyatakan pendapat lamanya, sebelum Madzhab Qad\u00eem itu adalah adanya aspek-aspek tertentu yang lebih mendekati pada kebenaran, lebih praktis diamalkan, lebih cocok dengan strategi syari\u2019at, dan lebih sesuai dengan spirit syari\u2019at, yaitu agar ajaran Islam selalu bersifat mudah, tidak menyusahkan, dan tidak kaku. Hadis tentang keharusan berwudhu\u2019 setelah memakan daging onta, mempunyai dua kemungkinan arti. Kemungkinan pertama, wudhu\u2019 itu adalah wudhu\u2019 yang sesuai dengan praktik wudhu\u2019 yang disyari\u2019atkan, dan kemungkinan kedua, wudhu\u2019 itu dimaknai dalam arti bahasa (mencucui tangan atau berkumur-kumur). Dalam hal ini, yang lebih diprioritaskan adalah pemaknaan wudhu\u2019 dalam kemungkinan yang pertama. Namun, apabila ditinjau dari segi aplikasinya, tampaknya tidak sejalan dengan spirit dan strategi syari\u2019at Islam, yang harus bersifat tidak menyusahkan. Di samping itu, sebab maknawi yang membedakan antara daging onta dan daging lainnya tidak dapat langsung dipahami dengan mudah, karena semua daging itu halal dimakan. Sementara daging yang halal dimakan dikategorikan sebagai makanan yang baik. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt; \u201cMakanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.\u201d[12] Karena itu, tidak logis apabila makanan yang baik dapat menyebabkan batalnya wudhu\u2019. Apabila membatalkan wudhu\u2019, berarti bukan termasuk kategori makanan yang baik. Atau paling tidak, minimalnya termasuk dalam jenis makanan yang dimakruhkan. Sedangkan kenyataannya, daging onta tidak seperti itu.<\/p>\n<p>Para Khulafa\u2019ur Rasyidin \u2013Abu Bakar, \u2018Umar, dan \u2018Utsman- sendiri tidak berwudhu\u2019 setelah menyantap makanan yang tersentuh api, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shah\u00eeh al-Bukh\u00e2r\u00ee.[13] Hadis ini maknanya umum, yang juga mencakup daging onta. Di samping itu, tidak ada satu riwayatpun dari mereka yang menyatakan bahwa mereka berwudhu\u2019 setelah memakan daging onta. Padahal tidak masuk akal, apabila dikatakan bahwa mereka tidak pernah memakan onta. Atau seseorang belum pernah melihat mereka memakannya. Menurut Imam Syafi\u2019i, perbuatan dan perkataan para sahabat, khususnya Khulafa\u2019ur Rasyidin, dianggap sebagai bukti-bukti yang menguatkan dalil.<\/p>\n<p>Mungkin juga hadis riwayat Jabir tentang \u201cKeharusan Wudhu\u2019 setelah memakan daging onta,\u201d bukan termasuk kategori hadis yang bermakna umum atau khusus. Tetapi, termasuk kategori hadis yang berkaitan dengan masalah an-n\u00e2sikh dan al-mans\u00fbkh. Dengan demikian, semua argumentasi ini menguatkan pengertian hadis keharusan wudhu\u2019 itu dimaknai dengan wudhu\u2019 dalam arti bahasa. Atas dasar inilah, Imam Syafi\u2019i kembali merujuk pada pendapat lamanya, sebelum Madzhab Qad\u00eem. Kemudian pendapat itu ditetapkan sebagai pemikiran fiqihnya yang dibingkai dalam Madzhab Jad\u00eed.<\/p>\n<p>Demikianlah, cara Imam Syafi\u2019i menetapkan pendapatnya telah memberikan pelajaran penting kepada kita, khususnya kepada orang-orang yang sibuk menekuni ilmu, fiqih, dan agama. Bahwasanya kebenaran itu berada di atas segalanya dan kembali kepada kebenaran adalah suatu kewajiban. Sedangkan terus menerus mempertahankan pendapat yang diangap batil adalah tindakan kebodohan dan kesesatan. Karena itu, bukanlah sesuatu yang tercela, apabila seseorang merujuk kembali pada pendapat yang pernah ditinggalkannya. Celaan hanya patut diberikan kepada orang yang bersikukuh mempertahankan ijtihadnya yang keliru.<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] Ibid., II\/58-59.<\/li>\n<li>[2] Ibnu Qudamah, al-Mughn\u00ee, Op. Cit., I\/177.<\/li>\n<li>[3] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., II\/57.<\/li>\n<li>[4] Ibnu Qudamah, al-Mughn\u00ee, Op. Cit., I\/176-177.<\/li>\n<li>[5] Asy-Syafi\u2019i, al-Umm, Op. Cit., I\/21; dan An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., II\/57.<\/li>\n<li>[6] Ibnu Qudamah, al-Mughn\u00ee, Op. Cit., I\/177.<\/li>\n<li>[7] Ibid.<\/li>\n<li>[8] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., II\/57.<\/li>\n<li>[9] Asy-Syafi\u2019i, al-Umm, Op. Cit., I\/21.<\/li>\n<li>[10] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., III\/57.<\/li>\n<li>[11] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani, Irsy\u00e2d as-S\u00e2r\u00ee, Op. Cit., II\/8-9.<\/li>\n<li>[12] Thaha (20) : 81.<\/li>\n<li>[13] Al-Qashthalani, Hady as-S\u00e2r\u00ee, Op. Cit., II\/8.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak ada perbedaan antara Madzhab Qad\u00eem dan Madzhab Jad\u00eed bahwa wudhu\u2019 tidak menjadi batal karena menyantap makanan-makanan, baik makanan yang digoreng maupun yang lainnya, kecuali dalam kasus memakan daging onta. Dalam kasus ini, ada dua pendapat. Versi Madzhab Qad\u00eem:\u00a0 memakan daging onta dapat membatalkan wudhu\u2019. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Qash, berdasarkan hadis yang diriwayatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[194],"tags":[],"class_list":["post-55","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-memakan-daging-onta"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}