{"id":54,"date":"2025-03-25T07:23:52","date_gmt":"2025-03-25T07:23:52","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/menyentuh-pantat-anak-adam-dan-kemaluan-binatang-ternak\/"},"modified":"2025-03-25T07:23:52","modified_gmt":"2025-03-25T07:23:52","slug":"menyentuh-pantat-anak-adam-dan-kemaluan-binatang-ternak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/menyentuh-pantat-anak-adam-dan-kemaluan-binatang-ternak\/","title":{"rendered":"Menyentuh Pantat Anak Adam dan Kemaluan Binatang Ternak"},"content":{"rendered":"<p><strong>Versi Madzhab Qad\u00eem:<\/strong> menyentuh dubur (anus) anak Adam tidak membatalkan wudhu\u2019. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Qash dalam kitab al-Mift\u00e2h. Namun, ia tidak menyebutkan riwayat ini dalam kitab at-Talkh\u00eesh.<\/p>\n<p>Imam an-Nawawi berkata, \u201cIbnu al-Qash meriwayatkan pendapat Syafi\u2019i versi Madzhab Qad\u00eem dalam kitabnya al-Mift\u00e2h. Namun, ia tidak menyebutkannya dalam kitab at-Talkh\u00eesh. Pendapat ini diriwayatkan juga oleh mayoritas pemuka dan penulis madzhab Syafi\u2019i dan mereka tidak mengingkari pendapat tersebut sebagai pemikiran Imam Syafi\u2019i dalam Madzhab Qad\u00eemnya. Tetapi, penulis kitab asy-Sy\u00e2mil berkomentar bahwa para pengikut madzhab Syafi\u2019i tidak menemukan pendapat itu dalam Madzhab Qad\u00eemnya. Kalau pun ada, maka pendapat itu lemah.\u201d[1]<\/p>\n<p>Dasar hukumnya adalah hadis-hadis yang menjelaskan tentang kemaluan\u00a0 (qubul). Yaitu sesuatu yang apabila disentuh dengan syahwat, maka akan menyebabkan keluarnya madz\u00ee dan sebagainya. Sehingga menyentuhnya dihukumi sesuai dengan hukumnya orang yang mengeluarkan madz\u00ee. Hal ini tentunya berbeda dengan menyentuh dubur (anus), yang sentuhannya tidak mendatangkan kenikmatan. Adapun menyentuh kemaluan bintang ternak, maka jelas membatalkan wudhu\u2019. Sebagaimana ditegaskan langsung dalam sabda Rasulullah Saw;<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u064a\u0652\u0644\u064c \u0644\u0650\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u064a\u064e\u0645\u064e\u0633\u0651\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0641\u064f\u0631\u064f\u0648\u0652\u062c\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u064a\u064f\u0635\u064e\u0644\u0651\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0624\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e<\/p>\n<p>\u201cCelakalah bagi orang-orang yang menyentuh kemaluan binatang ternak. Kemudian mereka salat, tanpa berwudhu\u2019 lagi.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dasar hukum lainnya adalah sabdanya berikut ini:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0645\u064e\u0633\u0651\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0631\u0652\u062c\u064e \u0627\u064e\u0644\u0652\u0648\u064f\u0636\u064f\u0648\u0652\u0621\u064f<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka ia wajib wudhu\u2019.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hadis ini maknanya umum yang pengertiannya mencakup kemaluan binatang ternak. Di samping itu, kemaluan binatang ternak statusnya sama dengan kemaluan manusia, dalam arti bisa dimasukkan atau dimasuki (\u00eel\u00e2j). Dengan demikian, hukum menyentuhnya pun sama.<\/p>\n<p><strong>Versi Madzhab Jad\u00eed:<\/strong> menyentuh dubur (anus) manusia dapat membatalkan wudhu\u2019, sama seperti menyentuh kemaluannya. Dasar hukumnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Khalid, bahwa Nabi Saw. bersabda:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0645\u064e\u0633\u0651\u064e \u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u064e\u0647\u064f \u0641\u064e\u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u0652<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa yang menyentuh kemaluannya, maka ia wajib berwudhu\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Dasar hukum lainnya adalah sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Bisrah binti Shafwan. Bahwasanya Nabi Saw. bersabda:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0625\u0630\u0627 \u0645\u064e\u0633\u0651\u064e \u0623\u064e\u062d\u064e\u062f\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u064e\u0647\u064f \u0641\u064e\u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u0652<\/p>\n<p>\u201cApabila seseorang di antara kalian menyentuh dzakarnya, maka hendaknya ia berwudhu\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Dalil lainnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ummu Habibah. Katanya, Rasululullah Saw. bersabda:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0645\u064e\u0633\u0651\u064e \u0641\u064e\u0631\u0652\u062c\u064e\u0647\u064f \u0641\u064e\u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0636\u0651\u064e\u0623\u0652<\/p>\n<p>\u201cBarangsiapa yang menyentuh farjinya, maka hendaknya ia berwudhu\u2019.\u201d<\/p>\n<p>Argumentasi logis yang menjadi dasar pemikiran Madzhab Jad\u00eed adalah bahwa dubur itu termasuk kategori kemaluan, sehingga menyentuhnya dapat membatalkan wudhu\u2019. Argumentasi ini pun didasarkan pada qiy\u00e2s terhadap qubul (kemaluan bagian depan). Ada sebagian pengikut madzhab Syafi\u2019i yang memastikan pendapatnya dalam Madzhab Jad\u00eed dan mengingkari adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini.<\/p>\n<p>Adapun menyentuh kemaluan binatang ternak, maka tidak dianggap sebagai hal yang membatalkan wudhu\u2019. Karena tidak ada pengaruh apa-apa saat menyentuhnya. Sebagaimana tidak diwajibkannya menutupi kemaluannya, tidak diharamkan melihatnya, tidak wajib disunat, dan tidak wajib diceboki.<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Umm,[2] Imam Syafi\u2019i menyatakan, \u201cApabila seseorang menyentuh dzakarnya dengan telapak tangan bagian dalam dan tanpa memakai sarung tangan (penghalang), maka ia wajib wudhu\u2019. Dalam hal ini sama saja, baik menyentuhnya dengan sengaja maupun tidak disengaja. Karena sesuatu yang mewajibkan wudhu\u2019 dengan sengaja, maka sesuatu yang tidak disengaja pun dapat mewajibkan wudhu\u2019. Juga tidak ada perbedaan, antara menyentuhnya sedikit dan banyak. Demikian pula halnya apabila ia menyentuh duburnya sendiri; dubur dan qubul isterinya atau anak kecil. Maka, ia tetap wajib berwudhu\u2019.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApabila ia menyentuh kemaluan binatang ternak, maka ia tidak wajib wudhu\u2019. Karena kemaluan binatang ternak itu berbeda dengan kemaluan manusia, yang dianggap sebagai sesuatu yang sacral dan ada unsur ibadah dalam sentuhannya. Sedangkan kemaluan binatang ternak tidak ada aspek teologisnya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSetiap ketentuan yang telah saya jelaskan mengenai kewajiban wudhu\u2019 bagi laki-laki, berlaku juga bagi wanita. Yakni, ia wajib wudhu\u2019 apabila menyentuh farjinya, dan dubur atau qubul suaminya. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan hukum antara laki-laki dan perempuan.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Review Pendapat Syafi\u2019i<\/strong><\/p>\n<p>Dalam pemikiran versi Madzhab Qad\u00eem dan sebelumnya, Imam Syafi\u2019i menyatakan, menyentuh dubur (anus) tidak membatalkan wudhu\u2019, berdasarkan pada dalil-dalil yang telah dikemukakan di atas. Pendapat ini sejalan dengan pemikiran madzhab Maliki dan madzhab Hanafi. Keduanya malah berpendapat, menyentuh dzakar itu tidak membatalkan wudhu\u2019, sehingga menyentuh dubur lebih tidak membatalkan lagi.<\/p>\n<p>Kemudian Imam Syafi\u2019i mendapatkan kejelasan tentang hadis \u201cBarangsiapa yang menyentuh farjinya, maka hendaknya ia berwudhu\u2019.\u201d Hadis ini memang shahih, tapi makna dubur yang disebutkan dalam hadis sebelumnya adalah farji juga. Dalam hal ini, dimungkinkan dilakukan qiy\u00e2s antara dubur dan qubul, karena keduanya sama-sama jalan bagi keluarnya sesuatu (kotoran). Atas dasar inilah, ia merevisi ijtihadnya dan menegaskan bahwa menyentuh dubur anak Adam adalah membatalkan wudhu\u2019. Demikianlah pemikiran fiqih yang dibingkai dalam versi Madzhab Jad\u00eednya dan pemikiran ini dianggap yang paling shahih di kalangan para pemuka madzhab Syafi\u2019i.<\/p>\n<p>Ia juga mendapatkan kejelasan bahwa tidak mungkin menyamakan farji binatang ternak dengan farji manusia, karena banyak aspek yang membedakannya. Untuk itu, ia merevisi ijtihadnya dan menegaskan bahwa menyentuh farji binatang ternak adalah tidak membatalkan wudhu\u2019. Inilah pemikiran fiqih yang dibingkai dalam versi Madzhab Jad\u00eednya dan pemikiran ini dibenarkan oleh mayoritas ulama, kecuali \u2018Atha\u2019 dan al-Laits.<\/p>\n<p>Dari penjelasan di atas, sangat jelas, Imam Syafi\u2019i menarik kembali pendapat lamanya, karena adanya dukungan dalil-dalil yang lebih kuat daripada dalil-dalil yang dikemukakan dalam pendapat lamanya.[3]<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., II\/41-43.<\/li>\n<li>[2] Asy-Syafi\u2019i, al-Umm, Op. Cit., I\/19-20.<\/li>\n<li>[3] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., II\/41-43.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Versi Madzhab Qad\u00eem: menyentuh dubur (anus) anak Adam tidak membatalkan wudhu\u2019. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Qash dalam kitab al-Mift\u00e2h. Namun, ia tidak menyebutkan riwayat ini dalam kitab at-Talkh\u00eesh. Imam an-Nawawi berkata, \u201cIbnu al-Qash meriwayatkan pendapat Syafi\u2019i versi Madzhab Qad\u00eem dalam kitabnya al-Mift\u00e2h. Namun, ia tidak menyebutkannya dalam kitab at-Talkh\u00eesh. Pendapat ini diriwayatkan juga oleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[193],"tags":[],"class_list":["post-54","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-menyentuh-pantat-anak-adam-dan-kemaluan-binatang-ternak"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}