{"id":49,"date":"2025-03-25T07:10:24","date_gmt":"2025-03-25T07:10:24","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/tartib-membasuh-anggota-wudhu-dengan-berurutan\/"},"modified":"2025-03-25T07:10:24","modified_gmt":"2025-03-25T07:10:24","slug":"tartib-membasuh-anggota-wudhu-dengan-berurutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/tartib-membasuh-anggota-wudhu-dengan-berurutan\/","title":{"rendered":"Tartib (Membasuh Anggota Wudhu\u2019 dengan Berurutan)"},"content":{"rendered":"<p>Membasuh anggota wudhu\u2019 secara berurutan (tertib) termasuk salah satu rukun wudhu\u2019. Apabila ditinggalkan secara sengaja, maka wudhu\u2019nya tidak sah, demikian menurut pemikiran versi Madzhab Qad\u00eem dan Madzhab Jad\u00eed, dengan tanpa adanya perbedaan. Sedangkan jika ditinggalkan karena lupa, maka dalam hal ini ada dua pendapat.<\/p>\n<p><strong>Versi Madzhab Qad\u00eem:<\/strong> wudhu\u2019nya tetap sah. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Qadhi. Dalam kitab Fath al-\u2018Az\u00eez, Imam ar-Rafi\u2019i berkata, \u201cJika seseorang berwudhu\u2019 dengan tidak tertib, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Menurut Madzhab Jad\u00eed, hukumnya sama saja dengan orang yang meninggalkannya dengan sengaja. Atau seperti halnya orang lupa dan meninggalkan semua rukun wudhu\u2019. Menurut Madzhab Qad\u00eem, hal itu masih ditoleransi, apabila memang lupa. Para imam madzhab Syafi\u2019i menjelaskan bahwa pendapat Madzhab Qad\u00eem ini disimpulkan dari kasus orang yang meninggalkan bacaan surat al-F\u00e2tihah karena lupa. Letak kemiripannya: meskipun bacaan surat al-F\u00e2tihah adalah rukun, tetapi bukan rukun yang independen, selayaknya ruku\u2019, berdiri, dan sebagainya. Bacaan surat al-F\u00e2tihah hanya merupakan penghias dan penyempurna terhadap rukun lainnya (berdiri dalam salat). Demikian pula halnya dengan tertib dalam wudhu\u2019, statusnya seperti penghias dan pemantas dalam semua rukun wudhu\u2019 lainnya.\u201d[1]<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Majm\u00fb\u2019,[2] Imam an-Nawawi menyatakan, \u201cPendapat yang dikutip oleh Ibnu al-Qadhi adalah pendapat Madzhab Qad\u00eem, sebagaimana yang disebutkan juga dalam kitab at-Talkh\u00eesh.\u201d Imam Haramain berkata, \u201cJika pendapat ini memang shahih, maka pendapat ini sebetulnya telah diralat oleh Imam Syafi\u2019i sendiri, sehingga tidak perlu dimasukkan ke dalam madzhab Syafi\u2019i.\u201d<\/p>\n<p><strong>Versi Madzhab Jad\u00eed:<\/strong> orang yang meninggalkan tertib wudhu\u2019, hukumnya sama saja dengan orang yang meninggalkannya dengan sengaja. Sebagaimana orang lupa yang meninggalkan semua rukun wudhu\u2019.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Review Pendapat Syafi\u2019i<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum Imam Syafi\u2019i menyatakan pemikiran fiqih dalam Madzhab Qad\u00eemnya di Irak, ia berpendapat bahwa tertib dalam wudhu\u2019 itu tidak wajib. Pendapatnya ini sejalan dengan pendapat Malik dan lainnya.<\/p>\n<p>Imam an-Nawawi menyatakan[3] bahwa sejumlah ulama berpendapat, tertib wudhu\u2019 itu tidak wajib. Pendapat ini dikutip oleh al-Baghawi dan mayoritas ulama dan Ibnu al-Mundzir mengutipnya dari \u2018Ali dan Ibnu Mas\u2019ud. Pendapat ini dilontarkan juga oleh Sa\u2019id bin al-Musayyab, al-Hasan, \u2018Atha\u2019, Makhul, an-Nakha\u2019i, az-Zuhri, Rabi\u2019ah, al-Awza\u2019i, Abu Hanifah, Malik beserta para pengikut keduanya, al-Muzani, dan Dawud azh-Zhahiri. Pendapat ini dipilih juga oleh Ibnu al-Mundzir. Penulis kitab al-Bay\u00e2n menyatakan bahwa pendapat ini dipilih juga oleh Abu Nashr al-Bandaniji yang termasuk pemuka madzhab Syafi\u2019i.<\/p>\n<p>Mereka mendasarkan pendapatnya pada dalil-dalil berikut ini:<\/p>\n<p>(1)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu \u2018Abbas, bahwasanya \u201cNabi Saw. berwudhu\u2019, kemudian beliau membasuh wajahnya, lalu kedua tangannya, lalu kedua kakinya, lalu mengusap kepalanya.\u201d<\/p>\n<p>(2)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Huruf W\u00e2wu dalam ayat tentang wudhu\u2019[4] tidak harus diartikan sebagai kewajiban membasuh anggota wudhu\u2019 secara berurutan. Bagaimana pun cara seseorang membasuh anggota wudhu\u2019nya, berarti ia telah mentaati perintah dalam ayat yang mewajibkan wudhu\u2019 itu.<\/p>\n<p>(3)\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Wudhu\u2019 adalah bersuci, yang tidak diwajibkan dilakukan secara tertib, sebagaimana halnya mandi besar.<\/p>\n<p>Kemudian Imam Syafi\u2019i mendapatkan kejelasan bahwa hadis riwayat Ibnu \u2018Abbas adalah dha\u2019\u00eef dan qiy\u00e2s wudhu\u2019 terhadap mandi besar adalah qiy\u00e2s ma\u2019a al-f\u00e2riq. Karena semua badan orang yang junub adalah satu kesatuan, sehingga tidak harus tertib dalam mandi besar itu. Hal ini berbeda dengan anggota wudhu\u2019, yang bukan merupakan satu kesatuan, sehingga harus dibasuh secara berurutan.<\/p>\n<p>Di samping itu, banyak hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah besar sahabat tentang sifat wudhu\u2019 Nabi Saw. Dalam semua riwayat itu dijelaskan, beliau membasuh anggota wudhu\u2019 secara tertib. Wudhu\u2019 Nabi Saw. tidak hanya dilakukan di satu tempat, tetapi di berbagai tempat dan diriwayatkan bukan hanya oleh satu orang, tetapi oleh banyak sahabat. Memang ada sedikit perbedaan dalam riwayat-riwayat tersebut, khususnya mengenai jumlah basuhan yang dilakukan oleh beliau dalam wudhu\u2019nya. Kadang beliau hanya membasuhnya satu kali satu kali; terkadang dua kali dua kali; dan adakalanya tiga kal tiga kali. Namun, tidak ada satu pun riwayat yang kuat yang menegaskan bahwa beliau berwudhu\u2019 secara acak. Cara wudhu\u2019 Nabi Saw. itu adalah penjelasan tentang tata cara berwudhu\u2019 sesuai dengan yang diperintahkan. Seandainya boleh tidak tertib, maka dalam sebagian praktek wudhu\u2019nya, beliau pasti akan berwudhu\u2019 dengan tidak tertib, untuk menjelaskan bolehnya wudhu\u2019 dengan tidak tertib, sebagaimana beliau melakukan basuhan anggota wudhu\u2019 dengan jumlah yang tidak sama.<\/p>\n<p>Atas dasar ini, Imam Syafi\u2019i mengemukakan pendapat yang berbeda dengan pendapat Malik dan Abu Hanifah, beserta orang-orang yang sepakat dengan keduanya. Ia menyatakan wajibnya tertib dalam wudhu\u2019, kecuali lupa. Karena tertib bukan termasuk rukun yang independen, kedudukannya mirip dengan bacaan surat al-F\u00e2tihah[5] dalam salat. Demikian pemikiran fiqihnya yang dikemas dalam bingkai Madzhab Qad\u00eem.<\/p>\n<p>Kemudian Imam Syafi\u2019i merevisi sandaran qiy\u00e2s tersebut dan menetapkan bahwa orang yang lupa membaca surat al-F\u00e2tihah, maka salatnya tidak sempurna. Inilah pemikiran Syafi\u2019i dalam versi Madzhab Jad\u00eednya mengenai masalah pembacaan surat al-F\u00e2tihah. Dengan demikian, otomatis ketentuan ini berlaku dalam hal wudhu\u2019. Artinya, orang yang membasuh anggota wudhu\u2019 dengan tidak tertib karena lupa, maka wudhu\u2019nya tidak sah. Inilah pemikiran Syafi\u2019i dalam versi Madzhab Jad\u00eednya mengenai masalah wudhu\u2019.<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Umm,[6] Imam Syafi\u2019i menjelaskan, \u201cRasulullah Saw. telah mempraktekkan tata cara wudhu\u2019 sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah Swt. Beliau mulai membasuh anggota wudhu\u2019 sesuai dengan ketentuan yang telah Allah tetapkan. Sehingga orang yang berwudhu\u2019 harus melakukan dua hal: memulai pembasuhan anggota wudhu\u2019nya sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan oleh Allah dan membasuhnya dengan sempurna, melebihi batas minimal yang diwajibkan. Dengan demikian, orang yang membasuh kedua tangannya lebih dulu daripada wajahnya; atau orang yang mengusap kepalanya lebih dulu sebelum kedua tangannya; atau membasuh kedua kakinya lebih dulu sebelum mengusap kepalanya, maka menurut pendapat saya, orang itu harus mengulangi wudhu\u2019nya, sampai ia berwudhu\u2019 dengan tertib sesuai dengan urutan-urutan basuhannya. Anggota wudhu\u2019 yang harus dibasuh awal, harus didahulukan dan yang belakangan, harus diakhirkan. Jika wudhu\u2019nya tidak seperti ini, maka wudhu\u2019nya tetap belum sah. Apabila ia salat dengan wudhu\u2019 yang seperti itu, maka ia harus mengulangi salatnya setalah ia mengulang wudhu\u2019nya.<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] Kitab ini dicetak bersama kitab al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, I\/262-263.<\/li>\n<li>[2] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/144.<\/li>\n<li>[3] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/443-444.<\/li>\n<li>[4] Berikut ayat tentang wudhu\u2019 itu sebagaimana yang termaktub dalam surat al-M\u00e2\u2019idah ayat 6:<\/li>\n<\/ul>\n<p dir=\"rtl\">\u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0622\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0642\u064f\u0645\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0644\u0627\u0629\u0650 \u0641\u0627\u063a\u0652\u0633\u0650\u0644\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0648\u064f\u062c\u064f\u0648\u0647\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0623\u064e\u064a\u0652\u062f\u0650\u064a\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0631\u064e\u0627\u0641\u0650\u0642\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0645\u0652\u0633\u064e\u062d\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0628\u0650\u0631\u064f\u0624\u064f\u0648\u0633\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0631\u0652\u062c\u064f\u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0639\u0652\u0628\u064e\u064a\u0646\u0650<\/p>\n<p>\u201cHai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.\u201d<\/p>\n<ul>\n<li>[5] Apabila seseorang lupa membaca surat al-F\u00e2tihah dalam salat, maka salatnya tetap sah dan masih ditoleransi menurut versi Madzhab Qad\u00eem. Karena \u2018Umar sendiri pernah meninggalkan bacaan surat al-F\u00e2tihah, maka hal itu ditanyakan kepadanya. \u2018Umar malah balik bertanya, \u201cBagaimana dengan ruku\u2019 dan sujudnya?\u201d Mereka menjawab, \u201cSangat baik..\u201d \u2018Umar berkata, \u201cKalau begitu, tidak masalah.\u201d<\/li>\n<li>[6] Asy-Syafi\u2019i, al-Umm, Op. Cit., I\/30.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membasuh anggota wudhu\u2019 secara berurutan (tertib) termasuk salah satu rukun wudhu\u2019. Apabila ditinggalkan secara sengaja, maka wudhu\u2019nya tidak sah, demikian menurut pemikiran versi Madzhab Qad\u00eem dan Madzhab Jad\u00eed, dengan tanpa adanya perbedaan. Sedangkan jika ditinggalkan karena lupa, maka dalam hal ini ada dua pendapat. Versi Madzhab Qad\u00eem: wudhu\u2019nya tetap sah. Pendapat ini diriwayatkan oleh Ibnu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[186],"tags":[],"class_list":["post-49","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tartib-membasuh-anggota-wudhu-dengan-berurutan"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}