{"id":43,"date":"2025-03-25T06:50:06","date_gmt":"2025-03-25T06:50:06","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/fiqih-madinah\/"},"modified":"2025-03-25T06:50:06","modified_gmt":"2025-03-25T06:50:06","slug":"fiqih-madinah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/fiqih-madinah\/","title":{"rendered":"Fiqih Madinah"},"content":{"rendered":"<p>Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pelopor fiqih Madinah adalah para sahabat besar, antara lain: \u2018Umar, \u2018Utsman, Abdullah bin \u2018Umar, Abdullah bin \u2018Abbas, Zaid bin Tsabit, dan \u2018Aisyah. Tokoh yang paling terkenal adalah Zaid bin Tsabit. Ia dianggap sebagai sahabat yang paling mengerti ajaran-ajaran Islam, mempunyai kapasitas intelektual dalam mengeluarkan produk-produk hukum dari al-Qur\u2019an, hadis, dan rasio apabila tidak terdapat pada kedua sumber hukum utama itu. Sulaiman bin Yasar menegaskan, \u201c\u2019Umar dan \u2018Utsman sekalipun, tidak dapat mengungguli Zaid bin Tsabit dalam hal menetapkan keputusan hukum, fatwa, kewajiban-kewajiban agama, dan qira\u2019ah.\u201d Karena itu, Zaid bin Tsabit mempunyai banyak pengikut dan murid.<\/p>\n<p>Tokoh nomer dua di kalangan fiqih Madinah adalah Abdullah bin \u2018Umar bin al-Khaththab. Ia dikenal sebagai sahabat yang paling mengerti masalah man\u00e2sik haji, hanya saja enggan berfatwa dan berlogika. Abu Ja\u2019far menyatakan, \u201cAbdullah bin \u2018Umar adalah sahabat Rasulullah Saw. yang sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadis Rasulullah. Ia selalu berusaha untuk tidak menambahinya atau menguranginya.\u201d Malik bin Anas menegaskan, \u201cImam fiqih di Madinah setelah \u2018Umar bin al-Khaththab adalah Zaid bin Tsabit; lalu Abdullah bin \u2018Umar.\u201d[1]<\/p>\n<p>Tokoh-tokoh penggagas fiqih Madinah itu berhasil mencetak generasi penerusnya dari kalangan tabi\u2019in yang terkenal sebagai \u201cTujuh Serangkai Ahli Fiqih Madinah,\u201d yaitu: Sa\u2019id bin al-Musayyab, \u2018Urwah bin az-Zubair, Sulaiman bin Yasar, al-Qasim bin Muhamad bin Abu Bakar, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dan Salim bin Abdullah bin \u2018Umar bin al-Khtahthab. Dari tujuh ahli fiqih Madinah ini, yang paling terkenal adalah Sa\u2019id bin al-Musayyab dan \u2018Urwan bin az-Zubair.<\/p>\n<p>Sa\u2019id bin al-Musayyab sendiri termasuk murid Zaid bin Tsabit, yang rajin menghapalkan fatwa-fatwa dan produk-produk hukumnya, serta mengunggulkan pendapat gurunya atas yang lain. Ia juga tergolong sebagai pemuka para tabi\u2019in yang ahli fiqih, rajin beribadah dan sangat terhormat. Bahkan, ia disebut sebagai pakarnya para ahli fiqih. Tidak ada seorang pun yang kemampuannya melebihi dirinya dalam hal pengetahuan terhadap segala produk hukum yang ditetapkan oleh \u2018Umar dan \u2018Utsman. Wajar saja, apabila Imam Syafi\u2019i menyatakan bahwa hadis mursal yang diriwayatkan oleh Sa\u2019id bin al-Musayyab adalah hasan.<\/p>\n<p>Adapun \u2018Urwah bin az-Zubair, maka ia sering disebut-sebut sebagai orang alim, ahli fiqih, penghafal hadis, dan pakar sejarah. Ia adalah orang pertama yang menulis buku biografi. Ibnu \u2018Uyainah berkata, \u201c\u2019Orang yang paling mengetahui terhadap hadis riwayat \u2018Aisyah adalah al-Qasim, \u2018Urwah bin az-Zubair, dan \u2018Amrah.\u201d[2]<\/p>\n<p>Kemudian fiqih Madinah ini dikuasai oleh generasi berikutnya, seperti Ibnu Syihab, Nafi\u2019 \u2013sahaya yang dimerdekakan oleh Ibnu \u2018Umar-, Rabi\u2019ah ar-Ra\u2019yi, Yahya bin Sa\u2019id, dan Abu az-Zannad Abdullah bin Dzakwan. Sementara yang paling terkenal adalah Ibnu Syihab, yang keilmuan dan keutamaannya diakui oleh para ulama.<\/p>\n<p>Generasi berikutnya yang meneruskan fiqih Madinah adalah Imam Malik, yang merupakan gurunya Imam Syafi\u2019i. Imam Syafi\u2019i juga belajar fiqih kepada Abdul \u2018Aziz ad-Darawardi, Abdullah bin Nafi\u2019 ash-Sha\u2019igh, Ibrahim bin Muhamad bin Abu Yahya, Ibrahim bin Sa\u2019d al-Anshari, dan Ibnu Abu Fudaik.[3]<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] Prof. Ahmad Amin, Fajr al-Isl\u00e2m, Op. Cit., halaman 174-175 dan Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani, al-Ish\u00e2bah f\u00ee Tamy\u00eez ash-Shah\u00e2bah, Op. Cit., II\/543-544, dan 738.<\/li>\n<li>[2] Prof. Ahmad Amin, Fajr al-Isl\u00e2m, Op. Cit., halaman 175; Ibnu al-Qayyim, A\u2019l\u00e2m al-Muwaqqi\u2019\u00een, Op. Cit.,\u00a0 I\/22; Ibnu Sa\u2019d, ath-Thabaq\u00e2t al-Kubr\u00e2, Op. Cit., II\/379-381, 387; dan Abdul Wahhab, al-Mukhtashar f\u00ee Hukm Rij\u00e2l al-Atsar, (T.tp. : Dar at-Ta\u2019lif, t.th), halaman 132-133.<\/li>\n<li>[3] Ibnu al-Qayyim, A\u2019l\u00e2m al-Muwaqqi\u2019\u00een, Op. Cit., I\/23; Prof. Ahmad Amin, Fajr al-Isl\u00e2m, Op. Cit.,\u00a0 halaman 175-176; dan ar-Razi, Man\u00e2qib asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit., halaman 11.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pelopor fiqih Madinah adalah para sahabat besar, antara lain: \u2018Umar, \u2018Utsman, Abdullah bin \u2018Umar, Abdullah bin \u2018Abbas, Zaid bin Tsabit, dan \u2018Aisyah. Tokoh yang paling terkenal adalah Zaid bin Tsabit. Ia dianggap sebagai sahabat yang paling mengerti ajaran-ajaran Islam, mempunyai kapasitas intelektual dalam mengeluarkan produk-produk hukum dari al-Qur\u2019an, hadis, dan rasio [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[178],"tags":[],"class_list":["post-43","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-fiqih-madinah"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}