{"id":29,"date":"2025-03-25T05:51:32","date_gmt":"2025-03-25T05:51:32","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/hubungan-antara-qiyas-dan-ijtihad-serta-qiyas-dan-istihsan\/"},"modified":"2025-03-25T05:51:32","modified_gmt":"2025-03-25T05:51:32","slug":"hubungan-antara-qiyas-dan-ijtihad-serta-qiyas-dan-istihsan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/hubungan-antara-qiyas-dan-ijtihad-serta-qiyas-dan-istihsan\/","title":{"rendered":"Hubungan antara Qiyas dan Ijtihad, serta Qiyas dan Istihsan"},"content":{"rendered":"<p>Imam Syafi\u2019i telah membahas hubungan antara qiy\u00e2s dan ijtihad, serta qiy\u00e2s dan istihs\u00e2n. Ia menegaskan bahwa hubungan antara qiy\u00e2s dan ijtihad adalah hubungan yang bersifat stimulan. Dengan kata lain, qiy\u00e2s dan ijtihad adalah dua nama yang bersinonim dan bermakna satu. Sedangkan hubungan antara qiy\u00e2s dan istihs\u00e2n adalah hubungan yang bersifat kontradiktif, sebab qiy\u00e2s adalah hasil penalaran yang diterima karena disandarkan pada al-Qur\u2019an dan hadis, sementara istihs\u00e2n adalah hasil penalaran yang ditolak karena jauh dari petunjuk al-Qur\u2019an dan hadis.<\/p>\n<p>Dalam kitab ar-Ris\u00e2lah,[1] Imam Syafi\u2019i menyatakan; seseorang bertanya, \u201cApakah qiy\u00e2s itu? Apakah qiy\u00e2s sama dengan ijtihad ataukah berbeda?\u201d \u201cQiy\u00e2s itu dua istilah yang maknanya sama,\u201d jawabku.[2] Ia bertanya, \u201cApa aspek persamaannya?\u201d Saya katakan, \u201cSetiap persoalan yang dihadapi oleh orang Islam, pasti ada ketetapan hukum yang mengikat atau ada indikasi yang menunjukkan terhadap ketetapan hukum itu. Apabila ada ketetapan hukum yang tersurat, maka ia wajib mengikutinya. Namun, apabila ketetapan itu tersirat, maka ia harus mencari kebenaran itu dengan berijtihad dan ijtihadnya dapat menggunakan metode qiy\u00e2s.\u201d<\/p>\n<p>Dalam kitab ar-Ris\u00e2lah,[3] Imam Syafi\u2019i berkata, \u201cApabila qiy\u00e2s boleh ditinggalkan, maka setiap orang berakal meski bukan ahli ilmu diperbolehkan untuk berpendapat dengan istihs\u00e2n (perasaan hati) terhadap persoalan yang tidak ada ketentuan hadisnya, padahal berpendapat tanpa berlandaskan hadis atau qiy\u00e2s tidak diperbolehkan.\u201d<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 477.<\/li>\n<li>[2] Dalam kitab al-Mustashfa\u2019, Imam al-Ghazali mengutip pernyataan sebagian ahli fiqih; \u201cMenyamakan qiy\u00e2s dengan ijtihad adalah keliru, karena ijtihad lebih umum dari qiy\u00e2s. Alasan lainnya, karena ijtihad itu bisa mencakup penelitian terhadap hal-hal yang bersifat umum, makna lafazh-lafazh yang bersifat khusus, dan penggunaan berbagai dalil hukum selain qiy\u00e2s.\u201d Pernyataan ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa mungkin yang dimaksud oleh Syafi\u2019i, qiy\u00e2s adalah ijtihad. Ini baru benar, tapi kalau dibalik salah.<\/li>\n<li>[3] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 505.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Imam Syafi\u2019i telah membahas hubungan antara qiy\u00e2s dan ijtihad, serta qiy\u00e2s dan istihs\u00e2n. Ia menegaskan bahwa hubungan antara qiy\u00e2s dan ijtihad adalah hubungan yang bersifat stimulan. Dengan kata lain, qiy\u00e2s dan ijtihad adalah dua nama yang bersinonim dan bermakna satu. Sedangkan hubungan antara qiy\u00e2s dan istihs\u00e2n adalah hubungan yang bersifat kontradiktif, sebab qiy\u00e2s adalah hasil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[163],"tags":[],"class_list":["post-29","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-hubungan-antara-qiyas-dan-ijtihad-serta-qiyas-dan-istihsan-konsep-qiyas-menurut-syafii"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}