{"id":26,"date":"2025-03-25T05:47:22","date_gmt":"2025-03-25T05:47:22","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/definisi-qiyas-batasan-dan-metodenya-title\/"},"modified":"2025-03-25T05:47:22","modified_gmt":"2025-03-25T05:47:22","slug":"definisi-qiyas-batasan-dan-metodenya-title","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/definisi-qiyas-batasan-dan-metodenya-title\/","title":{"rendered":"Definisi Qiyas, Batasan dan Metodenya Title *"},"content":{"rendered":"<p>Imam Syafi\u2019i mendefinisikan qiy\u00e2s sebagai suatu upaya pencarian (ketetapan hukum) dengan berdasarkan dalil-dalil\u00a0 terhadap sesuatu yang pernah diinformasikan dalam al-Qur\u2019an dan hadis. Qiy\u00e2s hanya boleh diterapkan menyangkut sesuatu yang tidak ada nash dari al-Qur\u2019an, hadis, atau ijma\u2019. Apabila sesuatu itu telah termaktub dalam al-Qur\u2019an atau hadis, maka Anda harus menggunakan al-Qur\u2019an atau hadis sebagai dalilnya, dan Anda harus tegas menyatakan bahwa \u201cini adalah hukum Allah\u201d atau \u201cini adalah hukum Rasulullah,\u201d dan jangan katakan \u201cini qiy\u00e2s.\u201d Apabila sesuatu itu telah menjadi kesepakatan umat Islam (ijma\u2019), maka Anda harus menggunakan ijma\u2019 sebagai hujjahnya. Dengan demikian, fungsi qiy\u00e2s hanya sebagai upaya pencarian ketetapan hukum yang tidak tersentuh oleh tiga umber hukum utama itu.<\/p>\n<p>Dalam kitab ar-Ris\u00e2lah,[1] Imam Syafi\u2019i berkata, \u201cQiy\u00e2s adalah sesuatu yang dipecahkan berdasarkan dalil-dalil yang disesuaikan dengan informasi yang tersirat dalamm al-Qur\u2019an atau hadis, karena keduanya adalah kebenaran hakiki yang wajib dijadikan sumber.\u201d<\/p>\n<p>Seseorang bertanya, \u201cAtas dasar apa Anda menyatakan bahwa qiy\u00e2s hanya diterapkan dalam persoalan yang tidak ada nasnya dalam al-Qur\u2019an, hadis, atau ijma? Lalu apakah ketetapan qiy\u00e2s bersifat mengikat?\u201d<\/p>\n<p>Saya menjawab, \u201cApabila sesuatu itu telah termaktub dalam nash al-Qur\u2019an, maka Anda harus tegas menyatakan bahwa \u201cini adalah hukum Allah.\u201d Sedangkan apabila sesuatu itu telah dijelaskan dalam nash hadis, maka Anda harus menegaskan bahwa \u201cini adalah hukum Rasulullah,\u201d dan jangan katakan \u201cini qiy\u00e2s.\u201d[2]<\/p>\n<p>Dalam kitab ar-Ris\u00e2lah[3] dijelaskan juga bahwa ijtihad (dengan metode qiy\u00e2s) hanya digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak ditemukan sumber hukumnya, sehingga dalam ijtihad ini memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Masih dalam kitab yang sama, dijelaskan bahwa ijtihad hanya dilakukan untuk memecahkan suatu persoalan, dan biasanya persoalan itu belum ditemukan dalil yang pasti dari sumber hukum utama, sehingga perlu diadakan upaya persamaan (analogi).[4]<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 40.<\/li>\n<li>[2] Ibid., halaman 476-477.<\/li>\n<li>[3] Ibid., halaman 501.<\/li>\n<li>[4] Ibid., halaman 503.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Imam Syafi\u2019i mendefinisikan qiy\u00e2s sebagai suatu upaya pencarian (ketetapan hukum) dengan berdasarkan dalil-dalil\u00a0 terhadap sesuatu yang pernah diinformasikan dalam al-Qur\u2019an dan hadis. Qiy\u00e2s hanya boleh diterapkan menyangkut sesuatu yang tidak ada nash dari al-Qur\u2019an, hadis, atau ijma\u2019. Apabila sesuatu itu telah termaktub dalam al-Qur\u2019an atau hadis, maka Anda harus menggunakan al-Qur\u2019an atau hadis sebagai dalilnya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[160],"tags":[],"class_list":["post-26","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-definisi-qiyas-batasan-dan-metodenya"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=26"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/26\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=26"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=26"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=26"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}