{"id":229,"date":"2025-03-28T08:10:48","date_gmt":"2025-03-28T08:10:48","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/naskh-al-quran-dengan-hadis\/"},"modified":"2025-03-28T08:10:48","modified_gmt":"2025-03-28T08:10:48","slug":"naskh-al-quran-dengan-hadis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/naskh-al-quran-dengan-hadis\/","title":{"rendered":"Naskh al-Qur\u2019an dengan Hadis"},"content":{"rendered":"<p><strong>b)\u00a0 Naskh al-Qur\u2019an dengan Hadis<\/strong><\/p>\n<p>Adanya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis menjadi polemik yang berkepanjangan antara para pengikut madzhab dan para ulama. Mereka berbeda pendapat, apakah Imam Syafi\u2019i memperbolehkan naskh al-Qur\u2019an dengan hadis ataukah tidak. Sebagian mengatakan \u201cya\u201d dan sebagian lainnya berkata \u201ctidak.\u201d Agar dapat mendudukkan persoalan ini secara proporsional, kami perlu mengemukakan pernyataan-pernyataan dan pendapat-pendapat Imam Syafi\u2019i mengenai masalah ini. Lalu kita diskusikan pendapat-pendapat para ulama dalam menanggapi persoalan ini.<\/p>\n<p>Dalam kitab ar-Ris\u00e2lah,[1] Imam Syafi\u2019i mengatakan, \u201cAllah Swt. telah menjelaskan kepada mereka bahwa ketentuan hukum dalam dalam al-Qur\u2019an hanya bisa dihapus dengan al-Qur\u2019an itu sendiri. Hadis nabi tidak bisa menghapuskan ketentuan dalam al-Qur\u2019an, karena hadis harus mengikuti al-Qur\u2019an, baik dalam artian penegasan yang sama ataupun penjelasan terhadap kandungan makna yang diturunkan Allah dalam al-Qur\u2019an secara global.<\/p>\n<p>Allah Swt. berfirman:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u062a\u064f\u062a\u0652\u0644\u064e\u0649 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0628\u064e\u064a\u0651\u0650\u0646\u064e\u0627\u062a\u064d \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0644\u0627\u064e \u064a\u064e\u0631\u0652\u062c\u064f\u0648\u0646\u064e \u0644\u0650\u0642\u064e\u0627\u0621\u0646\u064e\u0627 \u0627\u0626\u0652\u062a\u0650 \u0628\u0650\u0642\u064f\u0631\u0652\u0622\u0646\u064d \u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u0650 \u0647\u064e\u0640\u0630\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0628\u064e\u062f\u0651\u0650\u0644\u0652\u0647\u064f \u0642\u064f\u0644\u0652 \u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0646\u064f \u0644\u0650\u064a \u0623\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064f\u0628\u064e\u062f\u0651\u0650\u0644\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646 \u062a\u0650\u0644\u0652\u0642\u064e\u0627\u0621 \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u0650\u064a \u0625\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062a\u0651\u064e\u0628\u0650\u0639\u064f \u0625\u0650\u0644\u0627\u0651\u064e \u0645\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0648\u062d\u064e\u0649 \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0651\u064e \u0625\u0650\u0646\u0651\u0650\u064a \u0623\u064e\u062e\u064e\u0627\u0641\u064f \u0625\u0650\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0635\u064e\u064a\u0652\u062a\u064f \u0631\u064e\u0628\u0651\u0650\u064a \u0639\u064e\u0630\u064e\u0627\u0628\u064e \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064d \u0639\u064e\u0638\u0650\u064a\u0645\u064d<\/p>\n<p>\u201cDan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, \u2018Datangkanlah al-Qur&#8217;an yang lain dari ini atau gantilah dia.\u2019 Katakanlah, \u2018Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat).\u2019\u201d[2]<\/p>\n<p>Dalam ayat ini, Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Saw. agar mengikuti semua yang diwahyukan kepadanya dan tidak diperkenankan menggantinya dengan sesuatu yang sesuai kemauannya sendiri. Firman Allah \u201cTidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri\u201d merupakan bukti yang jelas terhadap apa yang saya kemukakan di atas. Yakni, al-Qur\u2019an hanya dapat dihapus dengan al-Qur\u2019an, karena hanya Allah yang berhak menetapkan kewajiban, maka Dia pula yang berwenang untuk menghapuskan dan menetapkan hukum-hukum sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas seperti itu. Allah Swt. berfirman, \u201cAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahf\u00fbzh).\u201d[3] Menurut sebagian ulama, ayat tersebut mengindikasikan bahwa Allah memberikan kewenangan kepada rasul-Nya untuk menetapkan peraturan-peraturan atas pertimbangan sendiri yang\u00a0 sesuai dengan bimbingan Allah dan taufiq-Nya mengenai segala sesuatu yang tidak ada nashnya dalam al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Firman-Nya \u201cAllah menghapuskan apa yang Dia kehendaki\u201d mengindikasikan bahwa Dia yang berwenang menghapuskan dan menetapkan kewajiban sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Hal ini mirip dengan maksud yang terkandung dalam pernyataan sebelumnya, namun hanya Allah yang mengetahui. Hal ini dikuatkan dengan firman-Nya di bawah ini:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0645\u064e\u0627 \u0646\u064e\u0646\u0633\u064e\u062e\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0622\u064a\u064e\u0629\u064d \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0646\u064f\u0646\u0633\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0646\u064e\u0623\u0652\u062a\u0650 \u0628\u0650\u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064d \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0645\u0650\u062b\u0652\u0644\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0644\u064e\u0645\u0652 \u062a\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u064e \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u0642\u064e\u062f\u0650\u064a\u0631\u064c<\/p>\n<p>\u201cAyat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?\u201d[4] Ini artinya, penghapusan kandungan hukum al-Qur\u2019an dan penundaan pelaksanaannya, hanya terjadi dengan al-Qur\u2019an juga.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Allah Swt. berfirman:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0628\u064e\u062f\u0651\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0622\u064a\u064e\u0629\u064b \u0645\u0651\u064e\u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0622\u064a\u064e\u0629\u064d \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u064f \u0623\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0646\u064e\u0632\u0651\u0650\u0644\u064f \u0642\u064e\u0627\u0644\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u062a\u064e \u0645\u064f\u0641\u0652\u062a\u064e\u0631\u064d \u0628\u064e\u0644\u0652 \u0623\u064e\u0643\u0652\u062b\u064e\u0631\u064f\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0644\u0627\u064e \u064a\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n<p>\u201cDan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata, \u2018Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja.\u2019 Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.\u201d[5]<\/p>\n<p>Para ulama masih berbeda pendapat dalam memahami maksud pernyataan Imam Syafi\u2019i, bahwa ketentuan hukum dalam dalam al-Qur\u2019an hanya bisa dihapus dengan al-Qur\u2019an itu sendiri. Hadis nabi tidak bisa menghapuskan ketentuan dalam al-Qur\u2019an, karena hadis harus mengikuti al-Qur\u2019an. Sebagian ulama menyatakan, Imam Syafi\u2019i tidak memperbolehkan naskh al-Qur\u2019an dengan hadis. Pendapat ini dikemukakan oleh ar-Razi, al-Qurthubi, dan al-Ghazali. Mereka mengkritik sikap Imam Syafi\u2019i dalam hal ini dan membantahnya.<\/p>\n<p>Dalam kitab at-Tafs\u00eer al-Kab\u00eer,[6] Imam Fakhruddin ar-Razi mengutip perkataan Imam Syafi\u2019i yang menegaskan bahwa al-ketentuan Qur\u2019an tidak bisa dihapus dengan hadis mutawatir. Ia berdalil dengan ayat ini, \u201cAyat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.\u201d[7]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pernyataan ini bisa dibantah dengan menegaskan, firman Allah \u201cKami datangkan yang lebih baik daripadanya\u201d bukan berarti bahwa sesuatu yang lebih baik itu (khair) harus menjadi n\u00e2sikh (penghapus), tapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa khair itu merupakan sesuatu yang lain (bukan al-Qur\u2019an), yang akan tampak jelas setelah terjadinya proses penghapusan. Bukti yang menunnjukkan kemungkinan ini adalah dinyatakannya dengan tegas bahwa didatangkannya sesuatu yang lebih baik itu menyebabkan terjadinya penghapusan terhadap ayat yang pertama. Tapi jika dihapuskannya suatu ayat disebabkan karena adanya sesuatu yang lebih baik itu, maka dalam hal ini akan terjadi tumpang tindih dan itu tidak mungkin, karena merupakan suatu kebatilan. Kemudian mayoritas ulama mengemukakan dalil-dalil yang menunjukkan terjadi naskh al-Qur\u2019an dengan hadis. Contohnya adalah ayat tentang wasiat kepada keluarga terdekat yang dihapuskan dengan sabda Rasulullah Saw. \u201cTidak ada wasiat (khusus) bagi ahli waris;\u201d ayat tentang hukuman dera bagi pezina dihapuskan dengan hadis yang menetapkan diberlakukannya hukum rajam.<\/p>\n<p>Dalam kitab al-J\u00e2mi\u2019 li Ahk\u00e2m al-Qur\u2019\u00e2n, Imam al-Qurthubi menyatakan, [8] para imam kenamaan menegaskan bahwa al-Qur\u2019an dapat dihapus dengan hadis. Contohnya seperti hadis Nabi Saw. tentang tidak adanya wasiat bagi ahli waris. Pembahasan ini merupakan masalah yang dilematis bagi Imam Malik. Sementara bolehnya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis ditolak oleh Imam Syafi dan Abu al-Faraj al-Maliki. Namun demikian, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat pertama (yang memperbolehkan). Alasannya, semua hukum pada hakikatnya berasal dari sisi Allah, meski namanya berbeda-beda.[9] Di samping itu, hukum dera (jilid) tidak berlaku bagi pezina yang sudah pernah menikah, sebaliknya ia dikenakan hukum rajam. Dalam hal ini, hadis Nabi Saw. yang menggugurkan hukum dera tersebut. Dengan demikian, permasalahannya sudah menjadi jelas.<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Mustashfa,[10] Imam al-Ghazali mengemukakan bantahannya terhadap pendapat Imam Syafi\u2019i. Ia menegaskan, al-Qur\u2019an dapat dihapuskan dengan hadis dan hadis dapat dihapuskan dengan al-Qur\u2019an, karena keduanya sama-sama berasal dari sisi Allah. Lalu sesuatu apakah yang melarangnya? Al-Qur\u2019an dan hadis itu bukan sesuatu yang berbeda dan akal juga tidak memungkirinya. Bagaimana mungkin hadis tidak dapat menghapus al-Qur\u2019an, padahal itu sudah jelas terjadi\u2026<\/p>\n<p>Adapun contoh naskh al-Qur\u2019an dengan hadis adalah dihapuskannya ketentuan al-Qur\u2019an mengenai wasiat untuk ibu-bapak dan keluarga terdekat dengan sabda Nabi Saw. bahwasanya tidak ada wasiat bagi ahli waris (w\u00e2rits), karena ayat tentang waris ini memperbolehkan adanya pesan-pesan khusus (wasiat) yang disampaikan oleh orang yang mewariskan kepada ibu-bapak\u00a0 atau keluarga terdekat.<\/p>\n<p>Jika dikemukakan bahwa Imam Syafi\u2019i tidak memperbolehkan naskh hadis dengan al-Qur\u2019an sebagaimana tidak diperkenankannya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis, maka ada kemungkinan Imam Syafi\u2019i tidak mengetahui aspek-aspek penghapusan hukum. Atau mungkin juga sebenarnya ia mengatakan, hadis hanya pantas dihapus dengan hadis. Karena Nabi Saw. menghapus sunah (hadis) dengan sunahnya, maka dalam hal ini status beliau adalah orang yang menjelaskan perkataannya sendiri dan al-Qur\u2019an, tidak bisa dikatakan al-Qur\u2019an menjelaskan hadis, agar tidak terjadi tumpang tindih. Alasan lainnya, karena Imam Syafi\u2019i sendiri tidak pernah mengutip riwayat-riwayat yang menghapuskan al-Qur\u2019an dengan hadis, begitu juga sebaliknya. Kalaupun ia mengutipnya, maka adanya penghapusan itu memang benar-benar terjadi.<\/p>\n<p>Menurut hemat kami, alasan diperbolehkannya penghapusan itu memang cukup logis, sehingga tidak ada kesamaran dalam perintah al-Qur\u2019an yang mewajibkan perpindahan kiblat ke Ka\u2019bah. Padahal kewajiban menghadap ke Baitul Maqdis ditetapkan berdasarkan ketentuan hadis. Penghapusan hukum (perpindahan arah kiblat) benar-benar terjadi. Begitu juga sebaliknya, ada juga ketetapan al-Qur\u2019an yang dihapuskan oleh hadis. Jika ada yang membantahnya, maka kami dapat mengemukakan bukti-bukti mengenai terjadinya penghapusan itu. Namun, kami tidak perlu memprediksi adanya hadis-hadis yang tersembunyi yang mungkin sudah terhapuskan kandungan hukumnya, karena tidak ada urgensi apa-apa dalam upaya prediksi itu. Pendapat yang menegaskan tidak adanya penghapusan itu perlu dikaji ulang.<\/p>\n<p>Mereka mengemukakan argumentasi dengan firman Allah, \u201cOrang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, \u2018Datangkanlah al-Qur&#8217;an yang lain dari ini atau gantilah dia.\u2019 Katakanlah, \u2018Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.\u2019\u201d[11] Menurut mereka, ayat ini menunjukkan bahwa al-Qur\u2019an tidak dapat dihapuskan dengan hadis.<\/p>\n<p>Kami tegaskan, tidak ada perbedaan pendapat bahwa Nabi Saw. yang tidak menghapuskan al-Qur\u2019an sesuai dengan kemauannya sendiri, tetapi berdasarkan wahyu yang disampaikan kepadanya, namun bukan berarti harus dengan al-Qur\u2019an juga. Seandainya kami memperbolehkan naskh (al-Qur\u2019an) dengan ijtihad, maka sebenarnya kemampuan berijtihad itu sendiri berasal dari Allah Swt.\u00a0 Pada hakikatnya, an-n\u00e2sikh (yang menghapuskan hukum) adalah Allah Swt. melalui perantara lidah Rasulullah Saw. Dengan kata lain, ketentuan al-Qur\u2019an tidak harus dihapuskan dengan al-Qur\u2019an juga, tetapi boleh juga dihapuskan dengan perantara lidah Rasulullah Saw. atas bimbingan wahyu yang bukan merupakan al-Qur\u2019an. Di samping itu, pada dasarnya kalam Allah itu satu, termasuk firman-Nya yang berfungsi sebagai n\u00e2sikh (penghapus) dan mans\u00fbkh (yang dihapuskan).<\/p>\n<p>Dalil lain yang dikemukakan oleh ulama yang menolak naskh adalah firman Allah, \u201cAyat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.\u201d[12] Lalu dengan berbangga diri, ia mengutip akhir ayat ini, \u201cTiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?\u201d Ayat ini dianggap sebagai bukti bahwa tidak ada seorang pun selain-Nya yang mampu menaskhnya.<\/p>\n<p>Pendapat ini dapat kita bantah dengan mengatakan bahwa kami telah menegaskan, an-n\u00e2sikh yang sesungguhnya adalah Allah Swt. dan Dia memberikan kewenangan naskh kepada Rasulullah Saw. Artinya, melalui perantaraan Nabi Saw., Allah menasakh kitab-Nya, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu merubah kitab-Nya itu. Lalu seandainya Allah menghapuskan suatu ayat melalui lisan Rasulullah Saw., terus didatangkap ayat lainnya yang sebanding, maka berarti Allah telah memenuhi janji-Nya itu. Dengan demikian, tidak ada keharusan bahwa yang mengapuskan itu berupa ayat al-Qur\u2019an juga.<\/p>\n<p>Kami tegaskan juga, maksud ayat di atas bukanlah mendatangkan ayat al-Qur\u2019an yang lebih baik daripada ayat al-Qur\u2019an yang dihapuskan itu, karena kualitas al-Qur\u2019an tidak bisa dikatakan berpautan antara satu ayat dan ayat lainnya, sehingga ada ayat yang lebih baik dari ayat lainnya. Hal ini tidak mungkin terjadi, mengingat kualitas ayat-ayat al-Qur\u2019an itu sama antara satu dan lainnya. Sebaliknya, ayat di atas bermakna bahwa Allah akan mendatangkan amalan yang lebih baik dari amalan yang dihapuskan itu, karena amalan yang baru (yang menghapus) lebih benar daripada amalan yang lama (yang dihapuskan), atau karena pahala amalan yang baru lebih banyak dan lebih sempurna daripada pahala amalan yang lama.<\/p>\n<p>Dengan demikian, kita dapat menilai bahwa Imam ar-Razi, al-Qurthubi, dan al-Ghazali menafsirkan pernyataan Imam Syafi\u2019i secara tekstual, sehingga terkesan hadis tidak dapat menghapus al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Sebagian ulama lainnya berpendapat, Imam Syafi\u2019i sebenarnya tidak melarang diperbolehkannya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis, hanya saja jika ada hadis yang menasakh al-Qur\u2019an maka mungkin ada ayat al-Qur\u2019an lainnya yang menguatkan hadis tersebut dan menjelaskan kesesuaian al-Qur\u2019an dan hadis. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam as-Subki. Dalam kitab Jam\u2019 al-Jaw\u00e2mi\u2019,[13] ia mengutip pernyataan Syafi\u2019i, \u201cJika terjadi naskh al-Qur\u2019an dengan hadis, maka bersama hadis itu terdapat ayat al-Qur\u2019an lain yang menguatkan hadis tersebut dan menjelaskan keserasian al-Qur\u2019an dan hadis.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i merefer pernyataan \u201chadis tidak dapat menasakh al-Qur\u2019an\u201d pada pembahasan lain dalam kitab ar-Ris\u00e2lah.[14] Berikut kutipan langsungnya, \u201cDemikian pula halnya dengan hadis Rasulullah Saw. Hadis hanya dapat dibatalkan dengan hadis lainnya. Gambarannya seperti ini: jika Allah telah memutuskan suatu masalah melalui hadis rasul-Nya, di mana keputusannya berbeda dengan hadis yang sudah ditetapkannya, maka pastilah beliau akan menetapkan hadis baru yang menganulir ketetapan yang pertama itu, sehingga menjadi jelas bagi manusia bahwa terdapat hadis lain yang menghapuskan hadis sebelumnya yang tentunya berlawanan dengan ketetapan hadis yang baru. Hal seperti ini seringkali disebutkan dalam hadis-hadis Rasulullah Saw.\u201d<\/p>\n<p>Mungkin maksud pernyataan Imam Syafi\u2019i ini \u2013sebagaimana ditafsirkan oleh Syeikh al-Jalal al-Mahalli-[15] adalah bahwa tidak pernah terjadi naskh al-Qur\u2019an kecuali dengan al-Qur\u2019an, meskipun ada juga hadis yang menasakh al-Qur\u2019an. Tidak ada naskh hadis kecuali dengan hadis, meski demikian ada juga al-Qur\u2019an yang menasakh hadis. Dengan kata lain, tidak akan pernah terjadi dua macam naskh tersebut kecuali disertai dengan al-mans\u00fbkh yang menguatkannya.<\/p>\n<p>Setelah kami kemukakan pernyataan Imam Syafi\u2019i mengenai naskh al-Qur\u2019an dengan hadis dan diketengahkan pula pendapat-pendapat para pengikut Syafi\u2019i dalam menyikapi pernyataan gurunya itu, maka selayaknya kita meneliti pendapat yang paling tepat dalam masalah ini.<\/p>\n<p>Secara tekstual, pernyataan Imam Syafi\u2019i \u201chadis tidak dapat menasakh al-Qur\u2019an\u201d jelas sekali mengindikasikan bahwa tidak diperbolehkan adanya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis. Dalam hal ini, Imam as-Subki telah memberikan komentar yang sangat bagus dalam menginterpretasikan pernyataan Imam Syafi\u2019i tersebut. Namun demikian, -sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh al-Jalal al-Mahalli- pernyataan itu masih perlu dipertegas dan diperjelas lagi.<\/p>\n<p>Jika kita bersikukuh mempertahankan pernyataan Imam Syafi\u2019i secara tekstual, maka apakah pendapat itu dapat bertahan menghadapi serangan kritik dari orang-orang yang tidak sependapat dengannya?<\/p>\n<p>Dari penjelasan sebelumnya, dapat disimpulkan adanya beberapa argumen yang dibangun oleh rival-rival Syafi\u2019i untuk mengukuhkan pendapat mereka dan meruntuhkan pendapat Syafi\u2019i. Berikut dalil-dalil yang mereka gunakan sebagai argumen, antara lain: pertama, al-Qur\u2019an dan hadis sama-sama berasal dari sisi Allah. Sementara Nabi Saw. tidak pernah mengucapkan sesuatu, melainkan berasal dari wahyu yang disampaikan kepadanya. Dengan demikian, tidak ada kendala apa pun untuk terjadinya saling menghapus di antara keduanya (al-Qur\u2019an dan hadis), dan tidak dianggap sejenis. Kedua, akal tidak menolak adanya kemungkinan naskh al-Qur\u2019an dengan hadis, begitu juga sebaliknya. Ketiga, naskh al-Qur\u2019an itu memang benar-benar ada dan terjadi secara nyata.<\/p>\n<p>Selanjutnya mari kita kupas argumentasi mereka satu per satu. Mengenai pernyataan \u201cal-Qur\u2019an dan hadis sama-sama berasal dari sisi Allah,\u201d maka kami tegaskan bahwa pernyataan ini bukan merupakan rahasia lagi, karena semua orang sudah memakluminya dan tidak ada seorang pun yang meragukan kemampuan Imam Syafi\u2019i dalam hal ini. Pernyataan \u201cTidak ada kendala apa pun untuk terjadinya saling menghapus di antara keduanya (al-Qur\u2019an dan hadis),\u201d maka perlu ditegaskan bahwa hal ini masih diperdebatkan (debatable) dan perlu didukung dengan dalil-dalil yang kuat. Pernyataan \u201cTidak dianggap sejenis\u201d juga masih patut didiskusikan lagi. Menurut Imam Syafi\u2019i al-Qur\u2019an dan hadis adalah sejenis. Ia juga telah mengemukakan dalil-dalil yang menguatkan dakwahannya itu. Khususnya firman Allah \u201cDan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya.\u201d[16] Ayat ini tidak menyebutkan sama sekali mengenai hadis, dan mendahulukan makna hakikat daripada makna majaz adalah lebih utama. Namun demikian, kami juga tidak sepakat sepenuhnya terhadap pendapat yang menyamakan secara mutlak antara al-Qur\u2019an dan hadis, meskipun keduanya sama-sama berasal dari sisi Allah, karena al-Qur\u2019an bersifat qath\u2019i ats-tsub\u00fbt (pasti) sementara hadis tidak sampai pada derajat seperti ini. Bahkan dikatakan bahwa sebagian hadis-hadis mutawatir hanya bersifat pasti dalam hal kemutawatirannya saja. Atas dasar ini, dapat ditegaskan juga bahwa hadis mutawatir hanya tetap (tsabt) dalam hal periwayatannya saja, sementara redaksinya tidak dapat dipastikan betul-betul sesuai dengan perkataan Rasulullah Saw., karena mungkin saja hadis mutawatir itu diriwayatkan secara lafzhi dan makna; atau makanya saja sedangkan lafazh berbeda dengan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw.\u00a0 Hal ini jelas berbeda dengan al-Qur\u2019an, di mana makna dan lafazhnya benar-benar digaransikan otentik dari sisi Allah. Berdasarkan argumentasi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat Imam Syafi\u2019i yang tidak memperbolehkan naskh al-Qur\u2019an dengan hadis secara mutlak adalah lebih mendekati pada kebenaran.<\/p>\n<p>Argumentasi mereka yang kedua bahwa \u201cAkal tidak menolak adanya kemungkinan naskh al-Qur\u2019an dengan hadis.\u201d Pernyataan ini ditepis dengan firman Allah \u201cDan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya;\u201d[17] dan firman-Nya, \u201c\u201cAyat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya.\u201d[18]<\/p>\n<p>Argumentasi mereka yang ketiga bahwa \u201cNaskh al-Qur\u2019an itu memang benar-benar ada dan terjadi secara nyata.\u201d Untuk melemahkan argumen ini, kami tegaskan bahwa kami tidak menerima sepenuhnya adanya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis. Contoh-contoh yang mereka kemukakan dalam hal ini sebagai bukti terjadinya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis, maka kami tidak beranggapan seperti itu. Karena kami angggap hal itu masuk dalam kategori naskh al-Qur\u2019an dengan al-Qur\u2019an dan dalam hal ini hadis yang berfungsi sebagai penjelas terhadap kandungan makna al-Qur\u2019an. Kami juga tidak menganggap contoh-contoh tersebut sebagai bentuk naskh sebagian ayat al-Qur\u2019an terhadap sebagian ayat lainnya, karena lebih tepat dimasukkan dalam kategori pengkhususan lafazh al-Qur\u2019an yang bermakna umum (takhsh\u00eesh).<\/p>\n<p>Sebagaimana kita maklumi, masing-masing dari naskh dan takhsh\u00eesh mengharuskan adanya pengkhususan hukum terhadap sebagian lafazh yang disinyalir dalam ayat tersebut dan perbedaan antara keduanya sangat tipis sekali. Dalam takhsh\u00eesh terdapat makna-makna umum yang dikeluarkan dari kandungan lafazh ayat tersebut, sementara dalam naskh terdapat lafazh yang sengaja dibuang dari redaksi ayat tersebut.<\/p>\n<p>Demikianlah, pernyataan Imam Syafi\u2019i secara tekstual. Ia menyebutkan contoh pertama yang mereka anggap sebagai dalil atas dakwahan mereka mengenai adanya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis. Dalil tersebut adalah sabda Raslullah Saw. bahwasanya tidak ada wasiat bagi ahli waris. Imam Syafi\u2019i menyebutkan dalil ini dalam pembahasan tentang an-n\u00e2sikh dan al-mans\u00fbkh yang ditunjukkan oleh hadis dan ijma\u2019.[19] Dengan demikian, posisi hadis ini adalah semata-mata sebagai dalil tentang adanya naskh, bukan sebagai an-n\u00e2sikh itu sendiri, sebab yang menaskh ayat tersebut adalah ayat lainnya dalam masalah waris.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i juga menyebutkan mengenai contoh kedua yang dikemukakan oleh mereka, yaitu hadis tentang pelaksanaan hukum rajam. Hadis ini disebutkan dalam bab an-n\u00e2sikh dan al-mans\u00fbkh yang sebagiannya ditunjukkan oleh al-Qur\u2019an dan sebagian lainnya ditunjukkan oleh hadis. Ditegaskan bahwa hadis tersebut berstatus sebagai penjelas, bukan yang menghapuskan (an-n\u00e2sikh). Karena an-n\u00e2sikh terhadap ayat tentang hukuman penjara (al-habs) dan hukuman siksa (al-adza) adalah firman Allah, \u201cPerempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.\u201d[20]<\/p>\n<p>Berikut kami sampaikan perkataan Imam Syafi\u2019i dalam kitab ar-Ris\u00e2lah:[21]<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0627\u0651\u064e\u062a\u0650\u064a \u064a\u064e\u0623\u0652\u062a\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0627\u062d\u0650\u0634\u064e\u0629\u064e \u0645\u0650\u0646 \u0646\u0651\u0650\u0633\u064e\u0622\u0626\u0650\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0634\u0652\u0647\u0650\u062f\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0646\u0651\u064e \u0623\u064e\u0631\u0652\u0628\u064e\u0639\u0629\u064b \u0645\u0651\u0650\u0646\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646 \u0634\u064e\u0647\u0650\u062f\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0641\u064e\u0623\u064e\u0645\u0652\u0633\u0650\u0643\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0641\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0628\u064f\u064a\u064f\u0648\u062a\u0650 \u062d\u064e\u062a\u0651\u064e\u0649\u064e \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0641\u0651\u064e\u0627\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0648\u0652\u062a\u064f \u0623\u064e\u0648\u0652 \u064a\u064e\u062c\u0652\u0639\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u064f \u0644\u064e\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0627\u064b \u00a0\u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0630\u064e\u0627\u0646\u064e \u064a\u064e\u0623\u0652\u062a\u0650\u064a\u064e\u0627\u0646\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0622\u0630\u064f\u0648\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646 \u062a\u064e\u0627\u0628\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0635\u0652\u0644\u064e\u062d\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0623\u064e\u0639\u0652\u0631\u0650\u0636\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u064e \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u062a\u064e\u0648\u0651\u064e\u0627\u0628\u0627\u064b \u0631\u0651\u064e\u062d\u0650\u064a\u0645\u0627\u064b<\/p>\n<p>\u201cDan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertobat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.\u201d[22]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kemudian Allah menghapuskan hukuman penjara (al-habs) dan hukuman siksa (al-adza) dengan ayat:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0627\u0644\u0632\u0651\u064e\u0627\u0646\u0650\u064a\u064e\u0629\u064f \u0648\u064e\u0627\u0644\u0632\u0651\u064e\u0627\u0646\u0650\u064a \u0641\u064e\u0627\u062c\u0652\u0644\u0650\u062f\u064f\u0648\u0627 \u0643\u064f\u0644\u0651\u064e \u0648\u064e\u0627\u062d\u0650\u062f\u064d \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0626\u064e\u0629\u064e \u062c\u064e\u0644\u0652\u062f\u064e\u0629\u064d<\/p>\n<p>\u201cPerempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.\u201d[23]<\/p>\n<p>Dengan demikian, hadis Nabi Saw. di bawah ini menunjukkan bahwa hukuman dera seratus kali diperuntukkan bagi kedua pezina yang belum kawin.<\/p>\n<p>Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari \u2018Ubaid, dari al-Hasan, dari Qatadah bin ash-Shamit bahwa Rasulullah Saw. bersabda:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u062e\u064f\u0630\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0646\u0651\u0650\u064a \u062e\u064f\u0630\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0646\u0651\u0650\u064a \u0642\u064e\u062f\u0652 \u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0644\u064e\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u064b\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0628\u0650\u0643\u0652\u0631\u064f \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0628\u0650\u0643\u0652\u0631\u0650 \u062c\u064e\u0644\u0652\u062f\u064f \u0645\u0650\u0627\u0626\u064e\u0629\u064d \u0648\u064e\u062a\u064e\u0639\u0652\u0632\u0650\u064a\u0652\u0628\u064f \u00a0\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064d \u0648\u064e\u0627\u0644\u062b\u0651\u064e\u064a\u0651\u0650\u0628\u064f \u0628\u0650\u0627\u0644\u062b\u0651\u064e\u064a\u0651\u0650\u0628\u0650 \u062c\u064e\u0644\u0652\u062f\u064f \u0645\u0650\u0627\u0626\u064e\u0629\u064d \u0648\u064e\u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u062c\u0652\u0645\u064f<\/p>\n<p>\u201cAmbillah dariku, ambillah dariku, sesungguhnya Allah telah memberikan solusi kepada para wanita yang berzina; pezina yang sama-sama belum pernah menikah dihukum dera sebanyak seratus kali dan diasingkan selama setahun. Sedangkan pezina yang sudah pernah menikah, hukumannya adalah didera seratus kali dan dirajam.\u201d<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i menyebutkan contoh di atas dalam pembahasan tentang \u201cLafazh al-Qur\u2019an yang bermakna umum yang dikhususkan dengan hadis.\u201d[24]<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i berkata, Allah Swt. berfirman, \u201c\u201cPerempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.\u201d[25]<\/p>\n<p>Allah Swt. berfiman mengenai gadis-gadis sahaya:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0641\u064e\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0623\u064f\u062d\u0652\u0635\u0650\u0646\u0651\u064e \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062a\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e \u0628\u0650\u0641\u064e\u0627\u062d\u0650\u0634\u064e\u0629\u064d \u0641\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0646\u0651\u064e \u0646\u0650\u0635\u0652\u0641\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062d\u0652\u0635\u064e\u0646\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0630\u064e\u0627\u0628\u0650<\/p>\n<p>\u201cDan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka setengah hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.\u201d[26]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ayat al-Qur\u2019an di atas menjelaskan bahwa hukum dera seratus kali adalah untuk pezina yang merdeka, bukan yang berstatus sahaya. Ketika Rasulullah Saw. menerapkan hukum rajam, bukannya dera, kepada pezina wanita yang sudah kawin dan tidak menerapkan hukum dera padanya, maka hal ini menunjukkan bahwa pezina yang patut mendapat hukuman dera seratus kali adalah pezina yang berstatus merdeka dan belum pernah menikah.[27] Atas dasar inilah, maka contoh-contoh yang mereka kemukakan mengenai naskh al-Qur\u2019an dengan hadis, sebenarnya termasuk dalam kategori takhsh\u00eesh, bukan naskh.<\/p>\n<p>Setelah mencermati pendapat-pendapat di atas, kami menilai bahwa pendapat Imam Syafi\u2019i adalah pendapat yang paling kuat dan paling mendekati kebenaran. Kritikan-kritikan yang dilancarkan kepadanya menyiratkan kurangnya ketelitian dan kejelian dalam menggali kebenaran.<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Ibid., halaman 106-108.<br \/>\n[2] QS. Y\u00fbnus (10) : 15.<br \/>\n[3] QS. Ar-Ra\u2019d (13) : 39.<br \/>\n[4] QS. Al-Baqarah (2) : 106.<br \/>\n[5] QS. An-Nahl (16) : 101.<br \/>\n[6] Fakhrudin ar-Razi, at-Tafs\u00eer al-Kab\u00eer, Op. Cit., I\/436 dan 437.<br \/>\n[7] QS. Al-Baqarah (2) : 106.<br \/>\n[8] Al-Qurthubi, al-J\u00e2mi\u2019 li Ahk\u00e2m al-Qur\u2019\u00e2n, II\/66.<br \/>\n[9] Ada istilah hukum dari al-Qur\u2019an dan hukum dari hadis, meski namanya berbeda tapi esensinya sama-sama berasal dari Allah Swt., penerj.<br \/>\n[10] AlGhazali, al-Mustashfa, Op. Cit., I\/134.<br \/>\n[11] QS. Y\u00fbnus (10) : 15.<br \/>\n[12] QS. Al-Baqarah (2) : 106.<br \/>\n[13] Al-Bannani, al-Bann\u00e2n\u00ee \u2018ala Jam\u2019 al-Jaw\u00e2mi\u2019, Op. Cit., II\/78 dan 79.<br \/>\n[14] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 108.<br \/>\n[15] Syarh al-Jal\u00e2l al-Mahall\u00ee yang disebutkan dalam H\u00e2syiyah Al-Bann\u00e2n\u00ee, II\/79.<br \/>\n[16] QS. An-Nahl (16) : 101.<br \/>\n[17] QS. An-Nahl (16) : 101.<br \/>\n[18] QS. Al-Baqarah (2) : 106.<br \/>\n[19] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 137 dan 143.<br \/>\n[20] QS. An-N\u00fbr (24) : 2.<br \/>\n[21] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 128 dan 129.<br \/>\n[22] QS. An-Nis\u00e2\u2019 (4) : 15-16.<br \/>\n[23] QS. An-N\u00fbr (24) : 2.<br \/>\n[24] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 64.<br \/>\n[25] QS. An-N\u00fbr (24) : 2.<br \/>\n[26] QS. An-Nis\u00e2\u2019 (4) : 25.<br \/>\n[27] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 67.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>b)\u00a0 Naskh al-Qur\u2019an dengan Hadis Adanya naskh al-Qur\u2019an dengan hadis menjadi polemik yang berkepanjangan antara para pengikut madzhab dan para ulama. Mereka berbeda pendapat, apakah Imam Syafi\u2019i memperbolehkan naskh al-Qur\u2019an dengan hadis ataukah tidak. Sebagian mengatakan \u201cya\u201d dan sebagian lainnya berkata \u201ctidak.\u201d Agar dapat mendudukkan persoalan ini secara proporsional, kami perlu mengemukakan pernyataan-pernyataan dan pendapat-pendapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[127],"tags":[],"class_list":["post-229","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-naskh-al-quran-dengan-hadis"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=229"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/229\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=229"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=229"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=229"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}