{"id":222,"date":"2025-03-28T06:43:23","date_gmt":"2025-03-28T06:43:23","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/bagian-kedua\/"},"modified":"2025-03-28T06:43:23","modified_gmt":"2025-03-28T06:43:23","slug":"bagian-kedua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/bagian-kedua\/","title":{"rendered":"Bagian Kedua"},"content":{"rendered":"<p><strong>b) Bagian Kedua<\/strong><\/p>\n<p>Setelah Allah Swt. menjelaskan keharusan menggabungkan antara keimanan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, maka Allah menegaskan bahwasanya manusia wajib mengikuti wahyu dan sunah rasul-Nya. Dalil mengenai kewajiban itu dapat dilihat dalam firman-firman-Nya yang sering kali menghubungkan kata \u201cKitab (al-Qur\u2019an)\u201d dengan \u201cal-Hikmah (hadis),\u201d sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>Para ulama dan ahli tafsir sepakat, maksud al-Kitab adalah al-Qur\u2019an. Dengan demikian, maksud dari al-Hikmah adalah hadis Rasulullah Saw. yang menjelaskan makna-makna umum dalam al-Qur\u2019an dan mengkhususkannya. Qatadah berkata, \u201cal-Hikmah adalah hadis dan penjelasan syari\u2019at.\u201d<\/p>\n<p>Allah Swt. berfirman:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0631\u064e\u0628\u0651\u064e\u0646\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0628\u0652\u0639\u064e\u062b\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0627\u064b \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064e\u062a\u0652\u0644\u064f\u0648 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u0650\u0643\u064e \u0648\u064e\u064a\u064f\u0639\u064e\u0644\u0651\u0650\u0645\u064f\u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u062a\u064e\u0627\u0628\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062d\u0650\u0643\u0652\u0645\u064e\u0629\u064e \u0648\u064e\u064a\u064f\u0632\u064e\u0643\u0651\u0650\u064a\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0643\u064e \u0623\u064e\u0646\u062a\u064e \u0627\u0644\u0639\u064e\u0632\u0650\u064a\u0632\u064f \u0627\u0644\u062d\u064e\u0643\u0650\u064a\u0645\u064f<\/p>\n<p>\u201cYa Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur&#8217;an) dan al-Hikmah (as-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.\u201d[1]<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0643\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0631\u0652\u0633\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0627\u064b \u0645\u0651\u0650\u0646\u0643\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064e\u062a\u0652\u0644\u064f\u0648 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0622\u064a\u064e\u0627\u062a\u0650\u0646\u064e\u0627 \u0648\u064e\u064a\u064f\u0632\u064e\u0643\u0651\u0650\u064a\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u064a\u064f\u0639\u064e\u0644\u0651\u0650\u0645\u064f\u0643\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0643\u0650\u062a\u064e\u0627\u0628\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062d\u0650\u0643\u0652\u0645\u064e\u0629\u064e \u0648\u064e\u064a\u064f\u0639\u064e\u0644\u0651\u0650\u0645\u064f\u0643\u064f\u0645 \u0645\u0651\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u062a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0646\u064f\u0648\u0627\u0652 \u062a\u064e\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n<p>\u201cSebagaimana (Kami telah menyempurnakan ni`mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.\u201d[2]<\/p>\n<p>Dalam kitab ar-Ris\u00e2lah, Imam Syafi\u2019i mengatakan,[3] Allah Swt. mewajibkan manusia untuk mengikuti wahyu-Nya dan sunah rasul-Nya.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u2013kemudian Syafi\u2019i menyebutkan dua ayat di atas dan ayat-ayat lannya-. Selanjutnya ia berkata, Allah Swt. menyebutkan adanya dua pedoman hidup, yiatu al-Qur\u2019an dan al-Hikmah. Saya telah mendengar pendapat dari para ulama pakar al-Qur\u2019an dan saya sepakat bahwa yang dimaksud dengan al-Hikmah adalah sunah Rasul. Pengertian ini adalah yang paling dekat dengan apa yang dikatakan oleh Allah sendiri. Seringkali disebutkan secara berturut-turut kata al-Qur\u2019an yang diiringi dengan kata al-Hikmah. Juga dijelaskan tentang diutusnya Nabi Muhamad Saw. yang bertugas untuk mengajarkan al-Qur\u2019an dan al-Hikmah. Karena itu, kata al-Hikmah tidak bisa diartikan lain, selai sunah rasul itu. Allah juga telah mewajibkan agar manusia mentaati rasul-Nya dan wajib mengikuti semua perintahnya. Ini artinya, suatu kewajiban tidak dapat ditetapkan tanpa dasar hukum yang jelas dari Kitabullah dan sunah rasul-Nya. Kita tidak dapat memisahkan keduanya sebagaimana tidak dapat dipisahkannya antara keimanan kepada Allah dan keimanan kepada rasul-Nya. Fungsi sunah rasul adalah memberi kejelasan terhadap firman-firman Allah dalam kitab-Nya, baik yang bersifat khusus maupun umum. Fungsi ini tidak bisa dijalankan oleh siapapun dari makhluk-Nya, kecuali rasul.<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] QS. Al-Baqarah (2) : 129.<br \/>\n[2] QS. Al-Baqarah (2) : 151.<br \/>\n[3] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 76-79. Imam Syafi\u2019i membahas juga masalah ini dalam kitab al-Umm dalam tema Jumm\u00e2\u2019 al-\u2018Ilm (T.tp. : al-Muttahidah, 1960), VII\/274.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>b) Bagian Kedua Setelah Allah Swt. menjelaskan keharusan menggabungkan antara keimanan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, maka Allah menegaskan bahwasanya manusia wajib mengikuti wahyu dan sunah rasul-Nya. Dalil mengenai kewajiban itu dapat dilihat dalam firman-firman-Nya yang sering kali menghubungkan kata \u201cKitab (al-Qur\u2019an)\u201d dengan \u201cal-Hikmah (hadis),\u201d sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat al-Qur\u2019an. Para ulama dan ahli tafsir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[119],"tags":[],"class_list":["post-222","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bagian-kedua"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=222"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/222\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=222"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=222"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=222"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}