{"id":20,"date":"2025-03-25T05:35:36","date_gmt":"2025-03-25T05:35:36","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/dalil-ijma-menurut-syafii\/"},"modified":"2025-03-25T05:35:36","modified_gmt":"2025-03-25T05:35:36","slug":"dalil-ijma-menurut-syafii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/dalil-ijma-menurut-syafii\/","title":{"rendered":"Dalil Ijma\u2019 Menurut Syafi\u2019i"},"content":{"rendered":"<p>Imam Syafi\u2019i berdalil dengan al-Qur\u2019an dan hadis atas kehujjahan ijma\u2019. Dalil dari al-Qur\u2019an di antaranya adalah<\/p>\n<p>firman Allah, \u201cDan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.\u201d[1]<\/p>\n<p>Dalam kitab at-Tafs\u00eer al-Kab\u00eer,[2] Imam ar-Razi menjelaskan penafsiran ayat ini. Ia berkata, \u201cAyat ini adalah dalil yang digunakan oleh Imam Syafi\u2019 mengenai kehujjahan ijma\u2019. Dalam satu riwayat disebutkan, Imam Syafi\u2019i pernah ditanya mengenai ayat dalam al-Qur\u2019an yang menunjukkan bahwa ijma\u2019 adalah hujjah. Maka, ia membaca al-Qur\u2019an sebanyak 300 ayat, sampai menemukan ayat ini.\u201d<\/p>\n<p>Kesimpulan istidl\u00e2lnya: mengikuti jalan yang bukan jalan kaum mu\u2019minin adalah haram. Karena itu, wajib mengikuti jalan kaum mu\u2019minin.<\/p>\n<p>Dalam kitab ar-Ris\u00e2lah,[3] Imam Syafi\u2019i menegaskan, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abdulah bin Abu Lubaid, dari Ibnu Sulaiman bin Yasar, dari ayahnya bahwa \u2018Umar bin al-Khaththab berkhutbah di al-Jabiyah.[4] Katanya, \u201cSesungguhnya Rasulullah Saw. pernah berdiri di hadapan kami seperti saya berdiri di hadapan kalian. Beliau berpesan, \u2018Hormatilah para sahabatku, lalu generasi penerusnya dan generasi penerus berikutnya. Setelah itu (tiga generasi) berlalu, maka akan banyak kedustaan, sampai-sampai ada orang yang berani bersumpah dan bersaksi tanpa diminta. Ingatlah oleh kalian, barangsiapa yang menginginkan tempat yang lapang di sorga, maka hendaknya ia senantiasa mengikuti jama\u2019ah kaum muslimin. Sesungguhnya setan senang bersama orang yang sendirian, tapi jika ia\u00a0 berdua, maka setan akan menjauhinya. Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan<\/p>\n<p>dengan seorang wanita, sebab setan akan menjadi yang ketiga. Barangsiapa yang merasa bahagia dengan amal baiknya dan sedih dengan amal buruknya, maka dialah mu\u2019min sejati.\u2019\u201d[5]<\/p>\n<p>Seseorang bertanya, \u201cApa makna perintah Nabi Saw. agar senantiasa mengikuti jama\u2019ah kaum muslimin?\u201d \u201cMaknanya hanya satu.\u201d \u201cBagaimana mungkin hanya ada satu makna?\u201d tanyanya.<\/p>\n<p>Saya jawab, \u201cKetika jama\u2019ah kaum muslimin telah terpecah-pecah dan tersebar ke berbagai negeri, maka tidak ada seorang pun yang sanggup mengikuti jama\u2019ah yang telah terpisah-pisah dan telah tercampur antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir; antara orang-orang takwa dan orang-orang jahat. Maka, tidak ada artinya mengikuti jama\u2019ah tersebut, karena tidak mungkin jama\u2019ah itu tetap konsisten, kecuali jama\u2019ah yang diikat dengan kesadaran halal-haram dan keinginan untuk taat pada keduanya.<\/p>\n<p>Orang yang mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh jama\u2019ah kaum muslimin, maka ia telah mengikuti jama\u2019ah mereka. Dan orang yang menentang apa yang dikatakan oleh jama\u2019ah kaum muslimin, maka ia telah memisahkan diri dari jama\u2019ah mereka yang seharusnya tetap diikuti. Karena, kesalahan itu biasanya datang dari perpecahan, sedangkan kesatuan jama\u2019ah tidak mungkin akan melakukan kekeliruan tentang makna al-Qur\u2019an, hadis, dan qiy\u00e2s. Insya Allah.\u201d<\/p>\n<hr \/>\n<ul>\n<li>[1] QS. An-Nis\u00e2\u2019 (4) : 115.<\/li>\n<li>[2] Ar-Razi, at-Tafs\u00eer al-Kab\u00eer, Op. Cit., III\/313.<\/li>\n<li>[3] Asy-Syafi\u2019i, ar-Ris\u00e2lah, Op. Cit., halaman 473-476.<\/li>\n<li>[4] Al-Jabiyah adalah satu kampung di Damaskus. Di kampung itulah \u2018Umar bin al-Khaththab menyampaikan pidatonya yang terkenal, sebagaimana ditegaskan oleh Yaqut. \u2018Umar sengaja datang ke kampung tersebut pada bulan Safar 16 H. dan tinggal di sana selama 20 malam, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Thabaq\u00e2t Ibn Sa\u2019d.<\/li>\n<li>[5] Ahmad Muhamad Syakir menegaskan, hadis di atas dengan sanad seperti ini adalah mursal, karena Sulaiman bin Yasar tidak pernah bertemu dengan \u2018Umar dan sanad ini tidak dikuatkan dengan riwayat lainnya. Namun demikian, hadis ini adalah hadis shahih dari \u2018Umar yang sangat popular. Ahmad meriwayatkannya dalam kitab al-Musnad dari jalur Abdulah bin Dinar, dari Ibnu \u2018Umar, dari \u2018Umar.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Imam Syafi\u2019i berdalil dengan al-Qur\u2019an dan hadis atas kehujjahan ijma\u2019. Dalil dari al-Qur\u2019an di antaranya adalah firman Allah, \u201cDan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#8217;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":650,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[154],"tags":[],"class_list":["post-20","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-dalil-ijma-menurut-syafii"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/650"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}