{"id":194,"date":"2025-03-28T03:52:40","date_gmt":"2025-03-28T03:52:40","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/al-bayan-kelima\/"},"modified":"2025-03-28T03:52:40","modified_gmt":"2025-03-28T03:52:40","slug":"al-bayan-kelima","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/al-bayan-kelima\/","title":{"rendered":"Al-Bayan Kelima"},"content":{"rendered":"<p><strong>e. Al-Bay\u00e2n Kelima<\/strong><\/p>\n<p>Jenis al-bay\u00e2n kelima yang ditetapkan oleh Imam Syafi\u2019i adalah ijtihad. Allah telah mewajibkan kepada hamba-Nya berijtihad dalam mencari keputusan hukum yang tidak disebutkan dalam al-Qur\u2019an dan hadis. Allah juga menguji ketaatan mereka dalam ijtihad, sebagaimana mereka juga diuji untuk mentaati kewajiban-kewajibannya.\u00a0 Allah Swt. berfirman, \u201cDan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.\u201d[1] Imam Syafi\u2019i meriwayatkan dengan sanadnya, dari \u2018Amr bin al-\u2018Ash bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, \u201cJika seorang hakim memutuskan perkara, lalu ia berijtihad dan ijtihadnya itu benar, maka ia mendapat dua pahala. Dan jika ia berijtihad untuk memutuskan perkara itu, dan ternyata ijtihadnya keliru, maka ia hanya mendapat satu pahala.\u201d[2]<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i menganggap jenis al-bay\u00e2n dari hasil ijtihad ini dengan istilah qiy\u00e2s. Menurutnya, qiy\u00e2s adalah metode berfikir yang dipergunakan untuk mencari kejelasan hukum dari contoh-contoh serupa yang terdapat dalam nash (teks) al-Qur\u2019an atau hadis, karena keduanya merupakan sumber kebenaran dan petunjuk pokok yang terpercaya. Sementara itu, proses qiy\u00e2s paling tidak harus didasarkan pada dua hal:<\/p>\n<p>Pertama, jika Allah dan rasul-Nya telah mengharamkan sesuatu secara tersurat, atau menghalalkannya karena alasan (\u2018illat) tertentu, lalu kita temukan adanya hal serupa tapi tidak ada nash khusus di dalam al-Qur\u2019an atau hadis, maka kita bisa menetapkan hukum halal atau haram berdasarkan fakta bahwa hal itu mempunyai esensi (\u2018illat) yang sama dengan yang telah ditetapkan status hukumnya dalam al-Qur\u2019an atau hadis tadi. Kedua, dalam hal dua kasus yang hampir sama, maka qiy\u00e2s harus didasarkan pada kemiripan yang paling lengkap, terutama dari sudut lahiriahnya.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i berdalil dengan firman Allah Swt. berikut ini:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652 \u062d\u064e\u064a\u0652\u062b\u064f \u062e\u064e\u0631\u064e\u062c\u0652\u062a\u064e \u0641\u064e\u0648\u064e\u0644\u0651\u0650 \u0648\u064e\u062c\u0652\u0647\u064e\u0643\u064e \u0634\u064e\u0637\u0652\u0631\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0633\u0652\u062c\u0650\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u0650 \u0648\u064e\u062d\u064e\u064a\u0652\u062b\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0643\u064f\u0646\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0648\u064e\u0644\u0651\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0648\u064f\u062c\u064f\u0648\u0647\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0634\u064e\u0637\u0652\u0631\u064e\u0647\u064f<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cDan dari mana saja kamu keluar,\u00a0 maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.\u201d[3]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Allah Swt. telah mewajibkan kepada hamba-Nya agar dalam menunaikan salat harus menghadapkan mukanya ke arah Masjidil Haram. Apabila mereka berada di sekitar Masjidil Haram, maka mereka harus menghadapkan wajahnya tepat kepada kiblat. Tetapi jika mereka berada jauh dari Masjidil Haram dan tidak menemukan orang lain untuk bertanya mengenai kiblat atau tidak ada seorang pun yang mengetahui arah kiblat, maka mereka harus berijtihad untuk menentukan arah kiblat. Ijtihad itu bisa dilakukan dengan akal yang sehat, ilmu tentang perbintangan dan tanda-tanda yang mereka kenal. Hal\u00a0 Kesemuanya itu merupakan usaha maksimal yang mungkin dilakukan dalam keadaan seperti ini dan Allah Swt. tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.<\/p>\n<p>Para ulama kontemporer menamakan al-bay\u00e2n yang kelima ini dengan istilah bay\u00e2n al-isy\u00e2rah (penjelasan isyarat). Asy-Syakani berkata, \u201cBagian kelima adalah bay\u00e2n al-isy\u00e2rah, yaitu qiy\u00e2s yang digali dari al-Qur\u2019an dan hadis, seperti lafazh-lafazh yang digali makna-maknanya, lalu dianalogikan dengan yang lainnya. Suatu hukum dasar (al-ashl) yang digali maknanya, lalu dianalogikan dengan yang lainnya, tidak bisa dikatakan bahwa sesuatu itu tidak ada nashnya. Sebaliknya, sesuatu itu harus dikatakan ada nashnya. Karena Nabi Saw. memberikan isyarat pengingatan, seperti menyamakan makanan-makanan pokok dalam bab riba yang termaktub dalam al-Qur\u2019an. Pada hakikatnya qiy\u00e2s adalah menjelaskan maksud dari suatu nash. Allah Swt. telah memerintahkan manusia untuk melakukan i\u2019tib\u00e2r (mengambil pelajaran), istinb\u00e2th (menggali hukum dari sumber-sumbernya), dan ijtihad.\u201d[4]<\/p>\n<p>Berikut kami sampaikan pernyataan Syafi\u2019i sebagaimana disebutkan dalam kitab ar-Ris\u00e2lah.[5]<\/p>\n<p>Al-bay\u00e2n yang kelima sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Swt;<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652 \u062d\u064e\u064a\u0652\u062b\u064f \u062e\u064e\u0631\u064e\u062c\u0652\u062a\u064e \u0641\u064e\u0648\u064e\u0644\u0651\u0650 \u0648\u064e\u062c\u0652\u0647\u064e\u0643\u064e \u0634\u064e\u0637\u0652\u0631\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0633\u0652\u062c\u0650\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u0650 \u0648\u064e\u062d\u064e\u064a\u0652\u062b\u064f \u0645\u064e\u0627 \u0643\u064f\u0646\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0641\u064e\u0648\u064e\u0644\u0651\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0648\u064f\u062c\u064f\u0648\u0647\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0634\u064e\u0637\u0652\u0631\u064e\u0647\u064f<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cDan dari mana saja kamu keluar,\u00a0 maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.\u201d<\/p>\n<p>Allah Swt. mewajibkan kepada manusia di mana pun mereka berada agar menghadapkan wajahnya ke arah Masjidil Haram. Dalam perkataan orang-orang Arab, kata syathrah berarti arah. Contoh \u201cAqshidu Syathra Kadz\u00e2 (Saya bermaksud menuju ke arah ini).\u201d\u00a0 Ada juga kata lain yang berarti arah, yaitu tilq\u00e2\u2019a. Meskipun redaksinya berbeda-beda, tapi maknanya tetap sama. Kata Syathra asy-Syay\u2019a berarti sengaja menghadapkan pada ssuatu. Artinya, jika seseorang berhadapan langsung dengan kiblat, maka ia haru menghadap kepadanya. Tetapi jika ia jauh, maka ia harus berijtihad untuk menentukan arah kiblat tersebut.<\/p>\n<p>Allah Swt. berfirman:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0647\u064f\u0648\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a \u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0646\u0651\u064f\u062c\u064f\u0648\u0645\u064e \u0644\u0650\u062a\u064e\u0647\u0652\u062a\u064e\u062f\u064f\u0648\u0627\u0652 \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0638\u064f\u0644\u064f\u0645\u064e\u0627\u062a\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0631\u0651\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u062d\u0652\u0631\u0650<\/p>\n<p>\u201cDan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.\u201d[6]<\/p>\n<p>Dan firman-Nya:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0639\u064e\u0644\u0627\u0645\u064e\u0627\u062a\u064d \u0648\u064e\u0628\u0650\u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u062c\u0652\u0645\u0650 \u0647\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0647\u0652\u062a\u064e\u062f\u064f\u0648\u0646\u064e<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cDan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk.\u201d[7]<\/p>\n<p>Allah telah menciptakan tanda-tanda alam sebagai alat petunjuk bagi manusia. Sementara itu Masjidil Haram dijadikan sebagai arah menghadap dalam salat di mana pun manusia berada. Hal ini dapat saja mereka lakukan dengan bantuan tanda-tanda alam yang mereka cerna dengan akal fikiran. Kesemuanya itu merupakan pernyataan yang tegas, sekaligus merupakan nikmat tantangan berfikir dari Allah Swt.<\/p>\n<p>Selanjutnya Imam Syafi\u2019i mengatakan, jenis ilmu ini merupakan dalil atas apa yang telah saya tegaskan sebelumnya. Yakni, tak seorang pun boleh mengemukakan pendapat tentang halal atau haramnya sesuatu kecuali berlandaskan ilmu yang bersumber pada al-Qur\u2019an, hadis, ijma\u2019, atau qiy\u00e2s.\u00a0 Pembahasan mengenai jenis al-bay\u00e2n yang kelima ini terkait erat dengan qiy\u00e2s. Qiy\u00e2s adalah metode berfikir yang dipergunakan untuk mencari kejelasan hukum dari contoh-contoh serupa yang terdapat dalam nash (teks) al-Qur\u2019an atau hadis, karena keduanya merupakan sumber kebenaran dan petunjuk pokok yang terpercaya, seperti ijtihad dengan metode qiy\u00e2s dalam menentukan arah kiblat.<\/p>\n<p>Sementara itu, proses qiy\u00e2s paling tidak harus didasarkan pada dua hal: pertama, jika Allah dan rasul-Nya telah mengharamkan sesuatu secara tersurat, atau menghalalkannya karena alasan (\u2018illat) tertentu, lalu kita temukan adanya hal serupa tapi tidak ada nash khusus di dalam al-Qur\u2019an atau hadis, maka kita bisa menetapkan hukum halal atau haram berdasarkan fakta bahwa hal itu mempunyai esensi (\u2018illat) yang sama dengan yang telah ditetapkan status hukumnya dalam al-Qur\u2019an atau hadis tadi. Kedua, dalam hal dua kasus yang hampir sama, maka qiy\u00e2s harus didasarkan pada kemiripan yang paling lengkap, terutama dari sudut lahiriahnya.<\/p>\n<p>Lima macam jenis al-bay\u00e2n yang telah dikemukakan oleh Imam Syafi\u2019i, bukan berarti ia melupakan adanya ijma\u2019 atau tidak menganggapnya sebagai al-bay\u00e2n. Pernyataan Syafi\u2019i \u201c\u201djenis ilmu ini merupakan dalil\u2026\u201d secara tidak langsung menyatakan bahwa ijma\u2019 termasuk dalam kategori al-bay\u00e2n, meskipun ia tidak menyebutkannya secara tegas dan tersendiri. Karena pada dasarnya ijma\u2019 juga tidak bisa dilakukan tanpa adanya dalil. Jika ijma\u2019 itu terdapat nashnya dalam al-Qur\u2019an, maka termasuk kategori al-bay\u00e2n pertama. Sementara jika ijma\u2019 itu berasal dari istinb\u00e2th, maka termasuk kategori al-bay\u00e2n kelima.<\/p>\n<p>Asy-Syaukani berkata, \u201cDisebutkannya 5 macam al-bay\u00e2n pada awal kitab ar-Ris\u00e2lah karya Syafi\u2019i memunculkan kritikan dari sebagian orang. Mereka mengatakan, Syafi\u2019i telah melupakan dua hal: ijma\u2019 dan pendapat mujtahid yang disampaikan pada masanya serta telah tersebar tanpa ada orang yang mengingkarinya. Anggapan ini ditepis oleh az-Zarkasyi dalam kitab al-Bahr, ia menegaskan, Syafi\u2019i sepertinya mengabaikan dua hal itu karena masing-masing dari keduanya hanya bisa terwujud dengan adanya salah satu al-bay\u00e2n dari 5 al-bay\u00e2n yang telah dijelaskannya tadi. Jika masing-masing dari dua hal itu terdapat nashnya dalam al-Qur\u2019an, maka termasuk kategori al-bay\u00e2n pertama. Sementara jika berasal dari istinb\u00e2th, maka termasuk kategori al-bay\u00e2n kelima.\u201d[8]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] QS. Muhamad (47) : 31.<br \/>\n[2] ASy-Syafi\u2019i, Op. Cit., halaman 82 dan 83.<br \/>\n[3] QS. al-Baqarah (2) : 150.<br \/>\n[4] Prof. Mushthafa Abdur Razaq, Op. Cit., halaman 240.<br \/>\n[5] Asy-Syafi\u2019i, Op. Cit., halaman 34-40.<br \/>\n[6] QS. al-An\u2019\u00e2m (6) : 97.<br \/>\n[7] QS. an-Nahl (16) : 16.<br \/>\n[8] Prof. Mushthafa Abdur Razaq, Op. Cit., halaman 240, 241.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>e. Al-Bay\u00e2n Kelima Jenis al-bay\u00e2n kelima yang ditetapkan oleh Imam Syafi\u2019i adalah ijtihad. Allah telah mewajibkan kepada hamba-Nya berijtihad dalam mencari keputusan hukum yang tidak disebutkan dalam al-Qur\u2019an dan hadis. Allah juga menguji ketaatan mereka dalam ijtihad, sebagaimana mereka juga diuji untuk mentaati kewajiban-kewajibannya.\u00a0 Allah Swt. berfirman, \u201cDan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[105],"tags":[],"class_list":["post-194","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-al-bayan-kelima"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=194"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/194\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=194"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=194"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=194"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}