{"id":177,"date":"2025-03-28T01:08:44","date_gmt":"2025-03-28T01:08:44","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/debat-antara-syafii-dan-ishaq-bin-rahawaih\/"},"modified":"2025-03-28T01:08:44","modified_gmt":"2025-03-28T01:08:44","slug":"debat-antara-syafii-dan-ishaq-bin-rahawaih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/debat-antara-syafii-dan-ishaq-bin-rahawaih\/","title":{"rendered":"Debat antara Syafi\u2019i dan Ishaq bin Rahawaih"},"content":{"rendered":"<p><strong>5)\u00a0 Debat antara Syafi\u2019i dan Ishaq bin Rahawaih<\/strong><\/p>\n<p>Dalam kitab Mu\u2019jam al-Adibb\u00e2\u2019, Yaqut berkata, \u201cSaya mengutip dari kitab T\u00e2r\u00eekh Nays\u00e2b\u00fbr karya al-Hakim dan kitab Man\u00e2qib asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee karya al-Abari. Saya sengaja menggabungkan penuturan dari dua pakar sejarah tersebut secara singkat dan menisbatkan setiap pernyataan kepada pembicaranya.<\/p>\n<p>Al-Abari meriwayatkan dengan sanadnya, Ishaq bin Rahawaih berkata, \u201cKetika kami sedang duduk bersama Sufyan bin \u2018Uyaynah sambil menulis hadis-hadis riwayat \u2018Amr bin Dinar, tiba-tiba Ahmad bin Hanbal mendatangiku. Lalu Ahmad berkata kepadaku, \u2018Wahai Abu Ya\u2019qub, berdirilah, saya akan mengenalkanmu dengan seseorang yang belum pernah engkau lihat.\u2019 Lalu saya pun bangkit dan dibawa ke halaman rumah. Di sana sudah ada seorang laki-laki yang memakai baju putih. Wajahnya tampak kecoklat-coklatan, tampangnya pendiam, dan tampak sangat cerdas. Lalu Ahmad berkata kepadanya, \u2018Hai Abu \u2018Abdullah, ini adalah Ishaq bin Rahawaih al-Hanzhali.\u2019 Maka laki-laki itu menyambutku dan menghormatiku. Kemudian saya mulai bercapak-cakap dengannya. Dari pembicaraan-pembicaraannya, tampaknya orang itu memiliki ilmu yang sangat dalam, hingga membuatku kagum akan hafalannya. Setelah obrolan kami sudah cukup lama, saya berkata\u00a0 kepadanya, \u2018Wahai Abu Abdullah, mari kita temui seseorang yang alim.\u2019 Ia menjawab, \u2018Dialah orang alim itu.\u2019 Saya berkata, \u2018Subh\u00e2nallah, salahkah saya mengajak kalian menemui orang alim yang ilmunya setara dengan az-Zuhri?\u2019 Maka kami pun bertemu dengan pemuda alim itu (Syafi\u2019i). Kemudian Abu Abdullah berkata kepadaku, \u2018Hai Abu Ya\u2019qub, dulanglah ilmu dari pemuda itu, karena saya tidak pernah melihat orang sepandai dia.\u2019 Ishaq (Abu Ya\u2019qub) berkata, \u2018Lalu saya menanyakan kepadanya tentang hukum menyewakan di Mekah.\u2019 \u2018Boleh,\u2019 jawab pemuda itu. Saya berkata, \u2018Ya, saya setuju dengan pendapatmu, semoga Allah merahmatimu. Kemudian saya membacakan kepadanya hadis riwayat \u2018Aisyah, Abdurahman, \u2018Umar, para sahabat Rasulullah Saw. lainnya, dan para ulama yang memakruhkan penyewaan rumah di Mekah. Pemuda itu diam sambil mendengarkanku, sementara saya mempercepat bacaanku. Selesai membaca saya diam sebentar.\u2019 Lalu pemuda itu berkata, \u2018Semoga Allah merahmatimu. Tidakkah kamu tahu, Nabi Saw. telah bersabda, \u2018Apakah \u2018Aqil telah meninggalkan penginapan atau rumah peristirahatan untuk kami?\u2019Syafi\u2019i berkata, \u2018Demi Allah, saya tidak mengerti maksud sabda Nabi Saw. di atas dan saya tidak yakin, ada orang lain yang memahaminya.\u2019\u201d<\/p>\n<p>Kemudian al-Hakim menuturkan lanjutan kisah tersebut. Ishaq berkata, \u201cIzinkan saya berbicara.\u201d \u201cSilahkan,\u201d jawab Syafi\u2019i. Lalu saya (Ishaq) berkata, \u201cYazid bin Harun menceritakan kepada kami, dari Hisyam, dari al-Hasan bahwasanya beliau tidak memperbolehkan penyewaan rumah di Mekah.\u00a0 Riwayat dari Abu Nu\u2019aim dan lainnya, dari Sufyan, dari Manshur, dari Ibrahim juga tidak memperbolehkan penyewaan rumah di Mekah.\u201d<\/p>\n<p>Al-Hakim berkata, \u201cPada waktu itu Syafi\u2019i belum mengenal Ishaq.\u201d Lalu Syafi\u2019i bertanya kepada orang yang mengenalnya, \u201cSiapa orang ini?\u201d Dijawab bahwa orang ini adalah Ishaq bin Ibrahim bin al-Khanzhali bin Rahawaih al-Khurasani. Lalu Syafi\u2019i berkata kepadanya, \u201cKamukah orangnya yang dianggap oleh penduduk Khurasan sebagai orang yang paling pandai?\u201d Ishaq menjawab, \u201cYa begitulah, anggapan orang selama ini.\u201d Syafi\u2019i berkata, \u201cSungguh keliru jika ada orang lain yang menempati posisimu itu. Saya akan memerintahkan agar melemparkan kotoranmu pada kedua telinga orang itu.\u201d<\/p>\n<p>Dalam riwayat lain, al-Hakim berkata, Syafi\u2019i berkata kepada Ishaq, \u201cDalil yang kamu gunakan tentang larangan penyewaan rumah di Mekah adalah perkataan \u2018Atha\u2019, Thawus, Manshur, Ibrahim, al-Hasan, dan lainnya. Sementara dalil yang saya pakai tentang bolehnya penyewaan rumah di Mekah adalah sabda Rasulullah Saw. Adakah dalil yang lebih kuat dari sabda Nabi Saw. itu?\u201d Ishaq berkata kepada orang-orang sekampung yang ada bersamanya dengan bahasa daerah, \u201cKamu terkena sindrom kampung Lakamalan.\u201d Yaitu sebuah kampung di Marwa, para penduduknya mengaku sebagai orang-orang berilmu, padahal mereka tidak memiliki ilmu yang luas. Sedangkan dalam riwayat al-Abari disebutkan bahwa Ishaq berkata kepada orang-orang yang bersamanya, \u201cPemuda itu (Syafi\u2019i) sepertinya berasal dari\u00a0 desa Malan.\u201d Yaitu sebuah desa di Marwa yang penduduknya hidup damai.<\/p>\n<p>Selanjutnya al-Hakim menceritakan, ketika Syafi\u2019i mendengar Ishaq bercakap-cakap dengan bahasa daerah bersama kaumnya, maka ia paham kalau Ishaq telah menisbatkan sesuatu kepadanya. Syafi\u2019i bertanya, \u201cApakah kamu ingin berdebat?\u201d Ishaq pun terpancing dan ia menjawab, \u201cSaya datang memang untuk berdebat.\u201d Kemudian Syafi\u2019i mengutip firman Allah dalam surat al-Hasyr ayat\u00a0 8:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0644\u0650\u0644\u0652\u0641\u064f\u0642\u064e\u0631\u064e\u0627\u0621 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0647\u064e\u0627\u062c\u0650\u0631\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0623\u064f\u062e\u0652\u0631\u0650\u062c\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0646 \u062f\u0650\u064a\u0627\u0631\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652<\/p>\n<p>\u00a0\u201cBagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman\u2026\u201d<\/p>\n<p>Syafi\u2019i bertanya kepada Ishaq, \u201cDinisbatkan kepada siapakah kata ad-d\u00e2r (kampung halaman) dalam ayat di atas? Kepada para pemilik rumah ataukah bukan?\u201d Ishaq menjawab, \u201cKepada para pemilik rumah.\u201d Syafi\u2019i berkata, \u201cFirman Allah Swt. adalah sebenar-benarnya perkataan. Firman Allah di atas ditegaskan juga oleh sabda Rasulullah Saw; \u2018Barangsiapa yang masuk ke dalam rumahnya Abu Sufyan, maka ia aman. Dan barangsiapa yang mengunci pintunya, maka ia aman.\u2019 Rasulullah Saw. menisbatkan rumah tersebut kepada pemiliknya ataukah kepada selain pemilik?\u201d Ishaq berkata, \u201cKepada pemiliknya.\u201d Syafi\u2019i berkata, \u201c\u2019Umar bin al-Khaththab pernah membeli rumahnya tukang bekam (di Mekah), lalu ia menempati rumah tersebut. Dalam berbagai riwayat juga disebutkan, sejumlah sahabat Rasulullah Saw. pernah membeli rumah di Mekah, sementara para sahabat lainnya telah menjualnya.\u201d Ishaq menyangkal argumen Syafi\u2019i itu dengan menyebutkan firman Allah Swt. dalam surat al-Hajj ayat 25:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0633\u064e\u0648\u064e\u0627\u0621 \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0627\u0643\u0650\u0641\u064f \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0627\u062f\u0650<\/p>\n<p>\u201cSama saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir.\u201d<\/p>\n<p>Syafi\u2019i berkata, \u201cBaca awal ayat tersebut.\u201d\u00a0 Berikut awal ayat tersebut:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0633\u0652\u062c\u0650\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a \u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627\u0647\u064f \u0644\u0650\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650<\/p>\n<p>\u201cDan Masjidilharam yang telah Kami jadikan untuk semua manusia.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Selanjutnya al-Abari menceritakan, Syafi\u2019i berkata, \u201cOrang-orang yang i\u2019tikaf (al-\u2018ak\u00fbf) tempatnya di masjid. Tidakkah kamu memperhatikan firman-Nya, \u2018Untuk orang-orang yang thawaf dan i\u2019tikaf.\u2019[1] Ini artinya, tempat orang i\u2019tikaf itu di masjid-masjid. Tidakkah kamu mengkaji firman-Nya, \u2018Sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid.\u201d[2] Dengan demikian, firman Allah \u2018Sama saja, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir,\u2019 adalah khusus berlaku di masjid. Adapun orang yang memiliki sesuatu (rumah), maka ia berhak untuk menyewakannya atau menjalnya.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian al-Hakim melanjutkan kisah perdebatan ini. Syafi\u2019i berkata, \u201cJika memang permasalahannya adalah seperti yang kamu kira (larangan menyewakan rumah di Mekah, penerj.), maka di Mekah tidak boleh ada pengumuman barang yang hilang, tidak boleh menyembelih binatang ternak, dan tidak boleh membuang sampah di Mekah. Karena itu, harus dipahami, larangan-larangan tersebut hanya berlaku di masjid.\u201d Mendengar perkataan Syafi\u2019i ini, Ishaq terdiam dan tidak bisa membantah lagi.<\/p>\n<p>Dalam riwayat al-Abari disebutkan, Syafi\u2019i berkata, \u201cKetika saya mengkaji sabda Rasulullah Saw; \u2018Apakah \u2018Aqil telah meninggalkan penginapan atau rumah peristirahatan untuk kami?\u2019, maka saya mengerti betul bahwa pendapat kami yang memperbolehkan penyewaan rumah di Mekah adalah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.\u201d Ishaq berkata, \u201cSeandainya kamu memberikan pemahaman tersebut kepadaku dan saya berada di samping beliau, maka saya pun akan mempunyai pandangan yang sama.\u201d Al-Abari berkata, \u201cKemudian saya teliti kitab-kitab pemuda itu (Syafi\u2019i), ternyata pemuda itu termasuk ulama besar umat Muhamad Saw.\u201d<\/p>\n<p>Selanjutnya al-Abari bercerita, \u201cSaya membaca beberapa riwayat dari Abu al-Hasan yang menyebutkan bahwa Ishaq mengelus-elus jenggotnya sambil berkata, \u2018Alangkah malunya saya kepada Muhamad bin Idris (Syafi\u2019i) dalam masalah ini.\u2019\u201d[3]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] QS. al-Baqarah ayat 125. Berikut terjemahan lengkap ayat tersebut:<\/p>\n<p>\u201cDan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, \u2018Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud.\u2019\u201d<br \/>\n[2] QS. al-Baqarah ayat 187.<br \/>\n[3] Yaqut, Op. Cit., XVII\/293-298; Abu Hatim ar-Razi, \u00c2d\u00e2b asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee wa Man\u00e2qibuhu, Op. Cit., halaman 180-181; al-Baihaqi, Op. Cit., II\/32.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>5)\u00a0 Debat antara Syafi\u2019i dan Ishaq bin Rahawaih Dalam kitab Mu\u2019jam al-Adibb\u00e2\u2019, Yaqut berkata, \u201cSaya mengutip dari kitab T\u00e2r\u00eekh Nays\u00e2b\u00fbr karya al-Hakim dan kitab Man\u00e2qib asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee karya al-Abari. Saya sengaja menggabungkan penuturan dari dua pakar sejarah tersebut secara singkat dan menisbatkan setiap pernyataan kepada pembicaranya. Al-Abari meriwayatkan dengan sanadnya, Ishaq bin Rahawaih berkata, \u201cKetika kami [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[82],"tags":[],"class_list":["post-177","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-debat-antara-syafii-dan-ishaq-bin-rahawaih"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=177"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=177"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=177"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=177"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}