{"id":169,"date":"2025-03-28T00:20:02","date_gmt":"2025-03-28T00:20:02","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/perbuatan-manusia\/"},"modified":"2025-03-28T00:20:02","modified_gmt":"2025-03-28T00:20:02","slug":"perbuatan-manusia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/perbuatan-manusia\/","title":{"rendered":"Perbuatan Manusia"},"content":{"rendered":"<p><strong>Perbuatan Manusia<\/strong><\/p>\n<p>Dalam pengantar kitab ar-Ris\u00e2lah, Syafi\u2019i berkata, \u201cSaya mohon petunjuk-Nya, karena orang yang mendapat petunjuk-Nya tidak akan pernah tersesat.\u201d Sementara Mu\u2019tazilah mengatakan, petunjuk Allah itu berlaku umum, baik kepada orang mu\u2019min maupun orang kafir. Selanjutnya Syafi\u2019i mengatakan, \u201cManusia itu tidak sanggup menciptakan perbuatan-perbuatannya, karena perbuatan manusia adalah hasil ciptaan Allah.\u201d\u00a0 Al-Muzani\u00a0 pernah bertanya kepada Syafi\u2019i, \u201cSiapakah orang-orang Qadariyah itu?\u201d Syafi\u2019i menjawab, \u201cMereka adalah orang-orang yang mengira bahwa Allah itu tidak mengetahui kemaksiatan sampai kemaksiatan itu dilakukan seseorang.\u201d Al-Baihaqi meriwayatkan dari Syafi\u2019i, ketika muazin mengucapkan \u201chayya \u2018alash shal\u00e2t, hayya \u2018alal fal\u00e2h (mari menunaikan salat, mari meraih kemenangan),\u201d maka orang yang mendengarnya disunnahkan untuk mengucapkan \u201cla haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya melainkan atas kekuatan Allah). Ini artinya, manusia tidak mempunyai kekuatan untuk menunaikan ketaatan kepada Allah (salat), kecuali atas pertolongan dan taufik dari Allah Swt.[1]<\/p>\n<p>Meski pendapat Syafi\u2019i tentang Mu\u2019tazilah sudah tampak jelas, namun masih ada saja orang yang menganggapnya sebagai pengikut Mu\u2019tazilah. Bahkan Mu\u2019tazilah sendiri mengklaim Syafi\u2019i sebagai pendukungnya. Sebagaimana ditegaskan oleh al-Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad al-Hamadani, dalam kitab Thabaq\u00e2t al-Mu\u2019tazilah. Ia berkata, \u201cIbrahim bin Yahya al-Madani belajar kepada \u2018Amr bin \u2018Ubaid; dalam hal ini Ibrahim adalah orang Mu\u2019tazilah tulen. Muslim bin Khalid az-Zanji belajar kepada Ghalan. Sementara Syafi\u2019i adalah muridnya Ibrahim bin Yahya dan Muslim bin Khalid.\u00a0 Dengan demikian, Syafi\u2019i adalah pengikut dari dua orang yang mempunyai konsep tentang keadilan dan tauhid Allah (Mu\u2019tazilah), yaitu : Ibrahim dan Muslim.\u201d[2]<\/p>\n<p>Menurut sebagian ulama, alasan Syafi\u2019i dianggap sebagai pengikut Mu\u2019tazilah karena dalam membaca beberapa ayat al-Qur\u2019an, Syafi\u2019i mengikuti cara bacanya Mu\u2019tazilah, seperti dalam beberapa ayat berikut ini:<\/p>\n<p>Pertama, ayat 156 surat al-A\u2019r\u00e2f:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0639\u064e\u0630\u064e\u0627\u0628\u0650\u064a \u0623\u064f\u0635\u0650\u064a\u0628\u064f \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0633\u064e\u0627\u0621<\/p>\n<p>\u201cSiksa-Ku akan Kutimpakan kepada orang yang berbuat dosa.\u201d<\/p>\n<p>Pada ayat ini, Syafi\u2019i membacanya dengan S\u00een kecil (\u0623\u0633\u0627\u0621), sebagai ganti dari Sy\u00een besar (\u0623\u0634\u0627\u0621) \u00a0sebagaimana yang terdapat dalam qir\u00e2\u2019ah masyh\u00fbrah (bacaan yang terkenal). Dalam qir\u00e2\u2019ah masyh\u00fbrah, ayat tersebut berarti bahwa Allah Swt. akan menyiksa siapa pun yang dikehendaki-Nya, baik orang yang berbuat baik maupun berbuat dosa. Sedangkan dalam qir\u00e2\u2019ahnya Syafi\u2019i, ayat tersebut berarti, Allah hanya akan menyiksa orang yang berbuat dosa.<\/p>\n<p>Kedua, ayat 17 dalam surat as-Sab\u00e2\u2019:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0648\u064e\u0647\u064e\u0644\u0652 \u0646\u064f\u062c\u064e\u0627\u0632\u0650\u064a \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0641\u064f\u0648\u0631\u064e<\/p>\n<p>\u201cDan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.\u201d<\/p>\n<p>Dengan membaca kasrah pada huruf Z\u00e2\u2019 dalam kata \u0646\u062c\u0627\u0632\u0650\u0649 dan fathah pada huruf\u00a0 R\u00e2\u2019 kata \u0625\u0644\u0627 \u0627\u0644\u0643\u0641\u0648\u0631\u064e . Maksud ayat ini, mempertegas ancaman kepada para pelaku dosa besar.<\/p>\n<p>Ketiga, ayat 49 surat al-Qamar:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0643\u064f\u0644\u0651\u064f \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u062e\u064e\u0644\u064e\u0642\u0652\u0646\u064e\u0627\u0647\u064f \u0628\u0650\u0642\u064e\u062f\u064e\u0631\u064d<\/p>\n<p>\u201cSesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.\u201d<\/p>\n<p>Syafi\u2019i membaca Rafa\u2019 (dhammah) pada huruf L\u00e2m dalam kata \u0643\u0644\u0651, sehingga kata sesudahnya yaitu kata \u062e\u0644\u0642\u0646\u0627\u0647 menjadi sifat bagi kata \u0643\u0644 \u0634\u064a\u0621. Dengan demikian, secara perkiraan bahasa (taqd\u00eer), ayat tersebut bermakna, segala sesuatu adalah makhluk Kami, yang diciptakan sesuai ukuran. Sementara jika kata \u0643\u0644\u0651\u064e \u0634\u064a\u0621 \u062e\u0644\u0642\u0646\u0627\u0647 \u00a0dibaca dengan Nashab (fathah), maka secara perkiraan bahasa, ayat tersebut berarti, sesungguhnya kami telah menciptakan segala sesuatu sesuai ukuran.[3]<\/p>\n<p>Imam ar-Razi telah membantah berbagai tuduhan yang menganggap Syafi\u2019i sebagai penganut Mu\u2019tazilah. Ia menegaskan, pendapat al-Qadhi Abdul Jabbar sangat lemah, karena orang yang belajar fiqih dan hadis kepada orang Mu\u2019tazilah, bukan berarti muridnya itu menjadi pengikut Mu\u2019tazilah. Sebaliknya, kalau diteliti secara seksama banyak sekali syair dan pendapat Syafi\u2019i yang tegas menolak paham Mu\u2019tazilah. Alasan yang cukup logis adalah Syafi\u2019i mengikuti qir\u00e2\u2019ahnya Mu\u2019tazilah. Namun demikian, riwayat-riwayat tersebut masih dipertanyakan keshahihannya. Kalau riwayatnya shahih, mungkin bisa dijadikan sebagai indikasi bahwa Syafi\u2019i pengikut Mu\u2019tazilah. Tetapi seringnya Syafi\u2019i membantah pemikiran-pemikiran Mu\u2019tazilah merupakan indikasi kuat bahwa Syafi\u2019i bukanlah pengikut Mu\u2019tazilah. Dengan demikian, tuduhan mereka itu tidak bisa dibenarkan.[4]<\/p>\n<p>Imam Abu Hatim ar-Razi menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Muhamad, dari ayahnya, dari ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman. Ia berkata, \u201cSyafi\u2019i telah menjelaskan status Ibrahim bin Abu Yahya dan menegaskan bahwa ia adalah orang Qadariyah.\u201d Sedangkan menurut Abu Muhamad, Syafi\u2019i tidak menjelaskan status Ibrahim bin Abu Yahya. Hanya saja, ia dianggap sebagai rawi pendusta,[5] alasannya karena banyak orang yang tidak suka dengan pemikirannya tentang takdir.[6]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Ibid., halaman 41, 44, dan 46.<br \/>\n[2] Ibid., halaman 50.<br \/>\n[3] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 50.<br \/>\n[4] Ibid., halaman 51.<br \/>\n[5] Syeikh Abdul Ghani Abdul Khaliq berkomentar, \u201cSyafi\u2019i pernah mengatakan bahwa bagi Ibrahim bin Abu Yahya lebih baik jatuh dari gunung daripada harus mendustakan hadis. Ia adalah rawi hadis yang kredibel, bahkan hafalannya lebih unggul daripada ad-Darawardi. Lihat, at-Tahdz\u00eeb, 1\/159 dan 161; dan Man\u00e2qib al-Fakhr, halaman 85. Dengan demikian, bid\u2019ah pemikiran yang dilontarkan oleh Ibrahim bin Abu Yahya tidak mengharuskan periwayatan hadisnya ditolak, karena kredibilitasnya sudah jelas dan orangnya jujur. Sehingga penilaian sebagian ulama yang menganggapnya sebagai pendusta tidak berpengaruh apa-apa. Demikian pula dengan kritikan keras adz-Dzahabi terhadapnya yang disebutkan dalam kitab al-M\u00eez\u00e2n, I\/28, bahwa ia adalah pendusta. Kaidah tersebut tidak bisa diterapkan secara umum, karena Ibrahim hanya berpikiran nyleneh, bukan pendusta, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu as-Subuki dan lainnya.<br \/>\n[6] Abu Hatim ar-Razi, \u00c2d\u00e2b asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee wa Man\u00e2qibuhu, (T.tp. : as-Sa\u2019adah, 1953), halaman 223.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perbuatan Manusia Dalam pengantar kitab ar-Ris\u00e2lah, Syafi\u2019i berkata, \u201cSaya mohon petunjuk-Nya, karena orang yang mendapat petunjuk-Nya tidak akan pernah tersesat.\u201d Sementara Mu\u2019tazilah mengatakan, petunjuk Allah itu berlaku umum, baik kepada orang mu\u2019min maupun orang kafir. Selanjutnya Syafi\u2019i mengatakan, \u201cManusia itu tidak sanggup menciptakan perbuatan-perbuatannya, karena perbuatan manusia adalah hasil ciptaan Allah.\u201d\u00a0 Al-Muzani\u00a0 pernah bertanya kepada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[70],"tags":[],"class_list":["post-169","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-perbuatan-manusia"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}