{"id":158,"date":"2025-03-27T18:24:29","date_gmt":"2025-03-27T18:24:29","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pandangan-syafii-terhadap-syiah\/"},"modified":"2025-03-27T18:24:29","modified_gmt":"2025-03-27T18:24:29","slug":"pandangan-syafii-terhadap-syiah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pandangan-syafii-terhadap-syiah\/","title":{"rendered":"Pandangan Syafi\u2019i terhadap Syi\u2019ah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pandangan Syafi\u2019i terhadap Syi\u2019ah<\/strong><\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i tidak sependapat dengan Syi\u2019ah dalam masalah-masalah akidah dan pemikiran-pemikiran mereka. Hal ini disebabkan beberap alasan, di antaranya: pertama, Syafi\u2019i meriwayatkan dari Sufyan bin \u2018Uyaynah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, \u201cIkutilah dua sahabat sesudahku, yaitu Abu Bakar dan \u2018Umar.\u201d[1] Kedua, diriwayatkan dari a-Rabi\u2019, dari Syafi\u2019i. Ia berkata, \u201cPara khalifah itu ada lima; empat sudah terkenal dan yang kelima adalah \u2018Umar bin \u2018Abdul \u2018Aziz. Kami memasukkan \u2018Umar bin \u2018Abdul \u2018Aziz karena ketegasannya dalam menegakkan keadilan dan riwayat hidupnya yang sangat baik.\u201d[2] Ketiga, Harmalah meriwayatkan dari Syafi\u2019i, ia berkata, \u201cSetiap orang Quraisy yang berhasil memenangkan kekhalifahan meskipun dengan pedang, maka ia adalah khalifah yang sah.\u201d[3] Keempat, sebagian ulama berkata kepada Syafi\u2019i, \u201cHanya kamu keturunan Bani Hasyim yang lebih mengutamakan Abu Bakar dan \u2018Umar daripada \u2018Ali.\u201d Syafi\u2019i menjawab, \u201c\u2019Ali adalah anak dari paman dan bibiku, dan saya sendiri adalah keturunan Bani \u2018Abd Manaf, sedangkan kamu keturunan Bani \u2018Abdud Dar. Jika permasalahannya memang seperti yang kamu katakana (\u2018Ali lebih utama dari Abu Bakar dan \u2018Umar, penerj.), maka dengan nasab yang baik itu \u2018Ali jelas lebih utama. Tetapi permasalahannya tidak seperti yang kamu katakan.\u201d<\/p>\n<p>Meskipun pandangan Syafi\u2019i terhadap \u2018Ali sangat objektif, tapi masih saja ada orang-orang yang mencurigai akidahnya dan menuduhnya sebagai pengikut Rafidhah.[4] Anehnya lagi, orang-orang Rafidhah sendiri menganggap Syafi\u2019i sebagai pengikut mereka. Mereka berdalil dengan beberapa alasan berikut ini:<\/p>\n<p>a). Dalam beberapa bait syairnya, Syafi\u2019i menampakkan kecintaannya kepada golongan tersebut (Rafidhah). Sebagaimana terlihat dalam syair-syair berikut ini:<\/p>\n<p>\u201cDalam beragama, saya adalah pengikut Syi\u2019ah. Asal keturunanku dari Mekah # sementara tanah kelahiranku \u2018Asqalan.<\/p>\n<p>Tanah kelahiranku adalah tempat terbaik dan membanggakan # dan madzhabku adalah madzhab terbaik yang dikagumi manusia.\u201d[5]<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dalam syair lainnya disebutkan:<\/p>\n<p>\u201cWahai musafir kelana, singgahlah di tanah subur dekat Mina # dan serulah orang yang tinggal di masjid Khaif dan Nahidh Mereka akan terpana, jika orang yang haji telah bertolak ke Mina # salam jumlah yang banyak seperti berbenturannya gelombang laut yang dahsyat<\/p>\n<p>Jika kecintaan kepada keluarga Muhammad adalah ciri orang Rafidhah # maka saksikanlah, wahai jin dan manusia bahwa aku adalah pengikut Rafidhah.\u201d[6]<\/p>\n<p>b). Yahya bin Ma\u2019in menuduh Syafi\u2019i sebagai pengikut Rafidhah. Ia berkata, \u201cSaya telah mengkaji kitab Syafi\u2019i mengenai s\u00eerah dan dalam kitab tersebut banyak dijelaskan mengenai \u2018Ali. Maka, hal ini membuktikan kebenaran tuduhanku.\u201d[7]<\/p>\n<p>c). Ketika di Yaman, Syafi\u2019i bergabung dengan orang-orang \u2018Alawiyah dan mendukung mereka. Sebab itulah khalifah Harun ar-Rasyid menangkapnya, hingga terjadilah apa yang seharusnya terjadi.[8]<\/p>\n<p>Imam Fakhrur Razi telah membantah tuduhan-tuduhan tersebut. Ia mengatakan, klaim bahwa Syafi\u2019i adalah pengikut Rafidhah tidak bisa dibenarkan. Karena terbukti, Syafi\u2019i mengakui sahnya kekhilafahan Khulafa\u2019ur Rasyidin dan sering mengkritik orang-orang Rafidhah. Yunus bin \u2018Abdul A\u2019la berkata, saya mendengar Syafi\u2019i berkata, \u201cSaya memperbolehkan kesaksian orang-orang yang suka bermaksiat, keciali orang-orang Rafidhah, karena kesaksian mereka kurang tumpang tindih.\u201d Lebih lanjut Yunus mengatakan bahwa Syafi\u2019i sangat mencela orang-orang Rafidhah dan menganggapnya sebagai golongan yang paling buruk.[9] Adapun kecintaan dan kesalutan Syafi\u2019i kepada \u2018Ali, maka hal itu tidak berarti Syafi\u2019i menjadi orang yang tercela, bahkan seharusnya ia mendapatkan pujian dan penghargaan yang setinggi-tingginya. [10]<\/p>\n<p>Adapun tuduhan Yahya bin Ma\u2019in dapat dijawab dengan sebuah riwayat yang disampaikan oleh al-Baihaqi dari Abu Daud. Dalam riwayat tersebut dikatakan, Ahmad bin Hanbal diberitahukan bahwa Yahya bin Ma\u2019in menganggap Syafi\u2019i sebagai orang Syi\u2019ah. Lalu Ahmad mengklarifikasikannya dan bertanya kepada Yahya bin Ma\u2019in, \u201cBagaimana kamu mengetahui hal itu?\u201d Yahya menjawab, \u201cSaya telah membaca karangan Syafi\u2019i tentang peperangan melawan para pemberontak. Saya temukan dari awal sampai akhir pembahasan, Syafi\u2019i berdalil dengan \u2018Ali bin Abi Thalib.\u201d Ahmad berkata, \u201cSungguh aneh kamu ini. Kalau bukan dengan \u2018Ali, dengan siapa lagi Syafi\u2019i harus berdalil. Bukankah orang pertama dari umat ini yang menghadapi kasus pemberontakan adalah \u2018Ali bin Abi Thalib?\u201d Dengan jawaban Ahmad ini, Yahya pun terdiam dan tidak bisa membantah lagi. Di samping itu, Yahya bin Ma\u2019in adalah orang yang sangat benci kepada Syafi\u2019i. Ia juga sering mencemooh Ahmad bin Hanbal, karena sering mengagungkan Syafi\u2019i. Sikap Yahya bin Ma\u2019in yang sering mencela dan mecemooh orang lain ini, menyebabkan dirinya sering dikritik oleh banyak orang. Dalam syair disebutkan:<\/p>\n<p>\u201cIbnu Ma\u2019in suka mencela tokoh-tokoh Islam # Kelak, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya itu dan Allah akan menjadi saksinya<\/p>\n<p>Jika ia benar, maka celaan itu dianggap ghibah # Jika ia berdusa, maka siksa pedih siap menjemputnya.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketika banyak orang yang mengira Syafi\u2019i adalah pengikut Syi\u2019ah, maka ia kembali menyampaikan syair-syairnya:<\/p>\n<p>\u201cJika kami mengagungkan \u2018Ali, maka menurut orang bodoh # kami adalah pengikut Rafidhah<\/p>\n<p>Tapi jika kamu mengunggulkan Abu Bakar # Maka kami dianggap sebagai pendukungnya.<\/p>\n<p>Kalau begitu, saya masih berstatus pengikut Rafidhah dan pendukung Abu Bakar # Saya akan terus menjalankan ajaran agama meski harus berjalan di atas pasir.\u201d[11]<\/p>\n<p>Demikianlah, pandangan Imam Syafi\u2019i terhadap Syi\u2019ah.<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m al-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, halaman 48.<br \/>\n[2] Ibid., halaman 49.<br \/>\n[3] Ibid.<br \/>\n[4] Para ulama masih berbeda pendapat mengenai sebab orang-orang Rafidhah dinamakan golongan Rafidhah. Menurut satu pendapat, mereka dinamakan Rafidhah karena mereka menolak pandangan para sahabat yang sepakat untuk membai\u2019at Abu Bakar dan \u2018Umar. Dengan pengertian seperti ini, kata Rafidhah sinonim dengan kata Syi\u2019ah. Pendapat lain menyatakan, mereka dinamakan Rafidhah karena pada awalnya mereka menolak Zaid bin \u2018Ali yang melarang mereka mencela Abu Bakar dan \u2018Umar. Dengan makna seperti ini, Rafidhah adalah bagian dari golongan Syi\u2019ah yang memperbolehkan penghinaan kepada sahabat.<\/p>\n<p>Dalam kitab Mukhtashar al-Farq baina al-Firaq, Ustadz Abdur Razaq bin Rizqullah bin Abu Bakar bin Khalaf ar-Rus\u2019ani menyatakan, kelompok-kelompok Syi\u2019ah Zaidiyah sepakat bahwa pelaku dosa besar dari umat Nabi Muhamad Saw. kekal dalam neraka. Mereka dinamakan kelompok Zaidiyah karena mereka mengauki imamahnya Zaid bin \u2018Ali dan putranya (Yahya bin Zaid). Pada saat itu Zaid diangkat sebagai imam oleh lima belas ribu penduduk Kufah. Kemudian mereka melakukan penentangan kepada Gubernur Irak, Yusuf bin \u2018Umar ats-Tsaqafi, yang diangkat oleh Hisyam bin Abdul Malik. Ketika peperangan di antara mereka teus berlangsung, mereka bertanya kepada Zaid, \u201cBagaimana pendapatmu mengenai Abu Bakar dan \u2018Umar yang telah menzalimi kakekmu?\u201d Zaid menjawab, \u201cSaya dan ayahku menganggap keduanya adalah orang baik. Saya melakukan pemberontakan kepada Bani Umayyah karena mereka telah membunuh kakekku, \u2018Ali dan al-Husain. Kemudian mereka menyerbu kota Madinah dan menghujani Baitullah dengan batu dan api.\u201d Setelah mendengar jawaban ini, mereka meninggalkan Zaid. Lalu Zaid berkata kepada mereka, \u201cKalian telah meninggalkanku (rafadhtum\u00fbn\u00ee).\u201d Karena itulah, para pengikut Zaid bin \u2018Ali dinamakan kelompok Rafidhah.<br \/>\n[5] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 51 dan 52.<br \/>\n[6] Ibid.<br \/>\n[7] Ibid.<br \/>\n[8] Ibid.<br \/>\n[9] Ibid.<br \/>\n[10] Ibid.<br \/>\n[11] Ibid.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pandangan Syafi\u2019i terhadap Syi\u2019ah Imam Syafi\u2019i tidak sependapat dengan Syi\u2019ah dalam masalah-masalah akidah dan pemikiran-pemikiran mereka. Hal ini disebabkan beberap alasan, di antaranya: pertama, Syafi\u2019i meriwayatkan dari Sufyan bin \u2018Uyaynah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, \u201cIkutilah dua sahabat sesudahku, yaitu Abu Bakar dan \u2018Umar.\u201d[1] Kedua, diriwayatkan dari a-Rabi\u2019, dari Syafi\u2019i. Ia berkata, \u201cPara khalifah itu ada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[55],"tags":[],"class_list":["post-158","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pandangan-syafii-terhadap-syiah"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}