{"id":157,"date":"2025-03-27T18:22:33","date_gmt":"2025-03-27T18:22:33","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pengaruh-syiah-terhadap-fiqih-islam\/"},"modified":"2025-03-27T18:43:19","modified_gmt":"2025-03-27T18:43:19","slug":"pengaruh-syiah-terhadap-fiqih-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pengaruh-syiah-terhadap-fiqih-islam\/","title":{"rendered":"Pengaruh Syi\u2019ah terhadap Fiqih Islam"},"content":{"rendered":"<p><strong>Pengaruh Syi\u2019ah terhadap Fiqih Islam<\/strong><\/p>\n<p>Fiqih Syi\u2019ah sebenarnya berpedoman pada al-Qur\u2019an dan Hadis, serta memiliki orientasi yang mirip dengan fiqih Sunni. Adanya prasangka buruk terhadap golongan lain sangat mempengaruhi pemikiran fiqih Syi\u2019ah. Ada beberapa aspek yang membedakan antara fiqih Syi\u2019ah dan fiqih Sunni, yaitu: pertama, Syi\u2019ah menolak keras ush\u00fbl[1] dan fur\u00fb\u2019[2] Sunni yang bertentangan dengan pemikiran-pemikiran mereka. Untuk itu, mereka menetapkan ush\u00fbl dan fur\u00fb\u2019 sendiri yang sesuai dengan akidah Syi\u2019ah. Mereka tidak mau menggunakan ijma\u2019 (konsensus ulama) dan qiyas (analogi) yang lazim digunakan dalam fiqih Sunni. Menurut mereka, penggunaan ijma\u2019 berarti mengharuskan Syi\u2019ah mengakui pendapat para sahabat dan para tabi\u2019in yang bukan kalangan Syi\u2019ah. Sedangkan penggunaan qiyas dianggap bertentangan dengan dasar pemikiran Syi\u2019ah yang menegaskan bahwa agama tidak bersumber dari akal, tetapi berasal dari ajaran Allah, rasul-Nya, dan para imam yang ma\u2019sh\u00fbm.[3] Kedua, mereka hanya mau mengakui hadis atau pendapat yang berasal dari para imam Syi\u2019ah, ulama Syi\u2019ah, dan periwayat Syi\u2019ah. Dalam menafsirkan al-Qur\u2019an diharuskan dengan penafsiran yang sesuai dengan prinsip-prinsip akidah Syi\u2019ah. Sikap seperti ini jelas mempersepit keluwesan dan keluasan syari\u2019at Islam.[4]<\/p>\n<p>Dua dasar fiqih Syi\u2019ah di atas menyebabkan fiqih Syi\u2019ah berbeda dengan fiqih Sunni dalam beberapa masalah penting, di antaranya: a). mereka memperbolehkan nikah mut\u2019ah. Bahkan sebagian imam Syi\u2019ah ada yang bersikap sangat fanatik dan menganggap mut\u2019ah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah (qurbah). Dalam satu riwayat disebutkan, imam ash-Shadiq berkata, \u201cOrang yang tidak menghalalkan nikah mut\u2019ah bukan termasuk golongan kami.\u201d Mungkin sebab yang mendorong Syi\u2019ah menghalalkan nikah mut\u2019ah adalah adanya larangan dari \u2018Umar terhadap nikah mut\u2019ah. Karena orang-orang Syi\u2019ah sangat membenci kepribadian, tindakan, dan pemikiran-pemikiran \u2018Umar. Untuk memperbolehkan nikah mut\u2019ah, mereka berdalil dengan firman Allah:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0641\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0645\u0652\u062a\u064e\u0639\u0652\u062a\u064f\u0645 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0641\u064e\u0622\u062a\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0623\u064f\u062c\u064f\u0648\u0631\u064e\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e<\/p>\n<p>\u201cMaka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna),\u201d (QS. An-Nisa\u2019 [4] : 24).<\/p>\n<p>Syeikh Muhamad \u2018Ali as-Sa\u2019is telah membantah pemikiran Syi\u2019ah dan menjelaskan kekeliruan mereka tentang nikah mut\u2019ah yang didasarkan pada ayat di atas. Ia mengatakan bahwa menurut mayoritas ulama, ayat di atas ditujukan untuk menjelaskan tentang nikah secara resmi (bukan nikah mut\u2019ah) dan kewajiban suami memberikan mahar secara sempurna kepada istrinya jika suami sudah menggauli isterinya. Pemahaman seperti ini dikuatkan oleh konteks ayat tersebut yang sedang membicarakan nikah dengan akad yang lumrah, setelah sebelumnya dijelaskan tentang jenis-jenis wanita yang haram dinikahi. Di samping itu, penyebutan kata al-mahar (maskawin) dengan istilah ajr (bayaran) bukan berarti bayaran yang biasa berlaku pada nikah mut\u2019ah. Penggunaan kata ajr yang berarti mahar digunakan juga dalam ayat-ayat lainnya, seperti dalam firman Allah:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u0641\u064e\u0627\u0646\u0643\u0650\u062d\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0628\u0650\u0625\u0650\u0630\u0652\u0646\u0650 \u0623\u064e\u0647\u0652\u0644\u0650\u0647\u0650\u0646\u0651\u064e \u0648\u064e\u0622\u062a\u064f\u0648\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0623\u064f\u062c\u064f\u0648\u0631\u064e\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0639\u0652\u0631\u064f\u0648\u0641\u0650<\/p>\n<p>\u201cKarena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut,\u201d (QS. an-Nisa\u2019 [4] : 25).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>dan firman-Nya:<\/p>\n<p dir=\"rtl\">\u064a\u064e\u0627 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064f \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0623\u064e\u062d\u0652\u0644\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0643\u064e \u0623\u064e\u0632\u0652\u0648\u064e\u0627\u062c\u064e\u0643\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0627\u062a\u0650\u064a \u0622\u062a\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e \u0623\u064f\u062c\u064f\u0648\u0631\u064e\u0647\u064f\u0646\u0651\u064e<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cHai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya,\u201d (QS. Al-Ahzab [33] : 50).<\/p>\n<p>Nikah mut\u2019ah memang pernah diperbolehkan pada masa awal Islam, karena situasi darurat. Kemudian Nabi Saw. melarangnya dan larangan tersebut sudah menjadi ijma\u2019 ulama. Bahkan Ibnu \u2018Abbas sendiri menarik kembali pendapatnya yang memperbolehkan nikah mut\u2019ah, karena mayoritas para sahabat sepakat melarangnya. Sayangnya, semua bukti itu tidak berarti apa-apa bagi Syi\u2019ah, karena mereka tetap memperbolehkan nikah mut\u2019ah.[5]<\/p>\n<p>b). Mereka mengingkari pendapat tentang \u2018aul dalam pembagian hukum waris, karena ide tersebut dicetuskan oleh \u2018Umar. Dalam pembagian waris, mereka lebih mengutamakan isteri dan ayah\/ibu daripada dua anak perempuan, dan mendahulukan kerabat daripada ahli waris yang berstatus \u2018ashabah. Menurut mereka, putra paman seayah lebih didahulukan bagian warisnya daripada paman seayah. Mungkin maksud pernyataan ini adalah mendahulukan \u2018Ali bin Abi Thalib ketimbang al-\u2018Abbas dalam hal mewarisi Rasulullah Saw., karena status \u2018Ali adalah putra paman seayah dan al-\u2018Abbas adalah paman seayah. Mereka juga berpendapat, harta para nabi juga harus diwariskan, dan masih banyak lagi pendapat-pendapat Syi\u2019ah yang bertolak belakang dengan Sunni dalam berbagai permasalahan.[6]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Ush\u00fbl masalah-masalah yang berkaitan dengan pokok ajaran agama Islam, seperti keimanan, kenabian, dan sebagainya, penerj.<br \/>\n[2] Fur\u00fb\u2019 masalah-masalah yang berhubungan dengan ajaran-ajaran agama yang bersifat cabang, seperti fiqih dan sebagainya, penerj.<br \/>\n[3] Profesor Ahmad Amin, Dhuha al-Isl\u00e2m, Op. Cit., III\/254-255.<br \/>\n[4] Ibid.<br \/>\n[5] Muhamad \u2018Ali as-Sa\u2019is, T\u00e2r\u00eekh al-Fiqh al-Isl\u00e2m\u00ee, (T.tp. : Wadi al-Muluk, t.th), halaman 68.<br \/>\n[6] Profesor Ahmad Amin, Dhuha al-Isl\u00e2m, Op. Cit., III\/260-261.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengaruh Syi\u2019ah terhadap Fiqih Islam Fiqih Syi\u2019ah sebenarnya berpedoman pada al-Qur\u2019an dan Hadis, serta memiliki orientasi yang mirip dengan fiqih Sunni. Adanya prasangka buruk terhadap golongan lain sangat mempengaruhi pemikiran fiqih Syi\u2019ah. Ada beberapa aspek yang membedakan antara fiqih Syi\u2019ah dan fiqih Sunni, yaitu: pertama, Syi\u2019ah menolak keras ush\u00fbl[1] dan fur\u00fb\u2019[2] Sunni yang bertentangan dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[54],"tags":[],"class_list":["post-157","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pengaruh-syiah-terhadap-fiqih-islam"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":167,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157\/revisions\/167"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}