{"id":141,"date":"2025-03-27T08:44:04","date_gmt":"2025-03-27T08:44:04","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pengaruh-kebudayaan-persia-terhadap-kebudayaan-arab\/"},"modified":"2025-03-27T08:44:04","modified_gmt":"2025-03-27T08:44:04","slug":"pengaruh-kebudayaan-persia-terhadap-kebudayaan-arab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/pengaruh-kebudayaan-persia-terhadap-kebudayaan-arab\/","title":{"rendered":"Pengaruh Kebudayaan Persia terhadap Kebudayaan Arab"},"content":{"rendered":"<p>Islam pertama kali muncul di Mekah al-Mukarromah, pusat Jazirah Arabia. Allah Swt. menghendaki bahasa Arab sebagai bahasa resmi agama Islam. Sebagaimana Allah Swt. telah memilih orang Arab (Muhamad Saw.) sebagai pembawa agama terakhir itu. Pada saat itu, bangsa Arab telah memiliki kebudayaan yang cukup maju, namun belum mempunyai kekuatan pendobrak yang dapat\u00a0 mengantarkannya pada puncak kebudayaan dan menjaganya dari kepunahan. Sehingga ketika terjadi benturan kebudayaan, tidak menyebabkan budaya itu hilang. Ada tiga kebudayaan lain yang sangat dominant, yaitu: kebudayaan Yunani, Persia dan India. Untuk menghadapi persaingan kebudayaan, umat Islam harus mampu mengembangkan, memajukan, merubah, memperbaiki, mengukuhkan, dan menguatkan akar-akar kebudayaan Arab, baik di bidang seni, ilmu pengetahuan, dan spiritualitas di bawah panji dakwah Islamiyah.<\/p>\n<p>Karena itu, Allah Swt. menurunkan kitab suci-Nya dalam bahasa Arab yang jelas dan fasih, sebagai upaya mengembangkan dan mengukuhkan bahasa pilihan ini.Akhirnya terbukti, kitabullah itu (al-Qur\u2019an) mampu memposisikan diri di puncak kesempurnaan dan bernilai sastera tinggi. Bahasa al-Qur\u2019an enak didengar, susunan katanya teratur dan penuh makna. Al-Qur\u2019an mampu mencengangkan para pujangga dan pakar sastera saat itu, seperti al-Walid bin al-Mughirah dan lainnya. Al-Qur\u2019an adalah mu\u2019jizat\u00a0 yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun. Allah Swt. menantang orang-orang kafir yang pakar sastera untuk membuat satu perkataan yang mirip al-Qur\u2019an dan mereka tidak sanggup membuatnya. Demikianlah Islam membangun kebudayaan Arab agar menjadi kebudayaan Islam. Karena itu, kita harus mampu mengembangkan, memajukan, dan menguatkannya, baik di bidang seni, ilmu pengetahuan, maupun spiritualitas. Hingga menjadi kebudayaan maju yang menjadi panutan bagi kebudayaan-kebudayaan lainnya.<\/p>\n<p>Islam mulai mengembangkan sayapnya di wilayah Jazirah Arab. Kebudayaan Islam mengalami persentuhan dengan kebudayaan lain untuk pertama kalinya di masa Rasulullah Saw., yaitu dengan kebudayaan Yahudi dan Nashrani di Madinah, Yaman dan Najran. Kemudian bersentuhan dengan kebudayaan Persia, akibat Salman al-Farisi masuk Islam. Dialah orang yang mengusulkan pembuatan parit kepada Rasulullah Saw. pada perang Khandaq tahun ke \u2013 5 Hijriyah. Pada masa kekhalifahan \u2018Umar, Irak dan Iran (Persia) yang merupakan pusat kebudayaan Persia, berhasil dikuasai. Islam juga mampu menaklukkan kebudayaan Yunani dan Romawi yang berada di Siria, Palestina, Mesir, dan Alexandria.<\/p>\n<p>Keberhasilan Islam melakukan ekspansi menjadikan kebudayaan Arab Islami sebagai kiblat bagi kebudayaan Romawi, Yunani, Persia, India, dan Cina. Namun demikian, tetap saja terjadi persaingan antar kebudayaan tersebut, bahkan sempat mempengaruhi kebudayaan Islam. Pada masa Khulafa\u2019ur Rasyidin kebudayaan Arab masih terjaga dengan baik dan tidak terpengaruh. Strateginya adalah tidak mengadopsi sistem atau peraturan yang berasal dari budaya lain, kecuali dalam kasus-kasus tertentu dan dalam keadaan darurat. Atas dasar inilah, Khalifah \u2018Umar ra. menerapkan sistem kesekretariatan Negara yang diadopsi dari budaya Persia.<\/p>\n<p>Selanjutnya pada masa Bani \u2018Umayyah, sedikit demi sedikit budaya asing mulai merambah budaya Islam. Mereka membangung kantor pos pada masa Mu\u2019awiyah, menerapkan sistem pengorganisasian militer, yaitu dengan cara membagi pasukan ke dalam lima battalion. Kaum muslimin juga mulai tertarik mempelajari ilmu kedokteran dan ilmu kimia yang berasal dari budaya Yunani.\u00a0 Khalid bin Yazid bin Mu\u2019awiyah adalah orang pertama yang berinisiatif menerjemahkan buku-buku kedokteran dan kimia ke dalam bahasa Arab. Kemudian ia membentuk satu tim yang terdiri dari orang-orang Yunani yang tinggal di Mesir. Mereka ditugaskan untuk menerjemahkan buku-buku Yunani dan Qibthiyah tentang ilmu kimia terapan.<\/p>\n<p>Gencarnya upaya penerjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab, bukan berarti budaya Islam menjadi tersisih. Kebudayaan Arab Islam pada masa Bani Umayyah masih terpelihara dengan baik, karena para khalifah Bani Umayyah masih fanatik terhadap budaya Arab. Dalam menjalankan roda pemerintahan yang terbentang dari tembok Cina di Timur sampai samudera Athlantik di Barat, mereka masih memperhatikan citra kearabannya. Meskipun demikian, agama Islam ditegakkan atas dasar persamaan hak antara orang Arab dan non-Arab. Demikianlah eksistensi kebudayaan asing di masa Khulafa\u2019ur Rasyidin dan Bani Umayyah.<\/p>\n<p>Selanjutnya ketika Bani \u2018Abbas berhasil menduduki kursi kekhalifahan yang didukung penuh oleh orang-orang Persia, maka kesempatan budaya asing \u2013khususnya budaya Persia-\u00a0 masuk ke dalam budaya Islam semakin terbuka lebar. Kebudayaan Persia masuk dengan bebas seperti air yang mengalir tanpa adanya pembendung. Akhirnya terjadi akulturasi budaya antara kebudayaan Arab dan Persia. Percampuran dua budaya ini melahirkan budaya baru yang berbeda sama sekali dengan budaya asalnya.[1]<\/p>\n<p>Umumnya, akulturasi budaya itu terjadi melalui dua cara, yaitu:<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Cara Langsung. Yaitu melalui interaksi dan pergaulan, sebagaimana dua budaya yang beda kumpul dalam satu lingkungan atau sebagaimana orang Arab menikah dengan orang Persia. Cara yang pertama ini biasanya berhasil dengan sempurna melalui interaksi dengan hal-hal yang inderawi seperti bahasa, musik, nyanyian, adat, tradisi, dan lain sebagainya. Hal-hal seperti ini biasanya mudah diterima serta tidak memerlukan penalaran yang logis atau penafsiran agama.<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Cara Tidak Langsung. Yaitu melalui proses transformasi budaya atau penerjemahan buku-buku. Cara kedua ini akan berhasil dengan baik, jika didukung dengan aktifitas intelektual, seperti penerjemahan buku-buku filsafat, kedokteran, dan logika. Proses ini membutuhkan pemikiran mendalam dan kajian ilmiah yang intens. Percampuran budaya dari dua agama yang berbeda membutuhkan penafsiran dan penjelasan dari syari\u2019at Islam.<\/p>\n<p>Gerakan penerjemahan besar-besaran ke dalam bahasa Arab merupakan revolusi pemikiran, budaya, dan bahasa yang paling spektakuler dalam sejarah peradaban manusia. Bahkan revolusi ini mengalahkan revolusi yang pernah terjadi di Eropa pada abad ke 15 M.[2] Dengan demikian, pada awal munculnya Islam dan pada masa Dinasti Umawiyyah, bangsa Arab hanya memperhatikan kemajuan di bidang ilmu-ilmu al-Qur\u2019an, fiqih, ilmu kalam, hadis, tafsir, dan bahasa.\u00a0 Adapun ilmu-ilmu keduniawian seperti ilmu kedokteran, psikologi, arsitektur, matematika, fisika, kimia, musik, dan filsafat belum mendapatkan perhatian yang serius, bahkan belum dikenal oleh bangsa Arab.[3] Orang-orang Arab baru mengenal ilmu-ilmu tersebut berkat adanya proyek penerjemahan besar-besaran itu.<\/p>\n<p>Penerjemahan buku-buku Yunani memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran Islam. Interaksi kaum muslimin dengan filsafat memunculkan adanya sikap skeptis (ragu) dalam masalah akidah agama. Kalau dulu, ajaran-ajaran agama diterima secara bulat-bulat, tapi sekarang harus diperdebatkan dulu. Karena itulah, muncul banyak aliran teologi Islam.[4]<\/p>\n<p>Belum genap 80 tahun dari keruntuhan Dinasti Umayah, gerakan penerjemahan Arab telah berhasil melakukan tranformasi budaya, karena sebagian besar ilmu-ilmu Persia dan Yunani telah\u00a0 mampu diserap oleh bangsa Arab. Hal ini memicu para pemikir Arab menulis banyak karya ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. Tujuannya adalah mengenalkan pemikiran rasional pada dunia Islam. Dengan demikian, terbentanglah jalan untuk mengembangkan pemikiran Islam oleh generasi berikutnya.[5]<\/p>\n<p>Budaya Persia, India, dan Yunani merupakan tiga budaya maju yang cukup berpengaruh. Oleh karena itu, kita akan membahas seberapa besar pengaruh Tiga Budaya besar itu terhadap budaya Arab, serta pengaruhnya terhadap\u00a0 akidah dan madzhab umat Islam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>1. Pengaruh Kebudayaan Persia terhadap Kebudayaan Arab<\/strong><\/p>\n<p>Penyebaran budaya Persia pada masa itu didukung oleh dua faktor. Pertama, sebagian besar jabatan menteri diduduki oleh orang-orang Persia. Menteri merupakan posisi strategis, karena bertugas sebagai pengganti khalifah sesuai dengan bagian tugasnya masing-masing, seperti bidang politik, keuangan, militer, serta urusan koresponden yang menangani surat masuk atau surat keluar, dan penandatanganan perjanjian-perjanjian penting.\u00a0 Jabatan menteri ini harus diisi oleh orang yang kompeten dan mempunyai kapabilitas di bidang politik, administrasi, dan menejeman yang baik. Dalam hal ini, orang Persia sangat berpengalaman, karena mereka menguasai\u00a0 dengan baik segi-segi menejeman pemerintahan. Sementara orang Arab hanya dikenal sebagai orang yang pandai\u00a0 berdiplomasi.<\/p>\n<p>Dalam catatan sejarah disebutkan, mayoritas menteri terpilih adalah orang-orang yang memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan komunikasi politik. Abu Salamah al-Khalal contohnya, dikenal sebagai orang ahli masalah jurnalistik, syair-syair, sejarah, dan komunikasi politik. Sementara masyarakat al-Baramikah adalah orang-orang yang berpartisipasi langsung dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan sastera. Al-Fadhl bin Sahl dikenal sebagai orang yang mempunyai dua keahlian, yaitu ahli memainkan pedang dan lihai menggoreskan pena.<\/p>\n<p>Setiap menteri dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh satu sekretaris atau lebih dan umumnya mereka berasal dari Persia juga. Sesuai dengan tugas dan kedudukannya, para sekretaris itu adalah orang-orang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap keadaan sosial kemasyarakatan dan perkembangan peradaban. Peranan mereka sangat penting dalam proses transformasi ilmu pengetahuan dan budaya, khususnya kebudayaan mereka sendiri, yaitu Persia ke dalam budaya Arab. Mereka juga telah berhasil mengawin silangkan kesusasteraan Arab dan Persia. [6]<\/p>\n<p>Kedua, Perpindahan Ibukota Negara dari Damaskus ke Baghdad. Pada masa kekuasaan Bani Umayyah, ibukota negara Islam berada di Damaskus. Masyarakat Siria adalah para pendukung setia Bani Umayyah. Perpindahan ibukota kurang mendapat simpati dari warga Siria. Di samping itu, dulunya Baghdad merupakan ibukota kerajaan-kerajaan kuno seperti Babilonia dan Madain, yang terletak di Khurasan, dekat dengan pusat dakwah Bani \u2018Abbas. Karena itu, Baghdad dianggap sebagai tempat strategis yang menghubungkan antara masyarakat Persia dan Saman. Sebelum datangnya Islam, wilayah ini dikuasai oleh Dinasti Saman dari Persia. Kekuasaan itu berlangsung dalam masa yang cukup lama, sampai akhirnya direbut oleh kaum muslimin pada masa khalifah \u2018Umar bin al-Khaththab. Inilah yang menjadikan Irak sebagai pusat peradaban Persia.[7]<\/p>\n<p>Pengaruh budaya Persia terhadap budaya Arab tampak dalam banyak hal, di antaranya:<\/p>\n<p>a.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Sebagian besar kehidupan sosial pada masa Dinasti \u2018Abbasiyah diwarnai dengan budaya Persia yang sangat kental. Mereka meniru aturan-aturan dalam berorganisasi. Dalam setiap organisasi atau majelis pengajian, biasanya dilengkapi dengan selingan yang diisi dengan nyanyian, senda gurau, dan sebagainya. Sebagai contoh, al-Hadi senang mendengarkan musik dan sering mengundang para biduwan.[8] Harun ar-Rasyid terkenal memiliki hobi mendengarkan nyanyian dan instrumen musik, serta menghabiskan dana besar untuk memberikan hadiah kepada para penyayi dan pemusik.<\/p>\n<p>b.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Banyak digandrunginya model-model pakaian budaya Persia di lingkungan istana Bani \u2018Abbas. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Fund Crimer bahwa pengaruh budaya Persia di istana para khalifah mencapai puncaknya pada masa kekuasaan khalifah al-Hadi, ar-Rasyid, dan al-Ma\u2019mun. Hal ini terbukti dengan dijadikannya busana-busana Persia sebagai pakaian resmi negara. Bahkan Abu Ja\u2019far al-Manshur mengharuskan pemakaian qalansuwah \u2013topi hitam yang berbentuk kerucut panjang- pada acara-acara formal.[9]<\/p>\n<p>c.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Diadakannya perayaan tahun baru Neiruz.[10] Neiruz merupakan nama bagi satu musim di zaman dulu. Orang-orang Persia merayakannya untuk menyambut kedatangan tahun baru, yang jatuh tepat pada awal tahun menurut mereka. Tepatnya pada permulaan musim semi saat matahari memasuki gugus bintang Aries. Sebelumnya kaum muslimin menolak perayaan tahun baru Persia itu, namun perayaan itu kembali diadakan pada masa Bani \u2018Abbas.[11]<\/p>\n<p>d.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Banyaknya kosa kata bahasa Persia yang terserap ke dalam bahasa Arab. Ketika orang-orang Arab mendengar istilah-istilah baru dalam bahasa Persia yang tidak ada padanannya dalam bahasa Arab, maka istilah-istilah tersebut diserap mentah-mentah atau terkadang diarabkan lebih dulu agar sesuai dengan dialek Arab.[12]<\/p>\n<p>e.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Adanya gerakan penerjemahan buku-buku Persia ke dalam bahasa Arab. Bangsa Persia merupakan bangsa yang sudah lama mengenal ilmu pengetahuan dan peradabannya maju, karena besar dan luasnya kekuasaan Persia. Mereka telah mempunyai buku-buku tentang astrologi, arsitektur, geografi, astronomi, dan aritmetika. Karena itu, orang-orang yang memiliki keahlian dalam bahasa Persia dan Arab, ditugaskan untuk menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa Arab.[13]<\/p>\n<p>f.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Masuknya pemikiran-pemikiran atheis dalam masyarakat Islam, seperti paham Tsanawiyah, Musdakiyah, Manawiyah, dan sebagainya.<\/p>\n<p>g.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Banyak orang Persia asli yang menguasai bahasa Arab yang telah berhasil menulis karya-karya baru dalam bidang kesusasteraan Arab, seperti Ibnu al-Muqaffa\u2019. Sebaliknya ada juga orang-orang Arab yang memperdalam bahasa Persia, lalu menulis buku-buku sastera Arab yang bernuansa Persia, seperti Kaltsum bin \u2018Amr at-Taghlibi yang terkenal dengan sebutan al-\u2018Attabi.<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I\/169-170.<br \/>\n[2] T\u00e2r\u00eekh al-\u2018\u00c2lam, V\/681.<br \/>\n[3] Khalil al-Jar, T\u00e2r\u00eekh al-Falsafah al-\u2018Arabiyyah, (Beirut : Dar al-Ma\u2019arif, 1958), II\/31.<br \/>\n[4] Ibid.<br \/>\n[5] Ibid., II\/20 dan 36..<br \/>\n[6] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I\/171-179.<br \/>\n[7] Ibid., I\/180-181.<br \/>\n[8] Imam an-Nuwairi menceritakan bahwa Ibnu Jami\u2019 pernah diundang oleh Khalifah al-Hadi. Kemudian ia pulang kembali, karena tidak berhasil menghibur sang khalifah. Lalu al-Fadhl berkata kepadanya, \u201cJangan nyanyikan lagu-lagu murahan, hiburlah khalifah dengan lagu-lagu bermutu.\u201d Pada undangan khalifah yang berikutnya, Ibnu Jam\u2019 mengikuti nasihat al-Fadhl. Ternyata ia berhasil menghibur khalifah dan pulang dengan membawa uang 30.000 Dinar.<\/p>\n<p>Imam an-Nuwairi telah menuliskan bab tersendiri tentang kehidupan para khalifah bersama kawan-kawannya, pelayan minum, dan para biduan yang menyanyikan lagu Persia dalam bahasa Arab. Salah satu penyanyi kondang yang sering diundang khalifah adalah Abu al-Mihna al-Mukhariq. Ia pernah bernyanyi di hadapan lima khalifah, yaitu: ar-Rasyid, al-Amin, al-Ma\u2019mun, al-Mu\u2019tashim, dan al-Watsiq. Sedangkan Ishaq bin Ibrahim al-Mushili dikenal sebagai orang yang ahli memainkan alat-alat musik dan pandai menyanyi. Lihat, Imam al-Nuwairi, Nih\u00e2yah al-Arb, (T.tp. : dar al-Kutub, t.th.), IV\/239-307.<br \/>\n[9] Dr. Hasan Ibrahim, Op. Cit., II\/413-414.<br \/>\n[10] Neiruz adalah pesta perayaan tahun baru Persia yang jatuh pada hari pertama tahun syamsiyah Iran atau bertepatan dengan tanggal 21 Maret Tahun Masehi. Neiruz merupakan hari raya paling besar bagi bangsa Persia.<br \/>\n[11] Dr. Hasan Ibrahim, Op. Cit., II\/412.<br \/>\n[12] Prof. Ahmad Amin mengutip pernyataan al-Jahizh yang disebutkan dalam kitab al-Bay\u00e2n wa at-Taby\u00een; \u201cPada zaman dulu ketika banyak orang Persia tinggal di Madinah, kata-kata Persia sering digunakan di sana. Mereka menyebut al-bath\u00eekh (semangka) dengan istilah al-khirbiz. Demikian pula penduduk Kufah, mereka menyebut al-mish\u00e2h (sekop) dengan istilah b\u00e2l. Sementara penduduk Bashrah menamakan perempatan jalan (murabba\u2019ah) dengan sebutan al-jah\u00e2rs\u00fb dalam istilah Persia. Pasar yang dalam bahasa Arabnya S\u00fbq atau suwaiqah disebut dengan istilah w\u00e2z\u00e2r dalam bahasa Persia. Sedang timun yang bahasa Arabnya al-qits\u00e2\u2019 disebut al-khiy\u00e2r. Lihat, Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I\/183.<br \/>\n[13] Imam Ibnu an-Nadim dalam kitab al-Fihrisat menyebutkan bahwa Abdullah bin al-Muqaffa\u2019 termasuk salah satu penerjemah dari bahasa Persia ke bahasa Arab. Dia adalah penulis dan penyair yang menguasai dua bahasa secara sempurna dan fasih. Ada banyak buku yang telah berhasil diterjemahkannya, di antaranya: (1) kitab Khad\u00een\u00e2mah, kitab tentang sejarah lengkap bangsa Persia dari awal sampai akhir. Kitab ini diterjemahkan dalam bahasa Arab menjadi T\u00e2r\u00eekh Mul\u00fbk al-Furs. (2) kitab Mazdak, kitab tentang perjalanan hidup Mazdak \u2013tokoh religius Persia yang sangat terkenal-. (3) kitab Kulliyah wa Dimnah.. Lihat, Ibnu an-Nadim, al-Fihrisat, (T.tp. : ar-Rahmaniyah, t.th.), halaman 172.<\/p>\n<p>Selanjutnya Ibnu an-Nadim menuliskan pasal khusus yang menyebutkan tentang deretan nama-nama penerjemah itu, yaitu:<\/p>\n<p>1.\u00a0\u00a0\u00a0 Ibnu al-Muqaffa\u2019<\/p>\n<p>2.\u00a0\u00a0\u00a0 Ali Nobkhat.<\/p>\n<p>3.\u00a0\u00a0\u00a0 Musa bin Khalid dan Yusuf bin Khalid.<\/p>\n<p>4.\u00a0\u00a0\u00a0 \u2018Ali bin Ziyad at-Taimimi yang nama kunyahnya Abu al-Hasan. Salah satu karya monumentalnya adalah terjemahan kitab Zeiz asy-Syahriy\u00e2r.<\/p>\n<p>5.\u00a0\u00a0\u00a0 Al-Hasan bin Sahl<\/p>\n<p>6.\u00a0\u00a0\u00a0 Ahmad bin Yahya bin Jabir<\/p>\n<p>7.\u00a0\u00a0\u00a0 Jabalah bin Salim \u2013sekretarisnya Hisyam-.<\/p>\n<p>8.\u00a0\u00a0\u00a0 Ishaq bin Yazid. Salah satu karya terjemahannya adalah kitab S\u00eerah al-Furs, yang dalam bahasa Persianya terkenal dengan nama Ikhtiy\u00e2ran\u00e2mah.<\/p>\n<p>9.\u00a0\u00a0\u00a0 Muhamad bin al-Jahm al-Barmaki.<\/p>\n<p>10. Hisyam bin al-Qasim.<\/p>\n<p>11. Musa bin \u2018Isa al-Kurdi.<\/p>\n<p>12. Zadawiyah bin Syahawiyah al-Ashfahani.<\/p>\n<p>13. Muhamad bin Bahram bin Mithyar al-Ashfahani.<\/p>\n<p>14. Bahram bin Mardan Syah<\/p>\n<p>15. \u2018Umar bin al-Furkhan. (Ibid., halaman 241-242).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Islam pertama kali muncul di Mekah al-Mukarromah, pusat Jazirah Arabia. Allah Swt. menghendaki bahasa Arab sebagai bahasa resmi agama Islam. Sebagaimana Allah Swt. telah memilih orang Arab (Muhamad Saw.) sebagai pembawa agama terakhir itu. Pada saat itu, bangsa Arab telah memiliki kebudayaan yang cukup maju, namun belum mempunyai kekuatan pendobrak yang dapat\u00a0 mengantarkannya pada puncak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[],"class_list":["post-141","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pengaruh-kebudayaan-persia-terhadap-kebudayaan-arab"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}