{"id":133,"date":"2025-03-27T08:20:25","date_gmt":"2025-03-27T08:20:25","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wafatnya-syafii\/"},"modified":"2025-03-27T08:20:35","modified_gmt":"2025-03-27T08:20:35","slug":"wafatnya-syafii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wafatnya-syafii\/","title":{"rendered":"Wafatnya Syafi\u2019i"},"content":{"rendered":"<p><strong>Wafatnya Syafi\u2019i<\/strong><\/p>\n<p>Di akhir hayatnya, Syafi\u2019i terkena penyakit ambien yang cukup akut, karena terlalu banyak aktifitas dan kurang istirahat selama beberapa tahun tinggal di Mesir. Waktunya habis untuk kegiatan menulis, mengajar, berdiskusi, menyebarkan madzhab dan membelanya dari kritikan rival-rivalnya. Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam menggambarkan sakitnya Syafi\u2019i, \u201cSyafi\u2019i menderita wasir yang sangat parah dan memprihatinkan. Ia menyadari sakitnya itu disebabkan karena kurang kontrol\u00a0 dan tidak mengindahkan pantangan.\u201d[1]<\/p>\n<p>Ar-Rabi\u2019 bercerita, \u201cAl-Muzani membesuk Syafi\u2019i yang sedang sakit parah menjelang sakaratul maut. Ia bertanya, \u2018Bagaimana keadanmu pagi ini, wahai ustadz?\u2019 Syafi\u2019i menjawab, \u2018Pagi ini saya akan meninggalkan dunia dan berpisah dengan saudara-saudaraku. Saya berharap dapat meneguk secangkir air sorga dan menghadap ke haribaan Allah untuk mempertanggungjawabkan dosa-dosaku.\u2019 Kemudian Syafi\u2019i mengarahkan pandangan matanya ke atas sembari berpikir. Lalu ia bersyair:<\/p>\n<p>\u201cHanya kepada-Mu, wahai Tuhan seganap makhluk, kugantungkan harapan # Meski aku sadar diri ini berlumur dosa, wahai Dzat Pemberi Anugerah<\/p>\n<p>Dosa-dosaku memang besar, tapi jika dibanding dengan ampunan-Mu # Maka jauh lebih besar ampunan-Mu.\u201d[2]<\/p>\n<p>Dengan demikian, tidak benar pendapat yang menyebutkan bahwa Syafi\u2019i meninggal karena luka di kepalanya akibat terkena tusukan dari Futyan bin Abi as-Samh al-Maliki.\u00a0 Imam Ibnu Hajar menepis pendapat tersebut. Ia mengatakan, \u201cAda isu yang sangat populer tentang penyebab wafatnya Syafi\u2019i. Disebutkan bahwa terjadi perdebatan yang sangat sengit antara Futyan bin Abu Samh al-Maliki al-Mishri dan Syafi\u2019i yang membuat Futyan tersinggung. Kemudian kasus itu dilaporkan kepada Gubernur Mesir dan Futyan dijatuhi sanksi. Maka ia pun menjadi dendam dan pada malam hari ia mendatangi Syafi\u2019i. Lalu memukul kepalanya dengan kunci besi, hingga berlumuran darah. Karena itulah, Syafi\u2019i sakit hingga menemui ajalnya. Menurut saya, pendapat ini tidak berdasar pada sumber yang terpercaya.\u201d[3]<\/p>\n<p>Akhirnya, Jum\u2019at malam di akhir bulan Rajab 204 H. selepas maghrib Syafi\u2019i mengembuskan nafas terakhirnya. Syafi\u2019i mewariskan peninggalan yang sangat berharga bagi umat Islam, yaitu karya-karya ilmiah dan madzhab fiqih. Semga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah, meridhainya, dan menempatkanya dalam sorga yang lapang.<\/p>\n<p>Ar-Rabi\u2019 berkata, \u201cSyafi\u2019i wafat pada malam Jum\u2019at setelah Isya\u2019. Waktu itu ia sudah salat maghrib dan hari itu adalah hari terakhir bulan Rajab. Kemudian ia dikebumikan pada hari itu juga. Sepulangnya dari pekuburan, kami melihat rembulan bulan Sya\u2019ban telah bersinar.\u201d[4] Lebih lanjut ar-Rabi\u2019 bercerita, \u201cDalam tidurku, saya memimpikan Nabi Adam as. meninggal dunia. Lalu saya menanyakan arti mimpiku itu. Konon katanya mimpi itu berarti isyarat akan adanya orang alim yang wafat, karena Allah telah mengajarkan semua nama kepada Adam. Ternyata, selang beberapa saat terdengar kabar Syafi\u2019i wafat.\u201d[5]<\/p>\n<p>Prof. Mushthafa Munir Adham berkata, \u201cSetelah salat Asar, jenazah Syafi\u2019i diangkat dari rumahnya menuju pemakaman melalui jalan raya Fushthath dan pasar-pasarnya. Ketika melewati depan rumah Sayyidah Nafisah,[6] ia memerintahkan agar keranda jenazah itu dimasukkan ke dalam rumahnya. Lalu keranda itu diletakkan di ruang tengah dan wanita mulia itu menunaikan salat jenazah. Selesai salat, ia memanjatkan doa, \u2018Semoga Allah Swt. merahmati Syafi\u2019i, karena semasa hidupnya ia adalah orang yang suka menyempurnakan wudhu.\u2019\u201d[7]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Ibnu Hajar Taw\u00e2l\u00ee al-Ta\u2019s\u00ees bi Ma\u2019\u00e2l\u00ee ibn Idr\u00ees, Op. Cit., halaman 86.<br \/>\n[2] Ibid., halaman 83.<br \/>\n[3] Ibid., halaman 86.<br \/>\n[4] Ibid., halaman 83.<br \/>\n[5] An-Nawawi,\u00a0 Tahdz\u00eeb al-Asm\u00e2\u2019 wa al-Lugh\u00e2t, Op. Cit., I\/45-46.<br \/>\n[6] Ia adalah salah satu murid Imam Syafi\u2019i yang menjadi ulama perempuan terkenal, penerj.<br \/>\n[7] Prof. Mushthafa Munir Adham, Op. Cit., halaman 43.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wafatnya Syafi\u2019i Di akhir hayatnya, Syafi\u2019i terkena penyakit ambien yang cukup akut, karena terlalu banyak aktifitas dan kurang istirahat selama beberapa tahun tinggal di Mesir. Waktunya habis untuk kegiatan menulis, mengajar, berdiskusi, menyebarkan madzhab dan membelanya dari kritikan rival-rivalnya. Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam menggambarkan sakitnya Syafi\u2019i, \u201cSyafi\u2019i menderita wasir yang sangat parah dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-133","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-wafatnya-syafii"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=133"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":134,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/133\/revisions\/134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=133"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=133"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=133"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}