{"id":132,"date":"2025-03-27T08:19:01","date_gmt":"2025-03-27T08:19:01","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/syafii-datang-dan-tinggal-di-mesir\/"},"modified":"2025-03-27T08:19:01","modified_gmt":"2025-03-27T08:19:01","slug":"syafii-datang-dan-tinggal-di-mesir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/syafii-datang-dan-tinggal-di-mesir\/","title":{"rendered":"Syafi\u2019i Datang dan Tinggal di Mesir"},"content":{"rendered":"<p><strong>Syafi\u2019i Datang dan Tinggal di Mesir<\/strong><\/p>\n<p>An-Nawawi[1] menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang tahun kunjungan Syafi\u2019i ke Mesir. Menurut Abu Abdullah Harmalah bin Yahya, Syafi\u2019i datang ke Mesir pada tahun 199 H. Sedangkan menurut ar-Rabi\u2019, tahun 200 H. kedua pendapat ini dapat dikompromikan. Yakni Syafi\u2019i datang ke Mesir di akhir tahun 199 H. Yaqut berpendapat lain, Syafi\u2019i berangkat ke Mesir pada tahun 198 H. dan tiba di sana pada tahun 199 H.[2]<\/p>\n<p>Prof. Mushthafa Munir Adham mengatakan, dalam perjalanan ke Mesir Syafi\u2019i tidak berangkat sendiri. Ia ditemani oleh ar-Rabi\u2019bin Sulaiman al-Muradi, Abdullah bin az-Zubair al-Humaidi, dan lainnya. Pada tanggal 28 Syawal 198 H., Syafi\u2019i memasuki kota Mesir bersama al-\u2018Abbas bin Musa. Syafi\u2019i disuruh tinggal di rumahnya, namun ia menolak dan lebih memilih tinggal bersama kerabatnya sesama orang Azdi. Sikapnya yang seperti ini meniru Nabi Muhamad Saw. Yaitu ketika beliau masuk ke Madinah dan tinggal bersama kerabatnya dari Bani an-Najjar.\u201d[3]<\/p>\n<p>Kemudian Syafi\u2019i mulai menyampaikan pemikiran-pemikirannya di Majid Jami\u2019 \u2018Amr bin al-\u2018Ash di Fusthath. Banyak orang-orang Mesir yang langsung tertarik dengan pemikirannya, karena primordialisme Syafi\u2019i sebagai orang Arab dari suku Quriasy. Namun bukan itu saja, kepandaiannya berorasi dan berargumen menjadi daya tarik Syafi\u2019i di mata penduduk Mesir. Sehingga banyak pengikut madzhab Malik dan madzhab Abu Hanifah yang pindah mengikuti madzhabnya. Al-Buwaithi dan al-Muzani yang merupakan pengikut setia madzhab Malik langsung beralih madzhab setelah menyimak pemikiran-pemikiran Syafi\u2019i.[4] Imam al-Buwaithi bercerita, \u201cSetelah tinggal di Mesir, Syafi\u2019i sering mengkritik madzhab Malik. Saya pun sempat berburuk sangka kepadanya dan menjadi bingung sendiri. Untuk itu, saya memperbanyak salat dan doa agar Allah memperlihatkan kepadaku yang terbaik di antara dua madzhab itu (madzhab Malik atau madzhab Syafi\u2019i). Akhirnya saya memimpikan kebenaran itu ada pada Syafi\u2019i, maka segenap kebingunganku sirna sudah.\u201d[5]<\/p>\n<p>Majelis Syafi\u2019i merupakan forum pengajian yang sangat mengagumkan, karena peminatnya bukan hanya kalangan awam, tapi juga orang-orang alim. Imam ar-Rabi\u2019 bin Sulaiman menjelaskan tentang jalannya pengajian di majelis Syafi\u2019i. Ia berkata, \u201cSelesai salat subuh, Syafi\u2019i menggelar pengajian yang diikuti oleh para pakar al-Qur\u2019an. Lalu setelah matahari terbit, mereka bubar. Kemudian dilanjutkan oleh ahli hadis yang menanyakan kepadanya tentang tafsir dan maknanya.\u00a0 Para ahli hadis ini bubar setelah matahari meninggi dan forum pengajian itu diisi dengan diskusi. Diskusi pun berakhir seiring dengan masuknya waktu ideal untuk salat dhuha. Lalu giliran para pakar bahasa Arab, \u2018ar\u00fbdh, syair, dan nahwu yang belajar di majelis tersebut. Pengajian di Majelis Syafi\u2019i terus berlangsung sampai mendekati tengah hari. Setelah itu, baru Imam Syafi\u2019i meninggalkan majelisnya.\u201d[6]<\/p>\n<p>Menurut Prof. Mushthafa Munir Adham, Syafi\u2019i adalah orang pertama yang membiasakan kerja sampai zhuhur di Mesir. Ia bekerja selama 8 jam di masjid, yaitu dari jam 4 pagi sampai jam 12 siang.\u201d[7] Seperti itulah aktifitas Syafi\u2019i di siang hari. Adapun aktifitasnya di malam hari sebagaimana diceritakan oleh ar-Rabi\u2019. Ia berkata, \u201cSyafi\u2019i membagi waktu malam menjadi tiga; sepertiga malam pertama untuk menulis, sepertiga yang kedua untuk tidur, dan sepertiga malam terakhir untuk tahajjud.\u201d[8]<\/p>\n<p>Imam Husain al-Karabisi menceritakan, \u201cSaya menginap di rumah Syafi\u2019i selama 80 malam. Ia rajin salat tahajud pada sepertiga malam terakhir. Dalam salatnya, ia membaca 50 ayat atau paling banyak 100 ayat. Setiap kali ia membaca ayat tentang rahmat, maka ia berdoa untuk dirinya dan kaum mu\u2019minin semua. Dan setiap kali bacaannya sampai pada ayat tentang siksa, maka ia memohon perlindungan kepada Allah dari siksa tersebut dan berdoa untuk keselamatan dirinya dan kaum mu\u2019minin semua. Syafi\u2019i adalah orang yang bersikap khawatir dan penuh harap (al-khauf wa ar-raj\u00e2\u2019).[9]<\/p>\n<p>Syafi\u2019i menghabiskan sisa hidupnya di Mesir. Menurut riwayat ar-Rabi\u2019, ia tinggal di Mesir tidak lebih dari 5 tahun, sedang menurut riwayat lain, 6 tahun. Waktu yang relatif singkat dari sisa umurnya, namun penuh makna, karena merupakan masa yang penuh perjuangan, produktifitas, serta kesibukan menyebarkan ilmu, menetapkan produk-produk hukum, melakukan penggalian hukum, dan menulis karya-karya ilmiah. Di waktu itulah kebesaran Syafi\u2019i tampak agung dan kepribadiannya begitu memikat mengalahkan para imam lainnya, baik sebelum maupun sesudahnya.[10] Syafi\u2019i telah berhasil menulis maha karya ilmiah yang memotret pemikiran-pemikiran agama dan fiqih barunya. Kami akan menjelaskannya secara rinci dalam pembahasan lebih lanjut. Bukan hanya itu, ia juga telah berhasil mencetak kader-kader ulama besar baik laki-laki maupun perempuan, seperti al-Muzani dan adik perempuannya, al-Buwaithi, ar-Rabi\u2019, dan lainnya. Selama di Mesir, Syafi\u2019i mampu mengukuhkan dirinya sebagai ulama yang paling banyak dicari oleh para pencari ilmu dari segala penjuru dunia. Mereka ingin belajar langsung darinya, meriwayatkan hadis darinya, dan\u00a0 mengikuti pengajiannya.<\/p>\n<p>Prof. Mushthafa Munir Adham mengatakan,[11] Syafi\u2019i mampu mengkader penduduk Mesir -baik laki-laki maupun perempuan-\u00a0 menjadi ulama-ulama besar. Ulama-ulama besar dari kaum laki-laki adalah ar-Rabi\u2019 al-Jizi, Harmalah at-Tajibi, Isma\u2019il al-Muzani, Abu Ya\u2019qub Yusuf al-Buwaithi, Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam, dan lainnya. Mereka semua adalah para pakar di bidang kesusasteraan Arab. Adapun ulama besar dari kaum perempuan adalah as-Sayyidah \u2013adik perempuan al-Muzani. Namanya mencuat di antara deretan ulama besar yang ahli di bidang fiqih madzhab Syafi\u2019i.<\/p>\n<p>Demikianlah, meski banyak dikagumi para ulama, namun Syafi\u2019i tidak bersikap fanatis, apalagi sombong. Tak jarang, ia berkumpul dengan ulama-ulama Mesir untuk mendengarkan hadis-hadis shahih menurut penilaian mereka. Bahkan ia berani meralat sebagian pendapatnya yang pernah diutarakan sewaktu di Irak, karena terpengaruh oleh lingkungan Mesir. Prof. Ahmad Amin menegaskan, Syafi\u2019i terkadang terpengaruh oleh lingkungan Mesir. Hal itu tampak dalam pemikirannya tentang waqaf, pemanfaatan lahan kosong, penggunaan kertas, kesaksian para penyair, dan sebagainya.[12]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] An-Nawawi,\u00a0 Tahdz\u00eeb al-Asm\u00e2\u2019 wa al-Lugh\u00e2t, Op. Cit., I\/48; al-Baihaqi, Op. Cit., II\/36.<br \/>\n[2] Yaqut, Op. Cit., XVII\/321.<br \/>\n[3] Prof. Mushthafa Munir Adham, Rihlah al-Im\u00e2m asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee\u00a0 Radhiyallahu \u2018anhu ila Mishra, (T.tp. : al-Muqtathif, 1930), halaman 32.<br \/>\n[4] Prof. Mushthafa Abdur Razaq, Tamh\u00eed li T\u00e2r\u00eekh al-Falsafah al-Isl\u00e2miyyah, Op. Cit., halaman 227.<br \/>\n[5] Ibid.<br \/>\n[6] Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m al-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit.,\u00a0 halaman 131; Yaqut, Op. Cit., XVII\/304 (redaksi di atas dari Yaqut).<br \/>\n[7] Prof. Mushthafa Munir Adham, Op. Cit., halaman 33.<br \/>\n[8] Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit., halaman 127.<br \/>\n[9] Ibid.<br \/>\n[10] Dalam hadis shahih riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, \u201cAllah akan mengutus bagi umat ini dalam setiap permualaan abad, mujaddid (reformis) yang akan memperbaharui agamanya\u201d.\u201d Menurut Imam ar-Razi, Syafi\u2019i adalah ulama yang ilmunya sangat sempurna. Ia hidup di akhir abad kedua dan awal abad ketiga, sehingga ia patut disebut seorang reformis sebagaimana yang disinyalir dalam hadis di atas. Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit., halaman 137.<\/p>\n<p>Abdul Malik al-Maymuni bercerita, ketika saya sedang berbincang-bincang dengan Ahmad bin Hanbal tentang Syafi\u2019i, saya sering mendengarnya memuji Syafi\u2019i. Lalu ia menyebutkan hadis ini, \u201cSesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini di dalam setiap permualaan abad, reformis yang akan memperbaharui agamanya\u201d.\u201d Dengan demikian, dapat disimpulkan, reformis Abad Pertama Hijriyah adalah \u2018Umar bin Abdul Aziz dan Syafi\u2019i dinilai sebagai reformis Abad Berikutnya (Abad Ketiga). Yaqut, Op. Cit., XVII\/314. Al-Jahizh berkata, \u201cSaya telah mengkaji karya-karya ulama besar yang cinta ilmu. Ternyata, kitab yang paling bagus adalah karya Syafi\u2019i. Tulisan-tulisannya seperti untaian mutiara\u00a0 yang indah.\u201d Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, Op. Cit., halaman 87.<br \/>\n[11] Prof. Mushthafa Munir Adham, Op. Cit., halaman 34.<br \/>\n[12] Prof. Ahmad Amin, Dhuha al-Isl\u00e2m, Op. Cit., II\/272.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Syafi\u2019i Datang dan Tinggal di Mesir An-Nawawi[1] menyebutkan adanya perbedaan pendapat tentang tahun kunjungan Syafi\u2019i ke Mesir. Menurut Abu Abdullah Harmalah bin Yahya, Syafi\u2019i datang ke Mesir pada tahun 199 H. Sedangkan menurut ar-Rabi\u2019, tahun 200 H. kedua pendapat ini dapat dikompromikan. Yakni Syafi\u2019i datang ke Mesir di akhir tahun 199 H. Yaqut berpendapat lain, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"class_list":["post-132","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-syafii-datang-dan-tinggal-di-mesir"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=132"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/132\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=132"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=132"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=132"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}