{"id":127,"date":"2025-03-27T08:03:27","date_gmt":"2025-03-27T08:03:27","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/kedatangan-syafii-ke-irak-yang-kedua\/"},"modified":"2025-03-27T08:03:27","modified_gmt":"2025-03-27T08:03:27","slug":"kedatangan-syafii-ke-irak-yang-kedua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/kedatangan-syafii-ke-irak-yang-kedua\/","title":{"rendered":"Kedatangan Syafi\u2019i ke Irak yang Kedua"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kedatangan Syafi\u2019i ke Irak yang Kedua<\/strong><\/p>\n<p>Syafi\u2019i datang ke Irak untuk yang kedua kalinya pada tahun 195 H. Kedatangannya kali ini sangat berbeda dengan kunjungannya yang pertama. Dulu Syafi\u2019i datang pada usia yang cukup\u00a0 muda, yaitu pada umur 34 tahun. Di usianya yang ke 45 tahun, yaitu usia yang sudah cukup matang, ia kembali datang ke Irak untuk kedua kalinya. Kali pertama Syafi\u2019i menginjakkan kakinya di Irak, karena tertuduh sebagai gembong Syi\u2019ah. Tetapi kedatangan sekarang, ia membawa fiqih baru dengan metodologi yang baru pula. Kalau dulu, ia masih berstatus sebagai pengikut fiqih Maliki, sekarang ia sudah menjadi ahli fiqih yang independen, alim, terkenal, dan banyak pengikutnya di mana-mana. Karena ia telah memiliki dasar-dasar fiqih sendiri dan pemikiran-pemikiran sendiri.<\/p>\n<p>Syafi\u2019i datang ke Irak dan mengenalkan metode fiqih baru yang belum pernah terpikirkan oleh para ahli fiqih sebelumnya. Fiqih yang dibawanya adalah fiqih komprehensif, bukan fiqih parsial, karena gagasan fiqihnya didukung oleh kaidah-kaidah fiqih yang universal dan dasar-dasar fiqih yang benar-benar baru. Secara naluriah manusia umumnya tertarik untuk mengetahui dan mendengarkan hal-hal yang baru. Karena itu, majelisnya banyak dihadiri oleh orang-orang yang penasaran dengan pemikiran-pemikiran fiqih Syafi\u2019i yang baru itu. Ibrahim al-Harbi menceritakan tentang antusiasme masyarakat Irak saat Syafi\u2019i mengenalkan fiqih barunya. Ia berkata, \u201cKetika Syafi\u2019i datang ke Baghdad, di Masjid Jami\u2019 al-Ghurba terdapat 20 majelis fiqih rasional. Tetapi setelah Syafi\u2019i mulai mengenalkan fiqihnya pada hari Jum\u2019at, majelis fiqih rasional tersebut bubar dan hanya tersisa 3 majelis saja, karena majelis-majelis lainnya pindah ke majelisnya Syafi\u2019i.\u201d<\/p>\n<p>Lebih lanjut an-Nawawi menjelaskan, \u201cSejak saat itu, nama besar Syafi\u2019i di Irak mulai melambung dan reputasinya meroket. Namanya sering disebut-sebut dan pemikiran-pemikirannya digandrungi banyak orang. Dengan kapasitas intelektualnya, Syafi\u2019i berhasil meraih simpati orang-orang yang berseberangan dengannya, maupun orang-orang yang sealur dengan pemikirannya. Bukan hanya para ulama yang menghormatinya, tetapi Khalifah dan para pejabat tinggi pun sangat segan kepadanya. Sehingga Syafi\u2019i mendapat posisi yang terhormat di hadapan mereka. Pemikiran-pemikiran cemerlangnya Syafi\u2019i tampak jelas, saat ia tampil dalam berbagai diskusi dengan para\u00a0 ulama Irak dan lainnya. Ia juga mampu mengemukakan kaidah-kaidah dan dasar-dasar fiqih yang belum pernah terpikirkan oleh ulama sebelumnya. Karena itu, Syafi\u2019i mendapat banyak pertanyaan tentang berbagai masalah. Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab secara tepat, benar dan memuaskan. Pengagum Syafi\u2019i bukan hanya anak muda dan orang tua saja, tetapi banyak juga para imam, ulama ahli hadis, dan ulama ahli fiqih yang tertarik dengan pemikirannya. Tidak heran, jika banyak orang yang meninggalkan madzhab lama mereka, dan beralih mengikuti madzhab metode fiqihnya, seperti Abu Tsaur dan banyak lagi ulama lainnya yang tak terhitung jumlahnya. Sejak muculnya Syafi\u2019i dengan madzhab barunya, mereka tidak lagi belajar kepada guru-guru dan imam-imam mereka. Sebaliknya, mereka hanya fokus mengikuti pemikiran Syafi\u2019i yang benar-benar baru dan belum pernah disampaikan oleh para ulama lainnya. Semoga Allah memberkati Syafi\u2019i dan para pengikutinya yang telah mengembangkan ilmu yang sangat bermanfaat dan menebarkan kebaikan yang tak terhitung. Segala puji bagi Allah atas semua itu dan atas semua nikmat yang tak dapat dihitung karena banyaknya.\u201d[1]<\/p>\n<p>Majelis Syafi\u2019i adalah forum pengajian terbesar dan terhormat, karena diikuti oleh para pencari ilmu dan para ulama dari berbagai penjuru dunia, dalam berbagai corak pemikiran. Berkaitan dengan hal ini, Imam al-Karabisi berkata, \u201cSaya tidak pernah melihat majelis yang lebih besar dari majelis Syafi\u2019i. Majelisnya banyak dihadiri oleh ulama ahli hadis, ahli fiqih, ahli syair, dan ahli kesusasteraan. Semua pakar itu turut meramaikan mejelis Syafi\u2019i.\u201d<\/p>\n<p>Selanjutnya pada kedatangan yang kedua di Irak ini, Syafi\u2019i berhasil menerbitkan sebuah buku yang berjudul al-Hujjah. Buku ini berisi pemikiran-pemikiran fiqih Syafi\u2019i yang lama (fiqh al-qad\u00eem). Syafi\u2019i tinggal di Baghdad selama 2 tahun pada kunjungan kali ini. Selama 2 tahun, ia berusaha mengembangkan metode fiqih barunya dan berhasil mencetak empat ulama besar, yaitu: Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, az-Za\u2019farani, dan al-Karabisi. Setelah 2 tahun berlalu, Syafi\u2019i pulang ke Mekkah dan akan kembali lagi ke Baghdad pada tahun 198 H.<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarah al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/16.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kedatangan Syafi\u2019i ke Irak yang Kedua Syafi\u2019i datang ke Irak untuk yang kedua kalinya pada tahun 195 H. Kedatangannya kali ini sangat berbeda dengan kunjungannya yang pertama. Dulu Syafi\u2019i datang pada usia yang cukup\u00a0 muda, yaitu pada umur 34 tahun. Di usianya yang ke 45 tahun, yaitu usia yang sudah cukup matang, ia kembali datang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[],"class_list":["post-127","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kedatangan-syafii-ke-irak-yang-kedua"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=127"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/127\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=127"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=127"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=127"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}