{"id":124,"date":"2025-03-27T07:54:13","date_gmt":"2025-03-27T07:54:13","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/syafii-di-irak\/"},"modified":"2025-03-27T07:54:13","modified_gmt":"2025-03-27T07:54:13","slug":"syafii-di-irak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/syafii-di-irak\/","title":{"rendered":"Syafi\u2019i di Irak"},"content":{"rendered":"<p><strong>Syafi\u2019i di Irak<\/strong><\/p>\n<p>Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Imam Syafi\u2019i dituduh sebagai pengikut Syi\u2019ah.[1] Hal itu terjadi pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Pada masa itu, Irak sangat menjamin kebebasan berfikir, sehingga berkembang pesat ilmu-ilmu rasional; ilmu-ilmu tradisional seperti: tafsir, hadis, fiqih, bahasa, dan nahwu sharaf; ilmu pasti seperti matematika; ilmu musik, dan sebagainya. Irak merupakan basis para pemikir rasionalis dan para ulama. Pengaruh Irak sangat besar, hingga ke Persi dan Yunani.<\/p>\n<p>Menurut sumber yang terkenal, tuduhan terhadap Syafi\u2019i itu terjadi pada tahun 184 H. dan pada tahun itulah Syafi\u2019i pertama kali menginjakkan kakinya di Irak. Tetapi menurut pendapat lain, Imam Syafi\u2019i sebelumnya pernah berkunjung ke Irak sebelum kasus tersebut. Kedatangannya ke Irak sekarang merupakan kunjungan yang kedua. [2]<\/p>\n<p>Sumber terkenal lainnya menyebutkan, Imam Syafi\u2019i dituduh terlibat gerakan Syi\u2019ah ketika ia berada di Yaman.[3] Sedangkan menurut Ibnu \u2018Abdul Barr dalam kitab al-Intif\u00e2\u2019, Imam Syafi\u2019i dituduh bersekongkol dengan orang Syi\u2019ah pada saat di Mekah. Sebagaimana hal itu dituturkan sendiri oleh pernyataan Imam Syafi\u2019i; \u201cHarun ar-Rasyid mendapat lapor bahwa di Mekah ada satu kaum dari suku Quraisy yang mengagumi seorang \u2018Alawiyyah yang ada di Yaman. Kemudian orang itu berkunjung ke Mekah dan mengumpulkan sejumlah anak muda Quraisy untuk membai\u2019at dan mengorganisir mereka. Maka Harun ar-Rasyid memerintahkan Yahya bin Khalid bin Barmak agar menulis surat untuk pejabat Mekah dan mendatangkan kepadanya 300 pemuda Quraisy dengan tangan terbelenggu di leher mereka. Maka, inilah kesempatan emas bagiku untuk ikut bersama mereka.\u201d[4]<\/p>\n<p>Dalam riwayat lain disebutkan, \u201cImam Syafi\u2019i dibawa dari Hijaz (ke Irak) bersama 9 orang dari kaum \u2018Alawiyyah, dan ia adalah orang yang kesepuluh.\u201d<\/p>\n<p>Syeikh Abu Zahroh berkomentar, \u201cDua riwayat di atas dapat dikompromikan. Yakni Imam Syafi\u2019i tertuduh ketika sedang mengunjungi keluarganya di Mekah. Penuduhnya adalah Gubernur Yaman yang takut kehilangan jabatannya. Adapun perbedaan pendapat mengenai jumlah orang yang tertuduh, mungkin disebabkan karena sebagian pendapat hanya menyebutkan aktor intelektualnya saja yang berjumlah 10 orang dan pendapat lain menyebutkan semuanya, yang totalnya 300 orang.\u201d[5]<\/p>\n<p>Tuduhan tersebut merupakan ujian terberat bagi Imam Syafi\u2019i sepanjang hidupnya, yang hampir menyebabkan nyawanya melayang. Namun berkat pertolongan Allah Swt., Imam Syafi\u2019i berhasil lolos dari tuduhan tersebut. Hal ini menunjukkan kehebatan Imam Syafi\u2019i sebagai pengacara ulung dan pembela handal. Dengan berbagai argumen, ia sanggup mematahkan tuduhan-tuduhan rivalnya.<\/p>\n<p>Mengenai hal ini, Imam Syafi\u2019i bercerita sendiri, \u201cKemudian saya kembali ke Yaman dan tuduhanku telah diadukan kepada Gubernur setempat. Gubernur Yaman adalah kepala daerah yang diangkat oleh Khalifah Harun ar-Rasyid. Dia adalah Gubernur yang zhalim dan tidak pandai memimpin. Saya selalu berusaha menentang kezhalimannya. Di Yaman, ada 9 orang \u2018Alawiyyah yang telah melakukan aksi yang meresahkan. Karena itu, Gubernur Yaman melayangkan surat pengaduan kepada Khalifah. Ia mengatakan, \u2018Orang-orang \u2018Alawiyyah telah melakukan aksi yang meresahkan, saya khawatir mereka akan lolos begitu saja. Di antara orang-orang itu ada satu orang keturunan Bani Muthallib yang bernama Syafi\u2019i. Orang itu susah diatur dan tidak bisa dicegah.\u2019 Khalifah Harun ar-Rasyid menginstruksikan agar saya dan para provokator tersebut dihadapkan kepadanya.\u2019 Ketika kami sampai di hadapan Harun ar-Rasyid dan masuk ke dalam ruangan Khalifah, kami melihat Muhamad bin al-Hasan di sampingnya. Lalu Khalifah memerintahkan agar disiapkan hamparan kulit dan pedang untuk memenggal leher orang-orang \u2018Alawiyyah. Muhamad bin al-Hasan menoleh dan berkata kepada Khalifah, \u2018Wahai Amirul Mukminin, orang ini berasal dari Bani Muthallib, hati-hati dengannya. Kepandaiannya berbicara bisa mengalahkanmu.\u2019 Maka saya memberanikan diri untuk angkat bicara, \u2018Sebentar dan tenanglah, wahai Amirul Mukminin. Tuan adalah orang yang mengundang dan saya hanyalah orang yang diundang. Tuan berkuasa untuk berbuat apa pun kepadaku, tapi saya tidak mampu berbuat apa-apa kepadamu, wahai Amirul Mukminin. Apa pendapat Anda mengenai dua orang; orang pertama menganggapku sebagai saudara dan orang kedua menganggapku sebagai budak. Kira-kira siapakah dari kedua orang itu yang lebih saya sayangi?\u2019[6] Khalifah menjawab, \u2018Orang yang mengangggapmu sebagai saudara.\u2019 Saya berkata, \u2018Demikian juga Engkau, wahai Amirul Mukminin. Khalifah menyangkalku, \u2018Mengapa begitu?\u2019 Saya menjawab, \u2018Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Anda adalah keturunan al-\u2018Abbas dan dia adalah keturunan \u2018Ali. Sementara kami berasal dari Bani al-Muthallib. Tuan sebagai keturunan al-\u2018Abbas menganggap kami sebagai saudara, sementara mereka menganggap kami budak.\u2019 Mendengar jawaban itu, Khalifah berjalan-jalan kecil di ruangannya. Lalu duduk kembali dan bertanya, \u2018Hai Ibnu Idris, bagaimana pengetahuanmu tentang al-Qur\u2019an?\u2019 Saya menjawab, \u2018Ilmu-ilmu al-Qur\u2019an apa yang hendak Anda tanyakan atau tentang hafalanku? Saya telah menghafalnya di luar kepala. Saya juga hafal waqaf-waqafnya, n\u00e2sikh mans\u00fbkhnya, ayat-ayat yang diturunkan siang dan malam hari, dan ayat-ayat yang bersifat umum (al-\u2018\u00e2m) dan khusus (al-kh\u00e2sh).\u2019 Lalu Khalifah berkata kepadaku, \u2018Demi Allah, Hai Ibnu Idris, kamu benar-benar telah menguasai ilmu yang sangat penting. Apakah kamu juga mengerti ilmu perbintangan (astrologi)?\u2019 Saya menjawab, \u2018Saya paham betul tentang astrologi. Saya dapat membedakan antara bintang darat dan bintang laut; bintang konopus dan bintang gunung; bintang fajar dan bintang pagi; dan hal-hal lain yang harus diketahui mengenai perbintangan.\u2019 Sang Khalifah masih juga belum puas dan bertanya lagi, \u2018Bagaimana pengetahuanmu tentang nasab bangsa Arab?\u2019[7] Saya menjawab, \u2018Saya mengetahui silsilah nasab orang-orang hina; nasab orang-orang mulia; nasabku; dan nasab Amirul Mukminin.\u00a0 Khalifah berkata, \u2018Sungguh kamu telah menguasai berbagai ilmu. Apakah kamu punya nasihat untuk Amirul Mukminin?\u2019 Maka, saya sampaikan nasihat Thawus al-Yamani. Saya ceritakan kepadanya mengenai kisah Thawus al-Yamani. Maka, Khalifah pun menagis tersedu-sedu. Akhirnya ia memberikan hadiah 5.000 Dinar untukku. Saya pun menerima uang itu. Sebelum sampai di pintu gerbang, uang itu telah habis saya bagi-bagikan kepada para pelayan dan satpam.[8]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Kenyataannya Imam Syafi\u2019i memang sangat mencintai keturunan Ali ra. Hingga dalam satu riwayat disebutkan, Syafi\u2019i berkata, \u201cJika ada orang Rafidhah yang mencintai keluarga Muhamad Saw., maka saksikanlah wahai jin dan manusia bahwa saya juga orang Rafidhah.\u201d<br \/>\n[2] Lihat, al-Umm dalam pembahasan mengenai biografi Imam Syafi\u2019i, halaman 20; ar-Razi, Op. Cit., halaman 11.<br \/>\n[3] Ini pendapat ar-Razi yang disebutkan dalam kitab Man\u00e2qib al-Im\u00e2m al-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, halaman 10.<br \/>\n[4] Syeikh Abu Zahroh, Op. Cit., halaman 22.<br \/>\n[5] Ibid.<br \/>\n[6] Dalam kitab al-Intif\u00e2\u2019 karya \u2018Abdul Barr disebutkan, Khalifah bertanya kepadaku, \u201cApakah kamu yang bernama Muhamad bin Idris?\u2019 Saya menjawab, \u2018Betul, wahai Amirul Mukminin.\u2019 Khallifah berkata, \u2018Apakah yang diceritakan oleh Muhamad bin al-Hasan itu benar adanya?\u2019 Lalu Khalifah menoleh kepada Muhamad bin al-Hasan dan berkata, \u2018Hai Muhamad, apa yang dikatakan oleh orang ini (Imam Syafi\u2019i) sesuai dengan kenyataan.\u2019 Muhamad bin al-Hasan menjawab, \u2018Betul, dia itu orang yang banyak ilmunya dan tuduhan itu tidak tepat dialamatkan kepadanya.\u2019 Kemudian Khalifah memerintahkan agar Muhamad bin al-Hasan menginterogasiku. Saya pun dicecer dengan banyak pertanyaan. Berkat pertolongan Allah, saya bisa menjawab semua pertanyaan itu dan bebas dari tuduhan tersebut.\u201d Lihat, Prof. Mushthafa \u2018Abdur Razaq, Op. Cit., halaman 28.<br \/>\n[7] Ar-Rabi\u2019 berkata, \u201cJika ada waktu luang di rumah, Imam Syafi\u2019i seringkali menghafalkan nasab orang-orang Arab. Hafalannya itu mengalir seperti aliran sungai.<br \/>\n[8] Yaqut, Op. Cit., XVII\/287.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Syafi\u2019i di Irak Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa Imam Syafi\u2019i dituduh sebagai pengikut Syi\u2019ah.[1] Hal itu terjadi pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Pada masa itu, Irak sangat menjamin kebebasan berfikir, sehingga berkembang pesat ilmu-ilmu rasional; ilmu-ilmu tradisional seperti: tafsir, hadis, fiqih, bahasa, dan nahwu sharaf; ilmu pasti seperti matematika; ilmu musik, dan sebagainya. Irak merupakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-124","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-syafii-di-irak"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=124"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/124\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=124"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=124"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=124"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}