{"id":117,"date":"2025-03-27T07:38:28","date_gmt":"2025-03-27T07:38:28","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/syafii-sebagai-ahli-hadis-dan-pembela-sunah\/"},"modified":"2025-03-27T07:38:28","modified_gmt":"2025-03-27T07:38:28","slug":"syafii-sebagai-ahli-hadis-dan-pembela-sunah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/syafii-sebagai-ahli-hadis-dan-pembela-sunah\/","title":{"rendered":"Syafi\u2019i sebagai Ahli Hadis dan Pembela Sunah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Syafi\u2019i sebagai Ahli Hadis dan Pembela Sunah<\/strong><\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i termasuk ahli hadis dan periwayat hadis yang terpercaya. Namun ketenarannya di bidang fiqih mengalahkan popularitasnya di bidang hadis. Bukti kepakaran Imam Syafi\u2019i di bidang hadis dapat dilihat dari kemampuannya menghafal kitab al-Muwaththa\u2019 karya Imam Malik pada saat umurnya masih 13 tahun. Kemudian ia membacakan hafalannya tersebut di hadapan Imam Malik selama beberapa hari. Ia juga sering bergaul dengan para ulama dan menghafal hadis-hadis setelah tamat menghafal seluruh al-Qur\u2019an. Padahal umurnya waktu itu baru 7 tahun.<\/p>\n<p>Imam Syafi\u2019i bercerita tentang dirinya, \u201cSaya datang ke Madinah pada usia 13 tahun untuk belajar kitab al-Muwaththa\u2019 kepada Imam Malik. Lalu Ia berkata kepadaku, \u2018Carilah ustadz yang akan mendiktekanmu.\u2019 \u2018Saya akan membacanya sendiri,\u2019 jawabku. Maka, saya pun membaca kitab tersebut di hadapannya. Dalam beberapa hadis, ia seringkali menyuruhku untuk mengulangi bacaanku, maka saya pun mengulanginya dan sekaligus menghafalnya.\u201d<\/p>\n<p>Imam ar-Razi memberikan komentar terhadap cerita itu, \u201cKisah tersebut merupakan riwayat yang popular, baik di kalangan pendukung maupun pengkritik Syafi\u2019i. Hafalan Imam Syafi\u2019i terhadap kitab al-Muwathth\u00e2\u2019 menunjukkan kehebatannya di bidang hadis, karena banyak para penghafal hadis yang tidak sanggup menghafalkan kitab tersebut.\u201d[1]<\/p>\n<p>Di samping itu, Imam Syafi\u2019i juga dijuluki sebagai N\u00e2shir as-Sunnah (pembela hadis).\u00a0 Sebagaimana hal ini ditegaskan dalam riwayat Harmalah bin Yahya yang mendengar langsung pernyataan Imam Syafi\u2019i yang mengatakan, \u201cDi Mekah saya diberi gelar N\u00e2shir al-Had\u00eets (pembela hadis).[2]<\/p>\n<p>Banyak sekali bukti yang menunjukkan Imam Syafi\u2019i sebagai pakar hadis dan pembela sunah, di antaranya:<\/p>\n<p>a.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Imam ar-Razi berkata, \u201cPara imam ahli hadis masih berbeda pandapat mengenai rentetan sanad hadis yang paling shahih. Menurut Imam ash-Shana\u2019ah dan Muhamad bin Isma\u2019il al-Bukhari (pakar hadis), sanad hadis yang paling shahih adalah riwayat dari Malik&#8211;dari Nafi\u2019&#8211;dari Ibnu \u2018Umar. Sementara itu menurut kesepaktan para ulama, riwayat Malik yang paling shahih adalah riwayat yang melalui jalur Syafi\u2019i. Karena semua\u00a0 murid-murid Imam Malik hanya menguasai ilmu fiqih dan ilmu pemerintahan (khilafah) saja, berbeda dengan Syafi\u2019i. Dengan demikian, hal ini merupakan bukti bahwa sanad-sanad hadis yang paling shahih adalah sanad yang diriwayatkan dari Syafi\u2019i&#8211; dari Malik&#8211;dari Nafi\u2019&#8211;dari Ibnu \u2018Umar. Hal ini juga membuktikan bahwa dalam ilmu hadis, Syafi\u2019i menempati tingkatan tertinggi yang tidak dapat diungguli oleh orang lain.\u201d[3]<\/p>\n<p>b.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Imam ar-Razi mengatakan lebih lanjut. Dalam satu riwayat disebutkan, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, \u201cApakah Syafi\u2019i itu ahli hadis? Ia menjawab, \u2018Ya, Demi Allah, ia adalah ahli hadis.\u2019 Jawaban itu diulang sebanyak tiga kali.\u201d Dalam riwayat lainnya disebutkan juga bahwa Imam Syafi\u2019i mendengar langsung hadis-hadis kitab al-Muwaththa\u2019 dari Imam Malik. Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Syafi\u2019i adalah orang yang kredibel di bidang hadis.<\/p>\n<p>Ahmad bin Hanbal pernah ditanya mengenai riwayat dari Malik, al-Awza\u2019i, Syafi\u2019i, dan Abu Fulan (Abu Hanifah). Ia menjawab, \u201cRiwayat Malik hadisnya shahih, tapi pendapatnya lemah; riwayat al-Awza\u2019i, hadisnya lemah dan pendapatnya lemah; riwayat Syafi\u2019i, hadis dan pendapatnya shahih; riwayat Abu Fulan, bukan hadis dan pendapatnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.\u201d Mengenai hal ini, al-Baihaqi menjelaskan, \u201cAlasan Ahmad bin Hanbal berkomentar tentang Imam Malik seperti itu, karena Imam Malik sering meninggalkan hadis shahih dan lebih mengutamakan amalan penduduk Madinah. Tentang al-Awza\u2019i, alasannya karena dalam beberapa masalah ia sering menggunakan hadis-hadis maqth\u00fb\u2019[4] dan mursal[5] sebagai hujjah (dalil), lalu mengqiyaskannya dalam masalah-masalah furu\u2019iyah. Tentang Syafi\u2019i, alasannya karena ia hanya menggunakan hadis-hadis shahih sebagai hujjah, lalu mengqiyaskannya dalam masalah-masalah furu\u2019iyah.<\/p>\n<p>c.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Imam an-Nawawi berkata, \u201cBukti Imam Syafi\u2019i sebagai pakar hadis adalah kegigihannya dalam membela hadis, mengikuti sunah, mengkodifikasikan hadis agar bisa dijadikan sebagai dalil madzhabnya, meneliti hadis, dan mengupas makna-makna hadis secara mendalam. Karena itu, ketika Imam Syafi\u2019i datang ke Irak, ia langsung dijuluki sebagai Pembela Hadis. Bahkan dalam istilah para ulama klasik dan ulama ahli fiqih Khurasan, para pengikut madzhab Syafi\u2019i lazim disebut sebagai para pengikut hadis. Diriwayatkan dari Abu Bakar Muhamad bin Ishaq bin Khuzaimah yang dikenal dengan sebutan Imamnya para imam. Karena ia termasuk jajaran ulama penghafal hadis dan ahli hadis. Ia pernah ditanya, \u201cApakah anda mengetahui adanya hadis shahih yang belum sempat ditulis oleh Syafi\u2019i?\u201d \u201cTidak,\u201d jawabnya. Berdasarkan riwayat ini, dapat diketahui ketelitian Imam Syafi\u2019i dalam menghimpun hadis yang tiada bandingannya. Namun demikian, Imam Syafi\u2019i berpesan, \u201cJika ada pendapatnya yang bertentangan dengan hadis shahih, maka hendaknya mengamalkan hadis shahih dan meninggalkan pendapatnya.\u201d[6]<\/p>\n<p>d.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Syeikh Muhammad al-Hudhari Bek berkomentar, \u201cSalah satu karya Imam Syafi\u2019i yang spektakuler adalah kitab al-Mars\u00fbm bi Ikhtil\u00e2f al-Had\u00eets. Dalam kitab ini, Imam Syafi\u2019i menuliskan pembelaannya terhadap sunah secara umum dan hadis ahad secara khusus.\u201d[7]<\/p>\n<p>e.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Imam ar-Razi berkata, \u201cKarya Imam Syafi\u2019i yang berjudul Musnad asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee merupakan kitab yang sangat populer di dunia. Hebatnya lagi, tidak ada seorang pun yang mampu mengkritisi kitab tersebut. Kalau pun ada yang mengkritiknya, hanya dari kalangan kaum rasionalis dan kritikan kaum rasionalis terhadap hadis tidak berpengaruh apa-apa.\u201d[8]<\/p>\n<p>Demikianlah bukti-bukti yang menunjukkan Imam Syafi\u2019i sebagai ahli hadis dan pembela hadis. Memang ada beberapa kritikan yang meragukan kapabilitas Imam Syafi\u2019i di bidang hadis. Namun hal itu disebabkan karena beberapa persepsi yang salah, di antaranya:<\/p>\n<p>Pertama, Imam Syafi\u2019i pernah menggunakan hadis dha\u2019if (lemah) sebagai dalil. Padahal menurut para ahli hadis, tidak boleh berdalil dengan hadis lemah atau hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah seperti rawi yang bernama Ibrahim bin Yahya, karena ia dianggap sebagai orang Qadariyah (penganut faham determinisme, penerj.).<\/p>\n<p>Persepsi pertama dijawab oleh Imam Muslim. Imam Muslim diberitakan oleh seseorang yang mengkritik Imam Syafi\u2019i, karena telah meriwayatkan hadis dari para periwayat yang lemah. Lalu Imam Muslim berkomentar, \u201cSebenarnya Imam Syafi\u2019i tidak pernah berpedoman dengan hadis-hadis lemah tersebut. Dalam menjawab problematika agama, Imam Syafi\u2019i lebih berpedoman pada al-Qur\u2019an dan qiyas (analogi). Kemudian ia menyebutkan hadis-hadis yang mendukung pendapatnya, baik hadis yang kuat maupun yang lemah. Jika di antara hadis-hadis tersebut, ada hadis yang shahih (kuat), maka ia berpedoman dengan hadis tersebut. Tetapi jika hadis-hadis yang disebutkannya itu lemah, maka ia menjadikan hadis-hadis tersebut sebagai penguat dalil saja, bukan sebagai dalil utamanya dalam beristidl\u00e2l (mengambil kesimpulan hukum).<\/p>\n<p>Adapun masalah Imam Syafi\u2019i meriwayatkan hadis dari Ibrahim bin Yahya, padahal ia adalah orang Qadariyah, maka Syafi\u2019i berkata, \u201cIbrahim bin Yahya itu lebih baik daripada para pendusta hadis, karena ia termasuk orang yang kredibel dalam hadis.\u201d[9]<\/p>\n<p>Lebih lanjut Imam ar-Razi memperjelas permasalahan ini. Menurutnya, para ulama ahli ushul fiqih masih berbeda pendapat tentang boleh tidaknya meriwayatkan hadis dari pembuat bid\u2019ah (mubtadi\u2019)[10], namun baik agamanya (\u2018adl). Sebagian ulama memperbolehkannya dan mungkin Imam Syafi\u2019i termasuk orang yang mengikuti pendapat ulama tersebut.<\/p>\n<p>Persepsi Kedua, Imam al-Bukhari dan Muslim tidak pernah meriwayatkan hadis dari Syafi\u2019i. Jika Syafi\u2019i termasuk orang yang kredibel dalam hadis, pasti kedua imam tersebut meriwayatkan hadis darinya, sebagaimana keduanya mengambil riwayat hadis dari para ahli hadis lainnya.<\/p>\n<p>Persepsi ini dapat dibantah dengan jawaban berikut ini. Imam al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan hadis dari Imam Syadi\u2019i, bukan karena Syafi\u2019i dianggap sebagai rawi yang lemah. Tetapi karena kedua imam tersebut tidak pernah bertemu dengannya. Seandainya kedua pengumpul hadis itu meriwayatkan hadis dari Syafi\u2019i, maka keduanya harus meriwayatkan hadis dari murid-murid Syafi\u2019i. Padahal kebanyakan guru-guru imam al-Bukhari dan Muslim adalah murid-muridnya Imam Malik. Mungkin atas dasar inilah, kedua imam hadis itu enggan meriwayatkan hadis dari Syafi\u2019i, karena bisa menurunkan kualitas periwayatannya. Sebab menurut para ahli hadis, murid-murid imam Malik itu tingkatannya lebih tinggi disbanding murid-murid imam Syafi\u2019i. Di samping itu, semata-mata tidak mengambil riwayat hadis dari Syafi\u2019i, tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk meniliai Imam Syafi\u2019i sebagai rawi yang lemah. Karena penilaian terhadap lemah atau kuatnya periwayat hadis harus dibahas secara mendalam dan bahasannya ada dalam bab al-Jarh wa at-Ta\u2019d\u00eel. Bagaimana mungkin Syafi\u2019i dianggap rawi yang lemah, padahal imam al-Bukhari sendiri tidak memasukkan nama Syafi\u2019i sebagai deretan rawi-rawi yang lemah yang disebutkan dalam kitabnya al-T\u00e2rikh al-Kab\u00eer. Sementara Imam Muslim mengakui kredibilitas Imam Syafi\u2019i di bidang hadis.<\/p>\n<p>Alasan lainnya adalah Imam al-Bukhari dan Muslim banyak meriwayatkan hadis dari Ahmad bin Hanbal. Sementara Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya dari Syafi\u2019i. Jika riwayat dari Syafi\u2019i\u00a0 itu lemah, maka riwayat Ahmad pun menjadi lemah, dan otomatis riwayat al-Bukhari dan Muslim pun menjadi lemah. Tetapi jika riwayat Ahmad dari Syafi\u2019i tidak dipermasalahkan lagi, maka perdebatan ini tidak perlu diperpanjang, karena sudah jelas duduk perkaranya.[11]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Ibid., halaman 79-80.<br \/>\n[2] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani, Op. Cit., halaman 45.<br \/>\n[3] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 80.<br \/>\n[4] Hadis maqth\u00fb\u2019 adalah hadis yang sanadnya terputus, penerj.<br \/>\n[5] Hadis mursal adalah hadis yang di dalam sanadnya tidak menyebutkan nama sahabat, penerj.<br \/>\n[6] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarah al-Muhadzdzab, Op. Cit., I\/19.<br \/>\n[7] Al-Khudhari, T\u00e2rikh at-Tasyr\u00ee\u2019 al-Isl\u00e2m\u00ee, halaman 318.<br \/>\n[8] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 83.<br \/>\n[9] Ibid.<br \/>\n[10] Orang yang mengikuti paham Qadariyah atau Jabariyah dianggap sebagai pembuat bid\u2019ah, penerj.<br \/>\n[11] An-Nawawi, al-Majm\u00fb\u2019 Syarah al-Muhadzdzab,Op. Cit., I\/15; al-Baihaqi, Op. Cit., halaman 15.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Syafi\u2019i sebagai Ahli Hadis dan Pembela Sunah Imam Syafi\u2019i termasuk ahli hadis dan periwayat hadis yang terpercaya. Namun ketenarannya di bidang fiqih mengalahkan popularitasnya di bidang hadis. Bukti kepakaran Imam Syafi\u2019i di bidang hadis dapat dilihat dari kemampuannya menghafal kitab al-Muwaththa\u2019 karya Imam Malik pada saat umurnya masih 13 tahun. Kemudian ia membacakan hafalannya tersebut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-117","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-syafii-sebagai-ahli-hadis-dan-pembela-sunah"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=117"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/117\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=117"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=117"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=117"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}