{"id":107,"date":"2025-03-27T07:16:59","date_gmt":"2025-03-27T07:16:59","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/nasab-syafii-dari-pihak-ayah\/"},"modified":"2025-03-27T07:27:35","modified_gmt":"2025-03-27T07:27:35","slug":"nasab-syafii-dari-pihak-ayah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/nasab-syafii-dari-pihak-ayah\/","title":{"rendered":"Nasab Syafi\u2019i dari Pihak Ayah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Nasab Syafi\u2019i dari Pihak Ayah<\/strong><\/p>\n<p>Nama lengkap Imam Syafi\u2019i adalah Abu Abdullah[1] Muhamad bin Idris bin al-\u2018Abbas bin \u2018Utsman bin Syafi\u2019 bin as-Sa\u2019ib bin \u2018Ubaid bin \u2018Abd Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthallib bin \u2018Abd Manaf bin Qushay al-Quraysyi al-Muthallibi. Nasab Imam Syafi\u2019i bertemu dengan nasab Rasulullah Saw. pada titik \u2018Abd Manaf.\u00a0 Dengan demikian, jika ditilik dari jalur paman dan bibi Imam Syafi\u2019i dari jalur ayah, ia adalah kemenakan jauh Rasulullah Saw.\u00a0 Sementara jika dirunut nasab bibinya dari jalur ibu, maka ia adalah kemenakan jauh dari \u2018Ali ra.<\/p>\n<p>Dalam kitab Tahdz\u00eeb al-Asm\u00e2\u2019 wa al-Lugh\u00e2t,[2] \u00a0Imam an-Nawawi mengatakan, \u201cImam Syafi\u2019i adalah orang Quraisy dari Bani Muthallib dan ibunya berasal dari suku Azdi. Demikian kesepakatan para ulama dari berbagai golongan.\u201d Pernyataan Imam an-Nawawi ini merupakan counter terhadap pendapat yang meragukan keabsahan nasab Imam Syafi\u2019i dari suku Quraisy. Pendapat tersebut dianggap sy\u00e2dz (nyleneh), tidak shahih, dan tidak dapat dijadikan sebagai rujukan.<\/p>\n<p>Imam ar-Razi mengemukakan kritik al-Jurjani mengenai nasabnya Imam Syafi\u2019i dalam bukunya Man\u00e2qib al-Im\u00e2m asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee.[3] Al-Jurjani adalah salah satu ulama fiqih Madzhab Hanafi. Ia berkata, \u201cPara pengikut Imam Malik tidak sepakat bahwa nasab Imam Syafi\u2019i adalah dari suku Quraisy. Bahkan mereka menyatakan bahwa Syafi\u2019i termasuk hamba sahayanya Abu Lahab. Lalu ia memohon kepada \u2018Umar untuk dijadikan sebagai hamba sahayanya suku Quraisy, namun \u2018Umar menolaknya. Kemudian permintaannya itu dikabulkan oleh \u2018Utsman. Atas dasar ini, ditegaskan bahwa Syafi\u2019i termasuk salah satu budak dan tidak berasal dari suku Quraisy.\u201d<\/p>\n<p>Pendapat ini ditolak oleh Imam ar-Razi dan kedustaannya dapat ditinjau dari beberapa aspek, di antaranya:<\/p>\n<p>a.\u00a0\u00a0\u00a0 Ditetapkan secara mutawatir bahwa Syafi\u2019i patut merasa bangga dengan nasabnya tersebut. Namun ada sebagian ulama pengikut Imam Malik dan Imam Abu Hanifah yang merasa iri kepadanya. Karena Imam Syafi\u2019i banyak mengkritik dan menjelaskan kelemahan-kelemahan pendapat yang dikemukakan oleh kedua madzhab tersebut.[4]<\/p>\n<p>b.\u00a0\u00a0 Banyak ulama besar yang menshahihkan riwayat mengenai nasabnya Imam Syafi\u2019i. Dalam kitab at-T\u00e2rikh al-Kab\u00eer, Muhamad bin Isma\u2019il al-Bukhari menegaskan, \u201cMuhamad bin Idris bin al-\u2018Abbas berasal dari suku Quraisy.\u201d Muslim bin al-Hajjaj berpendapat, \u201cAbdullah bin as-Sa\u2019ib \u2013Penguasa Kota Mekah- adalah saudara asy-Syafi\u2019 bin as-Sa\u2019ib. Ia adalah kakeknya Muhamad bin Idris (Imam Syafi\u2019i, penerj.).\u201d Imam ar-Razi menyatakan, \u201cTidak diragukan lagi bahwa Abdullah bin as-Sa\u2019ib berasal dari Bani al-Muthallib.\u201d[5]<\/p>\n<p>c.\u00a0\u00a0\u00a0 Imam Syafi\u2019i pernah berkata kepada Khalifah Harun ar-Rasyid yang menuduh dirinya bersekongkol dengan Kaum \u2018Alawiyah dan ingin memberontak kepadanya. Ia menegaskan, \u201cItu adalah fitnah, wahai Amirul Mukminin. Sebenarnya saya selalu mendukung Anda dan tidak menyokong Kaum \u2018Alawiyah.\u201d Kemudian Imam Syafi\u2019i membuktikan pernyataan tersebut dengan mengemukakan tentang nasab dirinya di hadapan Harun ar-Rasyid, karena sang Khalifah merasa sangat khawatir akan hal itu. Pernyataan Imam Syafi\u2019i tersebut menunjukkan bahwa nasabnya sangat jelas, sejelas sinar matahari.[6]<\/p>\n<p>Kemudian Imam ar-Razi melanjutkan perkataannya, \u201cAl-Jurjani sengaja mengkritik nasab Imam Syafi\u2019i, karena semua orang tahu bahwa Abu Hanifah dulunya adalah hamba sahaya. Namun mereka masih bersilang\u00a0 pendapat tentang status kemerdekaan Abu Hanifah. Ada yang menyatakan bahwa Abu Hanifah telah dimerdekakan oleh majikannya sendiri. Ada pula yang menyebutkan, Abu Hanifah merdeka karena telah menyelesaikan kontrak dengan majikannya. Perdebatan mereka mengenai hal ini cukup panjang. Tuduhan mengenai nasab Imam Syafi\u2019i sengaja dilancarkan dengan tujuan untuk mengimbangi status imam mereka. Tudahan tersebut seperti perumpamaan yang disinyalir dalam firman Allah Swt. \u201cMereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai,\u201d (QS. At-Taubah [9] : 32).[7]<\/p>\n<p>Profesor Mushthafa Abdur Razaq dalam kitab A\u2019l\u00e2m al-Isl\u00e2m,[8] menjelaskan, \u201cBenang merah dari perdebatan mengenai nasab Imam Syafi\u2019i adalah pernyataan al-Khathib al-Baghdadi mengenai biografi Imam Syafi\u2019i yang menyebutkan bahwa ibunda Syafi\u2019i adalah budak perempuan.\u201d<\/p>\n<p>Dengan demikian, dapat disimpulkan, nasab Imam Syafi\u2019i dari jalur ayah adalah berasal dari suku Quraisy Bani al-Muthallib. Adapun pendapat lain menganai hal ini adalah pendapat yang nyleneh dan tidak dapat dipertanggungjawabkan validitasnya.<\/p>\n<p>Allah Swt. mengunggulkan suku Quraisy dari suku-suku lainnya. Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukari dan Muslim. Rasulullah Saw. bersabda, \u201cSesungguhnya para Imam itu berasal dari suku Quraisy.\u201d<\/p>\n<p>Selanjutnya dalam kitab Shah\u00eeh Muslim disebutkan sebuah hadis dari riwayat Wa\u2019ilah bin al-Asqa\u2019 ra. Ia berkata, saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda, \u201cSesungguhnya Allah Swt. memilih Kinanah dari keturunan Isma\u2019il; memilih Quraisy dari Kinanah; memilih Bani Hasyim dari Quraisy; dan memilihku dari Bani Hasyim.\u201d<\/p>\n<p>Dalam kitab Man\u00e2qib al-Im\u00e2m asy-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, al-Baihaqi menyebutkan hadis-hadis yang menunjukkan keutamaan suku Quraisy dan ilmu yang dikuasai oleh orang alim dari Quraisy dapat memenuhi lapisan bumi. Salah satu hadis tersebut adalah riwayat Abu Hurairah, dari Nabi Saw. Beliau berdoa, \u201cYa Allah, berikanlah petunjuk kepada kaum Quraisy, karena ilmunya orang alim Quraisy dapat memenuhi lapisan bumi. Ya Allah, sebagaimana Engkau timpakan kepada mereka siksa, maka berikanlah kepada mereka anugerah (ilmu).\u201d Nabi Muhamad Saw. memanjatkan doa tersebut sebanyak tiga kali.[9] Kemudian al-Baihaqi menyatakan, \u201cSanad-sanad hadis mengenai keutamaan suku Quraisy, jika digabungkan antara satu dan lainnya, maka akan saling menguatkan, sehingga menjadi riwayat yang kuat.\u201d<\/p>\n<p>Dengan demikian, Nabi Muhamad Saw. adalah keturunan Bani Hasyim dan Imam Syafi\u2019i adalah keturunan Bani Muthallib dari jalur ayah. Namun jika ditilik dari nenek moyang Imam Syafi\u2019i dari jalur ibu, maka ia juga termasuk keturunan Bani Hasyim. Sementara kalau dilihat dari jalur ibu kandungnya, maka ia adalah keturunan suku Azdi. Azdi sendiri adalah putra paman Rasulullah Saw., atau anak laki-laki dari bibi Rasulullah Saw., dan atau putra bibi Ali ra. (Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dalam lampiran Silsilah Nasab Imam Syafi\u2019i).<\/p>\n<p>\u2018Abdu Manaf \u2013orang yang sangat berpengaruh di kalangan suku Quraisy- memiliki empat anak laki-laki, yaitu: Hasyim \u2013kakek Rasulullah Saw. tingkat kedua-, \u2018Abd Syams, Naufal, dan al-Muthallib. Sementara nasab Imam Syafi\u2019i berujung pada al-Muthallib. Al-Muthallib sendiri adalah orang yang mulia dan disegani oleh kaumnya. Orang-orang Quraisy menjulukinya Dermawan, karena kemurahan hati dan kebaikannya. Para ulama masih berbeda pendapat mengenai siapakah yang lebih tua, Hasyim ataukah al-Muthalib. Ibnu Sa\u2019d, dalam kitab ath-Thabaq\u00e2t al-Kubra,[10] menyebutkan sebuah riwayat dari Muhamad bin \u2018Umar bin Waqid al-Aslami yang menyatakan bahwa al-Muthallib bin \u2018Abd Manaf\u00a0 bin Qushay adalah lebih tua dari Hasyim dan \u2018Abd Syams.<\/p>\n<p>Dalam kitab Hay\u00e2t Muhammad,[11] Prof. Muhamad Husain Haikal mengutip pendapat Ibnu Khaldun dari kitab Tarikhnya[12] dan pendapat Ibnu Hisyam dari kitab Sirahnya.[13] Berikut kutipannya, \u201cAl-Muthallib itu lebih muda dari \u2018Abd Syams. Artinya, al-Muthallib dilahirkan setelah Hasyim dan \u2018Abd Syams. Al-Muthallib dan Hasyim adalah dua saudara kandung yang saling percaya dan saling tolong menolong.\u00a0 Setelah Hasyim wafat, al-Muthallib mengurus barang dagangan dan harta peninggalan Hasyim. Sebagaimana ia juga merawat putranya Hasyim, yaitu \u2018Abdul Muthallib \u2013kakek Rasulullah Saw.-\u201c<\/p>\n<p>Dalam kitab ath-Thabaq\u00e2t al-Kubra, Ibn Sa\u2019d menceritakan bahwa Hasyim \u2013saudara al-Muthallib- menikah dengan wanita dari Yatsrib. Wanita itu bernama Sulami binti \u2018Amr bin Zaid bin Labid. Kemudian Sulami mengandung Abdul Muthallib dan melahirkan putranya itu. Tapi anehnya, rambut bayinya itu ada yang putih, sehingga anaknya dinamakan Syaybah (beruban). Lalu Hasyim pergi ke Siria untuk menemui sahabat-sahabatnya. Sesampainya di Ghaza, ia sakit keras, dan akhirnya meninggal. Maka, para sahabatnya itu menguburkan Hasyim di Ghaza dan mengembalikan harta peninggalannya kepada putranya.\u00a0 Pendapat lain menyatakan, al-Muthallib pergi ke Yatsrib dan mencari Sulami\u00a0 (isteri Hasyim, penerj.) untuk menyerahkan putranya yang kini telah beranjak dewasa. Lalu al-Muthallib pulang kembali ke Mekah bersama \u2018Abdul Muthallib (putera Hasyim, penerj.). Dalam riwayat lain disebutkan, pada suatu hari al-Muthallib pergi berdagang ke negeri Yaman. Namun tiba-tiba, ia terjangkit wabah yang sedang melanda negeri Yaman. Maka, ia pun menyerahkan barang dagangan dan harta peninggalan kepada \u2018Abdul Muthallib bin Hasyim.[14]<\/p>\n<p>Dengan demikian, Bani al-Muthallib menjalin kerja sama dengan Bani Hasyim. Sementara Bani Naufal bersekutu dengan Bani \u2018Abd Syams. Jalinan kerja sama itu terus berlangsung sampai munculnya Islam. Bani Hasyim dan Bani al-Muthallib adalah dua kubu yang mendukung dan membela perjuangan Nabi Muhamad Saw. Sedangkan Bani \u2018Abd Syams dan Bani Naufal adalah dua kaum yang memusuhi dan menghalangi dakwah Nabi Muhamad Saw. Karena itu, Nabi Muhamad Saw. bersabda, \u201cKami dan Bani al-Muthallib adalah satu keturunan.\u201d[15] Nabi Saw. menganggap Bani al-Muthallib sebagai bagian dari kerabatnya. Tetapi, ia tidak menganggap Bani \u2018Abd Syams dan Bani Naufal sebagai bagian dari keluarganya.<\/p>\n<p>Adapun \u2018Abd Yazid, \u2018Ubaid, as-Saib, dan Syafi\u2019 adalah para sahabat Rasulullah Saw. Sebagaimana hal ini ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani dalam kitab al-Ish\u00e2bah f\u00ee Tamy\u00eez ash-Shah\u00e2bah.[16] Ia berkata, \u201cDengan demikian, ada 4 nama dalam nasab tersebut yang merupakan para sahabat Nabi Saw; yaitu: \u2018Abd Yazid dan putranya (\u2018Ubaid), as-Sa\u2019ib bin \u2018Ubaid dan putranya (Syafi\u2019 bin as-Sa\u2019ib).\u201d<\/p>\n<p>Imam Fakhrur Razi bercerita, \u201cSaat perang Badar, as-Sa\u2019ib bin \u2018Ubaid ditawan oleh para sahabat Nabi Saw. dan akhirnya ia masuk Islam. Postur tubuh dan penampilan as-Sa\u2019ib mirip Rasulullah Saw.\u201d\u00a0 Dalam satu riwayat disebutkan, ketika Nabi Saw. menemui as-Sa\u2019id dan pamannya al-\u2018Abbas, beliu bersabda kepada as-Sa\u2019ib, \u201cIni adalah sahabatku dan aku adalah sahabatnya.\u201d Dengan demikian, jelaslah bahwa as-Sa\u2019ib dan Abdullah bin as-Sa\u2019ib -saudara Syafi\u2019 bin as-Sa\u2019ib- adalah sahabat nabi.<\/p>\n<p>Dalam kitab T\u00e2rikh Baghd\u00e2d, al-Khathib meyebutkan sebuah riwayat dari al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari. Ia berkata, \u201cSaat remaja, Syafi\u2019 bin as-Sa\u2019ib yang merupakan nisbat Imam Syafi\u2019i pernah bertemu dengan Rasulullah Saw. Sementara as-Sa\u2019ib sendiri (ayahnya) adalah seorang sahabat yang memegang panji Bani Hasyim. Sebelum masuk Islam, ia membayar tebusan kepada kaum muslimin untuk kebebasan dirinya dari status tahanan perang. Lalu ditanyakan kepadanya, \u201cKenapa kamu tidak masuk Islam saja sebelum membayar tebusan?\u201d Ia menjawab, \u201cSaya tidak ingin memupuskan harapan kaum muslimin yang menginginkan hartaku.\u201d[17]<\/p>\n<p>Adapun \u2018Utsman bin Syafi\u2019, umurnya cukup panjang. Ia hidup sampai masa kekhalifahan Abu al-\u2018Abbas as-Saffah. Ada kisah menarik tentang dirinya. Yaitu ketika as-Saffah ingin memberikan seperlima harta rampasan perang khusus untuk Bani Hasyim (tanpa memberikan bagian kepada Bani al-Muthallib), maka ia bangkit dan menolak ide as-Saffah. Hingga akhirnya, pembagian harta rampasan perang disesuaikan dengan ketentuan pembagian yang terjadi di masa Nabi Saw.[18] (Yaitu dengan memberikan bagian kepada Bani al-Muthallib, penerj.).<\/p>\n<p>Sedangkan Idris \u2013ayah Imam Syafi\u2019i-, maka tidak ditemukan adanya catatan sejarah yang pasti mengenai kehidupannya. Hanya saja disebutkan bahwa Idris adalah orang Hijaz yang hidup sederhana. Ia hijrah dari Madinah ke\u00a0 Palestina, tepatnya di daerah Ghaza atau \u2018Asqalan. Ia meninggal dan dikebumikan di daerah tersebut tidak lama setelah kelahiran Imam Syafi\u2019i.[19]<\/p>\n<hr \/>\n<p>[1] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani menegaskan, \u201cNama kunyah (nama yang diawali dengan Abu atau Ummu, penerj-) Imam Syafi\u2019i dapat dilihat dalam riwayatnya al-Hakim dari Thariq al-Maymuni. Thariq berkata, saya mendengar Ahmad bin Hanbal berkata kepada\u00a0 Abu \u2018Utsman bin asy-Syafi\u2019i; \u2018Saya kagum kepadamu (Imam Syafi\u2019i) karena tiga hal: (1) kamu adalah keturunan suku Quraisy (2) kamu adalah anaknya Abu Abdullah, dan (3) kamu adalah ahli sunnah\u2019,\u201d. Lihat Ibnu Hajar, Taw\u00e2l\u00ee al-Ta\u2019s\u00ees bi Ma\u2019\u00e2l\u00ee ibn Idr\u00ees, (T.tp: al-Mairiyah, 1301 H.), halaman 44.<br \/>\n[2] Al-Nawawi, Tahdz\u00eeb al-Asm\u00e2\u2019 wa al-Lugh\u00e2t, (T.tp : al-Munirah, t.th), I\/44.<br \/>\n[3] Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m al-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, halaman 3.<br \/>\n[4] Ibid., halaman 4-5.<br \/>\n[5] Ibid.<br \/>\n[6] Ibid.<br \/>\n[7] Ibid., halaman 5.<br \/>\n[8] Prof. Mushthafa Abdur Razaq, A\u2019l\u00e2m al-Isl\u00e2m, (T.tp : \u2018Isa al-Halbi, t.th), halaman 10.<br \/>\n[9] Al-Baihaqi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m al-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, manuskrip yang dikopi oleh Ma\u2019had Ihya\u2019 al-Makhthuthat, di Universitas Saudi Arabia, 1949, halaman 5.<br \/>\n[10] Ibnu Sa\u2019d, ath-Thabaq\u00e2t al-Kubra, (Beirut: t.p., 1957 H.), I\/81.<br \/>\n[11] Prof. Muhamad Husain Haikal, Hay\u00e2t Muhammad, (T.tp: Lajnah at-Ta\u2019lif, 1956), halaman 98.<br \/>\n[12] Ibnu Khaldun, T\u00e2rikh ibn Khald\u00fbn, (T.tp : an-Nahdhah, 1936), II\/150.<br \/>\n[13] Ibnu Hisyam, as-S\u00eerah an-Nabawiyyah, (T.tp : Mushthafa al-Halbi, t.th), I\/79 dan 83.<br \/>\n[14] Ibn Sa\u2019d, \u00a0ath-Thabaq\u00e2t al-Kubra, (Beirut: t.p., 1957), I\/78-79.<br \/>\n[15] Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m al-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, halaman 7.<br \/>\n[16] Ibnu Hajar al-\u2018Asqalani, al-Ish\u00e2bah f\u00ee Tamy\u00eez ash-Shah\u00e2bah, (T.tp : Musthafa Muhamad, t.th.), II\/424.<br \/>\n[17] Ar-Razi, Man\u00e2qib al-Im\u00e2m al-Sy\u00e2fi\u2019\u00ee, halaman 2.<br \/>\n[18] Ibnu Hajar Taw\u00e2l\u00ee al-Ta\u2019s\u00ees bi Ma\u2019\u00e2l\u00ee ibn Idr\u00ees, (T.tp: al-Mairiyah, 1301 H.), halaman 45.<br \/>\n[19] Prof. Mushthafa Abdur Razaq, A\u2019l\u00e2m al-Isl\u00e2m, halaman 11-12.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nasab Syafi\u2019i dari Pihak Ayah Nama lengkap Imam Syafi\u2019i adalah Abu Abdullah[1] Muhamad bin Idris bin al-\u2018Abbas bin \u2018Utsman bin Syafi\u2019 bin as-Sa\u2019ib bin \u2018Ubaid bin \u2018Abd Yazid bin Hasyim bin Abdul Muthallib bin \u2018Abd Manaf bin Qushay al-Quraysyi al-Muthallibi. Nasab Imam Syafi\u2019i bertemu dengan nasab Rasulullah Saw. pada titik \u2018Abd Manaf.\u00a0 Dengan demikian, jika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":624,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-107","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-nasab-syafii-dari-pihak-ayah"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/users\/624"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=107"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":112,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/107\/revisions\/112"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=107"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=107"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/ensiklopedia-imam-syafii\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=107"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}