Tokoh-tokoh Madzhab Syafi’i


Dalam pembahasan ini, kami akan menyebutkan secara lengkap ulama-ulama besar yang mengikuti madzhab Syafi’i dan sangat berjasa dalam penyebaran madzhab fiqih terbesar sepanjang sejarah Islam. Mulai dari ulama yang hidup sezaman dengannya sampai pertengahan abad ke 18 Hijriyah atau tepatnya pada masa Imam Tajudin as-Subki.

Imam Syafi’i terkenal sebagai tokoh yang paling banyak diikuti orang dan madzhabnya disebarkan oleh para ulama sesudahnya. Para ulama yang mengikuti madzhab Syafi’i bukanlah ulama sembarangan, tetapi ulama besar yang banyak menghasilkan karya-karya ilmiah. Bahkan, sebagiannya adalah para ulama yang berkedudukan sebagai mujtahid mutlak. Banyak buku-buku biografi yang telah ditulis mengenai nama-nama ulama besar tersebut, di antaranya: Thabaqât asy-Syâfi’iyyah karya Imam as-Subki, Wafayât al-A’yân karya Ibnu Khilikkan, Quwwât al-Wafayât karya Muhamad al-Katibi, dan sebagainya. Sayangnya, buku-buku tersebut masih belum sempurna dalam menjelaskan para pengikut Imam Syafi’i berikut silsilahnya secara lengkap. Karena itu, saya berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakannya. Dalam pembahasan ini, saya menuliskan secara lengkap biografi para imam pengikut madzhab jadîd Syafi’i dan silsilahnya. Disebutkan juga sebagian para pengikut madzhab qadîm agar lebih sempurna pembahasannya. Mengingat tidak mudahnya upaya ini, saya senantiasa memohon bimbingan Allah yang Maha Kuasa.

1.      Ahmad bin Hanbal (w. 241 H.), imam besar yang merupakan salah satu imam dari 4 imam madzhab fiqih yang terkenal itu. Nama lengkap: Abu Abdullah Ahmad bin Muhamad bin Hanbal bin Hilal bin Asad. Ia adalah murid utama Imam Syafi’i yang senantiasa mengikuti gurunya sampai gurunya pindah ke Mesir. Gurunya pernah berkata, “Saya keluar dari Baghdad dan meninggalkan seorang murid yang paling alim, yaitu Ibnu Hanbal.”[1]

2.      Abu Bakar al-Humaidi (W. 129 H. di Mekah), nama lengkap: Abu Bakar Humaid bin Zuhair bin al-Harits bin Asad al-Humaidi. Ia banyak meriwayatkan hadis dan belajar fiqih kepada Imam Syafi’i. Ia menemani perjalanan Imam Syafi’i ke Baghdad dan Mesir. Imam Ahmad berkomentar, “Al-Humaidi adalah imam besar di kalangan kami.” Ar-Rabi’ menegaskan, bahwasanya ia pernah mendengar Imam Syafi’i berkata, “Saya tidak pernah menemukan orang yang memiliki hafalan lebih kuat daripada al-Humaidi.” Abu Abdullah Al-Hakim menimpali, “Al-Humaidi adalah mufti dan ahli hadis di kalangan penduduk Mekah. Keahliannya di bidang hadis sangat diakui oleh penduduk Hijaz, sama seperti diakuinya kemampuan hadis Imam Ahmad bin Hanbal di kalangan penduduk Irak.”[2]

3.      Abu al-Walid al-Makki, nama lengkap: Musa bin Abu al-Jarud. Ia adalah orang yang meriwayatkan kitab al-Amâlî dari Syafi’i dan termasuk pengikut Syafi’i yang terpercaya. Abu ‘Ashim berkomentar, “Apabila terdapat pertentangan riwayat, maka ia adalah orang yang paling handal memecahkannya. Gurunya: Yahya bin Ma’in dan Abu Ya’qub al-Buwaithi. Muridnya: az-Za’farani, ar-Rabi’, dan Abu Hatim ar-Razi.

Ia termasuk ulama ahli fiqih yang sangat disegani, tinggal di Mekah, dan berfatwa sesuai dengan madzhab Syafi’i. Abu al-Walid berkata, saya mendengar Syafi’i berkata, “Apabila saya mengemukakan suatu pendapat dan ternyata ada hadis shahih dari Rasulullah Saw. yang menyalahi pendapatku itu, maka pendapat yang harus diambil adalah pendapat yang sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.” Pernyataan ini diriwayatkan oleh al-Humaidi, ar-Rabi’, Abu Tsur, dan lainnya dari Syafi’i.[3]

4.      Al-Buwaithi (W. 231 H.), nama lengkap: Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi al-Mishri. Ia adalah murid senior Imam Syafi’i sewaktu di Mesir, yang termasuk imam besar, rajin beribadah, zahid, dan ahli fiqih kenamaan. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai pakarnya ilmu dan mahkotanya ilmu. Ia belajar fiqih langsung kepada Imam Syafi’i, meriwayatkan hadis darinya, dan menjadi teman istimewanya. Ia mempunyai satu kitab yang berisi ringkasan pernyataan-pernyataan Imam Syafi’i. Abu ‘Ashim berkomentar, “Ia adalah orang yang sangat pandai dalam memahami sistematika kitab al-Mabsûth.” Ar-Rabi’ bercerita, “Al-Buwaithi adalah sandaran fatwanya Imam Syafi’i. Setiap ada masalah, ia seringkali dipercaya oleh Imam Syafi’i untuk memberikan fatwa. Sepeninggal Imam Syafi’i, ia didaulat untuk menggantikan gurunya itu. Banyak ulama besar yang mencuat berkat bimbingannya. Para ulama itu tersebar ke berbagai penjuru negeri dan menyebarkan ilmu Syafi’i ke segenap penjuru dunia.”[4]

5.      Al-Muzani (lahir 175 H. dan wafat pada akhir bulan Ramadhan 264 H.), nama lengkap: Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya bin Isma’il bin ‘Amr bin Ishaq al-Muzani. Ia adalah imam besar yang sangat gigih membela madzhab Syafi’i. Gurunya: Syafi’i, Nu’aim bin Hammad, dan lainnya. Muridnya: Ibnu Khuzaimah, ath-Thahawi, Zakariya as-Saji, Ibnu Hawsha’, Ibnu Abi Hatim, dan lainnya. Ia adalah orang yang sangat alim pandai berdebat dan berargumentasi. Syafi’i sendiri pernah berkomentar tentangnya, “Seandainya al-Muzani terlibat perdebatan dengan setan, pasti ia akan mengalahkannya.” Ia juga termasuk orang yang sangat zahid, wara’, qana’ah, dan giat berdakwah. Apabila tertinggal salat jama’ah, maka ia menyempurnakan salatnya dengan salat sunah sebanyak 25 raka’at. Ia sering memandikan jenazah, sebagai media berintrospeksi diri dan menguatkan semangat ibadah. Katanya, “Saya memandikan jenazah agar hatiku menjadi lentur.” Abu Ishaq asy-Syairazi mengomentarinya, “Al-Muzani adalah orang yang zahid, alim, mujtahid, ahli debat, orator ulung yang pandai merangkai kata dengan makna yang sangat dalam. Ia juga telah menuliskan banyak peninggalan intelektual yang tak ternilai harganya, di antaranya: al-Jâmi’ al-Kabîr, al-Jâmi’ ash-Shaghîr, al-Mukhtashar, al-Mantsûr, al-Masâ’il al-Mu’tabarah, at-Targhîb fî al-‘Ilm, Kitâb al-Watsâ’iq, Kitâb al-‘Aqârib, dan Kitâb Nihâyah al-Ikhtishâr.

Imam Syafi’i berkata, “Al-Muzani adalah pembela madzhabku.” Ar-Rabi’ bin Sulaiman bercerita, “Kami menjenguk Imam Syafi’i saat sakit keras menjelang ajalnya, dengan ditemani oleh al-Buwaithi, al-Muzani, dan Muhamad bin Abdul Hakam. Lalu guru kami itu menatap kami beberapa saat lamanya dan berpesan, ‘Tahukah kamu, wahai Abu Ya’qub (Syafi’i)!? Sesungguhnya kamu akan segera menyongsong ajalmu. Sedangkan kamu, hai Muzani, sesungguhnya kamu akan hidup di Mesir dengan penuh kesuksesan dan kesejahteraan. Kamu juga akan menjumpai orang-orang yang sangat cerdas dan kritis di zamannya. Sedangkan kamu, hai Muhamad, sesungguhnya kamu akan kembali mengikuti madzhab ayahmu. Dan kamu, hai Rabi’, sesungguhnya kamu adalah orang yang paling berjasa dalam menyebarkan kitab-kitabku. Berdirilah, wahai Abu Ya’qub!, berpamitanlah kepada mereka semua.’ Ternyata, pesan Imam Syafi’i itu benar-benar menjadi kenyataan.”

Imam as-Subki bercerita, “Para ulama menceritakan bahwa apabila al-Muzani merampungkan satu pembahasan yang ditulisnya dalam kitab al-Mukhtashar, maka ia salat dua raka’at.” ‘Amr bin ‘Utsman al-Makki berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang rajin beribadah, melebihi al-Muzani. Dia adalah orang yang sangat konsisten dalam ibadah. Bukan hanya itu, ia juga termasuk orang yang sangat mengagungkan ilmu dan para ahli ilmu, serta bersikap rendah hati dan sangat terbuka kepada manusia. Ia pernah mengatakan bahwa sikapnya itu meneladani akhlak Syafi’i.”  Dalam satu riwayat disebutkan, “Ketika Bakkar bin Qutaiybah datang ke Mesir dan menemui hakim yang bermadzhab Hanafi, tiba-tiba ia bertemu dengan al-Muzani. Lalu kawan Bakkar menanyakan sesuatu kepada al-Muzani. Ia berkata, ‘Dalam beberapa hadis disebutkan tentang pengharaman dan penghalalan minuman keras dari anggur (an-nabîdz). Kenapa terjadi kontradiksi seperti ini?” al-Muzani menjawab, “Tidak ada seorang pun ulama yang mengharamkan minuman keras di masa Jahiliyah, karena memang dulunya masih dihalalkan. Bahkan, pada awal-awal Islam pun masih dihalalkan. Minuman keras itu baru diharamkan setelah akidah umat Islam semakin kuat. Konteks sosial itulah yang memperkuat pengharaman yang ditegaskan dalam hadis-hadis Nabi Saw.” Jawaban al-Muzani ini terasa sangat pas di pikiran Bakkar. Banyak para ulama besar dari Khurasan, Irak, dan Syam yang namanya meroket di bawah bimbingan al-Muzani.[5]

6.      Ar-Rabi’ (W. 270 H.), nama lengkap: Abu Hamid ar-Rabi’ bin Sulaiman bin Abdul Jabbar bin Kamil al-Muradi. Ia adalah imam agung, kawan dekat Imam Syafi’i, dan orang yang banyak meriwayatkan kitab-kitab Syafi’i. Ia lahir pada tahun 174 H., banyak menghabiskan waktu untuk melayani Syafi’i dan menyebarkan kitab-kitabnya. Gurunya: Syafi’i, Abdullah bin Wahb, Abdullah bin Yusuf at-Tanisi, Ayyub bin Suwaid ar-Ramli, Yahya bin Hassan, Asad bin Musa, dan banyak lagi yang lainnya. Muridnya: Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Zur’ah ar-Razi, Abu Hatim dan anaknya –Abdurrahman bin Abu Hatim-, Zakariya as-Saji, Abu Ja’far ash-Shahawi, Abu Bakar Abdullah bin Muhamad bin Ziyad an-Naisaburi, al-Hasan bin Habib al-Hashayari, Ibnu Sha’id, Ab  al-‘Abbas al-Ashamm, dan masih banyak lagi yang lainnya. Murid ar-Rabi’ yang terakhir adalah Abu al-Fawaris as-Sindi. Sementara at-Tirmidzi meriwayatkan hadis darinya dengan metode ijâzah (memberikan lisensi untuk meriwayatkan kitab-kitabnya).

Ulama besar ini sering menjadi muadzin di Masji Jami’ Fusthath –Jami’ ‘Amr bin al-‘Ash-. Ia melantunkan adzan dengan alunan nada yang sangat merdu dan sangat disukai oleh Imam Syafi’i. Suatu hari, Syafi’i berkata kepadanya, “Sungguh saya sangat senang mendengar suara adzanmu. Seandainya saya bisa menurunkan ilmu kepadamu, saya akan menyuapkannya kepadamu seperti seorang bayi yang disuapi makanan oleh ibunya.

Ia juga termasuk rawi hadis yang sangat kredibel dan terpecaya dalam periwayatannya. Bahkan, apabila terjadi kontradiksi antara riwayatnya dan riwayat al-Muzani, maka para pengikut madzhab Syafi’i lebih mendahulukan riwayatnya. Padahal, semua tahu bahwa al-Muzani juga termasuk orang yang sangat mumpuni dalam periwayatan hadis.

Ar-Rabi’ meninggal pada hari Senin dan dikebumikan pada hari Selasa, 21 Syawwal 270 H. Khalifah Khamarawiyah bin Ahmad bin Thulun turut mensalati jenazahnya.[6]

7.      Muhamad bin Abdul Hakam (182-268 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam bin A’yun bin Laits Abu Abdullah al-Mishri. Gurunya: Abdullah bin Wahb, Ibnu Abi Fudaik, Syafi’i, dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Syafi’i secara intensif. Muridnya: an-Nasa’i, Abu Hatim ar-Razi, Ibnu Huzaimah, dan lainnya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Imam Syafi’i sangat kagum dengan kecerdasan dan kecintaannya terhadap ilmu fiqih. Sepeninggal Imam Syafi’i, ia beralih ke madzhab Maliki, karena konflik personal yang terjadi antara dirinya dan al-Buwaithi. Imam as-Subki berkomentar, “Kami mengetahui Ibnu Abdul Hakam sebagai pengikut madzhab Syafi’i, karena ia mengikuti jejaknya Syeikh Abu ‘Ashim al-‘Ibadi dan Syeikh Abu ‘Amr bin ash-Shalah. Dua orang itulah yang mempengaruhinya untuk mengikuti madzhab Syafi’i. Demikian menurut satu riwayat. Ada juga yang menyebutkan bahwa ia sebenarnya pengikut madzhab Maliki yang pindah ke madzhab Syafi’i.”[7]

8.      Abu Abdullah al-Mishri (W. 264 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb bin Muslim al-Qursyi, yang dijuluki Nakhsyal. Gurunya; Abdullah bin Wahb –pamannya sendiri-, Syafi’i, dan lainnya. Muridnya: Muslim bin al-Hajjaj, Abu Hatim ar-Razi, Ibnu Huzaimah, dan Ibnu Jarir.[8]

9.      Abu Tsur (W. 240 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Khalid bin al-Yaman al-Kalbi al-Baghdadi. Imam mulia ini termasuk teman dekatnya Imam Syafi’i, orang yang sering mentransformasikan qaul qadîmnya, ahli fiqih yang sangat alim dan terpercaya. Ia banyak menulis buku tentang hukum-hukum Islam, hasil kompilasi antara hadis dan fiqih. Pada mulanya, ia sangat sibuk mendalami madzhab fiqih rasional, sampai Syafi’i datang ke Irak. Lalu ia sering berdebat dengan Syafi’i dan akhirnya meninggalkan madzhab lamanya.[9]

10.  Ibnu Rahawaih (W. 238 H.), nama lengkap: Abu Ya’qub Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim bin Mathar al-Handzali al-Marwazi. Imam agung ini merupakan pemuka kaum muslimin yang sangat menguasai dalam bidang fiqih dan hadis. Ia juga tergolong orang yang sangat wara’ dan takwa, yang disebut-sebut sebagai orang alimnya penduduk Naisabur. Ia lahir pada tahun 161 H. Ada juga yang mengatakan bahwa tahun kelahirannya adalah 166 H.[10]

11.  Abdul ‘Aziz bin Yahya bin Abdul ‘Aziz al-Kitabi al-Makki. Ia termasuk salah satu murid Imam Syafi’i di bidang fiqih, terkenal sebagai kawan dekatnya, dan pernah menemaninya ke Yaman. Ia disebut-sebut sebagai penulis kitab al-Haydah, yang memuat banyak pemikiran baru dan unik. Menurut as-Subki, sangat mungkin sekali kalau penulis kitab tersebut adalah Abdul ‘Aziz.[11]

12.  Al-Khawarizmi (W. 236 H.), nama lengkap: Abu ‘Amr al-Harits bin Suraij an-Naqqal. Dialah orang yang meriwayatkan kitab ar-Risâlah karya Syafi’i kepada Abdurrahman bin Mahdi.[12]

13.  Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (W. 224 H.). Ia adalah imam agung yang ahli dalam kesusasteraan Arab, ahli fiqih, pakar hadis, dan penulis banyak karya ilmiah di bidang fiqih, bahasa, sya’ir, dan qira’ah.[13]

14.  At-Tajibi (W. 251 H.), nama lengkap: Ahmad bin Yahya bin al-Wazir bin Sulaiman bin al-Muhajir, Abu Abdullah al-Mishri. Ia termasuk ulama penghafal hadis yang ahli di bidang ilmu nahwu. Gurunya: Abdullah bin Wahb, Syu’aib bin al-Laits, Isbagh bin al-Faraj, dan lainnya. Muridnya: an-Nasa’i yang menilai gurunya itu sebagai rawi yang terpercaya (tsiqah), al-Husain bin Ya’qub al-Mishri, Abu Bakar bin Abu Dawud, dan lainnya. Ia termasuk sahabat Imam Syafi’i dan banyak belajar fiqih kepadanya. Imam yang dielu-elukan sebagai pakar sya’ir, kesusasteraan Arab, dan psikologi di zamannya ini, lahir pada tahun 171, dan wafat pada tanggal 6 Syawwal 251 H. Ada juga yang mengatakan, tahun wafatnya adalah 250 H.[14]

15.  Abu Thahir al-Mishri (W. 250 H.), nama lengkap: Ahmad bin ‘Amr bin Abdullah bin ‘Amr bin as-Saraj al-Mishri al-Qursyi al-Umawi. Ia dikenal sebagai ulama ahli fiqih. Gurunya: Sufyan bin ‘Uyaynah, Syafi’i, Ibnu Wahb, dan lainnya. Muridnya: Muslim bin al-Hajjaj, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan sebagainya. Ia termasuk ulama yang mempunyai pengaruh besar dan telah berhasil mensyarahi kitab al-Muwaththâ’ karya Imam Malik. Ia pernah meriwayatkan hadis dari Ibnu Wahb secara individual. Berikut hadis tersebut: Abu Thahir berkata, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, dari ‘Amr bin al-Harits, dari Abu Yunus, dari Abu Hurairah. Ia berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap anak Adam adalah pemimpin. Suami adalah pemimpin anggota keluarganya dan isteri adalah pemimpin rumahnya.” Menurut as-Subki, hadis ini berkualitas shahih gharib. Ia wafat pada tanggal 14 Dzul Qa’dah 250 H.[15]

16.  Ibnu al-A’raj (W. 256 H.), nama lengkap: Ar-Rabi’ bin Sulaiman bin Dawud al-Jaizi Abu Muhamad al-Azdi al-Mishri al-A’raj. Ia adalah ahli fiqih yang saleh. Gurunya: Syafi’i, Abdullah bin Wahb, Ishaq bin Wahb, Abdullah bin Yusuf, dan lainnya. Muridnya: Abu Dawud, an-Nasa’i, Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Ja’far ath-Thahawi, dan lainnya. Dialah orang yang meriwayatkan pendapat Syafi’i bahwa membaca al-Qur’an dengan dilagukan adalah makruh dan rambut orang yang mati harus dicuci dengan cara dibersihkan dengan bahan penyamak kulit. Ia meninggal pada bulan Dzul Hijjah 256 H. Riwayat lain menyebutkan, tahun 257 H.[16]

17.  Yunus bin Abdul A’la (170-264 H.), nama lengkap: Abu Musa, Yunus bin Abdul A’la bin Musa bin Maysarah bin Hafsh bin Hayyan ash-Shadafi al-Mishri. Ia adalah imam besar yang ahli fiqih dan ahli qira’ah, yang lahir pada tahun 170 H. Ia belajar melantunkan al-Qur’an kepada Imam Warasy dan lainnya, dan mengajarkannya kepada manusia. Gurunya di bidang hadis: Sufyan bin ‘Uyaynah, Ibnu Dahb, al-Walid bin Muslim, Ma’n bin ‘Isa, Syafi’i, dan lainnya. Ia juga belajar fiqih kepada Imam Syafi’i dan lainnya. Muridnya: Muslim, an-Nasa’i, Ibnu Majah, Abu ‘Awanah, Abu Bakar bin Ziyad an-Naisaburi, Abu Thahir al-Madani, dan lainnya. Ia dielu-elukan sebagai pakarnya ilmu di Mesir. Dalam satu riwayat disebutkan, Imam Syafi’i pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih cerdas dari Yunus bin Abdul A’la.” Yahya bin Hassan berkomentar, “Yunus itu termasuk pilarnya agama Islam.” Menurut an-Nasa’i, Yunus adalah rawi yang terpercaya (tsiqah). As-Subki berkata, “Tidak ada seorang pun yang meragukan kapabilitas Yunus dan mengkritiknya. Hanya saja, ada satu hadis yang diriwayatkan secara personal oleh Yunus dari Syafi’i. Dalam teks hadis tersebut disebutkan bahwa tidak ada Imam Mahdi sesudahku, kecuali ‘Isa. Tidak ada seorang pun murid Syafi’i lainnya yang meriwayatkan hadis ini dari Syafi’i. Namun demikian, hal ini bukan berarti menurunkan kredibilitasnya, ia tetap disebut sebagai rawi terpercaya dan handal. Ia wafat pada bulan Rabi’ul Akhir 264 H.”[17]

18.  Harmalah bin Yahya bin Abdullah bin Harmalah bin ‘Imran bin murad at-Tajibi (166-243 H.). Gurunya: Syafi’i, Abdullah bin Wahb, Ayyub bin Suwaid ar-Ramli, Bisyr bin Bakar at-Tanisi, Sa’id bin Abu Maryam, dan lainnya. Muridnya: Muslim bin al-Hajjaj, Ibnu Majah, dan lainnya. Menurut Imam as-Subki, ada ulama yang masih meragukan integritas Harmalah. Sampai-sampai Abu Hatim menilainya sebagai orang yang periwayatan hadisnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Penilaian ini ditepis oleh Ibnu ‘Addi. Ia menegaskan bahwa dirinya telah meneliti hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Harmalah yang jumlahnya sangat banyak. Dari hasil penelitiannya, disimpulkan bahwa tidak ada alasan yang kuat untuk melemahkan hadis periwayatannya. Sebenarnya ia adalah rawi yang sangat terpercaya, namun kebesaran namanya tenggelam oleh ketenaran Ibnu Wahb. As-Subki berkata, “Inilah pendapat yang shahih mengenai Harmalah, karena sebenarnya ia termasuk rawi yang kredibel dan handal, insyâ’ Allah.” Harmalah berkata, saya mendengar Syafi’i berkata, “Saya tidak pernah bersumpah “Demi Allah,” baik dalam kejujuran maupun kedustaan.” Dialah penulis kitab al-Mabsûth dan al-Mukhtashar.[18]

19.  Syeikh Abu ‘Utsman al-Qadhi (W. 240 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abu Abdullah bin Muhamad bin Idris Syafi’i. Dia adalah putra tertua Imam Syafi’i. Sewaktu ayahandanya meninggal, ia telah tumbuh dewasa dan tinggal di Mekah.  Dialah orang yang disebut-sebut dalam pernyataan Imam Ahmad bin Hanbal, “Sesungguhnya saya mencintaimu karena tiga hal: Kamu adalah anaknya Imam Syafi’i, kamu keturunan Quraisy, dan kamu tergolong pengikut Ahli Sunnah.” Gurunya: Ayahandanya –Imam Syafi’i-, Sufyan bin ‘Uyaynah, Abdurrazaq, Ahmad bin Hanbal, dan lainnya. Ia sempat menjabat sebagai hakim di Jazirah dan Halb. Ia meninggalkan tiga keturunan (2 putra dan 1 putri),  yaitu: al-‘Abbas bin Muhamad bin Muhamad bin Idris, Abu al-Hasan (meninggal saat masih menyusui), dan Fathimah (tidak mempunyai keturunan). Menurut al-Khathib, putra sulung Imam Syafi’i ini meninggal di Jazirah Arabia pada tahun 240 H.[19]

20.  Abu Ja’far ath-Thabari, nama lengkap: Ahmad bin Shalih al-Mishri al-Hafizh. Ia termasuk pakarnya ilmu dan pemukanya para hafizh, lahir di Mesir pada tahun 170 H. Menurut Imam as-Subki, di antara gurunya ath-Thabari adalah: Sufyan bin ‘Uyaynah, Abdullah bin Wahb, Harmi bin ‘Ammarah, ‘Anisah bin Sa’id, Ibnu Abi Fudaik, Abdurrazaq, Abdullah bin Nafi’, dan Syafi’i. Muridnya: al-Bukhari, Abu Dawud, ‘Umar, an-Naqid, adz-Dzahali, Muhamad bin Abdullah bin Numair, Mahmud bin Ghailan, Abu Zur’ah ad-Dimasqi, Shalih Jazrah, dan Abu Isma’il at-Tirmidzi.

Al-Bukhari berkomentar, “Ath-Thabari adalah rawi yang terpercaya. Saya tidak pernah melihat seseorang yang berbicara dengan selalu menggunakan dalil.” An-Nasa’i pernah melontarkan penilaian kepada Ahmad bin Shalih ath-Thabari. Ia menyatakan bahwa ath-Thabari bukan orang yang tsiqah dan tidak terpercaya. Riwayatnya ditinggalkan oleh Muhamad bin Yahya dan Yahya bin Ma’in menganggapnya sebagai pendusta. Dalam kitab al-Irsyâd, Abu Ya’la al-Khalili menegaskan, “Ibnu Shalih adalah penghafal hadis yang terpercaya.” Para ahli hadis sepakat, penilaian an-Nasa’i terhadap ath-Thabari kurang objektif dan tidak akan mempengaruhi kredibilitasnya ath-Thabari.” Imam as-Subki berkata, “Ahmad bin Shalih adalah imam yang terpercaya dan tidak perlu menggubris kritikan dari orang yang tidak suka kepadanya.”[20]

21.  Al-Khuzza’i (W. 234 H.), nama lengkap: Abu ‘Ali Abu Abdul ‘Aziz bin Ayyub bin Maqlash al-Khuzza’i. Ia adalah ahli fiqih yang bersikap zuhud. ‘Amr bin Yunus berkata, “Dulu, al-Khuzza’i adalah pemukanya madzhab Maliki. Namun, ketika Imam Syafi’i datang ke Mesir, ia belajar fiqih kepadanya dan mengikuti madzhab Syafi’i.” Ia meninggal pada bulan Rabi’ul Akhir 234 H.[21]

22.  Az-Za’farani (W. 249/260 H.), nama lengkap: Abu ‘Ali, al-Hasan bin Muhamad bin ash-Shabbah az-Za’farani. Ia adalah kawan lamanya Imam Syafi’i yang sering meriwayatkan madzhab qadîmnya Imam Syafi’i. Ibnu Hajar mengutip pernyataan al-Baihaqi bahwasanya kitab al-Hujjah yang ditulis oleh Imam Syafi’i di Baghdad, diriwayatkan oleh az-Za’farani dari Syafi’i. Ia termasuk ahli fiqih sekaligus pakar hadis yang fasih berbahasa Arab. Imam al-Mawardi berkata, “Az-Za’farani adalah rawi yang paling terpercaya dalam mentransformasikan madzhab qadîmnya Imam Syafi’i. Ia banyak menulis kitab mengenai fiqih dan hadis.

Gurunya: Abu Sufyan bin ‘Uyaynah, Syafi’i, ‘Ubaid bin Humaid, Abdul Wahhab ats-Tsaqafi, dan Yazid bin Harun. Az-Za’farani berkata, “Para ahli hadis dulunya masih terlelap dalam mimpi mereka, sampai dibangunkan oleh Imam Syafi’i. Tidak ada seorang pun ahli hadis yang tidak memuji Syafi’i.” Muridnya: al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Hanya Imam Muslim yang tidak meriwayatkan hadis darinya. Ia meninggal pada bulan Rabi’ul Akhir 249 H. Menurut Ibnu Khilikkan, bulan Sya’ban 260 H.[22]

23.  Al-Karabisi (W. 245/248 H.), nama lengkap: al-Husain bin ‘Ali bin Yazid Abu ‘Ali al-Karabisi. Imam agung ini termasuk kawan dekatnya Imam Syafi’i yang terkenal sebagai orang yang sangat rajin menghadiri mejelisnya Imam Syafi’i, dan orang yang paling hafal terhadap madzhab Syafi’i. Ia juga disinyalir sebagai ulama yang ahli fiqih dan hadis. Pada mulanya ia mendalami madzhab fiqih rasional (madzhab Hanafi), lalu tertarik menyelami madzhab Syafi’i. Ia termasuk teolog Ahli Sunnah yang sangat mumpuni di bidang ilmu Kalam. Dalam kitab Ghâyah al-Marâm, al-Khathib –ayah Imam Fakhruddin- menyatakan bahwa karya tulis al-Karabisi di bidang ilmu Kalam menjadi rujukan utama para teolog untuk menepis pemikiran golongan Khawarij dan madzhab-madzhab yang suka mengikuti hawa nafsu. Ia meninggal pada tahun 245/248 H.[23]

24.  Abu Hatim ar-Razi (195-277 H.), nama lengkap: Muhamad bin Idris bin al-Mundzir bin Dawud bin Mahran al-Ghithafi al-Hanzhali. Ia termasuk salah satu imam besar yang sangat disegani, lahir pada tahun 195 H. Gurunya: ‘Ubaidullah bin Musa dan Abu Nu’aim al-Isfahani di Kufah, Muhamad bin Abdullah al-Anshari, al-Ashmu’i di Bashrah, dan lainnya. Muridnya: ash-Shaffar, Yunus bin Abdul A’la, ‘Ubaidah bin Sulaiman al-Mawarzi, dan ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi. Orang-orang yang hidup sezamannya yang meriwayatkan hadis darinya adalah Abu Zur’ah ar-Razi, Abu Zur’ah ad-Dimasyqi. Sedangkan para penulis kitab hadis yang meriwayatkan hadis darinya adalah Abu Dawud. Menurut satu pendapat, Imam al-Bukhari dan Ibnu Majah juga meriwayatkan hadis darinya, namun pendapat ini kurang kuat. Murid-muridnya yang lain: Abu Bakar bin Abu ad-Dunya, Ibnu Sha’id, Abu ‘Awanah, al-Qadhi al-Mahalli, dan lainnya. Ibnu Abu Hatim berkata, saya mendengar Yunus bin Abdul A’la berkata, “Abu Zur’ah dan Abu Hatim ar-Razi adalah dua imam besar di kalangan penduduk Khurasan. Bahkan, kaum muslimin sangat menghargai peninggalan intelektual dari kedua imam besa itu.” Ia wafat pada bulan Sya’ban 277 di usia 82 tahun.[24]

25.  Abu Ja’far at-Tirmidzi (W. 295 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Nashr. Ia adalah Imam besar pengikut madzhab Syafi’i di Irak, sebelum Ibnu Suraij. Ia belajar fiqih kepada para pengikut madzhab Syafi’i. Ia mempunyai kitab yang sangat terkenal, yaitu kitab Ikhtilâf Ahl ash-Shalât fî al-Ushûl. Ibnu ash-Shalah tidak berani berkomentar apa-apa tentang dirinya. Dulunya, ia termasuk ulama besar penganut madzhab Hanafi. Namun, ketika ia sedang menunaikan ibadah haji, ia menyaksikan hal-hal yang mendoronya untuk beralih ke madzhab Syafi’i. Lalu ia pun belajar fiqih Syafi’i kepada ar-Rabi’ dan lainnya. Ia meninggal pada tahun 295 H., di usinya yang ke 94.[25]

26.  Ath-Thabari (224/225 – 310 H.), nama lengkap: Muhamad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Khalib, Abu Ja’far ath-Thabari dari daerah Tibrisan. Ia adalah imam agung yang berhak menyandang gelar mujtahid mutlak. Imam dunia dan akhirat ini lahir pada tahun 224 H. atau 225 H. Gurunya: Muhamad bin Abdul Malik bin Abu asy-Syawarib, dan lainnya. Muridnya: Abu Syu’aib al-Harani, ath-Thabrani, dan lainnya.

Berikut karya-karyanya yang sangat berharga: Kitâb at-Tafsîr, at-Târikh, al-Farâ’, al-‘Adad, at-Tanzîl, Ikhtilâf al-‘Ulamâ’, Târikh ar-Rijâl min ash-Shahâbah wa at-Tâbi’în, Ahkâm Syarâ’i al-Islâm –kitab ini ditulis berdasarkan hasil ijtihadnya sendiri-, al-Haqîq –kitab ringkas mengenai fiqih-, at-Tabshîr fî Ushûl ad-Dîn, Tahdzîb al-Âtsâr –ia hanya menulis permulaannya saja dan kitab ini termasuk salah satu karyanya yang sangat monumental-, al-Basîth –ia hanya menulis awalnya saja sekitar 1.500 lembar-, Kitâb al-Muhâdhir wa as-Sajalât, dan sebagainya.

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Suraij berkata, “Muhamad bin Jarir ath-Thabari adalah ahli fiqih sealam dunia.” Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Muhamad bin Jarir berkata, “Saya menyebarkan fiqih Syafi’i dan memfatwakannya di Baghdad selama 10 tahun.” Menurut Ibnu Kamil, Imam Mujtahid Mutlak ini meninggal pada Ahad sore di bulan Syawwal 310 H. Lalu dikebumikan di pelataran rumah Ya’qub.[26]

27.  Ibnu Khuzaimah (232-311 H.), nama lengkap: Abu Bakar bin Khuzaimah, Muhamad bin Ishaq bin Khuzaimah bin al-Mughirah bin Shalih bin Bakar an-Naisaburi. Ia adalah pemimpinnya para imam kaum muslimin yang layak menyandang gelar mujtahid mutlak, yang lahir pada tahun 232 H. Di usianya yang masih belia, ia sempat mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih dan Muhamad bin Humaid ar-Razi, namun ia tidak meriwayatkan hadis dari keduanya, mengingat usianya yang masih kecil. Gurunya: Mahmud bin Ghailan, Muhamad bin Aban al-Mustamli, dan sebagainya. Muridnya: al-Bukhari, Muslim, dan lainnya.

Abu ‘Ali al-Husain bin Muhamad al-Hafizh berkata, “Saya tidak pernah melihat orang sepandai Muhamad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah). Ibnu Khuzaimah mampu menghafal kandungan hukum-hukum fiqih dari hadis-hadis yang dihafalnya, seperti qari yang hafal nama surat yang dibacanya.” Ad-Daruquthni berkomentar, “Ibnu Khuzaimah adalah imam yang sangat handal yang tidak ada tandingannya.” Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Kami menimba ilmu dari Ibnu Khuzaimah lebih banyak daripada ia menimba ilmu dari kami.” Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Ibnu Khuzaimah memimpin gerakan dakwah besar-besaran di Bustan. Ia mengumpulkan semua ahli fiqih dan para saudagar kaya, agar mengumpulkan semua makanan, minuman, dan buah-buahan yang ada di Bustan. Al-Hakim berkata, “Upacara pemakamannya disaksikan oleh khalayak ramai dalam jumlah yang tak terhitung, hanya Raja Agung yang mampu menandinginya.” Abdul Malik bin Hisyam menjadikan karya-karya Ibnu Khuzaimah sebagai rujukan utama dalam penulisan sejarah Rasulullah Saw. Imam besar ini meninggal pada tahun 311 H.[27]

28.  Muhamad bin Nashr al-Marwazi (202-294 H.). Ia adalah imam besar yang bergelar mujtahid mutlak, lahir di Baghdad pada tahun 202 H, tumbuh di Naisabur, dan tinggal di Samarqand. Ayahnya berasal dari Marwazi. Ia belajar agama kepada para pengikut Imam Syafi’i. Muridnya: Abu al-‘Abbas as-Sarraj, Abu Hamid bin asy-Syaraqi, Muhamad bin al-Mundzir, dan sebagainya. Al-Hakim berkomentar, “Al-Marwazi adalah ahli fiqih yang sangat alim, rajin ibadah, dan pakar hadis di zamannya.” Menurut al-Khathib, ia adalah orang yang paling mengerti mengenai perbedaan pendapat para sahabat dan generasi sesudahnya.

Abu Dzarr Muhamad bin Yusuf al-Qadhi berkata, “Para guru kami menegaskan bahwa ulama Khurasan itu ada empat, yaitu: Ibnu al-Mubarak, Yahya bin Yahya, Ishaq bin Rahawaih, dan Muhamad bin Nashr al-Marwazi.” Abu Bakar ash-Shayrafi menuturkan bahwa seandainya al-Marwazi hanya menulis kitab al-Qisâmah, maka pastilah ia tetap menjadi orang yang paling pandai. Tetapi, nyatanya, ia juga menulis banyak buku lainnya, seputar hadis dan fiqih. Ia juga menulis kitab khusus yang merangkum tentang pendapat-pendapat Abu Hanifah yang bertentangan dengan pendapat ‘Ali dan Abdullah. As-Subki berkata, “Ibnu Nashr, Ibnu Juraij, dan Ibnu Khuzaimah adalah pilar utama madzhab Syafi’i.” Ia wafat pada tahu 294 di Samarqand.[28]

29.   Ibnu al-Mundzir (W. 309/310 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ibrahim bin al-Mundzir, Abu Bakar an-Naisaburi. Ia tergolong mujtahid yang sangat alim, wara’, dan penghafal hadis. Ia mendengar hadis dari Muhamad bin Maimun dan lainnya. Sementara murid yang belajar darinya adalah Abu Bakar bin al-Muqri dan sebagainya. Ia mempunyai banyak karya tulis yang sangat berharga, di antaranya: Kitâb al-Awsath, Kitâb al-Asyrâf fî Ikhtilâf al-‘Ulamâ’, al-Ijmâ’ wa at-Tafsîr, dan as-Sunan wa al-Ijmâ’ wa al-Ikhtilâf. As-Subki berkata, adz-Dzahabi berkata, “Ibnu al-Mundzir adalah orang yang sangat pandai ilmu hadis dan hadis-hadis yang kontradiktif. Ia juga tergolong mujtahid yang independen dan tidak bergantung pada pendapat orang lain.”

Lebih lanjut as-Subki menyatakan, ada empat imam yang namanya diawali dengan Muhamad, yaitu: Muhamad bin Nashr, Muhamad bin Jarir, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu al-Mundzir. Mereka semua adalah para pemuka madzhab Syafi’i yang pantas mendapatkan julukan mujtahid mutlak. Meskipun mereka pantas berijtihad sendiri, namun mereka tidak keluar dari koridor madzhab Syafi’i.  Mereka berijtihad dengan menggunakan metode Ushul Fiqihnya Imam Syafi’i, agar ijtihadnya sama dengan hasil ijtihad imam terbesar sepanjang sejarah itu. Bahkan, mereka tidak segan-segan mengakui ijtihadnya mengikuti pemikiran Imam Syafi’i dan menisbatkan kepadanya. Sikap seperti ini, bukan berarti mereka adalah para mujtahid yang suka mengekor pendapat orang lain, namun hal itu menunjukkan sikap rendah hati yang sangat mulia. Sehingga mereka dikategorikan sebagai mujtahid madzhab Syafi’i. Abu Ishaq asy-Syairazi berkata, “Ibnu al-Mundzir wafat pada tahun 309 atau 310 H.”[29]

30.  Abu ‘Awanah (W. 316/313 H.), nama lengkap: Ya’qub bin Ibrahim bin Zaid an-Naisaburi. Ia adalah ahli hadis yang sangat terkenal dan penulis kitab al-Musnad ash-Shahîh ‘ala Kitâb Muslim al-Isfarâyinî an-Naisâbûrî. Ia belajar hadis di Khurasan, Irak, Hijaz, Yaman, Syam, Tigris, Jazirah, Persia, Ashbihan, dan Mesir. Dialah orang pertama yang menyebarkan madzhab Syafi’i di Isfarayin. Ia belajar fiqih madzhab Syafi’i dari al-Muzani dan ar-Rabi’. Sementara guru-gurunya yang lain adalah Muhamad bin Yahya, Muslim bin al-Hajjaj, Yunus bin Abdul A’la, dan lainnya. Menurut riwayat yang shahih dari as-Subki, ia meninggal pada tahun 316 H. Pendapat lain menyebutkan, tahun 313 H.[30]

31.  Ibnu Binti Syafi’i. Nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Abdullah bin Muhamad bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Sa’ib, Abu Muhamad. Menurut riwayat lain, nama kunyahnya adalah Abu Abdurrahman Ibnu binti Syafi’i. Demikian nasabnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Abu Zakariya an-Nawawi dalam kitab Syarh al-Muhadzdzab dalam pembahasan tentang masalah haidh. Pendapat yang kuat mengenai nama kunyahnya adalah pendapat yang disebutkan oleh an-Nawawi ini. Ibunya bernama Zainab binti Imam Syafi’i. Ia meriwayatkan hadis dari ayahnya, dari Syafi’i (kakeknya). Ia termasuk imam besar yang sangat alim dan disebut-sebut sebagai titisannya Imam Syafi’i, karena sepeninggalan Imam Syafi’i di keluarga Syafi’ tidak ada lagi orang yang sealim dirinya. Mungkin disebabkan karena berkah kakeknya mengalir dalam darahnya.[31]

32.  Abu Ya’qub al-Isfarayini (W. 284 H.), nama lengkap: Ishaq bin Musa bin ‘Imran al-Isfarayini. Ia termasuk pakar fiqih yang hidup zuhud, dan ahli hadis kenamaan yang wara’, serta berteman baik dengan al-Muzani dan ar-Rabi’. Ia mendalami fiqih kepada al-Muzani dan mendengarkan kitab al-Mabsûth dari ar-Rabi’, serta meriwayatkan hadis dari Qutaibah bin Sa’id, Ishaq bin Rahawaih, dan lainnya. Ia meninggal di Isfarayin pada tahun 284 H.[32]

33.  Al-Janujardi (W. 220-293 H.), nama lengkap: ‘Abdan bin Muhamad bin ‘Isa, Abu Muhamad al-Marwazi. Ia adalah imam ahli hadis di zamannya di Marwa dan bersikap sangat zuhud. Dialah ulama yang berjasa menyebarkan madzhab Syafi’i di Marwa dan merupakan gurunya Abu Ishaq al-Marwazi. Gurunya di bidang hadis adalah Qutaibah bin Sa’id, ‘Ali bin Hajr, ar-Rabi’ al-Muradi, dan lainnya. Ia mendalami fiqih kepada para pemuka madzhab Syafi’i dan berhasil menjadi ulama besar. Dialah orang yang pertama kali menyebarkan kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani di kota Marwa. Ia menyelami pemikiran Imam Syafi’i kepada al-Muzani dan ar-Rabi’, sehingga menjadi ulama ahli fiqih yang banyak menghafal hadis. Di antara para muridnya di bidang fiqih dari Murawazah adalah Abu Bakar bin Muhamad bin Mahmud al-Mahmudi, Abu al-‘Abbas as-Sayyari, dan Abu Ishaq al-Khalif Abadi –temannya as-Saraj yang terkenal dengan nisbat al-Marwazi-. Ia lahir pada tahun 220 H. Abu Sa’d as-Sam’ani berkata, “’Abdan adalah nama julukannya (laqab), nama sebenarnya adalah ‘Ubaidullah. ‘Abdan disebut-sebut sebagai orang yang paling sukses menyebarkan madzhab Syafi’i di Marwa, setelah Ahmad bin Yasar. Dulu, Ahmad bin Yasar pernah membawa kitabnya Imam Syafi’i ke Marwa dan banyak orang yang sangat mengagumi kitab tersebut. Lalu ‘Abdan meneliti sebagian isi kitab tersebut dan ingin menghapusnya, namun dilarang oleh Ahmad bin Yasar. ‘Abdan menjual semua harta miliknya untuk biaya perjalanan ke Mesir. Di Mesir, ia bertemu dengan ar-Rabi’ dan murid-murid Imam Syafi’i lainnya. Akhirnya, ia pun berhasil meralat sebagian kitab Imam Syafi’i.” Ia meninggal pada malam ‘Arafah (tanggal 10 Dzul Hijjah) tahun  293 H. As-Subki berkata, “Menurut riwayat yang shahih, ‘Abdan lahir dan wafat di malam ‘Arafah.”[33]

34.  Abu Sa’id ad-Darimi (W. 280 H.), nama lengkap: ‘Utsman bin Sa’id bin Khalid bin Sa’id as-Sijistasni. Ia adalah penghafal hadis, pakar hadis, dan salah satu imam yang terpercaya. Ia belajar fiqih kepada al-Buwaithi dan hadis kepada Yahya bin Ma’in. Ia wafat pada bulan Dzul Hijjah 280 H.[34]

35.  Abu ‘Ali al-Hashayari (242-338 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Habib bin Abdul Malik ad-Dimasyqi. Ia adalah ahli fiqih dan imam besar masjid Jabiyah di Damaskus. Ia lahir pada tahun 242 H. Ia banyak meriwayatkan kitab al-Umm karya Imam Syafi’i dari para muridnya. Ia mendengar hadis dari ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi. Dialah orang yang meriwayatkan kitab ar-Risâlah karya Syafi’i, dari ar-Rabi’. Ia wafat tahun 338 H.[35]

36.  Abu al-‘Abbas al-Ashamm. Nama lengkap: Muhamad bin Ya’qub bin Musa al-Umawi. Ia meriwayatkan hadis dari ar-Rabi’ dan dialah yang mengkodifikasikan kitab al-Musnad karya Imam Syafi’i.[36]

37.  Abu Bakar al-Farisi (W. 305 H.), nama lengkap: Ahmad bin al-Hasan bin Sahl. Ia adalah penulis kitab ‘Uyûn al-Masâ’il, al-Intiqâd, dan sebagainya. Ia belajar fiqih dari para ulama yang bertemu langsung dengan Syafi’i. as-Subki berkata, “Mahmud al-Khawarizmi menegaskan bahwa Abu Bakar al-Farisi belajar fiqih kepada al-Muzani dan dialah orang yang pertama kali mempelajari madzhab Syafi’i di Balkh melalui riwayat al-Muzani.” Sementara menurut al-Mudhif, al-Farisi belajar fiqih kepada Ibnu Suraij. Ia wafat tahun 305 H.[37]

38.  Abu Yahya as-Saji, (W. 307 H.), nama lengkap: Zakariya bin Yahya bin Abdurrahman bin Bahr bin ‘Addi bin Abdurrahman al-Bishri. Ia termasuk penghafal hadis yang sangat terpercaya, yang mendalami fiqih dari al-Muzani dan ar-Rabi’. Sementara dalam bidang hadis, ia belajar kepada ‘Ubaidullah bin Mu’adz al-‘Anbari dan lainnya. Dalam rangka mencari ilmu, ia merantau ke Kufah, Hijaz, dan Mesir. As-Subki berkomentar, “Ia mempunyai beberapa peninggalan intelektual, di antaranya: Kitâb Ikhtilâf al-Fuqahâ’ dan Kitâb Ikhtilâf al-Hadîts, kitab yang terakhir inilah yang disebut-sebut oleh adz-Dzahabi sebagai kitab yang mengkupas masalah ‘illat-‘illat hadis. Ia juga mempunyai karya tulis di bidang fiqih dan pemerintahan (khilâfiyât) yang dinamakan kitab “Ushûl al-Fiqh.” Dalam kitab ini, dikupas habis problematika fiqih secara luas. Menurut satu pendapat, kitab itu merupakan ringkasan dari kitabnya yang berjudul al-Kabîr fî al-Khilâfiyât.” Ia meninggal pada tahun 207 H.[38]

39.  Abu al-Qadim al-Anmathi, (W. 288 H.), nama lengkap: ‘Utsman bin Sa’id bin Basysyar; teman dekatnya al-Muzani dan ar-Rabi’. Al-Khathib berkata, “Al-Anmathi termasuk salah seorang ahli fiqih madzhab Syafi’i. Ia meriwayatkan hadis dari al-Muzani dan ar-Rabi’.” Salah satu muridnya adalah Abu Bakar asy-Syafi’i. As-Subki berkata, “Al-Anmathi adalah orang yang mempopulerkan kitab-kitab Syafi’i di Baghdad. Bahkan, Abu al-‘Abbas bin Suraij yang disebut-sebut sebagai Syeikhul Madzhab sempat belajar fiqih kepadanya.” Abu ‘Ashim berkomentar, “Al-Anmathi di mata penduduk Baghdad sama seperti Abu Bakar bin Ishaq di mata penduduk Naisabur. Dialah orang yang pertama kali menyebarkan ilmu al-Muzani di Baghdad. As-Subki menanggapi, mungkin maksudnya sama kemampuan ilmunya di bidang fiqih. Tetapi di bidang lainnya, Abu Bakar bin Ishaq jelas lebih unggul, karena memang dikenal sebagai ulama yang tinggi kedudukannya, besar pengaruhnya, dan luas ilmunya. Memang betul, al-Anmathi adalah ulama besar di mata para muridnya, di antara murid-muridnya yang terkenal adalah Abu al-‘Abbas bin Suraij, Abu Sa’id al-Ishthakhri, Abu ‘Ali bin Khairan, Manshur at-Tamimi, dan Abu Hafsh bin al-Wakil al-Barisani. Sayangnya, murid-murid Abu Bakar bin Ishaq tidak sehebat dan setenar murid-muridnya al-Anmathi. Ia meninggal pada bulan Syawwal 288 H.[39]

40.  Abu Muhamad al-Andalusi, (W. 276/277 H.), nama lengkap: al-Qasim bin Muhamad bin Qasim bin Muhamad bin Sayyar al-Qurthubi, mantan sahaya yang dimerdekakan oleh al-Walid bin Abdul Malik. Namanya masuk dalam deretan nama-nama ulama besar umat Islam. Gurunya: al-Muzani, Yunus bin Abdul A’la, Muhamad bin Abdul Hakam, dan Ibrahim bin Muhamad asy-Syafi’’i. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah al-Îdhâh. Kitab ini ditulis untuk mengkritik orang-orang yang suka mengekor pendapat orang lain (taqlîd). Dalam kitab ini, ia sangat menampakkan kecenderungannya terhadap madzhab Syafi’i. Ia meninggal pada tahun 276 H. dan ada juga yang berpendapat, tahun 277 H.[40]

41.  Abu Zur’ah ar-Razi, (W. 302 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Utsman bin Ibrahim bin Zur’ah. Ia pernah menjabat sebagai hakim di Damaskus. Dikatakan bahwa dialah orang yang paling berjasa menyebarkan madzhab Syafi’i di Damaskus. Dia juga suka memberikan hadiah uang sebanyak 100 Dinar kepada siapa saja yang hafal kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. Ia meninggal pada tahun 302 H.[41]

42.  Abu Muslim as-Sulami, (W. 295 H.), nama lengkap: Nuh bin Manshur bin Mardas. Ia merantau di Mesir dan menuliskan riwayat dari Yunus bin Abdul A’la dan ar-Rabi’.[42]

43.  Abu al-Hasan at-Tamimi, (W. 306 H.), nama lengkap: Manshur bin Isma’il al-Mishri. Ia adalah ahli fiqih, penyair, dan pemuka madzhab Syafi’i yang tuna netra. Menurut Syeikh Abu Ishaq, at-Tamimi belajar fiqih dari para pengikut Imam Syafi’i dan teman dari temannya Imam Syafi’i. Dia meninggalkan karya intelektual yang sangat berharga, di antaranya: al-Wâjib, al-Musta’mal, al-Musâfir, al-Hidâyah, dan lainnya. Berikut ini kami sampaikan syairnya yang sangat indah:

“Orang-orang yang tidak berakal meremehkan belajar fiqih # Padahal, arogansi mereka itu tidak berpengaruh sama sekali terhadap ilmu fiqih

Matahari yang bersinar terang benderang # tidak berarti apa bagi orang yang tak melihat.”[43]

44.  Imam al-Bukhari, (W. 256 H.), nama lengkap: Abu Abdullah, Muhamad bin Isma’il bin Ibrahim. Ia adalah penulis kitab hadis yang sangat terkenal, yaitu Shahîh al-Bukhârî. As-Subki berkata, “Abu ‘AShi al-‘Ibadi menegaskan bahwa Abu Abdullah mendengar hadis dari az-Za’farani, Abu Tsur, dan al-Karabisi, serta belajar fiqih kepada al-Humaidi. Mereka semua adalah para sahabat Imam Syafi’i.” Lebih lanjut Imam as-Subki menyatakan, Imam al-Bukhari tidak menyebutkan riwayat hadis dari Syafi’i di dalam kitab monumentalnya itu, karena ia tidak sempat bertemu langsung dengan Imam Syafi’i dan hanya bertemu dengan teman-temannya saja. Sementara Imam Syafi’i sendiri telah meninggal dunia. Sehingga al-Bukhari tidak meriwayatkan hadis darinya dengan periwayatan yang terputus. Ia meriwayatkan masalah-masalah fiqih dari al-Hasan dan Abu Tsur.[44]

45.  Abu Sa’id al-Ishthakhri, (244-328 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Ahmad bin Yazid bin ‘Isa bin al-Fadhl bin Basysyar bin Abdul Hamid bin Abdullah bin Hani bin Qubaishah bin ‘Amr bin ‘Amir. Ia termasuk imam besar yang disegani oleh orang-orang terhormat. Gurunya: Ma’dan bin Nashr, Ahmad bin Manshur ar-Ramadi, dan lainnya. Muridnya: Ibnu al-Muzhaffir, Ibnu Syahin, ad-Daraquthni, dan lainnya. Al-Khathib berkata, “Al-Ishthakhri termasuk salah satu imam besar yang sangat diagungkan di kalangan para ahli fiqih madzhab Syafi’i.” Abu Ishaq al-Marwazi bercerita, “Ketika saya masuk ke Baghdad, tidak ada seorang pun yang pantas untuk mengajarkan ilmu agama (fiqih), kecuali Abu Sa’id al-Ishthakhri dan Abu al-‘Abbas bin Suraij.” Ia meninggal di Banghdad bulan Jumadil Akhir 328 H.[45]

46.  Abu ‘Ali bin Khairan, (W. 320 H.), nama lengkap: al-Husain bin Shalih bin Khairan al-Baghdadi. Ia termasuk salah satu pilar madzhab Syafi’i, yang menimba ilmu kepada al-Anmathi. As-Subki menyebutkan biografinya bersamaan dengan biografi al-Anmathi. Berikut komentarnya mengenai biografi Abu ‘Ali bin Khairan, yang mengutip pernyataan adz-Dzahabi bahwa ia tidak menemukan data tentang guru-guru dan murid-murid Ibnu Khairan. Menurut as-Subki sendiri, mungkin ia meninggal antara umur 30-50 tahun, dan mungkin saja ia sering mengikuti pengajiannya Ibnu Suraij dan bertemu dengan guru-gurunya. Imam an-Nawawi menegaskan, di dalam kitab al-Muhadzdzab disebutkan sepintas mengenai biografi Abu ‘Ali bin Khairan, Ibnu Abu Hurairah, dan ath-Thabari.[46]

47.  Abu Hafsh bin al-Wakil, (W. 310.), nama lengkap: ‘Umar bin Abdullah bin Musa. Ia termasuk pemuka madzhab Syafi’i yang pendapatnya sangat diperhatikan. Al-Muthawwa’i menyatakan bahwa ia tergolong ahli fiqih yang berkedudukan tinggi. Ia belajar fiqih kepada al-Anmathi dan meninggal di Baghdad pada tahun 310 H.[47]

48.  Muhamad bin al-Husain al-Abari, (W. 363 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Husain bin Ibrahim bin ‘Ashim bin Abdullah, Abu al-Husain as-Sijistani. Abar termasuk salah satu desa di Sijistan. Kitabnya yang terkenal adalah Manâqib asy-Syâfi’i.  Menurut as-Subki, kitab ini merupakan kitab yang paling bagus mengenai biografi Imam Syafi’i, paling banyak pembahasannnya, dan paling sistematis yang terdiri dari 75 bab. Anehnya, dalam kitab ini, penulis memasukkan Bisyr al-Murisi sebagai pemuka madzhab Syafi’i. Padahal ia adalah rival kuatnya Syafi’i. Ia tidak pernah mengikuti pendapat Syafi’i, bahkan sering menentang dan menolaknya. Dalam kitab ini disebutkan bahwa al-Murisi adalah seorang mulhid (menyimpang). Al-Abari sendiri meninggal pada bulan Rajab 363 H.[48]

49.  Abu ‘Ali ats-Tsaqafi, (W. 328 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdul Wahhab bin Abdurrahman. Ia mendalami fiqih kepada Muhamad bin Nashr al-Marwazi.[49]

50.  Abu al-Fadhl al-Bal’ami, (W. 329 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Muhamad bin Abdurrahman. Ia termasuk kawan dekatnya Muhamad bin Nashr al-Marwazi. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Talqîh al-Balâghah dan al-Maqâlât.[50]

51.  Abu Bakar al-Mahmudi. Nama lengkap: Muhamad bn Muhamad al-Marwazi. Ia mendalami ilmu kepada Abu Muhamad al-Marwazi yang terkenal dengan sebutan ‘Abdan.[51]

52.  Abu al-‘Abbas as-Sayyari. Ia belajar fiqih kepada ‘Abdan al-Marwazi, yaitu pakar hadis di Marwa di zamannya dan orang yang menyebarkan madzhab Syafi’i di Marwa.[52]

53.  Abu Bakar an-Naisaburi, (238-324 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad bin Ziyad bin Washil bin Saimun. Ia termasuk imam besar penghafal hadis. Gurunya: Muhamad bin Yahya, Ahmad bin Yusuf, ar-Rabi’. Yunus, al-Muzani, dan Abu Zur’ah ar-Razi. Ia meriwayatkan hadis dari ad-Daruquthni dan lainnya. Al-Hakim berkata, “Abu Bakar an-Naisaburi adalah imam besar madzhab Syafi’i di Irak pada masanya. Dia juga termasuk orang yang paling pandai dalam masalah-masalah agama dan perbedaan pendapat para sahabat.”[53]

54.  Abu al-‘Abbas an-Nasawi, (W. 303 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Sufyan bin ‘Amir bin Abdul ‘Aziz asy-Syaybani. Ia adalah ahli fiqih sekaligus penghafal hadis dan penulis kitab al-Musnad. Ia belajar fiqih kepada Abu Tsur dan Harmalah.[54]

55.  Abu Manshur Abdullah bin Mahran. Ia mendalami fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi.[55]

56.  Abu Sahl Muhamad bin Sulaiman ash-Sha’luki, (W. 369 H.). Ia termasuk imam besar di zamannya yang menguasai fiqih, nahwu, tafsir, bahasa, sya’ir, ‘arûdh, dan ilmu Kalam. Ia mendalami fiqih kepada al-Marwazi. Ia meninggal pada tahun 369 H. dan Abu ath-Thib –anaknya- turut mensalatinya.[56]

57.  Abu Hamid al-Marwazi, (W. 362 H.), nama lengkap: Ahmad bin Bisyr al-Qadhi. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi.[57]

58.  Abu Ishaq al-Marwazi, (W. 340 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Ahmad bin Ishaq. Ia mendalami fiqih kepada Ibnu Suraij, Abdullah al-Marwazi dan al-Ishthakhri. Imam agung ini meninggalkan banyak karya tulis dan mensyarahi kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. Ia disebut-sebut sebagai pucuk pimpinan orang-orang alim di Baghdad. Menjelang akhir hayatnya, ia pindah ke Mesir dan meninggal di sana. Ia dikebumikan dekat dengan pusara Imam Syafi’i.[58]

59.  Abu Muhamad al-Qadhi, (W. 377 H.), nama lengkap: Abdullah bin ‘Ali bin al-Hasan. Ia mendalami ilmu agama di bawah bimbingan Abu Ishaq al-Marwazi.[59]

60.  Abu Bakar al-Qushari, (W. 372 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad ‘Ali. Ia termasuk salah satu imam besar yang namanya melambung di bawah asuhan Abu Ishaq al-Marwazi.[60]

61.  Ahmad bin ‘Ali al-Juwaiqi, (W. 340 H.), nama lengkap: Ahmad bin ‘Ali bin Thahir. Ia juga termasuk muridnya Abu Ishaq al-Marwazi. Ia telah memberikan catatan-catatan terhadap kitab Syarh al-Mukhtashar al-Muzanî.[61]

62.  Abu ‘Ali as-Sarkhasi, (W. 389 H.), nama lengkap: Zahir bin Ahmad bin Muhamad bin ‘Isa. Imam besar ahli fiqih, pakar hadis, dan pakar tafsir ini adalah muridnya Abu Ishaq al-Marwazi. Ia meninggal pada hari Selasa, bulan Rabi’ul Akhir 389 H.[62]

63.  Al-Qaffal asy-Syasyi al-Kabir, (W. 365 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Ali bin Isma’il. Ia termasuk salah satu imam besar yang sangat kharismatik, ilmunya luas, ringan tangan, dan sangat berpengaruh. Ia adalah pakar di bidang tafsir, hadis, fiqih, teologi, Ushul Fiqih, fiqih, tasawuf, bahasa, dan sya’ir.

Abu ‘Ashim al-‘Ibadi berkomentar. “Al-Qaffal adalah pengikut madzhab Syafi’i yang tulisannya sangat tajam, ilmunya mendalam, pandai menjelaskan dengan cepat, dan kualitas isnâdnya paling tinggi.”  Al-Hulaimi berkata, “Guru kami, al-Qaffal, adalah ulama paling pandai yang pernah saya temui dibandingkan dengan ulama lain yang sezaman dengannya.” Syeikh Abu Ishaq asy-Syairazi menambahkan, “Al-Qaffal adalah imam besar yang meninggalkan banyak karya ilmiah yang tak ada padanannya. Dialah ulama ahli fiqih yang pertama kali menulis tentang jadal (ilmu perdebatan) dengan sangat indah. Ia juga mempunyai karya di bidang Ushul Fiqih dan Syarh ar-Risâlah. Ia juga berjasa besar dalam penyebaran madzhab Syafi’i. Ia adalah ayahandanya al-Qasim, penulis kitab at-Taqrîb. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Suraij. Sementara gurunya di bidang ilmu kalam adalah al-Asy’ari dan al-Asy’ari sendiri belajar fiqih kepadanya.

Gurunya: Ibnu Khuzaimah, Abdullah al-Madini, Muhamad bin Muhamad al-Baghindi, Abu al-Qasim al-Baghawi, dan lainnya. Muridnya: Abu Abdullah al-Hakim dan lainnya. Menurut Abu Ishaq, al-Qaffal meninggal pada tahun 336 H. Pendapat ini disalahkan oleh Ibnu ash-Shalah. Sedangkan menurut pendapat yang shahih, tahun kewafatan al-Qaffal adalah akhir tahun 365 H. di Syasyi. Menurut as-Subki, al-Hakim menyaksikan kewafatan gurunya itu. Adapun tahun kelahirannya sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnu as-Sam’an adalah tahun 290 H.[63]

64.  Abu al-Hasan al-Baihaqi, (W. 324 H.), nama lengkap: Muhamad bin Syu’aib bin Ibrahim bin Syu’aib an-Naisaburi. Ia adalah imam besar yang terkenal kefashihannya, keberaniannya, serta kepandaiannya di bidang fiqih dan imamah. Ia pernah terlibat perdebatan sengit dengan Abu Bakar bin Huzaimah dan kawan-kawannya di Naisabur. Kemudian ia menimba ilmu kepada Abu al-‘Abbas bin Suraij, sampai benar-benar menjadi orang alim.[64]

65.  Abu ‘Ali bin Abu Hurairah, (W. Rajab 345 H.), nama lengkap: al-Hasan bin al-Husain. Ia adalah imam besar yang pernah menjabat sebagai qadhi. Namanya melambung ke segenap penjuru dunia sebagai salah seorang pembesar madzhab Syafi’i yang sangat disegani. Ia mempunyai karya ilmiah dalam masalah-masalah fiqih. Ia juga mensyarahi kitab Mukhtashar al-Muzanî dan memberikan catatan-catatan kritis terhadap kitab tersebut. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Suraij dan Abu Ishaq al-Marwazi. Ar-Rafi’i berkata, “Ibnu Abu Hurairah adalah pimpinan ulama ahli fiqih.” Ia wafat pada bulan Rajab 345 H.[65]

66.  Abu al-Walid an-Naisaburi, (W. 349 H.), nama lengkap: Hassan bin Muhamad bin Ahmad bin Harun al-Qurasyi al-Umawi. Ia termasuk ulama besar yang dididik oleh Abu al-‘Abbas bin Suraij.[66]

67.  Abu Hamid ath-Thusi, (W. 345 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Isma’il bin Nu’aim. Ia adalah ulama ahli fiqih dan apakar hadis. Ia mendengar hadis dari Abu Abdullah al-Busyanji dan belajar fiqih kepada Ibnu Suraij.[67]

68.  Ahmad Tumarda, (W. 329 H.), nama lengkap: Ahmad bin Ibrahim bin Tumarda, Abu Bakar. Ia adalah murid Ibnu Suraij yang berasal dari Jirjan.[68]

69.  Ibnu Suraij, (W. 306 H.), nama lengkap: Ahmad bin ‘Umar bin Suraij al-Qadhi, Abu al-‘Abbas, al-Baghdadi al-Baz al-Asyhab. Ia adalah Syeikh dan penyebar madzhab Syafi’i. Banyak sekali para ulama besar yang lahir di bawah bimbingannya. Ia sendiri belajar fiqih kepada Abu al-Qasim al-Anmathi. Gurunya yang lain: al-Hasan bin Muhamad az-Za’farani, ‘Abbas bin Muhamad ad-Dawri, Abu Dawud as-Sijistani, dan lainnya. Muridnya: Abu al-Qasim ath-Thabrani (ahli hadis), Abu al-Walid Hassan bin Muhamad (ahli fiqih), Abu Ahmad al-Ghathrifi, dan lainnya.

Abu ‘Ashim al-‘Ibadi berkomentar, “Ibnu Suraij adalah panutannya madzhab Syafi’i, pemilik ilmu yang mendalam, penulis kitab Ushul dan Fiqih, serta ahli matematika.” Abu Hafsh al-Muthawwi’i berkata, “Ibnu Suraij adalah pemimpin para ulama di masanya dan para ulama sepakat atas kebaikannya. Ia juga pantas dijuliki sebagai imam besar, Syafi’i junior, mujtahid mutlak, dan pakar yang tak ada tandingannya. Dialah ulama pertama yang menggagas ilmu dialektika dan psikologi massa dalam perdebatan.” Dalam kitab Ghâyah al-Marrâm Imam adh-Dhiya’ al-Khathib –ayah Imam Fakhruddin- menegaskan, “Abu al-‘Abbas adalah tokoh madzhab Syafi’i yang mumpuni di bidang ilmu Kalam, sebagaimana pengetahuannya yang mendalam tentang fiqih.”

Ia meninggalkan warisan intelektual dalam jumlah yang sangat banyak. Menurut satu pendapat, karya-karyanya lebih dari 400 kitab. Sayangnya, menurut as-Subki, kitab-kitab tersebut raib dan hanya sedikit yang terselamatkan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah kitabnya tentang bantahan kepada Ibnu Dawud mengenai qiyâs (Kitâb ar-Radd ‘ala Ibni Dâwud fî al-Qiyâs) dan kitab yang berisi bantahan terhadap kritikan yang ditujukan kepada Imam Syafi’i.

Ibnu Suraij adalah orang yang paling alim di abadnya. As-Subki berkata, “Guru kami –adz-Dzahabi- menegaskan, prediksi Nabi Saw. bahwa di setiap abad akan ada orang yang tampil sebagai reformis, harus dipahami secara komprehensif. Artinya, orang tersebut bukan satu individu, tetapi sejumlah orang. Contohnya, reformis di abad ke 3 Hijriyah adalah Ibnu Suraij di bidang fiqih, al-Asy’ari di bidang teologi, dan an-Nasa’i di bidang hadis.[69]

70.  Abu Bakar ash-Shayrafi, (W. 330 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah. Ia adalah imam besar di bidang Ushul Fiqih yang sangat dihormati dan pendapat-pendapatnya banyak diikuti para pengikut madzhab Syafi’i. Ia dijuluki sebagai orang yang paling pandai di bidang Ushul Fiqih setelah Imam Syafi’i. Imam yang berkedudukan tinggi ini menimba ilmu fiqih kepada Ibnu Suraij dan mendengar hadis dari Ahmad bin Manshur ar-Ramaddi. Sementara muridnya adalah ‘Ali bin Muhamad al-Halbi. Peninggalan intelektualnya yang paling berharga adalah Syarus ar-Risâlah, Kitâb al-Ijmâ’, dan Kitâb asy-Syurûth.[70]

71.  Abu ‘Ali ar-Ruzbadi, (W. 323 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin al-Qasim bin Manshur. Ia adalah ahli fiqih yang tergolong sufi, yang mendalami fiqih kepada Ibnu Suraij.[71]

72.  Abu Hafsh. Nama lengkap: ‘Umar bin Ahmad bin Suraij. Ia adalah putra Abu al-‘Abbas bin Suraij, yang belajar fiqih langsung kepada ayahnya.[72]

73.  Abu Thib adh-Dhabbi, (W. 308 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Mufadhdhal bin Salimah al-Baghdadi. Ulama ahli fiqih yang satu ini belajar kepada Ibnu Suraij dan seringkali mengemukakan pandangan-pandangan baru dalam madzhab Syafi’i.[73]

74.  Ad-Daruquthni, (306-385 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, ‘Ali bin ‘Umar bin Ahmad ad-Daruquthni al-Baghdadi. Ia adalah penghafal hadis yang terkenal dan mempunyai banyak karya ilmiah. Gurunya: Abu al-Qasim al-Baghawi dan lainnya. Muridnya: Syeikh Abu Hamid al-Isfarayini dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Abu Sa’id al-Ishthakhri.[74]

75.  Abu al-Qasim ad-Daynawari, (W. 397 H.), nama lengkap: Abdush Shamad bin ‘Umar bin Ishaq. Ahli fiqih yang satu ini belajar kepada Abu Sa’id al-Ishthakhri. Sementara muridnya adalah al-Azji dan ash-Shaymari. Ia wafat di Baghdad pada tahun 397.[75]

76.  Abu al-Qash ath-Thabari, (W. 335 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abu Ahmad ath-Thabari. Ia adalah gurunya Imam Abu al-‘Abbas bin al-Qash, imam di zamannya. Imam besar ini belajar fiqih kepada Abu al-‘Abbas bin Suraij. Ia meriwayatkan hadis dari Abu Khalifah, Muhamad bin Abdullah al-Muthin al-Hadhrami, dan lainnya. Ia dinamakan al-Qâsh (Pakar Cerita), karena ceritanya dapat menggugah perasaan dan hati para pendengarnya. Ia menulis kitab-kitab fiqih yang sangat popular, di antaranya: at-Talkhîsh, al-Miftâh, Adab al-Qâdhî, al-Mawâqît, dan sebagainya. Ia juga mempunyai karya tulis di bidang ilmu Kalam dan Ushuluddin.[76]

77.  Abu al-Qasim ash-Shaymari, (W. 386 H.), nama lengkap: Abdul Wahid bin al-Husain bin Muhamad al-Fadhi. Shaymar adalah nama sungai di Bashrah yang menjadi nisbatnya. Ia termasuk salah satu imam yang disegani dalam madzhab Syafi’i. Syeikh Abu Ishaq berkomentar, “Ash-Shaymari adalah penghafal hadis yang tulisannya sangat menarik.” Ia meriwayatkan hadis dari ad-Daynawari dan banyak ulama yang meriwayatkan hadis darinya, salah satunya adalah al-Qadhi al-Mawardi. Penulis yang handal ini meninggalkan kitab-kitab yang sangat berharga, di antaranya: al-Îdhâh (7 jilid), Kitâb al-Kifâyah, Kitâb fî al-Qiyâs wa al-‘Ilal, Adab al-Muftî wa al-Mustaftî (kitab kecil), dan Kitâb asy-Syrûth. Ia juga sempat belajar fiqih kepada Abu al-Fiyadh, kawannya Abu Hamid al-Marwazi.[77]

78.  Abu ‘Ali az-Zujaji, (W. 400 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Muhamad bin al-‘Abbas al-Qadhi. Imam dalam madzhab fiqih ini adalah murid utamanya Ibnu al-‘Abbas al-Qash dan guru utamanya al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari. Ia mempunyai kitab yang berjudul Ziyâdah al-Miftâh dan syarah terhadap kitab Ibnu al-Qash.[78]

79.  Ibnu al-Qaththan, (W. 359 H.), nama lengkap: Abu al-Husain, Ahmad bin Muhamad bin Ahmad al-Baghdadi. Ia termasuk imam besar dalam madzhab Syafi’i, yang belajar fiqih kepada Ibnu Suraij dan Abu Ishaq al-Marwazi. Ia mempunyai banyak karya tulis. Ia juga disebut-sebut sebagai pucuk pimpinan orang alim di Irak setelah wafatnya ad-Dariki.[79]

80.  Abu Manshur al-Khamsyadi, (W. 388 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Khamsyad. Ia adalah gurunya para imam. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Walid an-Naisaburi di Khurasan dan Ibnu Abu Hurairah di Irak.[80]

81.  Ibnu al-Bai’, (321-405 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Hamdawiyah bin Nu’aim bin al-Hakim adh-Dhabbi ath-Thamhani an-Naisaburi, Abu Abdullah al-Hakim yang terkenal dengan sebutan Ibnu al-Bai’.

Ia lahir di waktu subuh tanggal 3 Rabi’ul Awwal 321 H. Jumlah gurunya yang ada di Naisabur sekitar 1.000 orang dan guru-guru dari daerah lainnya berjumlah sekitar seribu juga. Gurunya yang terkenal: Muhamad bin ‘Ali al-Mudzakkir, Muhamad bin Ya’qub al-Ashamm, Muhamad bin Ya’qub al-Ahzam, dan lainnya. Muridnya: Abu al-Hasan ad-Daruquthni –yang juga termasuk gurunya-, Abu al-Fath bin Abu al-Fawaris Abu Bakar al-Baihaqi, dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Abu ‘Ali bin Abu Hurairah, Bu Sahl ash-Sha’luki, dan Abu al-Walid an-Naisaburi. Ia adalah imam besar, penghafal hadis yang juga ahli fiqih, rawi yang terpercaya, luas ilmunya, dan karyanya hampir mencapai 500 jilid. Berikut karya-karyanya yang terkenal: Târîkh Naisâbûr; as-Subki menegaskan bahwa kitab ini adalah kitab sejarah bagi ahli fiqih yang sangat berharga dan menunjukkan kedalaman ilmu penulisnya; al-Mustadrak ‘ala ash-Shahîhain, ‘Ulûm al-Hadîts, Muzakkî al-Akhbâr, al-Iklîl, dan Fadhâ’il asy-Syâfi’î.[81]

82.  Abu ‘Ali ath-Thabasi, (W. 391 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Muhamad. Menurut al-Hakim, ia adalah ahli fiqih, ahli sastera, dan zahid. Ia termasuk syeikh dan ahli fiqih Khurasan. Ia juga sering menggantikan tugas ‘Ali bin Abu Hurairah di masa hidupnya.[82]

83.  Abu ‘Ali ath-Thabari, (W. 350 H.), nama lengkap: al-Husain bin al-Qasim. Imam besar ini, pendapatnya sangat terkendal dan dihormati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i. Ia belajar fiqih kepada ‘Ali bin Abu Hurairah. Salah satu kitabnya yang terkenal adalah Kitâb al-Muharrar. Ini adalah kitab pertama yang ditulis mengenai perbedaan pendapat dalam bidang fiqih. Karyanya yang lain adalah al-Ifshâh (kitab tentang fiqih) dan Kitâb al-‘Iddah. Ia juga meninggalkan karya di bidang Ushul Fiqih dan Jadal (ilmu debat).[83]

84.  Abu Sulaiman al-Busti, (W. 388 H.), nama lengkap: Hamad bin Muhamad bin Ibrahim bin Khaththab. Ia termasuk imam besar di bidang fiqih, hadis, dan bahasa. Gurunya di bidang fiqih adalah Abu Bakar al-Qaffal asy-Syasyi dan Abu ‘Ali bin Abu Hurairah. Ia juga termasuk ulama yang produktif menulis kitab, di antaranya: Ma’âlim as-Sunan (kitab ini adalah syarah terhadap kitab Sunan Abî Dâwud), Gharîb al-Hadîts, Syarh al-Asmâ’ al-Husnâ’, Kitâb al-‘Uzlah, dan Kitâb al-Ghaniyyah ‘an al-Kalâm wa Ahlihi. Ia wafat pada bulan Rabi’ul Akhir 388 H di Busti.[84]

85.  al-Qasim bin Muhamad bin ‘Ali asy-Syasyi. Ia termasuk salah satu imam besar dalam madzhab Syafi’i dan putranya al-Qaffal al-Kabir. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah kitab at-Taqrîb. Al-‘Ibadi menyebutkan biografinya dalam kitab ath-Thabaqât. Masyhur al-Fadhl mengakui kehebatan karya tulisnya. Ia juga sering menjadi sumber rujukan ahli fiqih Khurasan dan penduduk Irak menyanjung metode penulisan kitabnya.

Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali al-Muthawwi’i berkata, “Ada 4 ahli fiqih madzhab Syafi’i yang sangat gemilang, yaitu: Abu Bakar al-Isma’ili yang ilmunya diwarisi oleh anaknya, Abu Sa’d; Imam Abu Sahl yang ilmunya turun kepada anaknya, Imam bin Imam… dan yang terakhir, Abu Bakar al-Qaffal yang ilmunya diserap oleh anaknya –al-Qasim-. Kini, putranya itu menjadi ulama terkenal berkat karyanya yang berjudul at-Taqrîb.” As-Subki menyatakan, dari penjelasan kami di atas menunjukkan bahwa penulis kitab at-Taqrîb adalah al-Qasim. Tetapi, ada sebagian orang yang mengira bahwa penulisnya adalah ayahnya al-Qasim. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab at-Tadznîb karya Abu al-Qasim ar-Rafi’i. Ibnu Khilikkan berkata, “Bahkan, Imam al-Ghazali sendiri keliru, karena menyebutkan Abu al-Qasim dalam pembahasan tentang sewa-menyewa dalam kitabnya. Padahal, yang benar adalah al-Qasim.”[85]

86.  Muhamad al-Khudhari, (W. 320 H.), nama lengkap: Abu Abdullah, Muhamad bin Ahmad al-Marwazi. Ia adalah ahli fiqih yang berasal dari Syam dan belajar fiqih kepada al-Qaffal al-Kabir. Ia sering mengemukakan pemikiran-pemikiran baru dalam madzhab Syafi’i. Pemikiran-pemikirannya banyak dikutip oleh penduduk Khurasan. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Abu ‘Ali ad-Daqqaq.[86]

87.  Abu Abdullah al-Jurjani, (W. 403 H.), nama lengkap: al-Husain bin al-Hasan yang terkenal dengan panggilan al-Hulaimi. Ia belajar fiqih kepada Abu Bakar al-Awdani dan al-Qaffal al-Kabir, hingga menjadi imam besar yang sering dirujuk oleh para penduduk yang tinggal di sekitar sungai Tigris. Ia sering mengemukakan pendapat-pendapat yang menarik dalam madzhab Syafi’i.[87]

88.  Abu al-Hasan al-Masirkhasi, (W. 384 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Ali bin Sahl. Ahli fiqih madzhab Syafi’i ini mendalami fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi dan al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[88]

89.  Abu al-Qasim ad-Dariki, (W. 375 H.), nama lengkap: Abdul ‘Aziz Abdullah bin Muhamad. Ahli fiqih yang satu ini termasuk salah satu imam dalam madzhab Syafi’i. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq dan ia mengakhiri studynya di Baghdad. Abu Hamid al-Isfarayini adalah salah satu muridnya yang terkenal, yang belajar fiqih kepadanya setelah wafatnya al-Mazriban. Abu Hamid berkomentar, “Saya tidak pernah melihat ulama yang lebih pandai dari ad-Dariki.” An-Nawawi berkata, “Dalam kitab al-Muhadzdzab ini, ada empat orang yang namanya diawali dengan Abu al-Qasim, yaitu: al-Anmathi, ad-Dariki, Ibnu Kajj, dan ash-Shaymari. Selain mereka, tidak ada lagi ulama ahli fiqih madzhab Syafi’i yang namanya diawali dengan Abu al-Qasim.”[89]

90.  Ibnu al-Haddad al-Mishri, (W. 345 H.), nama lengkap: Abu Bakar, Muhamad bin Ahmad al-Haddad al-Mishri. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi. Ia mempunyai kitab yang berjudul al-Furû’. Kitab ini membahas tentang madzhab Syafi’i, meski kecil tapi banyak faidahnya. Kitab ini disyarahi oleh al-Qaffal al-Marwazi, al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, Syeikh Abu ‘Ali as-Sanaji, dan al-Qadhi Husain. Karyanya yang lain tentang fiqih adalah kitab al-Bâhir, Adab al-Qadhâ’, dan J   âmi’ al-Fiqh. Ia sempat bertemu dengan Ibnu Jarir ath-Thabari, ash-Shayrafi, dan al-Ishthakhri. Sayangnya, ia tidak pernah bertemu dengan Ibnu Suraij dan ia sangat menyesalkannya.[90]

91.  Abu Hasan al-Asy’ari, (W. 320 H.), nama lengkap: ‘Ali bin Isma’il bin Abu Bisyr, Syeikh Abu Hasan al-Asy’ari al-Bishri. Ia adalah imam Ahli Sunnah Wal Jama’ah dan pakar teologi. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq al-Marwazi. As-Subki berkata, “Penjelasan ini dinyatakan oleh Abu Bakar bin Faurak dalam kitab Thabaqât al-Mutakallimîn, dan Abu Ishaq al-Isfarayini yang mengutip perkataan Abu Muhamad al-Juwaini dalam kitab Syarh ar-Risâlah. Abu Ishaq al-Marwazi yang menjadi gurunya al-Asy’ari dalam ilmu fiqih, menanggap muridnya itu sebagai gurunya dalam ilmu kalam.”[91]

92.  Abu Zaid al-Marwazi, (W. 371 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin Abdullah al-Marwazi. Ia termasuk pengafal hadis di kalangan madzhab Syafi’i. Ia berguru kepada Abu Ishaq dan Abu Bakar al-Qaffal al-Marwazi menjadi muridnya yang terkenal. [92]

93.  Abu Hayyan at-Tauhidi. Nama lengkap: ‘Ali bin Muhamad al-Baghdadi. Ia berguru kepada Abu Hamid al-Marwazi. Adz-Dzahabi berkomentar, “Abu Hayyan adalah pendusta dan kurang menjaga agamanya.” Penilaian ini dikritik oleh as-Subki. Ia termasuk ulama yang cukup produktif, di antara karya tulisnya adalah kitab al-Muqâbisât, yang telah ditahqiq oleh Hasan al-Asnawi. Karya lainnya adalah kitab al-Bashâ’ir wa adz-Dzakhâ’ir dan al-Muhâdharât wa al-Munâzharât. Ia juga mempunyai catatan tentang relasi para ahli fiqih dalam perdebatan.[93]

94.  Abu al-Fayyadh al-Bishri. Nama lengkap: Muhamad bin al-Hasan. Ia berguru kepada Abu Hamid al-Marwazi dan yang berguru kepadanya adalah ash-Shaymari.[94]

95.  Abu ‘Ali al-Hamadani. Nama lengkap: al-Hasan bin al-Husain bin Hamkan al-Hamadani. Ia berguru kepada Abu Hamid al-Marwazi.[95]

96.   Abu Bakar al-Awdani (W. 358 H.). Ia berguru kepada Ibnu Mahran.[96]

97.  Abu Sahl al-Abyurdi. Nama lengkap: Ahmad bin ‘Ali. Ia termasuk salah satu imam yang mempunyai reputasi tinggi di bidang ilmu dan amal. Abu Zaid ad-Dabusi berkata, “Kalau bukan karena jasa al-Abyurdi, maka madzhab Syafi’i tidak akan berkembang pesat di kawasan sungai Tigris.” Ia termasuk kawan lamanya al-Awdani.[97]

98.  Ash-Sha’luki, (W. 378 H.), nama lengkap: Abu ath-Thayyib Sahl bin Muhamad. Ia berguru kepada ayahnya.[98]

99.  Abu Ya’qub al-Abyurdi. Nama lengkap: Yusuf bin Muhamad. Ia adalah gurunya Imam Abu Muhamad al-Juwaini.[99]

100.   Abu Manshur al-Azdi, (W. 443 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Abdullah al-Harawi. Ia termasuk imam dalam madzhab Syafi’i yang menguasai fiqih dan hadis secara bersamaan. Ia juga menjadi murid utamanya Syeikh Abu Zaid al-Marwazi.[100]

101.   Abu Muhamad al-Baqi, (W. 398 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad al-Bukhari. Ia adalah syeikhnya para imam fiqih dan merupakan orang terpandai di zamannya. Gurunya: Ibnu Abu Hurairah dan Abu Ishaq al-Marwazi. Muridnya: al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[101]

102.   Abu al-Hasan al-Qazwini, (W. 442 H.), nama lengkap: ‘Ali bin ‘Umar bin Muhamad bin al-Hasan al-Harbi. Ia berguru kepada ad-Dariki.[102]

103.   Abu Abdullah al-Baidhawi, (W. 423 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah al-Qadhi. Ia berguru kepada ad-Dariki dan Abu Ishaq asy-Syairazi berguru kepadanya.[103]

104.   Ibnu Jama’ah, (W. 424 H.), nama lengkap: Abu Thalib az-Zuhri, ‘Umar bin Ibrahim bin Sa’i, yang kondang dengan sebutan Ibnu Jama’ah. Ia berguru kepada ad-Dariki. Ia pernah menulis kitab tentang manasik haji yang isinya sangat menarik.[104]

105.   Ibnu Ramin, (W. 410 H.), nama lengkap: Abu Ahmad, Abdul Wahhab bin Muhamad al-Baghdadi. Ia berguru kepada ad-Dariki dan Abu Ishaq asy-Syairazi berguru kepadanya.[105]

106.   Abdul Qahir al-Baghdadi, (W. 429 H.), nama lengkap: Abu Manshur, Abdul Qahir bin Thahir al-Baghdadi. Ia adalah ahli fiqih, Ushul Fiqih, dan sastera. Ia berguru kepada Abu Ishaq al-Isfarayini. Sementara murid-muridnya adalah Nashir al-Marwazi, dan Zainul Islam al-Qusyairi. Ia termasuk ulama yang sangat pandai di bidang Farâ’idh, nahwu, dan ilmu hitung. Ia meninggalkan karya ilmiah dalam bidang matematika, yang berjudul at-Takmilah.[106]

107.   Abu Ishaq al-Isfarayini, (W. 418 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Muhamad bin Ibrahim. Ia termasuk pakar fiqih yang menguasai ilmu kalam dan Ushul Fiqih. Ia meninggalkan kitab-kitab yang sangat berharga, di antaranya: Jâmi’ al-Hallî fî Ushûl ad-Dîn wa ar-Radd ‘ala al-Mulhidîn. Al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari termasuk salah satu muridnya di bidang Ushul Fiqih. Ia juga menjadi sumber rujukan mayoritas syeikh di Naisabur dalam bidang ilmu kalam dan Ushul Fiqih. An-Nawawi berkata, “Setiap kali disebutkan nama Abu Ishaq dalam kitab al-Muhadzdzab, maka yang dimaksud adalah Abu Ishaq al-Marwazi, bukan Abu Ishaq al-Isfarayini, yang merupakan ulama terkenal di bidang ilmu kalam dan Ushul Fiqih. Namun demikian, Abu Ishaq al-Marwazi juga mempunyai pandangan-pandangan yang sangat diperhitungkan dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i.[107]

108.   Abu ‘AShim al-‘Ibadi, (375-458 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin Muhamad bin Abdullah bin ‘Ibad al-Harawi. Ia tergolong imam besar yang sangat dihormati di kalangan madzhab Syafi’i, karena ilmunya terkenal sangat mendalam. Ia juga dikenal sebagai ulama yang pandai menulis dan tulisannya sangat menarik.  Gurunya ada empat: al-Qadhi Abu Manshur Muhamad bin Muhamad al-Azdi di Hirrah, al-Qadhi Abu ‘Umar al-Busthami, Ustadz Abu Thahir al-Ziyyadi, dan Abu Ishaq al-Isfarayini di Naisabur. Al-Qadhi Abu Sa’id al-Harawi berkata, “Abu ‘Ashim adalah ulama muda yang sangat terpandang di masanya. Ia mampu menulis kitab-kitab fiqih dan mengemasnya dengan menarik. Tulisan-tulisannya sangat ilmiah dan detail. Ia juga temasuk ulama yang kualitas sanadnya sangat tinggi. Karya-karyanya yang terkenal adalah az-Ziyâdât, Ziyâdah az-Ziyâdât, al-Mabsûth, al-Hâdî, Adab al-Qadhâ’ (kitab ini disyarahi oleh Abu Sa’id al-Harawi dalam kitabnya yang berjudul al-Isyrâq ‘ala Ghawâmidh al-Hukûmât), Thabaqât al-Fuqahâ, ar-Radd ‘ala al-Qâdhî as-Sam’ânî, dan sebagainya.[108]

109.   al-Qadhi bin Kajj, (W. 405 H.), nama lengkap: Yusuf bin Ahmad bin Yusuf bin Kajj ad-Daynawari. Ia berteman dengan Abu al-Hasan al-Qaththan dan sering menghadiri majelisnya ad-Dariki. Ia termasuk ulama yang sukses di bidang ilmu dan urusan dunia. Ulama yang nama kunyahnya adalah Abu al-Qasim, sangat dihormati pendapatnya, karena dianggap sebagai salah satu pilar madzhab Syafi’i. Kemampuannya menghafal segala persoalan yang berkembang di madzhab Syafi’i, sudah tidak diragukan lagi.[109]

110.   Ibnu al-Mazriban, (W. 366 H.), nama lengkap: ‘Ali bin Ahmad bin al-Mazriban al-Baghdadi. Ia dianggap sebagai salah satu pilar madzhab Syafi’i. Ia berguru kepada Abu al-Hasan bin al-Qaththan. Sedangkan Abu Hamid al-Isfarayini adalah muridnya ketika ia pertama kali datang ke Baghdad.[110]

111.   Abu Hamid al-Isfarayini, (344-406 H.), nama lengkap: Ahmad bin Ahmad al-Isfrayini. Imam ahli fiqih dalam mazhab Syafi’i ini juga berstatus sebagai pemimpin tarekat di Irak. Ilmunya setinggi langit dan sedalam lautan, sehingga namanya sangat harum di kalangan umat Islam. Ia lahir pada tahun 344 dan datang ke Baghdad di usianya yang masih muda. Ia berguru kepada Ibnu al-Mazraban dan ad-Dariki, hingga menjadi imam besar di zamannya. Gurunya di bidang hadis: Abdullah bin ‘Addi, Abu Bakar al-Isma’ili, Abu al-Hasan ad-Daruquthni, dan lainnya/ Adapaun muridnya yang terkenal adalah Sulaim ar-Razi. Syeikh Abu Ishaq berkomentar, “Puncak kesuksesan agama dan dunia di Baghdad berada dalam genggaman al-Isfarayini.” Ia banyak memberikan komentar-komentar terhadap kitab Syarh al-Muzanî. Ia juga mempunyai kawan yang sangat banyak dan majelis ilmunya paling tidak dihadiri oleh 300 ahli fiqih. Orang yang sepakat dan yang menentang pendapatnya, tetap mengakui kehebatannya di bidang fiqih, kecemerlangan ide-idenya, dan sistematika ilmunya.

Al-Khathib berkata, “Majelis al-Isfarayini dihadiri sekurang-kurangnya oleh 700 ahli fiqih.” Bahkan, orang-orang menyatakan, seandainya Syafi’i melihatnya, pasti akan merasa bangga kepadanya. Ia telah sanggup memberikan fatwa di usia 17 tahun. Ia terus bertugas sebagai mufti sampai akhir hayatnya. Di saat ajal, hendak menjemputnya, ia berkata, “Kami benar-benar akan memperoleh anugerah.”. Ia wafat pada bulan Syawwal 406 H. dan dikebumikan di rumahnya sendiri. Lalu dipindahkan pusaranya ke kuburan. Berikut syair-syair yang pernah dirangkainya:

“Janganlah kamu terperdaya oleh pujian # pujian tidak akan pernah menjadikanmu sempurna

Pujian akan tetap terpuji sepanjang masa # sementara zaman, lambat laun akan berakhir.”

Catatan: Abu Hamid al-Isfarayini yang sedang dibicarakan ini, bukanlah Abu Hamid al-Isfarayini yang ahli filsafat (filososf). Demikian, penegasan dari as-Subki.[111]

112.   Abu al-Hasan al-Mawardi, (W. 450 H.), nama lengkap: ‘Ali bin Muhamad bin Habib. Ia adalah imam besar yang telah berhasil menulis buku-buku terkenal, di antaranya: al-Hâwî al-Kabîr, al-Iqnâ’, Adab ad-Dîn wa ad-Dunyâ’, Dalâ’il an-Nubuwwah, al-Ahkâm as-Sulthâniyah, Qânun al-Wazârah, Siyâsah al-Malik, dan sebagainya. Gurunya: al-Hasan bin ‘Ali al-Hanbali –temannya Abu Hanifah-, Muhamad bin ‘Addi al-Muqri, Muhamad bin al-Mu’alli al-Azdi, dan Ja’far bin Mahmud bin al-Fadhl al-Bagdadi. Muridnya: Abu Bakar al-Khathib dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada ash-Shaymari di Bashrah. Kemudian melanjutkan pengajian fiqihnya kepada Abu Hamid al-Isfarayini di Baghdad. Abu Ishaq berkata, “Al-Mawardi belajar di Bashrah dan Baghdad beberapa tahun lamanya. Ia mempelajari fiqih, tafsir, Ushul Fiqih, dan sastera. Ia dijuluki sebagai hafizh madzhab Syafi’i.” Al-Khathib berkata, “Ia tergolong imam ahli fiqih madzhab Syafi’i yang sangat terpandang, yang mempunyai banyak karya tulis mengenai Ushul Fiqih dan cabang-cabangnya.” Ia meninggal pada hari Selasa, Rabi’ul Awwal 450 H.[112]

113.   Ibnu al-Muhamili, (W. 415 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, Ahmad bin Muhamad adh-Dhabbi. Ia termasuk teman dekatnya Abu Hamid al-Isfarayini. Ia juga sangat produktif menulis tentang madzhab Syafi’i, di antaranya: al-Majmû’ (kitab yang sangat tebal), al-Muqni’, al-Lubbâb (kitab kecil), al-Awsath, Tajrîd al-Adillah, al-Qaulain wa al-Wajhain, Ru’ûs al-Masâ’il, dan ‘Iddah al-Musâfir. Ia meninggal pada hari Rabu, minggu terakhir bulan Rabi’ul Akhir 415 H.[113]

114.   Abu ‘Ali al-Bandaniji, (W. 425 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Abdullah al-Qadhi. Ia adalah sahabat lamanya Abu Hamid al-Isfarayini, yang disebut-sebut sebagai hafizh madzhab Syafi’i. Ia mempunyai kitab yang berjudul adz-Dzakhîrah.[114]

115.   Muhamad ash-Shabbagh, (W. 23 Dzul Qa’dah 448 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdul Wahid yang terkenal dengan panggilan Ibnu ash-Shabbagh, Abu Shahib asy-Syamil. Gurunya: Abu Hafsh bin Syahin, ‘Ali bin Abdul ‘Aziz bin Mardak, dan lainnya. Muridnya: Abu Bakar al-Khathib dan lainnya. Ia termasuk orang yang sangat terpercaya dan mulia. Ia belajar fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini dan ia juga mempunyai forum diskusi tentang fatwa. Ia meninggal pada hari Sabtu, 23 Dzul Qa’dah 448 H.[115]

116.   Abu al-Qasim al-Karkhi, (W. Jumadil Akhir 447 H.), nama lengkap: Manshur bin ‘Umar bin ‘Ali al-Baghdadi al-Khathib. Ia termasuk imam yang terpercaya dan mulia dan sempat belajar fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini. Gurunya di bidang hadis: Abu Thahir al-Mukhlish dan Abu al-Qasim ash-Shaydalani. Muridnya di bidang hadis adalah al-Khathib, sedang di bidang fiqih adalah Abu Ishaq. Biografinya disebutkan dalam kitab Thabaqât karya Abu Ishaq. Ia dianggap sebagai pemikir yang banyak menyumbangkan ide-ide baru, khususnya mengenai masalah musik dan lainnya. Ia menghabiskan waktu belajarnya di Baghdad dan tutup usia di kota itu pada bulan Jumadil Akhir 447 H.[116]

117.   Abu Hatim al-Qazwini. Nama lengkap: Mahmud bin al-Hasan. Ia termasuk imam madzhab Syafi’i yang sangat disegani. Ia belajar fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini di Baghdad; belajar ilmu Farâ’idh kepada Ibnu al-Lubban; dan belajar Ushul Fiqih kepada al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani. Ia meninggalkan karya yang cukup banyak, di antaranya: Tajrîd at-Tajrîd. Al-Qadhi Abu ath-Thayyib dan Abu Ishaq mempelajari kitab ini langsung kepadanya. Ia berkata, “Kitab ini banyak memberikan manfaat kepada para ahli fiqih dan sangat disenangi oleh al-Qadhi Abu ath-Thayyib.” Ia juga termasuk dalam jajaran hafizh madzhab Syafi’i yang sangat piawai menyikapi perbedaan pendapat. Ia juga banyak menulis buku mengenai perbedaan pendapat, madzhab, Ushul Fiqih, dan perdebatan. Ia banyak menghabiskan waktu belajarnya di Baghdad dan Amal, dan ia meninggal di Amal.[117]

118.   Ibnu al-Lubban, (W. 446 H.), nama lengkap: Abu Muhamad, Abdullah bin Muhamad al-Asfahani. Menurut al-Khathib, ia termasuk perangkatnya ilmu, ahli agama, dan orang terpandang. Gurunya di Asfahan adalah Abu Bakar al-Muqri dan lainnya; Abu Thahir al-Mukhlish di Baghdad; dan Abu al-Hasan Ahmad bin Ibrahim bin Faras di Mekah. Ia mendalami ilmu fiqih kepada Abu Hamid al-Isfarayini dan al-Qadhi Abu Bakar. Ia mempunya banyak karya tulis. Ia meninggal di Asfahan pada tahun 446 H.[118]

119.   Abdul Karim al-Qusyairi, (W. 465 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, Abdul Karim bin Hawzan al-Qusyairi. Ia mendalami ilmu agama kepada Abu ‘Ali ad-Daqqaq dan Abu Ishaq al-Isfarayini. Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah kitab at-Taysîr fî ‘Ilm at-Tafsîr dan ar-Risâlah al-Qusyairiyah.[119]

120.   Abu ‘Ali as-Sanaji. Nama lengkap: al-Husain bin Syu’aib bin Muhamad as-Sanaji. Imam besar ini disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali memadukan antara metode fiqih Irak dan Khurasan. As-Sanaji dan al-Qadhi al-Husain adalah murid al-Qaffal yang paling sukses. Ia mendalami ilmu agama kepada syeikhnya penduduk Irak, yaitu Abu Hamid al-Isfarayini di Baghdad; belajar kepada gurunya penduduk Khurasan, yaitu Abu Bakar al-Qaffal al-Marwazi di kota Marwa.[120]

Ia belajar menulis di Naisabur di bawah bimbingan Sayyid Abu al-Hasan Muhamad bin al-Husain al-‘Alawi dan Abu Abdullah Muhamad bin Abdullah; serta di Baghdad dibimbing oleh para sahabatnya al-Muhamili. Hasilnya, ia mampu menulis kitab Syarh al-Mukhtashar. Imam al-Haramain menamakan kitab ini dengan sebutan “al-Madzhab al-Kabîr.” Karyanya yang lain adalah Syarh Talkhîsh Ibn al-Qâsh dan Syarh al-Furû’ Ibn al-Haddâd. AS-Subki berkata, “Sebagian sahabat kami di Naisabur menyatalam bahwa ada tiga tipe imam besar di Khurasan, yaitu: pertama, imam yang pandai menulis sekaligus pentahqiq; kedua, imam yang kurang pandai menulis, namun lihai mentahqiq; ketiga, imam yang pandai menulis, namun kurang cekatan dalam mentahqiq. Tipe pertama dibuktikan oleh Abu ‘Ali as-Sanaji; tipe kedua diwakili oleh Abu Muhamad al-Juwaini; dan tipe ketiga direpresentasikan oleh Nashir al-‘Umari al-Marwazi. Karyanya as-Sanaji yang lain adalah kitab al-Majmû’. Abu Hamid al-Ghazali mengutip kitab ini dalam karyanya yang berjudul al-Wasîth. Ia meninggal sekitar tahun 436-439 H. Menurut Yaqut, ia wafat pada tahun 436 H.

121.   Nashir al-Marwazi, (W. 444 H.), nama lengkap: Nashir bin al-Husain bin Muhamad bin ‘Ali asy-Syarif al-‘Umari, Abu al-Fath al-Quraisyi al-Marwazi. Ia termasuk imam yang sukses di dunia. Ia berguru kepada al-Qaffal al-Marwazi dan Abu ath-Thayyib ash-Sha’luki. Sedangkan orang yang berguru kepadanya adalah al-Baihaqi dan lainnya.[121]

122.   Abu ‘Ali ad-Daqqaq, (W. 405 H.), nama lengkap: al-Hasan bin ‘Ali bin Muhamad. Ia berguru kepada al-Qaffal al-Marwazi dan Muhamad al-Khudhari.[122]

123.   Ahmad ar-Ruyani, (W. 450 H.), nama lengkap: Abu al-‘Abbas, Ahmad bin Muhamad bin Ahmad ar-Ruwyani –kakeknya penulis kitab al-Bahr-. Imam agung ini meninggalkan kitab yang sangat berharga, yaitu kitab al-Jurjâniyât. Ia meriwayatkan hadis dari al-Qaffal al-Marwazi dan cucunya yang bernama Imam ar-Ruyani sempat mendalami ilmu agama kepadanya.[123]

124.   Abu Abdullah al-Mas’udi, (W. 420 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Mas’ud al-Marwazi. Ia termasuk salah satu sahabat al-Qaffal al-Marwazi yang menjadi imam besar, bersikap zuhud, wara’, dan dinilai sebagai hafizh madzhab Syafi’i. Ia juga tergolong dalam deretan nama-nama ulama yang mensyarahi kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. Ia hanya sedikit mendengar ilmu dari gurunya –Abu Bakar al-Qaffal-. As-Subki berkata, “Seandainya al-Mas’udi bukan termasuk sahabatnya al-Qaffal sebagaimana ditegaskan dalam pernyataan al-Fawrani, maka ia adalah muridnya al-Qaffal yang paling senior. Kenyataannya, ia adalah sahabatnya ash-Shaydalani dan tingkatan keilmuwannya di atas al-Fawrani.”[124]

125.   Ash-Shaydalani. Nama lenkap: Abu Bakar, Muhamad bin Dawud bin Muhamad ad-Dawudi ash-Shaydalani. Ia adalah muridnya al-Qaffal al-Marwazi yang juga menulis syarah kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani. [125]

126.   Al-Qaffal al-Marwazi (W. 417 H.). Ia adalah syeikh tarekat di Khurasan. Nama lengkap: Abdullah bin Ahmad bin Abdullah. Imam besar ini adalah orang yang bersikap zuhud, luas ilmunya, dan sukses kehidupan dunianya. Ia dikenal dengan panggilan al-Qaffal ash-Shaghir al-Marwazi, yang sangat dibanggakan oleh penduduk Khurasan. Ia termasuk ulama terbaik Khurasan, yang sering melontarkan ide-ide cemerlang untuk memajukan madzhab Syafi’i. Pemikirannya mengalahkan semua ulama di masanya, karena pemikirannya sangat baru dan orisinal.

Ia mendalami ilmu agama di bawah asuhan Abu Zaid al-Marwazi. Ia juga mendengar hadis darinya, dari al-Khalil bin Ahmad al-Qadhi, dan masih banyak lagi yang lainnya. As-Subki berkata, “Dalam ktab Amâlî, Abu Bakar bin Muhamad bin Imam Abu al-Mudzaffar as-Sam’ani menegaskan bahwa al-Qaffal adalah satu-satunya ulama ahli fiqih dan penghafal hadis yang bersikap zuhud dan wara’ di zamannya. Ia banyak berjasa dalam kemajuan fiqih Syafi’i dan ilmu lainnya. Tak ada seorang pun ulama yang sezaman dengannya yang melebihi jasanya.”

Ia mempunyai metode tersendiri yang sangat menarik dalam memajukan madzhab Syafi’i. Metode tersebut awalnya ia kutip dari para ahli fiqih di negaranya. Lalu ia mengembangkannya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia rela meninggalkan kampung halamannya untuk memperdalam ilmu agama. Hasilnya, bukan hanya dirinya saja yang menjadi ulama besar. Tetapi, ia mampu mencetak murid-muridnya menjadi ulama besar yang tersebar ke berbagai penjuru negara. Pemikiran dan pendapatnya banyak dikaji oleh para ulama sesudahnya. Jumlah muridnya sangat banyak, di antaranya: Abu ‘Ali as-Sanaji, al-Qadhi al-Husain, dan Imam al-Juwaini. Padahal ia sendiri baru mendalami ilmu fiqih pada umur 30 tahun. Namun, ia berhasil mensyarahi kitab Furû karya Ibnu Haddad dan karyanya ini banyak diacungi jempol.

As-Subki berkata, “Al-Qaffal ini sering sekali disebut-sebut dalam kitab-kitab fiqih dan penyebutannya seringkali tanpa embel-embel. Padahal ada dua ulama yang bernama al-Qaffal, yaitu: al-Qaffal al-Kabir dan al-Qaffal ash-Shaghir. Al-Qaffal al-Kabir apabila disebutkan namanya, biasanya dibarengi dengan embel-embel lain, yaitu asy-Syasyi. Tetapi, di kalangan para pengikut tarekat Irak, nama al-Qaffal al-Kabir disebutkan tanpa embel-embel. Nama al-Qaffal asy-Syasyi sering disebut dalam kajian selain fiqih, yaitu Ushul Fiqih, tafsir, dan sebagainya.” An-Nawawi berkata, “Nama al-Qaffal ash-Shaghir al-Marwazi tidak pernah disebutkan dalam kitab al-Muhadzdzab. Namanya sering disebut dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Khurasan generasi belakangan, seperti dalam kitab al-Ibânah dan Ta’lîq al-Qâdhî Husain. Sebagaimana namanya populer dalam kitabnya al-Mas’udi, kitab-kitabnya Abu Muhamad al-Juwaini, kitab-kitabnya ash-Shaydalani, dan kitab-kitabnya Abu ‘Ali as-Sanaji. Alasannya sederhan, mereka semua adalah murid-muridnya al-Qaffal ash-Shaghir.” Al-Qaffal ash-Shaghir meninggal pada tahun 417 H. di usia 90 tahun dan dikebumikan di Sijistan.[126]

127.   Al-Fawrani, (W. 461 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Muhamad Ahmad bin Fawran al-Fawrani. Imam besar yang nama kunyahnya Abu al-Qasim al-Marwzi berasal dari Marwa. Ia tergolong dalam deretan nama-nama besar di kalangan madzhab Syafi’i  yang bergelar hafizh. Ia adalah murid seniornya Abu Bakar al-Qaffal dan Abu Bakar al-Mas’udi. Ia mendengar hadis dari ‘Ali bin Abdullah ath-Thaysafuni dan gurunya, Abu Bakar al-Qaffal. Muridnya yang terkenal, antara lain: al-Baghawi –penulis kitab at-Tahdzîb-, Abdul Mun’im bin Abu Qasim al-Qusyairi, dan lainnya. Ia dijuluki sebagai Syeikh oleh penduduk Marwa. Karya-karyanya: al-Ibânah dan al-‘Umdah. Ia juga termasuk ahli fiqih yang banyak melontarkan ide-ide baru.[127]

128.   Al-Qadhi al-Husain, (W. 462 H.), nama lengkap: al-Husain bin Muhamad bin Ahmad, Abu ‘Ali al-Qadhi. Imam agung ini termasuk ulama yang terpandang di kalangan pengikut madzhab Syafi’i dan pendapatnya banyak didengar orang di seluruh dunia. Dialah penulis kitab at-Ta’lîqat yang sangat terkenal itu. Ia meriwayatkan hadis dari Abu Nu’aim Abdul Malik al-Isfarayini dan Abdurrazaq al-Muni’i meriwayatkan hadis darinya. Muridnya yang terkenal adalah al-Baghawi yang dijuluki sebagai Penghidup Sunah (muhyi as-sunnah). Ia mendalami fiqih kepada al-Qaffal al-Marwazi. Ia dan Syeikh Abu ‘Ali dianggap sebagai muridnya al-Qaffal yang paling sukses, pengaruh pemikiran fiqihnya sangat luas, paling tenar namanya, dan paling banyak melakukan tahqiq. Banyak ulama besar yang berhasil dikadernya, antara lain: Imam al-Haramain, al-Mutawalli, al-Farra’, dan al-Baghawi.[128]

129.   Al-Azjahi, (W. 486 H.), nama lengkap: Abdul Karim bin Yunus bin Muhamad bin Manshur, Abu al-Fadhl al-Azjahi. Ia berguru kepada al-Qadhi Husain.[129]

130.   Abdurrahman as-Sarkhasi, (432- 494  H.), nama lengkap: Abu al-Faraj az-Zaz, Abdurrahman bin Ahmad bin Muhamad as-Sarkhasi an-Nuwaizi. Ia adalah imam agung penduduk Marwa, yang lahir pada tahun 432 H. Ia berguru kepada al-Qadhi Husain. Ibnu as-Sam’ani berkomentar tentangnya, “Ia adalah salah satu imam kaum muslimin yang menjadi panutan di seluruh penjuru dunia, berkat kepiawaiannya menghafal madzhab Syafi’i, pengetahuannya yang mendalam, dan bukunya yang berjudul al-Imlâ’, yang terus dibaca orang selama matahari masih terbit. Banyak para imam dan ahli fiqih yang sengaja datang untuk  memperdalam ilmu kepadanya, berdiskusi, dan merujuk pendapatnya.” Ia meninggal pada bulan Rabi’ul Akhir 494 H.[130]

131.   Abu al-Qasim ats-Tsabiti, (W. 495 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Muhamad bin Tsabit, Abu al-Qasim ats-Tsabiti al-Kharaqi. Ia memperdalam ilmu fiqih kepada al-Fawrani di Marwa. Kemudian melanjutkan pengajiannya kepada al-Qadhi al-Husain, dan Abu Sahl Ahmad bin ‘Ali al-Abyurdi. Kemudian ia berteman dengan Abu Ishaq asy-Syairazi.[131]

132.   Al-Qadhi al-Ka’bi, (W. 481 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin Sa’id al-Qadhi, Abu Abdullah al-Ka’bi. Ia memperdalam ilmu agama kepada ayahnya di Khawarizm dan kepada Syeikh Abu al-Qasim al-Fawrani di Marwa.[132]

133.   Abu Muhamad al-Juwaini, (W. 438 H.). Ia adalah ayahnya Imam al-Haramain. Nama lengkap: Abdullah bin Yusuf bin Abdullah bin Yusuf bin Muhamad bin Haywiyah. Ia adalah syeikh agung yang sangat alim di zamannya, bersikap zuhud, dan sangat memperhatikan ibadah. Karena itu, pantas dijuluki sebagai pilar Islam. Ia mempunyai ilmu yang sangat mendalam di bidang fiqih, Ushul Fiqih, nahwu, tafsir, dan sastera. Gurunya: al-Qaffal, ‘Adnan bin Muhamad adh-Dhabbi, dan lainnya. Muridnya: Imam al-Haramain, Sahl bin Ibrahim al-Mas’adi, dan lainnya.

Awalnya ia mempelajari fiqih kepada Ibnu Ya’qub al-Abyurdi di desa Juwain. Kemudian ia datang ke Naisabur dan melakukan ijtihad di bidang fiqih di bawah bimbingan Abu Thayyib ash-Sha’luki. Lalu ia pindah ke Marwa untuk berguru kepada al-Qaffal al-Marwazi. Ia terus menemani gurunya itu, sampai akhirnya berhasil menemukan metode penyebaran madzhab secara efektif. Kemudian ia kembali ke Naisabur pada tahun 407 H. untuk menjalankan tugas sebagai pengajar dan mufti. Ia juga sering menghadiri forum-forum diskusi, serta mengajarkan ilmunya kepada kalangan elit dan orang-orang alit.

Karya-karyanya yang terkenal: al-Furûq, as-Silsilah, at-Tabshirah, at-Tadzkirah, Mukhtashar al-Mukhtashar, Syarh ar-Risâlah, dan Mukhtashar fî Mawqib al-Imâm wa al-Ma’mûm. Ia juga mempunyai kitab tafsir yang sangat tebal. Setiap ayat dijelaskan dengan 10 macam penafsiran. Karyanya yang tak kalah tenarnya adalah Kitâb al-Muhîth. Ia meninggal pada tahun 438 H. di Naisabur. Abu Shalih bercerita, “Setelah saya selesai memandikannya, maka saya siap-siap mengkafaninya. Ketika saya hendak menyelimutkan kain kafan tersebut, tiba-tiba saya melihat tangan kanannya memancarkan sinar terang seperti cahaya bulan purnama. Saya pun menjadi heran, lalu saya bergumam, mungkin ini adalah berkah dari tugasnya memberikan fatwa.”[133]

134.   Isma’il ar-Ruyani. Nama lengkap: Isma’il bin Ahmad bin Muhamad ar-Ruyani. Ia adalah ayahnya Imam ar-Ruyani, penulis kitab al-Bahr.[134]

135.   Al-Imam ar-Ruyani. Nama lengkap: al-Imam Abu al-Mahasin, Abdul Wahid bin Isma’il bin Ahmad. Ia adalah penulis kitab al-Bahr. Ia lahir pada bulan Dzul Hijjah 415 H. Ia mendalami ilmu agama kepada ayah dan kakeknya di kota kelahirannya sendiri. Di Naisabur, ia berguru kepada Nashir al-Marwazi dan lainnya. Ia mendengar hadis dari Abdullah bin Ja’far al-Khabazi dan lainnya. Salah satu murid yang meriwayatkan hadis darinya adalah Zahir asy-Syahami.

Karyanya yang paling terkenal adalah kitab al-Bahr. Imam as-Subki berkata, “Kitab ini memang tulisan yang paling luas tentang madzhab Syafi’i. Hanya saja, isinya tidak jauh dari kitab al-Hâwî karya al-Mawardi, yang ditambahkan dengan beberapa pembahasan yang ditulis oleh Ruyani dari ayah dan kakeknya, serta ada tambahan masalah-masalah lainnya. Dengan demikian, pembahasan dalam masalah furû’ dikaji secara panjang lebar dalam kitab tersebut, itulah kelebihannya. Sedangkan kelebihan kitab al-Hâwî adalah sistematikanya yang lebih baik dan penjelasannya lebih lugas. Karya-karyanya yang lain adalah al-Furûq, al-Hilyah, at-Tajribah, al-Mubtadi, Haqîqah al-Qaulain, Manâshish asy-Syâfi’î, al-Kâfî, dan lainnya. Ia meninggal sebagai syahid, karena dibunuh oleh orang atheis yang iri kepadanya. Pembunuhan itu dilakukan di siang bolong pada hari Jum’at, 11 Muharram 502 H.[135]

136.   Al-Baihaqi, (384-458 H.), nama lengkap: Abu Bakar Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali an-Naisaburi al-Khasrujradi –nisbat kepada sebuah desa di Baihaq-. Ia lahir bulan Sya’ban 384 H. Ia mendengar hadis dari Ibnu al-Hasan Muhamad bin al-Husain al-‘Alawi, yang merupakan guru tertuanya, Abu Thahir az-Ziyadi, Abu Abdullah al-Hakim, dan lainnya yang jumlahnya lebih dari seratus guru. Murid-muridnya sangat banyak, di antaranya: putranya sendiri yang bernama Isma’il, cucunya yang bernama Abu al-Hasan Abdullah bin Muhamad.

Imam besar ini termasuk ulama yang sangat produktif. Karya-karyanya lebih dari 1.000 jilid dan belum ada seorang pun yang menandinginya. Karyanya yang paling spektakuler adalah kitab as-Sunan al-Kabîr. Sebuah kitab hadis dan ilmu hadis yang sangat lengkap, disusun secara sistematis dan diklasifikasikan dengan jelas.  Demikian pula kitabnya yang berjudul Ma’rifah as-Sunan wa al-Âtsar, yang disebut-sebut sebagai buku yang wajib dimiliki oleh pengikut fiqih Syafi’i. Berikut karya-karyanya yang lain: al-Mabsûth fî Nushûsh asy-Syâfi’î, Kitâb al-Asmâ’ wa ash-Shifât, Kitâb al-I’tiqâd, Kitâb Dalâ’il an-Nubuwwah, Kitâb Syu’ab al-Imân, Kitâb Manâqib asy-Syâfi’i, Kitâb ad-Da’wât al-Kabîr, Kitâb al-Khilâfiyât, Kitâb Manâqib al-Imâm Ahmad, Kitâb Ahkâm al-Qur’ân li asy-Syâfi’î, Kitâb ad-Da’wât ash-Shaghîr, Kitâb al-Ba’ts wa an-Nusyûr, Kitâb az-Zuhd al-Kabîr, Kitâb al-Âdâb, Kitâb al-Asrâr, Kitâb as-Sunan ash-Shaghîr, Kitâb al-Arba’în, dan Kitâb Fadhâ’il al-Awqât.

As-Subki berkata, “Semua kitab yang disebutkan di atas adalah kitab-kitab penting yang disusun secara sistematis, mudah dipahami, dan diakui oleh para ahli ilmu. Bahkan, ditegaskan bahwa belum ada ulama terdahulu yang menuliskan kitab-kitab tersebut secara sistematis.” Imam al-Haramain berkata, “Setiap pengikut Syafi’i pasti berhutang budi kepada Syafi’i, kecuali al-Baihaqi. Ia malah membuat Syafi’i seakan-akan terbebani hutang budi, karena karya-karya tulisnya benar-benar sangat berjasa dalam memajukan dan menyebarkan madzhab Syafi’i.” Imam al-Baihaqi wafat di Naisabur pada tanggal 10 Jumadil Awwal 458 H. dan dikebumikan di Khasrujrad.[136]

137.   Abu Nashr al-Qusyairi, (W. 514 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Abdul Karim al-Qusyairi. Ia mendalami ilmu agama kepada ayahnya. Setelah ayahnya wafat, ia melanjutkan pengajiannya kepada Imam al-Haramain. Syeikh Abu Ishaq dan ulama lainnya sering menghadiri majelisnya di Baghdad.[137]

138.   Al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, (348-450 H.), nama lengkap: Thahir bin Abdullah bin Thahir bin ‘Umar. Imam besar madzhab Syafi’i yang sangat terpandang ini dikenal memiliki ilmu yang sangat luas, berkedudukan tinggi, berpengaruh besar, dihormati oleh para ulama lainnya, dan dianggap sebagai orang yang paling alim di zamannya. Nama besarnya membahana ke berbagai pelosok dunia dan kebaikan sikapnya menuai banyak pujian. Gelar Qadhi (hakim) yang disandangnya merupakan simbol kematangan ilmunya dan kedudukannya yang terhormat. Tidak heran, apabila para penduduk Irak banyak yang berguru kepadanya dan mempercayakan penyebaran madzhab Syafi’i kepadanya.

Ia lahir di Amal Thibristan tahun 348 H. Di Jurjan, ia belajar hadis kepada Abu Ahmad al-Ghathrifi, di Naisabur kepada Abu al-Hasan, dan di Baghdad kepada Abu al-Hasan ad-Daruquthni. Murid-muridnya yang terkenal antara lain: al-Khathib al-Baghdadi, Abu Ishaq asy-Syairazi –murid kesayangannya-, Abu Muhamad bin al-Abnus, dan lainnya. Kemudian ia mendalami bidang fiqih kepada Ibnu ‘Ali az-Zujaji di kota Amal. Bidang al-Qur’an ia pelajari dari Abu Sa’id al-Isma’ili dan al-Qadhi Abu al-Qasim bin Kajj di Amal. Kemudian ia merantau ke Naisabur dan bertemu dengan Abu al-Hasan al-Masarkhasi. Ia mengikutinya dan menemaninya selama 4 tahun. Kemudian ia pindah ke Baghdad dan menambatkan hatinya kepada Abu Muhamad al-Baqi al-Khawarizmi.

Berkat keilmuannya yang mendalam, ia banyak meninggalkan karya tulis di bidang perdebatan madzhab dan Ushul Fiqih. Al-Qadhi Abu ath-Thayyib pernah menjabat sebagai hakim agung di kota al-Karkh setelah wafatnya al-Qadhi ash-Shaymari. Apabila Syeikh Abu Ishaq dan ulama Irak lainnya menyebutkan “al-Qadhi” yang berkenaan dalam pembahasan fiqih, maka yang dimaksud adalah al-Qadhi Abu ath-Thayyib. Sebagaimana halnya Imam al-Haramain dan ulama Khurasan lainnya, apabila mereka menyebutkan kata “al-Qadhi,” maka sebutan itu ditujukan kepada al-Qadhi Husain di bidang fiqih, dan kepada al-Qadhi Abu Bakar bin ath-Thayyib al-Baqillani di bidang teologi aliran Asy’ariyyah. Sedangkan golongan Mu’tazilah menyandangkan gelar “al-Qadhi” itu kepada Abdul Jabbar al-Istirabadzi. Abu ath-Thayyib meninggal pada hari Sabtu dan dikebumikan pada hari Ahad, 20 Rabi’ul Akhir 450 H.[138]

139.   Ibnu ‘Arabiyah, (414-Rajab 502 H.), nama lengkap: ‘Ali bin al-Husain bin Abdullah Abu al-Qasim ar-Ray’i. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib, dan al-Mawardi, Abu al-Qasim bin ‘Umar al-Karkhi.[139]

140.   Abu Bakar al-Khathib, (W. Hari Senin, 7 Dzul Hijjah 463 H.), nama lengkap: Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit al-Khathib. Ia termasuk imam besar yang telah menulis banyak kitab. Ia berguru kepada al-Muhamili, al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, dan Abu Nashr bin ash-Shabbagh.[140]

141.   Al-Mushisi, (W 487 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim ad-Dimasyqi, ‘Ali bin Muhamad bin ‘Ali bin Ahmad. Ia termasuk ahli fiqih kenamaan dan kawannya al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[141]

142.   Ibnu ash-Shabbagh, (W. 477 H.), nama lengkap: Abdus Sayyid bin Muhamad bin Abdul Wahid. Ia dikenal sebagai pucuk pimpinannya para imam madzhab Syafi’i. Ia belajar hadis kepada Abu ‘Ali Syadzan, Abu al-Husain bin Fadhl dan lainnya. Ilmu fiqih dipelajari dari ayahnya sendiri dan al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari. Karya-karyanya: asy-Syâmil, al-Kâmil, ‘Iddah al-‘Âlam, ath-Tharîq as-Salîm, Kifâyah as-Sâ’il, dan al-Fatâwa. Ia meninggal pada hari Selasa dan dikebumikan hari Rabu, 01 Jumadil Awwal 477 H. Awalnya, ia dikebumikan di rumahnya sendiri, lalu dipindah ke pekuburan Bab Harb. Dua tahun sebelum wafat, matanya sudah tidak berfungsi lagi.[142]

143.   Abu Bakar asy-Syami, (W. 488 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Muzhaffir bin Bakran bin Abdush Shamad al-Hamawi al-Qadhi. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[143]

144.   Abu Abdullah al-Baqqal, (W. 477 H.), nama lengkap: al-Husain bin Ahmad bin ‘Ali. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[144]

145.   Abu Turab al-Muraghi, (W. 492 H.), nama lengkap: Abdul Baqi bin Yusuf bin ‘Ali. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari di Baghdad.[145]

146.   Abu Hafsh az-Zanjani, (W. 459 H.), nama lengkap: ‘Umar bin ‘Ali bin Ahmad. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari.[146]

147.   Abu ‘Ali al-Baihaqi, (427-507 H.), nama lengkap: Isma’il bin Ahmad bin al-Husain. Ia adalah gurunya al-Qadhi al-Khasrujradi dan putranya Imam Abu Bakar al-Baihaqi. Ia mendengar hadis dan belajar fiqih kepada ayahnya.[147]

148.   Ad-Daw’i, (W. 459 H.), nama lengkap: Abu Muhamad al-Farisi, Abdurrahman bin Muhamad bin al-Hasan. Ia termasuk kawan dekatnya Abu Muhamad al-Juwaini. [148]

149.   Ash-Shaffar, (W. 468 H.), nama lengkap: Abu Bakar, Muhamad bin al-Qasim bin Habib. Ia berguru kepada Abu Muhamad al-Juwaini.[149]

150.   An-Nashahi, (W. 455 H.), nama lengkap: Abu Sa’id, Muhamad bin Muhamad bin Ja’far an-Naisaburi. Ia berguru kepada Abu Muhamad al-Juwaini.[150]

151.   Al-Asynahi, (W. 515 H.), nama lengkap: Abu al-‘Abbas, Ahmad bin Musa bin Jausin. Ia berguru kepada Abu Sa’d al-Mutawalli.[151]

152.   Al-Mutawalli, (W. 478 H.), nama lengkap: Abu Sa’d, Abdurrahman bin Ma’mun. Ia dikenal sebagai ulama yang sangat pandai di bidang Ushul, Fiqih, dan Khilâf. Gurunya: al-Qadhi al-Husain, al-Fawrani, dan Abu Sahl al-Abyurdi. Karyanya yang cukup terkenal adalah kitab at-Tatimmah, yang menjelaskan tentang gurunya yang bernama al-Fawrani, dan dibahas juga tentang masalah hudûd. Sayangnya, ajal keburu menjemutnya sebelum ia selesai merampungkan kitab ini. Ia juga menulis kitab-kitab tentang masalah pembagian waris, perbedaan pendapat fiqih, dan konflik teologi dengan menggunakan metode al-Asy’ari.[152]

153.   Al-Fara’ al-Baghawi, (W. Syawwal 516 H), nama lengkap: al-Husain bin Mas’ud al-Fara’. Ulama yang mendapat julukan Penghidup Sunah ini telah banyak meninggalkan karya tulis, antara lain” at-Tahdzîb, Syarh as-Sunnah, al-Mashâbîh, Ma’âlim at-Tanzîl. Ia juga mempunyai kitab fatwa yang sangat terkenal, bukan kitab fatwa hasil kompilasi fatwa-fatwanya al-Qadhi al-Husain. Ia disebut-sebut sebagai imam besar yang bersikap wara’ dan zuhud, ahli fiqih, pakar hadis, ahli tafsir, serta imam yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Ia mendalami fiqih kepada al-Qadhi al-Husain dan merupakan murid kesayangannya. Ia meninggal pada bulan Syawwal 516 H. di Marwa. Ia dimakamkan di dekat gurunya, al-Qadhi al-Husain. Menurut as-Subki yang mengutip pernyataan adz-Dzahabi, al-Baghawi belum sempat menunaikan ibadah haji dan umurnya 80 tahun lebih.[153]

154.   Abu ‘Ali al-Baghawi, (W. 529 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Mas’ud al-Fara’. Ia adalah saudaranya al-Husain al-Fara’ dan berguru kepadanya.[154]

155.   Hafadah al-‘Athari, (W. 571 H.), nama lengkap: Abu Manshur, Muhamad bin As’ad al-‘Athari, yang dijuluki sebagai tiangnya agama. Ia berguru kepada al-Fara’.[155]

156.   Abu al-Ma’ali Imam al-Haramain (08 Muharram 419 – 25 Rabi’ul Akhir 478 H.). Nama lengkap: Dhiyaudin Abdul Malik bin al-Juwaini an-Naisaburi. Dia adalah putra Syeikh Abu Muhamad al-Juwaini, yang dijuluki Syeikhul Islam, karena ilmunya yang mendalam, pandangannya yang kritis, kefashihannya bersastera Arab, dan kelihaiannya beretorika dalam ilmu kalam yang tidak ada duanya. Ia menimba ilmu agama kepada ayahnya sendiri dan ayahnya sangat bangga dengan kemajuan putranya di bidang ilmu. Berkat kegigihannya belajar, akhirnya ia mampu berijtihad dalam koridor madzhab Syafi’i, menelaah perdebatan-perdebatan fiqih, mengikuti polemik teologis, dan sebagainya. Namanya meroket dan sangat terkenal di saat usianya masih terbilang muda. Ayahnya meninggal saat usianya genap 20 tahun. Maka, ia pun didaulat untuk menggantikan posisi ayahnya sebagai pengajar. Lalu ia pun mulai melanjutkan pengajian ayahnya beberapa lamanya. Merasa ilmunya masih kurang luas, maka ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah al-Baihaqi. Ia dibimbing oleh Abu al-Qasim al-Iskafi al-Isfarayini. Kemudian ia tinggal dan mengajar di Mekah selama 4 tahun. Ia juga sering memberikan fatwa, giat beribadah, dan menyebarkan ilmu.

Gurunya di bidang hadis: Ayahnya sendiri, Abu Hassan Muhamad bin Ahmad al-Muzakki, dan lainnya. Muridnya: Zahir asy-Syahami, Abu Abdullah al-Farawi, dan lainnya. Karya-karyanya: an-Nihâyah (kitab tentang fiqih madzhab Syafi’i yang tidak ada duanya), asy-Syâmil (kitab tentang ushuludin), al-Burhân (kitab tentang Ushul Fiqih), al-Irsyâd (kitab tentang ushuludin), at-Talkhîsh Mukhtashar at-Taqrîb wa al-Irsyâd (kitab tentang Ushul Fiqih), al-Waraqât (kitab tentang Ushul Fiqih), Gahyyâts al-Umam wa Mughîts al-Khalq (kitab tentang tarjîh madzhab Syafi’i), ar-Risâlah an-Nizhâmiyah, dan Mukhtashar an-Nihâyah. Ia juga mempunyai kitab sya’ir yang sangat terkenal, judulnya Dîwân Khathîb. Salah satu sikapnya yang sangat terpuji ialah dia tidak pernah meremehkan orang lain. Bahkan, ia mau mendengarkan saran-saran dari orang-orang yang level keilmuannya di bawahnya. Ia meninggal pada hari Rabu, 25 Rabi’ul Akhir 478 H.[156]

157.   Abu Ishaq asy-Syairazi, (393- 11 Jumadil Akhir 476 H.), nama lengkap: Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf al-Fairuzabadzi asy-Syairazi, yang dijuluki dengan nama Jamaludin. Karya-karyanya: at-Tabhîh, al-Muhadzdzab, an-Nukat, al-Lamh, at-Tabshirah, al-Mulakhkhash, al-Mu’awwanah, Thabaqât al-Fuqahâ’, Nashh Ahl al-‘Ilm, dan sebagainya. Ia diberi gelar Syeikhul Islam, yang mempunyai karangan buku yang sangat banyak. Banyak para pelajar yang berasal dari Timur dan Barat yang sengaja menuntut ilmu kepadanya. Fatwa-fatwanya pun tersebar ke berbagai daerah, daratan maupun lautan. Para ulama menyatakan, ia mengikuti metode Ibnu Suraij dalam berfatwa dan menulis buku. Ia dikenal sebagai imam yang pandai berdebat, bersikap wara’ dan takwa. Ia juga termasuk imam yang rajin berdakwah, sehingga dijuluki juru dakwah. Abu Bakar bin al-Hadhanah berkata, saya mendengar sebagian sahabat Abu Ishaq di Baghdad berkata, “Setiap kali selesai menulis satu fasal dalam kitab al-Muhadzdzab, ia menunaikan salat dua raka’at.”

Imam besar ini lahir di Fairuzabad, kota di Persia, pada tahun 393 H. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota tersebut. Kemudian ia pindah ke Syairaz dan berguru kepada Abu Abdullah al-Baidhawi dan Ibnu Ramin. Keduanya adalah kawan dekatnya Abu al-Qasim ad-Dariki, yang merupakan muridnya Abu Ishaq al-Marwazi –temannya Ibnu Suraij-. Kemudian ia tinggal di Bashran dan belajar fiqih kepada al-Jazari. Ia masuk ke Baghdad pada tahun 415 H. dan memperdalam fiqihnya kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari. Ia terus menemani gurunya itu, sampai namanya sendiri melambung. Sehingga ia dianggap sebagai kawan dan tangan kanannya al-Qadhi. Ia belajar ushuluddin kepada Abu Hatim al-Qazwini. Ia juga belajar fiqih kepada az-Zujaji dan ahli fiqih lainnya. Ia terus dan terus mengasah ilmunya, hingga akhirnya menjadi orang terpandai di zamannya. Namanya sangat familiar di kalangan orang-orang Persia dan di seluruh penjuru negara. Gurunya di bidang hadis di Baghdad: Abu Bakar al-Barqani, Abu ‘Ali bin Syadzan, Abu ath-Thayyib ath-Thabari, dan lainnya. Muridnya: al-Khathib, Abu Abdullah al-Humaidi, Abu Bakar bin al-Hadhinah, dan lainnya. Ditegaskan bahwa ia hafal semua masalah-masalah fiqih, seperti ia hafal surat al-Fatihah. Ia meninggal pada hari Rabu pagi, 11 Jumadil Akhir 476 H. Jenazahnya dimandikan oleh Abu al-Wafa’ bin ‘Aqil al-Hanbali dan dimakamkan pada hari Kamis di pemakaman Babul Harb.[157]

158.   Abu Nashr al-Bandaniji, (423-475 H.), nama lengkap: Muhamad bin Hibbatullah bin Muhamad bin al-Husain. Ia adalah imam besar yang nama kunyahnya adlaah Abu Sahl, putranya Jamulul Islam Abu Muhamad bin al-Qadhi Abu ‘Umar al-Busthami yang tinggal di Mekah. Ia dikenal sebagai ahli fiqih kota suci Mekah dan termasuk kawan seniornya Abu Ishaq asy-Syairazi. As-Subki mengutip pernyataan Abdul Ghafir tentang dirinya, bahwa silsilah imamah dan kepakaran hadis jatuh ke tangannya setelah ayahnya wafat. Maka, ia pun mengemban tugas sebagai ahli hadis dengan baik.[158]

159.   Abu Manshur asy-Syafi’i, (W. 493 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abdul Wahhab bin Musa asy-Syairazi al-Wa’izh. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[159]

160.   Abu ‘Ali al-Faruqi, (433-528 H.), nama lengkap: al-Hasan bin Ibrahim bin ‘Ali bin Barhun al-Qadhi. Ia berguru kepada Ibnu Abdullah bin Muhamad bin Bayan al-Kazuni, Abu Ishaq asy-Syairazi, dan Abu Nashr bin ash-Shabbagh. Ia mempunyai kitab terkenal yang berjudul al-Fawâ’id. Salah satu muridnya yang terkenal adalah al-Qadhi Ibnu Abu ‘Ashrun.[160]

161.   Abu Muhamad as-Sunni, (W. 465 H.), nama lengkap: Abdullah bin ‘Ali bin Nahwah. Ia berguru kepada al-Qadhi Abu ath-Thayyib dan sering menghadiri forum pengajiannya Abu Ishaq asy-Syairazi.[161]

162.   Abu al-‘Abbas al-Karkhi, (W. 527 H.), nama lengkap: Ahmad bin Salamah bin Abdullah bin Makhlad. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi dan Abu Nashr ash-Shabbagh.[162]

163.   Abu al-Ghana’im al-Faruqi, (W. 492 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Faraj bin Manshur bin Ibrahim as-Sulami. Ia termasuk muridnya Abu Ishaq asy-Syairazi yang menjadi imam besar.[163]

164.   Al-Husain bin ‘Ali ath-Thabari (W. 495 H.). Ia adalah imam besar yang pernah menimba ilmu kepada Nashir al-‘Imari di Khurasan, al-Qadhi Abu ath-Thayyib di Baghdad, dan Abu Ishaq asy-Syairazi.[164]

165.   Abu Sa’d ad-Daskar, (W. 486 H.), nama lengkap: Abdul Wahid bin Ahmad bin al-Husain ad-Daskari. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[165]

166.   Abu Bakar az-Zanjani, (457-541 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ahmad. Ia termasuk muridnya al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari, yang banyak belajar kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[166]

167.   Abu al-Husain ar-Ramli, (W. 18 Ramadhan 504 H.), nama lengkap: Idris bin Hamzah bin ‘Ali asy-Syami ar-Ramli. Ibnu as-Sam’ani berkata, “Ia termasuk ulama ahli fiqih yang terpandang, fasih berbahasa Arab, alim, dan menjadi panutan umat.” Ia memulai pendidikannya di Baitul Maqdis dan belajar kepada pakar fiqih yang bernama Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya kepada Abu Ishaq asy-Syairazi di Baghdad. Kemudian ia mengunjungi Khurasan dan tinggal di Samarqand. Ia diserahi tugas untuk mengajar para pengikut madzhab Syafi’i di Masjid al-Manarah. Ia meninggal pada hari Jum’at, 18 Ramadhan 504 H.[167]

168.   Abu Hakim al-Khabari, (W. 474 H.), nama lengkap: Abdullah bin Ibrahim bin Abdullah al-Khabari. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi.[168]

169.   Abu al-‘Abbas al-Jurjani, (W. 482 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ahmad al-Qadhi. Ia termasuk imam fiqih yang pandai sastera dan pernah menjabat hakim di kota Bashrah. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi. Karya-karyanya; al-Mu’âyât, asy-Syâfi’î, at-Tahrîr, dan lainnya.[169]

170.   Ibnu Abi ash-Shaqr, (W. 498 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, Muhamad bin ‘Ali al-Wasithi. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi dan bersikap sangat fanatik terhadap madzhab Syafi’i.[170]

171.   Yusuf al-Hamadani, (W. 535 H.), nama lengkap: Abu Ya’qub, Yusuf bin Ayyub al-Hamadani. Ia termasuk ulama yang sangat disegani dan dikenal memiliki karomah. Ia berguru kepada Abu Ishaq asy-Syairazi, hingga menguasai Ushul Fiqih, madzhab, dan perdebatan fiqhiyyah. Asy-Syairazi sangat mengandalkannya meski usianya masih muda, dan banyak murid-murid senior lainnya.[171]

172.   Abu al-Fatah al-Arghiyani, (W. 499 H.), nama lengkap: Sahl bin Ahmad bin ‘Ali. Ia adalah penulis kitab al-Fatâwa. Ia belajar fiqih kepada al-Qadhi al-Husain; belajar ushuluddin kepada Ibnu ‘Ali as-Sanaji; serta belajar ushuluddin dan ilmu kalam kepada Imam al-Haramain.[172]

173.   Al-Kiya al-Harasi, (W. 504 H.), nama lengkap: Imaduddin Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhamad ath-Thabari. Ia termasuk pemukanya para ulama dan pimpinannya para imam. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain dan termasuk muridnya yang terkenal setelah al-Ghazali. Ia juga berhasil mencetak ulama besar. Karya-karyanya: Syifâ’ al-Mursyidîn dan Naqd Mufradât al-Imâm Ahmad. Ia juga mempunyai karya di bidang Ushul Fiqih dan lainnya. [173]

174.   Abu Nashr as-Sarraj, (444-05 Jumadil Akhir 518 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Ahmad. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain Abu al-Ma’ali al-Juwaini dan mendengar hadis dari ayahnya. Ia lahir pada tahun 444 H. dan wafat pada hari Sabtu, 05 Jumadil Akhir 518 H.[174]

175.   Abu Sa’d an-Naisaburi, (451/451 – 532 H.), nama lengkap: Isma’il bin Ahmad, Ibnu Abi Shalih al-Muadzdzin. Ayahnya yang bernama Abu Shalih adalah ahli hadis terkenal yang juga muadzin. Sedangkan ia sendiri menjadi ahli fiqih dan imam besar. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain dan Abu al-Mudhafiq as-Sam’ani. [175]

176.   Abu Nashr al-Arghiyafi, (W. 528 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdullah bin Ahmad. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Haramain.[176]

177.   Abu al-Qasim al-Hakimi, (W. 529 H.), nama lengkap: Isma’il bin Abdul Malik bin ‘Ali, yang berasal dari Thus dan termasuk muridnya Imam al-Haramain. Ibnu as-Sam’ani berkata, “Ia adalah imam besar di bidang fiqih, yang sangat pemberani, bersikap wara’ dan baik pekertinya. Ia pernah merantau ke Irak dan Syam bersama al-Ghazali. Ia adalah teman baiknya al-Ghazali semasa belajar dan umurnya lebih tua. Ia meninggal pada tahun 529 H. dan dikebumikan di samping pusara al-Ghazali.[177]

178.   Abu al-Muzhaffir al-Khawafi, (W. 500 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin al-Muzhaffir. Ia termasuk ulama yang cukup terpandang di zamannya. Ia belajar fiqih kepada Ibrahim adh-Dharir, lalu kepada Imam al-Haramain. ‘Umar al-Qaththan dan Muhamad bin Yahya termasuk muridnya.[178]

179.   Abu Qasim ar-Razi. Nama lengkap; ‘Umar bin al-Husain bin al-Hasan Dhiyauddin ar-Razi. Ia adalah imam besar yang menjadi khatibnya penduduk Rayy dan ayahnya Imam Fakhruddin ar-Razi. Ia termasuk salah satu muridnya Abu Muhamad al-Baghawi dan merupakan Syeikhul Islam yang sangat mumpuni di bidang ilmu kalam. Salah satu karyanya adalah kitab Ghâyah al-Marâm (kitab tentang ilmu kalam, dalam 2 jilid).[179]

180.   Malkadad al-‘Amriki, (W. 535 H.), nama lengkap: Abu Bakar bin ‘Ali bin Abu ‘Amr. Ia masuk dalam jajaran imam madzhab Syafi’i. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Baghawi dan ayahnya Imam ar-Rafi’i belajar fiqih kepadanya. Imam ar-Rafi’i berkata, “Ia mengajar ayahku seperti seorang ayah mengajar anak kandungnya sendiri. Ia termasuk imam yang pakar di bidang fiqih, hadis, dan perdebatan fiqhiyyah.[180]

181.   Imam ar-Razi, (543/544 H. – 606 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Umar bin al-Hasan bin al-Husain at-Taymi al-Bakri bin Khathib ar-Rayy. Ia termasuk imam ahli kalam yang sangat berani, berpengaruh besar, serta berjasa dalam penyebaran ilmu dan pembentukan masyarakat. Ia lahir pada tahun 543 H. atau 544 H. Ia sibuk melayani ayahnya, Dhiyauddin. Ia juga termasuk salah satu muridnya Abu Muhamad al-Baghawi. Ia belajar ilmu hikmah kepada al-Mujdi al-Jabali di Muraghah dan belajar fiqih kepada as-Sam’ani. Dikatakan bahwa ia hafal kitab asy-Syâmil fî ‘Ilm al-Kalâm karya Imam al-Haramain. Karya-karyanya: at-Tafsîr, al-Mathâlib al-‘Âliyah wa Nihâyah al-‘Uqûl, al-Arba’în, al-Mahshal, al-Bayâ, al-Burhân fî ar-Radd ‘ala Ahl az-Zaigh wa ath-Thughyân, al-Mabâhits al-‘Imâdiyah, al-Mahshûl, ‘Uyûn al-Masâ’il, Irsyâd an-Nazhâ’ir, ‘Uyûn al-Hikmah wa Ajwibah al-Masâ’il at-Tijâriyah, al-Ma’âlim, Tahshîl al-Haqq, az-Zubdah, Syarh al-Isyârât, Syarh al-Asmâ’ al-Husnâ, Syarh Mufashshal az-Zamakhsyarî fî an-Nahw, Wajîz al-Ghazâlî fî al-Fiqh, dan Saqth az-Zand li Abî al-‘Alâ’. Ia mempunyai metode tersendiri dalam menyikapi perbedaan masalah fiqih dan mempunyai karya yang sangat menarik tentang biografi Imam Syafi’i. Kitabnya yang berjudul as-Sirr al-Maktûm fî Mukhâthabah an-Nujûm, bukanlah tulisannya sendiri. Tetapi, tulisan orang lain yang dinisbatkan kepadanya.

As-Subki berkata, “Perlu diketahui, adz-Dzahabi memasukkan Imam ar-Razi dalam jajaran nama-nama periwayat hadis yang dianggap lemah, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Mîzân. Untuk itu, saya memberikan catatan khusus agar menjadi jelas penilaian tentang kepribadian ar-Razi ini. Sebenarnya, adz-Dzahabi tidak bermaksud menyebutnya sebagai rawi yang lemah, karena tidak ada bukti-bukti yang melemahkannya. Sebaliknya, ar-Razi adalah rawi yang terpercaya, bahkan disebut-sebut sebagai imamnya para ahli hadis. Dengan demikian, disebutkannya ar-Razi dalam jajaran nama-nama rawi yang lemah, adalah tindakan yang terlalu berlebihan dan fanatik.” Dalam kitab al-Mîzân disebutkan bahwa ar-Razi mempunyai kitab tentang perbintangan yang berjudul ‘Asrâr an-Nujûm (Rahasia bintang-bintang).” Kitab itu dinilai sebagai kitab yang mengajarkan ilmu sihir. Saya tegaskan, kitab tersebut bukan tulisan ar-Razi. Tetapi, karya orang lain yang dinisbatkan kepadanya. Ia meninggal di Harrah pada hari Senin, bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri Tahun 606 H.[181]

182.   Imam al-Ghazali, (450-505 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Muhamad bin Ahmad ath-Thusi, Abu Hamid. Ia adalah imam besar yang bergelar Hujjatul Islâm, yang lahir di Thus tahun 450 H. Pada waktu kecil, ia belajar fiqih di kampung halamannya kepada Ahmad bin Muhamad ar-Radzakani. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Jurjan dan belajar kepada Abu Nashr al-Isma’ili. Lalu al-Ghazali datang ke Naisabur dan menimba ilmu kepada Imam al-Haramain, hingga ia betul-betul menguasai fiqih madzhab Syafi’i, perbedaan fiqih, perdebatan fiqih, Ushul Fiqih, dan manthiq.  Kemudian ia menyelami ilmu hikmah dan filsafat, sampai benar-benar menguasai kedua ilmu tersebut. Al-Ghazali adalah ulama yang banyak menguasai berbagai disiplin ilmu dan mampu menuliskannya dalam bentuk kitab.

Karyanya seputar madzhab Syafi’i, antara lain: al-Wasîth, al-Basîth, dan al-Wajîz. Karyanya tentang berbagai ilmu, antara lain: Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, Kitâb al-Arba’în, dan Kitâb al-Asmâ’ al-Husnâ’; seputar Ushul Fiqih: al-Mustashfâ, al-Manhûl, al-Muntahall fî al-Jadl; seputar perbedaan pendapat: Bidâyah al-Hidâyah, al-Ma’khadz, Tahshîn al-Ma’khadz, al-Munqidz min adh-Dhalâl, al-Bâb al-Muntahall fî al-Jadl, Syifâ’ al-Ghalîl fî Bayân Masâ’il at-Ta’lîl, al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, Mi’yâr an-Nazhr, Muhikk an-Nazhr, Bayân al-Qaulain li asy-Syâfi’î, Misykât al-Anwâr, al-Mustazhhirî fî ar-Radd ‘ala al-Bâthiniyah, Tahâfut al-Falâsifah, Maqâshid al-Falâsifah, Iljâm al-‘Awwâm fî ‘Ilm al-Kalâm, al-Ghâyah al-Qushwâ, Jawâhir al-Qur’ân, Bayân Fadhâ’ih al-Imâmiyah, Ghâyah an-Nûr fî Ibthâl ad-Dûr, Kasyf ‘Ulûm al-Âkhirah, ar-Risâlah al-Qudsiyyah, al-Fatâwâ, Mîzân al-‘Amal, Madzâhib al-Bâhiniyyah, Haqîqah ar-Rûh, Kitâb Asrâr Mu’âmalât ad-Dîn, ‘Aqîdah al-Mishbâh, Akhlâq al-Anwâr wa al-Mi’râj, Hujjah al-Haqq, Tanbîh al-Ghâfilîn, al-Maknûn fî al-Ushûl, Risâlah al-Aqthâb, Muslim as-Salâthîn, al-Qânûn al-Kullî, al-Qurbah ila Allah, Mu’tâd al-‘Ilm, Mufashshal al-Khilâf fî Ushûl al-Qiyâs, Asrâr Ittibâ’ as-Sunnah, Talbîs Iblîs, ash-Shâmât al-Ajwibah, Kitâb ‘Ajâ’ib Shun’illah, dan Risâlah ar-Radd ‘ala Man Thaghâ. Ia meninggal di Thus pada hari Senin, 14 Jumadil Akhir 505 H.[182]

183.   Abu al-Hasan as-Sulami, (W. 533 H.), nama lengkap: ‘Ali bin al-Muslim bin Muhamad bin ‘Ali as-Sulami. Nama julukannya adalah Jamalul Islam. Mula-mula ia belajar fiqih kepada al-Qadhi Abu al-Muzhaffar Abdul Jalil bin Abdul Jabbar al-Marwazi. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya kepada pakar fiqih kondang, Nashr al-Maqdisi, dan terakhir ia belajar kepada al-Ghazali. Sementara ulama yang pernah menjadi muridnya adalah Abu Qasim bin ‘Asakir. [183]

184.   Abu Thahir al-Jurjani, (W. 513 H.), nama lengkap: Ibrahim bin al-Muthahhir al-Jurjani. Ia sering menghadiri majelisnya Imam al-Haramain. Lalu ia berteman dengan al-Ghazali.[184]

185.   Abu Manshur ar-Radzaz, (462-539 H.), nama lengkap: Sa’id bin Muhamad bin ‘Umar. Ia termasuk imam besar kota Baghdad. Gurunya di bidang fiqih: al-Ghazali, al-Mutawalli, al-Haya al-Kurasi, dan Abu Bakar asy-Syasyi. Adapun yang pernah menjadi muridnya adalah ayahnya Imam ar-Rafi’i.[185]

186.   Ibnu Khamis, (W. 552 H.), nama lengkap: al-Husain bin Nashr bin Muhamad bin al-Husain, Abu Abdullah. Sang reformis agama ini, nama julukannya adalah Tajul Islam. Ia belajar fiqih kepada al-Ghazali. Karya-karyanya: Manâqib al-Abrâr, Akhbâr al-Manâmât, Manâsik al-Hajj, Manhaj at-Tauhîd, Manhaj al-Murîd, dan Tahrîm al-Ghîbah.[186]

187.   Ibnu Miqlash, (W. 533 H.), nama lengkap: Abu al-Hasan, ‘Ali bin al-Muthahhir bin Makki bin Miqlash ad-Dainawuri. Ia belajar fiqih kepada Imam al-Ghazali.[187]

188.   Abu Thalib ar-Razi, (W. 522 H.), nama lengkap: Abdul Karim bin ‘Ali bin Abi Thalib. Gurunya: al-Ghazali, al-Kiya al-Harasi, dan Muhamad bin Tsabit al-Khajnadi. Ia meninggal pada tahun 522 H. di Persia.[188]

189.   Abdul Wahid al-Baqiraji, (W. 553 H.), nama lengkap: Abdul Wahid bin al-Hasan bin Muhamad. Gurunya: al-Kiya al-Harasi di Baghdad, Ibnu Hamid al-Ghazali, dan Ibnu Nashr al-Qusyairi di Naisabur. Gurunya di bidang hadis adalah Abu Abdullah bin Thalhah dan lainnya. Ibnu al-Baqiraji bercerita, “Pada suatu malam, saya merenungkan nasibku yang tidak memiliki harta banyak. Tiba-tiba, saya melihat orang kaya. Orang itu menatapku dan berkata, ‘Dengarkanlah bait-bait syair ini, wahai syeikh!’:

‘Saya bersumpah di Baitullah dan Rukun Yamani # saat orang-orang sedang thawaf

Kebahagian itu tidak terletak pada banyaknya harta # tetapi, rasa cukup dan raga sehat.’”[189]

190.   Ibnu al-Bazzar, (W. 560 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, ‘Umar bin Muhamad. Ia pertama kali belajar fiqih kepada Abu al-Ghana’im Muhamad bin al-Faraj as-Sulami. Kemudian dilanjutkan kepada al-Kiya al-Harasi, al-Ghazali, dan Abu Bakar asy-Syasyi. Karyanya yang cukup spektakuler adalah kitabnya yang berjudul al-Asâma wa al-‘Ilal min Kitâb al-Muhadzdzab. Ia disebut-sebut sebagai hafizh terakhir dalam madzhab Syafi’i.[190]

191.   Ibnu Burhan, (W. 518 H.), nama lengkap: Abu al-Fatah, Ahmad bin ‘Ali bin Muhamad. Ia termasuk ulama ahli fiqih dan ahli ushul, yang ilmunya mendalam. Dulunya ia mengikuti madzhab Hanbali, lalu pindah ke madzhab Syafi’i. Ia belajar fiqih kepada Abu Bakar asy-Syasyi dan al-Kiya al-Harasi. Salah satu karyanya yang terkenal adalah al-Wajîz dan al-Awsath.[191]

192.   Abu Abdullah al-Jazari, (W. 540 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Ali bin Mahran al-Khauli al-Jazari. Ia belajar fiqih kepada al-Harasi.[192]

193.   Abu al-Barakat al-Mushili, (W. 529 H.), nama lengkap: al-Hasan bin ‘Ali bin al-Hasan bin ‘Ali bin al-Hasan bin ‘Ammar. Ia adalah gurunya Ibnu ash-Shalah. Di Baghdad, ia belajar fiqih kepada al-Kiya al-Harasi, Fakhrul Islam asy-Syasi, dan lainnya.[193]

194.   Abu al-‘Abbas al-Arbali, (W. 567 H.), nama lengkap: al-Khidhir bin Nashr bin ‘Aqil. Ia termasuk ahli fiqih yang sangat menguasai madzhab Syafi’i, ilmu waris, dan perdebatan-perdebatan agama. Ia belajar fiqih kepada al-Kiya al-Harasi dan Abu Bakar asy-Syasyi –ulama pertama yang mengajar di Arbal-. Ia mempunyai banyak kitab di bidang tafsir, fiqih, dan sebagainya.[194]

195.   Abu Bakar asy-Syasyi al-Mustazhhiri, (429-507 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin al-Husan bin ‘Umar. Imam besar kebanggaan Islam yang menguasai simpul-simpul madzhab Syafi’i dan penghafal hadis ini, lahir di Mayafariqin pada bulan Muharram 429 H. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Bayan al-Kazaruni dan al-Qadhi Abu Manshur ath-Thusi. Kemudian ia datang ke Baghdad dan menemani Abu Ishaq asy-Syairazi. Akhirnya, ia pun menjadi asistennya yang sering disuruh untuk mengajar. Ia juga belajar fiqih kepada Abu Nashr bin ash-Shabbagh, hingga menjadi imam besar yang sering dirujuk orang. Karya-karyanya yang terkenal: al-Mustazhharî (kitab ini ditulis untuk dipersembahkan kepada al-Mustazhhari Billah), atau nama lainnya Hilyah al-‘Ulamâ’, al-Mu’tamad (syarah kitab al-Mustazhharî), at-Targhîb (kitab tentang madzhab Syafi’i), asy-Syâfî (syarah kitab al-Mukhtashar karya al-Muzani), al-‘Umdah al-Mukhtashar, dan asy-Syâfî fî Syarh asy-Syâmil. Kitab-kitab tersebut ditulis pada tahun 494 H. Ia meninggal pada hari Sabtu, 15 Syawwal 507 H. dan dikebumikan di Pemakaman Bab Barz bersama gurunya, Abu Ishaq. Ia meninggalkan dua putra yang juga menjadi imam dalam madzhab Syafi’i, yaitu: Ahmad dan Abdullah.[195]

196.   Abu al-Hasan al-‘Abdari, (W. 493 H.), nama lengkap: ‘Ali bin Sa’id bin Abdurrahman. Ia mempunyai kitab yang berjudul Mukhtashar al-Kifâyah fî Khilâfiyyât al-‘Ulamâ’. Ia adalah mufti yang alim dan menguasai perbedaan pendapat para ulama. Ia belajar fiqih kepada Abu Ishaq asy-Syairazi, lalu kepada Abu Bakar asy-Syasyi. Gurunya di bidang hadis: al-Qadhi Abu ath-Thayyib ath-Thabari dan al-Qadhi Abu al-Hasan al-Mawardi. Muridnya di bidang hadis: Abu al-Qasim as-Samarqand, Abu al-Fadhl Muhamad bin Muhamad ‘Aththaf, dan lainnya. Ia meninggal di Baghdad pada hari Sabut, 16 Jumadil Akhir 493 H.[196]

197.   Abu al-Muzhaffir asy-Syasyi, (W. 529 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ahmad bin al-Husain bin Fakhrul Islam Abu Bakar asy-Syasyi. Ia belajar fiqih kepada ayahnya sendiri.[197]

198.   Abu Muhamad asy-Syasyi, (W. 528 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad bin Ahmad bin al-Husainbin Fakhrul Islam Abu Bakar asy-Syasyi. Ia belajar fiqih kepada ayah kandungnya.[198]

199.   Abu Nashr asy-Syasyi, (W. 576 H.), nama lengkap: Ahmad bin Abdullah bin Muhamad bin Ahmad asy-Syasyi. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Hasan bin al-Khall.[199]

200.   Abu al-Qasim al-Furati, (W. 573 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, Ya’isy bin Shadaqah al-Furati adh-Dharir. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Hasan bin al-Khall.[200]

201.   Abu Ishaq al-‘Iraqi, (W. 596 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Manshur al-Mishri. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Hasan bin al-Khall.[201]

202.   Abu Thalib al-Karkhi, (W. 505 H.), nama lengkap: al-Mubarak bin al-Mubarak al-Karkhi. Ia adalah temannya Abu al-Hasan bin al-Khall, sekaligus menjadi muridnya.[202]

203.   Ibnu al-Khall, (475-552 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Mubarak bin Muhamad al-Baghdadi. Ia termasuk salah satu imam madzhab Syafi’i. Ia belajar fiqih kepada Abu Bakar asy-Syasyi. Salah satu karyanya yang terkenal adalah at-Taujîh fî Syarh at-Tanbîh.[203]

204.   Ibnu Abi ‘Ashrun, (400-585 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad, Abu Sa’d at-Tamimi al-Mushili. Ia adalah hakim agung di Damaskus, yang terkenal sebagai orang alim dan pimpinannya para imam. Ia lahir bulan Rabi’ul Awwal 400 H. Gurunya di bidang hadis: al-Qadhi al-Murtadha bin asy-Syahrazuri, Abu Abdullah bin al-Husain bin Khamis al-Mushili, dan al-Qadhi Abu ‘Ali al-Faruqi. Gurunya di bidang ushuluddin adalah Abu al-Fatah Burhan, dan gurunya di bidang hadis adalah Abu al-Qasim bin al-Hashin. Sedangkan muridnya di bidang fiqih yang menjadi ulama besar adalah Syeikhul Islam Fakhruddin bin ‘Asakir. Karya-karyanya: Shafwah al-Madzhab ‘ala Nihâyah al-Mathlab (7 jilid), Kitâb al-Intishâr (4 jilid), Kitâb al-Mursyid (2 jilid), adz-Dzarî’ah fî Ma’rifah asy-Syarî’ah, Kitâb at-Tasysîr, Kitâb Ma’khadz an-Nazhr, Mukhtashar (tentang ilmu waris), Kitâb al-Irsyâd (kitab tentang pembelaan terhadap madzhab Syafi’i dan belum selesai ditulis), Fawâ’id al-Muhadzdzab wa at-Tanbîh (membahas masalah hukum), dan Kitâb al-Muwâfiq wa al-Mukhâlif. As-Subki mengutip perkataan adz-Dzahabi tentang Ibnu Abi ‘Ashrun, bahwasanya menurut syeikh al-Muwaffiq, ia adalah imam di kalangan madzhab Syafi’i di zamannya.[204]

205.   Abu al-Qasim ash-Shalah, (W. 618 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin ‘Utsman, ayahnya Ibn ash-Shalah. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Abu ‘Ashrun. Ia meninggal di Halb pada tahun 618 H.[205]

206.   Abu al-Jumaizi, (559-649 H.), nama lengkap: ‘Ali bin Hibbatullah Balsalamah. Ia lahir pada hari raya Idul Adha tahun 559 H. di Mesir. Ia telah hafal al-Qur’an di usia 10 tahun. Banyak sekali penduduk Damaskus, Mekah, dan Mesir yang menimba ilmu darinya, di antaranya: az-Zakiyan, al-Mundziri, al-Barzali, Ibnu an-Najjar, ad-Dimyathi, Ibnu Daqiq al-‘Aid, dan al-Qadhi Taqiyuddin Sulaiman. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Abu ‘Ashrun di Syam, Abu Ishaq al-‘Iraqi, dan Syihabuddin ath-Thusi di Mesir. Menurut adz-Dzahabi, ia adalah murid terakhirnya Abu Sa’d. Ia meninggal pada hari Kamis, 24 Dzul Hijjah 649 H.[206]

207.   Ibnu al-Muwaffiq, (W. 587 H.), nama lengkap: Muhamad bin al-Muwaffiq al-Khabusyani. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya. Karyanya yang paling spektakuler adalah Tahqîq al-Muhîth (16 jilid). Nama kunyahnya adalah Abu al-Barakat dan julukannya Najmuddin.[207]

208.   Syihabuddin ath-Thusi, (W. 596 H.), nama lengkap: Muhamad bin Mahmud bin Muhamad ath-Thusi. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya dan menjadi syeikh yang sangat alim.[208]

209.   Fakhruddin an-Nauqani, (W. 516 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abu ‘Ali bin Abu Nashr bin Abu Sa’d. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Abu Yahya.[209]

210.   Abu Manshur al-Barawi, (W. 567 H.), nama lengkap: Muhamad bin Muhamad bin Ahmad bin Isma’il. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya. Karyanya yang paling terkenal adalah al-Muqtarah fÎ al-Musthalah.[210]

211.   Abu Hamid al-Qazwini, (W. 585 H.), nama lengkap: Abdullah bin Abu al-Futuh bin ‘Imran. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya dan Abu al-Mahasin.[211]

212.   Abu al-Hasan al-Muradi, (W. 544 H.), nama lengkap: ‘Ali bin Sulaiman al-Muradi al-Qurthubi. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya.[212]

213.   Abu ar-Ridha asy-Syahrazuri, (W. 596 H.), nama lengkap: Sa’id bin Abdullah bin al-Qasim bin al-Muzhaffar. Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya.[213]

214.   Muhamad bin Yahya bin Manshur, Abu Sa’id an-Naisaburi. Imam besar ini sering dipanggil dengan julukan Muhyiddin dan merupakan ustadznya para ulama generasi belakangan di Naisabur. Ia belajar fiqih kepada al-Ghazali dan Abu al-Muzhaffar al-Khawafi. Karyanya yang terkenal adalah al-Muhîth (syarah kitab al-Wasîth) dan al-Intishâf fî Masâ’il al-Khilâf. Ia juga mempunyai catatan mengenai perbedaan pandangan antara madzhab Syafi’i dan madzhab Hanafi. Banyak ulama besar yang namanya mencuat berkat bimbingannya. Ia wafat dibunuh pada tahun 548 H.[214]

215.   Abu Nashr al-Fath bin Ahmad bin Abdul Baqi (W. 545 H.). Ia belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya.[215]

216.   Ayah Imam ar-Rafi’i, (W. Ramadhan 580 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abdul Karim bin al-Fadhl bin al-Hasan bin al-Husain al-Qazwini. Ia adalah imam besar yang sangat terpandang. Ia meriwayatkan hadis dari Abu al-Barakat al-Farawi, Abdul Khaliq asy-Syahami, dan lainnya. Ia belajar fiqih kepada Malkadad di Qazwin dan Abu Manshur ar-Razi di Baghdad. Kemudian ia pindah ke Naisabur dan belajar fiqih kepada Muhamad bin Yahya. Biografinya disebutkan oleh anaknya –Imam ar-Rafi’i- dalam kitab al-Amâlî dan ia termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadis darinya.[216]

217.   Abu al-Qasim bin ‘Asakir, (Rajab 499 H. – 11 Rajab 571 H.), nama lengkap: ‘Ali bin al-Hasan bin Hibbatullah. Ia adalah penghafal hadis yang mendapat julukan Syeikhul Imam, Nashir as-Sunnah, dan orang yang paling terpercaya dalam agama. Ia juga disebut-sebut sebagai ahli hadis di Syam dan pemuka para ahli fiqih madzhab Syafi’i. Karyanya yang paling terkenal adalah Târîkh asy-Syâm (8 jilid). Gurunya di bidang hadis sangat banyak, 1.300 ustadz dan 89 ustadzah. Ia merantau ke Irak, Mekah, Madinah, dan negara-negara non-Arab. Ia belajar fiqih di usianya yang masih belia kepada Abu al-Hasan as-Sulami di Damaskus dan melanjutkan pendidikannya di Madrasah Nizhamiyah di Baghdad. Ia wafat pada tanggal 11 Rajab 571 di Damaskus dan dikebumikan di Pemakaman Bab ash-Shaghir.[217]

218.   Ar-Rafi’i, (W. Dzul Qa’dah 623 H.), nama lengkap: Abdul Karim bin Muhamad bin Abdul Karim al-Qazwini. Ia adalah imam besar, penulis kitab asy-Syarh al-Kabîr. Ia terkenal sebagai ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu syari’at, seperti tafsir dan hadis. Kemampuannya di bidang fiqih sudah tidak diragukan lagi. Dikatakan bahwa fiqih sempat mengalami mati suri, lalu dihidupkan kembali oleh Imam ar-Rafi’i. Ia juga merupakan ulama yang bersikap zuhud, wara’, dan takwa. Guru-gurunya di bidang hadis cukup banyak, di antaranya: ayahnya sendiri, Abu Hamid Abdullah bin Abu al-Futuh bin ‘Umar al-‘Imrani, dan lainnya. Sedangkan murid hadisnya yang menjadi ulama terkenal adalah al-Hafizh Abdul ‘Azhim al-Mundziri.

Ibnu ash-Shalah berkomentar, “Saya yakin, saya belum pernah melihat orang non-Arab yang sepandai ar-Rafi’i.” Komentar ini dibenarkan oleh as-Subki.  An-Nawawi berkata, “Ar-Rafi’i adalah orang salih yang ilmunya sangat luas dan mempunyai banyak karomah.”[218]

219.   Abu al-Ma’ali Mas’ud ath-Tharitsiri bin Muhamad bin Mas’ud an-Naisabur (505-570/578 H.). Ia adalah imam madzhab Syafi’i yang menguasai fiqih, ushuluddin, tafsir, dan pandai memberikan wejangan. Ia lahir pada bulan Rajab 505 H. Ia belajar fiqih kepada ayahnya dan Muhamad bin Yahya. Karyanya yang terkenal adalah kitab al-Hâdî. Ia meninggal di Damaskus pada bulan Ramadhan 570 H. Menurut Ibnu Khilikkan, ia wafat pada tahun 570 H.[219]

220.   Yunus al-Arbali, (W. 576 H.), nama lengkap: Yunus bin Muhamad al-Arbali. Ia belajar fiqih kepada Ibnu Khamis dan Ibnu ar-Razaz.[220]

221.   Ibnu al-Waraq, (W. 616 H.), nama lengkap: Abu al-Qasim, Abdurrahman bin Muhamad, yang dijuluki Dhiyauddin. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Syihabuddin ath-Thusi. Al-Mundziri berkomentar, “Saya mendengar hadis darinya dan belajar fiqih kepadanya.”[221]

222.   Abu al-‘Abbas al-Qalyubi, (W. 689/691 H.), nama lengkap: Ahmad bin ‘Isa bin Ridhwan al-Qalyubi. Nama julukannya adalah Kamaluddin dan nama kunyahnya adalah Abu al-‘Abbas. Ia adalah putra Syeikh Dhiyauddin. Ia termasuk ahli fiqih yang sangat saleh dan meninggalkan banyak karya ilmiah. Ia mendalami ilmu agama kepada ayahnya dan gurunya yang lain. Ia meriwayatkan hadis dari Ibnu al-Jumaizi. Karya-karyanya, antara lain: Nahj al-Wushûl (membahas masalah ushuluddin), Mukhtashar (membahas masalah Ushul Fiqih), al-Muqaddimah al-Ahmadiyyah (membahas bahasa Arab), dan lainnya. Menurut adz-Dzahabi, ia meninggal pada tahun 689 H. Pendapat ini ditentang oleh as-Subki. Ia menegaskan, para pakar sejarah menyatakan bahwa al-Qalyubi meninggal pada tahun 691 H. Namun masih diperdebatkan mengenai bulannya; Jumadil Awwal atau Rajab.[222]

223.   Azh-Zhahir at-Tazmanati, (W. 682 H.), nama lengkap: Zhahiruddin Ja’far bin Yahya bin Ja’far al-Makhzuni at-Tazmanati –nisbat kepada Tazmat, yaitu kota di Sha’id-. Ia adalah syeikh madzhab Syafi’i di Mesir pada zamannya. Ia mendalami ilmu agama kepada Ibnu al-Jumaizi dan salah satu ulama yang menjadi muridnya adalah Ibnu ar-Rif’ah. Ia mempunyai kitab yang berjudul Syarh Musykil al-Wasîth.[223]

224.   Abu ‘Amr bin ash-Shalah, (W. 643 H.), nama lengkap: Taqiyuddin ‘Utsman bin Abdurrahman al-Kurdi. Ia adalah pakar di bidang fiqih dan hadis. Ayahnya adalah Syeikh di Damaskus. Ia belajar fiqih kepada ayahnya. Kemudian ia pindah ke Mushil dan mendalami agama kepada ‘Imaduddin Yunus selama beberapa saat. Kemudian ia merantau ke Baghdad dan mengelilingi kota ini. Kemudian ia belajar kepada ar-Rafi’i, sampai menjadi ulama besar. Ia wafat di waktu pagi, hari Rabu, 25 Rabi’ul Akhir 643 H.[224]

225.   Al-Kamal al-Arbali, (W. 665 H.), nama lengkap: Abu Abdullah, Ahmad bin Yahya. Ia adalah ahli fiqih di zamannya dan zahid di masanya. Kapasitas intelektualnya tidak diragukan lagi. Buktinya, Imam an-Nawawi saja menjadi muridnya.[225]

226.   Abu al-Ma’ali al-Maghribi, (W. 668 H.), nama lengkap: Ishaq bin Abdullah. Ia termasuk ahli fiqih dan ahli sastera Syam. Ilmu apa pun tampak mudah di hadapannya dan mudah menyampaikannya, seperti ia menyampaikan ilmu yang pernah ditulisnya. Ia termasuk salah satu guru an-Nawawi.[226]

227.   Ibrahim al-Muradi. Nama lengkap: Ibrahim bin ‘Isa al-Muradi al-Andalusi. Kemudian nisbatnya ganti menjadi ad-Dimasyqi. Ia juga termasuk salah satu gurunya Imam an-Nawawi.

An-Nawawi berkomentar, “Ia adalah Imam ahli fiqih, penghafal hadis, orang yang terpercaya, zahid, dan bersikap wara’. Saya belum pernah melihat orang sehebat dia. Ia adalah orang yang sangat memahami hadis dan ilmu-ilmu hadis, mampu meneliti lafazh-lafazh hadis, serta mempunyai perhatian yang serius di bidang bahasa, nahwu, fiqih, dan tasawuf. Ia juga termasuk ulama yang kuat hafalannya dan pandai mengajar. Bagiku, ia adalah tokoh panutan yang suka mencari kebenaran. Saya berteman dengannya kurang lebih 10 tahun dan ia belum pernah membuatku kesal. Karena sikapnya sangat toleran dan bersahaja. Rasa sayangnya kepada kaum muslim dan nasihat-nasihatnya kepada mereka, rasanya tidak ada bandingannya. Ia meninggal di Mesir pada awal tahun 668 H.”[227]

228.   Kamaluddin al-Arbali, (W. 670 H.), nama lengkap: Abu al-Fadhl, Salar bin al-Hasan bin ‘Umar al-Arbali. An-Nawawi berkata, “Ia adalah guru kami yang kepemimpinan dan kemuliaannya tidak dipertentangkan lagi. Ia benar-benar menguasai ilmu madzhab Syafi’i dari berbagai aspeknya.” ‘Izzuddin berkata, “Pada masa hidupnya, ia menjadi tumpuan fatwa bagi penduduk Syam.”[228]

229.   Zainuddin as-Subki, (W. 725 H.), nama lengkap: Zainuddin Abu Muhamad Abdul Kafi bin ‘Ali as-Subki. Ia adalah kakeknya Imam Tajuddin as-Subki. Ia belajar fiqih kepada azh-Zhahir at-Tazmanati.[229]

230.   Ibnu ar-Rif’ah, (W. 710 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin ‘Ali. Ia diberi gelar Syeikhul Imam, Syeikhul Islam, Najmuddin, dan Titisan Syafi’i di zamannya. Nama kunyahnya adalah Abu al-‘Abbas. Ia mendengar hadis dari Muhyiddin ad-Damiri. Gurunya di bidang fiqih adalah as-Sadid, azh-Zhahir at-Tazamnati, dan asy-Syarif al-‘Abbasi. As-Subki berkata, “Ia adalah orang nomor dua di Mesir, setelah Ibnu al-Haddad. Ia dijuluki ahli fiqih, karena kehebatannya di bidang fiqih. Bahkan, ia dianggap lebih alim ketimbang ar-Ruyani –penulis kitab al-Bahr-. Karya-karyanya yang terkenal adalah al-Mathlabb fî Syarh al-Wasîth, al-Kifâyah fî Syarh at-Tanbîh, dan Kitâb Mukhtashar fî Hadm al-Kanâ’is. Ia meninggal di Mesir tahun 710 H.[230]

231.   Al-Mundziri, (581 H. – 656 H.), nama lengkap: Abdul ‘Azhim bin Abdul Quwa bin Abdullah al-Mishri, Abu Muhamad. Ia disebut-sebut sebagai waliullah, ahli hadis, dan ahli fiqih. Ia lahir di Ghurrah pada bulan Sya’ban 581 H. Ia belajar fiqih kepada Imam Abu al-Qasim Abdurrahman Muhamad al-Qursyi bin al-Wariq. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: Syarh at-Tanbîh, Mukhtashar Sunan Abî Dâwud, Mukhtashar Shahîh Muslim, dan al-Mu’jam al-Kabîr. Ia meninggal pada tanggal 04 Dzul Qa’dah 656 H. Pada tahun ini terjadi musibah besar, yaitu Perang Tartar.[231]

232.   Kamaluddin Abu al-Fatah, (W. 639 H.), nama lengkap: Musa bin Yunus al-Arbali. Ia belajar kepada ayahnya dan ia adalah gurunya Ibnu Khilikkan.[232]

233.   Ibnu ‘Asakir, (555- 620 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Muhamad bin al-Hasan ad-Dimasyqi. Ia adalah syeikh madzhab Syafi’i di Syam dan ulama terakhir yang mampu memadukan ilmu dan amal. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Qathb ad-Din an-Naisaburi di Damaskus; belajar hadis kepada pamannya, Abu al-Qasim, ash-Sha’in Hibbatullah, dan lainnya. Ia juga mendalami fiqih kepada Syeikh Mas’ud ath-Tharitsisti. Murid-muridnya di bidang hadis, antara lain: al-Hafizh Zakiuddin al-Barzali, Zainuddin Khalid, Dhiyauddin al-Maqdisi, dan ‘Izzuddin bin Abdus Salam. Ia adalah imam yang saleh, qana’ah, suka ibadah, wara’, dan rajin dzikir. Ia ditugaskan sebagai pengajar di Madrasah ‘Adzrawiyah, Jarujiyah, dan Nuriyah. Ketiga madrasah ini berada di Damaskus. Ia juga mengajar di Madrasah Shalahiyyah di Quds. Karena itu, ia tinggal di Quds selama beberapa bulan dan di Damaskus beberapa bulan lamanya. Ia meninggal pada tanggal 01 Rajab 620 H.[233]

234.   Al-Qasim bin ‘Asakir Bahauddin, (W. 600 H.), nama lengkap: Abu Muhamad al-Qasim bin Abu al-Qasim bin ‘Asakir. Ia lahir 14 tahun setelah wafatnya Abu al-Qasim. Sedangkan ia sendiri –al-Qasim bin Abu al-Qasim- wafat pada tahun 600 H.[234]

235.   Abu al-‘Abbas al-Barmaki, (Syawwal 583 – 07 Sya’ban 687 H.), nama lengkap: Ahmad bin al-Khalil bin Sa’adah bin Ja’far bin ‘Isa. Ia merantau ke Khurasan untuk belajar ushuluddin dan ilmu kalam kepada Imam Fakhruddin ar-Razi. Sedangkan ilmu fiqih dipelajarinya dari ar-Rafi’i.[235]

236.   Zainuddin an-Nabalasi, (W. 663 H.), nama lengkap: Khalid bin Yunus an-Nabalasi, Abu al-Baqa’. Ia belajar hadis kepada al-Qasim bin ‘Asakir. Murid-muridnya yang terkenal, antara lain: Muhyiddin an-Nawawi, Tajuddin al-Fazari, al-Khathib Syarafuddin, dan Taqiyuddin bin Daqiq al-‘Aid.[236]

237.   ‘Izzuddin bin Abdus Salam as-Sulami, (577/578 – 660 H.). Ia belajar fiqih kepada Ibnu ‘Asakir; ushuluddin kepada al-Amadi, dan hadis kepada Abu Muhamad al-Qasim. Murid-muridnya: Syeikhul Islam Ibnu Daqiq al-‘Aid –dialah yang menjuluki gurunya sebagai “Raja para Ulama”-, ‘Alauddin Abu al-Hasan al-Baji, Syeikh Tajuddin bin al-Farkaj, al-Hafizh Abu Muhamad ad-Dimyathi, al-Hafizh Abu Bakar Muhamad bin Yusuf bin Masarri, al-‘Allamah Ahmad Abu al-‘Abbas ad-Dasynawi, al-‘Allamah Abu Muhamad Hibbatullah al-Qafathi, dan lainnya.

Syeikh Syihabuddin Abu Syamah mengomentari gurunya, “As-Sulami adalah orang yang sangat berani menyuarakan kebenaran dan sering mengkritik bid’ah-bid’ah yang disampaikan oleh para khathib, seperti salat raghâ’ib (salat untuk mendapatkan hal-hal yang diinginkan, bukan salat hajat, penerj.) dan salat nishf Sya’ban (salat pada tanggal 15 Sya’ban), dan sebagainya.”

Karya-karyanya: al-Qawâ’id al-Kubrâ dan Majâz al-Qur’ân (kedua kitab ini menjadi bukti nyata keunggulannya dalam ilmu-ilmu syari’at), Syajarah al-Ma’ârif, ad-Dalâ’il al-Muta’alliqah bi al-Malâ’ikah wa an-Nabiyyin ‘alaihim as-Salâm wa al-Khalq Ajma’în, at-Tafsîr, al-Ghâyah fÎ Ikhtishâr an-Nihâyah, Mukhtashar Shahîh Muslim, Mukhtashar Ri’âyah al-Muhâsibî fî Adillah al-Ahkâm, Bayân Ahwâl an-Nâs Yaum al-Qiyâmah, Bidâyah as-Sûl fî Tafdhîl ar-Rasûl, al-Farq baina al-Imân wa al-Islâm, Fawâ’id al-Balwâ wa al-Mihan, dan al-Jam’ baina al-Hâwî wa an-Nihâyah. Ia juga mempunya kitab kompilasi fatwa-fatwa Mushil dan Mesir. Ia meninggal pada tanggal 10 Jumadil Awwal 660 H. di Kairo dan dikebumikan di Pemakaman Qurafah.[237]

238.   Syarafuddin al-Barazi, (05 Ramadhan 645 H. – Dzul Qa’dah 738 H.), nama lengkap: Hibbatullah bin Abdurrahim al-Juhani. Ia adalah hakim agung di kota Hammah. Gurunya di bidang hadis: ayahnya, kakeknya, syeikh ‘Izzuddin al-Qarusyi, syeikh Jamaluddin bin Malik, syeikh ‘Izzuddin bin Abdus Salam, syeikh Najmuddin al-Badarani, dan lainnya. Ia adalah imam besar yang sangat paham terhadap seluk beluk madzhab Syafi’i. Karya-karyanya: Syarh al-Hâwî, at-Tamyîz, Tartîb Jâmi’ al-Ushûl, al-Mughnî, Mukhtashar at-Tanbîh, dan al-Wafâ’ fî Sarâ’ir al-Mushthafâ’.[238]

239.   Najmuddin bin Muli, (W. Jumadil Akhir 699 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhsin bin Muli. Ia belajar fiqih kepada ‘Izzuddin bin Abdus Salam.[239]

240.   Syarafuddin al-Maqdisi, (W. Ramadhan 694 H.), nama lengkap: Ahmad bin Ahmad bin Ni’mah bin Ahmad al-Khathib Abu al-‘Abbas al-Babali. Ia belajar fiqih kepada ‘Izzuddin bin Abdus Salam di Kairo dan mendengar hadis dari Zainuddin an-Nabalasi. Ia pernah menulis kitab Ushul Fiqih yang menggabungkan antara metode Fakhruddin dan al-Amadi.[240]

241.   Ibnu Daqiq al-‘Aid, (25 Sya’ban 625 H. – 11 Shafar 702 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Ali bin Rajab al-Qusyairi Taqiyuddin, Abu al-Fatah. Syeikhul Islam, imam besar, dan al-Hafizh ini adalah orang yang bersikap wara’ dan rajin ibadah. Ia juga mendapat gelar mujtahid muthlaq.

Abu al-Fatah bin Sayyidun Nas al-Ya’muri berkata, “Saya belum pernah melihat orang yang sehebat dia. Penilaian ini bukan karena saya banyak meriwayatkan hadis darinya. Tetapi, karena ia adalah imam yang benar-benar mengusai banyak ilmu dan cabang-cabangnya. Ia sangat jeli dalam meneliti ‘illat-‘illat hadis dan dianggap ahli hadis terbaik di zamannya.” Ia dilahirkan di tengah laut, saat orang tuanya sedang berlayar dari Qaus ke Mekkah. Tepatnya pada hari Sabtu, 25 Sya’ban 625 H. Ia belajar fiqih kepada ayahnya. Pada mulanya, ia adalah pengikut setianya madzhab Maliki. Setelah mendalami fiqih kepada Syeikh ‘Izzuddin bin Abdus Salam dan mendengar hadis dari Zainuddin an-Nabalasi, akhirnya ia menjadi pengikut madzhab Syafi’i.[241]

242.   Tajuddin al-Fazari, (W. 670 H.), nama lengkap: Abdurrahman bin Ibrahim bin Dhiya’ bin Sabba’ al-Fazari al-Mishri. Ahli fiqih Syam yang terkenal dengan panggilan al-Farkaj ini aslinya berasal dari Damaskus. Ia belajar fiqih kepada Syeikh ‘Izzuddin, Syeikh Taqiyuddin bin ash-Shalah. Di usianya yang masih muda, ia sudah menguasai madzhab fiqih dengan baik. Ketika Imam an-Nawawi datang ke kotanya, maka ia sering menghadiri pengajiannya. Padahal umurnya lebih tua 7 tahun dari an-Nawawi. Karya-karyanya: al-Aqlîd li dzawî at-Taqlîd, Syarh at-Tanbîh, dan Syarh al-Waraqât.[242]

243.   Ibnu Khilikkan, (W. 681 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin Ibrahim, Syamsuddin bin Syihab. Ia adalah hakim agung di Damaskus. Ia belajar fiqih kepada ayahnya dan sering menghadiri pengajiannya Imam Kamaluddin bin Yunus. Kemudian ia tinggal bersama Syeikh Bahauddin bin al-Muhasibi Yusuf bin Syaddad. Ia juga sibuk belajar kepada Ibnu ash-Shalah dan al-Mundziri. Karyanya yang terkenal adalah Wafayât al-A’yân. Kitab ini dianggap sebagai rujukan utama bagi orang yang ingin mengetahui biografi para ulama.[243]

244.   Ad-Dimyathi, (W. 613 H. – 705 H.), nama lengkap: Abdul Mu’min bin Khalaf bin al-Hasan Syarafuddin. Ia adalah pakar hadis di zamannya dan gurunya para ustadz di bidang hadis. Ia juga menguasai fiqih dengan sempurna. Ia belajar fiqih kepada Abu al-Makarim Abdullah dan Abu Abdullah al-Husain bin Manshur as-Sa’adi di kota Dimyath. Kemudian ia memperdalam ilmunya kepada al-Mundziri selama beberapa tahun. Ia mendengar hadis dari Syeikh ‘Izzuddin bin Abdus Salam. Murid-muridnya yang terkenal, antara lain: al-Mizzi, adz-Dzahabi, Abu al-Fatah bin Muhamad bin Sayyidun Nas, dan Taqiyuddin as-Subki.[244]

245.   ‘Imaduddin al-Balbisi, (W. 749 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ishaq bin Muhamad bin al-Murtadha. Ia sibuk belajar fiqih kepada Najmuddin bin ar-Rif’ah, Jamaluddin al-Wajizi, Syarafuddin al-Qalqasyandi, dan azh-Zhahir at-Tazamnati. Gurunya yang paling berpengaruh adalah Najmuddin. Ia terus belajar kepadanya sampai menjadi ulama besar bidang fiqih.[245]

246.   An-Nawawi, (Muharram 631 H. – 14 Rajab 676 H.), nama lengkap: Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi. Ia adalah gurunya para ulama generasi belakangan yang dikenal ilmunya mendalam dan sangat menguasai fiqih Syafi’i. Ia belajar fiqih kepada al-Kamal al-Arbali, Abu al-Ma’ali al-Maghribi, Ibrahim al-Muradi, dan Kamaluddin al-Arbali. Ia mendalami hadis kepada Tajuddin al-Fazari. Ulama besar ini banyak meninggalkan karya-karya ilmiah yang sangat berharga, antara lain: ar-Raudhah, al-Manâsik al-Kubrâ wa ash-Shughrâ, at-Tibyân, al-Minhâj, Tashhîh at-Tanbîh, at-Tahqîq, an-Nukat ‘ala al-Wasîth, Muhimmât al-Ahkâm, al-Ushûl adh-Dhawâbith, al-Masâ’il al-Mantsûrah, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, al-Adzkâr, Syarh Shahîh Muslim, dan al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab (kitab ini belum rampung sepenuhnya).

As-Subki berkata, “Tidak samar lagi bagi orang yang berpandangan luas, bahwa Allah Swt. telah memberikan pertolongan-Nya melalui an-Nawawi dan karya-karyanya yang sangat bermanfaat itu.” Ia lahir sekitar tanggal sepuluh bulan Muharram 631 H. di Nawa, yaitu sebuah desa di Syam. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota itu dan belajar al-Qur’an. Kemudian ia pindah ke Damaskus dan mempelajari kitab at-Tanbîh selama 4 bulan. Ia menghafal seperempat kitab al-Muhadzdzab dalam waktu 6 bulan. Selama 2 tahun, ia hanya istirahat beberapa jam saja, karena ia sangat sibuk mencari ilmu. Setiap malam, ia harus mempelajari 12 mata pelajaran kepada guru yang berbeda-beda dan disiplin ilmu yang bermacam-macam. Ia meninggal pada Rabu malam, 14 Rajab 676 H.[246]

247.   Syihabuddin ad-Dimasyqi, (W. 699 H.), nama lengkap: Ahmad bin Muhamad bin ‘Ayyasy bin Shafwan. Ia belajar fiqih kepada Imam an-Nawawi dan mengaji hadis kepada Ibnu ‘Abdud Da’im.[247]

248.   Al-Muzani, (W. 687 H.), nama lengkap: Abu Abdurrahman Jamaluddin. Ia adalah muridnya Imam an-Nawawi. Ia dikenal sebagai ahli fiqih yang sangat menguasai madzhab Syafi’i, menguasai ushuluddin, ahli sastera, pakar hadis dan penghafal hadis beserta sanad-sanadnya. Dialah yang mengedit dan mensistematiskan dua karya terkenalnya Imam an-Nawawi, yaitu: Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât dan Thabaqât al-Fuqahâ’.[248]

249.   Ibnu al-‘Aththar, (W. 691 H.), nama lengkap: Ibrahim bin Ishaq ad-Dimasyqi. Ia termasuk murid seniornya Imam an-Nawawi yang sering memberikan catatan terhadap karya-karyanya. Ia terkenal sebagai ulama yang pandai agama dan bersikap wara’.[249]

250.   Ad-Darani, (642 H. – Dzul Qa’dah 725 H.), nama lengkap: Shadruddin Sulaiman bin Hilal, Abu al-Fadhl. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Tajuddin bin al-Farkaj dan Imam an-Nawawi.[250]

251.   Aminuddin, (645 H. – Sya’ban 726 H.), nama lengkap: Salim bin Abu ad-Dar, Abu al-Ghana’im. Ia belajar fiqih kepada Imam an-Nawawi, dan mensistematiskan kitab Shahîh Ibn Hibbân.[251]

252.   Syamsuddin, (W. 729 H.), nama lengkap: Muhamad bin Abu Bakar an-Naqib. Ia adalah hakim agung yang berkawan baik dengan Imam an-Nawawi dan gurunya Tajuddin as-Subki.[252]

253.   Taqiyuddin as-Subki, (Shafar 683 H. – 03 Jumadil Akhir 756 H.), nama lengkap: ‘Ali bin Abdul Kafi. Hakim agung ini dijuluki sebagai Syeikhul Islam, imam besar, ahli fiqih, pakar hadis, penghafal hadis, ahli ushul, dan ahli sastera. As-Subki berkata, “Ayahku berangkat ke Syam untuk belajar hadis pada tahun 706 H. Ia pulang kembali ke Kairo pada tahun 707 H. Lalu berangkat haji pada tahun 710 H.” Ia disebut-sebut sebagai pucuk pimpinannya madzhab Syafi’i di Mesir. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: ad-Durr an-Nazhîm fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm (belum selesai ditulis), Takmilah al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab li an-Nawawî (ia melanjutkan penulisan an-Nawawi terhadap kitab ini yang belum selesai itu, tebalnya 5 jilid), at-Tahbîr al-Muhadzdzab fî Tahrîr al-Madzhab, dan al-Ibtihâj fî Syarh al-Minhâj. Ia juga mempunyai kitab tentang Ushul Fiqih yang belum selesai ditulis. Ia meninggal pada malam Senin, 03 Jumadil Akhir 756 H. di Kairo dan dikebumian di Pemakaman Bab an-Nashr. Semoga Allah merahmatinya.[253]

254.   Adz-Dzahabi, (673 H. – 03 Dzul Qa’dah 748 H.), nama lengkap: Muhamad bin Ahmad bin ‘Utsman, Abu Abdullah at-Turkmani. Ia adalah ahli hadis di zamannya. As-Subki berkata, “Di zamanku ada 4 ahli hadis yang sangat populer, yaitu: al-Mizzi, al-Barzali, adz-Dzahabi, dan ayahku –Taqiyuddin as-Subki-.” Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: At-Târîkh al-Kabîr, at-Târîkh al-Awsath, an-Nubalâ’, Mukhtashar Tahdzîb al-Kamâl, al-Kâsyif, al-Mîzân (ini adalah karyanya yang paling monumental), Mukhtashar Sunan al-Baihaqî, Thabaqât al-Huffâzh, Thabaqât al-Qurrâ’, dan lainnya. Ia meninggal setelah salat ‘isya, sebelum tengah malam. Tepatnya pada hari Senin, 03 Dzul Qa’dah 748 H.[254]

255.   Al-Mizzi, (10 Rabi’ul Akhir 654 H. – 12 Shafar 743 H.), nama lengkap: Yusuf bin az-Zaki Abdurrahman ad-Dimasyqi. Ia mendengar hadis dari Ahmad bin Abu al-Khair Salamah, al-Qasim bin Abu Bakar al-Arbali, ‘Umar bin Muhamad bin Abu ‘Ashrun, dan lainnya. Ia pergi ke Mesir untuk belajar hadis kepada al’Izz Abdul ‘Aziz al-Harani, Ibnu Khathib al-Mizzah, Ghazi al-Halawa, dan lainnya. Karyanya yang paling spektakuler adalah Tahdzîb al-Kamâl dan al-Athrâf, yang dianggap sebagai kitab biografi periwayat hadis yang terbaik.Ia wafat pada hari Sabtu, 12 Shafar 743 H. dan dikebumikan di Pemakaman para sufi.[255]

256.   Kamaluddin az-Zamlakani, (W. 728 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Ali bin Abdul Wahid ad-Dimasyqi. Ia adalah hakim agung dan imam besar madzhab Syafi’i di masanya. Ia belajar fiqih kepada Tajuddin al-Fazari. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: Risâlah fî ar-Radd ‘ala Ibn Taimiyyah fî Mas’alah ath-Thalâq, Risâlah fî ar-Radd ‘alaihi fî Mas’alah az-Ziyârah, Risâlah Râbi’ Arbi’ah, dan Syarh al-Minhâj.[256]

257.   Ibnu al-Farkah, (Rabi’ul Awwal 660 H. – Jumadil Ula 729 H.), nama lengkap: Burhanuddin Ibrahim bin Abdurrahman al-Fazari. Ia adalah ahli fiqihnya bangsa Syam. Ia mendengar hadis dari Ibnu Abdud Da’im dan lainnya, serta belajar fiqih kepada ayah kandungnya. Ia wafat pada bulan Jumadil Ula 729 H. di Damaskus.[257]

258.   Ibnu al-Wardi. Nama lengkap: Zainuddin ‘Umar bin Muzhaffir al-Mishri. Ia adalah imam ahli fiqih, hakim, ahli sastera, penyair, dan terkenal dengan sebutan Ibnu al-Wardi. Ia belajar fiqih kepada hakim agung, Syarafuddin al-Barazi. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: al-Buhjah al-Waridiyah fî Nazhm al-Hâwî, Syarh Alfiyah Ibnu Mâlik, Dhau’ ad-Durrah ‘ala Alfiyah Ibnu Mu’thî, al-Lubâb fî ‘Ilm al-I’râb, Syarh al-Lubâb, Mudzakkirah al-Gharîb, dan al-Masâ’il al-Mudzahhibah fî al-Masâ’il al-Mulaqqabah.[258]

259.   Syarafuddin al-Qayradh, (672 H. – 739 H.), nama lengkap: Abdullah bin Muhamad. Ia mendengar hadis dari Syeikhul Islam Taqiyuddin Ibnu Daqiq al-‘Aid, ad-Dimyathi, dan lainnya. Sedangkan ilmu ushuluddin, ia pelajari dari Taqiyuddin as-Subki.[259]

260.   Najmuddin al-Mishri, (W. 14 Muharram 729 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Aqil bin Abu al-Hasan. Ia termasuk salah satu imam di kalangan madzhab Syafi’i. Ia mendengar hadis dari Ibnu al-Bukhari dan lainnya di Damaskus; dari Ibnu Daqiq al-‘Aid dan lainnya di Kairo. Karya-karyanya yang terkenal, antara lain: Syarh at-Tanbîh dan al-Mukhtashar. Ia juga mempunyai kitab ringkasan dari kitab Sunan at-Tirmidzî. Ia meninggal di Mesir pada tanggal 14 Muharram 729 H.[260]

261.   Fakhruddin al-Mishri, (691 H. – 751 H.), nama lengkap: Muhamad bin ‘Ali bin Abdul Karim, Abu al-Fadhail. Ia adalah hakim di Damaskus. Ia belajar fiqih kepada Syeikh Kamaluddin bin az-Zamlakani dan Syeikh Burhanuddin bin al-Farkaj.[261]

262.   Shalahuddin al-‘Ala’i, (Lahir 694 H.), nama lengkap: Khalil bin Kaikalad, Abu Sa’id. Ulama yang terkenal sebagai penghafal hadis inibelajar fiqih kepada Syeikh Kamaluddin bin az-Zamlakani dan Syeikh Burhanuddin bin al-Farkaj. Ia dikenal sebagai periwayat hadis yang terpercaya dan handal. Karya-karyanya yang terkanal, antara lain: al-Asybâh wa an-Nazhâ’ir, Tanqîh al-Fuhûm fî Shiyagh al-‘Umûm, Kitâb fî al-Marâsîl, Kitâb fî al-Mudallisîn, dan lainnya.

263.   Tajuddin as-Subki, (W. 769 H.), nama lengkap: Abu Nashr, Tajuddin Abdul Wahhab bin ‘Ali. Ia adalah hakim agung, yang disebut-sebut sebagai orang yang paling alim di zamannya, serta berpikiran kritis dan sangat cermat dalam melakukan penelitian. Ia mendalami ilmu agama kepada ayah kandungnya, adz-Dzahabi, al-Mizzi, dan Syamsuddin. Karyanya yang terkenal adalah Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ dan at-Tawsyîh. Kurang lebih satu tahun, setelah ia merampungkan kitab at-Tawsyîh, ia meninggalkan dunia ini pada tahun 769 H.[262]


  • [1] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, (T.tp. : al-Husainiyah, t.th), I/199; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, (T.tp. : as-Sa’adah, 1948), I/47.
  • [2] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/263; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, (Baghdad : t.p., 1356 H.), halaman 3. Dalam kitab ini disebutkan bahwa nama lengkap al-Humaidi adalah Abdullah bin az-Zubair bin Abdullah bin az-Zubair bin ‘Isa al-Quraisyi al-Asadi al-Makki Abu Bakar al-Humaidi.
  • [3] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/274-275.
  • [4] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/275; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., VI/60; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 4; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, (Baghdad : t.p., 1356), halaman 79; an-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, (T.tp : al-‘Ashimah, t.th), I/156.
  • [5] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/238; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/196;  An-Nawawi, al-Majmû’, Op. Cit., I/115; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 5; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 79.
  • [6] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/259; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/52;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 79; dan An-Nawawi, al-Majmû’, Op. Cit., I/113.
  • [7] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/223; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 80.
  • [8] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/199.
  • [9] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/227; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/7;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 5; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 82.
  • [10] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/232.
  • [11] Ibid., I/265.
  • [12] Ibid., I/249.
  • [13] Ibid., I/270.
  • [14] Ibid., I/223.
  • [15] Ibid., I/199.
  • [16] Ibid., I/259; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/52;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 81.
  • [17] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/279; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., VI/247;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 7; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 80.
  • [18] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/258; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/253; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 5; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 80.
  • [19] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/225.
  • [20] Ibid., I/186.
  • [21] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 4.
  • [22] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/250; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 7; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 82.
  • [23] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/351; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/319;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 83.
  • [24] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/299. s
  • [25] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/288; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 10; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 86.
  • [26] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/130; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/332.
  • [27] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/130; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 13; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 86.
  • [28] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/20; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 9; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 87.
  • [29] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/126; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/344;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 16; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 89.
  • [30] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/321.
  • [31] Ibid., I/287; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 10.
  • [32] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/27.
  • [33] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/50.
  • [34] Ibid., II/52.
  • [35] Ibid., II/206.
  • [36] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/259; Ahmad al-Bana, Badâi’ al-Manan, I/4.
  • [37] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., I/286; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabajqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 23.
  • [38] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/226; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 13; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 85.
  • [39] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/78.
  • [40] Ibid., II/78.
  • [41] Ibid., II/174.
  • [42] Ibid., II/79.
  • [43] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/317; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 12; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 88.
  • [44] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/402.
  • [45] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/193; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/357;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 17; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 90.
  • [46] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/52 dan 213; An-Nawawi, al-Majmû’, Op. Cit., I/112; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 15.
  • [47] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 6; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 90.
  • [48] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/149.
  • [49] Ibid., II/172.
  • [50] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/271.
  • [51] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/50; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 124.
  • [52] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/50.
  • [53] Ibid., II/531; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 53.
  • [54] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/210.
  • [55] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 25.
  • [56] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/161; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/342;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 29; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 95.
  • [57] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 27; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 94.
  • [58] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/50; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/7;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 19; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 92.
  • [59] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/230.
  • [60] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/98; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 95.
  • [61] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/86.
  • [62] Ibid., II/223; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 34.
  • [63] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/177; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/338;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 21; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 91.
  • [64] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/164.
  • [65] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/206; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/358;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 22; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 92.
  • [66] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/191; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 22.
  • [67] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/96.
  • [68] Ibid., II/80.
  • [69] Ibid., II/87; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/49;  Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 89; dan Ibnu an-Nadim, al-Fihrisat, Op. Cit., halaman 299.
  • [70] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/169; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/337;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 18; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 91; dan Ibnu an-Nadim, al-Fihrisat, Op. Cit., halaman 300.
  • [71] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/99.
  • [72] Ibid., II/313.
  • [73] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/343;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 13; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 90; dan Ibnu an-Nadim, al-Fihrisat, Op. Cit., halaman 301.
  • [74] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/310; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 32.
  • [75] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/239.
  • [76] Ibid., II/103; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/51;  dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 19.
  • [77] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/246; an-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, II/72; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 43; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 104.
  • [78] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/211;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 36; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 96.
  • [79] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/53;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 27; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 92.
  • [80] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/168.
  • [81] Ibid., III/64.
  • [82] Ibid., II/211.
  • [83] Ibid., II/217; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/358;  dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 22.
  • [84] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/218.
  • [85] Ibid., II/314; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/338.
  • [86] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/351; Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/125; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 31.
  • [87] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/403.
  • [88] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/340;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 32; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 96.
  • [89] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/240; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/361; an-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I/113;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 21; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 93.
  • [90] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/112; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/236;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 21; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 93.
  • [91] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/245.
  • [92] Ibid., II/108; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/34;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 30; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 94.
  • [93] Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Muqâbisât, (T.tp. : ar-Rahmaniyah, 1929), halaman 18.
  • [94] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 38 dan  Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 99.
  • [95] Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 99.
  • [96] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 32.
  • [97] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/17;  dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 54.
  • [98] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/170; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/53;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 40; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 100.
  • [99] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/208 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 39.
  • [100] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/81.
  • [101] Ibid., II/233; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 35.
  • [102] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/299.
  • [103] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/63 dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 105.
  • [104] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/7 dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 104.
  • [105] Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 104.
  • [106] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/372.
  • [107] an-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I/112; Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/111; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/8;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 42; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 106.
  • [108] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/42 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 56.
  • [109] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/29; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., VI/63;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 42; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 98.
  • [110] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/245; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/443; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 29; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 96.
  • [111] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/24; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/55;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 42; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 103.
  • [112] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/303; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/444;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 52; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 110.
  • [113] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/30; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/75;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 44; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 108.
  • [114] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/133 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 46.
  • [115] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/79.
  • [116] Ibid., IV/21; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 50; dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 108.
  • [117] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/11 dan Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 109.
  • [118] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/207.
  • [119] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/375.
  • [120] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/150 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/401.
  • [121] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/27 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 49.
  • [122] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/145.
  • [123] Ibid., III/32; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 54.
  • [124] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/72; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/350; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 46.
  • [125] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/63 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., IV/31.
  • [126] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/225; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/314;  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 45; dan an-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I/112.
  • [127] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/225; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/314; dan  Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 56.
  • [128] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/155; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/400; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 57.
  • [129] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/48.
  • [130] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/221 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 60.
  • [131] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/237.
  • [132] Ibid., III/38.
  • [133] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/208; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/250; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 48.
  • [134] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 66.
  • [135] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/264; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/369; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 68.
  • [136] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/3 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 55.
  • [137] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 73.
  • [138] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/76; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/195; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 51; Abu Ishaq asy-Syayrazi, Thabaqât al-Fuqahâ’, halaman 106; dan an-Nawawi, al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Op. Cit., I/113.
  • [139]
  • [140]
  • [141] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/3.
  • [142] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., II/230; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/385; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 60.
  • [143] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/83.
  • [144] Ibid., III/147.
  • [145] Ibid., III/219.
  • [146] Ibid., IV/8.
  • [147] Ibid., IV/203.
  • [148] Ibid., III/228.
  • [149] Ibid., III/81.
  • [150] Ibid.
  • [151] Ibid., II/56.
  • [152] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/223; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/314; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 62.
  • [153] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/225; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/214; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 74.
  • [154] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/212.
  • [155] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/373.
  • [156] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/249; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/341; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 61.
  • [157] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/85; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/9; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 59.
  • [158] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/85.
  • [159] Ibid., III/11.
  • [160] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/209; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/359; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 75.
  • [161] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/207.
  • [162] Ibid., IV/38.
  • [163] Ibid., III/80.
  • [164] Ibid., III/152.
  • [165] Ibid., III/283.
  • [166] Ibid., IV/49.
  • [167] Ibid., IV/202.
  • [168] Ibid., IV/203.
  • [169] Ibid., III/29; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 67.
  • [170] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., IV/75.
  • [171] Ibid., VI/76.
  • [172] Ibid., II/152; Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/169.
  • [173] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/281; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/448; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 68.
  • [174] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/243.
  • [175] Ibid., IV/204.
  • [176] Ibid., IV/71; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/358.
  • [177] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/205.
  • [178] Ibid., IV55; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/80.
  • [179] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/285 dan V/33.
  • [180]  Ibid., IV/211; Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 75.
  • [181] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/33 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 82.
  • [182] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/101; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/352; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 69.
  • [183] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/283.
  • [184] Ibid., IV/200.
  • [185] Ibid., IV/221.
  • [186] Ibid., IV/217; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/404.
  • [187] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/284.
  • [188] Ibid., IV/258.
  • [189] Ibid., IV/268.
  • [190] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/117.
  • [191] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/42; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/82; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 74.
  • [192] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/90.
  • [193] Ibid., IV/211.
  • [194] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/218 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/10.
  • [195] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/57; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/356; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 72.
  • [196] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., III/298 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 64.
  • [197] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/48.
  • [198] Ibid., IV/235.
  • [199] Ibid., IV/39.
  • [200] Ibid., IV/325.
  • [201] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., I/13.
  • [202] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/299.
  • [203] Ibid., IV/96 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/362.
  • [204] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/237 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/409.
  • [205] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/65 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/409.
  • [206] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/128.
  • [207] Ibid., IV/190; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/374.
  • [208] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/185.
  • [209] Ibid., IV/198.
  • [210] Ibid., IV/182; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/361.
  • [211] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/242.
  • [212] Ibid., IV/278.
  • [213] Ibid., IV/221.
  • [214] Ibid., IV/198; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., III/359; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 77.
  • [215] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/291.
  • [216] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/80 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 80.
  • [217] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/373 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/471.
  • [218] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/119; Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/7; dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 83.
  • [219] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., IV/309 dan Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., IV/283.
  • [220] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., VI/252.
  • [221] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/65.
  • [222] Ibid., V/10.
  • [223] Ibid., V/54.
  • [224] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 84.
  • [225] Ibid., halaman 85.
  • [226] Ibid., halaman 86.
  • [227] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/48.
  • [228] Ibid., V/56.
  • [229] Ibid., VI/137.
  • [230] Ibid., V/177.
  • [231] Ibid., V/108 dan 119.
  • [232] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., IV/266.
  • [233] Ibid., II/316; Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/66; dan Muhamad al-Katabi, Fawât al-Wafayât, (T.tp : as-Sa’adah, t.th), I/544.
  • [234] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, Op. Cit., II/472.
  • [235] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/8.
  • [236] Muhamad al-Katabi, Fawât al-Wafayât, I/29.
  • [237] Ibid., I/594; dan Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/80.
  • [238] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., VI/249.
  • [239] Ibid., V/13.
  • [240] Ibid., V/7.
  • [241] Ibid., VI/2 dan Muhamad al-Katabi, Fawât al-Wafayât, Op. Cit., II/484.
  • [242] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/60 dan Muhamad al-Katabi, Fawât al-Wafayât, Op. Cit., I/522.
  • [243] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/14.
  • [244] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., VI/133 dan Muhamad al-Katabi, Fawât al-Wafayât, Op. Cit., II/307.
  • [245] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/227.
  • [246] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/165 dan Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 86.
  • [247] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., V/15.
  • [248] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 87.
  • [249] Ibid., halaman 88.
  • [250] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., VI/106.
  • [251] Ibid., VI/105.
  • [252] Ibid., VI/44.
  • [253] Ibid., VI/146.
  • [254] Ibid., VI/216.
  • [255] Ibid., VI/251.
  • [256] Ibid., V/251.
  • [257] Ibid., VI/45.
  • [258] Ibid., VI/243; Muhamad al-Katabi, Fawât al-Wafayât, Op. Cit., II/229.
  • [259] Tajudin as-Subki, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Op. Cit., VI/107.
  • [260] Ibid., VI/23.
  • [261] Ibid., VI/251.
  • [262] Ibnu Hidayatullah al-Mudhif, Thabaqât asy-Syâfi’iyyah, halaman 90.