Syafi’i sebagai Pelajar Teladan


Syafi’i sebagai Pelajar Teladan

Syafi’i adalah pelajar teladan yang mengusai banyak ilmu. Ia terjun secara totalitas dalam dunia ilmu, mulai dari al-Qur’an, tafsir, hadis, fiqih, sampai sastera dan syair. Kunci keberhasilannya adalah kesabaran, ketabahan, kepercayaan terhadap diri sendiri, keikhlasan, serta anugerah Allah berupa kecerdasan akal, kemampuan menghafal secara cepat, kemampuan bernalar dan menarik kesimpulan secara tepat.

Memang benar, Syafi’i adalah orang miskin dan berasal dari keluarga papa. Namun hal itu tidak membuat dirinya minder, karena kemiskinan bukanlah aib. Sebaliknya kemiskinan dapat memotivasi dirinya untuk bekerja keras dan berjuang gigih. Syafi’i ingin membuktikan bahwa harta bukan segalanya bagi penuntut ilmu. Tetapi kemauan keras, keuletan, ketabahan, dan kesungguhan adalah kunci untuk meraih kesuksesan.  Karena itu, Syafi’i tidak pernah mengenal lelah dan jera untuk mencari ilmu. Sebagai sarananya, ia mengumpulkan tembikar dan apa saja yang dapat dijadikan sebagai buku tulis untuk menorehkan semua ilmu yang  didengar dari guru-gurunya.

Yaqut menyebutkan sebuah riwayat dalam kitab Mu’jam al-Adibbâ’.[1] Berikut riwayat tersebut; ar-Rabi’ berkata, saya mendengar Syafi’i berkata, “Dulu pada waktu saya sedang menulis sambil mendengarkan ustadz yang sedang mengajar ngaji kepada anak-anak, maka saya langsung menghafal apa yang didiktekan oleh ustadz itu. Giliran anak-anak lainnya mencatat, saya telah hafal semua yang didiktekan oleh ustadz tersebut kepadaku. Lalu pada suatu hari, ustadz itu berkata kepadaku, ‘Saya tidak memungut biaya sepeser pun darimu. Tapi kenapa kamu pergi meninggalkan kelas?’ Saya menjawab, ‘Saya keluar untuk mencari tembikar, kulit kering, pelepah kurma, dan tulang bahu onta yang besar agar saya bisa menulis hadis di atas benda-benda tersebut. Lalu saya mendatangi perkantoran untuk mencari kertas-kertas bekas sebagai bahan catatanku. Sungguh saya telah banyak membuat catatan, sampai-sampai bejana ibuku penuh dengan tulang belulang, pelepah kurma, dan tembikar yang berisi catatan hadis.”

Al-Humaidi menceritakan, Muhamad bin Idris asy-Syafi’i berkata, “Saya adalah anak yatim yang hanya diasuh oleh ibuku. Lalu ibu menyekolahkanku ke sebuah madrasah, sayangnya ia tidak punya uang untuk membayar pengajarnya. Tetapi guru itu rela tidak dibayar, bahkan mengangkatku sebagai asisten guru untuk mengajar ulang kepada murid-murid lainnya. Kebiasanku sehari-hari, jika saya telah rampung membaca al-Qur’an, maka saya masuk masjid dan berbaur dengan para ulama. Saya mendengarkan hadis dan segala macam problematika agama yang dibahas oleh para ulama itu, lalu saya berusaha menghafalkannya. Karena ibu tidak sanggup membelikanku buku tulis, maka setiap kali saya melihat tulang, saya mengambilnya dan menjadikannya sebagai pengganti buku. Jika tulang itu telah penuh dengan catatan, maka saya masukkan tulang itu ke dalam bejana, sehingga catatanku terkumpul dalam bejana tersebut.”[2]

Selanjutnya Imam Fakhrur Razi menjelaskan dalam kitab Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î,[3] “Para ulama menyebutkan bahwa latar belakang keluarga Imam Syafi’i adalah miskin. Semenjak masuk bangku sekolah, para ustadz tidak pernah menerima bayaran sepeser pun dari Syafi’i. Padahal metode pengajarannya sangat bagus, karena para ustadz mengajar dengan sistem cepat (akselerasi), dan hanya Syafi’i kecil yang mampu mengikutinya secara cermat. Setiap kali guru mengajarkan sesuatu kepada anak-anak, maka Syafi’i langsung dapat menghafalnya. Karena itu, ketika gurunya beranjak pergi, maka giliran Syafi’i yang mengajar ulang pelajaran itu kepada teman-temannya. Melihat tingkah Syafi’i yang seperti ini, gurunya merasa sangat lega. Karena Syafi’i telah memberikan sesuatu yang lebih ketimbang uang bayaran sekolah yang diharapkannya. Maka, ia pun membebaskan Syafi’i dari iuran sekolah. Hal seperti ini terus berlangsung sampai Syafi’i mampu menghafal seluruh al-Quran pada usia 7 tahun.”

Imam Syafi’i pertama kali belajar al-Qur’an di Mekah dan berhasil menghafalnya di usia 7 tahun. Guru ngaji Imam Syafi’i adalah Isma’il bin Qisthanthin, syeikh kota Mekah di zamannya.

Berikut penuturan Imam Syafi’i tentang dirinya, “Saya mengaji al-Qur’an kepada Isma’il bin Qisthanthin. Ia adalah syeikh penduduk Mekah di zamannya.” Lebih lanjut Imam Syafi’i menuturkan silsilah guru ngajinya yang menggunakan metode qira’ah (membaca di hadapan guru). Saya belajar ngaji kepada Isma’il bin Qishtanthin, lalu guruku belajar kepada Syibl bin ‘Ibad dan Ma’ruf bin Misykan; keduanya belajar dari Yahya bin Abdullah bin Katsir; kedua guru itu belajar dari Mujahid; Mujahid belajar kepada Ibnu ‘Abbas’; Ibnu ‘Abbas belajar kepada Ubay bin Ka’b; dan Ubay bin Ka’b belajar langsung dari Rasulullah Saw.”[4]

Setelah hafal al-Qur’an, Syafi’i mulai rajin duduk di majelis para ulama untuk belajar hadis dan problematikanya. Syafi’i berkata, “Selesai menghafal al-Qur’an, saya sering duduk di masjid mendengarkan pengajian para ulama, menghafal hadis, dan memahami problematikanya. Pada waktu itu, tempat tinggal kami di Mekah adalah di perkampungan al-Hanif.”

Syafi’i betul-betul menyadari bahwa seseorang tidak mungkin dapat memahami makna-makna al-Qur’an, hukum-hukum dan rahasia-rahasianya, tanpa menguasai bahasa Arab dengan baik. Karena al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang fasih. Ketika Syafi’i telah membulatkan tekadnya untuk terjun sepenuhnya di medan ilmu, maka ia harus mempersenjatai dirinya dengan berbagai disiplin ilmu agar dapat menguasai medan ilmu. Apalagi setelah bergaul dengan orang-orang non-Arab, baik di kota-kota besar maupun di pinggir kota, maka lidahnya menjadi kurang fasih dalam berbahasa Arab. Karena itu, ia harus belajar bahasa Arab, sya’ir Arab, sastera Arab, dan kisah-kisah Arab agar penguasaan bahasa Arabnya menjadi sempurna. Tidak cukup belajar dari para pakar bahasa dan membaca literatur bahasa Arab, Syafi’i pun lantas mendalami bahasa Arab dari sumber aslinya. Ia sengaja keluar dari kota Mekah dan masuk ke pedalaman Arab untuk belajar bahasa Arab kepada suku Hudzail, karena inilah suku yang paling fasih bahasa Arabnya. Lalu Syafi’i mulai mempelajari gaya percakapan mereka dan menyelami adat istiadat mereka. Hingga akhirnya Syafi’i menguasai bahasa, syair, dan sastera Arab dengan penguasaan yang sempurna.

Berikut penuturan langsung dari Imam Syafi’i, “Kemudian saya meninggalkan kota Mekah dan tinggal di pedalaman Arab Badui bersama suku Hudzail. Saya mempelajari percakapan dan adat istiadat mereka. Karena Hudzail adalah suku yang paling fasih berbahasa Arab.”[5] Lebih lanjut Syafi’i bercerita, “Suku Hudzail itu seperti jin dari kalangan manusia. Mereka dapat melihat kesalahan berbahasa Arab yang orang lain menganggapnya sudah benar.”[6] Muhamad bin asy-Syafi’i berkata, “Syafi’i belajar bahasa Arab dan memahami perilaku hidup manusia selama 20 tahun. Tujuannya untuk memahami ilmu fiqih secara praktis.”

Kemudian Syafi’i kecil ingin belajar fiqih dan hadis secara mendalam. Karena itu, ia berangkat ke Madinah untuk belajar langsung kepada Malik bin Anas –imamnya kota Madinah-. Saking dekatnya, Syafi’i seperti bayangannya Imam Malik. Ke mana pun Imam Malik pergi, Syafi’i selalu menemaninya, sampai sang guru tutup usia pada tahun 179 H. Hal itu tidak sia-sia, karena semua ilmu yang ada di otaknya Imam Malik telah mampu diserap dengan baik.

Imam Syafi’i menuturkan bahwa Imam Malik berkata kepadanya, “Besok kamu datang bersama santri-santri yang belajar kitab al-Muwaththa’ dengan metode qira’ah (pembacaan di hadapan guru).” “Saya ingin mempelajarinya dengan menghafalnya,” jawab Syafi’i. Lalu keesokan harinya, saya mulai membacakan hafalanku di hadapan Imam Malik. Ketika saya berniat untuk menyudahi bacaanku, karena khawatir membosankannya, tiba-tiba ia menyuruhku untuk melanjutkannya. Ia memberikan waktu yang cukup singkat kepadaku untuk menghafal kitab tersebut, karena ia kagum dengan kekuatan hafalanku. Setelah itu, saya tinggal di Madinah sampai Imam Malik kembali ke haribaan Allah Swt..”[7]

Semangat belajar Syafi’i tidak berhenti sampai di situ, bahkan ia terus belajar dan belajar lagi. Ia juga getol mengembangkan potensi lain yang ada pada dirinya. Ia belajar juga tentang ilmu-ilmu lainnya, seperti ilmu supranatural (firasat) di Yaman; belajar fiqih Madzhab Hanafi di Irak; serta belajar memanah dan berkuda di Pedalaman Arab Badui.

Imam Syafi’i berkata, “Hobiku adalah memanah dan mencari ilmu. Kelihaianku dalam memanah 10 : 10. Jika ada 10 sasaran panah, maka 10 itulah yang terpanah.”[8] Lebih lanjut Syafi’i berkata, “Saya senang sekali memanah, sampai-sampai seorang thabib memperingatkanku agar jangan sering kepanasan, karena khawatir paru-paruku rusak.”[9] Ar-Rabi’ bin Sulaiman menceritakan, “Dulu Syafi’i itu sangat pandai berkuda dan sangat pemberani. Ketika kudanya sedang makan, Syafi’i menjewer telinganya, tiba-tiba kuda itu melompat di atas punggungnya.”[10]

Demikianlah sekilas tentang sosok Syafi’i, seorang pelajar teladan. Dia berhasil menguasai dua hal yang sangat penting: ilmu-ilmu Islam dan ilmu olah badan. Hingga akhirnya ia menjadi manusia teladan dan disegani orang lain, semenjak masih berstatus pelajar sampai bergelar ulama besar yang menguasai ilmu sastera, bahasa, fatwa, fiqih, hadis dan ijtihad.


[1] Yaqut, Op. Cit., XVII/284.
[2] Abu Hatim ar-Razi, Âdâb asy-Syâfi’î, (T.tp. : as-Sa’adah, 1953), halaman 24.
[3] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 9.
[4] Ibid., halaman 70.
[5] Yaqut, Loc. Cit.
[6] Ar-Razi, Op. Cit.
[7] Ibid., halaman 10; Yaqut, Op. Cit., XVII/285.
[8] Ibid., halaman 8; al-Baihaqi, Op. Cit., halaman 109.
[9] Prof. Mushthafa Abdur Razzaq, Op. Cit., 19; dikutip dari Târikh Baghdâd, VI/59 dan 60.
[10] Al-Baihaqi, Op. Cit., halaman 109.