Pengertian dalam Bidang Akidah


Zindiq

Dalam al-Mu’jam al-Wasîth, kata az-zindîq berarti orang yang mempercayai kekufuran. Singkatnya, zindiq adalah orang atheis. Bentuk jamak kata az-zindîq adalah zanâdîq dan zanâdiqah. Pada masa Syafi’i, kata az-zandaqah (bentuk kata benda dari kata az-zindîq) mengalami perkembangan makna yang sangat luas. Paling tidak, ada tiga pengertian dari kata ini, yaitu:

 

1)     Pengertian dalam Bidang Akidah

Kata ini diartikan sebagai orang yang memeluk Islam lahiriahnya saja, tapi batinnya masih memeluk agama Persia, khususnya orang-orang yang mengikuti madzhab Mani;[1] atau diartikan sebagai orang yang masih setia dengan agama Persia dan tidak mau masuk Islam; atau diartikan sebagai orang yang mengingkari semua agama. Makna yang ketiga ini bersinonim dengan arti kata ad-dahriyyah dan al-ilhâd yang berarti atheisme. Hal ini dikarenakan ketika Islam memasuki Persia, banyak penduduknya yang langsung masuk Islam. Mereka yang tidak mau masuk Islam pergi melarikan diri. Ada juga yang tetap tinggal di Persia dan tetap setia dengan agama Persia, meskipun Persia sudah dikuasai Islam. Mereka yang masuk Islam pun tidak memiliki pandangan yang sama. Banyak orang Persia yang masuk Islam yang tidak bisa melepaskan diri dari semua kepercayaan Persia yang telah diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, seiring dengan berlalunya waktu, kepercayaan-kepercayaan mereka mewarnai pemikiran Islam.

Ada juga sebagian orang Persia yang masuk Islam karena ingin bebas dari pajak, ingin mengejar jabatan tertentu, atau takut kedudukannya terancam. Yang paling berbahaya adalah mereka yang masuk Islam, bukan karena cinta Islam dan benar-benar beriman, tetapi karena dengki dan ingin balas dendam. Mereka menampakkan keislamannya, tapi juga menyimpan niat jahat terhadap Islam. Mereka masuk Islam dan hanya mengimani sebagian ajarannya saja. Tujuannya agar perkataan mereka mudah didengar dan dapat dipercaya. Kemudian mereka mulai menebarkan ajaran-ajaran sesat untuk merusak akidah Islam. Pada kelompok terakhir inilah, kata zindîq ditujukan.


[1] Menurut Prof. Mahmud al-‘Aqqad, Manawiyah adalah orang-orang yang mengikuti pemikiran Mani bin Fatik yang lahir pada awal abad ke – 3 M. Banyak pemikirannya yang bertentangan dengan pemikiran para ulama klasik. Ia meyakini bahwa Adam adalah ciptaan setan, bukan ciptaan Allah. Lihat, Prof. Mahmud al-‘Aqqad, Kitâbullah, (T.tp. : Dar al-Ma’arif, 1960), halaman 102-103.