Pengaruh Kebudayaan India terhadap Kebudayaan Arab


Pengaruh Kebudayaan India terhadap Kebudayaan Arab

Kebudayaan India telah menyebar di masyarakat Arab sebelum kaum muslimin berhasil menaklukkan India. Proses transformasi budaya ini dilakukan oleh orang-orang Persia dan India yang tinggal di wilayah kekuasaan Islam. Setelah Islam berhasil merebut India, maka kebudayaan Arab berhadapan langsung dengan kebudayaan India. Pada saat itu, India telah memiliki akar kebudayaan yang kuat sesuai dengan banyaknya jumlah penduduk dan luasnya wilayah kekuasaan India. Penduduk India terkenal sebagai ahli matematika, perbintangan, kedokteran, dan sebagainya.  India juga menjadi pusat agama Hindu dan Budha, serta memiliki filsafat sendiri yang berbeda dengan filsafat Yunani. Filsafat India banyak dipengaruhi oleh ajaran agama dan kepedulian sosial, yang bertujuan mengabdi pada umat manusia agar terbebas dari siksaan dan musibah dunia.[1]

Imam al-Mas’udi menjelaskan, para pakar ilmu dan ahli peneliti utama menegaskan bahwa pada zaman dulu orang-orang India adalah sekelompok orang bijak yang sangat peduli dengan kebijakan.[2] Ada hal penting yang merupakan karakteristik budaya India, yaitu doktrin reinkarnasi (tanâsukh al-arwâh). Prof. Ahmad Amin mengutip pendapat al-Bairuni tentang hal ini. Menurutnya, sebagaimana halnya kalimat syahadat merupakan ciri orang Islam; doktrin trinitas ciri orang Nashrani; doktrin isbât (perintah hari sabtu) ciri orang Yahudi; demikian pula dengan doktrin reinkarnasi,[3] yang merupakan ciri orang Hindu. Orang yang tidak percaya adanya reinkarnasi tidak dianggap sebagai orang Hindu.[4]

Pasukan Islam yang memasuki India tidak hanya bertujuan menaklukkan India saja, tetapi juga bertugas menyebarkan dakwah Islam dan mengajarkan Islam. Sebagian dari pasukan Islam itu ada yang statusnya sebagai ulama, seperti ar-Rabi’ bin Shabih al-Bashri yang terkenal sebagai ahli hadis. Dia termasuk salah satu pahlawan yang dikirim oleh al-Mahdi pada tahun 159 H. untuk menaklukkan India dan dia gugur di sana. Menurut Imam ath-Thabari, pada tahun tersebut -159 H.- khalifah al-Mahdi melepas keberangkatan Abdullah bin Syihab al-Musma’i ke Negara India. Keberangkatannya dikawal oleh pasukan dari Siria, salah satunya adalah Ibnu al-Khabbab al-Madzhaji. Sementara pengawal yang berasal dari Bashrah adalah ar-Rabi’ bin Shabih.[5]

Seiring dengan perkembangan dakwah Islam, di India banyak terlahir para penyair, ulama dan ahli hadis, di antaranya: Abu ‘Atha’ as-Sindi –penyair ulung yang hidup dua dekade, masa Bani Umayyah dan Bani ‘Abbas-, Ibnu al-A’rabi –pakar bahasa, kesusasteraan, dan syair yang telah menulis ribuan buku-, Abu Ma’syar Najih as-Sindi –pakar hadis yang menulis kitab al-Maghâzî-.[6]

Dengan demikian, dapat disimpulkan, pengaruh kebudayaan India terhadap kebudayaan Arab dapat dilihat dalam beberapa aspek di bawah ini:

a.      Terserapnya kosa kata India ke dalam bahasa Arab, seperti kata al-âbnûs (pohon ebony/kayu hitam), al-babghâ’ (burung kakaktua), al-khayzarân (rotan), al-fulful (lada), az-zanjabîl (jahe), al-kâfûr (pohon kamper), dan kata-kata lainnya yang berkaitan dengan nama-nama tumbuhan dan binatang-binatang yang ada di India. Kosa kata yang berkaitan dengan istilah matematika juga banyak diserap dari bahasa India, seperti kata al-jîb yang berarti sin atau istilah dalam trigonometri.[7]

b.     Orang-orang Arab sering menggunakan kata-kata mutiara yang berasal dari bahasa India, karena mirip dengan perumpamaan dalam bahasa Arab. Kata-kata mutiara itu tersusun dari beberapa kalimat pendek yang sarat makna. Seperti perumpamaan ini: “Orang yang bertekad tinggi selalu ingin lebih maju. Seperti orang yang terbakar api, nyala api itu akan selalu ke atas;” dan perumpamaan lainnya “Ada tiga hal yang hanya bisa tercapai dengan tekad baja dan semangat membara, yaitu: menjadi presiden, pedagang sukses, atau pahlawan sejati.”[8]

Tersebarnya permainan catur di kalangan kaum muslimin, karena pencipta pemain catur adalah orang India. Imam al-Mas’udi berkata, “Raja Islam di India yang hobi bermain catur adalah Balhait, di sela-sela kesibukannya ia kadang bermain catur.” Lebih lanjut al-Mas’udi bercerita, “Orang India mempunyai strategi jitu dalam bermain catur. Starteginya adalah menyerang dengan mengandalkan pion-pion dan biduk catur lainnya agar secepatnya mematikan gerak raja.”[9]


[1] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I/246-247.
[2] Al-Mas’udi, Murûj adz-Dzahab, dalam pembahasan tentang Kitâb at-Tahrîr, I/57.
[3] Orang-orang India mempercayai ruh tidak mati dan tidak hancur, tetapi kekal selamanya. Ruh bisa pindah dari satu badan ke badan yang lain, dan mengalami proses peningkatan. Sebagaimana raga manusia berproses dari anak-anak menjadi remaja sampai menjadi tua.

Doktrin ini menjadi topik pembahasan yang sangat menarik dalam filsafat Yunani, agama Manawiyah, ajaran tasawuf, agama Nashrani, dan madzhab-madzhab teologi Islam. Ada sejumlah pemikir Islam yang berpendapat bahwa ruh dapat berpindah dari satu jasad ke jasad yang lainnya, meskipun jasad yang kedua itu tidak sama dengan jasad yang pertama (dari jasad manusia ke jasad binatang contohnya, penerj.). Pendapat ini dikemukakan oleh Ahmad bin Haith –pengikut Mu’tazilah yang kemudian melepaskan diri dari kemu’tazilahannya-, Abu Muslim al-Khurasani, orang-orang Qaramithah –para pengikut aliran Syi’ah ekstrim, penerj.-, dan Muhamad bin Zakariya ar-Razi. Pendapat ini juga dibenarkan oleh golongan Sabi’ah, yaitu para pengikut Abdullah bin Saba’ yang mengikuti aliran Syi’ah garis keras. Lihat, Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I/246-252.
[4] Ibid., I/242.
[5] Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabarî, Op. Cit., VI/352-353.
[6] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I/242-244.
[7] Ibid., I/256-258.
[8] Ibid., I/261-262.
[9] Al-Mas’udi, Op. Cit., I/60.