Pandangan Syafi’i terhadap Syi’ah
Imam Syafi’i tidak sependapat dengan Syi’ah dalam masalah-masalah akidah dan pemikiran-pemikiran mereka. Hal ini disebabkan beberap alasan, di antaranya: pertama, Syafi’i meriwayatkan dari Sufyan bin ‘Uyaynah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ikutilah dua sahabat sesudahku, yaitu Abu Bakar dan ‘Umar.”[1] Kedua, diriwayatkan dari a-Rabi’, dari Syafi’i. Ia berkata, “Para khalifah itu ada lima; empat sudah terkenal dan yang kelima adalah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Kami memasukkan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz karena ketegasannya dalam menegakkan keadilan dan riwayat hidupnya yang sangat baik.”[2] Ketiga, Harmalah meriwayatkan dari Syafi’i, ia berkata, “Setiap orang Quraisy yang berhasil memenangkan kekhalifahan meskipun dengan pedang, maka ia adalah khalifah yang sah.”[3] Keempat, sebagian ulama berkata kepada Syafi’i, “Hanya kamu keturunan Bani Hasyim yang lebih mengutamakan Abu Bakar dan ‘Umar daripada ‘Ali.” Syafi’i menjawab, “’Ali adalah anak dari paman dan bibiku, dan saya sendiri adalah keturunan Bani ‘Abd Manaf, sedangkan kamu keturunan Bani ‘Abdud Dar. Jika permasalahannya memang seperti yang kamu katakana (‘Ali lebih utama dari Abu Bakar dan ‘Umar, penerj.), maka dengan nasab yang baik itu ‘Ali jelas lebih utama. Tetapi permasalahannya tidak seperti yang kamu katakan.”
Meskipun pandangan Syafi’i terhadap ‘Ali sangat objektif, tapi masih saja ada orang-orang yang mencurigai akidahnya dan menuduhnya sebagai pengikut Rafidhah.[4] Anehnya lagi, orang-orang Rafidhah sendiri menganggap Syafi’i sebagai pengikut mereka. Mereka berdalil dengan beberapa alasan berikut ini:
a). Dalam beberapa bait syairnya, Syafi’i menampakkan kecintaannya kepada golongan tersebut (Rafidhah). Sebagaimana terlihat dalam syair-syair berikut ini:
“Dalam beragama, saya adalah pengikut Syi’ah. Asal keturunanku dari Mekah # sementara tanah kelahiranku ‘Asqalan.
Tanah kelahiranku adalah tempat terbaik dan membanggakan # dan madzhabku adalah madzhab terbaik yang dikagumi manusia.”[5]
Dalam syair lainnya disebutkan:
“Wahai musafir kelana, singgahlah di tanah subur dekat Mina # dan serulah orang yang tinggal di masjid Khaif dan Nahidh Mereka akan terpana, jika orang yang haji telah bertolak ke Mina # salam jumlah yang banyak seperti berbenturannya gelombang laut yang dahsyat
Jika kecintaan kepada keluarga Muhammad adalah ciri orang Rafidhah # maka saksikanlah, wahai jin dan manusia bahwa aku adalah pengikut Rafidhah.”[6]
b). Yahya bin Ma’in menuduh Syafi’i sebagai pengikut Rafidhah. Ia berkata, “Saya telah mengkaji kitab Syafi’i mengenai sîrah dan dalam kitab tersebut banyak dijelaskan mengenai ‘Ali. Maka, hal ini membuktikan kebenaran tuduhanku.”[7]
c). Ketika di Yaman, Syafi’i bergabung dengan orang-orang ‘Alawiyah dan mendukung mereka. Sebab itulah khalifah Harun ar-Rasyid menangkapnya, hingga terjadilah apa yang seharusnya terjadi.[8]
Imam Fakhrur Razi telah membantah tuduhan-tuduhan tersebut. Ia mengatakan, klaim bahwa Syafi’i adalah pengikut Rafidhah tidak bisa dibenarkan. Karena terbukti, Syafi’i mengakui sahnya kekhilafahan Khulafa’ur Rasyidin dan sering mengkritik orang-orang Rafidhah. Yunus bin ‘Abdul A’la berkata, saya mendengar Syafi’i berkata, “Saya memperbolehkan kesaksian orang-orang yang suka bermaksiat, keciali orang-orang Rafidhah, karena kesaksian mereka kurang tumpang tindih.” Lebih lanjut Yunus mengatakan bahwa Syafi’i sangat mencela orang-orang Rafidhah dan menganggapnya sebagai golongan yang paling buruk.[9] Adapun kecintaan dan kesalutan Syafi’i kepada ‘Ali, maka hal itu tidak berarti Syafi’i menjadi orang yang tercela, bahkan seharusnya ia mendapatkan pujian dan penghargaan yang setinggi-tingginya. [10]
Adapun tuduhan Yahya bin Ma’in dapat dijawab dengan sebuah riwayat yang disampaikan oleh al-Baihaqi dari Abu Daud. Dalam riwayat tersebut dikatakan, Ahmad bin Hanbal diberitahukan bahwa Yahya bin Ma’in menganggap Syafi’i sebagai orang Syi’ah. Lalu Ahmad mengklarifikasikannya dan bertanya kepada Yahya bin Ma’in, “Bagaimana kamu mengetahui hal itu?” Yahya menjawab, “Saya telah membaca karangan Syafi’i tentang peperangan melawan para pemberontak. Saya temukan dari awal sampai akhir pembahasan, Syafi’i berdalil dengan ‘Ali bin Abi Thalib.” Ahmad berkata, “Sungguh aneh kamu ini. Kalau bukan dengan ‘Ali, dengan siapa lagi Syafi’i harus berdalil. Bukankah orang pertama dari umat ini yang menghadapi kasus pemberontakan adalah ‘Ali bin Abi Thalib?” Dengan jawaban Ahmad ini, Yahya pun terdiam dan tidak bisa membantah lagi. Di samping itu, Yahya bin Ma’in adalah orang yang sangat benci kepada Syafi’i. Ia juga sering mencemooh Ahmad bin Hanbal, karena sering mengagungkan Syafi’i. Sikap Yahya bin Ma’in yang sering mencela dan mecemooh orang lain ini, menyebabkan dirinya sering dikritik oleh banyak orang. Dalam syair disebutkan:
“Ibnu Ma’in suka mencela tokoh-tokoh Islam # Kelak, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya itu dan Allah akan menjadi saksinya
Jika ia benar, maka celaan itu dianggap ghibah # Jika ia berdusa, maka siksa pedih siap menjemputnya.”
Ketika banyak orang yang mengira Syafi’i adalah pengikut Syi’ah, maka ia kembali menyampaikan syair-syairnya:
“Jika kami mengagungkan ‘Ali, maka menurut orang bodoh # kami adalah pengikut Rafidhah
Tapi jika kamu mengunggulkan Abu Bakar # Maka kami dianggap sebagai pendukungnya.
Kalau begitu, saya masih berstatus pengikut Rafidhah dan pendukung Abu Bakar # Saya akan terus menjalankan ajaran agama meski harus berjalan di atas pasir.”[11]
Demikianlah, pandangan Imam Syafi’i terhadap Syi’ah.
[1] Ar-Razi, Manâqib al-Imâm al-Syâfi’î, halaman 48.
[2] Ibid., halaman 49.
[3] Ibid.
[4] Para ulama masih berbeda pendapat mengenai sebab orang-orang Rafidhah dinamakan golongan Rafidhah. Menurut satu pendapat, mereka dinamakan Rafidhah karena mereka menolak pandangan para sahabat yang sepakat untuk membai’at Abu Bakar dan ‘Umar. Dengan pengertian seperti ini, kata Rafidhah sinonim dengan kata Syi’ah. Pendapat lain menyatakan, mereka dinamakan Rafidhah karena pada awalnya mereka menolak Zaid bin ‘Ali yang melarang mereka mencela Abu Bakar dan ‘Umar. Dengan makna seperti ini, Rafidhah adalah bagian dari golongan Syi’ah yang memperbolehkan penghinaan kepada sahabat.
Dalam kitab Mukhtashar al-Farq baina al-Firaq, Ustadz Abdur Razaq bin Rizqullah bin Abu Bakar bin Khalaf ar-Rus’ani menyatakan, kelompok-kelompok Syi’ah Zaidiyah sepakat bahwa pelaku dosa besar dari umat Nabi Muhamad Saw. kekal dalam neraka. Mereka dinamakan kelompok Zaidiyah karena mereka mengauki imamahnya Zaid bin ‘Ali dan putranya (Yahya bin Zaid). Pada saat itu Zaid diangkat sebagai imam oleh lima belas ribu penduduk Kufah. Kemudian mereka melakukan penentangan kepada Gubernur Irak, Yusuf bin ‘Umar ats-Tsaqafi, yang diangkat oleh Hisyam bin Abdul Malik. Ketika peperangan di antara mereka teus berlangsung, mereka bertanya kepada Zaid, “Bagaimana pendapatmu mengenai Abu Bakar dan ‘Umar yang telah menzalimi kakekmu?” Zaid menjawab, “Saya dan ayahku menganggap keduanya adalah orang baik. Saya melakukan pemberontakan kepada Bani Umayyah karena mereka telah membunuh kakekku, ‘Ali dan al-Husain. Kemudian mereka menyerbu kota Madinah dan menghujani Baitullah dengan batu dan api.” Setelah mendengar jawaban ini, mereka meninggalkan Zaid. Lalu Zaid berkata kepada mereka, “Kalian telah meninggalkanku (rafadhtumûnî).” Karena itulah, para pengikut Zaid bin ‘Ali dinamakan kelompok Rafidhah.
[5] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 51 dan 52.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Ibid.