Kondisi Sosial Masa Syafi’i
Daulah Islamiyah mengalami perkembangan secara gradual dari satu kondisi ke kondisi yang lebih baik sesuai dengan arah perubahan zaman. Dalam catatan sejarah, Daulah ‘Abbasiyah telah membawa umat Islam menuju peradaban emas, karena berhasil memajukan aspek ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Kehidupan sosial pada masa Syafi’i khususnya atau pada awal kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah secara umum, diwarnai dengan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan kesusasteraan yang sangat dominan. Seandainya kekuasaan Dinasti Umawiyah masih terus bercokol, kesuksesan seperti ini mungkin tidak bisa tercapai.
Wilayah kekuasaan Islam pada masa ini terbentang luas, mulai dari Andalusia di Barat sampai India di Timur. Di bawah lindungan Daulah Islamiyah, berbagai umat manusia hidup berdampingan secara damai. Mereka mempunyai ciri masing-masing yang berbeda antara satu dan lainnya, baik dari warna kulit, postur tubuh, sifat maupun karakter lainnya. Mereka juga memiliki tradisi, kebudayaan, dan kecenderungan politik yang tidak sama, karena asal mereka berbeda-beda. Ada yang keturunan Arab, Persia, maupun India. Alirannya pun berbeda-beda, ada yang Sunni dan ada pula yang Syi’ah. Bahkan, ada juga orang kafir yang taat pajak (ahl adz-dzimmah). Status sosialnya pun tidak seragam, ada yang merdeka dan ada yang masih dalam status budak.[1] Namun demikian, mereka semua dapat hidup berdampingan dengan damai dalam satu ikatan, yaitu Daulah Islamiyah. Mereka membaur, berinteraksi, dan saling bertukar pikiran. Ada satu spirit yang menyatukan mereka semua, yaitu semangat persatuan Islam.
Adanya keberagaman yang sangat kompleks memang terkadang dapat menimbulkan konflik, seperti yang pernah terjadi antara bangsa Arab dan Persia. Pada masa Dinasti ‘Abbasiyah, pengaruh bangsa Persia cukup mendominasi, karena adanya dukungan dari penguasa. Otomatis tradisi dan budaya Persia menjadi lekat dalam gaya hidup Dinasti ‘Abbasiyah. Sehingga kehidupan masyarakat Islam menjadi seperti kehidupan masyarakat Persia yang mirip Arab. Para penguasa Bani ‘Abbas mulai terpengaruh dengan gaya hidup mewah dan arogan. Megahnya istana-istana dan indahnya taman bunga milik para kalifah dan para pejabat menggambarkan sisi materialisme kehidupan mereka. Bukan hanya itu, di istana pun sering dipenuhi dengan gadis-gadis cantik, para penyanyi dan para pelayan. Menurut satu sumber, disebutkan bahwa Harun ar-Rasyid memiliki 2.000 penyanyi dan pelayan minum yang berpakaian indah dan berkalung mutiara. [2]
Majelis-majelis pengajian disetting seperti tempat konser musik yang dipenuhi dengan alat-alat musik. Lalu di sela-sela pengajian diisi dengan alunan musik, pembacaan puisi dan cerita-cerita menarik. Imam al-Isfahani menggambarkan kehidupan glamour para khalifah, para pejabat, para pelayan, dan penyanyi dalam pernyataan berikut ini; “Pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid, biasanya setelah khalifah menyelesaikan satu pekerjaan, lalu ia duduk untuk minum, maka masuklah para penyanyi untuk menghiburnya. Orang pertama yang menghibur khalifah dengan lantunan syair-syairnya adalah Ibrahim al-Mushili. Ia bersyair:
‘Ketika kegelapan menyelimuti negeri ini # maka Harun menjadi penerangnya
Harun mampu menegakkan keadilan di antara kami # Mengikis kejahatan dan membuka harapan baru
Rakyat hidup damai di bawah kekuasaannya # seperti damainya sekawanan rusa di tanah suci
Kau ikuti jalan kebenaran yang telah digariskan Rasulullah # dan perilakumu dalam segala hal sesuai dengan tuntunannya.’
Kemudian dari balik tirai, seorang pelayan bertepuk tangan dan menyahut, ‘Syair dan lagumu sangat bagus, wahai Ibrahim.’ Lalu khalifah pun memerintahkan agar diberikan 20.000 Dirham kepadanya.”
Ibnu Khilikkan menceritakan, pernikahan al-Ma’mun dengan Waran binti al-Hasan bin Sahl dilangsungkan dengan pesta yang sangat mewah dan meriah. Resepsi tersebut mungkin bisa dikatakan sebagai pesta pernikahan paling spektakuler sepanjang sejarah. Salah satu acara pestanya adalah menembakkan peluru kertas kepada Bani Hasyim, para panglima, dan para penulis. Kertas itu bertuliskan nama-nama lahan yang produktif, nama-nama gadis pelayan, nama-nama hewan tunggangan, dan sebagainya. Jika peluru itu mengenai seseorang, lalu ia membaca tulisan yang ada di kertas itu, maka ia mendapatkan hadiah sesuai dengan yang tertulis di kertas tersebut. Setelah acara tembak kertas ini selesai, dilanjutkan dengan tabur uang Dinar dan Dirham…”[3] Imam ath-Thabari mengutip pernyataan al-Hasan bin Abu Sa’id yang menceritakan bahwa pada suatu hari, Khalifah al-Mahdi membagi-bagikan hadiah kepada para kerabat dan para panglimanya dengan cara menyebutkan nama mereka satu per satu. Pada nama-nama tertentu, khalifah menyuruh agar hadiahnya ditambah dengan uang sebanyak sepuluh ribu, dua puluh ribu, dan seterusnya.[4]
Jumlah budak pada masa itu cukup banyak, tetapi mereka mendapat perlakuan sama dan tidak dipandang sebelah mata, karena banyak ibunda para khalifah yang dulunya hamba sahaya. Orang-orang kafir yang taat pajak, yaitu orang Nashrani dan Yahudi, sangat menikmati iklim toleransi yang baik. Karena itu, di Baghdad banyak ditemukan biara, seperti biara al-‘Adzari. Pemerintah Islam tidak pernah mengusik aktifitas ritual agama mereka. Bahkan saking toleransinya, sebagian khalifah ada yang mengadiri acara karnaval dan peringatan hari-hari besar mereka, serta memberikan penjagaan yang ketat agar acara tersebut dapat berlangsung dengan aman dan lancar.
Kehidupan sosial yang damai ini memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan politik, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, dan kesenian. Karena itu, para khalifah, para pejabat, dan para pembesar negara memberikan fasilitas yang baik kepada para ulama, para ahli fiqih, para pakar sastera, para penulis, para penyanyi, dan para tokoh masyarakat. Hal ini dilakukan untuk memperkuat legitimasi para penguasa. Sehingga mereka sering mendapatkan kucuran dana dan hadiah-hadiah dari para penguasa. Kondisi seperti ini sangat kontras dengan keadaan zaman sekarang. Banyak sekali ulama duniawi yang memanfaatkan para penguasa untuk kesejahteraan pribadinya masing-masing. Sedangkan ulama akhirat tidak tergoda oleh gemercingnya kehidupan dunia dan tidak silau dengan gemerlapnya kesenangan semu dunia. Mereka berani menentang kebijakan penguasa yang dianggap keliru, menyuarakan kebenaran hakiki, serta memberantas kebatilan dan kerusakan. Mereka tidak gentar menghadapi ancaman dan intimidasi orang-orang zalim yang bertindak sewenang-wenang. Mereka adalah bala tentara Allah di muka bumi yang berani mengorbankan hidupnya untuk memperjuangkan agama dan rela menanggung hidup susah. Karena itu, ulama akhirat tidak pernah tergoda nikmatnya kehidupan istana dan gaya hidup para khalifah. Kita akan menemukan kehadiran ulama akhirat di setiap negara, karena keberadaan mereka sebagai motivator agama.
Sementara itu, kesenian seperti syair yang sangat dibangga-banggakan, sejatinya hanya mekar di dada para khalifah saja, tetapi layu di hati rakyat. Para penyair ulung yang dielu-elukan itu hanyalah orang-orang yang suka mencari muka di hadapan para khalifah. Catatan sejarah menyebutkan, syair hanya berkembang di Irak. Sedangkan di Mesir, Siria, dan Hijaz tidak begitu populer atau bahkan hampir tidak ada.[5] Demikian kondisi sosial pada masa Syafi’i.
[1] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I/403.
[2] Ibid., I/9.
[3] Ibnu Khilikkan, Wafayât al-A’yân, (T.tp. : an-Nahdhah, t.th.), I/258.
[4] Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulk, VI/394.
[5] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I/139-142.