Kelahiran Syafi’i
Para ahli riwayat sepakat, Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H. bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah. Pendapat ini dikukuhkan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât.[1]
Selanjutnya dalam kitab Mu’jam al-Adibbâ’,[2] Yaqut menegaskan bahwa Imam Syafi’i lahir di hari yang sama dengan hari wafatnya Abu Hanifah. Namun, mayoritas ulama tidak berpedoman dengan pendapat ini. Mengenai hari kelahiran Imam Syafi’i, al-Baihaqi[3] menimpali pendapat tersebut, “Saya hanya menemukan beberapa riwayat yang menentukan secara pasti mengenai kelahiran Imam Syafi’i. Karena pendapat yang umum di kalangan ahli sejarah, hanya menentukan tahun kelahirannya saja.”
Selanjutnya Yaqut mengutip tiga pernyataan Imam Syafi’i yang berkaitan dengan tempat kelahirannya. Pernyataan pertama, “Saya lahir di Ghaza pada tahun 150 H. Kemudian saya dibawa ke Mekah pada usia dua tahun.” Pernyataan kedua, “Saya lahir di ‘Asqalan. Jarak antara ‘Asqalan dan Ghaza sekitar tiga Farsakh.[4] Keduanya berada di Palestina.” Pernyataan ketiga, “Saya lahir di Yaman, namun karena ibuku khawatir tidak dapat mengurusku dengan baik, maka saya diboyong ke Mekah.”[5]
Tampaknya pernyataan Ima Syafi’i bersifat kontradiktif antara satu dan lainnya. Pernyataan pertama dan kedua dapat dikompromikan dengan mudah. Yakni, Imam Syafi’i sebetunya dilahirkan di Ghaza. Namun kemudian hari, sang ibu membawanya ke ‘Asqalan, dan keduanya berada di Palestina. Mungkin juga alasan sang bunda membawa anaknya ke ‘Asqalan, karena ‘Asqalan adalah Kota, sementara Ghaza itu hanya salah satu desa yang ada di situ.
Dalam kitab Tawâlî at-Ta’sîs,[6] Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengutip pendapat Ibnu Abu Hatim dalam kitab Manâqib asy-Syâfi’î. Ibnu Abu Hatim berkata, saya mendengar ayahku berkata, saya mendengar ‘Amr bin Siwar berkata, Syafi’i berkata kepadaku, “Saya lahir di ‘Asqalan. Lalu ketika usiaku menginjak 2 tahun, ibuku membawaku ke Mekah.” Menurut Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani, sanad riwayat ini shahih. Adapun rawi yang bernama ‘Amr bin Siwar, ia adalah salah satu gurunya Imam Muslim; Abu Hatim Muhamad bin Idris ar-Razi dan anaknya termasuk kalangan penghafal hadis (al-Hâfizh) yang terpercaya dan kredibel.
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada kontradikis antara pernyataan Imam Syafi’i yang pertama dan kedua. Karena sejak dulu, sudah ada kota yang bernama ‘Asqalan dan jaraknya dekat dengan Ghaza. Jadi, ketika Imam Syafi’i menyatakan bahwa dirinya lahir di Ghaza, maka maksudnya adalah di desa itu. Sedangkan jika Imam Syafi’i menyebutkan bahwa dirinya lahir di ‘Asqalan, maka yang dimaksud adalah kotanya.
Adapun pernyataan Imam Syafi’i yang ketiga, maka banyak para ulama yang memberikan interpretasi terhadap pernyataan ini. Sebagian ulama berpendapat, maksud pernyataan Imam Syafi’i “Saya lahir di Yaman” adalah bahwa mayoritas penduduk Ghaza dan ‘Asqalan berasal dari Kabilah Yaman. Yaqut berkomentar, “Ini adalah interpretasi yang tepat, jika didukung dengan riwayat yang kuat.”[7] Sedangkan menurut Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang mengutip pendapatnya Syamsud Din adz-Dzahabi, “Itu adalah interpretasi yang keliru, karena Syafi’i tidak menyatakan Kabilah Yaman, tetapi mengatakan bahwa saya lahir di Yaman.”[8]
Mengingat interpretasi pernyataan Imam Syafi’i yang ketiga kurang tepat dan riwayatnya tidak shahih, maka saya berpendapat bahwa pernyataan yang ketiga tidak bisa dijadikan sebagai argumen untuk meruntuhkan pernyataan Imam Syafi’i yang pertama dan kedua, yang menegaskan bahwa ia lahir di Palestina. Hal ini dikuatkan dengan bukti bahwa target hijrah Bani Hasyim dan Bani al-Muthallib adalah Ghaza. Bahkan disebutkan, Hasyim –saudara al-Muthalllib- meninggal dan dikebumikan di Ghaza. Atas dasar itulah, Prof. Muhamad Husain Haikal[9] menuturkan, “Hasyim meninggal di Ghaza setelah dua tahun melakukan perjalanan di musim panas. Lalu semua tugas dan tanggung jawabnya dipikul oleh saudaranya, al-Muthallib.”
[1] An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, (T.tp. : al-Munirah, t.th.), I/45.
[2] Yaqut, Mu’jam al-Adibbâ’, XVII/284; Ar-Razi, Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î, Op. Cit., halaman 8.
[3] Berikut redaksi riwayat al-Baihaqi; Abu al-Hasan berkata, diceritakan kepada kami dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, “Imam Syafi’i lahir di hari wafatnya Abu Hanifah.” Kemudian al-Baihaqi meriwayatkan sebuah riwayat dari az-Zubair al-Hamadani, dari ‘Ali bin Muhamad bin ‘Isa, dari ar-Rabi’, Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Saya tidak menemukan adanya riwayat yang menegaskan secara pasti mengenai hari kelahiran Imam Syafi’i. Karena pendapat yang umum hanya memastikan tahun kelahirannya saja. Demikian menurut pendapat para ahli sejarah.” Lihat al-Baihaqi, Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î, manuskrip, halaman 11.
[4] Jarak 1 farsakh sama dengan 8 Km atau 3 ¼ mil (penerj.).
[5] Yaqut, Op. Cit., XVII/282.
[6] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Op. Cit., halaman 49.
[7] Yaqut, Loc. Cit.
[8] Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Loc. Cit.
[9] Prof. Muhamad Husain Haikal, Loc. Cit.