Imam Syafi’i telah membahas hubungan antara qiyâs dan ijtihad, serta qiyâs dan istihsân. Ia menegaskan bahwa hubungan antara qiyâs dan ijtihad adalah hubungan yang bersifat stimulan. Dengan kata lain, qiyâs dan ijtihad adalah dua nama yang bersinonim dan bermakna satu. Sedangkan hubungan antara qiyâs dan istihsân adalah hubungan yang bersifat kontradiktif, sebab qiyâs adalah hasil penalaran yang diterima karena disandarkan pada al-Qur’an dan hadis, sementara istihsân adalah hasil penalaran yang ditolak karena jauh dari petunjuk al-Qur’an dan hadis.
Dalam kitab ar-Risâlah,[1] Imam Syafi’i menyatakan; seseorang bertanya, “Apakah qiyâs itu? Apakah qiyâs sama dengan ijtihad ataukah berbeda?” “Qiyâs itu dua istilah yang maknanya sama,” jawabku.[2] Ia bertanya, “Apa aspek persamaannya?” Saya katakan, “Setiap persoalan yang dihadapi oleh orang Islam, pasti ada ketetapan hukum yang mengikat atau ada indikasi yang menunjukkan terhadap ketetapan hukum itu. Apabila ada ketetapan hukum yang tersurat, maka ia wajib mengikutinya. Namun, apabila ketetapan itu tersirat, maka ia harus mencari kebenaran itu dengan berijtihad dan ijtihadnya dapat menggunakan metode qiyâs.”
Dalam kitab ar-Risâlah,[3] Imam Syafi’i berkata, “Apabila qiyâs boleh ditinggalkan, maka setiap orang berakal meski bukan ahli ilmu diperbolehkan untuk berpendapat dengan istihsân (perasaan hati) terhadap persoalan yang tidak ada ketentuan hadisnya, padahal berpendapat tanpa berlandaskan hadis atau qiyâs tidak diperbolehkan.”
- [1] Asy-Syafi’i, ar-Risâlah, Op. Cit., halaman 477.
- [2] Dalam kitab al-Mustashfa’, Imam al-Ghazali mengutip pernyataan sebagian ahli fiqih; “Menyamakan qiyâs dengan ijtihad adalah keliru, karena ijtihad lebih umum dari qiyâs. Alasan lainnya, karena ijtihad itu bisa mencakup penelitian terhadap hal-hal yang bersifat umum, makna lafazh-lafazh yang bersifat khusus, dan penggunaan berbagai dalil hukum selain qiyâs.” Pernyataan ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa mungkin yang dimaksud oleh Syafi’i, qiyâs adalah ijtihad. Ini baru benar, tapi kalau dibalik salah.
- [3] Asy-Syafi’i, ar-Risâlah, Op. Cit., halaman 505.