Guru Syafi’i di Irak


Guru Syafi’i di Irak

Syafi’i banyak belajar dari sejumlah ulama di Irak. Kami hanya akan menyebutkan guru-gurunya yang sangat terkenal, di antaranya: Muhamad bin al-Hasan asy-Syaybani,[1] Waki’ bin al-Jarrah al-Kufi,[2] Abdul Wahhab bin Abdul Majid ats-Tsaqafi,[3] Abu Usamah Hammad bin Usamah al-Kufi, dan Isma’il bin ‘Aliyyah al-Bashri.


[1] Kami tidak mengerti kenapa Imam Dhiyauddin (ayah Imam ar-Razi) tidak dimasukkan dalam jajaran guru-guru Syafi’i, sebagaimana yang disebutkan oleh ar-Razi dalam  Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î, Op. Cit., halaman 11. Imam Muhamad bin al-Hasan asy-Syaybani adalah guru Syafi’i di Irak yang sangat terkenal. Guru-guru lainnya adalah Waki’ bin al-Jarrah al-Kufi, Abu Usamah Hammad bin Usamah al-Kufi, Isma’il bin ‘Aliyyah al-Bashri, dan Abdul Wahhab bin Abdul Majid al-Bashri. Demikian yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Tawâlî al-Ta’sîs bi Ma’âlî ibn Idrîs, Op. Cit., halaman 53.

Adapun nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhamad bin al-Hasan bin Farqad asy-Syaybani, yang terkenal sebagai sahabat Imam Abu Hanifah. Ia mendalami fiqih rasional di Kufah. Ahli fiqih ini lahir pada tahun 132 H. Ia belum sempat belajar banyak kepada Abu Hanifah, karena gurunya itu telah meninggal lebih dulu. Untuk itu ia belajar kepada Abu Yusuf. Ia termasuk murid yang sangat pandai dan cerdas. Sehingga dapat belajar dengan cepat dan akhirnya menjadi rujukan utama bagi orang yang ingin mendalami fiqih rasional. Ia juga merupakan orang yang mempunyai andil besar dalam pengembangan madzhab Abu Hanifah.  Karena hanya dialah yang meninggalkan banyak karya tulis tentang fiqih Hanafi. Sahabat Khalifah Harun ar-Rasyid ini meninggal pada tahun 179 H. di kota Ray. Lihat, al-Khudhari, Op. Cit., halaman 234.
[2] Nama lengkapnya adalah Waki’ bin al-Jarrah bin Mulih bin ‘Addi al-Kufi. Ibnu Sa’d mengkategorikannya sebagai periwayat hadis tingkat ketujuh (ath-thabaqah as-sâbi’ah). Nama kunyahnya adalah Abu Sufyan. Ia menunaikan ibadah haji pada tahun 196 H. Dalam perjalanan pulang dari haji, ia meninggal di kota Faid pada bulan Muharram 197 H. atau tepatnya pada masa pemerintahan anaknya Harun ar-Rasyid. Ia termasuk rawi hadis yang terpercaya, alim, banyak meriwayatkan hadis dan periwayatannya dapat dijadikan sebagai hujjah. Ibnu Sa’d, Op. Cit., VI/394.
[3] Nama lengkapnya adalah Abdul Wahhab bin Abdul Majid ats-Tsaqafi dan nama kunyahnya Abu Muhamad. Ibnu Sa’d mengkategorikannya sebagai periwayat hadis tingkat keenam (ath-thabaqah as-sâdisah). Ia lahir pada tahun 108 H. Ia termasuk periwayat hadis yang kredibel, namun ada sedikit periwayatannya yang dinilai lemah. Ibnu Sa’d berkata; ‘Affan bin Muslim berkata; Wuhaib menceritakan kepada kami; Ayyub berkata kepada kami, “Ketika Abdul Majid meninggal dunia, orang-orang banyak memberikan perhatian kepada Abdul Wahhab.” Abdul Wahhab sendiri wafat di Bashrah pada tahun 194 H. pada masa pemerintahan Muhamad bin Harun. Ibnu Sa’d, Op. Cit., VII/289.