Fiqih Mekah


Aliran fiqih Mekah dikembangkan oleh dua tokoh terkenal dari kalangan sahabat, yaitu: Mu’adz bin Jabal dan Abdullah bin ‘Abbas. Rasulullah Saw. pernah mendelegasikan Mu’adz bin Jabal untuk mengajarkan agama (fiqih) kepada penduduk Mekah setelah “Penaklukan Kota Mekah.” Ia juga ditugaskan untuk mengajarkan mereka tentang hukum halal-haram dan al-Qur’an. Ia tergolong sebagai sahabat muda Anshar (pribumi Madinah) yang alim dan dermawan, bahkan dianggapp sebagai sahabat Rasulullah Saw. yang paling mengerti tentang hukum halal dan haram, serta paling pandai al-Qur’an. Rasulullah Saw. menegaskan dalam sabdanya, “Mu’adz bin Jabal adalah orang yang paling mengerti dari umatku mengenai halal dan haram.”[1]

Sementara Abdullah bin ‘Abbas baru menetap di Mekah menjelang akhir hayatnya Mu’adz bin Jabal. Ia sengaja pindah ke Mekah untuk menghindari konflik politik yang terjadi antara Abdul Malik bin Marwan dan Abdullah bin az-Zubair. Sebelumnya ia tinggal di Bashrah dan Madinah sebagai pengajar dan mufti. Ia mengajarkan tafsir, hadis, fiqih, dan sastera di Masjidil Haram. Ia adalah sahabat yang paling mengerti tentang ta’wîl (interpertasi) al-Qur’an. Rasulullah Saw. telah memberkatinya dengan mengusap kepalanya sambil berdoa, “Ya Allah, ajarkanlah hikmah dan ta’wîl al-Qur’an kepadanya.” Abdullah bin ‘Abbas dan teman-temannya adalah orang yang paling berjasa mengembangkan fiqih Mekah dan mencetak generasi penerusnya yang terkenal di bidang keilmuwan.[2]

Tokoh-tokoh terkenal dari generasi tabi’in, antara lain: ‘Atha’ bin Abu Rabah, Thawus bin Kaisan, Mujahid bin Jabr, ‘Ubaid, bin ‘Umair, ‘Amr bin Dinar, Abdullah bin Abu Mulaikah, Abdurrahman bin Sabit, dan ‘Ikrimah bin ‘Abbas. Dari derertan tokoh-tokoh fiqih Mekah ini, yang paling terkenal adalah Mujahid bin Jabr, yang kondang disebut sebagai periwayat pendapat-pendapat tafsir Ibnu ‘Abbas. Sementara ‘Atha’ bin Abu Rabah terkenal sebagai ahli fiqih, zahid kota Mekah, dan orang yang paling mengerti tentang manâsik haji. Thawus bin Kaisan yang sempat bertemu dengan sejumlah sahabat dan meriwayatkan hadis dari mereka juga terkenal sebagai murid utama Ibnu ‘Abbas, pimpinan para tabi’in, ahli fiqih dan mufti Mekah.[3]

Pengajaran fiqih Mekah ini terus ditransformasikan dari generasi ke generasi, sampai pada masanya Sufyan bin ‘Uyainah bin Abu ‘Imran Maimun al-Hilali (w. 198 H.), Muslim bin Khalid az-Zanji (w. 180 H.), dan Sa’id bin Salim al-Qaddah, serta mereka adalah guru fiqihnya Imam Syafi’i sewaktu di Mekah. Imam Syafi’i juga belajar fiqih kepada Dawud bin Abdurrahman al-‘Aththar (w. 174 H.). Abdul Majid bin Abdul ‘Aziz bin Abu Rawad yang nama kunyahnya adalah Abu Abdul Hamid. Ia termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadis lemah dan menganut paham Murji’ah.[4]


  • [1] Prof. Ahmad Amin, Fajr al-Islâm, Op. Cit., halaman 173.
  • [2] Ibnu Sa’d, ath-Thabaqât al-Kubrâ, Op. Cit., II/347-348; Prof. Ahmad Amin, Fajr al-Islâm, Op. Cit., halaman 173-174; dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Ishâbah fî Tamyîz ash-Shahâbah, Op. Cit., II/327.
  • [3] Ibnu al-Qayyim, A’lâm al-Muwaqqi’în, Op. Cit., I/234; Prof. Ahmad Amin, Fajr al-Islâm, Op. Cit., halaman 174; dan Ibnu Sa’d, ath-Thabaqât al-Kubrâ, Op. Cit., V/466-467.
  • [4] Prof. Ahmad Amin, Fajr al-Islâm, Op. Cit., halaman 174; Ibnu al-Qayyim, A’lâm al-Muwaqqi’în, I/24; dan Ibnu Sa’d, ath-Thabaqât al-Kubrâ, Op. Cit., V/497-500.