Syi’ah
Semenjak masa Rasulullah Saw. serta dua khalifahnya, yaitu Abu Bakar dan ‘Umar, belum pernah ditemukan adanya satu golongan politik atau golongan agama yang banyak pengikutnya, mempunyai karakter dan identitas khusus, dan memiliki target yang jelas. Golongan itu baru muncul pada akhir masa kekhalifahan ‘Utsman. Mereka adalah orang-orang Syi’ah yang sangat setia kepada ‘Ali. Mereka meyakini kekhalifahan Ali didasarkan pada nash (ketetapan berdasarkan teks suci) dan wasiat dari Rasulullah Saw., baik yang disampaikan secara jelas maupun samar. Menurut mereka, seharusnya imâmah (tampuk kepemimpinan) itu diduduki oleh Ali dan keturunannya, serta tidak boleh lepas darinya. Jika terlepas, itu berarti disebabkan oleh kezaliman dari orang lain; atau karena taqiyah dari ‘Ali sendiri. Imâmah adalah rukun agama. Rasulullah Saw. tidak mungkin melupakannya atau menyia-nyiakannya, dan tidak mungkin menyerahkannya kepada masyarakat umum.
1) Asal Usul Syi’ah dan Perkembangannya
Para ulama masih berbeda pendapat mengenai asal usul Syi’ah dan perkembangannya. Menurut Prof. Walhus, akidah Syi’ah banyak terpengaruh oleh ajaran Yahudi, bukan Persia, mengingat pendirinya adalah Abdullah bin Saba’ yang berasal dari Yahudi.[1] Prof. Dawzi cenderung pada pendapat yang menyatakan bahwa pendiri aliran Syi’ah adalah orang Persia. Orang Arab memeluk agama dengan bebas dan tanpa paksaan. Sementara orang Persia beragama sesuai dengan agama warisan nenek moyangnya dan mereka tidak mengenal urgensi pemilihan khalifah.[2]
Menurut Prof. Ahmad Amin, Syi’ah sudah muncul sebelum orang-orang Persia masuk Islam, tetapi masih belum ekstrim seperti sekarang. Mereka hanya berpendapat bahwa Ali lebih utama daripada para sahabat lainnya karena dua hal: kepribadiannya yang agung dan kedekatannya dengan Nabi Muhamad Saw. Kemudian paham Syi’ah ini berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan adanya kasus pembunuhan terhadap ‘Utsman.[3] Pernyataan ini disepakati oleh Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud. Ia menilai, pada mulanya orang Syi’ah hanya mengagumi kepribadian Ali dan kedekatannya dengan Rasulullah Saw.[4]
Syeikh Abu Zahroh berpendapat, Syi’ah adalah golongan Islam yang paling tua. Pemikiran politik mereka tampak jelas pada akhir masa kekhalifahan ‘Utsman. Paham Syi’ah tumbuh dan berkembang pada masa kekhalifahan ‘Ali.[5] Pendapat ini dikemukakan juga oleh Ibnu an-Nadim dalam kitab al-Fihrisat.[6]
Sedangkan menurut Muhamad Jawwad, pengikut Syi’ah sekte Imamiah; “Sebenarnya perjalanan paham Syi’ah seiring dengan sejarah penegasan dari Nabi Saw. bahwa kursi kekhalifahan diperuntukkan bagi ‘Ali. Para sahabat juga menganggap ‘Ali adalah sahabat utama Rasulullah Saw.[7]
Sepintas pendapat-pendapat di atas sangat kontradiktif, namun jika dikaji lebih mendalam, sebenarnya tidak ada pertentangan antara pendapat-pendapat tersebut. Karena perbedaannya terletak di kulit saja, bukan pada substansinya. Prof. Walhus dan Dawzi berpendapat tentang asal usul Syi’ah dengan melihat siapa yang menggagasnya, meskipun keduanya memiliki persepektif yang berbeda. Mungkin Prof. Walhus melihatnya dari sisi pemikiran Syi’ah tentang konsep ruj’ah. Yakni neraka diharamkan membakar tubuh orang Syi’ah, kecuali beberapa saat saja. Pemikiran seperti ini sejalan dengan pernyataan orang Yahudi yang menyatakan, “Kami tidak akan terbakar api neraka, kecuali hanya beberapa hari saja.” Kemudian secara kebetulan, pendiri Syi’ah adalah Abdulah bin Saba’ yang asli orang Yahudi. Karena itu, bukan tidak mungkin kalau konsep tentang ruj’ah itu dikemukakan olehnya untuk mengotori kemurnian akidah Islam. Sedangkan Prof. Dawzi melihatnya dari sisi pemikiran Syi’ah tentang konsep ‘ishmah (terjaga dari dosa) dan agama warisan. Kedua konsep ini merupakan pemikiran orang Persia dan orang Arab tidak mengenalnya. Konsep ‘ishmah atau kema’shûman dalam ajaran Islam hanya berlaku bagi para malaikat, dan tidak berlaku bagi jin dan manusia, kecuali para nabi dan rasul.
Adapun Prof. Ahmad Amin dan Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud memandang Syi’ah dari aspek bahasa. Yakni pengertian Syi’ah secara bahasa. Namun menurut kami, pengartian Syi’ah secara bahasa tidak dikhususkan bagi sahabat ‘Ali saja, karena bisa berlaku juga bagi orang lain. Di samping itu, hampir setiap orang memiliki pendukung dan pembelanya masing-masing. Meskipun kondisi kepribadian orang tersebut tidak sesempurna ‘Ali. Dukungan dan belaan lebih berkaitan dengan rasa kemanusiawian, perasaan manusia sama saja di mana pun manusia itu berada.
Sementara itu syeikh Abu Zahroh dan Ibnu an-Nadim memandang Syi’ah dari realitas yang ada. Yakni memandang Syi’ah sebagai sebuah jama’ah yang memiliki karakter khusus, indentitas tertentu, dan tujuan yang jelas. Syi’ah dengan makna seperti ini baru ditemukan pada akhir masa kekhalifahan ‘Utsman. Adapun Mahmud Jawwad memandang Syi’ah dengan persepektif kesyi’ahannya sendiri. Karena itu, pandangannya cenderung subjektif.
[1] Profesor Ahmad Amin, Fajr al-Islâm, (T.tp. : Lajnah at-Ta’lif, 1959), halaman 277.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, at-Tafkîr al-Falsafî fî al-Islâm, (T.tp. : Mukhaymar, t.th.), halaman 164.
[5] Syeikh Abu Zahroh, Kitâb asy-Syâfi’î, halaman 90.
[6] Ibnu an-Nadim, Op. Cit., halaman 249.
[7] Mahmud Jawwad, asy-Syi’ah wa al-Hâkimûn, (Beirut : t.p., t.th.), halaman 15.