Musnad asy-Syafi’i


Imam ar-Razi berkata, “Karyanya yang berjudul Musnad asy-Syâfi’î adalah kitab yang sangat terkenal dan tidak ada seorang pun yang mencelanya.”[1] Syeikh Muhamad al-Khudhari menegaskan, Imam Syafi’i mempunyai kitab Musnad lainnya, yaitu hadis-hadis musnad[2] yang diriwayatkannya dalam kitab al-Umm.[3] Anehnya, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani tidak memasukkan kitab Musnad  ini dalam data nama-nama kitab karya Syafi’i yang diringkas oleh al-Baihaqi. Kami tidak tahu pasti, apakah Imam al-Baihaqi menyebutkannya dalam kitabnya atau tidak. Ibnu an-Nadim juga tidak memasukkan kitab ini dalam daftar nama kitab-kitab karya Syafi’i yang disebutkan dalam kitab al-Fihris.[4]

Sebagian para ulama menyatakan, kitab al-Musnad bukan tulisan Syafi’i sendiri. Tetapi, tulisan Abu al-‘Abbas al-Ashamm, hasil kompilasi dari ceramah-ceramah Imam Syafi’i yang disampaikan kepada sebagian sahabatnya. Ahmad Abdurrahman al-Bana mengutip pernyataan Muhamad bin Ja’far al-Kattani dalam kitab ar-Risâlah al-Mustathrafah; “Kitab Musnad yang disebut-sebut sebagai karyanya orang alim Quraisy dan reformasi agama abad ke 2 hijriyah, bukanlah tulisannya sendiri. Kitab tersebut adalah hasil kompilasi dari hadis-hadis yang diriwayatkan secara marfû’ maupun mawqûf. Hadis-hadis tersebut merupakan hadis-hadis yang didengar oleh Abu al-‘Abbas Muhamad bin Ya’qub bin Yusuf bin Muqbil bin Sannan al-Ashamm al-Umawi, dari ar-Rabi’ bin Sulaiman bin Abdul Jabbar bin Kamil al-Muradi. Dan riwayat-riwayat yang ditulis oleh Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm dan al-Mabsûth. Menurut pendapat lain, kitab Musnad adalah kitab yang sengaja ditulis oleh Abu al-‘Abbas al-Ashamm. Kemudian ia menamakannya “Musnad asy-Syâfi’î”. Kitab ini belum disistematiskan dengan baik, sehingga masih terjadi pengulangan di beberapa tempat yang sebetulnya tidak perlu.”[5]

Al-Bana menegaskan, dari hasil penelitian disimpulkan bahwa kitab al-Musnad adalah kitab yang ditulis oleh Abu al-‘Abbas al-Ashamm dari karya-karya Syafi’i seperti al-Mabsûth, al-Umm, Kitâb Istiqbâl al-Qiblat, Kitâb al-Amâlî, Kitâb ash-Shiyâm al-Kabîr, Kitâb Ikhtilâf al-Hadîts, Kitâb ar-Risâlah, dan sebagainya. Kebanyakan hadis-hadis yang disebutkan dalam kitab tersebut diambil dari kitab al-Umm. Al-Ashamm sendiri mendengar hadis-hadis tersebut dari ar-Rabi’ bin Sulaiman, sebagaiman ditegaskan dalam pernyataannya, “Kami selesai mendengarkan Kitab Syafi’i pada hari Rabu, 15 Sya’ban 266 H. Kami telah merampungkan pembacaan kitab tersebut dari awal sampai akhir, dari ar-Rabi’.

Hadis-hadis yang disebutkan dalam kitab al-Musnad bukan semua hadis yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i, hadis-hadis yang dijadikan dalil hukum oleh Syafi’i, dan bukan pula semua hadis yang disebutkan oleh Imam Syafi’i dalam karya-karyanya. Tetapi, hadis-hadis tersebut adalah hadis-hadis pilihan yang diseleksi oleh al-Ashamm, dari hadis-hadis yang jumlahnya sangat banyak. Meskipun hadis-hadis tersebut tidak banyak, tetapi termasuk hadis-hadis penting yang berkaitan dengan hukum-hukum fiqih dan dalil-dalil syari’at. Semoga Allah memberikan kebaikan kepada orang yang telah berjasa mengumpulkannya.

Prof. Mushthafa Abdurraziq berkata, “Berdasarkan hasil penelitianku terhadap kitab Thabqât asy-Syâfi’iyyah karya an-Nawawi, yang saya ambil dari manuskrip yang ada di perpustakaan Mesir, tepatnya pada penelitian terhadap biografi Muhamad bin Ya’qub bin Yusuf Abu al-‘Abbas as-Sannani an-Naisaburi yang terkenal dengan sebutan al-Ashamm yang lahir pada tahun 249 H. (863 m.), dapat disimpulkan bahwa Musnad asy-Syâfi’î bukan termasuk tulisan Imam Syafi’i sendiri. Tetapi, kitab ini merupakan hasil kodifikasi dari hadis-hadis yang didengar oleh al-Asham dari sebagian para sahabat Imam Syafi’i. Karena itu, hadis-hadis tersebut tidak patut disebut sebagai hadis-hadis Syafi’i, sebab jumlahnya sangat terbatas, yaitu sebanyak yang didengar oleh al-Ashamm saja.”[6]


  • [1] Ar-Razi, Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î, Op. Cit., halaman 83.
  • [2] Hadis Musnad adalah hadis yang disandarkan langsung kepada Rasulullah Saw. Menurut sebagian ulama, hadis musnad lebih tinggi kualitas daripada hadis marfû’, penerj.
  • [3] Muhamad al-Khudhari, Târikh at-Tasyrî’ al-Islâmî, Op. Cit., halaman 319.
  • [4] Ibnu an-Nadim, al-Fihris, (T.tp. : ar-Rahmaniyyah, t.th), halaman 295-296.
  • [5] Ahmad Abdurrahman al-Bana, Syarh Badâ’i al-Manan fî Jam’in wa Tartîb Musnad asy-Syâfi’î wa as-Sunan, (T.tp : Dar al-Anwar, 1950), halaman 3-7.
  • [6] Prof. Mushthafa Abdurraziq, Tamhîd li Târîkh al-Falsafah al-Islâmiyyah, Op. Cit., halaman 229.