Perbuatan Manusia
Dalam pengantar kitab ar-Risâlah, Syafi’i berkata, “Saya mohon petunjuk-Nya, karena orang yang mendapat petunjuk-Nya tidak akan pernah tersesat.” Sementara Mu’tazilah mengatakan, petunjuk Allah itu berlaku umum, baik kepada orang mu’min maupun orang kafir. Selanjutnya Syafi’i mengatakan, “Manusia itu tidak sanggup menciptakan perbuatan-perbuatannya, karena perbuatan manusia adalah hasil ciptaan Allah.” Al-Muzani pernah bertanya kepada Syafi’i, “Siapakah orang-orang Qadariyah itu?” Syafi’i menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang mengira bahwa Allah itu tidak mengetahui kemaksiatan sampai kemaksiatan itu dilakukan seseorang.” Al-Baihaqi meriwayatkan dari Syafi’i, ketika muazin mengucapkan “hayya ‘alash shalât, hayya ‘alal falâh (mari menunaikan salat, mari meraih kemenangan),” maka orang yang mendengarnya disunnahkan untuk mengucapkan “la haula wala quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya melainkan atas kekuatan Allah). Ini artinya, manusia tidak mempunyai kekuatan untuk menunaikan ketaatan kepada Allah (salat), kecuali atas pertolongan dan taufik dari Allah Swt.[1]
Meski pendapat Syafi’i tentang Mu’tazilah sudah tampak jelas, namun masih ada saja orang yang menganggapnya sebagai pengikut Mu’tazilah. Bahkan Mu’tazilah sendiri mengklaim Syafi’i sebagai pendukungnya. Sebagaimana ditegaskan oleh al-Qadhi Abdul Jabbar bin Ahmad al-Hamadani, dalam kitab Thabaqât al-Mu’tazilah. Ia berkata, “Ibrahim bin Yahya al-Madani belajar kepada ‘Amr bin ‘Ubaid; dalam hal ini Ibrahim adalah orang Mu’tazilah tulen. Muslim bin Khalid az-Zanji belajar kepada Ghalan. Sementara Syafi’i adalah muridnya Ibrahim bin Yahya dan Muslim bin Khalid. Dengan demikian, Syafi’i adalah pengikut dari dua orang yang mempunyai konsep tentang keadilan dan tauhid Allah (Mu’tazilah), yaitu : Ibrahim dan Muslim.”[2]
Menurut sebagian ulama, alasan Syafi’i dianggap sebagai pengikut Mu’tazilah karena dalam membaca beberapa ayat al-Qur’an, Syafi’i mengikuti cara bacanya Mu’tazilah, seperti dalam beberapa ayat berikut ini:
Pertama, ayat 156 surat al-A’râf:
عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَسَاء
“Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada orang yang berbuat dosa.”
Pada ayat ini, Syafi’i membacanya dengan Sîn kecil (أساء), sebagai ganti dari Syîn besar (أشاء) sebagaimana yang terdapat dalam qirâ’ah masyhûrah (bacaan yang terkenal). Dalam qirâ’ah masyhûrah, ayat tersebut berarti bahwa Allah Swt. akan menyiksa siapa pun yang dikehendaki-Nya, baik orang yang berbuat baik maupun berbuat dosa. Sedangkan dalam qirâ’ahnya Syafi’i, ayat tersebut berarti, Allah hanya akan menyiksa orang yang berbuat dosa.
Kedua, ayat 17 dalam surat as-Sabâ’:
وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ
“Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.”
Dengan membaca kasrah pada huruf Zâ’ dalam kata نجازِى dan fathah pada huruf Râ’ kata إلا الكفورَ . Maksud ayat ini, mempertegas ancaman kepada para pelaku dosa besar.
Ketiga, ayat 49 surat al-Qamar:
إِنَّا كُلُّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”
Syafi’i membaca Rafa’ (dhammah) pada huruf Lâm dalam kata كلّ, sehingga kata sesudahnya yaitu kata خلقناه menjadi sifat bagi kata كل شيء. Dengan demikian, secara perkiraan bahasa (taqdîr), ayat tersebut bermakna, segala sesuatu adalah makhluk Kami, yang diciptakan sesuai ukuran. Sementara jika kata كلَّ شيء خلقناه dibaca dengan Nashab (fathah), maka secara perkiraan bahasa, ayat tersebut berarti, sesungguhnya kami telah menciptakan segala sesuatu sesuai ukuran.[3]
Imam ar-Razi telah membantah berbagai tuduhan yang menganggap Syafi’i sebagai penganut Mu’tazilah. Ia menegaskan, pendapat al-Qadhi Abdul Jabbar sangat lemah, karena orang yang belajar fiqih dan hadis kepada orang Mu’tazilah, bukan berarti muridnya itu menjadi pengikut Mu’tazilah. Sebaliknya, kalau diteliti secara seksama banyak sekali syair dan pendapat Syafi’i yang tegas menolak paham Mu’tazilah. Alasan yang cukup logis adalah Syafi’i mengikuti qirâ’ahnya Mu’tazilah. Namun demikian, riwayat-riwayat tersebut masih dipertanyakan keshahihannya. Kalau riwayatnya shahih, mungkin bisa dijadikan sebagai indikasi bahwa Syafi’i pengikut Mu’tazilah. Tetapi seringnya Syafi’i membantah pemikiran-pemikiran Mu’tazilah merupakan indikasi kuat bahwa Syafi’i bukanlah pengikut Mu’tazilah. Dengan demikian, tuduhan mereka itu tidak bisa dibenarkan.[4]
Imam Abu Hatim ar-Razi menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Muhamad, dari ayahnya, dari ar-Rabi’ bin Sulaiman. Ia berkata, “Syafi’i telah menjelaskan status Ibrahim bin Abu Yahya dan menegaskan bahwa ia adalah orang Qadariyah.” Sedangkan menurut Abu Muhamad, Syafi’i tidak menjelaskan status Ibrahim bin Abu Yahya. Hanya saja, ia dianggap sebagai rawi pendusta,[5] alasannya karena banyak orang yang tidak suka dengan pemikirannya tentang takdir.[6]
[1] Ibid., halaman 41, 44, dan 46.
[2] Ibid., halaman 50.
[3] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 50.
[4] Ibid., halaman 51.
[5] Syeikh Abdul Ghani Abdul Khaliq berkomentar, “Syafi’i pernah mengatakan bahwa bagi Ibrahim bin Abu Yahya lebih baik jatuh dari gunung daripada harus mendustakan hadis. Ia adalah rawi hadis yang kredibel, bahkan hafalannya lebih unggul daripada ad-Darawardi. Lihat, at-Tahdzîb, 1/159 dan 161; dan Manâqib al-Fakhr, halaman 85. Dengan demikian, bid’ah pemikiran yang dilontarkan oleh Ibrahim bin Abu Yahya tidak mengharuskan periwayatan hadisnya ditolak, karena kredibilitasnya sudah jelas dan orangnya jujur. Sehingga penilaian sebagian ulama yang menganggapnya sebagai pendusta tidak berpengaruh apa-apa. Demikian pula dengan kritikan keras adz-Dzahabi terhadapnya yang disebutkan dalam kitab al-Mîzân, I/28, bahwa ia adalah pendusta. Kaidah tersebut tidak bisa diterapkan secara umum, karena Ibrahim hanya berpikiran nyleneh, bukan pendusta, sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu as-Subuki dan lainnya.
[6] Abu Hatim ar-Razi, Âdâb asy-Syâfi’î wa Manâqibuhu, (T.tp. : as-Sa’adah, 1953), halaman 223.