b). al-Qur’an
Abu Syu’aib al-Mishri berkata, saya mendengar Syafi’i mengatakan bahwa Kalam Allah itu bukan makhluk. Diriwayatkan dari ar-Rabi’, Hafsh al-Fara berkata kepada Syafi’i bahwa al-Qur’an itu makhluk. Maka Syafi’i berkata, kamu telah kafir kepada Allah.[1] Diriwayatkan dari Syafi’i, ia berkata, “Saya sering menentang Ibrahim bin ‘Aliyyah, hingga dalam masalah mengucapkan la ilaha illallah. Saya mengatakan ‘la ilaha illallah alladzî kallama Mûsa min warâ’i hijâb (tidak ada tuhan selain Allah yang telah bercakap-cakap dengan Musa dari belakang tabir).’ Sedangkan Ibrahim bin ‘Aliyyah mengatakan ‘la ilaha illallah alladzî khalaqa kalâman sami’ahu Mûsa min warâ’i hijâb (idak ada tuhan selain Allah yang telah menciptakan kalam yang didengar oleh Musa dari belakang tabir).”[2]
Imam al-Baihaqi merekam percakapan antara Syafi’i dengan orang Kufah dari riwayat Muhamad az-Zubairi. Berikut petikannya:
Orang Kufah: “Apakah al-Qur’an itu khâliq (pencipta)?”
Syafi’i: “Bukan.”
Orang Kufah: “Kalau begitu apakah al-Qur’an itu makhluk?”
Syafi’i: “Bukan juga.”
Orang Kufah: “Berarti al-Qur’an itu bukan makhluk.”
Syafi’i: “Ya.”
Orang Kufah: “Apa dalilnya kalau al-Qur’an itu bukan makhluk?”
Syafi’i: “Bukankah anda tahu kalau al-Qur’an itu kalamullah?”
Orang Kufah: “Ya.”
Syafi’i: “Perhatikan firman Allah ini, ‘Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,’[3] ‘Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.’[4] Bukankah Allah itu ada dan kalam-Nya juga ada? Ataukah Allah itu ada, sementara kalam-Nya tidak ada?”
Orang Kufah: “Ya, Allah itu ada dan kalam-Nya juga ada.”
Syafi’i: “Hai orang Kufah, sungguh anda telah mempertanyakan masalah besar kepadaku. Jika anda berpikiran, al-Qur’an itu makhluk, maka dari manakah asal kalam itu? Apakah kalam itu Allah sendiri, bukan Allah, Zat Allah, atau sesuatu yang selain Allah?”
Akhirnya, orang Kufah itu terdiam dan meninggalkan Syafi’i.[5] Yunus bin Abdul A’la’ berkata, saya mendengar Syafi’i berkata, “Jika kamu mendengar seseorang mengatakan bahwa nama itu tidak sama dengan pemilik namanya, maka saksikanlah bahwa orang itu zindiq.”[6]
[1] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 40-41. Kata al-Fara (الفرا) ditulis dengan Alif, mungkin yang benar adalah Hafsh al-Fard (حفص الفرد) dengan Dal, sebagaimana disebutkan dalam kitab Âdâb asy-Syâfi’î wa Manâqibuhu, karya Imam Abu Hatim ar-Razi, halaman 194.
[2] Ibid., halaman 41.
[3] QS. at-Taubah (9) : 129.
[4] QS. an-Nisâ’ (4) : 176.
[5] Al-Baihaqi, Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î, halaman 63.
[6] Ibid., halaman 62.