Taqiyah


d). Taqiyah

Taqiyah berarti memperlihatkan ketaatan dan kesetiaan untuk menjaga kehormatan, jiwa, dan harta benda. Taqiyah adalah sebuah siasat rahasia, yang menurut Syi’ah disebut an-nizhâm as-sirrî (sistem rahasia). Jika imam ingin melakukan pemberontakan atau kudeta terhadap khalifah, maka ia menyusun strategi dan perencanaan yang matang. Lalu ia memberitahukan rencana tersebut secara rahasia kepada para pengikutnya. Selama rencana tersebut belum berhasil, mereka diharuskan tetap taat kepada khalifah yang sah. Itulah makna taqiyah yang sesungguhnya. Jika mereka merasakan adanya ancaman dari orang kafir atau golongan sunni, maka mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan seakan-akan mereka tetap menjalani aturan. Sikap seperti ini bisa juga disebut sebagai taqiyah. Atas dasar inilah, sebagian mereka menyarankan,  kepada orang-orang Syi’ah yang berkumpul dengan ahli sunnah agar tetap mengikuti tata cara salat mereka, puasa mereka, dan semua tata cara beragama ala sunni. Sikap Syi’ah yang seperti ini sangat bertolak belakang dengan pemikiran Khawarij yang mewajibkan untuk memberontak kepada penguasa yang zalim.[1]

Menurut Prof. Ahmad Amin, pada hakikatnya Syi’ah sangat cocok menjadi tempat perlindungan agi orang yang ingin menghancurkan Islam karena unsur permusuhan atau dendam. Syi’ah juga bisa menjadi media yang tepat bagi orang yang ingin merusak ajaran Islam dengan menyebarkan pemikiran-pemikiran dari agama Yahudi, Nashrani, Zaratusta, dan Hindu; serta bisa menjadi kendaraan politik bagi orang yang ingin memerdekakan negaranya dan keluar dari kekuasaan negara tertentu. Mereka semua menjadikan kecintaan kepada ahli bait sebagai tabir untuk menutupi segala rencana jahat yang dicita-citakannya itu. Orang-orang Yahudi menampakkan kesyi’ahan mereka dengan cara mengemukakan konsep raj’iyyah. Karena itu, orang Syi’ah mengatakan, “Neraka diharamkan membakar tubuh orang Syi’ah, kecuali beberapa saat saja.” Sebagaimana pernyataan orang Yahudi, “Kami tidak akan terbakar api neraka, kecuali hanya beberapa hari saja.” Orang Nashrani menampakkan kesyi’ahan mereka dengan cara memposisikan ‘Ali seperti posisi Nabi ‘Isa. Mereka menganggap ‘Ali atau Nabi ‘Isa adalah titisan Allah. Mereka mengatakan, “Sesungguhnya al-lâhût (sifat ketuhanan) dan an-nâsût (sifat kemanusiaan) telah menyatu dalam diri seorang imam, serta kenabian dan risalah tidak pernah terputus. Karena itu, orang yang telah menyatu dengan sifat ketuhanan dapat dikategorikan sebagai nabi, dan seterusnya.”[2]

Demikian sekelumit tentang golongan Syi’ah. Selanjutnya Syi’ah terpecah menjadi berbagai macam sekte. Perpecahan itu terjadi akibat tidak adanya kesamaan pola pikir di antara mereka. Ada yang bersikap ekstrim dan keras, sampai-sampai mengkultuskan para imam, seperti yang dilakukan oleh Syi’ah as-Sabi’ah, Syi’ah al-Mughiriah, dan Syi’ah al-Khithabiyah. Ada juga yang bersikap moderat dan luwes seperti Syi’ah Imamiyah dan Syi’ah Zaidiyah. Penjelasan tentang macam-macam sekte Syi’ah diuraikan secara lengkap dalam kitab al-Milal wa an-Nihal karya asy-Syahrastani. Karena itu, kami tidak akan membahasnya secara rinci. Namun yang paling penting diketahui adalah pengaruh Syi’ah terhadap Fiqih Islam.


[1] Ibid., III/246-247.
[2] Profesor Ahmad Amin, Fajr al-Islâm, Op. Cit., halaman 276.