Pengaruh Tiga Kebudayaan Besar terhadap Akidah Islam
Keberhasilan ekspansi Islam, masuknya berbagai bangsa dalam wilayah kekuasaan Islam, dan terikatnya setiap individu dengan ajaran Islam, membawa dampak positif bagi kejayaan Islam dan kaum muslimin. Namun demikian, ada sisi-sisi negatif di balik itu semua yang tidak bisa dihindarkan, dan sedikit banyaknya mempengaruhi masyarakat Islam dan kaum muslimin.
Kita tidak bisa menolak realitas adanya sebagian orang yang masuk Islam dengan alasan-alasan tertentu, karena tidak ingin bayar pajak, takut kehilangan jabatannya, atau ingin balas dendam. Alasan terakhir inilah yang paling berbahaya, karena bisa menjadi bahaya laten bagi Islam. Mereka sengaja masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam, merusak akidah Islam dengan paham-paham teologi yang batil, dan menyebarkan perpecahan di antara kaum muslimin. Mereka adalah musuh dalam selimut yang paling berbahaya. Mereka menampakkan keislamannya, tapi juga menyimpan niat jahat terhadap Islam.
Penerjemahan buku-buku Yunani, Persia, dan India yang berhubungan dengan ilmu filsafat, logika, kedokteran, matematika, teologi, dan sebagainya, memang memberikan kontribusi yang sangat positif bagi perkembangan Islam. Namun demikian, ada dampak negatif dari kegiatan tersebut. Yaitu sacara tidak langsung telah mengotori kemurnian akidah Islam, memecah belah persatuan kaum muslimin, dan mengoyak kesatuan pendapat kaum muslimin. Hal ini dikarenakan sebagian kaum muslimin terlalu menggunakan rasio dan logika dalam pembahasan masalah-masalah ketuhannan dan akidah. Karena itulah, konflik antar aliran, baik politik maupun teologi, pada masa Syafi’i semakin meruncing. Bahkan, sempat terjadi adu kekuatan dan pedang, bukan lagi adu argumen dan logika. Konflik paling seru yang pernah terjadi adalah permusuhan antara orang-orang atheis (az-zanâdiqah), orang-orang Khawarij, orang-orang Syia’h dan para pengikut Bani ‘Abbas. Konflik yang sama terjadi pula antara Tiga Golongan tersebut dan para ahli teologi. Juga konflik antara para ahli teologi dengan para ahli fiqih dan ahli hadis. Serta konflik antara sebagian golongan Islam dan aliran Mu’tazilah.
Dalam hal ini, Imam Syafi’i ikut terlibat dalam konflik pemikiran tersebut, karena ia termasuk dari satu golongan yang berseteru itu. Imam Syafi’i merupakan representasi dari golongan ahli fiqih dan ahli hadis. Karena itu, dalam pembahasan ini, patut kiranya kita membahas tentang sebagian golongan Islam, agar kita dapat mengetahui hakikat dan tujuan masing-masing golongan itu, serta mengetahui sikap Imam Syafi’i terhadap golongan-golongan itu. Kami membatasi pembahasan ini hanya dalam 4 golongan besar, yaitu: Zindiq, Syi’ah, Khawarij, dan Mu’tazilah.