Pengaruh Kebudayaan Yunani dan Romawi terhadap Kebudayaan Arab
Kehidupan bangsa Romawi tidak lepas dari pantauan dan pengawasan bangsa Arab. Mereka sudah mempunyai adat, tradisi, pemikiran, pandangan-pandangan hukum, politik, dan sebagainya. Mereka juga memiliki kesenian tersendiri, baik seni suara, seni rupa, dan sebagainya. Di Siria terdapat banyak orang Arab dan orang Romawi. Mereka saling berinteraksi satu sama lain. Bahkan peperangan antara dua bangsa ini belum berakhir ketika Islam datang. Pada masa Syafi’i sekarang ini masih sering terjadi peperangan antara bangsa Arab dan Romawi.
Imam ath-Thabari[1] menceritakan bahwa pada tahun 159 H., al-‘Abbas bin Muhamad pernah menyerang Romawi sampai ke Ankara. Penyerangan itu dikenal dengan istilah “Perang Musim Panas.” Peperangan ini terus berlanjut. Pada tahun 161 H., Tsamamah bin al-Walid pada tahun 161 H. dan berhasil menguasai kota Dabiq; pada tahun 165 H., Harun bin Muhamad al-Mahdi berhasil menaklukkan kota Majidah; pada tahun 181 H., ar-Rasyid berhasil menguasai benteng Shafshaf secara paksa; dan pada tahun 191 H., Hartsamah bin A’yun juga melakukan penyerangan. Peperangan ini berhenti sejenak pada masa kekhalifahan al-Amin. Tidak adanya perang pada masa itu, karena terjadi konflik internal antara khalifah al-Amin dan saudaranya –al-Ma’mun-. Peperangan dengan bangsa Romawi dilanjutkan kembali pada masa kekhalifahan al-Ma’mun.
Banyaknya tawanan perang pada masing-masing pihak yang berperang (Arab dan Romawi) dengan sendirinya menyebabkan pertukaran budaya. Bangsa Romawi menyerap budaya Arab dari orang-orang Arab yang menjadi tawanan perang. Dan bangsa Arab menyerap budaya Romawi dari orang-orang Romawi yang ditawan. Dampak pertukaran budaya tersebut bagi budaya Arab adalah terserapnya kata-kata Romawi ke dalam bahasa Arab. Bukan hanya itu, bangsa Arab juga mengadopsi tradisi Romawi dalam hal nyanyian, makanan, pakaian, dan sebagainya. Bahkan khalifah al-Ma’mun pun mempunyai budak-budak perempuan yang berkebangsaan Romawi. Mereka melayani khalifah dengan tetap mengenakan pakaian ala Romawi, seperti ikat pinggang dan sebagainya.
Sementara itu, Yunani dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan, kesenian, dan gerbangnya para filosof. Jauh sebelum masehi, Yunani sudah tenar dengan filsafatnya, matematika, astronomi, kedokteran, politik, kesenian, dan sebagainya. Banyak para pakar ilmu pengetahuan yang lahir dari Yunani, seperti Claudius yang terkenal sebagai pakar arsitektur dari abad ke – 3 SM. sampai abad ke- 19 M; Charot dan Julius terkenal sebagai peletak dasar-dasar ilmu kedokteran dari zaman klasik sampai abad pertengahan. Sedangkan ilmu filsafat berhasil dikembangkan oleh Socrates, Plato, Aristoteles, dan para filosof Yunani lainnya. Teori Negara Republik yang dikembangkan oleh Aristoteles dan teori politik yang dibangun oleh Plato menjadi sumber inspirasi lahirnya teori-teori politik modern. Demikian pula ilmu-ilmu lainnya, semuanya terinspirasi oleh kebudayaan Yunani.[2]
Kebudayaan Yunani tersebar di berbagai benua, baik Asia maupun Afrika. Wilayah kekuasaan Alexander Agung terbentang luas dari Yunani dan Macedonia di Eropa; Mesir dan Libia di Afrika; Suriah, Palestina, Irak, Persia, Turkistan Afghanistan, Blukhistan, sampai beberapa negara di benua India dan Asia. Kota-kota yang berada di antara sungai Tigris dan Eufrat juga terpengaruh oleh budaya Yunani. Pada masa ini telah diterjemahkan sebagian buku-buku Aristoteles tentang ilmu logika, astronomi seperti buku al-Majistha, dan sebagainya.
Imam Ibnu an-Nadim menyebutkan, dulu antara khalifah al-Ma’mun dan Raja Romawi pernah terjalin hubungan koresponden. Al-Ma’mun mengirimkan surat kepadanya untuk meminta izin agar dikirmkan buku-buku klasik yang berharga yang masih tersimpan rapi di kota Romawi. Awalnya permintaan itu ditolak, namun akhirnya dikabulkan juga. Kemudian al-Ma’mun memerintahkan agar buku-buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Maka, dengan adanya upaya penerjemahan itu, banyak ilmu-ilmu Yunani yang berhasil ditransformasikan ke dalam budaya Arab.[3]
Gerakan penerjemahan itu –khususnya penerjemahan ilmu logika- membawa dampak perubahan besar dalam metode penelitian, diskusi, dan tulisan. Buku-buku para ulama dan ahli fiqih yang ditulis pada masa Bani ‘Abbas sangat berbeda jauh dengan yang ada pada masa sebelumnya. Buku-buku yang ditulis setelah Bani ‘Abbas lebih sistematik, karena para penulisnya sudah mengerti ilmu logika.
Selanjutnya bangsa Arab dan kaum muslimin mengadakan perbaikan-perbaikan dan memberikan polesan-polesan ajaran Islam terhadap kebudayaan Yunani itu. Mereka tidak sekedar mencaplok mentah-mentah kebudayaan tersebut, tetapi berusaha menyeleksinya dengan cara memilih yang terbaik dari kedua budaya tersebut.[4]
[1] Ath-Thabari, Târîkh ath-Thabarî, Op. Cit., VI/352, 368, 379, 370, dan 511.
[2] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I/266.
[3] An-Nadim, Op. Cit., halaman 339-340.
[4] Profesor Ahmad Amin, Op. Cit., I/288-292.