Politik Luar Negeri
Pada masa Syafi’i hanya terjadi sedikit ekspansi Daulah Islamiyah. Bahkan, kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah mengalami penyusutan, khususnya di beberapa wilayah yang jauh dari pantauan pusat pemerintahan yang ada di Baghdad. Seiring dengan rapuhnya kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah, berdirilah kekuasaan Dinasti Adarisah tahun 172 H. di ujung Maroko.[1] Sementara pada tahun 184 H. berdiri pula Dinasti Aghalibah di Tunisia.[2] Dinasti ini didirikan oleh Abdurrahman bin Mu’awiyah bin Hisyam bin Abdul Malik. Pada tahun 138 H., ia melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah dan lari ke Andalusia untuk meminta perlindungan kepada Daulah Umawiyah. Peradaban yang dibangun oleh Dinasti Umawiyyah menjadi inspirasi bagi peradaban Eropa modern. Pemerintahan al-Mahdi tidak berhasil merebut kembali kota Andalusia sebagai kota yang berada di bawah kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah. Abdurahman sukses memimpin Andalusia selama 33 tahun 4 bulan. Ia meninggal pada tahun 172 H.[3]
Sementara itu pada masa yang sama, peperangan antara bangsa Arab dan Bizantium menjadi pertempuran yang sangat tragis. Masing-masing pasukan ingin menghancurkan, merusak, membunuh, dan menjarah harta benda. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan keadaan pada masa kekuasaan Bani Umayyah. Mereka mempunyai perjanjian tertulis yang menegaskan bahwa peperangan melawan Bizantium adalah hanya untuk membebaskan Constantinopel.[4]
Para khalifah dari Bani ‘Abbas kurang memperhatikan masalah perluasan wilayah kekuasaan. Mereka hanya melakukan ekspansi kecil-kecilan ke India dan Sindi. Hal ini disebabkan karena mewabahnya sikap fanatisme dan ketidakmampuan negara membiaya proyek-proyek besar yang sangat bermanfaat. Sehingga upaya ekspansi hanya mampu dilakukan di India dan Sindi saja, yaitu pada masa khalifah al-Hadi dan al-Ma’mun. [5]
Ada kemungkinan lemahnya politik luar negeri pada masa itu disebabkan karena beberapa hal, di antaranya:
a. Para khalifah Bani ‘Abbas tidak ingin menghadapi bahaya besar di kemudian hari yang timbul akibat adanya ekspansi. Karena itu, mereka cenderung melakukan tindakan preventif dan penjagaan terhadap wilayah-wilayah yang telah dikuasai. Jika memungkinkan dilakukan kompensasi terhadap wilayah-wilayah yang lepas. Serta menetapkan sanksi tegas terhadap segala macam bentuk pemberontakan yang dianggap membahayakan stabilitas negara.
b. Kuatnya pengaruh bangsa Persia, namun ambisi mereka tidak sekuat bangsa Arab dalam melakukan ekspansi. Bahkan, mereka juga dianggap sebagai penyebab utama kehidupan glamour dan materialis di istana khalifah.
c. Sebagian khalifah terlalu memberikan perhatian besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Mereka juga terlibat langsung dengan para ulama dalam berbagai macam penelitian dan diskusi. Sehingga hal itu menyebabkan perhatian para khalifah dalam masalah politik luar negeri kurang begitu mendalam.
[1] Dinasti Adarisah berdiri di bawah kekuasaan Abdullah bin al-Hasan bin al-Hasan bin ‘Ali. Ia adalah orang yang melarikan diri dari pertempuran Fakh yang terjadi pada masa kekhalifahan al-Hadi tahun 169 H. Ia bersembunyi di Mesir dan ditolong oleh Wadhih –mantan sahaya Shalih bin al-Manshur-, yang pada saat itu bertugas sebagai kurir pos di Mesir. Kurir inilah yang membantu upaya pelariannya ke ujung Maroko. Akhirnya ia menetap di kota Walila pada tahun 172 H. Yaitu kota pertahanan yang asri ditutupi rindangnya pohon-pohonan dan zaitun, serta dipagari dengan benteng besar yang kokoh. Di kota ini, tinggal juga Ishaq bin Muhamad bin Abdul Hamid, penguasa Eropa yang berasal dari bangsa Barbar darah biru. Lalu bangsa Barbar menyusun kekuatan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti ‘Abbasiyah. Pada Jum’at keempat bulan Rajab 172 H., mereka menobatkan Idris sebagai pemimpin mereka. Idris sendiri meninggal pada tahun 177 H. karena diracun. Lihat, Dr. Hasan Ibrahim, Op. Cit., II/221-222.
[2] Dinasti Aghalibah berdiri di Tunisia atas prakarsa Ibrahim bin al-Aghlab. Ia adalah murid al-Laits bin Sa’d, pakar fiqih dan hadis di Mesir. Sejak dulu, ia memprediksikan muridnya akan menjadi orang besar dan prediksinya itu tidak meleset. Lihat, Dr. Hasan Ibrahim, Op. Cit., II/209-210.
[3] Dr. Hasan Ibrahim, Op. Cit., II/226-235.
[4] Ada dua sebab yang membuat perang itu tidak terkendali. Pertama, perlawanan penduduk Syam terhadap Bani ‘Abbas, karena mereka masih setia pada penguasa dari Bani Umayyah. Kedua, Bani ‘Abbas kurang memperhatikan kekuatan angkatan laut sebagaimana yang dilakukan oleh Bani Umayyah dan hanya mengandalkan kekuatan angkatan darat. Lihat, Dr. Hasan Ibrahim, Op. Cit., II/238-239.
[5] Imam al-Biladzri bercerita, “Dulu kota Sandan berhasil dimerdekakan oleh al-Fadhl bin Mahan –mantan sahaya Bani Samah-. Lalu ia mengirimkan utusannya kepada al-Ma’mun dengan mengendarai gajah dan menyertakan sorang juru tulis. Kemudian al-Ma’mun mengangkatnya sebagai penguasa kota itu. Setelah al-Fadhl wafat, kedudukannya digantikan oleh anaknya, yaitu Muhamad bin al-Fadhl bin Mahan. Ia berlayar ke India dengan 70 armada tempur dan berhasil menaklukkan kota Fail dengan korban yang cukup banyak. Kemudian ia pulang kembali ke kota Sandan.” Lihat, al-Biladzri, Futûh al-Buldân, (T.tp. : Lajnah al-Bayan al-‘Arabi, t.th.), halaman 545.