Wafatnya Syafi’i
Di akhir hayatnya, Syafi’i terkena penyakit ambien yang cukup akut, karena terlalu banyak aktifitas dan kurang istirahat selama beberapa tahun tinggal di Mesir. Waktunya habis untuk kegiatan menulis, mengajar, berdiskusi, menyebarkan madzhab dan membelanya dari kritikan rival-rivalnya. Muhamad bin Abdullah bin Abdul Hakam menggambarkan sakitnya Syafi’i, “Syafi’i menderita wasir yang sangat parah dan memprihatinkan. Ia menyadari sakitnya itu disebabkan karena kurang kontrol dan tidak mengindahkan pantangan.”[1]
Ar-Rabi’ bercerita, “Al-Muzani membesuk Syafi’i yang sedang sakit parah menjelang sakaratul maut. Ia bertanya, ‘Bagaimana keadanmu pagi ini, wahai ustadz?’ Syafi’i menjawab, ‘Pagi ini saya akan meninggalkan dunia dan berpisah dengan saudara-saudaraku. Saya berharap dapat meneguk secangkir air sorga dan menghadap ke haribaan Allah untuk mempertanggungjawabkan dosa-dosaku.’ Kemudian Syafi’i mengarahkan pandangan matanya ke atas sembari berpikir. Lalu ia bersyair:
“Hanya kepada-Mu, wahai Tuhan seganap makhluk, kugantungkan harapan # Meski aku sadar diri ini berlumur dosa, wahai Dzat Pemberi Anugerah
Dosa-dosaku memang besar, tapi jika dibanding dengan ampunan-Mu # Maka jauh lebih besar ampunan-Mu.”[2]
Dengan demikian, tidak benar pendapat yang menyebutkan bahwa Syafi’i meninggal karena luka di kepalanya akibat terkena tusukan dari Futyan bin Abi as-Samh al-Maliki. Imam Ibnu Hajar menepis pendapat tersebut. Ia mengatakan, “Ada isu yang sangat populer tentang penyebab wafatnya Syafi’i. Disebutkan bahwa terjadi perdebatan yang sangat sengit antara Futyan bin Abu Samh al-Maliki al-Mishri dan Syafi’i yang membuat Futyan tersinggung. Kemudian kasus itu dilaporkan kepada Gubernur Mesir dan Futyan dijatuhi sanksi. Maka ia pun menjadi dendam dan pada malam hari ia mendatangi Syafi’i. Lalu memukul kepalanya dengan kunci besi, hingga berlumuran darah. Karena itulah, Syafi’i sakit hingga menemui ajalnya. Menurut saya, pendapat ini tidak berdasar pada sumber yang terpercaya.”[3]
Akhirnya, Jum’at malam di akhir bulan Rajab 204 H. selepas maghrib Syafi’i mengembuskan nafas terakhirnya. Syafi’i mewariskan peninggalan yang sangat berharga bagi umat Islam, yaitu karya-karya ilmiah dan madzhab fiqih. Semga Allah membalasnya dengan pahala yang berlimpah, meridhainya, dan menempatkanya dalam sorga yang lapang.
Ar-Rabi’ berkata, “Syafi’i wafat pada malam Jum’at setelah Isya’. Waktu itu ia sudah salat maghrib dan hari itu adalah hari terakhir bulan Rajab. Kemudian ia dikebumikan pada hari itu juga. Sepulangnya dari pekuburan, kami melihat rembulan bulan Sya’ban telah bersinar.”[4] Lebih lanjut ar-Rabi’ bercerita, “Dalam tidurku, saya memimpikan Nabi Adam as. meninggal dunia. Lalu saya menanyakan arti mimpiku itu. Konon katanya mimpi itu berarti isyarat akan adanya orang alim yang wafat, karena Allah telah mengajarkan semua nama kepada Adam. Ternyata, selang beberapa saat terdengar kabar Syafi’i wafat.”[5]
Prof. Mushthafa Munir Adham berkata, “Setelah salat Asar, jenazah Syafi’i diangkat dari rumahnya menuju pemakaman melalui jalan raya Fushthath dan pasar-pasarnya. Ketika melewati depan rumah Sayyidah Nafisah,[6] ia memerintahkan agar keranda jenazah itu dimasukkan ke dalam rumahnya. Lalu keranda itu diletakkan di ruang tengah dan wanita mulia itu menunaikan salat jenazah. Selesai salat, ia memanjatkan doa, ‘Semoga Allah Swt. merahmati Syafi’i, karena semasa hidupnya ia adalah orang yang suka menyempurnakan wudhu.’”[7]
[1] Ibnu Hajar Tawâlî al-Ta’sîs bi Ma’âlî ibn Idrîs, Op. Cit., halaman 86.
[2] Ibid., halaman 83.
[3] Ibid., halaman 86.
[4] Ibid., halaman 83.
[5] An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, Op. Cit., I/45-46.
[6] Ia adalah salah satu murid Imam Syafi’i yang menjadi ulama perempuan terkenal, penerj.
[7] Prof. Mushthafa Munir Adham, Op. Cit., halaman 43.