Imam ar-Razi menyatakan [1] bahwa guru Imam Syafi’i jumlahnya cukup banyak. Kami hanya akan menyebutkan guru-guru dari kalangan ahli fiqih dan fatwa yang terkenal saja. Dalam kitab karya ayahku, Imam Dhiyauddin ‘Umar bin al-Hasan disebutkan, jumlahnya 19 guru, yaitu: 5 berasal dari Mekah, 6 berasal dari Madinah, 4 berasal dari Yaman, dan 4 berasal dari Irak. Guru yang berasal dari Mekah adalah Sufyan bin ‘Uyaynah,[2] Muslim bin Khalid az-Zanji,[3] Sa’id bin Salim al-Qaddah,[4] Dawud bin Abdur Rahman al-‘Aththar,[5] dan ‘Abdur Rahman bin ‘Abdul ‘Aziz bin Abu Dawud.[6]
Adapun guru Imam Syafi’i yang berasal dari Madinah adalah Malik bin Anas,[7] Ibrahim bin Sa’d al-Anshari,[8] ‘Abdul ‘Aziz Muhamad ad-Darawardi,[9] Ibrahim bin Abu Yahya al-Aslami,[10] Muhamad bin Sa’id bin Abu Fudaik,[11] Abdullah bin Nafi’ ash-Shaigh –temannya Ibnu Abu Dzi’b-.[12]
[1] Ibid., halaman 11.
[2] Nama lengkapnya adalah Abu Muhamad Sufyan bin ‘Uyaynah bin Abu ‘Imran Maymun al-Hilali. Ia adalah mantan hamba sahaya dari seorang wanita keturunan Bani Hilal bin ‘Amir Maymunah –isteri Nabi Muhamad Saw.- Ia berasal dari Kufah dan lahir di Kufah. Ayahnya membawanya ke Mekah. Ibnu Sa’d menyebutkannya dalam kitab ath-Thabaqât dan menggolongkannya pada tingkatan kelima (ath-Thabaqah al-Khâmisah). Ia adalah seorang Imam yang alim, terpercaya, zuhud, wara’, dan rawi hadis yang kredibel. Ia meriwayatkan hadis dari az-Zuhri, Abu Ishaq as-Sabi’i, ‘Amr bin Dinar, Muhamad bin al-Munkadir, dan sebagainya. Adapun murid-muridnya adalah Imam Syafi’i, Syu’bah bin al-Hajjaj, Muhamad bin Ishaq, dan sebagainya. Imam Syafi’i berkomentar tentang gurunya ini, “Saya tidak pernah menemukan mufti yang sealim Sufyan.” Ia lahir di Kufah pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 107 H. dan wafat pada hari sabtu di penghujung bulang Jumadil Akhir tahun 198 H. Menurut riwayat lain, ia wafat pada awal bulan Rajab tahun 198 H. Jenazahnya dikebumikan di Hajun, semoga Allah Swt. merahmatinya. (Ibnu Khilikkan, Op. Cit., II/129-130).
[3] Ia bernama Muslim bin Khalid bin Sa’id bin Jarjah az-Zanji yang aslinya berasal dari Syam. Ia dulunya adalah hamba sahaya dari keluarganya Sufyan bin ‘Abdul Asad al-Makhzumi. Meskipun budak, tapi kulitnya putih kemerah-merahan. Az-Zanji adalah julukan waktu masih kecil. Ia adalah ahli fiqih yang rajin beribadah dan berpuasa terus menerus. Nama kunyahnya adalah Abu Khalid. Ia termasuk rawi yang banyak meriwayatkan hadis, tapi sayang, banyak kekeliruan dalam periwayatan hadisnya. Ia meninggal di Mekah pada tahun 180 H. pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid. Ibnu Sa’d, Op. Cit., V/499.
[4] Kami tidak menemukan referensi mengenai biografinya.
[5] Nama lengkapnya adalah Dawud bin ‘Abdur Rahman al-‘Aththar. Ayahnya –Abdur Rahman- adalah orang Nashrani. Ia sendiri berasal dari Syam. Pada awalnya, ia datang ke Mekah untuk berobat. Namun, akhirnya ia menetap di kota suci itu. Anak-anaknya lahir di Mekah dan Islam semua. Ayahnya langsung mengajarkan al-Qur’an, hadis, dan fiqih kepada anak-anaknya. Ia termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadis. Ia lahir pada tahun 100 H. dan meninggal di Mekah pada tahun 174 H. Ibnu Sa’d, Op. Cit., V/498.
[6] Ia adalah Abdul Majid bin Abdul ‘Aziz bin Abu Dawud. Nama kunyahnya adalah Abu ‘Abdul Hamid. Ia termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadis, namun hadisnya lemah karena ia mengikuti paham Murji’ah. Ibnu sa’d, Op. Cit., V/500.
[7] Ia adalah Imam Abu Abdullah, Malik bin Anas bin Malik bin Abu ‘Amir al-Madani. Ia adalah imam besar kota Madinah dan salah satu imam madzhab besar. Ia lahir di Madinah pada tahun 93 H. Ia menetap di Madinah seumur hidup dan meninggalkan Madinah hanya saat menunaikan haji di Mekah. Ia wafat di Madinah pada tahun 179 H.
[8] Ia adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Sa’d bin Ibrahim bin Abdur Rahman bin ‘Auf al-Quraisyi az-Zuhri al-Madani. Ia termasuk Tabi’it Tabi’in. Ia mendengar hadis langsung dari ayahnya –az-Zuhri-, Hisyam bin ‘Urwan, dan lainnya. Adapun murid-muridnya adalah Syu’bah, al-Laits, Ibnu Mahdi, dan lainnya. Ia termasuk rawi yang terpercaya dan banyak meriwayatkan hadis. Imam al-Bukhari dan Muslim termasuk orang yang meriwayatkan hadis darinya. Ia tinggal di Baghdad dan bertugas mengurus Baitul Mal pada masa kepemimpinan Harun ar-Rasyid. Ia wafat pada tahun 183 H. atau 184 H. An-Nawawi, Tahdzîb al-Asmâ’ wa al-Lughât, Op. Cit., I/103.
[9] Ia adalah ‘Abdul ‘Aziz bin Muhamad bin ‘Ubaid ad-Darawardi. Nama Kunyahnya adalah Abu Muhamad. Ia berasal dari Darawardi, desa di Khurasan. Tetapi ia lahir dan besar di Madinah. Ia mendengar hadis dan belajar berbagai disiplin ilmu di kota hijrah itu. Ia tinggal di Madinah sampai wafat pada tahun 187 H. Ia termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadis, tapi periwayatannya banyak kekeliruan. Ibnu Sa’d, Op. Cit., V/424.
[10] Ia adalah Ibrahim bin Muhamad bin Abu Yahya, bekas hamba sahaya Aslam. Nama kunyahnya adalah Abu Ishaq. Ia meninggal di Madinah pada tahun 184 H. Ia termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadis, namun periwayatannya kurang terpercaya dan tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Ibnu Sa’d, Op. Cit., V/425.
Menurut ar-Razi, para ulama sepakat bahwa Ibrahim bin Abu Yahya adalah orang Mu’tazilah. Namun demikian, Imam Syafi’i tidak terpengaruh dengan pemikiran gurunya itu, karena ia hanya belajar fiqih dan hadis darinya, tidak belajar tentang ushûluddîn. Imam Syafi’i berkata, “Dulu saya pernah bekerja di Yaman. Saya bekerja dengan serius agar dapat berbuat baik dan menjauhkan kejahatan. Kemudian saya pergi ke Madinah dan bertemu dengan Ibnu Abu Yahya dan saya mengikuti pengajian di majelisnya. Ia berkata kepadaku, ‘Anda menentang pendapat kami, tetapi anda mengikuti pengajian kami. Jika anda mempunyai masalah, mari kita bahas bersama di majelis ini.’” Ar-Razi, Op. Cit., halaman 11.
[11] Muhamad bin Sa’id, demikian nama guru Imam Syafi’i sebagaimana yang tertulis dalam kitab Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î karya ar-Razi di halaman 11. Tetapi yang benar, namanya adalah Muhamad bin Isma’il. Saya telah mengkaji nama tersebut dalam kitab Wafayât al-A’yân karya Ibnu Khilikkan dan dalam kitab ath-Thabaqât al-Kubra karya Ibnu Sa’d. Dalam dua kitab tersebut, saya tidak menemukan nama “Muhamad bin Sa’id.” Tetapi yang ada adalah Muhamad bin Isma’il bin Muslim bin Abu Fudaik. Lihat, Ibnu Sa’d, Op. Cit., V/437. Ia meninggal di Madinah pada tahun 199 H. Ia meriwayatkan hadis dari adh-Dhahhak bin ‘Utsman, Rabi’ah bin ‘Utsman, Humaid al-Kharrath, dan lainnya. Ia termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadis, tapi hadisnya tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.
Bukti bahwa guru Imam Syafi’i ini bernama Muhamad bin Isma’il, bukan Muhamad bin Sa’id, adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Imam ar-Razi dalam kitab Manâqib al-Imâm asy-Syâfi’î halaman 12. Berikut teksnya:
“Rawi yang keempat adalah Muhamad bin Isma’i bin Abu Fudaik yang meriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari ‘Aisyah.”
Bukti lainnya adalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Tawâlî al-Ta’sîs bi Ma’âlî ibn Idrîs halaman 53; bahwa di antara gurunya Imam Syafi’i adalah Muhamad bin Isma’il bin Abu Fudaik.
[12] Ia adalah Abdullah bin Nafi’ ash-Shaigh, mantan hamba sahaya Bani Mahzum. Nama kunyahnya adalah Abu Muhamad. Ia adalah murid senior Imam Malik bin Anas, yang meninggal di Madinah pada bulan Ramadhan 206 H. Ibnu Sa’d, Op. Cit., V/438.