Syafi’i sebagai Sasterawan dan Penyair
Kemampuan Imam Syafi’i dalam bidang bahasa, sastera, dan syair benar-benar diakui oleh para pakar bahasa dan sasterawan ulung. Sebagaimana diakuinya kehebatan Syafi’i di bidang fiqih, hadis, dan ushul fiqih.
Dalam kitab al-Majmû’ Syarah al-Muhadzdzab,[1] Imam an-Nawawi mengatakan, “Syafi’i itu pakar di bidang bahasa Arab dan ilmu nahwu. Ia belajar bahasa Arab selama 20 tahun, lengkap dengan ilmu balaghah (sastera) dan fushha (bahasa Arab fasih). Padahal ia sendiri adalah orang Arab, tinggal di Arab, dan bergaul dengan orang Arab.”
Imam Ahmad bin Hanbal berkomentar, “Syafi’i adalah filosof yang menguasai empat disiplin ilmu: bahasa, psikologi, ilmu ma’ânî, dan fiqih.”[2] Lebih lanjut Imam Ahmad menuturkan, “Syafi’i itu orang yang sangat fasih, sehingga Imam Malik mengagumi kefasihan bacaannya.”[3] Ahmad bin Abu Suraij berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang berbicara sefasih dan selancar Syafi’i.”[4]
Al-Ashmu’i berkata, “Aku membacakan kompilasi syair sasterawan Hudzail dan Syanfari kepada seorang pemuda Quraisy yang bernama Muhamad bin Idris asy-Syafi’i.”[5] Al-Jahizh berkata, “Saya telah menelaah karya-karya sastrawan kondang yang ilmunya selalu up to date¸tapi tetap saja yang terbaik adalah karya Bani al-Muthallibi. Lidah mereka seperti untaian mutiara, karena keindahan karya sasteranya.”[6]
Selanjutnya Imam Fakhrur Razi menambahkan, “Salah satu bukti yang menunjukkan kemampuan bahasa Imam Syafi’i adalah pengakuan dari Imam Abu Manshur al-Azhari. Ia sendiri adalah ulama besar di bidang bahasa Arab dan mengakui kesempurnaan Imam Syafi’i dalam menguasai bahasa. Ia menulis syarah (kitab penjelas) terhadap karya Imam Syafi’i yang berjudul Musykilât Alfâzh. Pada kata pengantar kitab tersebut dituliskan pujian dan sanjungan yang luar biasa kepada Imam Syafi’i. Ahli sastera lainnya yang mengakui kehebatan Imam Syafi’i di bidang bahasa adalah Abu Sulaiman al-Khaththabi. Ia adalah orang yang sangat mumpuni ilmunya di bidang bahasa dan ilmu Hadis. Tetapi ia malah mendakwahkan dirinya sebagai pengikut Imam Syafi’i dan mengakui kehebatan Imam Syafi’i di bidang bahasa Arab. Bahkan seorang sasterawan besar Khurasan yang bernama Abu al-Husain ‘Ali bin Abu al-Qasim –penulis kitab Mukhtashar al-‘Aynî- yang kedalaman ilmu bahasa dan nahwunya dikagumi oleh semua penduduk Khurasan, sempat menuliskan syair-syair yang berisi sanjungan kepada Imam Syafi’i. Berikut untain syair tersebut:
“Saya belajar agama dari suku Quraisy, Bani Hasyim tepatnya # Dinding rumahnya bersebelahan dengan dinding Ka’bah dan air zamzam
Saya bahagia memeluk agama Bani Hasyim yang dibawa oleh Muhamad Saw. # Kuikat agamaku dengan tali yang tak akan putus
Saya menjalankan agama berpedoman dengan madzhab Syafi’i # Kupasrahkan diriku kepada ar-Rahman untuk menghadapi orang yang mengingkarinya.”
Ahli sastera lainnya yang juga mengakui kehebatan Imam Syafi’i dan menuliskan biografinya adalah Abu Abdullah Ibrahim bin Muhamad bin ‘Arafah al-Azdi. Ia menulis sebuah buku terkenal yang berjudul Manâqib asy-Syâfi’î dan di dalam buku tersebut banyak dikutip perkataan-perkataan Imam Syafi’i yang bernilai sastera tinggi. [7] Sementara itu, Majelis Imam Syafi’i seringkali dikunjungi oleh para pakar bahasa dan sasterawan. Berkaitan dengan hal ini, Imam al-Karabisi berkata, “Saya sama sekali belum pernah melihat sebuah majelis yang banyak dihadiri oleh orang-orang besar, kecuali Majelis Imam Syafi’i. Di majelis itu hadir ahli hadis, ahli fiqih, ahli syair, dan pakar bahasa. Mereka semua menimba ilmu dari majelis tersebut.”
Selanjutnya Prof. Abdul Halim al-Jundi menjelaskan mengenai gaya bahasa yang sering digunakan oleh Imam Syafi’i. Menurutnya, ada tiga ciri utama karya Imam Syafi’i, yaitu: (1) bahasanya fasih (2) kata-katanya ringkas dan (3) menyentuh perasaan pembacanya. Demikian pernyataannya yang dituangkan dalam buku al-Imâm asy-Syâfi’î.[8]
(1) Bahasanya Fasih; artinya kata-kata yang dipilih adalah kata-kata yang tepat dan benar, serta mudah dipahami. Gambaran kefasihannya seperti cahaya terang yang menyinari wajah orang-orang yang pulang dari padang pasir. Pilihan katan-kata tepat itu berasal dari hasil interaksi Imam Syafi’i dengan Kabilah terfasih yang tinggal di pedalaman Arab. Karena itu, karya-karyanya banyak dibaca orang dan terus dibaca, sebagaimana orang merutinkan bacaan al-Qur’an.
(2) Kata-katanya ringkas; maksudnya, suatu karya yang menggunakan bahasa yang ringkas, namun padat makna menunjukkan kehebatan penulisnya di bidang ilmu balaghah (sastera Arab). Karena ciri utama karya yang bernilai sastera tinggi, baik prosa maupun puisi adalah ringkas bahasanya.
(3) Menyentuh perasaan pembacanya; Ada beberapa faktor yang membuat karya-karya Imam Syafi’i menyentuh perasaan pembacanya, di antaranya: bakat dirinya sebagai motivator ulung, kelihain menguntai retorika yang indah, keberhasilannya menelaah syair-syair Jahiliyah, faktor berikutnya berupa kemampuan mengikuti perkembangan sastra, bakat seni yang melekat dalam dirinya hingga mampu merangkai kata-kata indah bagaikan mutiara, kepandaiannya memilih diksi yang tepat, dan gaya penulisan sistematis yang mempunyai kesinambungan antara satu kata dan lainnya. Tiap kata yang dipilih tampak kesempuraan dan keindahan bahasanya, serta maknanya jelas. Pilihan katanya benar-benar tepat, serasi dan bermakna. Keindahan rangkaian kata-katanya seperti kilauan mutiara yang tidak menyilaukan dan tidak juga buram. Keserasian antara satu kata dan lainnya seperti alunan musik yang serasi. Sementara keteraturan antara satu kalimat dan kalimat lainnya memancarkan nilai sastera yang tinggi. Jika diumpamakan, ibarat seekor kuda poni yang terbang di angkasa. Kuda itu tampak indah dan mempesona, serta gemulai gerakannya. Demikian perumpamaan tentang indahnya kata-kata yang ditulis Imam Syafi’i dalam karya-karyanya.
Jika anda menemukan satu bait qashidah, maka dalam kata-kata Imam Syafi’i satu bait itu cukup diungkapkan dengan satu kalimat saja, atau bahkan satu kata. Hal itu dikarenakan oleh kepandaian Imam Syafi’i dalam memilih kata yang tepat dan mengungkapkannya secara ringkas.
Oleh karena itu, jangan heran kalau bahasa Imam Syafi’i mudah diucapkan, enak didengar, dan membuat pendengarnya terlena. Struktur bahasanya seperti rangkaian nada baku yang rapi, sehingga ketika diucapkan memiliki daya tarik dan menyentuh pendengarnya. Ketika tulisan-tulisan Imam Syafi’i dibaca, pembacanya seperti sedang berdialog langsung dengan penulisnya. Kata-katanya begitu indah dan mengalir, membuat pembaca tidak pernah jemu dan ingin terus membacanya. Seperti itulah hasil karya dari orang yang menguasai ilmu sastera secara mendalam, sekaligus memahami psikologi manusia. Karena itu, mata, mulut, dan telinga pembaca dapat merasakan kenikmatan tersendiri dari bacaan tersebut. Membaca karya-karya Imam Syafi’i sama seperti berinteraksi langsung dengan penulisnya; atau seperti mengikuti pengajian-pengajian di madrasahnya Abu Hanifah, akademinya Plato atau tempat kursusnya Aristoteles.
Imam Syafi’i sering membaca syair, hingga di pembaringan saat detik-detik kematian akan menjemputnya. Mengenai hal ini, Imam al-Muzani bercerita, “Saya menjenguk Imam Syafi’i di saat sakit keras. Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagaimana keadanmu pagi ini, wahai ustadz?’ Ia menjawab, ‘Pagi ini saya akan meninggalkan dunia dan berpisah dengan saudara-saudaraku. Saya mohon maaf atas kekeliruanku selama ini. Karena saya akan menghadap Allah dan berharap dapat meneguk secangkir air sorga. Demi Allah, saya tidak tahu apakah ruhku akan terbang ke sorga dan berbahagia ataukah mampir ke neraka dan bersedih karenanya.’” Kemudian ia mendendangkan syai-syair di bawah ini:[9]
“Hanya kepada-Mu, wahai Tuhan seganap makhluk, kugantungkan harapan # Meski aku sadar, diri ini berlumur dosa, wahai Dzat Pemberi Anugerah
Ketika hatiku membatu dan jalanku buntu # agar selamat, kuberharap ampunan-Mu
Dosa-dosaku memang besar, tapi jika disbanding dengan ampunan-Mu # Maka jauh lebih besar ampunan-Mu
Engkau tak pernah bosan mengampuni dosa # Engkau selalu bersifat mulia dan memaafkan orang yang berdosa
Andai bukan karena-Mu, Iblis tidak akan sanggup menggoda ahli ibadah # Betapa tidak, Adam saja sempat dijerumuskan olehnya
Andai Engkau mengampuniku, Engkau pun akan mengampuni pendurhaka # yang zhalim dan kejam, yang terus berkutat dalam dosa
Namun jika Engkau menyiksaku, maka aku tidak akan pupus harapan # karena dosaku, dalam Jahanam aku pantas dijebolskan
Dari dulu sampai kini, dosaku memang besar # tapi ampunan-Mu, wahai Dzat Pemaaf, adalah lebih besar.”
[1] An-Nawawi, al-Majmû’ Syarah al-Muhadzdzab, (T.tp. : al-‘Ashimah, t.th.), I/18.
[2] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 89.
[3] Abu Hatim ar-Razi, Op. Cit., halaman 136.
[4] Ibid., halaman 137.
[5] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 87.
[6] Ibid.
[7] Ibid. halaman 87-88.
[8]Prof. Abdul Halim al-Jundi, al-Imâm asy-Syâfi’î, (T.tp. : Darul Kitab al-‘Arabi, 1967 M.), halaman 75, 76, dan 77.
[9] Ar-Razi, Op. Cit., halaman 113.