Imam Syafi’i tumbuh besar di pusat kota Jazirah Arabia. Masyarakat di kota itu hidup dengan semangat nilai kepahlawanan, keberanian, kedermawanan, gemar berolah raga, dan kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga Syafi’i kecil tumbuh menjadi lelaki tangguh yang berjiwa besar dan penuh percaya diri, berotak cerdas, serta berbadan atletis karena gemar berolahraga. Tidak hanya itu, di dalam jiwa Syafi’i telah tertanam rasa empati kepada orang lain, rela berkorban untuk orang lain, berani mengatakan kebenaran dan tidak ciut menghadapi kritikan pencela. Syafi’i telah mengenyam pendidikan agama yang benar, yang jauh dari pengaruh pemikiran Fatalisme (Jabariyah) dan Determinisme (Qadariyah).
Keutamaan dan keistimewaan yang luar biasa itu merupakan hasil pendidikan yang baik dari ibunya yang suci dan cerdas. Sang ibu tahu betul cara mengurus dan mendidik anak sesuai dengan masa-masa pertumbuhannya, serta ingin memberikan yang terbaik untuk masa depan anaknya. Meski harus menanggung beban sendiri, karena sang ayah telah tiada, namun ibunda Syafi’i tidak pernah merasa gusar dan mampu memikul tanggungjawab itu sendiri. Demi kebaikan masa depan anaknya, maka ibunya memutuskan untuk pergi ke Mekah dan menetap di kota itu. Alasannya, Mekah adalah tanah kelahiran nenek moyangnya dan tempat munculnya para ulama ahli fiqih, penyair dan sastrawan. Pertimbangan lainnya adalah agar Syafi’i kecil dapat tumbuh di lingkungan yang baik dan mengenyam berbagai disiplin ilmu yang dikehendakinya. Padahal secara pribadi, hidup di Palestina lebih baik daripada di Mekah, karena di Palestina banyak keluarganya dari suku Azdi yang tinggal di situ. Tapi dia lebih mengutamakan putranya. Saat putranya masih menyusu, ia membawa putranya dari Ghaza ke ‘Asqalan. Kemudian ketika putranya menginjak usia dua tahun, ia memboyongny ke Mekah dan menetap di kota itu. Di kota suci itu, ia mengurus dan mendidik anaknya hingga menjadi mujtahid yang alim.
Imam Syafi’i bercerita, “Ibuku khawatir hidupku tersia-sia. Akhirnya ibu menginginkanku untuk menyusul keluargaku yang ada di Mekah agar aku bisa menjadi seperti mereka, karena aku telah menyandang nama besar nasab keluargaku. Maka, ibu membawaku ke Mekah.”